Anda di halaman 1dari 21

TUGAS UNIT OPERATION II

MEKANIKA FLUIDA

Kompresi Gas Oksigen 1 atm pada Suhu Kamar Menuju Tangki


Bertekanan 15 atm dengan Kapasitas 1.4 ton/jam
Disusun oleh:
Esti Rahmawati

21030112130098

Farouk Abdillah

21030112130042

Kiki Rizki Fatimah

21030112140157

Mario Lorenso

21030112120026

Muhammad Alif Haetami

21030112130063

Nikolaus Darmawan

21030112130145

Nugraheni Dwiandini

21030112130118

Probondari Ardana I

21030112130114

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Fluida
Fluida didefinisikan sebagai zat yang dapat mengalir. Fluida umunya berupa zat
cair dan zat gas(termasuk gas yang terionisasi atau plasma), tetapi zat padat pada
temperatur tertentu ada yang termasuk fluida karena dapat mengalir misalnya aspal
dan ter. Secara umum fluida dibedakan menjadi 2 bagian yaitu fludia statis dan
fluida dinamis. Fluida statik berhubungan dengan tekanan, tegangan muka dan
kapilaritas. Sedangkan fluida dinamik berhubungan dengan persamaan kontinuitas,
persamaan bernaolli dan viskositas.
Berikut sifat-sifat fluida :
1. Tidak dapat melawan secara tetap stress geser.
2. Mempunyai kompresibilitas (untuk gas), inkompresibilitas (untuk cairan)
3. Mempunyai kekentalan atau viskositas.
(Reff : si.itats.ac.id/repository/Materi-Perkuliahan/Fisika/kuliah-fluida.pdf)
Sifat fluida yang pertama mempunyai makna fluida juga bisa kita sebut suatu zat
yang mempunyai kemapuan berubah-ubah secara kontinyu apabila mengalami
geseran, atau tegangan geser sekecil apapun, karena dalam keadaan diam (keadaan
kesetimbangan), fluida tidak mampu menahan gaya geser yang bekerja padanya.
Oleh karena itu, fluida mudah berubah bentuk tanpa pemisahan massa.
Pada fluida cair, fluida dapat mengalami perubahan bentuk bila terkena tekanan
geser, dan cenderung membentuk mengisi tempat dengan permukaan datar.
Sedangkan pada fluida gas, perbedaannya fluida tidak membentuk permukaan,
dengan kata lain mengisi seluruh tempat.
(Reff : http://web.ipb.ac.id/~erizal/mekflud/modul1.pdf)
Sistem aliran fluida dinamis atau yang lebih kita kenal dengan istilah
hidrodinamika menjadi dasar sistem aliran fluida. Pada perkuliahan Unit Operasi
Teknik Kimia, dibagi menjadi tiga bagian :
1. Aliran fluida dalam saluran/ pipa, aliran terarah mengikuti bentuk pipa
(transportasi fluida)
2. Aliran fluida dalam suatu alat untuk tujuan tertentu seperti sedimentasi,
filtrasi, sentrifugasi, dan agitasi/ pencampuran.

Masalah yang berhubungan dengan aliran yang melibatkan dua fase atau lebih,
antara lain aliran fase gas cair dan fluidisasi (pneumatic conveyor).
Aliran Fluida Cair
Aliran fluida dapat diaktegorikan:
1. Aliran laminar
Aliran dengan fluida yang bergerak dalam lapisan-lapisan, atau laminalamina dengan satu lapisan meluncur secara lancar . Dalam aliran laminar ini
viskositas berfungsi untuk meredam kecendrungan terjadinya gerakan
relatifantara lapisan. Sehingga aliran laminar memenuhi hukum viskositas
Newton
yaitu :
2. Aliran turbulen
Aliran dimana pergerakan dari partikel partikel fluida sangat tidak menentu
karena mengalami percampuran serta putaran partikel antar lapisan,
yangmengakibatkan saling tukar momentum dari satu bagian fluida kebagian
fluidayang lain dalam skala yang besar. Dalam keadaan aliran turbulen
makaturbulensi yang terjadi membangkitkan tegangan geser yang merata
diseluruh fluida sehingga menghasilkan kerugian kerugian aliran.
3. Aliran transisi
Aliran transisi merupakan aliran peralihan dari aliran laminar ke aliran
turbulen.

