Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH MANAJEMEN BENCANA DAN KLB

BENCANA NUKLIR
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen Bencana dan Kejadian Luar
Biasa Semester Lima Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga 2014

Disusun oleh :
Kelompok 07 IKM-B 2012

DEWI MEI C. M.

101211131023

LINTA MEYLA PUTRI

101211131047

DYTA MUSTIKA RETNO

101211133010

AFTON ILMAN HUDA

101211133028

MARIATUL FITHRIASARI

101211133060

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2014

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL......................................................................................... 1
DAFTAR ISI ........................................................................................................ 2
BAB 1. PENDAHULUAN ................................................................................... 3
BAB 2. PEMBAHASAN ..................................................................................... 6
2.1 PRA BENCANA ................................................................................... 6
2.1.1 Pencegahan Bencana Kecelakaan Nuklir ..................................... 6
2.1.2 Mitigasi Bencana Nuklir ............................................................... 8
2.1.3 Kesiapsiagaan ............................................................................... 9
2.2 SAAT BENCANA ................................................................................ 18
2.3 PASCA BENCANA .............................................................................. 21
2.3.1 Recovery (Pemulihan) .................................................................. 21
2.3.2 Rekonstruksi ................................................................................. 22
BAB 3. KESIMPULAN ....................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 25

BAB I
PENDAHULUAN

Bahaya yang berasal dari kondisi teknologi atau industri, termasuk kecelakaan,
prosedur berbahaya, kegagalan infrastruktur atau aktivitas manusia yang spesifik, yang
dapat menyebabkan hilangnya nyawa, cedera, penyakit atau dampak kesehatan lain,
kerusakan harta benda, hilangnya mata pencaharian dan layanan, gangguan sosial dan
ekonomi, atau kerusakan lingkungan.
Beberapa contoh bahaya teknologi termasuk polusi industri, radiasi nuklir, limbah
beracun, kegagalan bendungan, kecelakaan transportasi, ledakan pabrik, kebakaran, dan
tumpahan bahan kimia. Bahaya teknologi juga mungkin timbul secara langsung sebagai
akibat dari dampak peristiwa bencana alam. Kecelakaan Nukir atau Kebocoran nuklir
adalah dampak yang paling ditakutkan dibalik manfaaat energi nuklir bagi manusia.
Dalam catatan sejarah manusia terdapat kejadian kecelakan nuklir tersbesar di dunia di
antaranya adalah kecelakaan Chernobyl, Three Mile Island Amerika dan mungkin di
Fukushima Jepang.
Kebocoran nuklir terjadi ketika sistem pembangkit tenaga nuklir atau kegagalan
komponen menyebabkan inti reaktor tidak dapat dikontrol dan didinginkan sehingga
bahan bakar nuklir yang dilindungi yang berisi uranium atau plutonium dan produk
fisi radioaktif mulai memanas dan bocor. Sebuah kebocoran dianggap sangat serius
karena kemungkinan bahwa kontainmen reaktor mulai gagal, melepaskan elemen
radioaktif dan beracun ke atmosfir dan lingkungan. Dari sudut pandang pembangunan,
sebuah kebocoran dapat menyebabkan kerusakan parah terhadap reaktor, dan
kemungkinan kehancuran total.
Beberapa kebocoran nuklir telah terjadi, dari kerusakan inti hingga kehancuran
total terhadap inti reaktor. Dalam beberapa kasus hal ini membutuhkan perbaikan besar
atau penutupan reaktor nuklir.Sebuah ledakan nuklir bukanlah hasil dari kebocoran
nuklir karena, menurut desain, geometri dan komposisi inti reaktor tidak membolehkan
kondisi khusus memungkinkan untuk ledakan nuklir. Tetapi, kondisi yang
menyebabkan kebocoran dapat menyebabkan ledakan non-nuklir. Contohnya, beberapa
kecelakaan tenaga listrik dapat menyebabkan pendinginan bertekanan tinggi,

menyebabkan ledakan uap. Kecelakaan Nukir atau Kebocoran nuklir adalah dampak
yang paling ditakutkan dibalik manfaaat energi nuklir bagi manusia.

Ledakan terjadi pada salah satu unit 1 PLTN Fukushima Dai-ni


(Sumber : Reuters)
Dalam catatan sejarah manusia terdapat kejadian kecelakan nuklir tersbesar di
dunia di antaranya adalah kecelakaan Chernobyl, Three Mile Island Amerika dan
mungkin di Fukushima Jepang.Kebocoran nuklir terjadi ketika sistem pembangkit
tenaga nuklir atau kegagalan komponen menyebabkan inti reaktor tidak dapat dikontrol
dan didinginkan sehingga bahan bakar nuklir yang dilindungi yang berisi uranium
atau plutonium dan produk fisi radioaktif mulai memanas dan bocor. Sebuah
kebocoran dianggap sangat serius karena kemungkinan bahwa kontainmen reaktor
mulai gagal, melepaskan elemen radioaktif dan beracun ke atmosfir dan lingkungan.
Dari sudut pandang pembangunan, sebuah kebocoran dapat menyebabkan kerusakan
parah terhadap reaktor, dan kemungkinan kehancuran total.
Beberapa kebocoran nuklir telah terjadi, dari kerusakan inti hingga kehancuran
total terhadap inti reaktor. Dalam beberapa kasus hal ini membutuhkan perbaikan besar
atau penutupan reaktor nuklir.Sebuah ledakan nuklir bukanlah hasil dari kebocoran
nuklir karena, menurut desain, geometri dan komposisi inti reaktor tidak membolehkan
kondisi khusus memungkinkan untuk ledakan nuklir. Tetapi, kondisi yang
menyebabkan kebocoran dapat menyebabkan ledakan non-nuklir. Contohnya, beberapa

kecelakaan tenaga listrik dapat menyebabkan pendinginan bertekanan tinggi,


menyebabkan ledakan uap.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PRA BENCANA


