Anda di halaman 1dari 21

HUKUM PERDATA

DI INDONESIA

Oleh :
Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H.
fendi_fhunej@yahoo.com

2014

I. Pendahuluan
Hukum Perdata adalah segala aturan hukum yg
mengatur hubungan hukum antara orang yang

satu dengan orang yg lain dalam hidup


bermasyarakat.
Hubungan keperdataan tsb dpt terjadi karena:
Adanya perjanjian antara pihak yg satu dg pihak yg

lain (mis. jual-beli, hutang-piutang, sewa-menyewa,


tukar-menukar, pemberian kuasa, dll)
Ditentukan UU (mis. perwakilan sukarela, pembayaran
tanpa utang, perbuatan menurut hukum, pewarisan,
perbuatan melanggar hukum, dll)

II. Sumber Hukum Perdata


Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(KUHpdt)
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang

(KUHD)
Peraturan perundang-undangan yg mengatur
hubungan hukum antara orang yg satu
dengan orang yg lain (mis. UU Perkawinan,
UU Investasi, UU Pasar Modal, UU
Perbankan, dll).

III. Lingkup Materi Hk Perdata


Hukum Perdata Materiil

adalah Hukum yg mengatur hak dan kewajiban


dalam hubungan hidup bermasyarakat.
Hukum Perdata Formil
adalah Hukum yg mengatur cara
melaksanakan dan mempertahankan hak dan
kewajiban tersebut.
Dalam KUHPdt, Hukum Materiil diatur dalam Buku
I, II dan III, sedangkan Hukum Formilnya diatur
dalam Buku IV.

IV. SISTEMATIKA HUKUM PERDATA

Hukum Perdata menurut ilmu hukum, lazim


dibagi ke dalam 4 bagian :
1. Hukum tentang diri seseorang;
2. Hukum kekeluargaan;
3. Hukum kekayaan; dan
4. Hukum waris.

Hukum tentang diri seseorang


Memuat peraturan-peraturan tentang manusia
sbg subyek dalam hukum, peraturan-peraturan
perihal kecakapan utk memiliki hak-hak dan
kecakapan untuk bertindak sendiri
melaksanakan hak-haknya itu serta hal-hal yang
mempengaruhi kecakapan-kecakapan itu.

Hukum Keluarga
Mengatur perihal hubungan-hubungan hukum
yg timbul dari hubungan kekeluargaan (Mis.
hubungan perkawinan, hubungan antara orang
tua & anak, perwalian, curatele).

Hukum Kekayaan
Mengatur perihal hubungan-hubungan hukum
yg dapat dinilai dengan uang. Jika kita
mengatakan ttg kekayaan seseorang, yg
dimaksud ialah jumlah segala hak dan kewajiban
orang itu, dinilai dengan uang. Hak-hak dan
kewajiban-kewajiban yg demikian itu, biasanya
dapat dipindahkan kepada orang lain.

Hukum Waris
Mengatur hal ikhwal tentang benda atau
kekayaan seseorang jikalau ia meninggal. Atau
dapat dikatakan, hukum waris mengatur akibatakibat hubungan keluarga terhadap harta
peninggalan seseorang.

V. SISTEMATIKA KITAB UNDANG-UNDANG


HUKUM ERDATA
Kitan Undang-Undang Hukum Perdata terdiri
dari 4 buku :
1. Buku I : Perihal Orang;
2. Buku II : Hukum Perihal Benda;
3. Buku III : Hukum Perihal Perikatan; dan
4. Buku IV : Hukum Perihal Pembuktian &
Kedaluwarsa.

1. SUBYEK HUKUM
A. Beberapa Pengertian
Subyek hukum adalah seseorang atau badan hukum sebagai
pendukung hak dan kewajiban.
Ada 2 pengertian orang/person, sebagai subyek hukum :
1.

Naturlijk person;

2.