(a)

(b)

Gambar I.1 Jenis Aliran Fluida

B. Konsep Dasar
Bilangan Reynolds
Bilangan Reynolds merupakan bilangan tak berdimensi yang dapat membedakan
suatualiran itu dinamakan laminar, transisi atau turbulen.

Dimana :
v = kecepatan (rata-rata) fluida yang mengalir (m/s)
D = diameter dalam pipa (m)
= massa jenis fluida (kg/m3)
= viskositas dinamik fluida (kg/m.s) atau (N. det/ m2)

Dilihat dari kecepatan aliran, menurut Reynolds :

aliran laminar bila aliran tersebut mempunyai bilangan Re< 2300

aliran transisi berada pada pada bilangan Re 2300 - 4000 biasa juga disebut
sebagai bilangan Reynolds kritis

aliran turbulen mempunyai bilangan Re lebih dari 4000.

(Reff: ridwan.staff.gunadarma.ac.id/.../files/.../Karakteristik+Aliran+Fluida1.pdf)

C. Tranportasi Fluida
Fluida adalah zat yang tidak dapat menahan perubahan bentuk (distorsi) secara
permanen. Bila kita mencoba mengubah bentuk suatu massa fluida, maka di dalam
fluida tersebut akan terbentuk lapisan-lapisan di mana lapisan yang satu akan
mengalir di atas lapisan yang lain, sehingga tercapai

bentuk baru. Selama

perubahan bentuk tersebut, terdapat tegangan geser (shear stress), yang besarnya
bergantung pada viskositas fluida dan laju alir fluida relatif terhadap arah tertentu.
Bila fluida telah mendapatkan bentuk akhirnya, semua tegangan geser tersebut akan
hilang sehingga fluida berada dalam keadaan kesetimbangan. Pada temperatur dan
tekanan tertentu, setiap fluida mempunyai densitas tertentu. Jika densitas hanya
sedikit terpengaruh oleh perubahan yang suhu dan tekanan yang relatif besar, fluida
tersebut bersifat incompressible. Tetapi jika densitasnya peka terhadap perubahan
variabel temperatur dan tekanan, fluida tersebut digolongkan compresible. Zat cair

biasanya dianggap zat yang

incompresible,

sedangkan gas umumnya dikenal

sebagai zat yang compresible. (Departemen Teknik Kimia ITB).


Transportasi fluida dilakukan dengan dua cara yaitu dengan pengangkutan yang
menggunakan tempat dab dengan pengaliran fluida pada jaringan pengaliran yang
sudah tertentu. Cara pengaliran ada dua macam, yaitu sistem terbuka yang
berhubungan dengan udara luar dan sistem tertutup yang biasanya menggunakan
pipa. Dalam industry kimia yang perlu diperhitungkan secara khusus dalam
perancangan adalah sistem aliran fluida secara tertutup yang dilakukan dalam pipa.
Dalam perancangan pengaliran secara ertutup, sifat fluida penting dipahami
ketika mendesain proses pengaliran bahan. Desain dari transportasi fluida bahan dari
satu tempat ke tempat yang lain melibatkan pompa, pipa, dan sambungansambungan pada pipa, akan sangat dipengaruhi oleh sifat aliran bahan. Aliran di
dalam pipa dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu aliran laminar dan aliran turbulen.
Aliran laminar terjadi pada suatu sistem fluida dimana partikel fluida bergerak
dalam pola lurus di sepanjang pipa. Sedangkan aliran turbulen terjadi apabila fluida
mengalir dalam pipa dengan gerakan acak dimana seolah terjadi proses pengadukan.
Faktor bahan yang akan mempengaruhi transportasi fluida adalah sifat alir bahan
(bersifat Newtonian atau non-Newtonian) dan densitas bahan. Karakteristik fluida
yang berpengaruh adalah nilai viskositas (bila bersifat Newtonian) dan nilai indeks
tingkah laku aliran dan koefisien kekentalan (jika bersifat non-Newtonian).
Sedangkan faktor pipa yang akan mempengaruhi adalah jenis pipa , ketinggian pipa
dari permukaan tanah, dan gesekan permukaan pipa dengan fluida akibat kekasaran
pipa, adanya penyempitan, pengembangan, dan sambungan. Faktor pompa berarti
berapa daya pompa yang diberikan yang akan mempengaruhi laju aliran bahan di
dalam pipa. (Kusnandar, F. et al. 2000)
D. Kompresor
Kompresor yaitu alat yang berfungsi untuk memampatkan atau menaikkan
tekanan atau memindahkan fluida gas dari suatu tekanan statis rendah ke keadaan
tekanan statis yang lebih tinggi. Kompresor bisa kita temukan pada alat pengungkit,
kendaraan roda empat, pendingin ruangan, lemari es serta alat-alat pengangkat
beban yang menggunakan tekanan untuk mengangkatnya.

