Anda di halaman 1dari 24

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
ANAMNESIS

Nama : An. R.P.

Ruang

: Tulip

Umur : 10 tahun

Kelas

: III

Nama

: An. Y.K.

Jenis Kelamin

: laki-laki

Tanggal lahir

: Purworejo, 4-01-2003

Umur

: 10 tahun

Nama ayah

: Tn. S

Umur

: 50 tahun

Pekerjaan ayah

: Wiraswasta

Pendidikan ayah

: SMP

Nama ibu

: Ny. S

Umur

: 40 tahun

Pekerjaan ibu

: Buruh

Pendidikan ibu

: SD

Alamat

: Kledung Kradenan 03/02 Banyu Urip Purworejo

Masuk RS tanggal

: 8 Januari 2014

Diagnosis masuk

: Erupsi Obat Tipe Makulopapular

Dokter yang merawat :

dr. Yuli Setyowati, M.Sc, Sp. KK

Jam : 16.45 WIB

Co-assisten: Rr. Annisa R

Tanggal : 28 Januari 2014


KELUHAN UTAMA

: Gatal-gatal pada seluruh tubuh

KELUHAN TAMBAHAN

: batuk, lesu, demam.

1. Riwayat Penyakit Sekarang :


8 hari SMRS: OS mengeluhkan batuk dan demam, kemudian minum obat batuk (viks syrup)
dan jamu (tolak angin). Kemudian kurang dari 24 am muncul merah-merah di permukaan
kulit. Oleh orang tua OS dibawa ke bidan kemudian oleh bidan diberi OBH sebagai pengganti
obat sebelumnya. Merah-merah di kulit tidak membaik, justru semakin banyak.
SMRS : pada hampir seluruh tubuh OS terdapat kemerahan yang gatal, batu dan pilek serta
mengeluh nyeri telan.

2. Riwayat Penyakit Dahulu :


-

Riwayat mondok (-), kejang/step (-)

Riwayat operasi (-)

Riwayat alergi obat (-)

Riwayat alergi dingin (-)


RM.01.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
-

Riwayat alergi makanan (-)

Riwayat penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kencing manis (-)

3. Riwayat Penyakit di dalam Keluarga


-

Riwayat diare pada keluarga (-)

Riwayat diare pada lingkungan sekitar (-)

Riwayat keluarga sakit serupa (-)

Riwayat keluarga penyakit jantung, darah tinggi, dan kencing manis (-)

RIWAYAT PRIBADI
1. Riwayat kehamilan dan persalinan
A. Riwayat Kehamilan
Pasien adalah anak ketiga dari seorang ibu berusia 39 tahun. Usia kehamilan cukup bulan
(aterm). Ibu melakukan ANC teratur di bidan setempat dan Sp.OG serta mendapat
imunisasi TT sebanyak 2x dan rajin mengkonsumsi vitamin yang diberikan oleh bidan dan
Sp.OG. Pada saat hamil, ibu tidak ada riwayat demam tinggi dan lama, tidak merokok.
Tidak ada riwayat diabetes melitus, asma, jantung dan hipertensi.
B. Riwayat Persalinan
Pasien lahir secara spontan di RSUD Saras Husada Purworejo dari ibu G3P2A0 dengan
umur kehamilan aterm ketuban pecah dini (-), sisa air ketuban jernih, asfiksia (-). Bayi
jenis kelamin perempuan, menangis spontan saat lahir, warna kulit kemerahan, gerakan
aktif, anus (+), berat badan lahir 3200 gram, panjang badan 50 cm.
C. Riwayat Pasca Persalinan
Pasien diberi ASI eksklusif sampai usia 3 bulan, setelah itu diberikan ASI ditambah bubur
bayi sampai umur 6 bulan, lalu dilanjutkan pemberian makanan pendamping, pemberian
ASI hingga anak berusia 2,5 tahun. Kulit tidak kuning, tidak pucat, tidak kebiruan, tidak
kejang, tidak demam, reflek hisap kuat, reflek menelan juga kuat.

KESAN : Riwayat pasien saat dalam kandungan, saat persalinan, dan pasca
persalinan baik.

2. Vaksinasi
A. Dasar
Hepatitis B

:
: (+)

Pada waktu lahir, 1 dan 3 bulan

Di bidan
RM.02.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
BCG (scar 0,5)
DPT
Polio

: (+)
: (+)
: (+)

Campak

: (+)

Hib

(-)

MMR

(-)

Tifoid

(-)

Varisela

(-)

Hepatitis A

(-)

KESAN

Umur 1 bulan
Umur 2, 4 , 6, 18 bulan
Pada waktu lahir, umur 1, 2, 4, 6,
dan 18 bulan
Umur 9 bulan

Di bidan
Di bidan
Di bidan
Di bidan

Imunisasi PPI Departemen Kesehatan dilakukan lengkap dan tepat


waktu sesuai jadwal.

3. Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan

Sosial
Pasien tinggal di rumah bersama kakek, ayah, ibu, dan kakak laki-lakinya. Pasien diasuh
oleh ibunya sendiri, serta mendapatkan perhatian cukup dari anggota keluarganya.

Ekonomi
Sumber pendapatan keluarga didapat dari ayah yang bekerja sebagai petani dan ibu yang
bekerja sebagai buruh serta kakek sebagai petani, penghasilan yang didapat dirasakan
cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Lingkungan
Sejak lahir pasien dirawat di rumah kakek dari ayah pasien, terdiri atas 5 orangdengan
ukuran tidak diketahui. Dinding dari batu bata, alas rumah semen, dan atap genting
dengan ventilasi dan sirkulasi udara yang kurang baik. Sumber air yang digunakan untuk
kebutuhan sehari-hari didapat dari sumur, air tidak berasa, tidak berwarna, dan tidak
berbau. Ibu selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum. Keluarga pasien
tidak memiliki WC, jika ingin BAB mereka pergi ke sungai di dekat rumah mereka.
Jarak rumah dengan tetangga 2 meter. Di lingkungan kampung terdapat pabrik roti dan
kapuk.

