Anda di halaman 1dari 17

JURNAL REVIEW

Identitas
Jurnal yang direview adalah sebuah General Paper dari Accreditation and Quality
Assurance Journalyang ditulis oleh Minori Nishiguchi, Motonori Takahashi,
Hideyuki Nushida, Noriyuki Okudaira dan Hajime Nishio dari Hyogo College of
Medicine dan Universitas Kobe, Japan, Belgia. Jurnal yang berjudul An Autopsy
Case of a Nonprescription Aspirin Overdose and Chlorine Gas Exposure ini
diterbitkan pada tahun 2013 dengan volume 4:3. @2013 Nishiguchi et al., J Forensic
Res., 4:3.

Abstrak
Aspirin (asam asetilsalisilat), dengan efek samping yang lebih sedikit daripada asam
salisilat, pertama kali dihasilkan sebagai analgesik antipiretik melalui asetilasi asam
salisilat pada akhir abad ke-19. Sejak itu, aspirin telah lama digunakan sebagai bahan
dalam agen anti-inflamasi di seluruh dunia dan umumnya digunakan sebagai obat
dengan efek antiinflamasi, antipiretik dan analgesik, serta antiplatelet dan efek
antirematik. Aspirin telah digunakan sebagai obat resep dan nonprescription (overthe-counter) obat, dan permintaan untuk obat terus meningkat. Namun, beberapa obat
nonprescription yang diformulasikan dengan sejumlah besar aspirin dan tidak ada
antasida memiliki efek kuat, yang menimbulkan kekhawatiran tentang penggunaan
produk ini. Akibatnya, kasus keracunan aspirin disebabkan oleh overdosis yang
umum.
Kami melaporkan kasus otopsi keracunan fatal dengan klorin inhalasi gas dan
konsumsi sejumlah besar nonprescription aspirin. Analisis toksikologi menunjukkan
konsentrasi tinggi metabolit aktif aspirin, asam salisilat, dalam darah dan otak.
Asidosis metabolik yang merupakan karakteristik dari salicylism meningkatkan
distribusi

asam

salisilat

ke

dalam

otak.

Selanjutnya, dosis tinggi aspirin memperpanjang waktu paruh asam salisilat, sehingga
toksisitas, seperti edema paru. Selain itu, kerusakan pada paru-paru dan saluran
pernapasan dapat diperburuk oleh klorin inhalasi. Kemungkinan bahwa laki-laki
meninggal karena aspirin dan gas klorin keracunan tinggi.
Kata Kunci
Aspirin; Salicylic acid; chlorine gas; Overdose; Toxicity

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Aspirin, dikenal juga sebagai asam asetilsalisilat [ASA], masuk
golongan jenis obat salisilat, biasanya digunakan sebagai obat anti-piretik untuk
menurunkan demam, dan sebagai obat anti-inflamasi/peradangan. Aspirin juga
mempunyai efek anti-platelet yang menghambat produksi thromboksan, yang
dalam kondisi normal mengikat molekul platelet bersama untuk menciptakan
perekat dinding pembuluh darah yang rusak. Karena penempelan platelet bisa
terlalu besar dan juga memblok aliran darah, lokal dan jalur utama, aspirin juga
digunakan jangka panjang, dengan dosis rendah, untuk mencegah serangan
jantung, stroke, dan pembentukan pembekuan darah pada pasien yang mempunyai
risiko tinggi. Dan juga, dosis aspirin yang rendah diberikan segera setelah
serangan jantung untuk mengurangi risiko serangan lanjutan atau kematian
jaringan otot jantung. Aspirin dapat efektif untuk mencegah beberapa tipe kanker,
seperti kanker kolorektal.
Aspirin masuk dalam grup obat yang disebut nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs), tapi ada perbedaan dengan kebanyakan NSAIDs
dalam mekanisme aksinya. Walau strukturnya sama, disebut salisilat, mempunyai
efek sama (antipiretik, anti-inflamasi, analgetik) dengan NSAIDs lain dan
menghambat enzim yang sama enzim cyclooxygenase (COX), aspirin mempunyai
sifat irreversible, tidak seperti yang lain, lebih memberi efek ke varian COX-1
daripada varian COX-2.
Zat aktif aspirin pertama kali ditemukan pada kulit suatu pohon willow
tahun 1763 oleh seseorang bernama Edward Stone dari Wadham College,
Universitas Oxford. Dia menemukan asam salisilat, zat aktif metabolis dari
Aspirin. Aspirin kali pertama disintetiskan oleh Felix Hoffmann, seorang ahli
kimia yang bekerja di perusahaan Jerman bernama Bayer ditahun 1897. Aspirin
merupakan salah satu obat yang paling banyak digunakan dalam pengobatan di
seluruh dunia, diestimasikan lebih dari 40.000 ton dikonsumsi per tahunnya. Pada
beberapa negara dimana Aspirin dihak patenkan oleh Bayer, nama generic yang
digunakan adalah asam asetilsalisilat (ASA). Aspirin terdapat dalam Daftar Obatobatan Essensial WHO, sebagai obat paling penting dalam pelayanan kesehatan
dasar.1