Secara umum kompresor digunakan atau berfungsi menyediakan udara


dengan tekanan tinggi. Prinsip kerja kompresor seperti ini biasa kita temukan pada
mesin otomotif. Fungsi kedua dari kompreso radalah untuk membantu reaksi kimia
dengan cara meningkatkan sistem tekanan.
Kompresor seperti ini bisa ditemukan pada industri kimia atau yang
berhubungan dengan itu. Kompresor juga bertugas untuk membagi-bagikan gas dan
bahan bakar cair melalui instalasi pipa-pipa gas. Selain itu, dalam peralatan
pengangkat berat yang bekerja secara pneumatik, kompresor digunakan dalam
fungsinya sebagai pengirim udara untuk sumber tenaga.
Sebuah kompresor apabila dilihat dari cara kerjanya, maka akan ada dua jenis
kompresor yang masing-masing metode kerjanya berbeda. Jenis pertama adalah
kompresor dengan metode kerja perpindahan positif dan yang kedua adalah
kompresor dengan metode kerja dinamik.
a. Kompresor Perpindahan Positif
Kompresor jenis perpindahan positif ini bekerja dengan cara memasukkan udara
ke dalam ruang tertutup, lalu pada saat yang sama volume ruangnya diperkecil,
dengan demikian tekanan di dalam dengan sendirinya akan naik.Tekanan yang
tinggi inilah yang digunakan untuk berbagai keperluan sesuai dengan
peruntukkan kompresor tadi. Kompresor model perpindahan positif dibagi
menjadi dua jenis, yaitu reciprocating compressor dan rotary compressor.
b. Kompresor Dinamik
Berbeda dari kompresor perpindahan positif, pada kompresor model dinamik
volume ruangnya tetap tapi udara yang ada di dalam ruang tersebut diberi
kecepatan. Kemudian pada saat yang sama kecepatan tersebut diubah menjadi
tekanan. Hal ini bisa terjadi karena udara pada ruang yang volumenya tetap
mengalami tekanan.
Berdasarkan arah alirannya, kompresor dinamik dibagi menjadi tiga, yaitu:

Kompresor arah radial (Radial flow compressor)

Kompresor arah axial (Axial flow compressor)

Kompresor arah campuran (Mixed flow compressor).