KESAN :

Keadaan sosial ekonomi dan keadaan lingkungan dirasa kurang baik.


RM.03.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
4. Anamnesis sistem

Sistem saraf pusat

Sistem kardiovaskular : Nyeri dada (-)

Sistem respirasi

Sistem gastrointestinal : Nyeri telan (-), diare (-), muntah (-), nyeri perut (-)

Sistem urogenital

Sistem muskuloskeletal : Kaku (-), nyeri otot (-), gerakan lemah (-)

Sistem integumentum

KESAN :

: Demam (+), kejang (-), penurunan kesadaran (-)

: Sesak nafas (-), batuk (+), pilek (+), mengi (-), ronkhi (-)

: BAK (+) lancar, frekuensi BAK sering (+)

: Gatal (-), nyeri (-), edema (-), kulit kering (-), keriput (-)

Terdapat masalah pada sistem syaraf pusat dan sistem respirasi

PEMERIKSAAN

Nama : An. R.P.

Ruang

: Tulip

JASMANI

Umur : 10 tahun

Kelas

: III

PEMERIKSAAN UMUM
Kesan umum

: Sadar, tampak lemas dan kesan gizi cukup

Kesadaran

: Compos mentis

Nadi

: 161 x/menit, isi dan tegangan: kuat dan teratur

Suhu badan

: 38,3 0C

Pernafasan

: 50 x/menit, tipe thorakoabdominal, reguler, simetris

UKK :
Pada hampir seluruh tubuh nampak makulopapular, erytem.
Pada wajah nampak mucosa bibir erosi.

PEMERIKSAAN KHUSUS :
LEHER

: Kelenjar getah bening teraba (-), membesar (-), JVP meninggi (-),
kaku kuduk (-)

THORAK
Jantung :
RM.04.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
Inspeksi

: Ictus cordis tak terlihat.

Palpasi

: Ictus cordis teraba.

Perkusi

: Batas-batas jantung
Kanan atas

: SIC II, LPS dextra

Kanan bawah : SIC IV, LPS dextra

Kiri atas

: SIC II, LPS sinistra

Kiri bawah

: SIC V, LMC sinistra

Auskultasi : S1/S2 reguler, bising jantung (-), gallop (-), murmur (-), bising pansistolik (-)
Paru-paru :
Depan

Kanan

Inspeksi

Tampak simetris, retraksi subcostalis (-), Tampak simetris, retraksi subcostalis (-),
retraksi

Kiri

supraclavicularis

(-),

retraksi retraksi

supraclavicularis

(-),

retraksi

intercostalis (-), retraksi suprasternalis (-), intercostalis (-), retraksi suprasternalis (-),
tidak ada ketinggalan gerak, hematome (-)
Palpasi

Perkusi

tidak ada ketinggalan gerak, hematome (-),

Takipneu (-), ketinggalan gerak (-), massa Takipneu (-), ketinggalan gerak (-), massa
(-), deformitas (-)

(-), deformitas (-),

Sonor pada seluruh lapangan paru

Sonor pada seluruh lapangan paru

Auskultasi Suara dasar vesicular, ronkhi kering (-), Suara dasar vesicular, ronkhi kering (-),
ronkhi basah kasar (-), ronkhi basah halus ronkhi basah kasar (-), ronkhi basah halus
(-), wheezing ekpiratoir (-), wheezing (-), wheezing ekspiratoir (-), wheezing
inspiratoir (-), ekspirasi diperpanjang (-).

inspiratoir (-), ekspirasi diperpanjang (-).

Belakang

Kanan

Kiri

Inspeksi

Simetris

Simetris

Palpasi

Ketinggalan gerak (-), vocal fremitus kanan Ketinggalan gerak (-), vocal fremitus kanan

Perkusi

= kiri

= kiri

Sonor pada seluruh lapangan paru

Sonor pada seluruh lapangan paru

Auskultasi Suara dasar vesikuler, ronkhi kering (-), Suara dasar vesikuler, ronkhi kering (-),
ronkhi

basah

halus

(-),

wheezing ronkhi

basah

halus

(-),

wheezing

ekspiratoir (-), wheezing inspiratoir (-), ekspiratoir (-), wheezing inspiratoir (-),
ekspirasi diperpanjang (-).

ekspirasi diperpanjang (-).

ABDOMEN
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi

: Distensi (-), sikatrik (-), DD = DP, tanda asites (-)


: Peristaltik (+) normal.
: Tympani (+) di empat kuadran.
RM.05.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
Palpasi

: Supel, massa (-), nyeri tekan (-), turgor kulit kembali cepat.
Hepar : tak teraba
Lien : tak teraba

EKSTREMITAS
Akral hangat, perfusi jaringan baik, capillary refill time <2 detik, sianosis (-), deformitas (-),
edema (-), jari tabuh (-)
tungkai

lengan

kanan

kiri

kanan

kiri

Gerakan

bebas

bebas

bebas

bebas

Tonus

normal

normal

normal

normal

Trofi

eutrofi

eutrofi

eutrofi

eutrofi

Klonus

: (-)

Refleks Fisiologis : Reflek biceps (+/+), reflek triceps (+/+), reflek patella (+/+),
reflek achilles (+/+)
Refleks Patologis : Reflek babinski (-/-), openheim (-/-), hoffman (-/-), chadock (-/-)
Meningeal Sign

: Kaku kuduk (-), brudzinski I/II (-/-), kernig sign (-/-)

Sensibilitas

: Normal

KEPALA
Bentuk

: normocephal

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), reflek cahaya langsung (+/+)
pupil bulat isokor (+/+), mata cekung (-/-), konjungtivitis (-/-)
bercak Bitot (-/-), ulkus kornea (-/-) edema palpebra (+/+)

Hidung

: Nafas cuping hidung (-), sekret (-)

Telinga

: Sekret (-/-), nyeri tekan tragus (-/-), canalis auricula hiperemis (-/-)

Mulut

: Edema kedua bibir (+), ulkus (-), hiperemis (+), sianosis (-), trismus (-)

Faring

: Hiperemis (-), edema (-)

Gigi

: Caries (+)

Kesimpulan hasil anamnesis :

RM.06.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --

Badan muncul gata-gatal kemerahan pada seluruh tubuh, demam, batuk dan pilek serta
wajah nampak edema setelah minum obat batuk dan jamu.

