Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) masih merupakan penyebab
utama kesakitan dan kematian balita di Indonesia. Tergolong ke dalam ISPA
adalah bronkiolitis yang secara anatomik merupakan salah satu ISPA bagian
bawah.
Bronkiolitis adalah penyakit saluran pernapasan bayi yang lazim, akibat
dari obstruksi radang saluran pernapasan kecil (bronkiolus). Penyakit ini terjadi
selama umur 2 tahun pertama, dengan insiden puncak pada sekitar umur 6 bulan,
dan pada banyak tempat penyakit ini paling sering menyebabkan rawat inap bayi
di rumah sakit. Insidensi tertinggi selama musim dingin dan awal musim semi.
Penyakit ini terjadi secara sporadik dan endemik.
Bronkiolitis yang terjadi di bawah umur satu tahun kira-kira 12% dari
seluruh kasus, sedangkan pada tahun kedua lebih jarang lagi, yaitu sekitar
setengahnya. Penyakit ini menimbulkan morbiditas infeksi saluran napas bawah
terbanyak pada anak. Penyebab yang paling banyak adalah virus Respiratory
syncytial, kira-kira 45-55% dari total kasus. Sedangkan virus lain seperti
Parainfluenza, Rhinovirus, Adenovirus, dan Enterovirus sekitar 20%. Bakteri dan
mikoplasma sangat jarang menyebabkan bronkiolitis pada bayi. Sekitar 70%
kasus bronkiolitis pada bayi terjadi gejala yang berat sehingga harus dirawat di
rumah sakit, sedangkan sisanya biasanya dapat dirawat di poliklinik. Sebagian

besar infeksi saluran napas ditularkan lewat droplet infeksi. Infeksi primer oleh
virus RSV biasanya tidak menimbulkan gejala klinik, tetapi infeksi sekunder pada
anak tahun-tahun pertama kehidupan akan bermanifestasi berat. Virus RSV lebih
virulen daripada virus lain dan menghasilkan imunitas yang tidak bertahan lama.
Infeksi ini pada orang dewasa tidak menimbulkan gejala klinis. RSV adalah
golongan

paramiksovirus

dengan

bungkus

lipid

serupa

dengan

virus

parainfluenza, tetapi hanya mempunyai satu antigen permukaan berupa


glikoprotein dan nukleokapsid RNA helik linear. Tidak adanya genom yang
bersegmen dan hanya mempunyai satu antigen bungkus berarti bahwa komposisi
antigen RSV relatif stabil dari tahun ke tahun.
Infeksi virus sering berulang pada bayi. Hal ini disebabkan oleh:
1. Kegagalan sistem imun host untuk mengenal serotipe protektif dari virus.
2. Kerusakan sistem memori respons imun untuk memproduksi interleukin I
inhibitor dengan akibat tidak bekerjanya sistem antigen presenting.
3. Penekanan pada sistem respons imun sekunder oleh infeksi virus dan
kemampuan virus untuk menginfeksi makrofag serta limfosit. Akibatnya,
terjadi gangguan fungsi seperti kegagalan produksi interferon, interleukin I
inhibitor, hambatan terhadap antiobodi neutralizing, dan kegagalan
interaksi dari sel ke sel.
Bronkiolitis yang disebabkan oleh virus jarang terjadi pada masa neonatus.
Hal ini karena antibodi penetralisir dari ibu masih tinggi pada 4-6 minggu
kehidupan, kemudian akan menurun. Antibodi tersebut mempunyai daya proteksi
terhadap infeksi saluran napas bawah, terutama terhadap virus.

Walaupun gejala bronkiolitis dapat menghilang dalam waktu 1 3 hari,


pada beberapa kasus dapat lebih berat, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Mortalitasnya kurang dari 1 %, biasanya meninggal karena jatuh dalam keadaan
apnu yang lama, asidosis respiratorik yang tidak terkoreksi, atau karena dehidrasi
yang disebabkan oleh takipnu dan kurang makan - minum. Disamping itu dapat
pula memberikan dampak jangka panjang berupa batuk berulang, mengi,
hiperreaktivitas bronkus sampai beberapa tahun,

bronkiolitis obliterasi, dan

sindrom paru hiperlusen unilateral (Swyer-James Syndrome).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PERMASALAHAN

2.1. Bronkiolitis
2.1.1

Definisi
Bronkiolitis merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan bawah akut

(IRBA) dengan gejala utama akibat peradangan bronkioli yang terutama


disebabkan oleh virus. Bronkiolitis dapat disertai superinfeksi bakteri.