E. Jenis Penggerak Kompresor


Sebagai penggerak kompresor umumnya dipakai motor listrik atau motor bakar
torak. Adapun macam, sifat dan penggunaan masing- masing jenis penggerak
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Motor Listrik
Motor listrik dapat diklasifikasikan secara kasar atas motor induksi dan
motor sinkron. Motor induksi mempunyai faktor daya efisiensi yang lebih
rendah dari pada motor sinkron. Arus awal motor induksi juga sangat besar.
Namun motor induksi sampai 600 kW banyak dipakai karena harganya
relative murah dan pemeliharaannya mudah. Motor induksi ada dua jenis
sangkar bajing ( squirrel cage ) dan jenis rotor lilit ( wound rotor). Akhirakhir ini jenis motor sangkar bajing lebih banyak dipakai karena mudah
pemeliharaannya. Meskipun motor sinkron mempunyai faktor daya dan
efisiensi yang tinggi, namun harganya mahal. Dengan demikian motor ini
hanya dipakai bila diperlukan daya besar dimana pemakaian daya
merupakan faktor yang sangat menentukan.
2. Motor Bakar Torak
Motor bakar torak dipergunakan untuk penggerak kompresor bila tidak
tersedia sumber listrik ditempat pemasangannya atau bila kompresor tersebut
merupakan kompresor portable. Untuk daya kecil sampai 5.5 kW dapat
dipakai motor bensin dan untuk daya yang lebih besar dipakai motor diesel.

BAB II
DESKRIPSI PROGRAM
SPESIFIKASI OPERASI
1. Kondisi Operasi
Operasi yang dilakukan berupa kompresi gas oksigen 1 atm suhu kamar ke
tangki bertekanan 15 atm dengan kapasitas 1,4 ton/jam. Untuk mengkompresi
gas oksigen dari tekanan 1 atm sampai 15 atm dibutuhkan kompresor multi stage
dengan jumlah stage sebanyak 2 buah.
Stage pertama :

P (tekanan)

: 1-3,87 atm

T1 (suhu masuk kompresor I)

: 298.15 K

T1 (suhu keluar kompresor I / suhu masuk intercooler)

: 437,06 K

T2 (suhu keluar intercooler)

: 339,71 K

Stage kedua

P (tekanan)

T2 (suhu keluar intercooler / suhu masuk kompresor II)

: 339,71 K

T2 (suhu keluar kompresor II)

: 496,06 K

: 3,87 - 15 atm

PEMILIHAN KOMPRESOR
Sesuai dengan pemakaiannya kompresor yang paling menguntungkan
adalah kompresor torak, karena kompresor torak memiliki kelebihan-kelebihan
dibandingkan dengan kompresor jenis lain, diantaranya :
1. Kompresor torak mempunyai efisiensi volumetrik yang lebih tinggi
dibandingkan dengan jenis kompresor yang lain, sehingga kompresor ini
akan menghasilkan kapasitas udara yang lebih besar.
2. Kompresor torak memiliki konstruksi yang lebih sederhana, sehingga
penggunaannya lebih ekonomis.
3. Memiliki rasio kompresi yang lebih besar.

Gambar 3. Kompresor Torak


Cara kerja:
Seperti diperlihatkan pada gambar dibawah ini, kompresor torak atau
kompresor bolak- balik pada dasarnya dibuat sedemikian rupa hingga gerakan
putar dari penggerak mula menjadi gerak bolak- balik. Gerakan ini diperoleh
dengan menggunakan poros engkol dan batang penggerak yang menghasilkan
gerak bolak- balik pada torak.
-

Isap
Bila proses engkol berputar dalam arah panah, torak bergerak ke bawah oleh
tarikan engkol. Maka terjadilah tekanan negative ( di bawah tekanan atmosfer
) di dalam silinder, dan katup isap terbuka oleh perbedaan tekanan, sehingga
udara terhisap.

Piston bergerak dari TDC ke BDC

Intake valve membuka & exhaust valve menutup

Udara luar terisap ( karena didalam ruang bakar kevakumannya lebih


tinggi)

Gambar 4. Kompresor Langkah Isap


-

Kompresi
Bila torak bergerak dari titik mati bawah ketitik mati atas, katup isap tertutup
dan udara di dalam silinder dimampatkan.