Aspirin (asam asetil salisilat) adalah obat golongan salisilat yang paling
banyak digunakan. Sampai saat ini, obat ini masih merupakan analgesik
antipiretik dan antiinflamasi yang paling banyak diresepkan dan menjadi standar
untuk pembanding atau evaluasi antiinflamasi lain. Aspirin berbeda dengan
derivat asam salisilat ainnya karena mempunyai gugus asetil.2
Obat golongan salisilat merupakan salah satu obat yang paling sering
digunakan, karena mempunyai sifat analgesik, antipiretik, antiinflamasi,
antireumatik, dan yang paling mutakhir adalah sebagai antiagregasi trombosit
(antitrombotik) atau antiplatelet. Salisilat tersedia dalam berbagai bentuk sediaan
obat, di antaranya topikal, tablet, serbuk, dan supositoria. Selain bentuk regular,
salisilat juga tersedia dalam bentuk tablet salut selaput yang diharapkan akan
mengalami disolusi dalam usus halus.
Sebagai obat yang sering digunakan di masyarakat, aspirin dilaporkan
sering menimbulkan keracunan. Di Inggris, angka kejadian keracunan aspirin
adalah 57% dari seluruh keracunan obat yang dibawa ke rumah sakit dan
menyebabkan 3040 kematian per tahun (Wood et al., 2005). Sementara di
Amerika Serikat, pada tahun 2004, keracunan aspirin tingkat sedang dilaporkan
sebanyak 9% dari kasus keracunan obat seluruhnya, keracunan tingkat berat 1%,
dan sebanyak 64 orang meninggal dunia (0,2%).2
2. Tujuan Jurnal Review
Untuk mengetahui tata laksana pemeriksaan toksikologi pada korban keracunan
obat aspirin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Sejarah Aspirin
Lebih dari 2500 tahun silam, kurang lebih 500 SM, ahli-ahli obatobatanCina menggunakan kulit pohon (willow bark), yang merupakan cikal
bakalaspirin, sebagai obat untuk mengobati penyakit yang ringan. Sekitar 400
SM,Hipokrates seorang Yunani yang sering diakui sebagai bapak obatobatan,menyarankan bahwa mengunyah kulit pohon dapat mengurangi demam
dan rasasakit. Lima ratus tahun sesudah Hipokrates, Dioscrorides, seorang dokter
Yunani,menggunakan kulit pohon untuk mengurangi inflammation pada
pasiennya. Hal-hal di atas menunjukkan penggunaan kulit pohon sebagai cikal
bakal dari aspirin.
Pada pertengahan abad ke-18, Reveren Edward Stone dari Oxford
mulaimelakukan eksperimen dengan berbagai cara untuk mengurangi demam.
Stonemenghancurkan

satu

pound

kulit

pohon

yang

dikeringkan

dan

memberikannyakepada 50 orang yang demam selama beberapa tahun. Dia


mencobamencampurkan bubuk kulit pohon tersebut dengan teh, air dan bahkan
bir.Dengan beberapa pengecualian, demam yang diderita pun hilang. Mungkin
inimerupakan

bukti

nyata

tetapi

Stone

tidak

mengetahui

bahwa

ia

sebenarnyamelanjutkan pekerjaan ribuan tahun yang lalu. Pada tahun 1763 The
Royal Society of London mempublikasikan kesuksesan Stone dalam menemukan
kemampuankulit pohon willow untuk menurunkan demam. Masih memakan
waktu beberapatahun untuk dapat menjadikan kulit pohon willow menjadi obat.
Pada tahun 1828, ahli kimia Itali Raffaele Piria dan apoteker
PerancisHenri Leroux menemukan dan memisahkan bahan aktif yang terkandung
di dalamkulit pohon. Karena nama Latin dari pohon willow putih adalah Salix
alba,senyawa baru yang terkandung di dalam kulit pohon itu dinamakan
salicin.Sepuluh tahun kemudian, ahli kimia Perancis berhasil memisahkan
senyawa yang lebih murni dan dikenal dengan nama asam salisilat. Asam salisilat
menjadi dasardari banyak produk farmasi lainnya termasuk asam asetilsalisilat,
yang dikenaldengan nama aspirin pada saat sekarang ini.
Walaupun asam salisilat memiliki banyak kegunaan, namun ada efek
samping yang tidak disukai yaitu menyebabkan iritasi pada lambung.
Penelitiandilakukan untuk menetralisir keasaman asam salisilat dengan natrium,