2.1.1 PENCEGAHAN BENCANA KECELAKAAN NUKLIR
Penyeleggaraan penanggulangan bencana sesuai Undang-Undang No 24
tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pada tahap prabencana meliputi :
a. Dalam situasi tidak terjadi bencana
b. Dalam situasi terdapat potensi terjadinya bencana
Penyelenggaraan penanggulangn bencana dalam situasi tidak tejadi
bencana meliputi:
a. Perencanaan penanggulangan bencana
b. Pengurangan resiko bencana
c. Pencegahan
d. Pemanduan dalam perencanaan pembangunan
e. Persyaratan analisis reisiko benacana
f. Penegakan rencana tata ruang
g. Pendidikan dan pelatihan
h. Persyaratan standar teknis penangguangan bencana
Pencegahan dalam menghadapi bahaya kebocoran nuklir seperti yang
terjadi di Fukushima Jepang antara lain :
a. Identifikasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau
ancaman.
Hal ini meliputi inventarisasi dan pemetaan lokasi bahan-bahan
berbahaya serta karakteristiknya, pemetaan rute transportasi bahan
berbahaya, peta zonasi daerah rawan bahaya pencemaran jika terjadi
kecelakaan industri, serta pemetaan jalur transportasi yang rawan
kecelakaan berdasarkan catatan kejadian pada masa lalu.
b. Kontrol terhadap kejadian alam yang mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan pemicu sumber bahaya bencana.
Sebagaimana kita tahu bahwa meledakanya reaktor nuklir di Fukushima
Jepang dipicu oleh adanya gempa dahsyat yang mengguncang diikuti

dengan adanya bencana tsunami yang juga turut memperparah kerusakan


pembangkit nuklir yang ada. Sehingga keadaan kejadian alam haruslah
menjadi pertimbangan serius karena berpotensi menimbulkan gangguan
mendadak pada sistem teknologi.
c. Pemantauan penggunaan teknologi yang berpotensi menjadi sumber bahaya
atau ancaman.
Pemanatauan nukir yang ada dilakukan oleh IAEA (International Atomic
Energy Agency) sebuah organisasi independen yang didirikan pada tanggal
29 Juli 1957. IAEA memiliki kewenangan untuk melakukan safeguards dan
verifikasi nuklir, melakukan kerjasama internasional dalam mempromosikan
oemanfaatan energi nuklir dengan meningkatkan keselamatan dan
penggunaan nuklir dari risiko dan bahaya yang mungkin timbul.
d. Gejala dan peringatan dini merupakan hal yang sangat penting untuk
diketahui terkait dengan kemungkinan kebocoran radiasi nuklir yang sangat
berbahaya karena kejadian kadang kala terjadi dalam waktu yang sangat
cepat atau tiba-tiba.
e. Desain pabrik atau industri harus dilengkapi dengan sistem monitoring dan
sistem peringatan akan adanya bahaya kebakaran, kerusakan komponen atau
terjadinya kondisi bahaya yang lain.

2.1.2 MITIGASI BENCANA NUKLIR


Sebaran Radiasi ke lingkungan didaerah sekitar PLTN Fukushima
Daiiichi, Jepang

(Sumber Japan Atomic Industrial Forum (JAIF)

1.

Bila sebuah reaktor nuklir sudah dinyatakan terjadi kebocoran harus


dilakukan penanganan sesuai dengan skala kecelakaan yang terjadi sesuai
standar Internasional.

2.

Semua masyarakat dalam jangkauan tertentu harus segera dievakuasi dari


resiko terkena paparan tersebut. Bagi semua orang yang telah berada
dalam erea daerah paparan harus segera dilakukan skrening tes adanya
kontaminasi radiasi dalam tubuhnya. Bila terdapat masyarakat yang
terkontaminasi harus segera diisolasi dan dilakkan perawatan dan
pemantauan kesehatannya.

3.

Semua masyarakat dalam paparan bencana kebocoran reaktor nukklir


sementara belum diungsikan harus tinggal di dalam rumah dan tidak boleh
menyalakan AC untuk mencegah kontaminasi dengan udara luar.
Masyarakat juga dilarang mengkonsumsi air kran, sayuran, buah-buan
ataubahan makanan yang telah terkontaminasi dengan udara luar.

4.

Pemberian garam Yodium diyakini dapat mencegah resiko terjadinya


kanker saat terjadi paparan radiasi. Menurut WHO pil potasium iodida

hanya akan diberikan jika dampak radiasi sudah dirasa membahayakan.


Karena, pil tersebut tidak bisa dikonsumsi secara sembarangan. Pil Iodium
meningkatkan kadar jenuh kelenjar tiroid dalam tubuh sehingga bisa
mencegah pembentukan iodin radioaktif. Pembentukan iodin radioaktif
karena paparan radiasi nuklir inilah yang bisa memicu kanker. Iodium
bukan antidot radiasi, apalagi antikanker. Tetapi hanya salah satu faktor
yang bisa meredam dampak buruk radiasi dalam tubuh.
5.

