Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

ANATOMI DAN FISIOLOGI TUMBUHAN


PENETAPAN KADAR CO2 PADA JARINGAN
TUMBUHAN

Disusun Oleh:
Nama

: Mega Sintia

NIM

: F05112084

Kelompok

:6

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014

PENETAPAN KADAR CO2 PADA JARINGAN


TUMBUHAN
ABSTRAK
Semua sel aktif terus menerus melakukan respirasi, sering menyerap O2 dan
melepaskan CO2 dalam volume yang sama. Namun seperti kita ketahui, respirasi
lebih dari sekadar pertukaran gas secara sederhana. Proses keseluruhan
merupakan reaksi oksidasi-reduksi, yaitu senyawa dioksidasi menjadi CO2 dan
O2 yang diserap direduksi menjadi H2O, Pati, fruktan, sukrosa, atau gula yang
lainnya, lemak, asam organik, bahkan protein dapat bertindak sebagai substrat
respirasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju respirasi adalah Ketesediaan
Substrat, ketersediaan oksigen (O2), konsentrasi karbondioksida (CO2),
temperature, cahaya, kadar garam, stimulasi mekanik, luka, jenis dan umur
tumbuhan, dan tersedianya air. Pada peristiwa respirasi, akan dihasilkan energi
bebas dalam bentuk ATP maupun NADPH yang diperlukan dalam sintesis sel dan
senyawa-senyawa intermediat yang merupakan substrat sintesis bagi senyawasenyawa lain. Dengan praktikum ini, akan diketahui bagaimana suhu
mempengaruhi proses respirasi, dan penentuan kadar CO2 yang dilepaskan
melalui pengamatan dalam metode titrasi yang diuji cobakan. Penentuan tersebut
dilakukan dengan metode titrasi NaOH dengan HCl. Dilakukan dengan
membandingkan 2 perlakuan. Perlakuan pertama kecambah di biarkan di suhu
ruang (25C) sedangkan perlakuan kedua kecambah disimpan di dalam oven
bersuhu 40. Didapatkan hasil bahwa kecambah yang disimpan di dalam oven
memiliki laju respirasi yang lebih rendah dibandingkan diruangan terbuka. Hal
tersebut dipengaruhi oleh suhu, ketersediaan oksigen, dan CO2. Pada peningkatan
suhu sampai 40C atau lebih, laju respirasi akan menurun , khususnya bila
tumbuhan pada waktu yang terlalu lama. Oleh sebab itu, enzim yang diperlukan
mulai mengalami denaturasi dengan cepat pada suhu tinggi, sehingga mencegah
peningkatan metabolik yang semestinya terjadi. Selain itu pada oven yang
tertutup ketersediaan oksigen jauh lebih sedikit sehingga proses penangkapan
oksigen tidak semaksimal pada suhu ruang sehingga kadar CO2 yang dihasilkan
pun juga tidak sebanyak pada kecambah pada suhu ruang.
Kata kunci : CO2, Laju respirasi, O2, Respirasi, Suhu

