Anda di halaman 1dari 33

cara perambatan energi dari sumber energi ke

lingkungannya tanpa membutuhkan medium atau bahan


penghantar
Radiasi nuklir memiliki dua sifat yang khas:
tidak dapat dirasakan secara langsung dan
dapat menembus berbagai jenis bahan.

Alat untuk mengukur


deteksi radiasi dan
mengukur radiasi
nuklir

Jenis Deteksi Radiasi


Metode koleksi ion
berwujud gas
Detektor semi konduktor
Detektor berdasarkan emisi
cahaya
Detektor radiasi gamma,
beta, alpha

Detektor neutron

Metode koleksi ion berwujud gas


Detektor isian gas merupakan detektor yang
paling sering digunakan untuk mengukur
radiasi. Detektor ini terdiri dari dua elektroda,
positif dan negatif, serta berisi gas di antara
kedua elektrodanya

Radiasi yang memasuki detektor akan mengionisasi gas dan menghasilkan


ion-ion positif dan ion-ion negatif (elektron). Jumlah ion yang akan dihasilkan
tersebut sebanding dengan energi radiasi dan berbanding terbalik dengan
daya ionisasi gas. Daya ionisasi gas berkisar dari 25 eV s.d. 40 eV. Ion-ion yang
dihasilkan di dalam detektor tersebut akan memberikan kontribusi
terbentuknya pulsa listrik ataupun arus listrik.

Ion-ion primer yang dihasilkan oleh


radiasi akan bergerak menuju
elektroda yang sesuai. Pergerakan
ion-ion tersebut akan menimbulkan
pulsa atau arus listrik

Detektor Geiger Mueller


Jumlah ion yang
dihasilkan di daerah ini
sangat banyak,
mencapai nilai
saturasinya, sehingga
pulsanya relatif tinggi
dan tidak memerlukan
penguat pulsa lagi

jumlah ion yang dihasilkan di daerah ini


relatif sedikit sehingga tinggi pulsanya.
Biasanya, pengukuran yang menggunakan
detektor ionisasi menerapkan cara arus
atau dengan cara pulsa dengan tambahan
penguat pulsa yang sangat baik

Detektor Ionisasi

jumlah ion yang dihasilkan di


daerah proporsional ini lebih
banyak sehingga tinggi pulsanya
akan lebih tinggi. Detektor ini lebih
sering digunakan untuk
pengukuran dengan cara pulsa.

Detektor Proporsional

Detektor Kamar Ionisasi (ionization chamber)


jumlah ion yang dihasilkan di daerah ini relatif
sedikit sehingga tinggi pulsanya, bila menerapkan
pengukuran model pulsa, sangat rendah. Oleh
karena itu, biasanya, pengukuran yang
menggunakan detektor ionisasi menerapkan cara
arus. Bila akan menggunakan detektor ini dengan
cara pulsa maka dibutuhkan penguat pulsa yang
sangat baik. Keuntungan detektor ini adalah dapat
membedakan energi yang memasukinya dan
tegangan kerja yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi.

Detektor Proporsional
Dibandingkan dengan daerah ionisasi di atas, jumlah
ion yang dihasilkan di daerah proporsional ini lebih
banyak sehingga tinggi pulsanya akan lebih tinggi.
Terlihat pada kurva karakteristik di atas bahwa jumlah
ion yang dihasilkan sebanding dengan energi radiasi,
sehingga detektor ini dapat membedakan energi
radiasi. Akan tetapi, yang merupakan suatu kerugian,
jumlah ion atau tinggi pulsa yang dihasilkan sangat
dipengaruhi oleh tegangan kerja dan daya tegangan
untuk detektor ini harus sangat stabil.

Detektor Geiger Mueller (GM)


Jumlah ion yang dihasilkan di daerah ini sangat
banyak, mencapai nilai saturasinya, sehingga
pulsanya relatif tinggi dan tidak memerlukan
penguat pulsa lagi. Kerugian utama dari
detektor ini ialah tidak dapat membedakan
energi radiasi yang memasukinya, karena
berapapun energinya jumlah ion yang
dihasilkannya sama dengan nilai saturasinya.