Perencanaan kesiapsiagaan dalam meningkatkan kemampuan pemadam


kebakaran dan penanggulangan asap, tangga darurat dan evakuasi bagi
penduduk sekitar agar tidak terpapar radiasi yang terjadi dari meledaknya
nuklir.

6.

Sosialisasi rancana-rencana penyelamatan kepada pegawai serta penduduk


sekitar haruslah dilakuakan agar memudahkan upaya mitigasi dan
mengurangi resiko korban jiwa kibat terjadinya kerusakan nuklir.

7.

Meningkatkan kemampuan pertahanan sipil dan otoritas kedaruratan


sehingga kita harus melakukan kerjasama lintas sektoral untuk upaya
mitigasi kedaruratn nuklir.

8.

Meningkatkan standar keselamatan di dalam lingkungan pabrik dan


standar desain peralatan.

9.

Secara proaktif kita hrus melakuakn monitoring tingkat pencemaran baik


di udara, air, tanah maupun sumber bahan pangan agar tidak terlampaui
batas amannya.

10. Harus mempunyai rencana evakuasi dan peraturan yang jelas terkait
mitigasi untuk penduduk sekitar.

2.1.3 KESIAPSIAGAAN
Salah satu kewajiban pengusaha instalasi nuklir adalah memiliki program
kesiapsiagan

nuklir

yang

menghasilkan

beberapa

kajian

terintegrasi

diantaranya: Potensi kecelakaan mengakibatkan lepasan radioaktif berada


didalam fasilitas (on site) dan lepasan radioaktif ke luar fasilitas (off site), jenis
sumber radiasi, potensi bahaya radiasi, kategori daerah penanggulangan
dampak kecelakaan, pelaporan serta unsur infrastruktur, sarana pendukung

serta pelatihan dan uji coba. Pelaksanaan penanggulangan kesiapsiagaan nuklir


dapat terlaksana dengan melibatkan berbagai elemen terkait salah satunya
adalah masyarakat yang berdomisili di sekitar instalasi nuklir. Oleh karena itu,
diperlukan upaya pengenalan dan pembelajaran program kesiapsiagaan nuklir
kepada masyarakat (Simanjutak, 2008).
Kesiapsiagaan Nuklir adalah serangkaian kegiatan sistematis dan
terencana yang dilakukan untuk mengantisipasi kedaruratan nuklir melalui
penyediaan unsur infrastruktur dan kemampuan fungsi penanggulangan untuk
melaksanakan penanggulangan kedaruratan nuklir dengan cepat, tepat, efektif,
dan efisien (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2012
Tentang Keselamatan Dan Keamanan Instalasi

Nuklir),

antara

lain

memperkecil resiko atau mengurangi konsekuensi kecelakaan pada sumber


radiasi (lokasi kecelakaan), mencegah dampak radioaktif terhadap kesehatan
deterministik (kematian), mengurangi dampak kesehatan stokastik sekecil
mungkin (efek samping) (Simanjutak, 2008).
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2012
Tentang Keselamatan Dan Keamanan Instalasi Nuklir, kesiapsiagaan nuklir
terdiri dari :
a. Kesiapsiagaan nuklir tingkat instalasi
Program kesiapsiagaan nuklir dilaksanakan oleh pemegang izin.
Pemegang izin wajib menyelenggarakan pelatihan dan gladi kedaruratan
nuklir paling sedikit 1 kali dalam 1 tahun.
b. Kesiapsiagaan nuklir tingkat provinsi
Program kesiapsiagaan nuklir dilaksanakan oleh kepala BPBD provinsi.
Kepala BPBD provinsi berkoordinasi dengan pemegang izin, BAPETEN,
dan instansi terkait lainnya.
c. Kesiapsiagaan nuklir tingkat nasional
Program kesiapsiagaan nuklir dikoordinasikan oleh Kepala BNPB dan
dilaksanakan bersama dengan pemegang izin dan kementerian dan/atau
lembaga nonkementerian terkait sesuai dengan program kesiapsiagaan
nuklir tingkat nasional.

10

Untuk mencapai pelaksanaan kesiapsiagaan nuklir secara optimal


Penguasa Instalasi Nuklir membuat elemen infrasturktur dan fungsional yang
terintegrasi sedemikian rupa sehingga dapat melaksanakan penanggulangan,
antara lain :
a. Elemen infrastruktur
Kesiapsiagaan nuklir memerlukan suatu insfrastruktur yang lengkap
untuk menunjang pelaksanaan tugas baik dalam kesiapsiagaan maupun bila
terjadi sesuatu bencana nuklir, baik yang skala rendah maupun skala berat,
insfrastruktru tersebut terdiri dari :
1. Organisasi
Lingkup kajian organisasi penanggulangan keadaan darurat adalah
merinci dan menjelaskan tentang struktur dan diagram organisasi,
wewenang dan tanggung jawab tiap unsur organisasi, tugas dan tanggung
jawab personil, hubungan dan kerjasama dengan organisasi terkait,
konsep operasi dan koordinasi dengan program kedaruratan organisasi
lain (Perka Bapeten N0. 05-P/Ka-Bapeten/I-03 petunjuk pelaksanaan
program penanggulangan kecelakaan di fasilitas nuklir).

