Anda di halaman 1dari 32

Khutbah Idul Adha Terbaru 2014 Mewujudkan Solidaritas Sosial

Label: Idul Qurban, Info


48

DENGAN IDUL ADHA KITA WUJUDKAN SOLIDARITAS


SOSIAL


9






. .

.
Hadirin, Sidang Jamaaah Idul Adha yang berbahagia!

Setiap orang yang beriman senantiasa mendambakan rahmat, maghfirah, dan ridha
Allah SWT. Seluruh aktivitasnya duniawiyah dan ukhrawiyah ia maksudkan untuk
memperoleh rahmat dan ridha Allah SWT.Bagi orang beriman tidak ada perbedaan
antara aktivitas duniawiyah dan aktivitas ukhrawiyah. Sebab, keduanya dilakukan
dengan niat untuk mencari ridha Allah. Ridha artinya senang. Kedua aktivitas itu
dilakukan sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Allah. Bila kedua aktivitas tersebut

sudah diridhai Allah maka tentu rahmat dan maghfirah-Nya pun akan dicurahkan
Allah kepadanya. Demi memperoleh rahmat, maghfirah, dan ridha Allah, seorang
yang beriman akan melakukan apa saja yang mungkin ia lakukan dan memberikan apa
saja yang mungkin ia berikan; dan mengorbankan apa saja yang mungkin ia
korbankan.
Kesadaran dan keinsyafan untuk berkurban karena Allah inilah yang
merupakan makna hakiki dari Id al-Adha. Makna ini akan dirasakan
kemanfaatannya apabila diwujudkan ke dalam kehidupan realitas
kita melalui makna instrumental-nya.
II. Makna Hakiki Idul Adha
Secara harfiah Id al-Adha artinya adalah Hari Raya Kurban. Dinamai
demikian karena dimaksudkan untuk mengingat pengorbanan yang
dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. dan keluarganya untuk dicontoh,
diteladani, dan diwujudkan nilai-nilainya oleh orang-orang yang
beriman.
Dalam kesederhanaan, nilai (ajaran) kurban ini tergambar di dalam
penyembelihan hewan kurban itu sendiri; (1) niatnya karena Allah ,
(2) yang sampai kepada Allah bukan darah atau daging kurban
tetapi keimanan dan ketakwaan orang berkurban,(3) daging kurban
itu sendiri didistribusikan secara adil dan merata terutama kepada
mereka yang benar-benar membutuhkan sebagai kepedulian kepada
lingkungan dan upaya meningkatkan kebersamaan solidaritas sosial,
(4) pendistribusian secara adil dan merata, dilakukan sebagai
pengamalan perintah syukur atas nikmat dan karunia yang
diberikan oleh Allah.(5) dan pahala pertama, untuk orang yang
berkurban itu sendiri dan kedua, untuk semua pihak yang
mendukung dan menciptakan suasana yang kondusif hingga
terselenggaranya aktivitas pengorbanan karena Allah.Demikian juga
bagi mereka yang sedang melaksanakan haji, jika mereka
diwajibkan menyembelih (unta, kambing, biri-biri, dan sapi),
hendaklah disembelih di tanah haram dan dagingnya di hadiahkan
kepada fakir miskin dalam rangka ibadah haji.
Allahu Akbar 3x Walillah al-Hamd
Hadirin, kaum Muslimin jamaah Id al-Adha yang berbahagia !

Dengan demikian ada lima ciri yang terdapat di dalam aktivitas


pengorbanan karena Allah. Kelima cirri tersebut berkaitan dengan
(1) niatnya, (2) orientasinya, (3) kemanfaatannya, (4) caranya dan
(5) tujuannya.
1. Niat Berqurban untuk Idul Adha
Aktivitas pengorbanan yang disyariatkan oleh Islam adalah aktivitas
pengorbanan yang diniatkan karena Allah. Dalam konteks ini, alGhazali mengemukakan dalam Ihya bahwa seseorang tidak sampai
kepada Allah (tidak akan dapat mencapai posisi kurban atau dekat
dengan Allah; amal ibadahnya tidak akan diterima oleh Allah)
kecuali apabila orang itu :
a. Sanggup membebaskan diri dari pengaruh hawa nafsu.
b. Mampu mengendalikan diri sehingga ia tidak terjerumus ke dalam
dan perilaku hidup hedonistic.
c. Di dalam ia melakukan sesuatu perbuatan, ia hanya melakukan
perbuatan yang benar-benar perlu dan diperlukan; ia bertindak
efisien, disiplin, istiqamah, dan selalu peduli terhadap lingkungan
dalam rangka memupuk kesadaran dan solidaritas.
d. Seluruh aktivitasnya, gerak maupun diamnya , seluruhnya ia
niatkan karena Allah.
Esensi niat karena Allah adalah memurnikan ketaatan dan
kepatuhan hanya kepada Allah sebagai wujud dari keimanan dan
kesadaran selaku makhluk hamba Allah, dan khalifah Allah di muka
bumi. Allah berfirman:
(5: 98\)

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah


dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan
agama dengan lurus .
Niat karena Allah mempunyai fungsi antara lain: (1) menumbuhkan
kesadaran tentang keberadaan (existensi) Allah , (2) menginsyafkan
bahwa ketaatan, kepatuhan, kepasrahan, dan ketundukan hanya

pantas diberikan kepada Allah, (3) menanamkan kesadaran bahwa


Allah tidak membeda-bedakan manusia, tidak ada perbedaan antara
kaya dan miskin, majikan atau buruh, pejabat atau bukan,
semuanya dituntut untuk mentaati hukum; yaitu mengedepankan
supremasi hukum; untuk melaksanakan kewajiban, ketentuan, dan
peraturan, seluruh manusia sama di hadapan Allah; iman dan
takwalah yang membuat seseorang dekat dan mulia di sisi Allah. (4)
menjadikan Allah sebagai motivasi dan tujuan hidup dan (5)
menghilangkan semua penyakit hati, seperti Syirik, kufur, munafik,
takabbur, riya, ujub,, dan lain sebagainya.
Orang yang memiliki niat yang mempunyai keimanan dan
kesadaran seperti ini, akan dapat melakukan apa saja yang
diperintahkan Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim
as, dan keluarganya pada saat Nabi Ibrahim menerima perintah dari
Allah untuk mengorbankan putranya Ismail as.
Padahal Nabi Ibrahim puluhan tahun mendambakan anak, begitu
Allah memberikan anak dan ketika anak telah sampai usia tamyiz,
bisa mambantu dan berusaha bersama ayahnya Ibrahim datanglah
perintah Allah untuk mengorbankannya. Apa yang menyebabkan
Nabi Ibrahim siap untuk mengorbankan anaknya ?
a. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putranya tidak
menghalangi kepatuhan dan ketaatannya kepada Allah.

dapat

b.Ismail sendiri bahkan bersedia mengorbankan jiwa dan raganya


karena patuh dan taat kepada Allah .
(37:102\)

Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu,


insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
sabar.
a. Siti Hajar ra, sekalipun air matanya nampak menitik pertanda
bahwa ia tidak dapat menyembunyikan kesedihannya, tetapi secara
pasti ia berkata: aku rela kalau itu memang perintah Allah.
b. Setelah merasa pasti bahwa itu adalah keputusan dan ketetapan