Riwayat pasien saat dalam kandungan, saat persalinan, dan pasca persalinan baik.

Nutrisi yang didapat pasien dari segi kualitas baik dan dari segi kuantitas jumlahnya
mencukupi.

Perkembangan pasien sejak lahir hingga sekarang baik.

Imunisasi dilakukan lengkap dan tepat waktu sesuai jadwal.

Keadaan sosial ekonomi dan keadaan lingkungan dirasa kurang baik.

Kesimpulan hasil pemeriksaan fisik:

KU

: Anak CM, lemah, dan status gizi cukup.

VS

: Respirasi, suhu dan nadi meningkat.

Kulit

: pada hampir seluruh permukaan kulit nampak makulo papular, erythem.

Thorak

: Dalam batas normal.

Abdomen

: Terdapat gangguan pada sistem pencernaan.

Ekstremitas : Dalam batas normal.

Kepala

: Nampak edema pada palpebra, mukosa bibir erosi.

DIAGNOSIS &

Nama : An. Y.K

Ruang

: Tulip

RENCANA TERAPI

Umur : 10 tahun

Kelas

: III

DIAGNOSIS BANDING :
-

Erupsi Obat Tipe Makulopapular

Steven Jhonsens Syndrome

RENCANA PEMERIKSAAN :
o Pemeriksaan Darah Rutin.

HASIL LABORATURIUM
Darah Lengkap

Nilai Normal

AL

: 10.54

(10^3/uL)

M : 4.8-10.8

F : 4.8-10.8

AE

: 4.18

(10^6/uL)

M : 4.7-6.1

F : 4.2-5.4

HB

: 11.2

(g/dl)

M : 14-18

F : 12-16

(%)

M : 42-52

F : 37-47

HCT : 35.2

RM.07.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
MCV : 84.2

(fL)

79.0 99.0

MCH : 26.8

(pg)

27.0 31.0

MCHC : 31.8

(gl/dL)

33.0 37.0

AT

(10^3/uL)

150 - 400

: 292

Neutrofil

: 74.9* (%)

50 - 70

Limfosit

: 16.5* (%)

25 40

Monosit

: 6.1* (%)

2-8

Eosinofil

: 2.3* (%)

2-4

Basofil

: 0.2* (%)

01

DIAGNOSIS KERJA
-

Erupsi Obat Tipe Makulopapular

Steven Jhonsons Syndrome

RENCANA TERAPI
-

Kebutuhan cairan 1900 cc/ hari


Peroral

: 250 cc / 6 jam

Infus RL

: 10 tpm (makro)

Inj. Methylprednisolon

1 dd amp (31,25 mg)

Paracatamol syr

3 dd 2 cth (p.r.n)

Cetirizine

1 dd tab

Inersone oint gr 30

2 dd ue

Olive oil ad ml 100

RM.08.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pendahuluan
Kulit merupakan salah satu organ tubuh yang sangat mudah membeirikan suatu manifestasi
klinis apanila tedapat gangguan dalam tubuh. Salah satu gangguan yang bermanifestasi pada
kulit dengan mudah dilihat adalah erupsi obat. Erupsi obat adalah suatu reaksi alergi pada
daerah mukokutan yang terjadi akibat pemberian obat secara sistemik.
Pemberian secara sistemik ini berari obat tersebut masuk melalui mulut, hidung, rektum,
vagina dan injeksi. Sedangkan apabila reaksi muncul akiat dari obat topikal maka disebut
dengan dermatitis kontak alergi.
Tidak semua obat dapat memberikan reaksi alergi, hanya sekitar 1 persen hingga 3 persen
saja dari seluruh pemakaiannya akan menimbulkan erupsi obat. Obat-obatan tersebut antara
lain obat anti inflamasi non steroid, antibiotik dan jenis obat anti konvulsan.
Menurut WHO, sekitar 2 persen dari seluruh kasus erupsi obat tergolong dalam kasus serius,
maka harus dilakukan perawatan di rumah sakitbahkan dapat berakibat kematian.
Maka perlu dilakukan penegakan diagnosis yang tepat karena manifestasinya mungkin juga
terdapat pada gangguan kulit yang lain. Terutama pada anamnesa perlu digali dengan cermat
tentang riwayat pemakaian obat.
2. Epidemiologi
Belum didapatkan angka kejadian yang benar tepat pada kasus erupsi obat ini. Namun
perkiraan dari data yang berasal dari rumah sakit, studi epidemiologi menjunjukkan
perkiraan kejadian erupsi obat adalah 2 persen dari total pamakaian obat atau 15 sampai 20
persen dari seluruh efek samping pemakaian obat-obatan.
Di Amerika Serikat menunjukkan lebih dari 100.000 jiwa meninggal setiap tahunnya
disebabkan oelh erupsi obat yang serius. Beberapa jenis erupsi obat yang sering timbul
adalah :
a. Eksantema makulopapular sebanyak 91,2 %
b. Urtikaria sebanyak 5,9 % dan
c. Vaskulitis sebanyak 1,4 %.