dan denganmengkombinasikan natrium salisilat dan asetil klorida, namun usaha


ini masihbelum berhasil. Baru pada tahun 1899, ilmuwan yang bekerja pada
Bayer, FelixHoffman berhasil menemukan asam asetilsalisilat yang lebih ramah
ke lambung.Kemudian produk ini diberi nama aspirin, a- dari gugus asetil, -spirdari namabunga spiraea , dan in merupakan akhiran untuk obat pada waktu itu.3
2. Penggunaan Dalam Klinik
Aspirin digunakan dalam pengobatan beberapa kondisi, termasuk
didalamnya demam, nyeri, demam rematik, dan penyakit peradangan, seperti
arthtritis rheumatoid, pericarditis, dan penyakit Kawasaki. Dosis kecil aspirin juga
menunjukkan mempunyai manfaat menurunkan risiko kematian akibat serangan
jantung, atau risiko stroke dalam beberapa kondisi. Ada beberapa bukti yang
menyatakan bahwa aspirin juga bisa mencegah kanker kolorektal, walaupun
mekanisme efeknya belum jelas benar.
Aspirin sering dipakai untuk meredakan nyeri ringan sampai sedang,
sedangkan untuk mengatasi nyeri berat misalnya nyeri pada kanker) kadang
dikombinasi dengan opiat. Dosis aspirin dalam terapi berbeda tergantung pada
indikasi penggunaan dan usia pasien (Tabel 1).

Sebagai analgetikantipiretik, kadar asam salisilat dalam darah diharapkan


kurang dari 6 mg/dL. Hal ini dapat dicapai dengan dosis pemberian aspirin 325
650 mg setiap 4 jam. Untuk penggunaan sebagai antiinflamasi baik rheumatoid
arthritis maupun demam rematik, aspirin diberikan dalam dosis tinggi (anak 80
100 mg/kgBB/hari, dewasa 36 g/hari) (Buck, 2007; Roy, 2007). Dosis aspirin

sebesar ini akan memberikan kadar asam salisilat dalam darah sebesar 1035
mg/dL.
Sebagai antiplatelet, dosis aspirin yang digunakan lebih rendah daripada
dosis untuk analgetik atau antiinflamasi, yaitu 81325 mg per hari atau 110
mg/kgBB/hari

untuk

anak. Penelitian

mutakhir

menunjukkan

bahwa

pemberian aspirin 100 mg sekali sehari selama 2 tahun pada pasien tromboemboli
venosa

pasca

terapi

antikoagulan,

mampu

mencegah

rekurensi

tanpa

menimbulkan perdarahan mayor.


3. Kontra Indikasi
Aspirin tidak direkomendasikan untuk anak di bawah 12 tahun
karena risiko terjadinya sindroma Reye (ditandai dengan ensefalopati non
inflamatorik

akut

dan hepatopati

berat).

Pemeriksaan

laboratorium

menunjukkan adanya peningkatan kadar transaminase serum, bilirubin dan


ammonia secara signifikan. Secara

histopatologi, dapat ditemukan gambaran

steatosis mikrovesikuler dan edema mitokondria dengan cristae yang rusak.


Sindrom ini lebih sering terjadi setelah infeksi virus, terutama varicella dan
influenza. Dengan demikian, aspirin dan seluruh derivatnya tidak boleh diberikan
sebagai terapi gejala mirip flu pada anakanak. Aspirin juga dikontraindikasikan
pada ulkus lambung, hemofilia, dan penderita gout (karena aspirin dosis keci l
dapat meningkatkan konsentrasi asam urat). Kontraindikasi lain adalah asma,
penyakit alergi dan pasien dengan kelainan ginjal dan atau hepar.
4. Efek Samping
4.1. Efek neurologis dalam berbagai sistem
Efek samping aspirin yang sering adalah nausea, vomitus, dan
tinnitus (karena salisilismus). Apabila hal ini sudah muncul, maka harus
segera dilakukan pengukuran kadar asam salisilat dalam plasma, dan kadar
ini harus terus dikontrol. Gejala gastrointestinal karena intoksikasi aspirin
akut meliputi muntah, nyeri abdominal dan hematemesis. Nausea dan
vomitus

karena salisilat ini disebabkan karena stimulasi

di area

chemoreceptor trigger zone di medulla. Nausea dan vomitus ini biasanya


muncul pada konsentrasi salisilat 27 mg/dL. Adanya intoksikasi sistemik
akut ditandai dengan hiperpnea, takipnea, tinnitus, ketulian, hiperpireksia,
diaphoresis, letargi, konfusi, koma, dan kejang.
Pemberian aspirin dalam dosis tinggi dapat menyebabkan stimulasi
sistem saraf pusat yang diikuti dengan depresi; selain itu dapat juga timbul

konfusi, dizziness, tinnitus, gangguan pendengaran nada tinggi, delirium,


psikosis, stupor bahkan koma. Tinnitus dan gangguan pendengaran pada
intoksikasi salisilat ini terjadi karena peningkatan tekanan dalam labirin dan
pengaruh selsel rambut di cochlea, diduga akibat vasokonstriksi dalam
mikrosirkulasi di telinga dalam. Selain tinnitus, efek ototoksik aspirin lainnya
adalah kehilangan fungsi pendengaran dan kadangkadang disertai dengan
disfungsi vestibular. Sebagian besar kasus kehilangan fungsi pendengaran
bersifat bilateral, simetris dan reversibel, namun juga dapat menetap
(sebagian