Allah, dalam kepastiannya sebagai pemimpin, sebagai orang kaya,


bahkan sebagai orang yang bergelar Khalilullah, sebagai orang yang
mempunyai kedekatan dengan Sumber Hukum dan Sumber
Kebijakan. Tidak sedikitpun terbetik di hati Ibrahim dan keluarganya
agar mereka diperlakukan secara berbeda di dalam melaksanakan
peraturan dan ketentuan. Karena Nabi Ibrahim dan keluarganya
sadar bahwa di hadapan Hukum Allah semua manusia sama; harus
taat kepada perintah, taat kepada keputusan hukum, taat kepada
peraturan dan ketentuan.
Kepatuhan dan ketaatan yang dijiwai oleh semangat pengorbanan
karena Allah ini, divisualisasikan (diragakan) secara simbolik dengan
penuh keimanan dan keinsyafan oleh mereka yang melaksanakan
ibadah haji, dan mereka yang melakukan ibadah kurban.
Aktivitas orang yang melakukan ibadah haji seluruhnya
mencerminkan kepatuhan dan ketaatan ini. Bahkan untuk
mencontoh Rasulullah mencium hajar aswad (batu hitam)
sekalipun mereka ikhlas dan rela melakukannya karena patuh dan
taat kepada Allah . Hal ini, sejalan dengan apa yang mereka
nyatakan di dalam talbiyah , Labbaik Allahumma Labbaik (Ya, Allah
ini aku datang memenuhi panggilan-Mu; siap untuk melaksanakan
apapun yang Engkau perintahkan, siap meninggalkan apapun yang
Engkau larang ! Di dalam kehidupan pasca ibadah haji , kesiapan
inilah yang menjadi salah satu indikasi penting bagi seseorang
apakah hajinya mabrur atau tidak !
2. Orientasi Berqurban untuk idul adha
Orientasi pengorbanan karena Allah diwujudkan dalam bentuk
kepedulian sosial dan perhatian terhadap lingkungan :
(28 : 22 \)

Maka makanlah sebagian dari padanya dan sebagian lagi berikanlah


untuk makan orang-orang yang sengsara lagi fakir.
Ayat di atas Allah menyatakan bahwa daging kurban boleh dinikmati
oleh orang yang berkurban yang merupakan nikmat dan anugrah
Allah, tetapi sebagian yang lain; didistribusikan secara adil dan
merata terutama kepada mereka yang benar-benar membutuhkan

sebagai bentuk
lingkungan.

kepedulian

sosial

dan

perhatian

terhadap

3. Kemanfaatan Berqurban untuk Idul Adha


Kemanfaatannya dirasakan oleh semua pihak:
a. Pihak yang berkurban, kualitas keimanan, dan ketakwaannya
bertambah; posisinya semakin dekat kepada Allah.
b. Nikmat dan karunia Allah tidak hanya oleh orang-orang tertentu
saja melainkan juga oleh orang-orang yang berada di
lingkungannya, terutama oleh mereka yang berada pada posisi
mustadafin .
c. Penyakit-penyakit sosial, seperti sikap apatis, individualistik,
egoistic, dan kazaliman-kezaliman lainnya diharapkan dengan
sendirinya akan terkikis melalui proses interaksi dalam kehidupan
sosial yang dijiwai oleh semangat pengorbanan karena Allah,
sehingga apa yang disebut dengan kesenjangan sosial akibat
ketidak adilan yang dapat menimbulkan antara lain sikap dan
perilaku kriminalitas serta anarkis dan kejahatan-kejahatan ekonomi
dan sosial lainnya dapat dihindarkan.
4. Cara Berqurban untuk Idul Adha
Cara berkurban karena Allah, seperti yang ditunjukkan oleh Allah
sendiri, yaitu bukan dengan cara membinasakan manusia, tetapi
justru dengan menyelamatkan manusia dan kemanusiaan; dengan
jalan mensyukuri nikmat dan karunia Allah, dalam rangka
mengoptimalisasikan kemanfaatan nikmat dan karunia Allah yang
telah diberikan oleh Allah dan menebarkannya secara adil dan
merata.
Perintah penyembelihan terhadap Ismail semata-mata dimaksudkan
hanya sebagi ujian, sebagai tuntutan pembuktian atas tekad
kesetiaan yang pernah dinyatakan oleh Ibrahim as sendiri. Di
samping sebagai Nabi, Ibrahim adalah seorang kaya yang sangat
dermawan. Ia banyak mengorbankan harta kekayaannya untuk
kepentingan sosial. Suatu waktu ia diperintahkan oleh Allah untuk
menyembelih sejumlah kambing dan sejumlah unta sebagai kurban
dan santunan bagi masyarakat yang ada disekitarnya. Pujianpun

banyak berdatangan tertuju kepadanya. Waktu itu, ia belum


dikarunia anak. Pada waktu itulah ia berkata; bahwa anak sendiripun
akan dikorbankan apabila hal itu, diperintahkan oleh Allah. Maka
tatkala anak itu benar-benar telah lahir, bahkan telah dapat
membantu pekerjaannya dan tentu merupakan anak yang sangat
didambakan dan dicintai oleh Ibrahim as dan isterinya Siti Hajar.
Dan datanglah tuntutan Allah agar Ibarahim membuktikan tekad
dan kesetiaannya kepada Allah.
Setelah Ibrahim as yakin bahwa mimpi itu, benar-benar perintah
Allah, iapun berbulat hati untuk melaksanakannya. Ayah dan anak
tunduk pada kehendak Allah, tetapi Allah yang kemudian
menghentikannya. Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibarahim
dan Ismail as maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk
meneruskan kurban, Allah menggantikannya dengan seekor
kambing yang besar yang dagingnya diperintahkan untuk
didistribusikan secara adil dan merata terutama kepada mereka
yang membutuhkannya. peristiwa ini menjadi
dasar syariat Kurban yang dilakukan setiap tahun dalam rangkaian
Hari Raya dan Ibadah Haji.
5. Tujuan Berqurban untuk Idul Adha 2014
Tujuan berkurban adalah taqarrub kepada Allah, yaitu mendekatkan
diri sedekat mungkin kepada-Nya untuk memperoleh rahmat,
maghfirah, dan ridha-Nya. Upaya mendekatkan diri kepada Allah
adalah proses yang terus menerus bergerak tanpa henti.
Karena taqarrub merupakan proses terus menerus tanpa henti;
maka di dalamnya pasti terdapat dinamika, terdapat aktivitas,
kreativitas, produktivitas, dan inovasi-inovasi, yang kesemuanya
berjalan sesuai dengan aturan dan ketentuan Allah; berjalan secara
efisien, efektif, disiplin, istiqamah, dan manfaat bagi lingkungannya.
Allahu Akbar 3x Walillahi al- Hamd!
Hadirin, Kaum Muslimin Sidang Id yang berbahagia !
Ada 3 hal yang terus menerus bergerak dalam proses taqarrub
terus menerus bergerak tiada henti berzikir kepada Allah, ia
bahkan melakukan ; proses internalisasi,; melakukan
penyontohan dan peneladanan terhadap sifat dan akhlak Allah,
sehingga akal sebagai top exekutif (presiden) di dalam wilayah