Faktor-faktor yang memperbesar resiko erupsi obat adalah :


a) Jenis Kelamin
Wanita memiliki angka kejadian yang lebih sering dari pada laki-laki.
b) Sistem Imunitas
RM.09.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
Erupsi obat terjadi pada orang yang memiliki penurunan sistem imun, misalkan
pada penderita HIV AIDS penggunaan sulfametoksazole justru dapat
meningkatkan kejadian erupsi eksantematosa dibanding populasi normal.
c) Usia
Erupsi obat terjadi pada semua golongan usia baik anak-anak, dewasa ataupun
lansia. Namun pada keduanya memiliki penyebab yang berbeda, yaitu pada anakanak dipengaruhi oleh belum sempurnanya sistem imunitas sedangkan pada
dewasa karena sudah seringnya terpapar berbagai macam antigenik.
d) Dosis
Pemberian obat yang intermitten dengan dosis tinggi akan memudahkan
terjadinya sensitisasi. Jika sudah mencapai fase induksi, maka dosis kecil obat
sekalipun dapat menimbulkan reaksi alergi.
e) Infeksi dan keganasan.
Mortalitas tinggi lainnya juga dialamai oleh pasien dengan keganasan.

3. Patogenesis
Ada dua macam mekanisme yang dikenal disini. Pertama adalah mekanisme imunologis
dan kedua adalah mekanisme non imunologis. Umumnya erupsi obat timbul karena reaksi
hipersensitivitas berdasarkan mekanisme imunologis. Obat dan metabolit obat berfungsi
sebagai hapten, yang menginduksi antibodi humoral. Reaksi ini juga dapat terjadi melalui
mekanisme non imunologis yang disebabkan karena toksisitas obat, over dosis, interaksi
antar obat dan perubahan dalam metabolisme.

1.

Mekanisme Imunologis
a. Tipe I (Reaksi anafilaksis)
Mekanisme ini paling banyak ditemukan. Yang berperan ialah Ig E yang mempunyai
afinitas yang tinggi terhadap mastosit dan basofil. Pajanan pertama dari obat tidak
menimbulkan reaksi. Tetapi bila dilakukan pemberian kembali obat yang sama, maka
obat tersebut akan dianggap sebagai antigen yang akan merangsang pelepasan
bermacam-macam mediator seperti histamin, serotonin, bradikinin, heparin dan SRSA.
Mediator yang dilepaskan ini akan menimbulkan bermacam-macam efek, misalnya
urtikaria. Reaksi anafilaksis yang paling ditakutkan adalah timbulnya syok.
b. Tipe II (Reaksi Autotoksis)
RM.010.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
Adanya ikatan antara Ig G dan Ig M dengan antigen yang melekat pada sel. Aktivasi
sistem komplemen ini akan memacu sejumlah reaksi yang berakhir dengan lisis.
c. Tipe III (Reaksi Kompleks Imun)
Antibodi yang berikatan dengan antigen akan membentuk kompleks antigen antibodi.
Kompleks antigen antibodi ini mengendap pada salah satu tempat dalam jaringan
tubuh mengakibatkan reaksi radang. Aktivasi sistem komplemen merangsang
pelepasan berbagai mediator oleh mastosit. Sebagai akibatnya, akan terjadi kerusakan
jaringan.
d. Tipe IV (Reaksi Alergi Seluler Tipe Lambat)
Reaksi ini melibatkan limfosit. Limfosit T yang tersensitasi mengadakan reaksi
dengan antigen. Reaksi ini disebut reaksi tipe lambat karena baru timbul 12-48 jam
setelah pajanan terhadap antigen.

2.

Mekanisme Non Imunologis


Reaksi "Pseudo-allergic" menstimulasi reaksi alergi yang bersifat antibody-dependent.
Salah satu obat yang dapat menimbulkannya adalah aspirin dan kontras media. Teori
yang ada menyatakan bahwa ada satu atau lebih mekanisme yang terlibat; pelepasan
mediator sel mast dengan cara langsung, aktivasi langsung dari sistem komplemen,
atau pengaruh langsung pada metabolisme enzim asam arachidonat sel. Efek kedua,
diakibatkan proses farmakologis obat terhadap tubuh yang dapat menimbulkan
gangguan seperti alopesia yang timbul karena penggunaan kemoterapi anti kanker.
Penggunaan obat-obatan tertentu secara progresif ditimbun di bawah kulit, dalam
jangka waktu yang lama akan mengakibatkan gangguan lain seperti hiperpigmentasi
generalisata diffuse.

3.

Unknown Mechanism
Selain dua mekanisme diatas, masih terdapat mekanisme lain yang belum dapat
dijelaskan.

4. MANIFESTASI KLINIK
1. Morfologi dan Distribusi
Perlu diketahui bahwa

erupsi alergi obat yang timbul akan mempunyai kemiripan

dengan gangguan kulit lain pada umumnya, gangguan itu diantaranya;


a. Urtikaria
RM.011.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
Kelainan kulit terdiri atas urtika yang tampak eritem disertai edema akibat
tertimbunnya serum dan disertai rasa gatal. Bila dermis bagian dalam dan jaringan
subkutan mengalami edema, maka timbul reaksi yang disebut angioedema.
Angioedema ini biasanya unilateral dan nonpruritus, dapat hilang dalam jangka
waktu 1-2 jam. Tetapi kadang dapat bertahan selama dua sampai lima hari.
Pelepasan mediator inflamasi dari suatu aktifasi yang bersifat non imunologis juga
dapat menimbulkan reaksi urtikaria. Urtikaria dan angioedema sangat berhubungan
dengan Ig-E sebagai suatu respon cepat terhadap penisilin maupun antibiotik
lainnya. Obat lain misalnya angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dalam
jangka waktu satu jam juga dapat menimbulkan urtikaria.