PENDAHULUAN
Respirasi merupakan proses penting yang dilakukan oleh setiap mahluk
hidup. Bahkan dengan mengetahui laju respirasi suatu mahluk hidup maka
selanjutnya kita dapat menentukan laju metabolisme mahluk hidup tersebut.
Adapun laju respirasi setiap mahluk hidup berbeda-beda antar yang satu dengan
yang lainnya. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal meliputi tingkat perkembangan, susunan kimia jaringan, ukuran
produk, pelapis alami dan jenis jaringan. Sedangkan faktor eksternal meliputi
suhu, gas etilen, ketersediaan O2 dan CO2. Proses respirasi yang dominan terjadi
pada bagian tumbuhan yang sedang aktif tumbuh dan melakukan metabolisme,
yaitu: tunas, biji yang berkecambah, ujung tunas, ujung akar, serta kuncup bunga.
Pada praktikum kali ini digunakan kecambah biji kacang hijau (Phaseolus
radiatus) yang bertujuan untuk menetapkan laju respirasi berdasarkan kadar CO2
yang dikeluarkannya pada suhu berbeda. Adapun permasalahan yang diangkat
penulis dalam laporan ini adalah bagaimana pengaruh suhu terhadap kadar CO2
kecambah kacang hijau (phaseolus radiatus) dan bagaimana pengaruh perbedaan
laju respirasi kecambah kacang hijau (phaseolus radiatus) pada suhu yang
berbeda.
Semua sel aktif terus menerus melakukan respirasi, sering menyerap O2 dan
melepaskan CO2 dalam volume yang sama. Namun seperti kita ketahui, respirasi
lebih dari sekadar pertukaran gas secara sederhana. Proses keseluruhan
merupakan reaksi oksidasi-reduksi, yaitu senyawa dioksidasi menjadi CO2 dan
O2 yang diserap direduksi menjadi H2O, Pati, fruktan, sukrosa, atau gula yang
lainnya, lemak, asam organik, bahkan protein dapat bertindak sebagai substrat
respirasi (Salisbury & Ross, 1995).
Respirasi adalah proses penguraian bahan makanan yang menghasilkan
energi. Respirasi dilakukan oleh semua penyusun tubuh, baik sel-sel tumbuhan
maupun sel hewan dan manusia. Respirasi dilakukan baik pada siang maupun
malam hari. Sebagaimana kita ketahui dalam semua aktivitas makhluk hidup
memerlukan energi begitu juga dengan tumbuhan. Respirasi terjadi pada seluruh
bagian tubuh tumbuhan, pada tumbuhan tingkat tinggi respirasi terjadi baik pada
akar, batang maupun daun dan secara kimia pada respirasi aerobik pada
karbohidrat (glukosa) adalah kebalikan fotosintesis. Pada respirasi pembakaran
glukosa oleh oksigen kan menghasilkan energi karena semua bagian tumbuhan
tersusun atas jaringan dan jaringan tersusun atas sel, maka respirasi terjadi pada
sel (Campbell, 2002).
Tumbuhan hijau bernapas dengan mengambil oksigen dari lingkungan, tidak
semua tumbuhan bernapas dengan menggunakan oksigen. Tumbuhan tak
berklorofil benapas tanpa memerlukan oksigen. Tujuan proses pernapasan, yaitu
untuk memperoleh energi. Pada peristiwa bernapas terjadi pelepasan energi.
Tumbuhan yang bernapas secara anaeraob mendapatkan energi dengan car

