Anda di halaman 1dari 11

Kasus Kanebo

Hidayah Asfaro S 1106060910


1. Buat dan jawab pertanyaan yang Anda pandang paling
relevan dalam kasus ini.
a. Jelaskan W5H2 dalam kasus ini! Tipe Shenanigan yang
dilakukan dan motif melakukan Shenanigan tersebut!
-What: Skandal Kanebo Ltd yang melibatkan empat
auditor ChuoAoyama dan dua mantan eksekutif Kanebo
atas dugaan persekongkolan memanipulasi laporan
keuangan tahun buku 2001 dan 2002 untuk jumlah aset
dan kewajiban, juga menggelembungkan angka net
income selama lima tahun (1999-2003).
-Who: Empat auditor ChuoAyama: Kuniaki Sato,
Seiichiro Tokumi, Kazutoshi Kanda, Kazuya Miyamura

dan tiga mantan eksekutif Kanebo: Takashi Hoashi dan


Takashi Miyahara, dan Kenzaburo Shimada.
-When: Manipulasi laporan keuangan terjadi selama lima
periode: 1999-2003.
-Where: Peristiwa ini terjadi di Jepang.
-Why: Skinner (2009) menjelaskan bahwa tipe manajer
perusahaan di Jepang kebanyakan bertujuan untuk
melayani kepentingan seluruh stakeholders (bank,
karyawan,

pemasok,

pelanggan),

bukan

sekedar

memaksimalkan nilai pemegang saham. Persekongkolan


untuk memanipulasi laporan keuangan ini kemungkinan
besar didorong oleh keinginan eksekutif Kanebo untuk
melayani kepentingan stakeholders termasuk mereka
sendiri. Sedangkan ChuoAoyama mau melakukan
persekongkolan karena takut kehilangan klien (di

Jepang, hubungan auditor-klien berbeda dengan yang


ada di negara lain).
-How: Hoashi menyuruh staf akuntansinya untuk
memanipulasi

laporan

keuangan

dengan

ancaman

perusahaan akan bangkrut dan mereka akan kehilangan


pekerjaan mereka. Akhirnya manipulasi dilakukan
dengan membuat total aset lebih besar dari total
kewajiban (2001 dan 2002) dan mencatat penjualan fiktif
dan beban di-understate sehingga net income naik (19992003).
-How much: Kanebo bersama auditornya telah mencatat
keuntungan palsu tahun buku 1999-2003 senilai $1,9
milyar (200 milyar). Setelah dikoreksi, restated
financial statement menunjukkan kerugian kumulatif 207
miliar yen selama periode tersebut. Kemudian untuk
laporan keuangan 2001 dan 2002, mereka mencatat nilai
3

net asset masing-masing 926 juta ($7,9 juta) dan 502


juta, padahal fakta yang terjadi adalah Kanebo memiliki
net asset negatif lebih dari 80 miliar.
b. Uraikan

strategi

PwC

menanggapi

musibah

ini,

khususnya dari segi organisasi KAP di Jepang. Apa


maksud dan tujuan dari strategi tersebut?
Pada bulan Mei 2006, regulator di Jepang membekukan
operasi ChuoAyama selama dua bulan sebagai hukuman
atas perannya dalam skandal Kanebo. PwC dalam
menanggapi kasus ini, mengadopsi "a-two firm strategy
di Jepang yaitu (i) meninjau lebih lanjut masalah kualitas
audit pada ChuoAoyama (rebranded name: Misuzu) dan
(ii) membentuk afiliasi baru, berukuran lebih kecil
namun berkualitas tinggi di Jepang yaitu Aarata. Dua
strategi PwC ini bertujuan untuk memenangkan kembali
kepercayaan masyarakat bisnis dan regulator dengan
4

memperbaiki reputasi. Alasannya, reputasi auditor


mempunyai korelasi kuat dengan kemauan klien
menggunakan jasa KAP tersebut (Skinner, 2009).
Auditor yang memiliki reputasi baik memiliki kualitas
audit yang baik, dan berlaku pula sebaliknya. Kondisi
ChuoAyama (merupakan perusahaan afiliasi PwC) yang
ditinggalkan oleh seperempat kliennya karena alasan
reputasi dan kualitas audit yang buruk memaksa PwC
untuk menerapkan strategi yang akan mengembalikan
reputasi tersebut.
c. Apa kaitan antara budaya Jepang dalam membina
hubungan auditor-klien dengan kasus ini?
Di Jepang, hubungan antara klien dan auditor lebih dekat
(more intimate) dan lebih lama (long-standing) daripada
di AS dan Eropa. Sebuah survei yang dilakukan oleh
surat kabar Jepang, Yomiuri Shimbun, mengungkapkan
5

bahwa 75 persen dari klien ChuoAoyama telah


menggunakan ChuoAoyama setidaknya selama 20 tahun.
Ini merupakan waktu yang sangat lama untuk sebuah
jalinan antara auditor dan klien. Funabashi Haruo juga
mengatakan bahwa untuk jangka waktu yang sangat
lama, KAP selama ini adalah pelayan untuk kliennya,
melaksanakan audit sesuai kehendak klien, dan harus
menyenangkan klien karena jika tidak, pendapatan
mereka akan hilang di kemudian hari. Tradisi ini
sepertinya memang benar. Dalam kasus Kanebo, tiga
auditor ChuoAyama telah mengaudit Kanebo selama
lebih dari 15 tahun, dan satu auditor lagi telah berada di
engagement team Kanebo selama lebih dari 30 tahun.
Keempat