keci l). Pemulihan

parsial terjadi dalam 2448 jam setelah

konsumsi aspirin dan pendengaran kembali normal dalam waktu 710 hari.
4.2. Gangguan keseimbangan asam basa
Sebagian besar pasien yang mengalami intoksikasi asam salisilat berat
menunjukkan alkalosis respiratorik atau gabungan alkalosis respiratori k dan
asidosis metabolik. Alkalosis respiratorik terutama terjadi pada anak.
Kelainan

keseimbangan

asam

basa

yang

mulamula terjadi pada

intoksikasi salisilat adalah alkalosis respiratorik, karena stimulasi langsung


salisilat terhadap pusat pernafasan di otak. Alkalosis respiratorik ini dapat
timbul sedemikian hebatnya disertai dengan tetani, yang sering ditandai
dengan adanya gangguan dalam gambaran elektrokardiogramnya. Akibat
alkalosis, maka timbul kompensasi oleh tubuh, berupa peningkatan ekskresi
bikarbonat oleh ginjal yang disertai dengan peningkatan ekskresi Na+
dan K; akibatnya bikarbonat plasma turun sehingga pH darah kembali
normal. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka akan terjadi asidosis
metabolic.
Asidosis metabolik ini akan sangat dipengaruhi oleh lamanya kejadian
intoksikasi aspirin, hiperventilasi,

kegagalan pernafasan

dan

pengaruh

kompensasi oleh ginjal. Terjadinya asidosis metabolik pada intoksikasi


salisilat

dapat

terjadi

melalui beberapa

mekanisme.

Selain

karena

hiperventilasi, salisilat juga mengganggu produksi energi melalui siklus


Krebs dan proses fosforilasi oksidatif, juga menyebabkan insufisiensi ginjal
sehingga terjadi akumulasi

fosfat dan

asam sulfat.

Ditambah dengan

peningkatan metabolisme asam lemak bebas, keseluruhan mekanisme ini


menyebabkan timbulnya asidosis metabolik pada pasien dengan intoksikasi
salisilat.
Gangguan dalam siklus Krebs dan fosforilasi oksidatif meningkatkan
proses glikolisis untuk menghasilkan energi, sehingga meningkatkan
konsumsi glukosa. Jika hal ini terus berlanjut, maka cadangan glikogen

hepar akan habis dan glukoneogenesis tidak akan mampu memenuhi


kebutuhan glukosa, akibatnya akan terjadi hipoglikemia. Penurunan glukosa
di dalam cairan serebrospinal (dan seluruh bagian otak lain) terjadi lebih
cepat daripada penurunan di dalam plasma, sehingga efek neurologi dan
gangguan kesadaran timbul dengan segera. Dugaan bahwa gangguan
metabolisme berperan besar dalam menimbulkan asidosis

metabolik,

dibuktikan dengan ditemukannya hipoglikemia dan ketosis pada sebagian


besar pasien dengan intoksikasi aspirin.
Gangguan asambasa akibat overdosis asam salisilat tergantung
pada umur dan beratnya intoksikasi. Kadar toksik ini biasanya terjadi pada
kadar asam salisilat dalam plasma mencapai 50 mg/dL. Kadar salisilat dalam
plasma juga harus diukur pada pasien dengan keracunan yang tidak
teridentifikasi atau pasien keracunan dengan gambaran klinis mirip
keracunan

salisilat

(misalnya

koma,

asidosis

metabolik, alkalosis

respiratorik, tinnitus dan lainlain).


4.3. Gangguan eritrosit
Secara

in

vitro,

telah

terbukti

bahwa

salisilat

mampu

menyebabkan oksidasi glutation tereduksi secara besarbesaran dan mampu


membentuk

methemoglobin. Hal Ini terutama diperankan oleh derivat

salisilisat yaitu asam gentisat, sedangkan asam salisilat dan asam salisilurat
tidak menunjukkan efek tersebut. Fenomena ini tampak lebih nyata pada
pasien dengan defisiensi enzim Glucose 6Phosphate Dehydrogenase (G6PD)
daripada pasien yang tanpa defisiensi enzim G6PD. Hal ini dapat
menjelaskan mengapa pasien dengan defisiensi enzim G6PD menjadi
rentan mengalami hemolisis pada pemberian aspirin.
5. Toksikologi Aspirin
Keracunan aspirin atau salicylism adalah keracunan akut atau kronis
dengan aspirin. Sebuah overdosis tunggal dapat menyebabkan keracunan akut.
Penggunaan terus-menerus dari dosis tinggi selama jangka waktu yang lama dapat
menyebabkan keracunan kronis.
Overdosis akut memiliki angka kematian dari 2%. Overdosis kronis lebih
sering mematikan dengan angka kematian setinggi 25%. Overdosis kronis dapat
sangat parah pada anak-anak. Tidak ada penangkal yang saat ini ada untuk
keracunan aspirin
Tanda dan gejala dapat berkisar dari mual ringan dan muntah, sakit perut,
lesu, tinnitus, dan pusing sampai parah seperti kejang atau edema serebral