kekuasaan jasmani dan ruhani dapat mengintruksikan kepada


pancaindra dan anggota badan dengan instruksi-instruksi yang telah
terilhami, yaitu akibat hatinya yang terus menerus berzikir dan
takhalluq bi akhlaqillah . Maka yang keluar dari anggota badannya
yaitu sebagai tahaqquq atau realisasi dari zikir dan pikir serta proses
peneladanan terhadap sifat dam akhlak Allah tadi tiada lain adalah
aktivitas-aktivitas, produktivitas, dan inovasi-inovasi yang positif
konstruktif dan berguna yang berwujud kegiatan-kegiatan yang di
dalam bahasa agama disebut amaliyah shalihah yang pada
gilirannya akan membentuk budaya dan kebudayaan yang saleh
pula.
b. Kedudukan dan Martabat orang Berqurban untuk idul
adha 2013
Harkat, martabat, dan kedudukan orang yang takarrub kepada Allah
juga terus menerus bergerak menuju kemuliaan dan kesempurnaan.
Yaitu seiring dengan amaliyah amaliyah salihah yang ia lakukan
dan prestasi-prestasi mubarakah yang ia raih.
d. Keadaan Masyarakat dan Lingkungan
Keadaan masyarakat dan lingkungan orang yang takarrub kepada
Allah juga terus menerus bergerak menuju kebahagiaan dan
kesejahteraan yang diridhai oleh Allah SWT . Sebab dari diri orang
yang takarrub kepada Allah akan memancar cahaya, yaitu cahaya
dalam bentuk amaliyah-amaliyah salihah tadi, yang dapat
menghilangkan kepekatan-kepekatan sosial dan kesemerawutan
tatanan kehidupan dan lingkungan, sehingga apa yang disebut di
dalam Al-Quran dengan baldatun tayyibatun wa rabbun gafur dapat
terwujud menjadi kenyataan.
III. Makna Instrumen tal Idul Adha/ Ibadah Kurban
Allahu Akbar 3x Walillah al-Hamd
Hadirin, Kaum muslimin dan Muslimat yang berbahagia!
Nilai-nilai, semangat, dan sejarah berkurban seperti yang telah kita
sebutkan hanya akan menjadi laksana mutiara dalam lumpur
manakala kita tidak dapat mewujudkannya ke dalam kenyataan
hidup dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, sesuai dengan maksud
dan tujuannya, seyogyanya ibadah kurban yang disyariatkan oleh
Allah ini, kita jadikan sebagai sarana pendidikan; kita jadikan

sebagai instrumen atau alat untuk mewujudkan nilai-nilai


intrinsiknya (harkat yang terkandung di dalamnya ) diaplikasikan
dalam kenyataan kehidupan kita sehari-hari, sehingga sesuai
dengan sifatnya dan kemanfaatannya dapat dirasakan secara
bersama-sama, terutama oleh masyarakat dan lingkungan di mana
kita berada.
IV. Penutup
Hadirin kaum muslimin sidang Idul Adha yang berbahagia!
Demikianlah, Khutbah Tentang Ibadah Kurban / Id al-Adha tidak
boleh berhenti hanya pada makna intrinsiknya, akan tetapi ia harus
berlanjut dengan mengaplikasikan makna-makna tersebut melalui
makna instrumentalnya: dan inilah yang dikehendaki oleh setiap
peribadatan atau ritual dalam Islam.
Hadirin yang berbahagia !
Di dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini, di mana bangsa
Indonesia mendapat cobaan yang beruntun, tidak putus-putusnya;
mulai dari musibah Tsunami di Aceh dan Nias, Tsunami di Sukabumi,
Cirebon, dan lain-lain tempat. Gempa bumi di Yogyakarta dan
terakhir ini, musibah Semburan Lumpur Panas di Sidoarjo yang
masih berlangsung sampai hari ini dan juga bermunculan semburan
Lumpur di beberapa tempat di Jawa dan Kalimatan.
Di samping itu bangsa Indonesia belum sepenuhnya terbebas dari
krisis-krisis yang melanda bangsa ini, seperti krisis sosial, krisis
kepemimpinan, politik, krisis ekonomi, bahkan krisis moral, krisis
nilai, ajaran, solidaritas sebagai bangsa, krisis kepercayaan, krisis
kejujuran, dan semangat pengorbanan. Nampaknya, kita sangat
membutuhkan semangat pengorbanan dan solidaritas, agar kita
dapat keluar dan terbebas dari segala bentuk krisis yang kita
sedang alami. Oleh karena itu, dalam kesempatan yang berbahagia
ini, saya selaku khatib mengajak; marilah Hari Raya Idul Adha dan
penyelenggaraan ibadah kurban kali ini, kita jadikan sebagai
momentum untuk mewujudkan nilai, ajaran, semangat nilai jiwa
pengorbanan karena Allah, dan solidaritas, baik sebagai bangsa
Indonesia, maupun sebagai umat Islam sebagaimana yang telah
ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as dan keluarganya.
Dengat semangat taqarrub kepada Allah kita tingkatkan zikir dan
pikir kita, kita tingkatkan semangat pengorbanan dan solidaritas,

kita tingkatkan proses penyontohan serta peneladanan terhadap


sifat dan akhlak Allah tertutama terhadap sifat-sifat-Nya Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Pengatur dan Maha
Pemelihara, Maha Pemberi Pertolongan dan Maha Penyantun, Maha
Pemaaf dan Maha Pemberi Nikmat, Maha Pelimpahan Kebaikan dan
Maha Pemberi Karunia, Maha Pemberi tobat dan Maha Pembebas
dari segala penderitaan dunia maupun penderitaan akhirat. Dengan
cara seperti itulah kita akan mampu menghadapi krisis-krisis
yang kini sedang melanda kita bangsa Indonesia; Hanya dengan
cara meningkatkan zikir dan pikir dengan meningkatkan taqarrub
kita kepada Allah dan berakhlak dengan sifat dan akhlak Allah,
dengan memohon taufiq, hidayah, dan inayah Allah, kita akan
dapat melewati segala bentuk krisis tersebut karena kita senantiasa
bersama Allah. Kita dapat menjalani hidup dan kehidupan ini dengan
sukses , penuh dengan rahmat, maghfirah, keberkahan, dan
keridhaan-Nya apapun tantangan dan ujiannya! Kita memohon
kiranya Allah SWT berkenan memberi kekuatan dan kemampuan
kepada kita, memberikan taufiq, hidayah, dan inayah-Nya kepada
kita semua, terutama kepada mereka yang berada pada posisi bisa
membantu mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan
sejahtera.
Kita ucapkan selamat kepada mereka semua yang berkurban;
karena niatnya yang tulus ikhlas, amal ibadahnya diterima oleh
Allah; dosa dan kesalahan mereka diampuni; segala usaha dan
aktivitasnya diberkati, sedang perniagaannya dengan Allah, yaitu
pengorbanannya di jalan Allah yang berdimensi vertikal dan
horizontal, yang berdampak kepada harmonisnya kehidupan sosial,
mendapatkan anugerah dan ridha Allah. Di dunia mereka
mendapatkan bimbingan dan tuntunan Allah. Sedang di akhiratnya
nanti mereka dimasukkan ke dalam syurga dengan limpahan
rahmat, maghfirah, dan ridha Allah SWT.
Kepada mereka yang menunaikan ibadah haji, semoga hajinya
diterima oleh Allah sebagi haji yang mabrur. Kepada mereka yang
kini dilanda berbagai musibah dan kesulitan, terutama kesulitan
yang diakibatkan oleh berbagai krisis seperti yang disebutkan
sebelumnya, semoga Allah memberikan kesabaran dan segera
menghindarkan mereka dari kesulitan-kesulitan yang mereka alami.