(Sumber dari Sunardi, 2011)

11

Gambar. Struktur Organisasi Penanggulangan Kedaruratan Nuklir


Kawasan Nuklir Serpong
a. Pengendali operasi adalah petugas proteksi radiasi/ petugas lain yang
ditunjuk oleh pemegang izin dan bertanggung jawab mengendalikan
operasi penanggulangan kedaruratan nuklir dg tugas :
i. mengumpulkan Informasi awal perihal Kecelakaan yang terjadi;
ii. melaporkan

informasi

awal

kepada

ketua

penanggulangan

kedaruratan nuklir;
iii. melakukan koordinasi satuan pelaksana di lapangan dalam
pelaksanaan pemulihan awal, operasi pembersihan, perlindungan
terhadap

petugas

penanggulangan

dan

langkah

langkah

perlindungan lainnya;
iv. memberikan masukan dan rekomendasi dalam penanggulangan
kedaruratan kepada ketua penanggulangan kedaruratan nuklir; dan
v. mengawasi dan mengkoordinasikan pelaksana operasi dalam
melakukan tugasnya.

12

b. Pelaksana operasi adalah pekerja radiasi yang ditunjuk oleh pemegang


izin untuk datang pertama kali di lokasi kecelakaan dan bertanggung
jawab melakukan penanggulangan kedaruratan nuklir yg meliputi :
i. TP melakukan tindakan pemantauan dan survei radiologi terhadap
tempat kejadian perkara, masyarakat, dan lingkungan.
ii. Tim Medis, melaksanakan tindakan penanggulangan awal dan
tanggap-darurat

medis

pada

korban,

memisahkan

korban

terkontaminasi dari yang tidak terkontaminasi, menetapkan daerah


triage, serta membawa korban ke rumah sakit;
iii. Tim Pemadam Kebakaran, melaksanakan tindakan pemadaman
kebakaran, dan membantu pelaksanaan pertolongan pertama;
Satuan Pengaman, melakukan tindakan penanggulangan awal,
menetapkan dan mengamankan daerah kecelakaan, dan membantu
pelaksanaan tindakan evakuasi.
c. Pengkaji radiologi yang diemban oleh BATAN memimpin tim
radiologi yang berada di lokasi kecelakaan dan bertanggung jawab
mengkaji bahaya radiologi, memberikan dukungan proteksi radiasi
bagi pelaksana operasi dan memberikan rekomendasi tindakan
perlindungan kepada pengendali operasi. Tugas pengkaji radiologi,
antara lain :
i. survei lapangan di lokasi kecelakaan,
ii. mengendalikan kontaminasi;
iii. merumuskan rekomendasi langkah-langkah perlindungan;
iv. melaksanakan koordinasi penanganan penemuan kembali sumber,
dekontaminasi dan penanganan limbah radioaktif; dan
v. melakukan estimasi dan mencatat dosis yang diterima oleh
masyarakat dan/atau petugas penanggulangan.

Selain itu, ada humas bagian biro kerjasama, hukum, dan humas
bidang PKNS-PKTN yang mengkoordinasikan pemberian informasi
tentang kedaruratan nuklir yang terjadi, upaya penanggulangan, dan
paska penanggulangan. Kemudian bantuan luar yaitu organisasi

13

pengendalian penanggulangan kedaruratan nuklir yang berkoordinasi


dengan KPK, antara lain PUSPIPTEK, Tentara Nasional Indonesia
seperti angkatan darat (TNI-AD), Kepolisian, BPBD, dan Rumah Sakit
(Peraturan

Kepala

Badan

Tenaga

Nuklir

Nasional

Nomor:

184/KA/IX/2012 Tentang Program Kesiapsiagaan Nuklir Kawasan


Nuklir Serpong Badan Tenaga Nuklir Nasional).

2. Koordinasi
Koordinasi meliputi sistem hubungan kerja antar organisasi yang
terkait dalam fungsi penanggulangan kedaruratan nuklir, prosedur
koordinasi dengan organisasi terkait lain (contohnya pemberitahuan dan
permintaan bantuan), dan perjanjian atau dokumen tertulis dengan
organisasi atau pihak terkait lain untuk melaksanakan tindakan
penanggulangan kedaruratan nuklir (Sunardi, 2011).
Salah satu contoh sistem koordinasi penanggulangan kedaruratan
nuklir di kawasan nuklir Serpong dilakukan secara terintegrasi
berdasarkan struktur organisasi agar dapat berjalan sesuai rencana.
Koordinasi pelaksanaan penanggulangan kedaruratan nuklir di KNS
terdiri atas penanggulangan kedaruratan dalam jam kerja dan di luar jam
kerja (Peraturan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Nomor:
184/KA/IX/2012 Tentang Program Kesiapsiagaan Nuklir Kawasan
Nuklir Serpong Badan Tenaga Nuklir Nasional).
3. Prosedur Penanggulangan
Prosedur penanggulangan terhadap kecelakaan harus disusun
berdasarkan uraian potensi bahaya radiasi seperti di uraikan di atas,
dengan dilengkapi prosedur/juklak/ juknis, deteksi awal, pelaporan,
tindakan penanggulangan, survei radiasi dan monitoring, pertolongasn
pertama dan penyelamatan korban, proteksi dan evakuasi masyarakat,
dekontaminasi korban dan peralatan, penetapan dalam keadaan darurat
dan penetapan keadaan darurat telah berakhir, evaluasi dan analisis
penyebab kecelakaan (Simanjutak, 2008).