tergantung pada dosis yang dikonsumsi. Toksisitas dikelola dengan sejumlah


perawatan potensial termasuk:. Arang aktif, dekstrosa intravena dan normal
saline, natrium bikarbonat, dan dialisis.
5.1. Tanda dan gejala overdosis
Overdosis aspirin memiliki konsekuensi yang berpotensi serius,
kadang-kadang menyebabkan morbiditas yang signifikan dan kematian.
Pasien dengan intoksikasi ringan sering mengalami mual dan muntah, sakit
perut, lesu, telinga berdenging, dan pusing. Tanda dan gejala lebih signifikan
terjadi pada keracunan lebih parah dan termasuk suhu tinggi tubuh, tingkat
pernapasan cepat, alkalosis pernafasan, asidosis metabolik, kalium darah
yang rendah, glukosa darah yang rendah, halusinasi, kebingungan, kejang,
edema serebral, dan koma. Penyebab paling umum kematian berikut
overdosis aspirin adalah cardiopulmonary arrest biasanya karena edema paru.
Tabel 2. Tingkatan dosis dan gejala intoksikasi aspirin
Severity
Toxicity

Mild
(150 mg/kg)
No toxicity

expected
Symptoms
Nausea,

Moderate

Severe

(150300 mg/kg)
(300500 mg/kg)
Mild to moderate Life-threatening
toxicity expected
toxicity expected
Nausea,
vomiting, Delirium,

vomiting,

ringing in the ears, hallucinations,

dizziness

headache, confusion, seizures,


hyperventilation,

coma,

respiratory arrest

tachycardia, fever
5.2. Patofisiologi
Aspirin akut atau salisilat overdosis atau keracunan dapat
menyebabkan alkalosis pernapasan awal meskipun asidosis metabolik terjadi
kemudian setelahnya. Asam-basa, cairan, dan elektrolit kelainan diamati
dalam toksisitas salisilat dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap yang luas:
Tahap I:
Ditandai dengan hiperventilasi akibat dari pusat stimulasi pernapasan
langsung, menyebabkan alkalosis pernapasan dan alkaluria kompensasi.
Kalium dan natrium bikarbonat diekskresikan dalam urin. Fase ini dapat
berlangsung selama 12 jam.
Tahap II:

Ditandai dengan aciduria paradoxic di hadapan terus alkalosis pernapasan


terjadi ketika cukup kalium telah hilang dari ginjal. Fase ini dapat dimulai
dalam hitungan jam dan bisa berlangsung 12-24 jam.
Tahap III:
Ditandai dengan dehidrasi, hipokalemia, dan asidosis metabolik progresif.
Fase ini dapat dimulai 4-6 jam setelah konsumsi pada bayi muda atau 24 jam
atau lebih setelah konsumsi pada orang dewasa atau remaja.

5.3. Diagnosa
Dosis akut beracun aspirin umumnya dianggap lebih besar dari 150
mg per kg massa tubuh. Toksisitas moderat terjadi pada dosis hingga 300
mg / kg, toksisitas berat terjadi antara 300 sampai 500 mg / kg, dan dosis
berpotensi mematikan lebih besar dari 500 mg / kg. Toksisitas kronis dapat
terjadi setelah dosis 100 mg / kg per hari selama dua hari atau lebih.
Pemantauan parameter biokimia seperti elektrolit dan zat terlarut,
fungsi hati dan ginjal, urinalisis, dan hitung darah lengkap dilakukan bersama
dengan sering memeriksa salisilat dan kadar gula darah. Penilaian gas darah
arteri biasanya akan menemukan alkalosis pernapasan di awal perjalanan
overdosis karena hiperstimulasi dari pusat pernapasan, dan mungkin satusatunya temuan overdosis ringan. Sebuah asidosis metabolik anion-gap
terjadi kemudian dalam perjalanan dari overdosis terutama jika itu adalah
sedang sampai overdosis parah, karena peningkatan proton (isi asam) dalam
darah.
Diagnosis keracunan biasanya melibatkan pengukuran plasma
salisilat, metabolit aktif aspirin, dengan metode spektrofotometri otomatis.
Tingkat salisilat plasma umumnya berkisar 30-100 mg / L (3-10 mg / dL)
setelah dosis terapi biasa, 50-300 mg / L pada pasien yang memakai dosis
tinggi dan 700-1400 mg / L setelah overdosis akut. Pasien mungkin
menjalani tes diulang sampai puncak tingkat salisilat plasma mereka dapat
diperkirakan. Secara optimal, kadar plasma harus dinilai empat jam setelah
konsumsi dan kemudian setiap dua jam setelah itu untuk memungkinkan
perhitungan tingkat maksimum, yang kemudian dapat digunakan sebagai
panduan untuk tingkat toksisitas. Pasien juga dapat diobati diharapkan. sesuai
dengan gejala masing-masing.
5.4. Pengobatan