( 10 : 39 \ ).
Sesungguhnya hanya orang-orang yang
dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

bersabarlah

yang

Orang-orang yang sabar mereka dimasukkan dalam syurga tanpa


melalui timbangan amal baik atau buruk di hari kiamat.
Kepada kita semua, kepada bangsa Indonesia, kepada kaum
mukminin dan mukminat di manapun mereka berada, kepada ibu
dan bapak kita, kepada para pemimpin kita, kepada anak, cucu dan
keluarga kita, kepada generasi kita yang akan melanjutkan hidup
kita, kiranya Allah berkenan memberikan ketetapan iman dan Islam,
memberikan taufiq, hidayah dan inayah-Nya, memberikan
kemudahan dan keberkahan-Nya, sehingga kita dapat memperoleh
kebahagian dan kesejahteraan di dunia dan akhirat kelak.
Amin ya rabbal alamin.



. .
.
[1] (207 : 2: ).
Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena
mencari keridhaan Allah ; dan Allah Maha Penyantun kepada hambahambanya.
[2] (37 : 22: )
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat
mencapai (keridhaan) Allah , tetapi ketaqwaan dari kamu yang
dapat mencapainya.
[3]
(36 : 22 \ ).
Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari
syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya,
maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamuj meyembelinya

dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Dan kemudian telah roboh
(mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang
rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak minta-minta) dan
orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untaunta itu kepadamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.
[4] (33 : 22 \ ).
Bagi kamu pada binatang-binatang (hadyu), itu ada beberapa
manfaat sampai kepada waktu yang telah ditentukan, kemudian
tempat wajib (serta akhir masa), menyembelihnya ialah setelah
sampai ke Baitul Atiq (Baitullah).
[5] Pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan
kenikmatan adalah tujuan utama dalam hidup. (Kamus Besar
Bahasa Indonesia: 1989: 302
[6]
(102 :37\ ).
(103).
(104).
(105) .
(106) .
(107).
Maka tatkala anak itu sampai pada usia dapat berusaha bersamasama Ibrahi, Ibrahim berkata; Hai anakku sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu . Maka fikirkanlah
apa pendapatmu! Ia menjawab : Wahai ayahku , kerjakanlah apa
yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar. (102)
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan
anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya .(103)
Dan Kami panggil dia: Hai Ibrahim. (104)
Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya
demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik.(105)
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.(106)
Dan Kami tebus anak itu dengan seokor sembelihan yang besar.
(107)

Khutbah Shalat Idul Adha 1434 H: Dua Ibadah Besar di Idul


Adha
Okt 14, 2013Muhammad Abduh Tuasikal, MScUmum0

Berikut adalah naskah khutbah Idul Adha 1434 H yang berisi penjelasan ringkas mengenai dua
ibadah besar di Idul Adha yaitu qurban dan haji.
Alhamdulillah wa sholaatu wa salaamu ala rosulillah wa ala aalihi wa shohbihi wa man
tabiahum bi ihsaanin ilaa yaumiddiin.
Allahu akbar Allahu akbar Walillahilhamd.
Kumandang takbir kembali lagi bergema di awal-awal Dzulhijjah hingga pagi ini. Disunnahkan
bagi kaum muslimin untuk bertakbir mutlak di tempat-tempat umum sejak 1 Dzulhijjah. Lalu
sejak Shubuh hari 9 Dzulhijjah disunnahkan bertakbir muqoyyad selesai shalat. Itu semua
menunjukkan kita mengagungkan Allah di awal-awal Dzulhijjah ini dan semakin dekat padaNya.
Allahu akbar Allahu akbar Walillahilhamd.
Ada dua ibadah besar dilakukan oleh kaum muslimin di awal Dzulhijjah, yaitu ibadah haji dan
ibadah qurban.
Sejak 8 Dzulhijjah, jamaah haji sudah bersiap-siap mengenakan pakaian ihram, lalu mereka
melakukan mabit di Mina (yang hukumnya sunnah). Pada tanggal 9 Dzulhijjah datanglah hari
Arafah, mereka lantas menuju padang Arafah untuk melakukan wukuf mulai dari waktu Zhuhur
hingga Maghrib. Lantas mereka beranjak menuju Muzdalifah untuk mabit di sana hingga waktu
Shubuh. Setelah shalat Shubuh di Muzdalifah, di tanggal 10 tersebut, para jamaah haji
berangkat menuju pelemparan jumrah untuk melempar jumrah aqobah dengan tujuh batu sambil
mengucapkan Allahu Akbar saat melempar. Takbir tersebut dilakukan karena mengagungkan
Allah saat itu. Setelah itu ucapan talbiyah yang diucapkan diganti dengan gema takbir di sekitar
Mina.
Allahu akbar Allahu akbar Walillahilhamd.
Bagi yang punya kewajiban menyembelih qurban hadyu, maka mereka menyembelih juga saat
itu. Rambut kepala setelah itu dicukur. Lalu jamaah haji pergi menuju Masjidil Haram untuk
melaksanakan thawaf rukun yaitu thawaf ifadhah sebagaimana yang Allah firmankan,

Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan
hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan
melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (QS. Al Hajj: 29)
Setelah itu pada hari-hari tasyriq dilaksanakan lempar jumrah yang tiga yaitu jumrah al ula,
jumrah wustho dan jumrah aqobah.
Dan moga saja saudara-saudara kita yang menjalani haji saat ini mendapatkan haji mabrur.



Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga. (HR. Bukhari no. 1773
dan Muslim no. 1349).
Allahu akbar Allahu akbar Walillahilhamd.
Ibadah besar yang kedua adalah ibadah qurban di mana Allah perintahkan,



Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr). (QS. Al Kautsar: 2). Di antara tafsiran ayat ini
adalah berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr).
Allahu akbar Allahu akbar Walillahilhamd.
Ibadah qurban ini adalah ibadah yang dihukumi sunnah berdasarkan hadits,




Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian
berkeinginan untuk berqurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan
rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama: kuku) sedikit pun juga. (HR. Muslim)
Hewan yang dipilih ketika kurban adalah hewan yang sempurna. Ini menunjukkan bahwa yang
diinginkan adalah ketakwaan. Allah Taala berfirman,


Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah,
tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (QS. Al Hajj: 37). Ibadah qurban ini
ada saat haji dan juga dilaksanakan bagi orang yang tidak melakukan ibadah haji.
Ketika pemilihan hewan qurban dihindari hewan yang cacat yang membuat qurban tidak sah
yaitu buta sebelah, pincang yang jelas pincangnya, sakit yang jelas sakitnya, dan hewan yang
tidak memiliki sumsum tulang (karena terlalu tua atau sangat kurus). Begitu pula dihindari
hewan yang makruh dijadikan kurban seperti hewan yang telinganya sobek, berlubang atau

terpotong, hewan yang ekornya terputus sebagian atau seluruhnya, hewan yang tanduknya patah
atau retak.
Ibadah qurban ini dilakukan setelah shalat Idul Adha hingga hari tasyriq kedua (12 Dzulhijjah)
sebagaimana pendapat jumhur (mayoritas) ulama.
Cara penyembelihan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam disebutkan dalam
hadits-hadits berikut,

, ,

: . : .