14

4. Fasilitas dan Peralatan


Fasilitas dan peralatan terdiri dari sarana pendukung fasilitas dan
peralatan, peralatan penanggulangan, fasilitas penanggulangan, pusat
kendali tanggap darurat, penyediaan fasilitas dan peralatan, pelatihan dan
gladi kedaruratan nuklir, perencanaan pelatihan (Sunardi, 2011),
termasuk peralatan peringatan dini dan alarm, peralatan monitoring dan
survey, peralatan dekontaminasi, peralatan komunikasi, peralatan
proteksi untuk anggota masyarakat, persediaan tablet KI (thiyroid agent
blocking), prasarana evakuasi, dan pos koordinasi (Simanjutak, 2008),
unit pemadam kebakaran, Rambu Jalur Evakuasi diletakkan sepanjang
jalan menuju gerbang keluar, tempat pengungsian kedaruratan, tempat
berkumpul kedaruratan nuklir (Peraturan Kepala Badan Tenaga Nuklir
Nasional Nomor: 184/KA/IX/2012 Tentang Program Kesiapsiagaan
Nuklir Kawasan Nuklir Serpong Badan Tenaga Nuklir Nasional).
5. Training dan atau gladi kedaruratan nuklir
Pelatihan dan atau gladi penanggulangan kedaruratan nuklir dalam
kawasan yang dilaksanakan oleh PKTN paling sedikit sekali dalam 1
(satu) tahun bertujuan untuk menerapkan program, mengembangkan
kemampuan personil/ tim dilapangan dan menguji peralatan maupun
fasilitas penanggulangan yang ada. Pelatihan dilaksanakan dengan
melibatkan infrastruktur dan fungsi penanggulangan yang dimiliki
(Peraturan

Kepala

Badan

Tenaga

Nuklir

Nasional

Nomor:

184/KA/IX/2012 Tentang Program Kesiapsiagaan Nuklir Kawasan


Nuklir Serpong Badan Tenaga Nuklir Nasional).

15

Tabel Pelatihan Penanggulangan Kedaruratan Nuklir


b. Elemen fungsional
Fungsi penanggulangan meliputi (Peraturan Kepala Badan Tenaga
Nuklir Nasional Nomor: 184/KA/IX/2012 Tentang Program Kesiapsiagaan
Nuklir Kawasan Nuklir Serpong Badan Tenaga Nuklir Nasional) :
i. Identifikasi kecelakaan pada fasilitas nuklir
ii. Pelaporan perkembangan kondisi darurat dan penanggulangannya serta
membuat laporan secara tertulis tentang hasil upaya penanggulangan
keadaan darurat sesuai dengan form terlampir dan tidak lebih dari 48 jam
setelah kedaruratan berakhir
iii. Pengaktifan sistem penanggulangan keadaan darurat setelah mendapat
pemberitahuan dari PI tentang peningkatan status kedaruratan waspada
menjadi darurat tapak
iv. Tindakan mitigasi

16

v. Tindakan perlindungan segera, dapat dilakukan dengan evakuasi,


pemberian tablet kalium iodida, sheltering.
vi. Tindakan perlindungan untuk petugas penanggulangan kedaruratan
nuklir, pekerja, masyarakat, kelompok rentan, dan lingkungan hidup
Hal-hal yang dilakukan dalam tindakan perlindungan terhadap
Petugas Penanggulangan Kedaruratan Nuklir adalah:
a. Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD);
b. Pemantauan penerimaan dosis;
c. Pembatasan penerimaan dosis dalam hal penyelamatan jiwa;
d. Tindakan terhadap penerimaan dosis berlebih; dan
e. Dekontaminasi personil.
Tindakan perlindungan terhadap kelompok rentan (pegawai
BATAN, kontraktor, pengunjung/tamu, mahasiswa/pelajar magang,
pekerja Out Sourcing) mengikuti program kesiapsiagaan nuklir fasilitas.
vii. pemberian informasi dan instruksi pada masyarakat.
Upaya kesiapsiagaan berbasis masyarakat yang dapat dilakukan apabila
terjadi bencana nuklir, antara lain :
1. Desa siaga
Pencanangan desa siaga merupakan program pemerintah untuk
memberdayakan masyarakat desa yang sehat serta peduli dan tanggap
terhadap masalah kesehatan di wilayahnya, dengan demikian masyarakat
dilibatkan dalam proses pembelajaran untuk mampu mengatasi dan
menanggulangi bahaya. Melalui konsep desa siaga yang telah dicanangkan
oleh menteri kesehatan, pelaksanaan dan program kesiapsiagaan nuklir
dapat terlaksana dengan optimal dan dengan demikian secara tidak langsung
konsep

desa

siaga

dapat

terlaksana

dengan

baik. Upaya

untuk

memperkenalkan potensi bahaya kecelakaan fasilitas nuklir dan cara-cara


penanggulangannya dapat dilaksanakan dengan memperkenalkan program
kesiapsiagaan nuklir (Simanjutak, 2008).
Konsep desa siaga nuklir adalah suatu pembinaan kepada masyarakat
agar tercipta masyarakat desa yang mandiri, dan mampu mengendalikan
berbagai penyakit dan bahaya kesehatan masyarakat yang ditimbulkan oleh

17

keberadaan fasilitas industri maupun instalasi nuklir di sekitar desa


(Simanjutak, 2008). Selain itu, masyarakat juga diberikan pembelajaran
maupun pengetahuan yang berhubungan dengan bencana nuklir, mulai dari
bahaya apabila terjadi kecelakaan nuklir, pencegahan dan kesiapsiagaan,
saat bencana, dan pasca bencana. Dengan adanya desa siaga nuklir,
diharapkan masyarakat mampu secara mandiri melakukan penanggulangan
kecelakaan nuklir serta dapat mengendalikan berbagai macam penyakit
yang timbul akibat kecelakaan nuklir.