menguraikan bahan bahan tertentu dimana mereka hidup. Dalam proses


pernapasan aerob / anaerab. akan dihasilkan gas karbon dioksida dan uap air. Gas
dan uap air tersebut dikeluarkan dari tubuh. Oksigen diperlukan dan karbon
dioksida yang dihasilkan masuk dan keluar dari tubuh secara difusi. Gas gas
tersebut masuk dan keluar melalui stomata yang ada pada permukaan daun dan
inti sel yang ditemukan pada kulit batang pegangan. Akar yang berada dalam
tanah juga dapat melakukan proses keluar msuknya gas. Tumbuhan yang hidup di
daerah rawa/berlumpur mempunyai akar yang mencuat keluar deari tanah. Akar
ini disebut akar panas. Kandungan katalis disebut juga enzim, enzim sangat
penting untuk siklus reaksi respirasi (sebaik-baiknya proses respirasi ). Beberapa
reaksi kimia membolehkan mencampur dengan fungsi dari enzim atau
mengkombinasikan sisi aktifnya. Penggunaan ini akan dapat dilihat hasilnya pada
inhibitor dari aktivitas enzim (Kimball, 1983).
Proses sintesis karbohidrat dari bahan-bahan anorganik (CO2 dan H2O) pada
tumbuhan berpigmen dengan bantuan energi cahaya matahari disebut fotosintesis
dengan persamaan reaksi kimia berikut ini :
6 CO2 + 6 H2O C6H12O6 + 6 O2 (Nio Song Ai, 2012).
Mahluk hidup memerlukan respirasi untuk mempertahankan hidupnya, begitu
pula pada tumbuhan. Respirasi pada tumbuhan menyangkut proses pembebasan
energi kimiawi menjadi energi yang diperlukan untuk aktivitas hidup tumbuhan.
Pada siang hari, laju proses fotosintesis yang dilakukan tumbuhan sepuluh kali
lebih besar dari laju respirasi. Hal itu menyebabkan seluruh karbondioksida yang
dihasilkan dari respirasi akan digunakan untuk melakukan proses fotosintesis.
Respirasi yang dilakukan tumbuhan menggunakan sebagian oksigen yang
dihasilkan dari proses fotosintesis, sisanya akan berdifusi ke udara melalui daun.
Reaksi yang terjadi pada proses respirasi sebagai berikut :
C6H12O6 + 6 O2 6 CO2 + 6 H2O
Reaksi penguraian glukosa sampai menjadi H2O, CO2 dan energi melalui
tiga tahap, yaitu glikolisis, daur Krebs, dan transpor elektron respirasi. Glikolisis
merupakan peristiwa perubahan glukosa menjadi 2 molekul asam piruvat, 2
molekul NADH yang berfungsi sebagai sumber elektron berenergi tinggi dan 2
molekul ATP untuk setiap molekul glukosa. Daur Krebs (daur trikarboksilat) atau
daur asam sitrat merupakan penguraian asam piruvat secara aerob menjadi CO2
dan H2O serta energi kimia. Reaksi ini terjadi disertai dengan rantai transportasi
elektron respiratori. Produk sampingan respirasi tersebut pada akhirnya dibuang
ke luar tubuh melalui stomata pada tumbuhan. Respirasi banyak memberikan
manfaat bagi tumbuhan. Proses respirasi ini menghasilkan senyawa-senyawa yang
penting sebagai pembentuk tubuh. Senyawasenyawa tersebut meliputi asam
amino untuk protein, nukleotida untuk asam nukleat, dan karbon untuk pigmen
profirin (seperti klorofil dan sitokrom), lemak, sterol, karotenoid, pigmen

flavonoid seperti antosianin, dan senyawa aromatik tertentu lainnya, seperti lignin.
Sedangkan energi yang ditangkap dari proses oksidasi dalam proses respirasidapat
digunakan untuk mensintesis molekul lain yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
Laju respirasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu:
a. Ketersediaan substrat
Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi
dengan laju yang rendah pula. Demikian sebaliknya bila substrat yang tersedia
cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.
b. Ketersediaan Oksigen
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya
pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies. Bahkan, pengaruh
oksigen berbeda antara organ satu dengan yang lain pada tumbuhan yang
sama.
c. Suhu
Umumnya, laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu
sebesar 10 oC. Namun, hal ini tergantung pada masing-masing spesies.
d. Tipe dan umur tumbuhan
Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolisme sehingga
kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing
spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi
dibandingkan tumbuhan yang tua (Ross, 1995).
Temperatur merupakan salah satu factor yang dapat mempengaruhi produksi
CO2 yang akan menyebabkan peningkatan produksi CO2, sejalan dengan
meningkatnya suhu. CO2 merupakan salah satu hasil atau produk dari
respirasi. Respirasi dan fotosintesis sangat berpengaruh dengan temperatur.
Sedikit perubahan temperatur akan mempengaruhi laju fotosintesis dan respirasi.
Beberapa jenis tanaman mengalami ini, temperatur akan mempengaruhi
fotosintesis yang juga akan mempengaruhi laju respirasi atau sebaliknya (Atkin,
2007).
Kecambah melakukan pernapasan untuk mendapatkan energi yang dilakukan
dengan melibatkan gas oksigen (O2) sebagai bahan yang diserap atau diperlukan
dan menghasilkan gas karbondioksida (CO2), air (H2O) dan sejumlah energy
(Putra, 2010).
Oksigen sangat penting dalam perkembangan kecambah, karena kecambah
melakukan respirasi aerob untuk memecahkan cadangan makanan dalam
endosperma yang kaya akan lemak. Cadangan makanan yang digunakan dalam
respirasi ini, berfungsi sebagai substrat yang dapat menghasilkan energi dalam
menyokong proses pembelahan sel dan metabolisme sel lainnya (tahap awal
pertumbuhan) (Achmad, 2010).
Efek ekosistem peningkatan tingkat CO2 di atmosfer akan tergantung pada
status gizi hutan tertentu. Hutan produksi meningkat akan terjadi di mana tanah