2.1.2

Klasifikasi
Berdasarkan frekuensi nafas dan keadaan umum penderita, bronkiolitis

dibagi menjadi:
-

Bronkiolitis ringan

Bronkiolitis berat (R 60x/ menit)

2.1.3 Epidemiologi

Internasional
Insidensi di negara berkembang sama dengan di negara maju. Menurut
data epidemiologi dari negara yang kurang berkembang menunjukkan
bahwa RSV (Respiratory Syncitial Virus) merupakan virus predominan
penyebab infeksi saluran pernapasan bawah akut dan sekitar 65% pasien
yang di rawat inap disebabkan karena virus tersebut.

Jenis Kelamin

Pria lebih sering terinfeksi ketimbang wanita, dimana kematian 1,5 kali
lebih mengancam pria.

Usia
Meskipun bronkiolitis merupakan penyakit yang signifikan terjadi pada
anak-anak (< 2 bulan), imunitas menunjukkan peran yang lebih penting.
Dewasa yang rentan dapat bersifat asimptomatik atau simptomatik ringan
dan berperan sebagai karier.

2.1.4

Etiologi
-

Respiratory Syncytial Virus (RSV) 75%, merupakan virus yang


paling sering terisolasi pada anak usia < 2 tahun.

Rhinovirus (16%)

Parainfluenza virus (10-30%)

Influenza virus (10-20%)

Adenovirus (5-10%)

Human metanpneumovirus (hMPH) 9%

2.1.5 Faktor Resiko


Faktor resiko untuk bronkiolitis, antara lain:
-

Anak dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), terutama bayi


prematur.

Keluarga yang termasuk dalam kelompok sosioekonomi rendah.

Kondisi lingkungan/ tempat tinggal yang padat.

Anak dengan orang tua perokok.

Memiliki penyakit jantung bawaan (PJB) dengan hipertensi pulmonar

Memiliki penyakit defisiensi imun bawaan atau didapat.

Usia kurang dari 3 tahun.

2.1.6 Patogenesis dan Patofisiologi


Inhalasi etiological virus (RSV, parainfluenza, mycoplasma, dll)
Ditularkan secara langsung melalui kontak manusia ke manusia
Infeksi virus pada epitel bersilia bronkiolus

wheezing

Aktifasi & perekrutan sel-sel inflamasi


Pelepasan mediator
inflamasi

+ aliran udara

peningkatan sekresi mukus


peningkatan permeabilitas vaskular

edema

bronkokonstriksi

obstruksi
Mengurangi diameter & air flow
Penurunan suplai O2 ke jaringan
Hipoksemia

stimulasi kemoreseptor

effort

aliran udara
ekspirasi

dyspnea
air
trapping

RR

progress gagal untuk memperbaiki


aktifitas otot respirasi asesoris

retraksi

hiperinflasi,
overdistensi alveoli

emphysematous chest (barrel chest)

Gambar 1. Pembengkakan Bronkiolus

2.1.7 Manifestasi Klinis

Periode inkubasi 2-5 hari:


o Pada bayi: lebih rewel dan sulit untuk menyusu
o demam ringan (< 38,5oC)
o coryza dan kongesti nafas

Periode >5 hari (infeksi mennyebar dari sal. pernapasan atas bawah):

o batuk, dyspnea (sesak nafas), wheezing (bunyi nafas mengik),


anoreksia,
o panas badan terkadang sudah turun, hingga hipotermi.
o Kasus berat, dapat ber-progress hingga menjadi kondisi distres
pernapasan, dengan: tachypnea (megap-megap), nasal flaring
(pernapasan cuping hidung), retraksi, iritabilitas (sensitif), dan
kemungkinan sianosis.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya:
-

ekspirasi memanjang

hiperinflasi dinding dada, dengan hipersonor pada perkusi

tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam

crackles atau ronki pada auskultasi dada

2.1.8 Diagnosis
Diagnosis bronkiolitis diambil berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang pada pasien. Kriteria diagnosis bronkiolitis
antara lain:

Anamnesis
o Biasanya terjadi pada usia 2 bulan 2 tahun ( terutama 2-6 bulan)
o Selama 2-4 hari terjadi batuk pilek, hidung tersumbat, panas badan
yang diikuti sesak nafas dan dapat disertai wheezing.
o Gejala lain: muntah, gelisah, tidak mau makan/ minum.