b. Eritema
Kemerahan pada kulit akibat melebarnya pembuluh darah. Warna merah akan hilang
pada penekanan. Ukuran eritema dapat bermacam-macam. Jika besarnya lentikuler
maka disebut eritema morbiliformis, dan bila besarnya numular disebut eritema
skarlatiniformis.
c. Dermatitis medikamentosa
Gambaran klinisnya memberikan gambaran serupa dermatitis akut, yaitu efloresensi
yang polimorf, membasah, berbatas tegas. Kelainan kulit menyeluruh dan simetris.
d. Purpura
Purpura ialah perdarahan di dalam kulit berupa kemerahan pada kulit yang tidak
hilang bila ditekan. Purpura dapat timbul bersama-sama dengan eritem dan biasanya
disebabkan oleh permeabilitas kapiler yang meningkat.
e. Erupsi eksantematosa
RM.012.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
Lebih dari 90% erupsi obat yang ditemukan berbentuk erupsi eksantematosa. Erupsi
yang muncul dapat berbentuk morbiliformis atau makulopapuler. Pada mulanya akan
terjadi perubahan yang bersifat eksantematosa pada kulit tanpa didahului blister
ataupun pustulasi. Erupsi bermula pada daerah leher dan menyebar ke bagian perifer
tubuh secara simetris dan hampir selalu disertai pruritus. Erupsi baru muncul sekitar
satu minggu setelah pemakaian obat dan dapat sembuh sendiri dalam jangka waktu 7
sampai 14 hari. Pemulihan ini ditandai dengan perubahan warna kullit dari merah
terang ke warna coklat kemerahan, yang disertai dengan adanya deskuamasi kulit.
Erupsi eksantematosa dapat disebabkan oleh banyak obat termasuk penisilin,
sulfonamid, dan obat antiepiletikum. Dari hasil data laboratorium diketahui bahwa T
sel juga ikut terlibat dalam reaksi ini karena sel T dapat menangkap jenis obat tanpa
perlu memodifikasi protein dari hapten. Jika kelainan ini timbul berkali-kali ditempat
yang sama maka disebut eksantema fikstum.

Tabel 2. Beberapa obat yang dapat menimbulkan erupsi eksantematosa.

Sumber: Lee A, Thomson J. Drug-induced skin. In: Adverse Drug Reactions, 2nd
ed. Pharmaceutical Press. 2006. Access
on: June 3, 2007. Available at:
http://drugsafety.adisonline.com/pt/re/drs/pdf
Tempat predileksi disekitar mulut, terutama di daerah bibir dan daerah penis pada
laki-laki, sehingga sering disangka penyakit kelamin. Apabila adanya residif di
tempat yang sama maka disebut dengan eksantema fikstum.

Gambar 3. Sejumlah papul berwarna pink pada daerah dada disebabkan oleh
penggunaan obat golongan sefalosporin.

RM.013.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --

Sumber: Revus J, Allanore AV. Drugs Reaction. In: Bolognia Dermatology. Volume
One. 2nd edition. Elserve limited, Philadelphia. United States of America. 2003. p:
333-352
f. Eritema nodosum
Kelainan kulit berupa eritema dan nodus-nodus yang nyeri disertai gejala umum
berupa demam, dan malaise. Tempat perdileksi ialah di regio ekstensor tungkai
bawah.
g. Eritroderma
Eritroderma pada penderita alergi obat berbeda dengan eritroderma pada umumnya
yang biasanya disertai eritem dan skuama. Pada penderita alergi obat terlihat adanya
eritema tanpa skuama, skuama justru baru akan timbul pada stadium penyembuhan.
h. Erupsi pustule
Ada jenis erupsi, pertama erupsi akneiformis dan kedua Pustulosis.Eksantematosa
Generalisata Akut (PEGA).
i. Erupsi Akneiformis dihubungkan dengan penggunaan obat seperti iodida,
bromida, ACTH, glukokortikoid, isoniazid, androgen, litium dan actinomisin.
Erupsi timbul pada daerah-daerah yang atipikal seperti lengan dan kakierbentuk
monomorf berbentuk akne tanpa disertai komedo.
ii. Penyakit Pustulosis Eksantema Generalisata Akut (PEGA) memberikan
gambaran pustul miliar non folikular yang eritematosa disertai purpura dan lesi
menyerupai lesi target. Kelainan kulit timbul bila seseorang mengalami demam
tinggi (>38C). Pustul tersebut cepat menghilang dalam jangka waktu kurang
dari 7 hari kemudian diikuti oleh deskuamasi kulit. Pada pemeriksaan
histopatologis didapat pustul intraepidermal atau subcorneal yang dapat disertai
edema dermis, vaskulitis, infiltrat polimorfonuklear perivaskuler dengan
eosinofil atau nekrosis fokal sel-sel keratinosit.
Walaupun demikian, penyakit ini sangat jarang terjadi.
RM.014.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
i. Erupsi bulosa
Erupsi bulosa ini ditemukan pada; pemphigus foliaceus, fixed drug eruption (FDE),
erythema multiforme major (EM-major), SSJ dan TEN.
(a) Pemphigus. Obat yang dapat menyebabkannya adalah golongan penisilin dan
golongan thiol. Drug-induced bullous pemphigoid dapat terlihat dalam beberapa
bentuk. Dimulai dari urtikaria hingga terbentuk bulla yang luas dengan
melibatkan kavitas mukosa mulut, dapat juga berupa beberapa bulla dalam
ukuran sedang atau berupa plak dan nodul yang disertai skar dan bulla.
Gangguan ini dapat muncul kembali pada 35-50 persen kasus sebagai
pemphigus.
(b) Fixed Drug Eruption (FDE). Lesi baru akan timbul satu minggu sampai dua
minggu setelah paparan pertama kali dan akan diikuti timbul lesi berikutnya
dalam jangka waktu 24 jam. FDE ini akan terlihat sebagai makula yang soliter,
eritematosa dan berwarna merah terang dan dapat berakhir menjadi suatu plak
edematosa. Lesi biasanya akan muncul di daerah bibir, wajah, tangan, kaki dan
genitalia. Apabila penderita memakan obat yang sama, maka FDE akan muncul
kembali ditempat yang sama. Histologisnya, FDE serupa dengan erythema
multiformis yang ditandai dengan adanya limfosit di dermal-epidermal junction
dan perubahan degeneratif dari epitel yang disertai diskeratosis. FDE kronis
memberikan gambaran acanthosis, hiperkeratosis, dan hipergranulosis dan dapat
ditemukan eosinofil dan neutrofil. Terdapat peningkatan jumlah sel T helper dan
sel T supresor pada tempat lesi.