Ketika aspirin overdosis dicurigai, segera hubungi dokter, atau


profesional medis jika tidak ada dokter yang tersedia. Semua pasien
overdosis harus dibawa ke rumah sakit segera untuk penilaian. Pengobatan
awal overdosis akut melibatkan resusitasi diikuti oleh dekontaminasi
lambung dengan pemberian arang aktif, yang mengadsorbsi aspirin dalam
saluran pencernaan. Perut memompa tidak lagi secara rutin digunakan dalam
pengobatan keracunan tapi kadang-kadang dianggap jika pasien telah
menelan sejumlah berpotensi mematikan kurang dari satu jam sebelum
presentasi. Mendorong muntah dengan sirup ipecac tidak dianjurkan dosis
berulang. arang telah diusulkan untuk menjadi bermanfaat dalam kasus-kasus
overdosis aspirin, meskipun satu studi menemukan bahwa mereka mungkin
tidak menjadi nilai yang signifikan. Terlepas dari itu, kebanyakan ahli
toksikologi klinis akan berikan arang tambahan jika kadar salisilat serum
meningkat.
Cairan intravena
Cairan intravena yang mengandung dextrose seperti D5W dianjurkan untuk
menjaga output urin antara 2 dan 3 ml / kg / jam.
Alkalinisasi urin
Natrium bikarbonat diberikan dalam overdosis aspirin signifikan (tingkat
salisilat lebih besar dari 35 mg / dl 6 jam setelah konsumsi) terlepas dari pH
serum seperti meningkatkan penghapusan aspirin dalam urin. Hal ini
diberikan sampai pH urin antara 7,5 dan 8,0 tercapai.
Dialisis
Hemodialisis dapat digunakan untuk meningkatkan penghapusan salisilat dari
darah. Hemodialisis biasanya digunakan pada mereka yang sangat beracun.
Contoh keracunan parah termasuk orang dengan kadar salisilat tinggi: 7.25
mmol / L (100 mg/dL) di ingestions akut atau 40 mg / dL pada ingestions
kronis, neurotoksisitas signifikan (agitasi, koma, kejang), gagal ginjal, edema
paru, atau ketidakstabilan kardiovaskular. Hemodialisis juga memiliki
keuntungan

memulihkan

elektrolit

dan

asam-basa

kelainan

saat

mengeluarkan salisilat.
5.5. Epidemiologi
Selama bagian akhir dari abad ke-20, jumlah keracunan dari salisilat
menurun, terutama karena meningkatnya popularitas lainnya over-the-counter
analgesik seperti parasetamol (asetaminofen). Lima puluh dua kematian yang
melibatkan aspirin tunggal bahan dilaporkan di Amerika Serikat pada tahun

2000; Namun, dalam semua kecuali tiga dari kasus ini, alasan untuk
konsumsi dosis mematikan memang disengaja-terutama bunuh diri.

BAB III
PEMBAHASAN KASUS

1. Kasus
Seorang laki-laki 48 tahun (tinggi 168 cm, berat badan 53,7 kg) ditemukan
tewas di tempat tidur hotel. Dua toilet kosong botol deterjen dan satu botol dapur
pemutih ditemukan di samping tempat tidur di lantai. Sebuah kantong plastik
berisi cairan bening dan tidak berwarna, yang diasumsikan campuran toilet
deterjen dan dapur pemutih, ditemukan di samping orang yg meninggal. Selain
itu, enam karton kosong (Total 60 tablet) dari antipiretik analgesik
nonprescription (Aspirin) berada di tempat sampah. Dia tidak memiliki riwayat
medis masa lalu. Untuk memperjelas penyebab kematian, otopsi forensik
dilakukan sekitar 36 jam setelah kematian.

2. Pemeriksaan Forensik
2.1. Temuan Otopsi
Orang yang meninggal dengan tinggi 168 cm dan beratnya 53,7 kg.
Wajah menunjukkan perubahan warna merah-coklat dengan erosi, terutama
pada kulit di sekitar bibir dengan busa memancarkan dari mulut berikut
edema paru ditampilkan erosi yang parah. Temuan eksternal yang biasa-biasa
saja. Secara internal, kiri dan paru-paru kanan ditimbang 1100 dan 1000g,
masing-masing, dan menunjukkan edema paru dan kemacetan. Trakea dan
bronkus yang penuh dengan buih, dan banyak ekimosis yang diamati dalam
mukosa. Ada sekitar 150 mL isi lambung mengandung cairan coklat
kemerahan yang termasuk butir putih. Jantung ditimbang 270 g dan berisi
sekitar 200 ml darah merah dan kental gelap. Darah femoralis tidak dapat
dikumpulkan untuk bekuan darah. Arteri koroner tidak menunjukkan temuan
abnormal termasuk stenosis. Otak ditimbang 1.300 g, dan permukaan sedikit
mengisi. Kebanyakan organ menunjukkan sedikit kemacetan. Sampel
postmortem termasuk darah jantung, urine, isi perut, organ (otak, paru-paru
dan hati) dan cairan dalam kantong plastik dikumpulkan selama autopsi dan
disimpan pada -40 C untuk pemeriksaan toksikologi.
2.2. Bahan Pengujian Toksikologi
Aspirin, asam salisilat dan asam 2-methylbenzoic (internal standar;
IS) yang dibeli dari Wako Chemicals Murni (Osaka, Jepang). Semua reagen