2.2 SAAT BENCANA


Upaya tanggap darurat adalah sebuah upaya dalam manajemen bencana yang
dilakukan pada saat bencana tersebut datang. Upaya tanggap darurat tersebut
dilakukan oleh Bupati / Walikota apabila bencana terjadi di tingkat kota, Gubernur
apabila bencana terjadi di tingkat provinsi dan presiden apabila terjadi di tingkat
nasional. Setiap kejadian bencana selalu direspon oleh jajaran kesehatan dan
elemen terkait, baik di tingkat desa hingga nasional.
Tanggap darurat dilakukan untuk mencegah munculnya permasalahan
kesehatan yang timbul pada saat bencana itu terjadi maupun setelahnya. Selain itu,
tanggap darurat juga dilakukan agar dampak akibat bencana tersebut tidak semakin
parah ataupun meluas.
Kejadian bencana direspon berdasarkan kapasitas yang dimiliki oleh wilayah
setempat, baik itu dari segi sarana prasarana hingga kualitas Sumber Daya Manusia
(SDM) nya. Segala mekanisme permintaan dan pemberian bantuan di daerah
bencana dilakukan secara berjenjang. Oleh karena itu, pendataan mengenai jumlah
korban, lokasi, waktu, tenaga kesehatan, dan tenaga non-kesehatan penting untuk
dilakukan untuk menjamin kelancaran proses pemberian logistic atau bantuan di
daerah tersebut.
Adapun upaya tanggap darurat yang dilakukan pada saat bencana Nuklir
PLTN Fukushima Daiichi, Jepang adalah sebagai berikut :
a. Dalam undang-undang Jepang, ada beberapa langkah yang harus diambil
pemerintah mengenai bencana energi nuklir. Seperti yang terjadi di PLTN
Fukushima Daiichi, dimana kecelakaan itu melibatkan nuklir, maka didirikan

18

sebuah pusat cepat tanggap untuk bencana tenaga atom tersebut. Perdana
Menteri Jepang akan bertindak selaku kepala tim tersebut.
b. Pemerintah Jepang bekerja sama dengan IAEA, yakni organisasi yang
mengawasi penggunaan Nuklir damai, membentuk Internasional Fact Finding
Expert Mission of The Fukushima (22 Mei 1 Juni 2011) dalam merespon
kecelakaan yang terjadi pada beberapa PLTN di Jepang, khususnya PLTN
Fukushima Daiichi. Tim tersebut terdiri dari 18 ahli nuklir dari 10 negara
(Muhari, 2011).
c. Internasional Fact Finding Expert Mission of The Fukushima melakukan
persiapan sarana dan prasarana dalam melaksanakan misinya untuk
melakukan investigasi awal di daerah bencana. Persiapan sarana dan
prasarana tersebut berguna untuk melakukan pengecekan terhadap kebutuhan
selama melakukan investigasi bencana (23 Mei 2011).
d. Internasional Fact Finding Expert Mission of The Fukushima melakukan
investigasi awal terhadap kondisi dan situasi PLTN Fukushima (24 Mei
2011). Investigasi tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi PLTN bahwa
lokasi tersebut masih layak untuk ditelusuri dengan memperhatikan standar
prosedur yang telah disepakati.
e. Tim tersebut melakukan pertemuan dengan Menteri-menteri Jepang yang
terkait, yakni Kementrian Luar Negeri, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan
dan Olahraga, serta Kementrian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (25 mei
2011). Pertemuan tersebut merupakan respon tanggap yang dilakukan
pemerintah untuk menanggulangi permasalahan yang timbul saat bencana
tersebut terjadi (Muhari, 2011).
f. Melakukan review terhadap kerusakan PLTN Fukushima dan PLTN Tokai
(26 Mei 2011). Seluruh anggota tim melakukan review terhadap
operasinalisasi PLTN untuk memastikan bahwa PLTN tersebut masih bisa
dikendalikan setelah terjadi kebocoran.
g. Penelitian ke lokasi PLTN (27 Mei 2011). Tim melakukan inspeksinya
dimulai pada 27 Mei 2011 dan berakhir pada 29 Mei 2011. Kemudian
selanjutnya akan dibahas mengenai hasil inspeksi dan investigasi yang akan
dijadikan sebagai rekomendasi bagi Pemerintah Jepang dan pihak Tepco.