Gambar 4. Makula erimatosa yang berbatas tegas di daerah lengan pada


penderita FDE

RM.015.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
Sumber: Revus J, Allanore AV. Drugs Reaction. In: Bolognia Dermatology.
Volume One. 2nd edition. Elserve limited, Philadelphia. United States of
America. 2003. p: 333-352
(c) Eritema multiformis merupakan erupsi mendadak dan rekuren pada kulit
dan/atau selaput lendir dengan tanda khas berupa lesi iris (target lesion).
Gambar 5. Eritema Multiformis

Sumber: Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Erupsi Alergi


Obat. In: Kapita Selekta Kedokteran. Volume 2. 3rd edition. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Media Aesculapius. Jakarta. 2002. p:133-139
(d) Sindrom Stevens-Johnson (ektodermosis erosiva pluriorifisialis, sindrom
mukokutaneaokular, eritema multiformis tipe Hebra, eritema multiforme mayor,
eritema bulosa maligna) adalah sindrom kelainan kulit berupa eritema,
vesikel/bula, dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lendir orifisium,
dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari baik sampai buruk.
(e) Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) adalah penyakit kulit akut dan berat dengan
gejala khas berupa epidermolisis yang menyeluruh, disertai kelainan pada selaput
lendir di orifisium genitalia eksterna dan mata. Kelainan pada kulit dimulai
dengan eritema generalisata kemudian timbul banyak vesikel dan disertai
purpura di wajah, ekstremitas, dan badan. Kelainan pada kulit dapat disertai
kelainan pada bibir dan selaput lendir mulut berupa erosi dan ekskoriasi. Lesi
kulit dimulai dengan makula dan papul eritematosa kecil (morbiliformis) disertai
bula lunak (flaccid) yang dengan cepat meluas dan bergabung. Pada NET yang
penting ialah terjadinya epidermolisis, yaitu epidermis terlepas dari dasarnya
dengan gambaran klinisnya menyerupai luka bakar. Adanya epidermolisis
menyebabkan tanda Nikolsky positif pada kulit yang eritematosa, yaitu jika kulit
ditekan dan digeser maka kulit akan terkelupas. Epidermolisis mudah dilihat
RM.016.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
pada tempat yang sering terkena tekanan, yakni punggung, aksila, dan bokong.
Pada sebagian pasien kelainan kulit hanya berupa epidermolisis dan purpura
tanpa disertai erosi, vesikel, dan bula. Pada NET, kuku dapat terlepas dan dapat
terjadi bronkopneumonia. Kadang-kadang dapat terjadi perdarahan di traktus
gastrointestinal. Umumnya NET terjadi pada orang dewasa. NET merupakan
penyakit

berat

dan

sering

menyebabkan

kematian

karena

gangguan

keseimbangan cairan/elektrolit atau sepsis.


2. Perjalanan Penyakit
Penggolongan alergi obat dapat didasarkan pada selang waktu timbulnya gejala-gejala
alergik sesudah pemberian obat sebagai berikut:
Reaksi alergik yang segera (immediate), terjadi dalam beberapa menit dan ditandai
dengan urtikaria, hipotensi dan shok. Bila reaksi itu membahayakan jiwa maka disebut
syok anafilaksis. Reaksi yang cepat (accelerated) timbul dari 1 sampai 72 jam sesudah
pernberian obat dan kebanyakan bermanifestasi sebagai urtikaria. Kadang-kadang
berupa rash morbilliform atau edema laring. Reaksi yang lambat (late) timbul lebih dari
3 hari. Diperkirakan reaksi jenis cepat dan lambat ini ditimbulkan oleh antibodi IgG,
tetapi beberapa reaksi hemolitik dan exanthem dihubungkan dengan antibodi IgM.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilaksanakan untuk memastikan penyebab erupsi
obat alergi adalah:
(1) Pemeriksaan in vivo
(a) Uji tempel (patch test)
(b) Uji tusuk (prick/scratch test)
(c) provokasi (exposure test)
(2) Pemeriksaan in vitro
Yang diperantarai antibodi:
(a) Hemaglutinasi pasif
(b) Radio immunoassay
(c) Degranulasi basofil
(d) Tes fiksasi komplemen
Yang diperantarai sel:
(a) Tes transformasi limfosit
(b) Leucocyte migration inhibition test
RM.017.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
Pemilihan pemeriksaan penunjang didasarkan atas mekanisme imunologis yang
mendasari erupsi obat. Uji tempel (patch test) memberikan hasil yang masih belum
dapat dipercaya. Uji provokasi (exposure test) dengan melakukan pemaparan
kembali obat yang dicurigai adalah yang paling membantu untuk saat ini. Tetapi,
risiko dari timbulnya reaksi yang lebih berat membuat cara ini harus dilakukan
dengan cara hati-hati dan harus sesuai dengan etika maupun alasan mediko legalnya.
Sejumlah tes yang dilakukan dengan teknik

invitro didesain untuk membantu

membedakan apakah reaksi kulit yang terjadi pada individu tersebut disebabkan
karena obat atau bukan. Belum ditemukan uji fisik maupun laboratorium in-vitro
yang cukup reliabel untuk digunakan secara rutin. Derajat sensitifitas maupun
spesifitasnya cara ini masih dalam tahap penelitian. Oleh sebab itu, pemeriksaan ini
hanya sedikit sekali membantu dalam penegakkan diagnosis klinis. Biopsi kulit boleh
dilakukan pada penderita yang ditakutkan dapat mengalami reaksi obat yang serius
seperti pada penderita yang memiliki gejala awal seperti eritroderma, blister, purpura
dan pustulasi karena kasus SSJ baru akan timbul beberapa setelah penggunaan obat.
Perlu diketahui pula bahwa lebih dari 50% kasus SSJ dan hampir 90% penderita
TEN terkait dengan penggunaan obat.