Piston bergerak dari BDC ke TDC

Kedua valve menutup

Udara dikompresi Panas ( karena ruangnya dipersempit )

Gambar 5. Kompresor Langkah Kompresi

Power Stroke

Gas sisa pembakaran mengembang ( ekspansi karena panas, yang


menyebabkan gaya dorong )

Kedua valve menutup

Piston terdorong turun ke BDC

Keluar atau Buang


Bila torak bergerak keatas, tekanan didalam silinder akan naik, maka katup
keluar akan terbuka oleh tekanan udara atau gas, dan udara atau gas akan
keluar.

Piston bergerak dari BDC ke TDC

Exhaust valve membuka

Sisa pembakaran terbuang ( melalui exhaust valve & exhaust manifold )

Gambar 6. Kompresor Langkah Keluar

PEMILIHAN MOTOR
Sesuai dengan pemakaiannya motor yang paling menguntungkan adalah
motor induksi, hal ini dikarenakan daya motor yang diperlukan kurang dari 600
kW, selain itu motor induksi juga relatif murah dan perawatannya mudah.

Gambar 7. Motor Sinkron

PEMILIHAN VALVE
Berikut beberapa karakter valve berdasarkan jenis-jenisnya:

Dalam perancangan ini kami menggunakan gate valve sebagai valve-nya.


Jenis valve ini mempunyai bentuk penyekat piringan, atau sering disebut
wedge, yang digerakkan ke atas bawah untuk membuka dan menutup. Biasa
digunakan untuk posisi buka atau tutup sempurna dan tidak disarankan
untuk posisi sebagian terbuka.

Valve (Katup) ini disebut katup gate karena mengandung unsur


penutupan disebut gate yang berhenti mengalir. Pintu gate bertindak
seperti sebuah rana yang memisahkan bagian dalam rumah dari luar atau
pintu yang memisahkan dua kamar.

Sebuah disk vertikal bertempat di katup tubuh slide gerbang atas dan
bawah pada sudut kanan ke arah aliran dalam pipa, menutup atau
membuka katup. Arus diblokir dengan menggunakan efek wedge-lock
disc katup/valve itu.

(Gambar gate valve pada saat tertutup) (Gambar gate valve pada saat terbuka)

Gambar komponen gate valve

PERHITUNGAN DEBIT DAN SISTEM PEMIPAAN


Kompresi Oksigen ke tangki bertekanan 15 atm dengan kapasitas 1,4
ton/jam menggunakan sistem pemipaan jenis electric resistance welded steel
pipe sch 80 dilengkapi dengan flange jenis weld neck flange. Diameter pipa
dapat dihitung sebagai berikut:

Densitas gas oksigen dapat dihitung dengan cara P.V = n.R.T

Maka

Dari tabel Perrys Chemical Engineering Handbook, Di opt = 8,132 in


dengan sch 80 tidak ada sehingga digunakan Di opt = 9.562 in dengan ukuran
nominal pipa = 10 sehingga diperoleh luas pipa = 18.95 in2.
Penggunaan pipa electric resistance welded steel pipe dikarenakan fluida
yang mengalir dalam pipa berbentuk gas yang tidak memiliki sifat korosi dan
suhu operasi yang terbilang tinggi sehingga dibutuhkan jenis pipa yang tahan
terhadap suhu tinggi. Pemilihan schedule 80 dilakukan karena tekanan yang
digunakan lebih dari 2 atm (tergolong tinggi), dan juga diameter pipa yang
terbilang kecil sehingga menyebabkan pengaruh tekanan menjadi bertambah
besar . Flange weld neck dipilih karena aliran bertekanan tinggi, temperatur
extrim, shear impact maupun getaran tinggi, lebih lanjut, konfigurasinya tidak
menimbulkan gangguan pada aliran.
(Reff : http://eryhartoyo.wordpress.com/2011/09/13/jenis-jenis-flange/)

PERHITUNGAN TENAGA
( )

..