lain dan pelarut untuk analisis instrumen yang kelas analitis. Solusi formalin
digunakan untuk jaringan fixat ion dibeli dari Wako Chemicals Murni
(Osaka, Jepang).
2.3. Persiapan Sampel
Analisis aspirin dan asam salisilat dalam berbagai sampel cairan dan
organ dilakukan sesuai dengan metode Kebutuhan dimodifikasi. Secara
singkat, 200 uL sampel cairan yang ditambahkan ke 200 mL standar internal
(5 ml / mL asam 2-methylbenzoic). Setelah agitasi, 400 uL asetonitril
ditambahkan setetes secara perlahan-lahan ke larutan sampel. Setelah
campuran disentrifugasi (20.630 xg, 10 menit, KUBOTA 3300, Tokyo,
Jepang), 20 uL supernatan diinjeksikan ke dalam HPLC-PDA. Sampel organ
(0,5 g) yang homogen dengan 1 mL air suling dan disentrifugasi selama 10
menit pada 2270 rpm (KUBOTA 5910). Setelah sentrifugasi, 200 uL
supernatan deproteinasi menggunakan asetonitril (400 uL). Setelah campuran
disentrifugasi (20.630 xg, 10 menit; KUBOTA 3300), 20 uL supernatan
disuntikkan ke dalam HPLC-PDA.
Untuk analisis energi dispersi sinar-X fluoresensi spektrometri,
sampel cairan dan organ dari kasus ini dan 10 sampel kasus non-narkoba
(sampel kontrol) dianalisis tanpa persiapan sampel lebih lanjut.
2.4. Instrumentasi
Kuantifikasi aspirin (yaitu, asam asetilsalisilat) dan asam salisilat
dilakukan dengan menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi dengan
deteksi photodiode array (HPLC-PDA, sistem Kelas-VP, Shimadzu, Kyoto,
Jepang). Sistem HPLC-PDA terdiri dari pompa (LC-10ADvp) dan detektor
(keduanya dari Shimadzu). Analisis obat dilakukan dengan menggunakan
Develosil ODA-UG-5 kolom (4,6 mm id 250 mm) dan Shim-pack SPCRP3 kolom (4.0 mm id 30 mm) pada 50 C. Fase gerak yang digunakan
adalah 2,8 mM larutan buffer fosfat (pH 2,7) dan asetonitril. Program gradien
fase gerak dilakukan sebagai berikut: 10% asetonitril pada 0 menit, 50% pada
10 menit dengan laju alir konstan 1,0 mL / menit. Gas klor (dalam bentuk ion
klorida) dari sampel postmortem dan cairan bening dan berwarna dalam
kantong plastik dianalisis dengan energi dispersi sinar-X fluoresensi
spektometri (EDXRF; BEJ-3220, JEOL, Tokyo, Jepang). EDXRF adalah
metode yang mendeteksi fluoresensi sinar-X yang dipancarkan dari contoh
berikut X-iradiasi. Jenis dan konsentrasi unsur yang terkandung dalam
sampel dapat ditentukan nondestruktif. Kasus ini menunjukkan bahwa
skrining dengan EDXRF memberikan informasi yang berguna untuk

identifikasi obat [12]. Kondisi operasi untuk EDXRF adalah sebagai berikut:
Target: Rh anoda; tegangan operasi dan arus: 30 kV / 300 A; detektor:
silikon-lithium; dan waktu pengukuran: 300 detik. Sampel darah dan urin
dianalisis untuk etanol dengan kromatografi gas headspace (Auto Sistem XL,
PerkinElmer dan Waltham, MA, USA).
2.5. Validasi Metode
Untuk plot kurva kalibrasi dengan HPLC-PDA, cairan tubuh dan
sampel organ dibubuhi dengan obat standar pada lima konsentrasi yang
berbeda (dari 0.1- 1.000 mg/mL) dianalisis sesuai dengan prosedur yang telah
dijelaskan sebelumnya. Kurva kalibrasi diperoleh dengan memplot rasio luas
puncak masing-masing obat standar untuk IS terhadap konsentrasi obat.
Batas deteksi dan batas kuantifikasi adalah 0,1 dan 1,0 mg / mL, masingmasing, untuk aspirin dan asam salisilat dalam sampel cairan tubuh dan organ
(S / N = 3).
2.6. Pemeriksaan Histologis
Sampel otak dan jaringan paru-paru yang tetap dalam larutan
formalin 10% dan ditanam dalam parafin. Bagian parafin Serial, 3-m tebal,
disiapkan dan diwarnai dengan hematoxylin dan eosin. Bagian yang bernoda
dievaluasi di bawah perbesaran yang berbeda dari mikroskop cahaya (Nikon
Eclipse 50i, Nikon Corp, dan Tokyo, Jepang).
Hasil analisis toksikologi kasus ini disajikan pada Tabel 1
(Nishiguchi, Minori, 2013).