4. DIAGNOSIS
Dasar diagnosis erupsi obat alergi adalah:
1. Anamnesis yang teliti mengenai:
a. Obat-obatan yang dipakai
b. Kelainan kulit yang timbul akut atau dapat juga beberapa hari sesudah
masuknya obat
c. Rasa gatal yang dapat pula disertai demam yang biasanya subfebris.
2. Kelainan kulit yang ditemukan:
a. Distribusi : menyeluruh dan simetris
b. Bentuk kelainan yang timbul
Penegakkan diagnosis harus dimulai dari pendeskripsian yang akurat dari jenis lesi dan
distribusinya serta tanda ataupun gejala lain yang menyertainya. Data mengenai semua
jenis obat yang pernah dimakan pasien, dosisnya, data kronologis mengenai cara
pemberian obat serta jangka waktu antara pemakaian obat dengan onset timbulnya
erupsi harus ikut dikumpulkan. Tetapi ada kalanya hal ini sulit untuk dievaluasi,
RM.018.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
terutama pada penderita yang mengkonsumsi obat yang mempunyai waktu paruh yang
lama atau mengalami erupsi reaksi obat yang bersifat persisten.
Tabel 4. Rangkuman penilaian yang harus dilakukan
Karakteristik klinis

1.
2.
3.
4.

Tipe lesi primer


Distribusi dan jumlah lesi
Keterlibatan membran mukosa
Tanda dan gejala yang timbul:
demam,
pruritus, perbesaran
limfonodus

Faktor kronologis

1. Catat semua obat yang dipakai


pasien dan waktu pertama
pemakaiannya
2. Waktu ketika timbulnya erupsi
3. Interval waktu saat pemberian
obat dengan munculnya erupsi
kulit
4. Respon terhadap penghentian
agen yang dicurigai menjadi
penyebab
5. Respon
saat
dilakukan
pemaparan kembali

Literatur

1. Data yang dikumpulkan oleh


perusahaan obat
2. Daftar pemakaian obat dengan
peringatan
3. Bibliografi obat

Sumber: Revus J, Allanore AV. Drugs Reaction. In: Bolognia Dermatology. Volume
One. 2nd edition. Elserve limited, Philadelphia. United States of America. 2003. p: 333352
4. PENATALAKSANAAN
Seperti pada penyakit immunologis lainnya, pengobatan alergi obat adalah dengan
menetralkan atau mengeluarkan obat tersebut dari dalam tubuh., epinephrine adalah drug
of choice pada reaksi anafilaksis. Untuk alergi obat jenis lainnya, dapat digunakan
pengobatan simptomatik dengan antihistamin dan kortikosteroid. Penghentian obat yang
dicurigai menjadi penyebab harus dihentikan secepat mungkin. Tetapi, pada beberapa
kasus adakalanya pemeriksa dihadapkan dua pilihan antara risiko erupsi obat dengan
manfaat dari obat tersebut.
RM.019.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
(1) Penatalaksanaan Umum
(a) Melindungi kulit. Pemberian obat yang diduga menjadi penyebab erupsi kulit
harus dihentikan segera.
(b) Menjaga kondisi pasien dengan selalu melakukan pengawasan untuk mendeteksi
kemungkinan timbulnya erupsi yang lebih parah atau relaps setelah berada pada
fase pemulihan.
(c) Menjaga kondisi fisik pasien termasuk asupan nutrisi dan cairan tubuhnya.
Berikan cairan via infus bila perlu. Pengaturan keseimbangan cairan/elektrolit
dan nutrisi penting karena pasien sukar atau tidak dapat menelan akibat lesi di
mulut dan tenggorok serta kesadaran dapat menurun. Untuk itu dapat diberikan
infus, misalnya berupa glukosa 5% dan larutan Darrow.
(d) Transfusi darah bila terapi tidak memberi perbaikan dalam 2-3 hari; khususnya
pada kasus yang disertai purpura yang luas. Pada kasus dengan purpura yang luas
dapat pula ditambahkan vitamin C 500 mg atau 1000 mg intravena sehari dan
hemostatik.
(2) Penatalaksanaan Khusus
(a) Sistemik
(i) Kortikosteroid. Pemberian kortikosteroid sangat penting pada alergi obat
sistemik. Obat kortikosteroid yang sering digunakan adalah prednison. Pada
kelainan urtikaria, eritema, dermatitis medikamentosa, purpura, eritema
nodosum, eksantema fikstum, dan PEGA karena erupsi obat alergi. Dosis
standar untuk orang dewasa adalah 3 x 10 mg sampai 4 x 10 mg sehari.
Pengobatan eryhema multiforme major, SSJ dan TEN pertama kali adalah
menghentikan obat yang diduga penyebab dan pemberian terapi yang bersifat
suportif seperti perawatan luka dan perawatan gizi penderita. Penggunaan
glukortikoid untuk pengobatan SSJ dan TEN masih kontroversial. Pertama
kali dilakukan pemberian intravenous immunoglobulin (IVIG) terbukti dapat
menurunkan progresifitas penyakit ini dalam jangka waktu 48 jam. Untuk
selanjutnya IVIG diberikan sebanyak 0.2-0.75 g/kg selama 4 hari pertama.
(ii) Antihistamin. Antihistamin yang bersifat sedatif dapat juga diberikan, jika
terdapat rasa gatal. Kecuali pada urtikaria, efeknya kurang jika dibandingkan
dengan kortikosteroid.
(b) Topikal
RM.020.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
(i) Pengobatan topikal tergantung pada keadaan kelainan kulit, apakah kering
atau basah. Jika dalam keadaan kering dapat diberikan bedak salisilat 2%
ditambah dengan obat antipruritus seperti mentol -1% untuk mengurangi
rasa gatal. Jika dalam keadaan basah perlu digunakan kompres, misalnya
larutan asam salisilat 1%.
(ii) Pada bentuk purpura dan eritema nodosum tidak diperlukan pengobatan
topikal. Pada eksantema fikstum, jika kelainan membasah dapat diberikan
krim kortikosteroid, misalnya hidrokortison 1% sampai 2 %.
(iii)Pada eritroderma dengan kelainan berupa eritema yang menyeluruh dan
mengalami skuamasi dapat diberikan salep lanolin 10% yang dioleskan
sebagian-sebagian.
(iv) Terapi topikal untuk lesi di mulut dapat berupa kenalog in orabase. Untuk
lesi di kulit yang erosif dapat diberikan sofratulle atau krim sulfadiazin perak.