Rechtsperson berbentuk badan hukum yang dibagi ke dalam :


a. Publiek rechtsperson (badan hukum publik);
b. Privaat rechtsperson (badan hukum privat)

B. Manusia Sebagai Subyek Hukum


1. Dasar Hukum
Adanya larangan mengenai perampasan pendukung hak yang
mengakibatkan burgerlijke dood (kematian perdata)
Pasal 3 KUHPdt menyatakan :
Generlie straft heeft de burgerlijke dood of het verlies van alle
bergerlijke reghten tengevolge
(Tiada suatu hukumanpun mengakibatkan kematian perdata,
atau kehilangan segala hak kewargaan)

2. Pendapat Pakar
Menurut Prof. Ko Tjai Sing :
Bahwa yang dimaksud dengan orang tidak hanya manusia biasa
tetapi juga badan hukum. Manusia dan Badan Hukum dapat
memiliki hak dan kewajiban.

3. Pandangan Hukum Mdrn


Tiap person adalah subyek hukum dengan tidak memandang
agama atau kewarganegaraannya.
Pasal 3 AB menyebutkan:
Zoolang de went niet bepaaldelijk het tegendeel vaststelt, is het
burgelijke en het hendels-recht hetzelfde zoowel voor
vreemdelingen als Netherlansche orderdanen
(sepanjang undang-undang menentukan sebaliknya maka hukum
perdata dan hukum dagang adalah sama bagi orang-orang asing
maupun warga negara Belanda).
4. Pandangan Dunia
Setiap manusi menjadi subyek hukum sejak saat ia lahir dan
berakhir saat kematiannya. (Bagaimana hak-hak si mayat...???)

3. Pandangan Agama
Menurut UU No. 1/1974, hak dan kedudukan istri seimbang
dengan hak dan kedudukan suami di dalam rumah tangga dan
pergaulan hidup bersama di dalam masyarakat, masing-masing
pihak berhak melakukan perbuatan hukum.
4. Pandangan Hukum di Indonesia
Lihat Ketentuan Pasal 27, 28A s/d 28J UUD 1945 (menyangkut
hak-hak warga negara RI)

C. Pengecualian
1. Anak dalam Kandungan
Secara riil, manusia sebagai subyek hukum berlaku sejak lahir
sampai meninggal. Meskipun ia belum lahir dianggap telah lahir
apabila kepentingan si anak menghendaki. Dianggap tidak
pernah ada apabila anak meninggal pada saat dilahirkan atau
sebelumnya.
Pasal 2 KUHPerdata :
Ayat (1) : anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan,
dianggap sebagai telah dilahirkan, bilamana juga kepentingan si
anak menghendakinya.
Ayat (2) : mati sewaktu dilahirkannya, dianggaplah ia tak pernah
telah ada.

2. Cakap Hukum
Dari segi perbuatan hukum (handelingsbekwaam heid) dapat
dibedakan antara :
a. Yang cakap melakukan perbuatan hukum; dan
b. Yang tidak cakap melakukan perbuatan hukum.
Ketidakcakapan menurut hukum ialah orang-orang yang :
a. Belum dewasa;
b. Dibawah pengampuan (curatele);
c. Wanita dalam perkawinan (istri).
3. Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum
Syarat Badan Hukum :
a. Memiliki kekayaan yang terpisahkan dari kekayaan anggotaanggotanya;
b. Hak dan kewajiban Badan Hukum terpisah dari hak dan
kewajiban para anggota-anggotanya.