Dimana, W : kerja kompresor (

m : kapasitas massa (

T : suhu mutlak (R)


R : tetapan gas ideal
k : 1,303 (metana)
P1 : tekanan dalam kompresor (atm)
P2 : tekanan luar kompresor (atm)
Jadi dapat dihitung dengan persamaan diatas sebagai berikut :

Rasio kompresi = 3,87

Stage 1
a. Perhitungan Tout dari Kompresor I
( )

= 437,06 K
b. Perhitungan Daya Kompresor I
[( )

dimana P1V1 = nRT1

*( )

((

Sehingga:

Daya Kompresor sesungguhnya (efisiensi kompresor = 0,7)

=
= 70.915,97 Watt
= 95,09 HP

Daya Motor Sesungguhnya (efisiensi motor = 0,7)

=
= 135,85 HP
c. Perhitungan pada Intercooler I (effisiensi kompresor = 0,7)
{

T2 = 437,06 {0,7 (437,06 - 298)}


= 339,71 K
Stage 2
a. Perhitungan Cp dan Cv Oksigen

b. Perhitungan Tout dari Kompresor II


( )
(

= 496,06 K
c. Perhitungan Daya Kompresor II
[( )

* P2V2 = mRT2

*( )

((

= 56.687,85 Watt

Daya Kompresor sesungguhnya (efisiensi kompresor = 0,7)

=
= 80.982,64 Watt

= 108,59 HP

Daya Motor Sesungguhnya (efisiensi motor = 0,7)

=
= 155,12 HP

SKEMA OPERASI

Gambar 2.1. Diagram alir kompresi oksigen dari tangki I tekanan 1 atm ke tangki II
tekanan 15 atm

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Dalam

perancangan

proses

kompresi

gas,

dibutuhkan

beberapa

pertimbangan, seperti jenis kompresor, jenis motor, debit gas, tekanan dan suhu
sistem. Pertimbangan-pertimbangan tersebut juga dipengaruhi oleh perhitungan
tenaga kompresor, rasio kompresor, perhitungan tenaga motor, keberadaan
intercooler, dan sebagainya.
Dalam tugas yang telah dibuat, kompresi biogas dari 1 atm, suhu kamar, ke
tangki bertekanan 15 atm membutuhkan 2 kompresor dengan masing-masing
kompresor memiliki rasio kompresi sebesar 3,87, dan 1 intercooler yang
dipasang diantara kompresor. Masing-masing kompresor memiliki efisiensi 70%
dan efisiensi motor tiap-tiap kompresor adalah 70%. Kompresor yang digunakan
untuk mengkompresi biogas ini adalah kompresor torak, dimana kompresor
torak memiliki efisiensi volumetrik yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis
kompresor yang lain, sehingga kompresor ini akan menghasilkan kapasitas udara
yang lebih besar, memiliki konstruksi yang lebih sederhana, sehingga
penggunaannya lebih ekonomis, dan memiliki rasio kompresi yang lebih besar.

2. Saran
1. Menentukan jenis kompresor ditinjau dari tekanan akhir yang diinginkan
2. Menentukan jenis pipa ditinjau dari fluida yang ditransportasikan serta laju
alirnya.
3. Menentukan rasio kompresi berdasarkan kaidah penggunaan kompresor.
4. Komposisi fluida juga menjadi pertimbangan dalam perhitungan.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Teknik Kimia ITB


http://eryhartoyo.wordpress.com/2011/09/13/jenis-jenis-flange/
http://id.wikipedia.org/wiki/Kompresor
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31240/4/Chapter%20I.pdf
http://web.ipb.ac.id/~erizal/mekflud/modul1.pdf
http://www.utami.community.undip.ac.id/files/2010/07/BAB-8-Kompresor-rotari1.pdf
Kusnandar, F. P. Hariyadi dan Syamsir, E. 2000. Transportasi Fluida. Repository IPB
ridwan.staff.gunadarma.ac.id/.../files/.../Karakteristik+Aliran+Fluida1.pdf)
si.itats.ac.id/repository/Materi-Perkuliahan/Fisika/kuliah-fluida.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18973/4/Chapter%20II.pdf