Pemeriksaan Fisik

o Dapat ditemukan merintih (grunting), sianosis


o Suhu tubuh normal, subfebris, atau demam tinggi
o Frekuensi nafas , pernapasan cuping hidung, retraksi subkostal,
interkostal, dan suprasternal.
o Perkusi: hiperresonan
o Auskultasi:

suara

pernapasan

mungkin

normal,

ekspirasi

memanjang, dapat terdengar wheezing dan crackles.


o Hepar dan lien dapat teraba akibat hiperinflasi toraks.

Laboratorium
o Pulse oximetry: Saturasi O2
o Analisis gas darah: Hipoksemia
Bronkiolitis berat bisa didapatkan hiperkapnia & asidosis.
o Antigen RSV (+) dari sekret hidung dengan pemeriksaan ELISA.

Foto Toraks
o Normal atau tampak hiperinflasi dengan depresi/ pendataran
diafragma, atelektasis, atau konsolidasi.
o Gambaran khas: Depresi diafragma dan hiperinflasi.

2.1.9 Diagnosis Banding


Diagnosis
ASMA

WHEEZING berkaitan dengan BATUK &


PILEK

Gejala
Riwayat wheezing berulang, kadang tidak
berhubungan dengan batuk & pilek
Hiperinflasi dinding dada
Ekspirasi memanjang
Berespon baik terhadap bronkodilator.
Wheezing selalu berkaitan dengan batuk &
pilek.
Tidak ada riwayat keluarga dengan
asma/eksem.

ASPIRASI BENDA ASING

PNEUMONIA

Ekspirasi memanjang.
Cenderung lebih ringan dibandingkan
dengan wheezing akibat asma.
Berespon baik terhadap bronkodilator.
Riwayat tersedak atau wheezing tiba-tiba.
Wheezing umunya unilateral.
Air trapping dengan hipersonor dan
pergeseran mediastinum.
Tanda kolaps paru.
Batuk dengan napas cepat.
Tarikan dinding dada bagian bawah ke
dalam.
Demam.
Crackles/ ronki
Pernapasan cuping hidung.
Merintih/ grunting

2.1.10 Penatalaksanaan
Pada dasarnya penanganan bronkiolitis adalah terapi suportif: oksigenasi,
pemberian cairan untuk mencegah dehidrasi, dan nutrisi yang adekuat.

Bronkiolitis Ringan Rawat Jalan.


o Beri nasehat kepada orang tua: teruskan pemberian makanan,
tingkatkan pemberian cairan. Apabila memberat rawat.

Bronkiolitis Berat Rawat Inap.


o Apabila pemberian makanan secara oral tidak memungkinkan atau
ada risiko aspirasi berikan secara intravena.
o Beri oksigen pada semua anak dengan wheezing dan distres
pernapasan berat. (Teruskan terapi oksigen sampai tanda hipoksia
menghilang).
o Antibiotik apabila dicurigai adanya infeksi bakteri.

Ampisilin 100-200 mg/ kgBB/ hari. i.v. dibagi 4 dosis.

10

Bila ada konjungtivitis dan bayi berusia 1-4 bulan, ada


kemungkinan infeksi sekunder oleh Chlamydia trachomatis.
o Bronkodilator: 2-agonis inhalasi (salbutamol nebuls) boleh
dicoba, bila mengurangi sesak dapat diteruskan.
o Kortikosteroid
Disamping aturan utama inflamasi sebagai patogenesis terjadinya
sumbatan saluran nafas, kortikosteroid sebagai anti inflamsi tidak
terbukti menguntungkan untuk meningkatkan status klinis pada
studi klinis multi-instusional. Nebulasi ephinefrin (0,1 mg/Kg BB)
ditemukan lebih efektif daripada B-agonis salbutamol pada bayi
dengan bronkiolitis akut.
o

Antikolinergik
Ipratropium bromide adalah zat antikolinergik dalam bentuk
aerosol, tidak dapat menunjukkan bukti dapat membantu dalam
manajemen dari bayi yang sakit.