Selain metode koleksi ion berwujud gas, ada


beberapa metode deteksi radiasi, diantaranya:

metode fotografi
metode pendar-flour
metode bilik kabut

Metode Fotografi
Pengaruh radiasi terhadap film atau kertas fotografi
sama seperti pengaruh cahaya biasa. Radiasi
memiliki daya tembus yang lebih kuat dibandingkan
cahaya biasa, sehingga radiasi dapat memengaruhi
emulsi pada film walaupun film masih dalam
keadaan tertutup. Jejak radiasi akan tampak pada
film setelah film dicuci atau dikembangkan dengan
cara biasa.

Metode Pendar-Flour
Beberapa zat dapat menyerap radiasi dan
memancarkan kembali dalam bentuk cahaya tampak.
Peristiwa ini disebut berpendar flour atau
flouresensi. Sebagai contoh adalah seng sulfida (ZnS)
yang biasa digunakan pada layar televisi. Radiasi
dapat menyebabkan molekul ZnS berada dalam
keadaan tereksitasi. Sebagian energi eksitasinya
dapat dipancarkan kembali dalam bentuk cahaya
tampak. ZnS yang terkena radiasi yang tak tampak
akan kelihatan membara.

Metoda Bilik Kabut

Alat bilik kabut yang terdiri dari ruang yang dilengkapi jendela kaca berisi udara
jenuh dengan uap air atau uap alcohol. Udara dalam ruang didinginkan secara
cepat sehingga mencapai keadaan lewat jenuh. Udara lewat jenuh sangat
mudah membentuk embun kembali bila sedikit gangguan
Radiasi yang masuk lewat jendela kaca akan mengionkan molekul-molekul
udara sepanjang lintasannya. Pasangan ion yang terbentuk menarik molekulmolekul uap disekitarnya sehingga terbentuk kabut tipis. Dengan demikian
lintasan radiasi atau jejak radiasi akan tampak sebagai garis-garis putih halus
Dari pengamatan jejak-jejak ini dapat diketahui hal-hal penting sebagai berikut:
a. Jarak yang ditempuh radiasi
b. Energy relative radiasi atau partikel.
c. Pengaruh medan magnet atau medan listrik terhadap radiasi.
d. Tabrakan radiasi dengan partikel.

DETEKTOR
SEMIKONDUKTOR

Introduction
Bahan semikonduktor ( setengah penghantar ) adalah bahan
isolator pada suhu 0 K dan menjadi konduktor (penghantar)
pada suhu 300 K

Bahan yang dapat berubah sifat kelistrikannya apabila


temperaturnya berubah-ubah.

Dalam keadaan murninya mempunyai sifat sebagai isolator ;


sedangkan pada temperatur kamar ( 27 C ) dapat berubah
sifatnya menjadi bahan penghantar.

Jenis-Jenis Semikonduktor
Intrinsik

| semikonduktor murni yang tidak


diberi doping |

Ekstrinsik

| semikonduktor murni yang diberi


doping |

Jenis
Semikndktr

Semikonduktor Intrinsik
Semikonduktor yang belum mengalami penyisipan oleh
atom akseptor atau atom donor

Pada suhu tinggi elektron valensi dapat berpindah menju


pita konduksi, dengan menciptakan hole pada pita valensi

Pengahantar listrik pada semikonduktor adalah elektron


dan hole

Semikonduktor Ekstrinsik
Tipe N

| Pengotoran oleh atom pentavalent


yaitu, bahan kristal dengan inti atom
memiliki 5 elektron valensi |

Tipe P

| Pengotoran oleh atom trivalent yaitu,


bahan kristal dengan inti atom
memiliki 3 elektron valensi |

Ada
2 Tipe

Tipe N
Tipe N
Pengotoran oleh atom pentavalent yaitu, bahan kristal dengan inti
atom memiliki 5 elektron valensi.