mengandung nitrogen yang memadai. Di daerah di mana nitrogen membatasi,


kadar CO2 tinggi tidak akan meningkatkan pertumbuhan pohon - meskipun
fotosintesis dapat meningkat. Tanpa nitrogen yang cukup, pohon-pohon tidak
dapat menggunakan CO2 tambahan untuk pertumbuhan. Karbon tambahan
digunakan oleh organisme tanah dan respirasi ke atmosfer. Selain berkontribusi
terhadap penumpukan CO2 di atmosfer perubahan tersebut di foodweb tanah,
yang mengontrol ketersediaan hara bagi tanaman, bisa memiliki efek jangka
panjang pada fungsi ekosistem. Tingkat CO2 meningkat, pertumbuhan tanaman.
dan hasil pertanian akan meningkat sebagai akibat dari peningkatan tingkat
fotosintesis dan peningkatan efisiensi penggunaan air. Peningkatan kadar
peningkatan pertumbuhan tanaman CO2 pada tumbuhan C3 seperti kapas
(Gossypium hirsutum L.) dan kedelai dengan meningkatkan luas daun dan
fotosintesis per satuan luas daun, sedangkan pada tanaman C4 seperti jagung (Zea
mays L.) dan sorgum, peningkatan pertumbuhan adalah hasil menurunkan
konduktansi stomata dan peningkatan efisiensi penggunaan air (Reeves, 1994).

METODOLOGI
Praktikum mengenai Penetapan Kuosien Respirasi Jaringan Tumbuhan ini,
dilaksanakan pada tanggal 24 April 2014 di Laboratorium Pendidikan Biologi,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tanjungpura Pontianak,
pada pukul 13.00 WIB selesai. Adapun alat dan bahan yang digunakan saat
praktikum ini, yaitu Alat yang digunakan berupa Neraca Analitik, pipet tetes,
pipet volume, bulb, buret, corong, Erlenmeyer, gelas ukur, gelas kimia, oven,
statif dan klem buret, serta botol selai. Sedangkan bahan yang digunakan berupa
kecambah kacang hijau (Phaseolus radiates), NaOH 10M, BaCl2 0,2M, indicator
pp, HCl 1M, kain kassa, alumunium foil dan benang.
Langkah kerja pada praktikum ini yaitu NaOH 10M dimasukkan kedalam
botol selai sebanyak 6 buah, kemudian kecambah kacanh hijau (Phaseolus
radiates) ditimbang sebanyak 5 gr, kemudian dibungkus dengan kain kassa dan
dimasukkan kedalam masing masing botol selai dengan keadaan menggantung
(jangan terkena NaOH), lalu masing-masing botol selai ditutup dengan aluminium
foil. Kemudian diambil 3 botol selai dan disimpan dalam oven dengan suhu 40C
dan 3 botol selai lainnya disimpan didalam suhu ruang selama 24 jam. Kemudian
2 ml NaOH diambil dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer kemudian
ditambahkan 3 tetes indicator PP dan larutan BaCl2 0,2 M sebanyak 0,5 ml,
kemudian dititrasi dengan HCl 1 M hingga berubah menjadi warna pink.
Kemudian hitung volume titran yang digunakan kemudian menentukan kadar CO2
dengan menggunakan rumus berikut :
Jumlah kadar CO2

(
(

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 1. Hasil pengamatan kadar CO2 dengan titrasi
No.
1.