2.1.11 Prognosis
Tergantung pada berat-ringan penyakit, cepatnya penanganan, dan adanya
tidaknya latar belakang penyakit (penyakit jantung, defisiensi imun, prematuritas).
Bronkiolitis Akut
Fase penyakit yang paling kritis terjadi selama 48-72 jam pertama sesudah
batuk dan dispnea mulai. Selama masa ini, bayi tampak sangat sakit, serangan
apneu terjadi pada bayi yang sangat muda dan asidosis respiratorik mungkin ada.

11

Sesudah periode klinis, perbaikan terjadi dengan cepat dan seringkali secara
drastis. Penyembuhan selesai dalam beberapa hari. Angka fatalitas kasus di bawah
1%, kematian dapat merupakan akibat dari :
-

Serangan apnea yang lama

Asidosis respiratorik berat yang tidak terkompensasi, atau

Dehidrasi berat akibat kehilangan penguapan air dan takipnea serta


ketidak mampuan minum cairan.

Bayi yang memiliki keadaan - keadaan, misalnya penyakit jantung kongenital,


displasia bronkopulmonal, penyakit imunodefisiensi, atau kistik fibrosis
mempunyai angka morbiditas yang lebih besar dan mempunyai sedikit kenaikan
angka mortalitas.
Bronkiolitis Obliterans
Beberapa minggu setelah mulainya gejala-gejala awal, penderita keadaan
umumnya menjelek sampai meninggal, tetapi kebanyakan bertahan hidup,
beberapa anak menderita kecacatan kronis.

2.1.12 Komplikasi
Pada sebagian besar kasus, penyakit bronkiolitis bersifat ringan dan selflimiting. Pada bayi yang immunocompromise dan yang memiliki latar belakang
penyakit jantung atau paru, RSV bronkiolitis dapat menyebabkan beberapa
komplikasi, antara lain:
-

Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)

Bronchiolitis Obliterans

12

Congestive Heart Failure

Secondary Infection

Myocarditis

Arrythmias

Chronic Lung Disease

Adapun komplikasi paska terapi, antara lain:


-

Ventilator-induced barotraumas

Nosocomial Infection

2-agonist-induced arrhythmias

Keabnormalan nutrisi dan metabolisme

2.1.13 Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari faktor paparan asap
rokok dan polusi udara, membatasi penularan terutama di Rumah Sakit misalnya
dengan membiasakan cuci tangan dan penggunaan sarung tangan dan masker,
isolasi penderita, menghindarkan bayi/ anak kecil dari tempat keramaian umum,
pemberian ASI, menghindarkan bayi/ anak kecil dari kontak dengan penderita
ISPA.
Menggunakan

vaksin

RSV

yang aman

dan efektif,

atau

RSV

immunoglobulin IV (RSV-IGIV) dalam dosis tinggi dapat mencegah RSV pada


individu yang beresiko tinggi.

2.2.Permasalahan
2.2.1

Data Administrasi Pasien


a. Nama / Umur

: An. DP / 2 tahun
13

2.2.2

b. No. register

: Puskesmas Gunung Alam

c. Alamat

: Karang Anyar

d. Agama

: Islam

e. Suku

: Rejang

f. Jenis Kelamin

: Laki-laki

g. Status sosial

: Menengah kebawah

Identitas Orang Tua

Nama Ayah

: Tn. G/ 36 tahun

Nama Ibu

: Ny. D/ 31 tahun

Pendidikan

: SMP

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Pedagang

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

2.2.3

2.2.4

Data Biologik
a. Tinggi Badan

: 86 cm

b. Berat Badan

: 15 kg

c. Status Gizi

: Normal

Data Klinis
a. Anamnesis

Keluhan utama:

Orang tua pasien mengeluhkan anaknya

mengalami sesak nafas.


Riwayat Penyakit sekarang :

2 hari yang lalu anak mengalami sesak nafas, terus menerus, makin
lama makin bertambah berat. Tidak ada suara mengik. Demam (+)
namun tidak terlalu panas.

14

5 hari sebelumnya, anak mengalami batuk berdahak dan pilek.


