Anda di halaman 1dari 3

I.

Obat Anestesi yang Hepatotoksik


1.1 Ansetesi Inhalasi Berhalogen
Anestesi inhalasi berhalogen adalah agen yang paling umum digunakan untuk
induksi dan pemeliharaan anestesi umum. Selama lebih dari 50 tahun, anestesi inhalasi
berhalogen dihubungkan dengan hepatotoksisitas. Kloroform merupakan anestesi
inhalasi berhalogen yang ditinggalkan karena mempunyai efek toksik terhadap hati.
Halotan, diperkenalkan pada tahun 1950-an sebagai alternatif yang lebih aman untuk
kloroform. Halotan juga menyebabkan hepatotoksik. Enfluran dan isofluran adalah dua
anestesi halogenasi yang juga terbukti menyebabkan hepatotoksik tetapi dampak
hepatotoksiknya lebih ringan dibandingkan halotan. Mekanisme hepatotoksik oleh
produksi metabolit anestesi inhalasi berhalogen menyebabkan reaksi immunoallergi
pada pasien. Semua obat anestesi ini mengalami biotransformasi, terutama melibatkan
sitokrom P-450 2E1 (CYP 2E1).

1.1.1

Halotan
Pada tahun 1969, National Institutes of Health (NIH) melakukan penelitian
epidemiologi pada 250.000 pengunaan halotan sebagai agen anestesi,
didapatkan hasil 1 : 35.000 individu mengalami nekrosis hati. Terdapat dua
jenis cedera hati pascaoperasi telah dilaporkan berhubungan dengan
penggunaan halotan. 20% dari pasien yang menerima anestesi halotan
mengalami cedera ringan ditandai dengan mual, lesu dan demam.Dua faktor
klinis terdeteksi berkontribusi untuk jenis kerusakan hati ini yaitu elevasi
transien enzim hati, SGPT (ALT) dan aspartat aminotransferase (AST) tetap
tinggi selama satu sampai dua minggu setelah paparan halotan serta terdapat lesi
hati akibat degradasi intraseluler yang menyebabkan hipoksia lokal. Angka
kejadian meningkat pada paparan halotan berulang. Oksidasi halotan
menyebabkan produksi asam trifluoroasetat (TFA), yang bekerja pada protein
hepatosit yang memproduksi komponen trifluoroacetylated. Beberapa di
antaranya menunjukkan terjadinya reaksi imunogenik dan menginduksi respon
imun pasien.

1.1.2

Enfluran
Enfluran merupakan gas anestesi berhalogen yang digunakan sebagai anestesi
inhalasi. Enfluran memiliki onset lambat sehingga digunakan untuk
mempertahankan induksi anestesi. Sekitar 2% dari enfluran mengalami
metabolisme di hati. Secara klinis enfluran sangat jarang menyebabkan cedera

hati berat. Seperti halotan, enfluran dimetabolisme oleh mikrosomal enzim


CYP2E1 menjadi trifluoroacetylated (TFA) reaktif yang mampu berikatan pada
protein intra sitoplasma yang berpotensi imunogenik. Seperti dengan
hepatotoksisitas enfluren ditandai oleh peningkatan akut pada serum ALT (5
sampai 50 kali lipat) dan ikterus 2-21 hari setelah operasi dan anestesi.
1.1.3

Isoflurane
Isoflurane, isomer dari enfluran adalah agen anestesi banyak digunakan dengan
onset cepat. Isoflurane kurang hepatotoksik dibandingkan dengan halotan dan
enfluran. Mekanisme hepatotoksisitas isoflurane adalah diduga mirip dengan
halotan dan terkait dengan produksi intermediet reaktif.

1.1.4

Desflurane
Desfluran adalah anestesi halogenasi lain untuk induksi atau pemeliharaan
anestesi umum. Desflurane dimetabolisme oleh mikrosomal CYP2E1 menjadi
TFA reaktif yang mampu mengikat ke beberapa protein intracytoplasmic dan
berpotensi membentuk imunogenik. Terjadinya kerusakan hati desflurane pada
anestesi sangat jarang terjadi.

1.1.5 Sevofluran
Sevoflurane merupakan bentuk terbaru dari anestesi halogenasi sejak tahun 1995.
Penelitian telah menunjukkan penggunaan sevofluran tidak berhubungan dengan
ALT dan AST. Metabolisme sevofluran tidak menyebabkan formasi TFA. Oleh
karena itu, potensi hepatotoksik sevofluran dianggap rendah. Senyawa
metabolisme sevofluran, hexafluoroisopropanol (HFIP), memiliki kemampuan
mengikat protein secara signifikan kurang dari TFA. Selain itu, HFIP tidak
menumpuk dan cepat mengalami fase II biotransformasi, khususnya
glucuronidation, untuk membentuk HFIP-glukuronida. Senyawa ini sebagian
besar diekskresikan dalam urin dalam waktu 12 jam setelah anestesi. Sevofluran
menjadi pilihan anestesi terbaik dalam operasi besar dan transplantasi hati,
intervensi, di mana disfungsi hati pasca operasi bisa memiliki efek berbahaya
pada pasien. Studi baru menunjukkan bahwa sevoflurane pretreatment
memberikan sebuah pencegahan dari iskemia hati / cedera reperfusi, yang
merupakan masalah umum dalam operasi hati

DAFTAR PUSTAKA
Saeid Safari, et.all, Hepatotoxicity of Halogenated Inhalational Anesthetics. Iran Red Crescent
Med J. 2014 September; 16(9): e20153. DOI: 10.5812/ircmj.20153
Aashish Pandit, et. all, India Drug-Induced Hepatotoxicity: A Review. Journal of Applied
Pharmaceutical Science 02 (05); 2012: 233-243 Rayat Institute of Pharmacy,