Contoh
P , As
|Atom pengotor disebut atom donor|
|Pembawa muatan disebut elektron|

Tipe P
Tipe P
Pengotoran oleh atom trivalent yaitu, bahan kristal dengan inti atom
memiliki 3 elektron valensi.

Contoh ; B, Ga

| Atom pengotornya disebut atom akseptor |


| Pembawa muatan disebut hole |

PN JUNCTION
Semikonduktor Ekstrinsik

Jika semikonductor disambungkan, maka elektron akan berdifusi


menuju daerah tipe-p, dan sebaliknya hole akan berdifusi
menuju daerah tipe-n, sehingga terbentuk daerah persambungan.
Pada daerah persambungan ini terbebas dari muatan mayoritas,
tetapi terjadi dipole muatan sehingga timbul medan listrik dan
terjadi potensial halang.

Kelemahan dan Keunggulan Detector


Semikonduktor

Keunggulan :
Memiliki Resolusi energi yang lebih baik
Detektor berukuran lebih kecil
Detektor berukuran lebih kecil
Efisiensi yang lebih tinggi untuk radiasi sinar Gamma
Fast timing characteristic
Memiliki volume detector efektif yang dapat diaur sesuai
dengan jenis radiasi yang diukur
Kelemahan :
Konstruksi rumit
Mudah rusak

ALAT YANG PEKA TERHADAP


PANCARAN RADIASI CAHAYA

DETEKTOR SINTILATOR
Cara kerja detektor sintilasi adalah Di dalam kristal
bahan sintilator terdapat pita-pita atau daerah yang
dinamakan sebagai pita valensi dan pita konduksi yang
dipisahkan dengan tingkat energi tertentu. Pada
keadaan dasar, ground state, seluruh elektron berada
di pita valensi sedangkan di pita konduksi kosong.
Ketika terdapat radiasi yang memasuki kristal,
terdapat kemungkinan bahwa energinya akan terserap
oleh beberapa elektron di pita valensi, sehingga dapat
meloncat ke pita konduksi. Beberapa saat kemudian
elektron-elektron tersebut akan kembali ke pita
valensi melalui pita energi bahan aktivator sambil
memancarkan percikan cahaya. Jumlah percikan
cahaya sebanding dengan energi radiasi diserap dan
dipengaruhi oleh jenis bahan sintilatornya. Semakin
besar energinya semakin banyak percikan cahayanya.
Percikan-percikan cahaya ini kemudian ditangkap
oleh photomultiplier

SENTILATOR CAIR

NaI(TI)

DETEKTOR FOTON
PENGERTIAN DAN CARA KERJA
SEL
PHOTOVOLTAIC

Detector foton mendeteksi cahaya


berdasarkan pada prinsip quantum
photoelectric effect. Prinsip quantum
photoelectric effect yaitu foton
mengeksitasi carrier sehingga
menghasilkan photocurrent.
Photoelectric effect didasarkan pada
energi foton hv, dengan mengacu pada
panjang gelombang yang berkaitan
dengan energi transisi E.

JENIS UV
DETEKTOR

PMT

PHOTOTUBE

Detektor Neutron
Detektor neutron melakukan proses konversi dimana neutron yang masuk
berinteraksi

dengan

inti

atom

tertentu

yang

menghasilkan

partikel

bermuatan.
Partikel

Neutron

menghasilkan

dalam

perjalanannya

melalui

medium

gas

sedikit sekali ionisasi secara langsung karena tidak

bermuatan, sehingga tidak dapat dideteksi secara langsung menggunakan

peralatan instrumentasi seperti Pencacah Geiger atau kamar ionisasi.