Dahak tidak dapat dikeluarkan oleh anak dan makin lama makin
bertambah parah.

Nafsu makan dan minum menyusui menjadi berkurang. Tidak ada


keluhan berat badan anak turun atau sulit naik. BAB dan BAK
tidak ada kelainan.

Riwayat Penyakit Dahulu: tidak ada. Riwayat tersedak sebelumnya


disangkal. Riwayat imunisasi dasar : lengkap

Riwayat Alergi : (+) telur dan ikan laut

Riwayat Penyakit Keluarga:


o Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang
sama seperti pasien atau batuk-batuk lama.
o Ayah pasien alergi telur (+), ayah perokok aktif (+).
o Ibu pasien ada riwayat asma sejak kecil, minum obat yang
di beli di warung tiap kali serangan
o Lingkungan : memelihara binatang (+) burung.

Riwayat Sosial Ekonomi:


o Ayah bekerja sebagai pedagang. Ibu sebagai ibu rumah
tangga. Menanggung 2 orang anak.
Kesan : ekonomi menengah kebawah (kurang)

b. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : tampak sesak, sianosis (-), nafas spontan (+), adekuat

Kesadaran

: komposmentis

15

Tanda vital

- Nadi

: 124 x/ menit

- Respirasi

: 45 x/ menit

- Suhu

: 37oC

Untuk dugaan diagnosa :

Hidung

: nafas cuping hidung (-), sekret (-/-), krusta (+/+)

Telinga

: sekret (-/-).

Mulut

: bibir tidak sianosis, selaput lendir tidak kering,

Tenggorokan : T1-T1 simetris normal, faring tidak hiperemis.

Leher

: simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe.

Thoraks

: simetris, retraksi (-/-).

o Pulmo

: simetris, wheezing (+/+) ronkhi basah (-/-), ekspirasi


memanjang (+/+).

o Cor
-

: S1-S2 normal regular, murmur (-), gallop (-).

Ekstremitas

Superior

Inferior

Sianosis

(-)/(-)

(-)/(-)

Oedem

(-)/(-)

(-)/(-)

Akral dingin

(-)/(-)

(-)/(-)

<2

<2

Cap. refill

2.2.5

Pemeriksaan Penunjang
Usulan Pemeriksaan Penunjang :
o Darah rutin, Diff. count
o Analisis gas darah hipoksemia
16

o Foto Toraks

2.2.6

2.2.7

Diagnosis Banding
-

Bronkiolitis Akut

Bronkopneumonia

Diagnosis
Bronkiolitis Akut

2.2.8

Penatalaksanaan
Non - Farmakologi :
-

Komunikasi Informasi - Edukasi kepada orang tua pasien


mengenai penyakit, pengobatan, serta prognosis pasien.

Observasi keadaan umum dan distress pernapasan pasien di


rumah dengan medikamentosa.
Jika bertambah berat rujuk ke Rumah Sakit untuk nebulisasi

Edukasi tentang pengendalian lingkungan : menghindarkan


anak dari asap rokok, tidak memelihara hewan berbulu,
memperbaiki ventilasi ruangan, mengurangi kelembaban kamar
untuk anak yang sensitif terhadap debu rumah dan tungau.

Edukasi konsumsi makanan yang bergizi membantu


meningkatkan daya tahan tubuh pasien.

Farmakologi :

17

o Parasetamol sirup 3 x 1 cth


o Salbutamol tablet 2 mg no. IV
o Dexametason tablet 0,5 mg no. I
o GG tablet 10 mg no. III

mf pulv no. x
3 dd pulv I pc

o CTM tablet 4 mg no. III

2.2.9

Prognosis

Quo ad Vitam

: ad bonam

Quo ad Functionam

: ad bonam

Quoa ad Sanationam

: dubia ad bonam

BAB III
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

18

3.1.

Metode Penyuluhan
Metode penyuluhan yang dilakukan untuk memberikan pemahaman

tentang penyakit bronkiolitis pada anak, faktor pencetus sehingga dapat dihindari,
dan bagaimana pengobatannya terutama saat dalam keadaan akut. Selanjutnya
dilakukan diskusi hal-hal yang tidak dipahami.

3.2.