, ,


. :
- .
: ,
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa berkurban
dengan dua gibas (domba jantan) putih yang bertanduk, lalu beliau mengucapkan nama Allah
dan bertakbir, dan beliau meletakkan kedua kakinya di pipi kedua gibas tersebut (saat
menyembelih). Dalam lafazh lain disebutkan bahwa beliau menyembelihnya dengan tangannya
(Muttafaqun alaih) . Dalam lafazh lain disebutkan, Saminain, artinya dua gibas gemuk.
Dalam lafazh Abu Awanah dalam kitab Shahihnya dengan lafazh, Tsaminain, artinya gibas
yang istimewa (berharga). Dalam lafazh Muslim disebutkan, saat menyembelih, beliau
mengucapkan, Bismillah wallahu akbar (artinya: dengan menyebut nama Allah dan Allah Maha
Besar). (HR. Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966)
Dari Aisyah,

, : ,
; , , ,
,
- , ,
: , ,
Nabi pernah memerintahkan agar diambilkan gibas (domba jantan) bertanduk, kuku dan perutnya
hitam dan sekeliling matanya hitam. Lalu gibas tersebut dibawa ke hadapan beliau shallallahu
alaihi wa sallam untuk dijadikan kurban. Beliau pun bersabda, Asahlah dengan batu
pengasah. Kemudian Aisyah mengasahnya dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam
membaringkan hewan tersebut lalu menyembelihnya. Saat menyembelih, beliau mengucapkan,
Bismillah, Allahumma taqobbal min Muhammad wa aali Muhammad, wa min ummati
Muhammad (Artinya: dengan menyebut nama Allah, Ya Allah terimalah kurban ini dari
Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad). (HR. Muslim no. 1967).
Hewan qurban pun boleh diwakilkan penyembelihan dan pengurusannya pada orang lain,

, :
,

Dari Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu, ia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam
memerintahkan padaku untuk mengurus unta (unta hadyu yang berjumlah 100 ekor, -pen) milik
beliau, lalu beliau memerintahkan untuk membagi semua daging kurban, kulit dan jilalnya (kulit
yang ditaruh di punggung unta untuk melindungi diri dari dingin) untuk orang-orang miskin. Dan
aku tidak boleh memberikan bagian apa pun dari hasil kurban kepada tukang jagal (sebagai
upah). Muttafaqun alaih. (HR. Bukhari no. 1707 dan Muslim no. 1317).
Di antara hikmah ibadah qurban yang disebutkan oleh para ulama:
1- Bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.
2- Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim kholilullah (kekasih Allah)- alaihis salaam yang ketika
itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu
Ismail alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).
3- Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Ismail alaihimas salaam, yang
ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak.
Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Ismail pun berubah
menjadi seekor domba. Jika setiap mukmin mengingat kisah ini, seharusnya mereka mencontoh
dalam bersabar ketika melakukan ketaatan pada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan
kecintaan Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya.[1]
4- Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang senilai dengan hewan
qurban.
Ibnul Qayyim berkata, Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada
sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk
menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu dan qiron meskipun dengan
sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.
Allahu akbar Allahu akbar Walillahilhamd.
Ibadah haji dan ibadah qurban menandakan kita seharusnya semakin dekat dengan Allah. Karena
dua ibadah itu menunjukkan adanya pengorbanan dan perjuangan dalam ibadah. Juga
menunjukkan bagaimana sikap pasrah dan tawakkal kita dalam melakukan ibadah tersebut. Dua
ibadah besar itu menujukkan bahwa ibadah pun dilakukan dengan mengeluarkan harta untuk
berhaji dan membeli hewan qurban. Semuanya ini ingin mencapai maksud akhir yaitu takwa.
Taqobbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amalan kami dan kalian di hari
penuh berkah, hari perayaan kaum muslimin, hari qurban.

Khutbah Idul Adha 1434 H: Pelajaran dari


Kisah Nabi Ibrahim AS dan Keluarganya
Dalam Meraih Keberkahan Hidup
Rubrik: Khutbah Idul Adha | Oleh: Iman Santoso, Lc - 14/10/13 | 08:50 | 09 Dhul-Hijjah 1434 H
Belum ada komentar
15.305 Hits
7 email








)(




) (2
)(3
: ) (1
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-hamd
Hadirin, jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah,

)Ilustrasi (inet

dakwatuna. com - Dalam kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita bersyukur atas nikmat
Allah Rabbul alamin kepada kita, nikmat-Nya yang tidak terhitung. Allah telah menciptakan,
memberi rizki dan hidayah Islam pada kita. Kita bersyukur kepada Allah yang masih memberi
kesempatan hidup, sehingga pada hari ini kita dapat sama-sama merayakan Hari Raya Idul Adha
1434 H bersama 1 milyar lebih umat Islam di dunia. Mengumandangkan kata-kata yang sama;
takbir, tahmid dan tahlil. Sementara 3 juta lebih umat Islam di Tanah Suci sekarang sedang
melaksanakan puncak ibadah haji. Semoga mereka semua meraih haji mabrur dan pulang ke
tanah air masing-masing dalam keadaan sehat wal afiat. Dan semoga kita semua dapat
berkunjung ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan umrah bersama keluarga. Aamiin ya
Rabbalalamiin.
Marilah kita merealisasikan syukur dengan terus-menerus beribadah kepada Allah dan beramal
shalih, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Kita pasrahkan segala penghambaan hanya
untuk Allah SWT.
)(



Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada pemimpin dan teladan kita Nabi Muhammad
Saw, keluarga sahabat dan para penerusnya hingga hari akhir zaman.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-hamd
Dalam memperingati hari raya Idul Adha, selalu mengingatkan kita tentang kisah perjalanan
hidup nabi Ibrahim AS Nabi Ismail AS dan keluarganya. Kisah yang sangat heroik tentang
keimanan, ketaatan, dakwah, perjuangan dan pengorbanan. Kisah yang diabadikan Al-Quran
untuk menjadi pelajaran umat manusia sepanjang zaman. Marilah kita sekarang mengambil
pelajaran dari kisah Ibrahim AS dan keluarganya. Pelajaran yang mengantarkan pada keberkahan
hidup dan kesuksesan dunia akhirat.
1. Pelajaran dan Pendidikan tentang Keimanan (Darsun wa talim fil Iman wa At-Tauhid)

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada
Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan
(Tuhan) (QS An-Nahl 120)
Ibrahim as adalah pemimpin keimanan dan tauhid. Dalam setiap kisah tentang Ibrahim
menyatakan bahwa Ibrahim adalah hanif (bersih dan lurus), bebas dari kemusyrikan. Dan selalu
memperjuangkan keimanan dan tauhid. Beliau begitu juga serius mengajarkan keimanan dan
tauhid pada keluarga, kaum dan rajanya. Lihatlah kisah-kisah di bawah ini:
a. Ibrahim dengan bapaknya
*
*

*
*

*
*
Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya
ia adalah seorang yang sangat membenarkan [905] lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia
berkata kepada bapaknya; Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak
mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai bapakku,
Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang
kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.
Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada
Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan
ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.
Berkata bapaknya: Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? Jika kamu tidak
berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.
Berkata Ibrahim: Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun
bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku (QS Maryam 41-47).
b. Ibrahim dengan kaumnya dan raja Namrud


Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah)
karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim
mengatakan: Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan, orang itu berkata: Saya
dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata: Sesungguhnya Allah menerbitkan
matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat, lalu terdiamlah orang kafir itu; dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim (QS Al-Baqarah 258).
( 52) ( 51)
( 55) ( 54)
( 53)
) 56)
)

( 59) ( 58) ( 57
(62) ( 61) ( 60)
( 64) ) 63(
( 65)
( 66)