19

Inspeksi ini meliputi tentang penilaian keselamatan, sistem dan kontrol,


dampak kerusakan gempa dan tsunami, manajemen bencana, serta aspek
radiologi.
h. Penyusunan Laporan Akhir (30 Mei 2011). Melakukan penyusunan Laporan
akhir yang berisi rekomendasi, pelajaran yang bisa diambil serta beberapa
aspek teknis dalam temuan-temuan mereka (IAEA, 2011).
i. Tim membuat suatu mekanisme bantuan kebutuhan logistic di daerah
bencana. Hal ini dikarenakan kebutuhan logistik yang terbatas sehingga harus
menunggu distribusi dari luar jepang terutama yang belum terkena radiasi
untuk setiap harinya. Akibat bencana tersebut, sebagian besar sumber
mineral, sayur-sayuran, dan bahan makanan terindikasi radiasi.
Dengan terbentuknya Tim Internasional Fact Finding ini, diharapkan
mampu bisa meminimalisir dampak kecelakaan nuklir fukushima serta
memberikan rekomendasi terkait penggunaan energi nuklir bagi seluruh Negara
yang mengembangkan nuklir baik sebagai energi atau kepentingan lainnya. Tim
tersebut memulai investigasinya pada 27 Mei 2011 hingga 2 Juni 2011.
j. Pemerintahan Jepang bersama Tim tersebut sangat tanggap dalam
menyediakan beberapa perangkat yang mendukung Sistem Informasi dan
Komunikasi di daerah bencana. Sehingga sangat mendukung kerja tim dalam
melakukan investigasi.
k. Pemerintah Jepang telah melakukan pendataan bagi penduduk yang tinggal di
daerah bencana, dan melakukan evakuasi bagi penduduk yang menjadi
korban.
l. Pemerintah Jepang bekerja sama dengan Kementrian kesehatan telah
mendata dan menerjunkan beberapa tenaga kesehatan terlatih di posko
kesehatan dan pusat cepat tanggap di daerah bencana.
m. Perdana Menteri Jepang memberikan arahan secara langsung kepada
berbagai badan pemerintah yang relevan dan perusahaan-perusahaan swasta
yang berhubungan dengan bencana itu untuk turut membantu dalam upaya
tanggap darurat. Dalam melaksanakan wewenangnya tersebut, PM Jepang
dibantu oleh Badan Keselamatan Nuklir dan Industri (NISA), bagian dari
Kementerian Ekonomi, Industri dan Perdagangan (Meti), serta Komisi

20

Keselamatan Nuklir, yakni panel penasihat yang terdiri dari para ahli nonpemerintah.
Jepang telah memiliki sistem kesiapan darurat yang terorganisir dengan
baik, dan sistem respon seperti yang ditunjukkan oleh penanganan kecelakaan
Fukushima.

2.3 PASCA BENCANA


2.3.1 Recovery (Pemulihan)
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana, pemulihan atau recovery adalah serangkaian
kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang
terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan
sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi.
Berbagai upaya pemulihan (UU RI No. 24 Tahun 2007 Pasal 58),
dilakukan melalui kegiatan:
a. Pemulihan sosial psikologis; contohnya 5 bulan setelah kejadian bencana
pembangkit tenaga nuklir Fukushima Daiichi,Japan Atomic Energy Agency
(JAEA) atau Badan Energi Atom Jepang membuat kebijakan Dahulukan
Anak-Anak.

JAEA

bekerja

berdampingan

dengan

Kementerian

Pendidikan, Kebudayaa, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi untuk


melaksanakan upaya dekontaminasi di sekolah-sekolah dan fasilitas-fasilitas
lain yang digunakan oleh anak-anak, dan untuk memberikan informasi
penting kepada para guru, orang tua, dan anak-anak.
b. Pemulihan sosial ekonomi budaya;contohnya Japans Self Defense Force
(JSDF) atau Pasukan Bela Diri Jepang mendirikan markas penanggapan
bencana pada Kementerian Pertahanan negara ini, dan dalam waktu
beberapa hari, JSDF telah mengerahkan sekitar 107.000 personel, 540
pesawat terbang, dan 59 kapal, menurut laporan Kementerian Pertahanan.
Selain membantu evakuasi, membersihkan jalur-jalur utama perhubungan,
dan menyediakan bahan pangan, produk kesehatan, dan pelayanan medis,
JSDF memainkan peranan penting dalam upaya pembatasan dan
pembersihan pada pembangkit tenaga nuklir dan di daerah-daerah yang

21

terkena, seperti yang dicatat oleh National Institute for Defense Studies
Jepang pada awal tahun 2012.
c. Pemulihan

keamanan

dan

ketertiban;contohnya

Nuclear

Security

Administration dari Departemen Energi A.S, mengirimkan 33 personel dan


lebih dari 7.711 kilo (17.000 pon) dalam bentuk peralatan untuk membantu
mengevaluasi, menyurvei, memonitor, dan mengambil contoh daerahdaerah terkena radiasi akibat bencana pembangkit tenaga nuklir Fukushima
Daiichi.
d. Pemulihan fungsi pemerintahan; contohnya dalm menanggapi kejadian
bencana pembangkit tenaga nuklir Fukushima Daiichi, otoritas nuklir
Pemerintah Jepang membuat kriteria keamanan baru untuk menghadapi
gempa bumi dan tsunami, termasuk memperketat peraturan-peraturan dalam
penempatan pembangkit di dekat garis-garis patahan geologis. Setelah
ditetapkan, peraturan-peraturan Jepang akan mengikuti standar di Amerika
Serikat, yang memperketat peraturan-peraturan nuklirnya setelah seranganserangan teror 11 September 2001.
e. Pemulihan fungsi pelayanan publik; contohnya Japan Atomic Energy
Agency

(JAEA)

melakukan

dekontaminasi

kolam

renang

yang

terkontaminasi pada Pusat Penitipan Anak Kotamadya Okeuri di Ikawa


City, sekitar 60 kilometer dari situs kerusakan reaktor Unit 1. Tim JAEA
menggunakan pipa semprot air bertekanan tinggi dan peralatan penghisap
bersama dengan peralatan dekontaminasi untuk melenyapkan unsur-unsur
radioaktif dari air dan permukaan kolam pada pusat penitipan anak tersebut.
Hasilnya menunjukkan bahwa sementara kontaminasi radioaktif permukaan
sebelum dekontaminasi antara 444 dan 1.049 kali per menit [cpm],
berkurang hingga antara 45 dan 116 cpm setelah dekontaminasi.