2. OBYEK HUKUM
A. Pengertian
Obyek Hukum adalah segala sesuatu yg berguna bagi subyek hukum dan yg dpt
menjadi obyek sesuatu perhubungan hukum.
Obyek Hukum biasanya disebut dengan BENDA.
Menurut Hk Perdata, benda adalah segala barang-barang & hak-hak yg dpt
dimiliki orang (lihat Psl 499 KUHPdt).
B. Pembagian Benda
Menurut Ketentuan Psl 503 KUHPdt, benda dpt dibagi dlm :
1. Benda yg berwujud, yaitu segala sesuatu yg dpt diraba oleh pancaindra (mis.
rumah, buku, pensil, dll);
2. Benda yg tdk berwujud (immateriil), yaitu segala macam hak (mis. hak cipta, hak
merek, hak paten, dll).
Menurut Ketentuan Psl 504 KUHPdt, benda juga dpt dibagi atas:
1. Benda tdk bergerak, yaitu benda yg tdk dpt dipindahkan (mis. tanah dan segala
apa yg tertanam dan dibangun di atasnya, hak erfpacht, hipotik, dll)
2. Benda yg bergerak, yaitu benda-benda yg dpt dipindahkan (mis. mobil, sepeda
motor, binatang, pesawat, wesel, dll)

3. PERBUATAN HUKUM
Perbuatan hukum adalah segala perbuatan manusia yg
secara sengaja dilakukan oleh seseorang utk
menimbulkan hak dan kewajiban.
Perbuatan Hukum terdiri dari :
1. Perbuatan hukum sepihak, yaitu perbuatan hk yg
dilakukan ole satu pihak saja dan menimbulkan hak
dan kewajiban satu pihak pula (mis. perbuatan sura
wasiat, pemberian hadiah/hibah, dll).
2. Perbuatan hukum dua pihak, yaitu perbuatan hukum
yg dilakukan oleh dua pihak & menimbulkan hak-hak
& kewajiban-kewajiban bagi kedua pihak (timbal
balik). Mis. perjanjian jual beli, sewa menyewa,
hutang piutang, dll.

4. PENGERTIAN & MACAM-MACAM HAK

A. Pengertian
Dlm hukum seseorang yg mempunyai hak milik atas
sesuatu benda kepadnya diizinkan utk menikmati hasil
dari benda miliknya itu. Benda tsb dpt dijual, digadaikan,
diberikan kpd orang lain, dihibahkan atau diperbuat apa
saja asal tdk bertentanga dg UU. Izin atau kekuasaan yg
diberikan oleh hukum tsb disebut HAK atau
WEWENANG.
Menurut L.J. Van Apeldoorn, hak ialah hukum yg
dihubungkan dg subyek hukum tertentu & dg demikian
menjelma menjadi sesuatu kekuasaan.

B. Hak Mutlak
Hak mutlak ialah hak yg memberikan wewenang kpd
seseorang utk melakukan suatu perbuatan, hak mana dpt
dipertahankan thd siapapun, & sebaliknya setiap orang juga
harus menghormati hak tsb.
Hak mutlak dpt dibagi ke dalam 3 golongan :
a. Hak Asasi Manusia, mis. hak seseorang untuk memperoleh
kehidupan yg layak; hak seseorang untuk tdk diperlakukan
scr diskriminatif; hak seseorang untuk berpendapat; dll.
b. Hak Publik Mutlak, mis. hak negara utk memungut pajak
dari rakyatnya; hak negara utk melarang suatu perbuatan
hukum tertentu; dll.
c. Hak Keperdataan, mis. hak marital; kekuasaan orang tua
(ouderlijke macht); hak perwalian (voogdij); hak
pengampuan (curatele).

C. Hak Nisbi
Hak Nisbi atau Hak Relatif, ialah hak yg memberikan
wewenang kpd seseorang tertentu atau beberapa orang
tertentu utk menuntut agar supaya seseorang atau beberapa
orang lan tertentu memberikan sesuatu, melakukan sesuatu
atau tidak melakukan sesuatu.
Hak relatif sebagian besar terdapat dlm Hukum Perikatan yg
timbul berdasarkan persetujuan-persetujuan dari pihak-pihak
yg bersangkutan.
Contoh :
Dalam perjanjian jual beli terdapat hak relatif :
a. hak penjual utk menerima pembayaran dan kewajibannya
utk menyerahkan barang yg dijualnya kepada si pembeli.
b. Hak pembeli utk menerima barang & kewajibannya utk
membayar senilai harga barang yg dibelinya kpd si penjual.