Intervensi
Menjelaskan kepada keluarga bahwa bronkiolitis merupakan suatu
penyakit infeksi saluran pernapasan bawah akut (IRBA) dengan gejala
utama akibat peradangan bronkioli. Penyakit ini termasuk penyakit
menular karena sebagian besar disebabkan oleh virus.

Menjelaskan kepada keluarga pasien bahwa anak mereka memiliki


beberapa faktor resiko terkena bronkiolitis, antara lain:
-

Anak dengan orang tua perokok.

Keluarga termasuk dalam kelompok sosioekonomi rendah.

Kondisi lingkungan/ tempat tinggal yang padat.

Usia kurang dari 3 tahun.

Menjelaskan bronkiolitis dapat dicetuskan pula oleh beberapa hal, seperti:


pajanan asap rokok, debu, suhu, ventilasi udara di rumah yang kurang dan
lain-lain. Hal ini harus dihindari agar tidak terjadi kekambuhan.
Menjelaskan bahwa bronkiolitis pada sebagian besar kasus bersifat ringan
dan self-limiting, yang berarti penyakit bronkiolitis dapat sembuh dengan

19

sendirinya tanpa dengan intervensi obat sekalipun, namun harus dalam


keadaan sistem kekebalan tubuh yang baik.
Menjelaskan bahwa infeksi bronkiolitis akut berat dapat berkembang
menjadi asma ke depannya pada anak apabila tidak cepat ditangani.
Menjelaskan batasan orang tua pasien untuk self treatment dan kapan
harus ke IGD pada keadaan akut.
Menjelaskan kepada orang tua pasien mengenai pencegahan yang dapat
dilakukan dalam penanganan bronkiolitis, terutama dalam pencegahan
primer dan sekunder, yaitu antara lain:
-

Menghindari faktor paparan asap rokok dan polusi udara,

Membatasi penularan terutama di Rumah Sakit misalnya


dengan membiasakan cuci tangan dan penggunaan sarung
tangan dan masker, isolasi penderita, menghindarkan bayi/
anak kecil dari tempat keramaian umum, pemberian ASI,
menghindarkan bayi/ anak kecil dari kontak dengan penderita
ISPA.

Menyarankan untuk memberikan vaksin RSV yang aman dan efektif, atau
RSV immunoglobulin IV (RSV-IGIV) dalam dosis tinggi, terutama pada
individu yang beresiko tinggi.

20

BAB IV
PELAKSANAAN (PROSES INTERVENSI)

4.1.

Strategi Penanganan Masalah


Diagnosis Klinis

: Bronkiolitis akut

Penanganan masalah :

Preventif :

21

Penyuluhan tentang bronkiolitis pada anak meningkatkan


kemampuan orang tua (pengetahuan, sikap dan perilaku),
dalam mengatasi kesehatan diri dan keluarganya, terutama anak

Menghindari faktor pencetus, seperti kontak dengan penderita


batuk, pilek dan perokok.

Meningkatkan daya tahan tubuh dengan memberi makanan


yang mengandung karbohidrat dan protein tinggi.

Menjaga higienitas dan sanitasi lingkungan rumah, serta


kebersihan bahan/ alat-alat makan.

Promotif :
-

Edukasi kepada pasien dan orangtua pasien tentang penyakit


dan penatalaksanaan penyakit apabila dalam serangan.

Meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara menjaga kualitas


dan kuantitas makanan agar tetap sesuai dengan angka
kecukupan gizi, baik bagi ibu maupun penderita, serta rutin ke
Posyandu

setiap

bulan

untuk

melakukan

pemeriksaan

kesehatan anak.
-

Edukasi kepada pasien dan orangtua pasien tentang tata cara


menghindari faktor pencetus.

Menciptakan rumah yang sehat dengan memperbaiki ventilasi


dan merubah perilaku hidup sehat yang masih kurang.

Kuratif :
22

Parasetamol sirup 3 x 1 cth

Salbutamol tablet 2 mg no. IV

Dexametason tablet 0,5 mg no. I

GG tablet 10 mg no. III

CTM tablet 4 mg no. III

mf pulv no. x
3 dd pulv I pc

Rehabilitatif :
-

Melakukan latihan pengeluaran lendir saluran pernafasan


dengan postural drainase (penderita dalam posisi tengkurap dan
dilakukan masase/ tepuk-tepuk pada punggung).