2.3.2 Rekontruksi (Pengembangan)


Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana,
kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan
maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya
kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban,

22

dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan


bermasyarakat pada wilayah pascabencana.
Adapun kegiatan rekonstruksi yang dilakukan pasca bencana antara lain:
a. Mengurangi perekonomiannya agar secara cepat mengganti sumber energi
listriknya.
b. Mengimpor LNG secara besar-besaran karena membutuhkan alternatif
pengganti energi membutuhan kerja sama dengan Kementerian Koordinasi
Perekonomian
c. Sektor industri, perbankan, dan keuangan, memfokuskan operasi pada
rekonstruksi pascabencana dikarenakan, hal ini akan meningkatkan
permintaan bahan-bahan listrik, alat-alat konstruksi, dan kebutuhan material
lainnya.
d. Bekerja sama dengan Industri Internasional untuk mengoptimalkan
industrinya di luar negeri.

23

BAB III
KESIMPULAN
Beberapa contoh bahaya teknologi termasuk polusi industri, radiasi nuklir,
limbah beracun, kegagalan bendungan, kecelakaan transportasi, ledakan pabrik,
kebakaran, dan tumpahan bahan kimia. Kecelakaan Nukir atau Kebocoran nuklir adalah
dampak yang paling ditakutkan dibalik manfaaat energi nuklir bagi manusia. Dalam
catatan sejarah manusia terdapat kejadian kecelakan nuklir tersbesar di dunia di
antaranya adalah kecelakaan Chernobyl, Three Mile Island Amerika dan mungkin di
Fukushima Jepang.
Pelaksanaan penanganan bencana nuklir meliputi tiga siklus utama. Yang
pertama adalah kegiatan pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Kegiatan Pra
Bencana meliputi pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan bencana untuk mengurangi
dampak yang mungkin timbul akibat dari bencana nuklir tersebut. Selanjutnya adalah
respon saat bencana yang membutuhkan gerak cepat dan efektif dai berbagai pihak.
Kejadian bencana direspon berdasarkan kapasitas yang dimiliki oleh wilayah setempat,
baik itu dari segi sarana prasarana hingga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) nya.
Segala mekanisme permintaan dan pemberian bantuan di daerah bencana dilakukan
secara berjenjang. Oleh karena itu, pendataan mengenai jumlah korban, lokasi, waktu,
tenaga kesehatan, dan tenaga non-kesehatan penting untuk dilakukan untuk menjamin
kelancaran proses pemberian logistic atau bantuan di daerah tersebut
Siiklus yang terakhir adalah tahap atau kegiatn pasca bencana yang merupakan
tahapan paling penting. Meliputi dua kegiatan besar antara lain recovey dan
rekonstruksi. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana, pemulihan atau recovery adalah serangkaian kegiatan
untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana
dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan
upaya rehabilitasi. Sedangkan rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua
prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat
pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya
kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan
bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada
wilayah pascabencana.

24

DAFTAR PUSTAKA

http://www.bpbd.jabarprov.go.id/index.php/en/component/k2/item/32-menatakehidupan-baru-melalui-jitu-kajian-kebutuhan-pasca-bencana

[diakses

pada

01/10/2014 20.50 WIB].


http://internasional.kompas.com/read/2011/03/22/13340838/Meneropong.Ekonomi.Jepa
ng.Pascatsunami [diakses pada 04/10/2014 17.00 WIB].
IAEA.

2011.

Japan

Mission.

Didapat

dari

(http://www.iaea.org/

newscenter/news/2011/japanmission.html). [Diakses pada 2/10/2014 23.42 WIB].


Muhari, Abdul, dkk. 2011. Belajar dari Bencana Jepang 11.03.2011 Gempa Bumi,
Tsunami, Radiasi Nuklir. Edisi Perdana dalam acara AMSTEC. Institute for
Science and Technology Studies (ISTECS).
Pelaksana Harian Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana. 2007. Pengenalan
Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya di Indonesia.

Jakarta:

Direktorat Mitigasi.
Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 09 Tahun 2006 tentang
Pelaksanaan Protokol Tambahan Pada

Sistem

Pertanggungjawaban dan

Pengendalian Bahan Nuklir.


Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2008
Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana.
Peraturan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Nomor: 184/KA/IX/2012 Tentang
Program Kesiapsiagaan Nuklir Kawasan Nuklir Serpong Badan Tenaga Nuklir
Nasional.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2012 Tentang Keselamatan
Dan Keamanan Instalasi Nuklir.
Perka

Bapeten

N0.

05-P/Ka-Bapeten/I-03

penanggulangan kecelakaan di fasilitas nuklir.

25

petunjuk

pelaksanaan

program

Sidik Permana dkk., .2011. Belajar dari Bencana Jepang. Institute for Science and
Technology Studies (ISTECS).
Simanjutak, A (2008) Upaya Pengenalan Program Kesiapsiagaan Pada Desa Siaga.
SEMINAR NASIONAL IV SDM TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA, 25-26
AGUSTUS 2008. Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir BATAN.
Sunardi dan Sudi Ariyanto (2011)
KEDARURTAN

NUKLIR

KONSEP DOKUMEN KESIAPSIAGAAN DAN

PLTN

MURIA.

Prosiding

Seminar

Nasional

Pengembangan Energi Nuklir IV, Pusat Pengembangan Energi Nuklir Badan


Tenaga Nuklir Nasional.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana.

26