Perlakuan
Suhu ruang 250C

Volume HCl (ml)


Ruang 1 : 11,5

Ruang 1 : 230

Ruang 2 : 13,7

Ruang 2 : 274

Ruang 3 : 11,5

Ruang 3 : 230

Rata-rata
2.

Dalam oven 400C

Rata-rata

Kadar CO2 (mg/l)

18,35

244,67

Oven 1 : 8

Oven 1 : 160

Oven 2 : 7,5

Oven 2 : 150

Oven 3 : 11,3

Oven 3 : 226

8,93

178,67

Berdasarkan table hasil pengamatan pada praktikum Penetapan Kadar Co2


pada Jaringan Tumbuhan ini, langkah pertama yang dilakukan yaitu
menyediakan 6 buah botol selai yang kemudian diisi dengan NaOH. Selanjutnya
kacang hijau yang telah dibungkus terlebih dahulu dengan kain kasa dimasukkan
pada tiap botol selai dengan keadaan menggantung. Lalu botol selai dibungkus
dengan aluminium foil. Kemudian barulah setelahnya dilakukan perlakuan yang
berbeda dimana 3 botol selai dimasukkan dalam oven dengan suhu 40C
sedangkan 3 botol lainnya dibiarkan pada suhu ruang selama 24 jam. Setelah itu
NaOH pada masing-masing botol dimabil 2ml dan dimasukkan ke dalam
erlenmeyer dengan ditambah 3 tetes indikator PP dan larutan BaCl2. Dan terakhir
dititrasi dengan HCl hingga larutan berubah menjadi merah muda. Selanjutnya
menghitung kadar CO2 menggunakan rumus berikut:
Jumlah kadar CO2

(
(

Untuk perlakuan pada suhu ruang (25C) pada botol 1 memerlukan volume
HCl sebanyak 11,5 ml untuk mengubah larutan menjadi berwarna merah muda
sedangkan kadar CO2 yang dikeluarkan berdasarkan perhitungan rumus yaitu
sebesar 230 mg/L. Sedangkan pada botol 2 di suhu ruang memerlukan volume
HCl sebanyak 13,7 ml untuk mengubah warna larutan dan kadar CO2 yang
dikeluarkan sebesar 274 mg/L, dan pada botol 3 disuhu ruang memerlukan
volume HCl sebanyak 11,5 ml untuk mengubah warna larutan dan kadar CO2
yang dikeluarkan sebesar 230 mg/L.