Minum obat sesuai anjuran.

Jika serangan asma semakin bertambah berat, maka segera


konsulkan ke Puskesmas atau RS terdekat.

23

Gambar 2. Edukasi Bronkiolitis Kepada Orang Tua Pasien

Gambar 3. Penjelasan Mengenai Bronkiolitis Kepada Orang Tua Pasien

24

Gambar 4. Peran Anak & Orang Tua dalam Pencegahan & Pengobatan Bronkiolitis

25

BAB V
MONITORING DAN EVALUASI
5.1.Monitoring
Monitoring difokuskan pada aspek promotif dan preventif untuk
meningkatkan derajat kesehatan yang optimal dengan meningkatkan
kemampuan orang tua pasien (pengetahuan, sikap dan perilaku) dalam
mengatasi kesehatan anak.
Monitoring terhadap jumlah serangan bronkiolitis akut diperlukan
untuk memastikan bahwa pengobatan yang dilakukan adekuat yang
ditunjang dengan tindakan promotif dan preventif yang memadai.

5.2.Evaluasi
Upaya yang dilakukan untuk menekan angka kejadian bronkiolitis
pada anak, antara lain:
- Menghindari faktor pencetus dan/ atau faktor resiko bronkiolitis untuk
mengurangi jumlah serangan bronkiolitis akut dan komplikasinya.
- Perbaikan/ penyembuhan bronkiolitis pada sebagian besar kasus
bersifat ringan dan self-limiting, sehingga daya tahan tubuh anak dapa
ditingkatkan dengan cara menjaga kualitas dan kuantitas makanan agar
tetap sesuai dengan angka kecukupan gizi, serta istirahat yang cukup.
- Pemahaman orang tua kapan saatnya self treatment dan seek treatment
diperlukan.

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Orenstein DM. Bronchiolitis. In: Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM


eds. Nelsons Textbook of Pediatrics; 18th ed.Philadelphia: WB Saunders,
2007; 2673-5.
2. Garna. H, Nataprawira. H. M.D. Pedoman diagnosis dan terapi ed. 3 FK
UNPAD: 2005; 400-2.
3. World Health Organization. Pedoman pelayanan kesehatan anak di Rumah
Sakit rujukan tingkat pertama di kabupaten/ WHOl alihbahasa, Tim
Adaptasi Indonesia. Jakarta: WHO Indonesia, 2008; 96-9.
4. Pediatric
Bronchiolitis.
Diunduh
http://emedicine.medscape.com/article/961963-followup#a2648.
pada: 8 Juni 2014, pukul 23.00.

dari:
Diakses

5. Pianosi P, Diagnosis and Management of Bronchiolitis, [serial online] Okt


2006
[akses 2014 Juni 8]; [66 halaman]. Di akses dari URL :
http//:www.aap.org.us/Diagnosis_and_Management_of_Bronchiolitis_-_subcommittee_on_Diagnosis_and_Management_of_Bronchiolitis_118_(
4)_1774 _Pediatrics.htm.
6. Mayo Foundation staff , Bronchiolitis, [serial online] Okt 2014 [akses
2014 Juni 8 ]; [15 Halaman]. Di akses dari : URL :
http://www.mayoclinic.com/health/bronchiolitis/DS00481/DSECTION=9.
htm.
7. Howard EW, Acute Viral Bronchiolitis, Respiratory Illness in Children.
Oxford : Blackwell Scientific Publication; 1998. p. 41-48.
8. Anonim, Bronchiolitis , [serial online] 2004 [ akses 2014 Juni 8]; [
Gambar
1].
Di
akses
dari
URL
:
www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?id=&iddtl=943&idktg=19&id
obat=&UID=20060926150740222.124.htm.
9. Hasan R, Alatas H, Bronkiolitis Akut, dalam Buku Kuliah Ilmu Kesehatan
Anak, Volume 3, Jakarta : Info Medika FK UI ; 1996. hal. 1233.
10. DeNicola LK, Gayle M O, Bronchiolitis, [serial online ] Sept 1998 [ akses
2014 Juni 8]; Di akses dari: URL: http://www.dcmsonline.org/jaxmedicine/1998journals/september98/bronchiolitis.htm.

27