Anda di halaman 1dari 4

Halaman judul

1. Teknis Budidaya Tanaman Apel


Budidaya tanaman apel yang diamati yaitu milik Dinas Pertanin Pujon.
Pengamatan dilakukan di Desa Mantung kecamatan Pujon, Batu. Wawancara
dilakukan dengan Ibu Eny yaitu selaku penanggung jawab lapang Dinas Pertanian
Pujon. Untuk lahan budidaya apel seluas 1.5 ha dengan sistem tanam monokultur.
Awal proses budidaya tidak dilakukan pengolahan tanah atau tanpa olah tanah.
Namun dilakuka pembuatan lubang tanam sedalam 5 cm dan jarak tanam 3 x 4 m.
Bibit yang digunakan yaitu bibit bongkar dan bibit baru. Biit bongkar yaitu merupakan
tanaman apel yang sudah ada di lahan tersebut namun dilakukan perbaikan varietas
yaitu dengan okulasi apel manalagi serta beberapa saja Rome beaty. Sedangkan
bibit baru yang digunakan untuk lahan yang belum ditanamai apel, digunakan bibit
unggul apel manalagi yang berumur 5 bulan dengan tinggi bibit saat itu sekitar 50
cm. Penanaman apel di lahan tersebut dilakukan pada tahun 2003, 2004 dan 2005.
Sehingga umur tanaman saat ini yaitu antara 9-11 tahun.
Dalam proses budidaya apel yang penting yaitu pemupukan. Pemupukan
dilakukan scara rutin oleh Ibu Eny beserta para pekerja. Pupuk yang digunakan yaitu
kombinasi pupuk kandang kotoran sapi dan pupuk kimia. Pemberian pupuk ini
dilakukan mulai awal tanam, saat perompesan, menjelang berbuah dan setelah
panen. Namun Ibu Eny tidak menjelaskan berapa perbandingan serta dosis pupuk
kandang dan pupuk kimia yang diberikan.
Irigasi berperan penting bagi pemenuhan kebutuhan air tanaman apel. Namun
yang perlu diketahui yaitu, kawasan di desa Mantung mengalami permasalahan
kesulitan air terutama saat musim kemarau. Sehingga irigasi yang dilakukan di laha
apel yaitu irigasi teknis dengan mengalirkan air dari sumber air ke lahan
menggunakan pompa dan pipa.
Pengendalian hama dan penyakit tanaman secara terpadu belum diterapkan
oleh Dinas Pertanian. Hal ini karena pengendalian serangan hama penyakit masih
menggunakan pestisida. Monitoring dilakukan oleh Ibu Eny, apabila serangan dirasa
parah maka akan dilakukan penyemprotan. Namun dari penuturan ibu Eny selain
penyemprotan tersebut, penyemprotan pestisida juga dilakukan rutin 15 hari sekali
guna menjaga kualitas buah. Dan diketahui pula untuk saat ini hama yang sangat
merugikan yaitu kutu sisik pada batang serta penyakit mata ayam pada buah. Hama
dan penyakit tersebut cukup berkontribusi dalam penurunan hasil produksi apel.

Apel dapat berbuah secara optimal yaitu saat umur 3-4 tahun. Di lahan milik
Dinas Pertanian Pujon, keseluruhan populasi apel yaitu 630 tanaman. Panen
dilakukan tiap 6 bulan sekali sehingga panen dilakukan tiap setahun dua kali.
Produksi buah perpohon pada masa panen terakhir yaitu 4 kg/ pohon, sehingga
untuk panen terakhir didapatkan keseluruhan hasil panen yaitu 2 ton. Untuk
pemasaran dilakukan oleh tengkulak dengan harga apel saat ini yaitu Rp 8000/kg.
2. Hasil indentifikasi dan analisis permasalahan sistem budidaya tanaman dari praktekpraktek petani selama ini guna menuju pengembangan pertanian berbasis ekologis
Saat ini praktek budidaya yang dilakukan oleh lahan Dinas Pertanian belum
sesuai dengan konsep ekologis. Hal ini karena beberapa praktek budidaya belum
mengarah pada budidaya yang tidak merusak alam. Permasalahan yang kami amati
di lapang yaitu:
Struktur tanah yang keras
Hal ini karena sejak awal penanaman tidak dilakukan pengolahan tanah,
sehingga tanah menjadi keras dan berpengaruh pada porositas dan aerasi
tanah. Hal tersebut juga meruncing pada permasalahan produksi apel

tersebut.
Kesulitan air
Di kawasan tersebut cukup mengalami kesulitan air terutama saat musim
kemarau. Sehingga adanya pergiliran dalam irigasi lahan. Dalam hal ini untuk
mengalirkan air ke lahan maka digunakan pompa dan pipa. Biaya yang bisa
diasumsikan cukup tinggi, namun tentu sarana tersebut berguna dalam

jangka panjang
Penggunaan bahan kimia
Penggunaan bahan kimia, bisa berhubungan dengan pupuk serta pestisida.
Pupuk yang digunakan selain pupuk kandang yaitu pupuk kimia. Pupuk kimia
memang memberi hasil yang relatif cepat pada tanaman, namun residu yang
ditinggalkan juga berdampak buruk bagi struktur tanah. Pestisida yang
diberikan dengan cara pnyemprotan. Hal ini bukan hanya mencemari
lingkungan dalam hal ini udara, namun juga dapat mengganggu biodiversitas
lahan tersebut atau membunuh organisme yang bermanfaat di lahan

tersebut.
Ketidakpastian hasil panen
Kehilangan hasil panen dipengaruhi oleh berbagai faktor, selain faktor internal
tanaman tersebut terserang hama, kurang nutrisi tanaman atau air, iklim atau
cuaca dapat juga berpengaruh. Banyak tidaknya hasil panen dilihat dari
jumlah bunga. Apabila jumlah bunga banyak, maka potensi jumlah buah yang
dihasilkan juga lebih banyak. Namun apabila saat berbunga, di kawasan
tersebut mengalami hujan dengan intensitas tinggi, maka kehilangan hasil

juga dapat terjadi. Mengingat Batu dan Malang merupakan kawasan dengan
curah hujan yang cukup tinggi.
3. Uraian bagaimana petani menyelesaikan masalah tersebut selama ini
Dari permasalahan tersebut, perlu adanya tindakan yang diambil guna
menjaga keberlanjutan budidaya serta produksi apel tersebut tetap optimal.
4. Rekomendasi solusi terhadap permasalahan budidaya pertanaman yang didasarkan
dari kajian paling tidak dari Buku: Building Soils For Better Crops: Sustainable Soil
Management by Fred Magdoff and Harold van Es
5. Uraian rancangan kegiatan-kegiatan perbaikan habitat pertanaman baik diatas dan
didalam tanah
6. Uraian teknologi, dan cara serta lokasi penerapan teknologi tersebut yang sebaiknya
diterapkan guna mencapai sasaran hasil tanaman (atau usaha lain) yang optimal dan
berkualitas dengan memberikan dampak lingkungan positif yang tinggi dan dampak
negatif yang rendah
7. Uraian kegiatan-kegiatan yang perlu dilakuan dalam mengkonservasi biodiversitas
dengan memperhatikan sepuluh prinsip konservasi biodiversitas dalam landcape
pertanian
8. Pembahasan Umum dan Kesimpulan.