Untuk perlakuan dalam oven (40C) pada botol 1 memerlukan volume HCl
sebanyak 8 ml dan kadar CO2 yang dikeluarkan sebesar 160 mg/L. Pada botol 2
yang ditaruh di oven memerlukan volume HCl sebanyak 7,5 ml dan kadar CO2
yang dikeluarkan sebesar 150 ml/L, dan pada botol 3 memerlukan volume HCl
sebanyak 11,3 ml dan kadar CO2 yang dikeluarkan sebesar 226 mg/L.
Berdasarkan data yang didapat tersebut maka dapat diketahui bahwa laju
respirasi dipengaruhi oleh suhu dan CO2. Selain itu juga dipengaruhi oleh
oksigen. Menurut Salisbury (1995) Bagi sebagian besar bagian tumbuhan dan
spesies tumbuhan, Q10 respirasi biasanya 2,0 sampai 2,5 pada suhu antara 5 dan
25C. Bila suhu meningkat lebih jauh sampai 30 atau 35C, laju respirasi tetap
meningkat, tapi lebih lambat, jadi Q10 mulai menurun.
Suhu mempunyai pengaruh besar terhadap kegiatan respirasi. Pada suhu 0
C laju respirasi sangatlah rendah, sedangkan pada suhu 30 C sampai 40 C laju
respirasi terjadi secara capat atau giat. Jadi wajar apabila dalam pengamatan laju
respirasi kecambah kacang hijau lebih cepat pada suhu ruang (25C) karena
memang pada suhu tersebut laju respirasi berlangsung dengan cepat. Akan tetapi,
jika temperatur terus menerus diatas 30C, maka kegiatan respirasi itu terjadi
hanya sebentar saja. Kemudian kegiatan respirasi akan berkurang sekitar 2 sampai
3 jam. Pada peningkatan suhu sampai 40 C atau lebih, laju respirasi akan
menurun , khususnya bila tumbuhan pada waktu yang terlalu lama. Oleh sebab
itu, enzim yang diperlukan mulai mengalami denaturasi dengan cepat pada suhu
tinggi, mencegah peningkatan metabolik yang semestinya terjadi. Demikian pula
yang terjadi pada kecambah kacang hijau ini, peningkaan suhu dari 25 sampai
40C mula-mula meningkatkan respiasi dengan cepat, tapi setelah 2 jam lajunya
mulai berkurang. Hal ini karena waktu 2 jam sudah terlalu lama untuk merusak
sebagian enzim respirasi.
Selain itu kecambah yang terletak dalam oven juga mengalami kesulitan
dalam menangkap oksigen karena berada dalam ruangan yang gelap dan tertutup.
Berbeda halnya dengan kecambah yang ditaruh di ruangan terbuka. Padahal
ketersediaan oksigen juga mempengaruhi laju respirasi. Menurut Achmad (2010)
Oksigen sangat penting dalam perkembangan kecambah, karena kecambah
melakukan respirasi aerob untuk memecahkan cadangan makanan dalam
endosperma yang kaya akan lemak. Cadangan makanan yang digunakan dalam
respirasi ini, berfungsi sebagai substrat yang dapat menghasilkan energi dalam
menyokong proses pembelahan sel dan metabolisme sel lainnya (tahap awal
pertumbuhan).
Faktor lain yaitu CO2, dimana CO2 yang dihasilkan pada proses respirasi
didalam oven tidak diimbangi dengan tersedianya oksigen. Adapun kadar CO2
yang dikeluarkan oleh kecambah kacang hijau dapat menjadi tolak ukur laju
respirasi yang dilakukan oleh kecambah kacang hijau tersebut.

Absorbsi CO2 dari campuran biogas ke dalam larutan NaOH dapat dilukiskan
sebagai berikut :
I.
CO2(g) CO2(g)
II.
III.

CO2(g) + NaOH(aq) NaHCO3(aq)

(1)
(2)

NaOH(aq) + NaHCO3 Na2CO3(s) + H2O(l) (3)


CO2(g) + 2NaOH(aq) Na2CO3(s) + H2O(l)

Saat sampel dititrasi dengan HCL, maka terjadi reaksi :


I.
CO2(g) + 2NaOH(aq) Na2CO3(s) + H2O(l)
(4)
II.

Na2CO3(s)+ BaCl2 (l) 2NaCl(l)+ BaCO3(aq) (5)


BaCO3(aq) + 2HCl(l) BaCl 2(l) + CO2(g) + H2O(l)

Dan jika melihat dari data yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa
volume HCl yang dikeluarkan sebanding dengan laju respirasi yang dilakukan
oleh kecambah biji kacang hijau. Berikut merupakan reaksi kimia yang terjadi
pada saat respirasi kecambah biji kacang hijau:
1. CO2 +2 NaOH

Na2CO3+H2O
2. Na2CO3+BaCl2

2NaCl+BaCO3
3. BaCO3+2HCl

BaCl2+CO2+H2O
Adanya penggabungan unsur negatif dan positif dan unsur asam dan unsur
basa pada reaksi tersebut menyebabkan terjadinya yang disebut dengan
kesetimbangan reaksi.

KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum ini dapat disimpulkan bahwa
laju respirasi dipengaruhi oleh suhu, CO2, dan oksigen. Laju respirasi pada
kecambah biji kacang hijau lebih tinggi pada suhu ruang (25C) dibandingkan di
dalam oven (40C). Hal ini karena bagi sebagian besar bagian tumbuhan dan
spesies tumbuhan, Q10 respirasi biasanya 2,0 sampai 2,5 pada suhu antara 5 dan
25C. Bila suhu meningkat lebih jauh sampai 30 atau 35C, laju respirasi tetap
meningkat, tapi lebih lambat, jadi Q10 mulai menurun. Selain itu pada
peningkatan suhu sampai 40 C atau lebih, laju respirasi akan menurun,
khususnya bila tumbuhan pada waktu yang terlalu lama didalam oven. Oleh sebab
itu, enzim yang diperlukan mulai mengalami denaturasi dengan cepat pada suhu
tinggi, sehingga mencegah peningkatan metabolik yang semestinya terjadi.
Ketersediaan oksigen juga mempengaruhi laju respirasi. Dalam oven
oksigen yang tersedia jauh lebih sedikit dibanding ruangan terbuka sehingga laju
respirasi menurun.
Faktor lain yaitu CO2, dimana CO2 yang dihasilkan pada proses respirasi didalam
oven tidak diimbangi dengan tersedianya oksigen. Adapun kadar CO2 yang
dikeluarkan oleh kecambah kacang hijau dapat menjadi tolak ukur laju respirasi
yang dilakukan oleh kecambah kacang hijau tersebut.
Sebaiknya lebih berhati-hati dan teliti dalam melakukan praktikum terutama
dalam melakukan titrasi agar dapat menentukan laju respirasi secara lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Atkin. 2006. Respiration as a percentage of daily photosynthesis in whole plants
is homeostatic at moderate, but not high, growth temperatures. Journal
compilation 368.
Achmad. 2010. Penetapan Kuosien Respirasi Jaringan Tumbuhan.(Online) (http:
//arcturusarancione.wordpress.com/2010/06/28/penetapan-kuosien-respirasijaringan-tumbuhan/) Diakses tanggal 7 Mei 2014.
Campbell. 1999. Biologi edisi kelima jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Kimball, Jhon.W. 1983. Biologi jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Nio Song Ai. 2012. Evolusi Fotosintesis Pada Tumbuhan. Jurnal Ilmiah Sains Vol
12 nomor 1. Manado: Program Studi Biologi FMIPA, Universitas Sam
Ratulangi. e-mail: nio_ai@yahoo.com
Putra. 2010. Penetapan Kuosien Jaringan Tumbuhan.(Online) (http://4thena.
wordpress.com/category/fisiologi-tumbuhan/) Diakses tanggal 7 Mei 2014.
Putra, M.S. 2013. Paper Tentang Respirasi pada Tumbuhan.(Online) (http://
mardangayo.blogspot.com/2013/04/paper-tentang-respirasi-padatumbuhan.html) Diakses tanggal 7 Mei 2014.
Reeves. 1994. ELEVATED ATMOSPHERIC CARBON DIOXIDE EFFECTS ON
SORGHUM AND SOYBEAN NUTRIENT STATUS.). JOURNAL OF PLANT
NUTRITION, 17(11), 1939-1954 (1994).
Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB.
Salisbury, F.B dan C.W Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan jilid 2. Bandung : ITB

LAMPIRAN
Tabel 1. Hasil pengamatan kadar CO2 dengan titrasi
No.
1.

Perlakuan
Suhu ruang 250C

Volume HCl (ml)


Ruang 1 : 11,5

Ruang 1 : 230

Ruang 2 : 13,7

Ruang 2 : 274

Ruang 3 : 11,5

Ruang 3 : 230

Rata-rata
2.

Dalam oven 400C

Kadar CO2 (mg/l)

18,35

244,67

Oven 1 : 8

Oven 1 : 160

Oven 2 : 7,5

Oven 2 : 150

Oven 3 : 11,3

Oven 3 : 226

Rata-rata

8,93

178,67

Ruang 1
Kadar CO2 =

)
(

= 230

Ruang 2
Kadar CO2 =

)
(

= 274

Ruang 3
Kadar CO2 =

)
(

= 230

Oven 1
Kadar CO2 =

)
(

= 160

Oven 2
Kadar CO2 =

)
(

= 150

Oven 3
Kadar CO2 =

)
(

= 226