( ( 68)
) 67(
69 (
Dan Sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa
dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata
kepada bapaknya dan kaumnya: Patung-patung Apakah ini yang kamu tekun beribadat
kepadanya? mereka menjawab: Kami mendapati bapak-bapak Kami menyembahnya.
Ibrahim berkata: Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang
nyata. Mereka menjawab: Apakah kamu datang kepada Kami dengan sungguh-sungguh
ataukah kamu Termasuk orang-orang yang bermain-main?Ibrahim berkata: Sebenarnya

Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku Termasuk orangorang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, Sesungguhnya aku
akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.
Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar
(induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.
Mereka berkata: Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan Kami,
Sesungguhnya Dia Termasuk orang-orang yang zhalim. Mereka berkata: Kami dengar ada
seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim . Mereka berkata:
(Kalau demikian) bawalah Dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka
menyaksikan. Mereka bertanya: Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap
tuhan-tuhan Kami, Hai Ibrahim? Ibrahim menjawab: Sebenarnya patung yang besar Itulah
yang melakukannya, Maka Tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.
Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: Sesungguhnya kamu sekalian
adalah orang-orang yang Menganiaya (diri sendiri), kemudian kepala mereka Jadi tertunduk
[963] (lalu berkata): Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhalaberhala itu tidak dapat berbicara. Ibrahim berkata: Maka Mengapakah kamu menyembah
selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi
mudharat kepada kamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka
Apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata: Bakarlah Dia dan bantulah tuhan-tuhan
kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman: Hai api menjadi dinginlah,
dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim (QS Al-Anbiyah 51-69)
Dalam dialog Ibrahim as dengan bapak, kaum bahkan rajanya, beliau meminta kepada mereka
agar tidak menyembah patung sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak
bermanfaat. Tidak menyembah benda alam semesta, seperti bintang, bulan dan matahari, serta
tidak menyembah syetan. Pendidikan yang sangat jelas tentang keimanan dan tauhid serta
membebaskan dari segala bentuk kemusyrikan.
Oleh karena itu marilah kita mendidik keluarga dan masyarakat tentang nilai-nilai keimanan dan
menjauhkan mereka dari segala bentuk kemusyrikan. Hari ini di zaman yang sangat menjunjung
tinggi logika dan ilmu pengetahuan, masih banyak umat manusia yang masih memuja patung,
alam semesta dan menyembah syetan. Mendatangi para normal dan dukun yang tunduk pada
syetan. Oleh karena itu pelajaran dan pendidikan tentang keimanan dan tauhid yang dilakukan
oleh Ibrahim masih sangat relevan sampai sekarang.
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil-hamd
2. Pelajaran tentang kesempurnaan ketaatan (Darsun Fi Kamali At-Tha-ah)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan
larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, Sesungguhnya Aku akan
menjadikanmu imam bagi seluruh manusia, Ibrahim berkata, (Dan saya mohon juga) dari
keturunanku. Allah berfirman, Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim (QS
Al-Baqarah 124).

Berkata Ibnu Abbas RA, Belum ada para nabi yang mendapatkan ujian dalam agama kemudian
menegakkannya dengan sempurna melebihi Ibrahim AS
Firman Allah yang berbunyi faatammahunna mengandung makna bahwa tugas yang
diperintahkan kepada Ibrahim dilaksanakan dengan segera, sempurna dan dilakukan semuanya.
Berkata Abu Jafar Ibnu Jarir, Yang di maksud kalimat boleh jadi mengandung semua tugas,
atau sebagiannya. Tetapi tidak boleh menetapkan sebagian (tugas) tertentu kecuali ada dalil nash
atau ijma yang membolehkannya.
Ibnu Abbas RA banyak menyebutkan riwayat tentang ujian yang dilaksanakan Ibrahim as, di
antaranya, manasik atau ibadah haji; kebersihan, lima pada bagian kepala dan lima pada tubuh.
Lima di bagian kepala yaitu mencukur rambut, berkumur, membersihkan hidung, siwak dan
membersihkan rambut. Pada bagian tubuh yaitu, menggunting kuku, mencukur rambut bagian
kemaluan, khitan, mencabut rambut ketiak dan istinja. Dalam riwayat lain Ibnu Abbas RA
mengatakan, Kalimat atau tugas yang dilaksanakan dengan sempurna yaitu, meninggalkan
kaumnya ketika mereka menyembah berhala, membantah keyakinan raja Namrud, bersabar
ketika dilemparkan ke dalam api yang sangat panas, hijrah meninggalkan tanah airnya, menjamu
tamunya dengan baik dan bersabar ketika diperintah menyembelih putranya.
Ketaatan yang paling pertama dilakukan dan sangat utama yang dicontohkan Ibrahim AS adalah
dalam menegakkan shalat. Beliau menempatkan keluarganya di tanah suci, tempat yang tiada
kehidupan agar mereka menegakkan shalat.



Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah
yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya
Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati
sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan,
Mudah-mudahan mereka bersyukur (QS Ibrahiim 37).
Bahkan doa beliau dalam ayat selanjutnya:


Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya
Tuhan Kami, perkenankanlah doaku (QS Ibrahiim 40).
Shalat adalah urusan dan sesuatu yang paling besar setelah keimanan dalam kehidupan manusia.
Shalat lebih besar dari seluruh harta dunia, lebih besar dari seluruh jabatan di dunia dan lebih
besar dari apa yang kita miliki. Orang yang menyia-nyiakan shalat maka mereka adalah orang
kecil, walaupun memiliki kekayaan yang melimpah dan jabatan yang tinggi dan mereka akan
sengsara di akhirat. Orang-orang yang menyia-nyiakan shalat dan meremehkannya, maka pada
kewajiban lain akan lebih menyia-nyiakan dan lebih langgar lagi.

Maka ketaatan yang sempurna dalam shalat adalah dilakukan sesegera mungkin, dilakukan di
awal waktu, secara berjamaah dan dilaksanakan di masjid atau mushalla. Demikianlah yang juga
dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan Aisyah RA:




Rasulullah (ketika di rumah) membantu kerjaan keluarganya dan jika datang waktu shalat,
beliau bangkit untuk shalat (HR Bukhari)
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil-hamd
3. Pelajaran tentang Dakwahnya (Darsun Fi Dawatihi)
Ibrahim as lahir di kota Babil (Babilonia) Irak. Penduduk kota Babil menyembah berhala. Dan
bapaknya termasuk orang yang ahli dalam membuat berhala dan dia juga menyembah berhala.
Demikian juga raja Namrud seorang penyembah berhala. Ibrahim AS mendakwahi keluarganya,
kaumnya dan rajanya. Tetapi sedikit di antara mereka yang beriman. Dan begitu besar ujian dari
dakwah yang dilakukan Ibrahim beliau mendapat ancaman di bakar dan benar-benar dibakar.
Tetapi Allah menyelamatkannya.
Setelah Ibrahim AS selamat dari upaya pembunuhan kaumnya dan setelah terbebas dari
kezhaliman raja Namrud. Ibrahim as bersama istrinya Sarah, bapak dan saudara sepupunya Luth
as hijrah menuju Syam tepatnya di Baitul Maqdis Palestina. Dan Ibrahim
berkata:Sesungguhnya Aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan dia akan memberi petunjuk
kepadaku (QS As-Shaafaat 99)
Di tengah jalan di daerah Haran Damasqus, bapaknya meninggal. Ibrahim bersama keluarganya
menetap sementara di Haran. Penduduk kota ini menyembah bintang dan berhala. Di kota ini
Ibrahim as menyinggung dan menentang penyembahan mereka yang menyembah bintang, bulan
dan benda langit lainnya. Kisah ini diabadikan dalam Al-Quran surat Al-Anaam 75-83.
Ibrahim as dan keluarganya melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis. Setelah sebelumnya juga
mampir dan berdakwah di Mesir. Dari Mesir Ibrahim as mendapat banyak hadiah binatang
ternak, budak, harta yang banyak dan pembantu yaitu Hajar yang berasal dari Qibti Mesir. Di
Baitul Maqdis Ibrahim AS mendapat penerimaan yang baik. Dan selama dua puluh tahun tinggal
dan berdakwah di Baitul Maqdis, Palestina dan sekitarnya.
Setelah itu lahirlah Ismail AS dan Ibrahim as membawa istri dan putranya ke tanah suci Mekah.
Suatu tempat yang sangat tandus, padang pasir yang tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Dan tidak lama setelah kelahiran Ismail AS Allah juga memberi kabar gembira bahwa dari perut
Sarah akan lahir pula seorang anak. Lahirlah Ishak AS Ibrahim AS sujud, bersyukur atas karunia
yang sangat besar ini. Puncak kenikmatan Allah yang diberikan Ibrahim AS karena kedua putra
itu kelak menjadi nabi dan turun temurun melahirkan nabi. Dari Ishak as, lahir Yakub dan Yusuf
AS Serta keluarga nabi dari Bani Israil. Sedangkan dari keturunan Ismail AS lahirlah nabi
Muhammad saw.

Demikianlah hidup Ibrahim dihabiskan untuk dakwah dan perjuangan sehingga beliau diberi
keberkahan oleh Allah yang sangat besar. Anak dan cucunya menjadi nabi dan wilayah dakwah
Ibrahim as (Tanah Suci Mekkah, Palestina, Irak dan Mesir), menjadi tempat yang paling berkah
Dan kita dianjurkan untuk senantiasa mengucapkan shalawat kepada nabi Ibrahim AS dan nabi
Muhammad SAW.
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil-hamd
4. Pelajaran dari Pengorbanan Ibrahim as dan keluarganya (Darsun fi Tadhiyati Ibrahim
wa ahlihi)
Episode berikutnya dilalui Ibrahim as dan keluarganya dengan pengorbanan demi pengorbanan.
Tidak ada pengorbanan yang lebih besar dari seorang ayah melebihi pengorbanan agar
meninggalkan putra dan istri yang paling dicintainya. Tetapi itu semua dilakukan oleh Ibrahim as
dengan penuh ikhlas menyambut seruan Allah yaitu seruan dakwah. Peristiwa ini diabadikan
Allah dalam Al-Quran dalam surat Ibrahim 37



Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah
yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya
Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian
manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudahmudahan mereka bersyukur
Disebutkan dalam riwayat, ketika Ibrahim AS akan meninggalkan putranya Ismail as dan istrinya
Hajar, saat itu dalam kondisi menyusui. Dan ketika Ibrahim as meninggalkan keduanya dan
memalingkan wajah dari keduanya, Hajar bangkit dan memegang baju Ibrahim AS dan berkata,
Wahai Ibrahim mau pergi ke mana, engkau meninggalkan kami di sini dan tidak ada yang
mencukupi kebutuhan kami?. Ibrahim tidak menjawab, dan ketika Hajar terus-menerus
memanggil sedang Ibrahim tidak menjawab, Hajar berkata, Apakah Allah yang menyuruhmu
seperti ini? Ibrahim as menjawab, Ya. Hajar berkata, Kalau begitu pasti Allah tidak akan
menyia-nyiakan kita.
Dan puncak dari pengorbanan itu, manakala datang perintah yang lebih tidak masuk akal lagi
dari sebelumnya, yaitu perintah untuk menyembelih Ismail AS.

)

( 104) ( 103) ( 102)

109) ( 108) ( 107) ( 106) ( 105(


Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu.
Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang

sabar. Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas
pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan kami panggillah dia: Hai Ibrahim,
Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya Demikianlah kami memberi
balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian
yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan
untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian,
(yaitu)Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim(QS As-Shaafaat 102-109).
Berkahnya Pengorbanan
Kisah dan keteladanan Ibrahim as memberikan pelajaran yang sangat mendalam kepada kita,
yaitu bahwa pengorbanan akan melahirkan keberkahan. Ibrahim AS menjadi orang yang paling
dicintai Allah SWT, (khalilullah), imam, Abul Anbiya, hanif, sebutan yang baik, kekayaan harta
yang melimpah ruah dan banyak lagi. Bahwa hanya dengan pengorbananlah kita meraih
keberkahan.
Dari pengorbanan Ibrahim AS dan keluarganya, jadilah Mekah dan sekitarnya menjadi pusat
ibadah umat manusia se dunia, sumur Zamzam yang penuh berkah mengalir di tengah padang
pasir dan tidak pernah kering. Dan puncak keberkahan dari itu semua adalah dari keturunannya
lahir seorang manusia pilihan Muhammad SAW, yang menjadi nabi rahmatan lilalamiin.
Pengorbanan akan memberikan keberkahan bagi hidup kita, keluarga dan keturunannya dan
pengorbanan akan melahirkan peradaban besar. Dan kisah para pahlawan yang berkorban telah
membuktikan itu. Ibrahim AS dan keluarganya Ismail as, Ishak as, Siti Sarah dan Hajar.
Muhammad SAW dan keluarganya, Siti Khadijah RA, Aisyah RA Fatimah RA dll, para sahabat
yang mulia, Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA, Ali RA, dll. Para pemimpin setelah sahabat,
Tabiin dan Tabiit Tabiin, Umar bin Abdul Aziz RA, Hasan Al-Bashri RA, Muhammad bin
Mubarok, imam Abu Hanifah, imam Malik, imam As-Syafii dan imam Ahmad. Para pahlawan
dari generasi modern, Ibnu Taimiyah, Hasan Al-Banna, KH. Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan
dll.
Selanjutnya akan muncul pada setiap zaman para pahlawan yang siap berkorban demi kemuliaan
Islam dan umatnya. Sesungguhnya, bumi yang disirami oleh pengorbanan para anbiya, darah
syuhada dan tinta ulama adalah bumi yang berkah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil-hamd
Islam tidak mungkin sampai kepada kita tanpa pengorbanan para pengikut Nabi, para dai dan
ulama Islam. Kita mengenal pengorbanan dan kerja keras Wali Songo dan murid-muridnya yang
mengislamkan tanah Jawa kemudian menyebarkan Islam di seluruh Nusantara. Mereka adalah
pekerja keras, pejuang-pejuang yang bersedia menghadapi resiko, meskipun harus kehilangan
nyawa. Mereka berhadapan dengan kerajaan Majapahit dan Pajajaran yang saat itu merupakan
dua kekuatan besar berlatar belakang kemusyrikan. Para wali mengorbankan apa saja untuk
tegaknya agama Allah di Nusantara ini Karena itu, dengan pertolongan Allah Islam menjadi
agama mayoritas di negeri ini. Negara Indonesia ini tidak akan mungkin ada di muka bumi tanpa

