Anda di halaman 1dari 4

INFEKSI SALURAN KEMIH BAGIAN BAWAH

A.

PENGERTIAN
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang terjadi pada saluran kemih.
(Wikipedia)
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah berkembangbiaknya mikroorganisme di dalam
saluran kemih yang dalam keadaan normal tidak mengandung bakteri, virus/
mikroorganisme lain (Waspadji, S,1998: 264).
Infeksi saluran kemih adalah adanya mikro organisme patogenik dalam traktus
urinarius, dengan atau tanpa disertai tanda dan gejala.(Brunner & Suddarth.2001)
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi yang terjadi sepanjang saluran kemih,
terutama masuk ginjal itu sendiri akibat proliferasi suatu organisme. (Corwin, E.J,2001:
480)
Infeksi saluran kemih dapat timbul pada bagian saluran kemih atas (pyelonefritis),
dan Infeksi saluran kemih bawah terdiri dari sistitis, prostatitis dan epidimitis, uretritis,
sertasindrom uretra. Presentasi klinis ISKB tergantung dari gender. Pada perempuan
biasanya berupa sistitis dan sindrom uretra akut, sedangkan pada laki-laki berupa
sistitis, prostatitis, epidimitis, dan uretritis.

B. PATOGENESIS
Dua jalur utama terjadinya ISK adalah hematogen dan ascending, tetapi dari kedua
cara ini ascendinglah yang paling sering terjadi. (1) Kuman penyebab ISK pada umumnya
adalah kuman yang berasal dari flora normal usus. Dan hidup secara komensal di dalam
introitus vagina, prepusium penis, kulit perineum, dan di sekitar anus. Mikroorganisme
memasuki saluran kemih melalui uretra prostate vas deferens testis (pada pria) bulibuli ureter, dan sampai ke ginjal.

Gambar 1. Masuknya kuman secara ascending ke dalam saluran kemih, (1) Kolonisasi
kuman di sekitar uretra, (2) masuknya kuman melalui uretra ke buli-buli, (3) penempelan
kuman pada dinding buli-buli, (4) masuknya kuman melalui ureter ke ginjal.
C. ETIOLOGI
Penyebab terbanyak adalah bakteri gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya
menghuni usus kemudian naik ke sistem saluran kemih. Dari gram negatif tersebut,
ternyata Escherichia coli menduduki tempat teratas kemudian diikuti oleh Proteus sp.,
Klebsiella sp., Enterobacter sp., dan Pseudomonas sp.,Bermacam-macam mikro
organisme dapat menyebabkan ISK, antara lain dapat dilihat pada tabel berikut:

D. GEJALA KLINIK
Manifestasi klinis ISK (simtomatologi ISK) dibagi menjagi gejala-gejala lokal, sistemik d a n
perubahan urinalisis. Dalam praktik sehari-hari gejala cardinal
s e p e r t i d i s u r i a , polakisuria, dan urgensi sering ditemukan pada hampr 90% pasien
rawat jalan dengan ISK akut.
Berdasarkan bagian saluran kemih yang terinfeksi, tanda dan gejala sebagai berikut:

Sistitis : piuria urgensi, frekuensi miksi meningkat perubahan warna dan bau urine,
nyeri suprapublik, demam biasanya tidak ada.
Uretritis : mungkin mirip dengan sistitis kecuali adanya discharge urethra
Prostatitis: serupa dengan sistitis kecuali gejala obstruksi orifisium uretra (cont:
hesitansi, aliran lemah).
Pielonefritis : demam, menggigil, nyeri punggung atau bokong, mual, muntah,
diare.

Abses ginjal (intrarenal atau perinefrik); serupa dengan pielonefritis kecuali demam
menetap meskipun diobati dengan antibiotik.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.

Analisa Urin (urinalisis)


Leukosuria (ditemukannya leukosit dalam urin). Dinyatakan positif jika terdapat 5
atau lebih leukosit (sel darah putih) per lapangan pandang dalam sedimen urine.
Hematuria (ditemukannya eritrosit dalam urin). Merupakan petunjuk adanya ISK jika
ditemukan eritrosit (sel darah merah) 5-10 per lapangan pandang sedimen urin. Hematuria
bisa juga karena adanya kelainan atau penyakit lain, misalnya batu ginjal dan penyakit
ginjal lainnya.

2.

Pemeriksaan bakteri (bakteriologis)


Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan secara mikroskopis dan biakan bakteri.
Mikroskopis. Bahan: urin segar (tanpa diputar, tanpa pewarnaan). Positif jika ditemukan 1
bakteri per lapangan pandang. Biakan bakteri. Ditujukan untuk memastikan diagnosa ISK.

3.

Pemeriksaan kimia
Tes ini dimaksudkan sebagai penyaring adanya bakteri dalam urin. Contoh, tes
reduksi griess nitrate, untuk mendeteksi bakteri gram negatif. Tingkat kepekaannya
mencapai 90 % dengan spesifisitas 99%.

4.

Tes Dip slide


Berguna untuk menentukan jumlah bakteri per cc urin. Kelemahan cara ini tidak
mampu mengetahui jenis bakteri.

5.

Pemeriksaan penunjang lain meliputi: radiologis (rontgen), IVP (pielografi intra vena),
USG dan Scanning. Pemeriksaan penunjang ini dimaksudkan untuk mengetahui ada
tidaknya batu atau kelaianan lainnya.

F. PENATALAKSANAAN
Uji sensitivitas antibiotik menjadi pilihan utama dalam penentuan antibiotik yang
dipergunakan. Antibiotik yang sering dipergunakan untuk terapi ISK, yaitu:
1. Amoxicillin 20-40 mg/kg/hari dalam 3 dosis. Sekitar 50% bakteri penyebab ISK resisten
terhadap amoxicillin. Namun obat ini masih dapat diberikan pada ISK dengan bakteri yang
sensitif terhadapnya.

2. Kloramfenikol 50 mg/kg berat badan sehari dalam dosis terbagi 4, sedangkan untuk
bayi premature adalah 25 mg/kg berat badan sehari dalam dosis terbagi 4.
3. Co-trimoxazole atau trimethoprim 6-12 mg trimethoprim/kg/hari dalam 2 dosis.
Sebagian besar ISK akan menunjukkan perbaikan dengan cotrimoxazole. Penelitian
menunjukkan angka kesembuhan yang lebih besar pada pengobatan dengan
cotrimoxazole dibandingkan amoxicillin.
4. Cephalosporin seperti cefixime atau cephalexin 1-2 gr dalam dosis tunggal atau dosis
terbagi (2 kali sehari) untuk infeksi saluran kemih bagian bawah (sistitis) sehari.
Cephalexin kira-kira sama efektif dengan cotrimoxazole, namun lebih mahal dan memiliki
spectrum luas sehingga dapat mengganggu bakteri normal usus atau menyebabkan
berkembangnya jamur (Candida sp.) pada anak perempuan.
F. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada infeksi saluran kemih antara lain batu saluran
kemih, obstruksi saluran kemih, sepsis, infeksi kuman yang multisistem, dan gangguan
fungsi ginjal. Komplikasi lain yang mungkin terjadi setelah terjadi ISK yang terjadi jangka
panjang adalah terjadinya renal scar yang berhubungan erat dengan terjadinya hipertensi
dan gagal ginjal kronik. ISK pada kehamilan dengan BAS (Basiluria Asimtomatik) yang
tidak diobati: pielonefritis, bayi prematur, anemia, Pregnancy-induced hypertension. ISK
pada kehamilan: retardasi mental, pertumbuhan bayi lambat, Cerebral palsy, fetal death.