auditor

ini

mengetahui

bahwa

laporan

keuangan telah dimanipulasi oleh eksekutif Kanebo,


namun menyetujui hal tersebut begitu saja, bahkan
6

menurut

jaksa

penuntut

umum,

auditor

juga

merekomendasikan metode untuk menyembunyikan


kondisi keuangan Kanebo yang buruk. Sebelum Kanebo,
ChuoAyama juga terlibat dalam penipuan akuntansi di
Yaohan Jepang, Yamaichi Securities, dan Ashikaga
Bank, dan setelah skandal Kanebo, Desember 2006,
terungkap skandal kecurangan besar yang melibatkan
ChuoAyama (yang telah berganti nama menjadi Misuzu)
dan

kliennya

Nikko

Cordial

dan

Sanyo

yang

mengakibatkan Misuzu akhirnya ditutup. Kasus-kasus


kecurangan tersebut semuanya melibatkan ChuoAyama
sebagai auditor. Terlihat bahwa budaya, kebiasaan,
persepsi ini sangat tidak baik dan merugikan. KAP tidak
lagi memiliki objektivitas dan skeptisisme yang komplit
dalam mengaudit, sehingga audit yang dilakukan tidak
tidak memenuhi standar (kualitas audit buruk).
7

d. Bandingkan strategi PwC pada jawaban b dengan


strategi PwC terkait dengan kasus Satyam di India!
Strategi PwC Kasus Kanebo: 1) Pada akhir tahun 2005,
Samuel DiPiazza, kepala PwC dunia, pergi ke Jepang
untuk bertemu dengan regulator Jepang, eksekutif
ChuoAoyama, dan pihak manajemen dari beberapa klien,
untuk meyakinkan mereka bahwa PwC berkomitmen
untuk memperbaiki masalah di ChuoAoyama. 2) Pada
awal tahun 2006, PwC mengirim personel audit senior
dari Amerika Serikat dan Inggris untuk mengambil
tindakan

korektif

di

ChuoAoyama

dan

set

up

pembentukan perusahaan audit baru, berkualitas tinggi,


dengan ukuran lebih kecil, yang akan beroperasi secara
independen dari ChuoAoyama, yaitu Aarata.
Strategi PwC Kasus Satyam: PwC mengumumkan
perubahan besar-besaran pada member firm di India.
8

PwC menambahkan lima anggota dewan penasehat di


India, ketua manajemen risiko baru dari luar India, satu
tim audit baru di India, dan perubahan manajemen dalam
kantor Hyderabad-nya (a change of management inside
the firms Hyderabad office).
Baik untuk kasus Kanebo maupun Satyam, strategi PwC
adalah untuk menyelamatkan reputasinya sebagai salah
satu KAP terbaik, tetapi ada perbedaan pendekatan. Di
India, dilakukan perubahan besar-besaran dan tidak
membentuk perusahaan afiliasi baru, sedangkan di
Jepang, dilakukan tindakan korektif, namun dibentuk
pula perusahaan afiliasi baru. Ini mungkin disebabkan
nama ChuoAoyama sudah sangat jelek karena terlibat
banyak kasus bahkan sebelum kasus Kanebo, sehingga
PwC merasa perlu membentuk perusahaan audit baru,
yang

independen

dari

ChuoAoyama

untuk
9

mengembalikan kepercayaan para klien terhadap PwC,


apalagi

bisnis

di

Jepang

sangat

mengutamakan

kepercayaan.
2. Lessons learned: apa pelajaran terpenting (bagi Anda) dari
kasus ini?
Dari kasus Kanebo ini terlihat sekali auditor gagal
berpegang pada integritasnya. Kegagalan ini juga memiliki
pemicu yaitu regulasi, budaya, kebiasaan, cara pandang,
dan pola pikir di Jepang yang menganggap wajar auditor
mengaudit perusahaan selama berpuluh-puluh tahun,
auditor menjadi pelayan kliennya. Skandal Kanebo muncul
sebagai akumulasi dari permasalahan-permasalahan yang
ada di Jepang. Negara ini dikritik atas lambannya adaptasi
terhadap perubahan dan pergeseran tren pasar dan analogi
yang salah bahwa keterbukaan informasi/transparansi sama
dengan membicarakan kejelekan orang lain. Jepang harus
10

melakukan reformasi besar yang terutama bertujuan untuk


meningkatkan kualitas pelaporan keuangan dan audit, yang
diakui masih buruk oleh standar asing. Kesalahan tetaplah
kesalahan
adalah

dan tidak ada toleransi untuk itu, hukuman

harga

kepercayaan.

mati.
Maka

Bisnis
untuk

dibangun

dengan

pihak-pihak

asas
yang

menyalahgunakan kepercayaan tersebut, sudah sepantasnya


diberi hukuman.
Referensi:
Skinner, et al. 2009. Audit Quality and Auditor Reputation:
Evidence from Japan.

Harvard

Business School

Working Paper No. 10-088 February 2010.


http://app1.hkicpa.org.hk/APLUS/06_july/p16-18.pdf
http://www.corp-ethics.com/company/kanebo/securitieswatchdog-charge-kanebo-accounting-fraud.html
Knapp, Michael C. 2012. Contemporary Auditing: Real
Issues and Cases. Cengage Learning

11