Instrument yang dapat diadaptasikan untuk mendeteksi dan mencacah
partikel neutron dengan memanfaatkan efek sekunder dari masuknya

partikel tak bermuatan tersebut. Metode yang paling sering digunakan


untuk mencacah neutron thermal mengggunakan reaksi (n,a) dengan B10
,yang mempunyai tampang lintang besar atau secara sederhana :

5B10 + 0n1

3Li7 + a

Jenis Detektor Neutron


a) BF3 proportional counter,

b) Boron lined detector

c) Fission Chamber (FC),

d) 3He Neutron Proportional Counter


e) Self Powered Neutron Detector (SPND)

Secara umum detektor radiasi nuklir menggunakan fenomena ionisasi, kecuali


SPND yang memanfaatkan fenomena peluruhan dengan radiasi beta dan
detektor keeping/bola yang memanfaatkan fenomena aktivasi neutron. Cara
Kerja Detektor Neutron yang biasa digunakan dalam operasi pada umumnya
seperti:

a) BF3 proportional counter,

10B + 1n (thermal)

7Li + a + energy

Reaksi B10 (n,a) Li7

B10 adalah salah satu bagian pembentuk senyawa BF3 , yang digunakan
sebagai gas isian pada proportional counter atau ionization chamber.
Kemudian sistem pencacah BF3 mencacah emisi sinar a yang dipancarkan
pada reaksi B10 (n ,a) Li7 .Kuantitas partikel a yang tercacah tentunya
akan proporsional dengan kuantitas neutron yang mengenai detector.
B10 mempunyai tampang lintang absorpsi satu untuk neutron berenergi

rendah sebesar 3840 barns dibandingkan dengan H3 sebesar 5330 barns.


Hal ini menyebabkan BF3 kurang sensitive dibandingkan dengan detector
He3 .

b) Boron lined detector


Boron Lined Detectors adalah detektor isian gas yang didasarkan pada reaksi yang sama pada BF3,
namun pada Boron Lined Detector, boron yang digunakan berbentuk padat (solid), material Boron
B10 padat tersebut melapisi dinding detektor. Detektor berisi gas yang terionisasi oleh partikel

bermuatan (a) hasil dari reaksi yang dilepaskan dari interaksi boron dan neutron pada dinding
detektor.

c) Fission Chamber (FC),

Fission Chambers adalah pencacah isian gas yang mendeteksi bagian-bagian


produk reaksi fisi. Untuk jenis ini pada permukaan bagian dalam detektor
dilapisi dengan bahan isotop dapat belah (fissile isotope) Uranium-235

d) 3He Neutron Proportional Counter

reaksi 2He3 + 0n1thermal


1H1 + 1T3 + E ( 765 keV). Energy yang dilepaskan
Rasio muatan pada kawat anoda dengan muatan awalnya disebut dengan Gas Gain atau Gas
dalam reaksi antara neutron dan detektor isian gas Helium-3 sekitar 765 keV. Energi
Mutiplication. Meningkatkan tegangan pada anoda akan meningkatkan Gas
ini ditransmisikan sebagai energy kinetik dari inti produk reaksi (reaction daughter
Multiplication.Tegangan operasi diatur untuk mendapatkan Gas Multiplication yang cukup
product). Detektor He-3 manghasilkan sebuah output pulsa untuk setiap interaksi
untuk tujuan pencacahan. Energi yang dilepaskan dalam reaksi He3(n,p)T3 ini besarnya
neutron thermal, yang mana proporsional dengan energi sebesar 765 keV. Muatan
hanya seperempat dari energy yang dilepaskan reaksi B10 (n ,a) Li7 yang digunakan pada
yang diproduksi sebagai hasil dari ionisasi gas relatif kecil. Oleh karena muatan ini
BF3 proportional counter. Oleh karena itu He-3 dapat digunakan sebagai spectrometer
diperbesar dengan memasang tegangan tinggi pada bagian anoda dari detektor.
neutron seperti detektor neutron umumnya. Selain itu besarnya nilai tampang lintang

absorpsi sa neutron termal untuk He-3 menghasilkan system pencacahan yang sensitif.