5. PROGNOSIS
Pada dasarnya erupsi kulit karena obat akan menyembuh bila obat penyebabnya dapat
diketahui dan segera disingkirkan. Akan tetapi pada beberapa bentuk, misalnya
eritroderma dan kelainan berupa sindrom Lyell dan sindrom Steven Johnson, prognosis
sangat tergantung pada luas kulit yang terkena. Prognosis buruk bila kelainan meliputi
50-70% permukaan kulit.
Tabel 5. Algotritme dalam mendiagnosis dan menatalaksana erupsi alergi obat.

RM.021.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --

Riedl MA, Casillas AM, Adverse Drug Reactions; Types and Treatment Options. In:
American Family Physician. Volume 68, Number 9. 2003. Access on: June 3, 2007.
Available at: www.aafp.org/afp
6. KESIMPULAN
(1) Erupsi obat alergi atau allergic drug eruption ialah reaksi alergi pada kulit atau
daerah mukokutan yang terjadi sebagai akibat pemberian obat dengan cara sistemik.
(2) Belum didapatkan angka kejadian yang tepat dari erupsi alergi obat.
(3) Faktor-faktor yang memperbesar risiko timbulnya erupsi obat adalah jenis kelamin,
orang dengan sistem imunitas, usia, dosis obat, infeksi dan keganasan.
(4) Ada dua macam mekanisme yang dikenal disini. Pertama adalah mekanisme
imunologis dan kedua adalah mekanisme non imunologis.

RM.022.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
(5) Mekanisme imunologis sesuai dengan konsep imunologis yang dikemukakan oleh
Commbs dan Gell yaitu; Tipe I (Reaksi anafilaksis), Tipe II (Reaksi Autotoksis),
Tipe III (Reaksi Kompleks Imun), Tipe IV (Reaksi Alergi Seluler Tipe Lambat).
(6) Mekanisme Non Imunologis dapat disebabkan pelepasan mediator sel mast secara
langsung, aktivasi langsung dari sistem komplemen, atau pengaruh langsung pada
metabolisme enzim asam arachidonat sel. Penggunaan obat-obatan tertentu yang
secara progresif ditimbun di bawah kulit, dalam jangka waktu yang lama akan
mengakibatkan hiperpigmentasi generalisata diffuse.
(7) Morfologi erupsi obat mempunyai kemiripan dengan gangguan kulit lain pada
umumnya, gangguan itu diantaranya; urtikaria, eritema, dermatitis medikamentosa,
purpura, erupsi eksantematosa, eritroderma, erupsi pustuler, dan erupsi bulosa.
(8) Pemeriksaan penunjang erupsi obat ini dapat dilakukan dengan teknik in vivo.
Belum ditemukan uji fisik maupun laboratorium maupun teknik in-vitro yang
cukup reliabel untuk digunakan secara rutin.
(9) Penatalaksanaan

penyakit

ini

terdiri

dari

penatalaksanaan

umum

dan

penatalaksanaan khusus. Penatalaksanaan umum dilakukan pemberian terapi yang


bersifat suportif sedangkan penatalaksanaan khusus diberikan terapi sesuai gejala
yang timbul terutama pemberian obat golongan kortikosteroid dan antihistamin.
(10)

Prognosis erupsi alergi obat sangat tergantung pada luas kulit yang terkena.

7. DAFTAR PUSTAKA
Adithan C. Stevens-Johnson Syndrome. In: Drug Alert. Volume 2. Issue 1. Departement
of Pharmacology. JIPMER. India. 2006. Access on: June 3, 2007. Available at:
www.jipmer.edu
Andrew J.M, Sun. Cutaneous Drugs Eruption.In: Hong Kong Practitioner. Volume 15.
Department of Dermatology University of Wales College of Medicine. Cardiff
CF4 4XN. U.K.. 1993.

Access on: June 3, 2007. Available at:

http://sunzi1.lib.hku.hk/hkjo/view/23/2301319.pdf
Hamzah M. Erupsi Obat Alergik. In: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 3rd edition.
Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
2002. p:139-142
RM.023.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN ANAK


NO.RM : --
Lee A, Thomson J.

Drug-induced skin. In: Adverse Drug Reactions, 2nd ed.

Pharmaceutical Press. 2006. Access on: June 3, 2007. Available at:


http://drugsafety.adisonline.com/pt/re/drs/pdf
Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Erupsi Alergi Obat. In: Kapita
Selekta Kedokteran. Volume 2. 3rd edition. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Media Aesculapius. Jakarta. 2002. p:133-139
Purwanto SL. Alergi Obat. In: Cermin Dunia Kedokteran. Volume 6. 1976. Accessed
on:

June

3,

2007.

Available

from:

www-portalkalbe-files-cdk-files-

07AlergiObat006_pdf-07AlergiObat006.mht
Revus J, Allanore AV. Drugs Reaction. In: Bolognia Dermatology. Volume One. 2nd
edition. Elserve limited, Philadelphia. United States of America. 2003. p: 333352
Riedl MA, Casillas AM, Adverse Drug Reactions; Types and Treatment Options. In:
American Family Physician. Volume 68, Number 9. 2003. Access on: June 3,
2007. Available at: www.aafp.org/afp

RM.024.