Specimen

Acetylsalicylic

Heart blood
Urine
Stomach contents
Brain
Lung
Liver
Colorless transparent

acid
1.0
ND
3115.5
ND
ND
ND
ND

Sal icylic acid

Chloride ion (vs

444.7
105.9
5118.1
68.3
60.9
34.5
ND

control group)
Equal
Equal
Equal
Equal
Equal
Equal
Very large quantity

liquid

Dalam semua sampel cairan tubuh dan organ, asam salisilat


terdeteksi pada konsentrasi yang relatif tinggi, dan tingkat ion klorida yang
hampir setara dengan kelompok kontrol. Dalam cairan bening dan tidak
berwarna yang terkandung dalam kantong plastik, aspirin dan asam salisilat

tidak diidentifikasi; ion klorida terdeteksi dalam jumlah besar. Tidak ada
etanol terdeteksi dalam darah atau urin. Hasil skrining obat menggunakan
Triage Obat Panel Penyalahgunaan (Biosite Diagnostik Inc, San Diego, CA,
USA) yang negatif. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan edema paru
(Gambar 1). Namun, edema serebral tidak diamati.

Figure 1:Histopatologi pada edema paru

3. Pembahasan
Dalam kasus ini, aspirin dan metabolitnya yakni asam salisilat telah
terdeteksi pada darah di jantung pada konsentrasi masing-masing 1.0 dan 444.7
g/mL. Aspirin memiliki waktu paruh yakni 15 hingga 20 menit dan dengan cepat
dihidrolisis menjadi asam salisilat. Asam salisilat pada dosis 3.0 g atau kurang,
dapat dengan cepat dieliminasi dari darah dengan waktu paruh 2 hingga 4 jam.
Namun ketika aspirin dikonsumsi dalam dosis yang besar (>10 g) maka waktu
paruh akan berubah menjadi 20 jam atau lebih dan penyerapan mungkin tertunda
karena pylorospasm salisilat-diinduksi dan / atau pembentukan pharmacobezoars.
Dalam hal ini, kami memperkirakan bahwa almarhum mengkonsumsi sekitar 60
tablet aspirin (500 mg / tablet) tanpa resep, sehingga asam salisilat tetap dalam
darah pada konsentrasi tinggi untuk waktu yang relatif lama. Keracunan yang
disebabkan karena mengkonsumsi aspirin dalam jumlah besar dikenal sebagai
salicylism. Dalam situasi ini, asidosis metabolik dan alkalosis pernapasan terjadi
karena ketidakseimbangan asam-basa yang serius dan mengarah ke jantung

sehingga terjadi gagal pernafasan dan menyebabkan kematian. Mekanisme


patologis adalah stimulasi langsung dari pusat pernapasan di medula oblongata
oleh salisilat, dengan hiperpnea dan hiperventilasi menurunkan konsentrasi CO2
darah

dan

menyebabkan

alkalosis

pernafasan.

Selanjutnya,

salisilat

didistribusikan ke dalam sel dari darah langsung menghambat fosforilasi oksidatif


pada

sel-sel

ini,

ketidakseimbangan

yang

mengurangi

metabolisme

produksi

ATP

dan

menyebabkan

dan pasokan energi, sehingga asidosis

metabolik.
Dalam kasus ini asam salisilat ditemukan pada masing-masing pada level
68.3, 60.9 dan 34.5 g/g dalam otak, paru-paru dan hati. Nilai ini lebih rendah
dibandingkan kasus kematian sebelumnya akibat keracunan aspirin yakni masingmasing 300-400, 900-1400 dan 600-800 g/g pada otak, paru-paru dan hati.
Namun dalam cacatan kasus kami, level dalam otak lebih besar dibandingkan
paru-paru dan hati. Asam salisilat adalah zat asam yang dibebankan dalam darah
dan tidak mungkin untuk melewati lapisan ganda lemak dari sawar darah-otak.
Bagaimanapun ketika aspirin dikonsumsi dalam jumlah yang banyak, terjadi
metabolik asidosis, dan konsentrasi asam salisilat yang tinggi menurunkan pH
darah. Hal ini meningkatkan bentuk terurai dari asam salisilat dan memungkinkan
obat untuk melewati sawar darah-otak. Distribusi asam salisilat ke otak
menyebabkan edema serebral dan memiliki efek sistem saraf pusat pada pusat
pernapasan terlepas dari konsentrasi darah. Oleh karena itu, meskipun tidak jelas
yang alkalosis pernapasan atau asidosis metabolik terpengaruh kematiannya, hal
ini tentunya bahwa konsentrasi tinggi asam salisilat dalam kasus kami juga
memiliki efek serius pada sistem saraf pusat.