perjuangan dan pengorbanan dari para pendahulu kita. Mereka adalah para ulama, kyai dan santri
yang meneriakkan kalimat takbir Allaaahu Akbar dalam mengusir penjajah.
Lihatlah catatan sejarah, betapa darah mengalir, nyawa melayang demi tegaknya sebuah negeri
kaum muslimin yang bernama Indonesia. Namun sayang, sejarah di negeri ini masih ditulis
dan diwarnai oleh antek-antek penjajah sehingga peran ulama dan mujahid Islam dipinggirkan,
sementara nama-nama kaum sekuler, nasionalis dan komunis ditonjolkan!
Siapa mengingkari keislaman Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, dan Imam Bonjol yang
melihat penampilannya saja sudah jelas kealiman dan keulamaannya. Mereka adalah para
pejuang Islam yang terinspirasi oleh ruhul badzel wa tadhhiyah (semangat member dan
berkorban) para Nabi dan sahabatnya Bahkan ternyata hasil penelitian sejarah yang jujur
menyatakan bahwa Sisingamangaraja di Tanah Batak dan Pattimura di Maluku adalah pahlawan
Islam yang bertempur melawan penjajah. Hanya kalimat Takbir Allahu Akbar yang mereka
teriakkan dapat menggetarkan para penjajah sehingga mereka hengkang dari bumi pertiwi.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-hamd
Hadirin, jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Di setiap zaman dan tempat ada tuntutan Allah untuk merealisasikan pengorbanan. Dalam
mengisi kemerdekaan, kita mengajak para pemimpin, seluruh rakyat, laki-laki maupun
perempuan, khususnya para pemuda dan remaja Islam untuk kembali memberikan ruhul badzel
dan tadhiyah mereka. Karena hanya dengan ruhul badzl wa tadhiyah, kita akan meraih
keberkahan dan cita-cita mulia negeri ini yaitu baldatun toyyibatun wa rabbun ghafuur (negeri
yang aman, adil dan sejahtera serta mendapat ridha Allah).
Di masa kita sekarang ini, di tahun politik di masa menjelang pemilu, maka marilah kita
sukseskan PEMILU 2014 baik pemilihan legislative maupun pemilihan presiden. Kita memilih
wakil-wakil rakyat dan presiden yang bersih, amanah dan siap berjuang untuk melakukan
perubahan, menegakkan keadilan, merealisasikan kesejahteraan serta memberantas KKN yang
merupakan sumber kerusakan negeri.
Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah Taala agar masyarakat dan bangsa ini serta seluruh
umat Islam mendapatkan keberkahan, keselamatan dan kejayaan yang diharapkan.
:









Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/10/14/40632/khutbah-idul-adha-1434-h-pelajarandari-kisah-nabi-ibrahim-as-dan-keluarganya-dalam-meraih-keberkahan-hidup/#ixzz3EabxGCuB
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

KHUTBAH IDUL ADHA 2013, Tanpa Pengorbanan Jangan Harap


Ada Keberhasilan
Posted by malfiali on 26 September 2013

Posted in: Khutbah, Khutbah Idul Adha, Khutbah Idul Fithri, Pengorbanan. 65
Komentar


.

.



.


:!
( 2) ( 1)

Allahu Akbar, 3X Allahu Akbar walillahil hamd.


Maaasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt, Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Tiada henti
Allah melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada seluruh hamba-Nya, umat manusia di
seluruh belahan bumi ini, juga kepada kita semua. Terlebih disaat yang sangat berbahagia seperti
ini, dimana kita ditakdirkan dapat diterima dan bersimpuh dihadapan-Nya untuk menghadapkan
segala kerendahan diri dan kehinaan di hadapan Dzat Yang Maha Mulia dan Perkasa.
Menghaturkan segala hajad dan kebutuhan hidup di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa. Curhat
atas segala kelemahan diri dan dosa-dosa di hadapan Allah yang Maha Pengampun, di masjid
yang mulia ini bersama-sama melaksanakan sholat Idul Adha.
Untuk memperingati kejadian besar dalam sejarah kemanusiaan yang tiada tandingnya.
Pengorbanan hidup yang dilakukan oleh manusia-manusia pilihan, Nabiyullah Ibrahim as beserta
keluarganya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Habiibina Baginda
Nabi Muhammad SAW. Dengan perjuangan dan pengorbanan pula Beliau telah berhasil
menancapkan sendi-sendi iman dan tauhid di dada umatnya, juga kepada keluarga dan
sahabatnya serta pengikut-pengikutnya sampai hari kiamat yang telah melanjutkan tongkat
estafet dan komando kepemimpinan, sambung menyambung sampai sekarang sehingga hasilnya
bisa kita nikmati sampai saat ini.
Salah satu pengorbanan besar yang tercatat dalam sejarah kemanusiaan yang diabadikan Allah
dalam firman-Nya, seakan telah menjadi pondasi bangunan yang kokoh kuat ketika Allah
berkehendak menghidupkan dan membangun kota Mekkah Al-Mukarromah. Pengurbanan yang
sama sekali tidak masuk di akal sehat. Betapa seorang ayah atas isyarat mimpi harus
menyembelih satu-satunya putra tercinta dan perintah itu dapat mereka berdua laksanakan
dengan sempurna tanpa cacat. Perintah Allah Swt. tersebut berawal dari bisikan mimpi yang
mengusik tidur Abal Anbiya, Nabiyulloh Ibrahim As. Allah memberikan wahyu lewat mimpi

benar kepada nabi-Nya agar menyembelih putra semata wayangnya yang bernama Ismail. Ketika
Ibrahim terjaga dari tidurnya, ia mengira apa yang mengganggu tidurnya itu hanya bisikan setan
yang lalu lalang seperti bisa, sebab sangat tidak mungkin Allah Swt yang Maha penyayang dan
pengasih memerintahkan nabi-Nya untuk menyembelih putra yang telah lama dinantinantikannya. Satu-satunya putra yang digadang-gadang menjadi penerus perjuangan, pelanjut
silsilah keturunan dan penyambung tongkat estafet kenabian.
Namun demikian mimpi menakutkan itu tidak dibiarkan berlalu begitu saja tanpa arti. Nabi
Ibrahim As. mencoba merespon dengan akalnya, hasilnya dia menampik perintah tersebut
lantaran tidak bisa diterima logika. Ketika Allah kembali mengusiknya dengan mimpi yang sama
sampai tiga kali, baru Nabi Ibrahim Khalilullah ini sadar dan yakin bahwa mimpi tersebut bukan
sekedar bisikan setan yang lalu lalang melainkan perintah langit yang dirahasiakan, maka hamba
yang taat itu segera saja mencampakkan akalnya dan menerima perintah tersebut dengan hati dan
iman secara kafah sebagai wujud ketundukan dan kepatuhan seorang hamba kepada
Junjungannya yang Maha Perkasa. Peristiwa sejarah tersebut diabadikan oleh Allah Taala dalam
firman-Nya:

( 104) ( 103) ( 102)


( 107) ( 106) ( 105)
( 108)

109)

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas
pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim,
sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi
balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang
nyata Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar Kami abadikan untuk
Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
(yaitu)Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. (QS.Ash-Shofat/102 109)
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata Dan Kami tebus anak itu dengan seekor
sembelihan yang besar, demikian yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya di atas . Ujian yang
benar-benar ujian yang diberikan Allah kepada kekasih-Nya itu, ketika mampu dilaksanakan
dengan sabar dan ikhlas maka Allah memberikan balasan besar kepadanya. Wujud balasan itu
tidak hanya diselamatkan dari ujian tersebut, namun juga mendapatkan pujian yang abadi, derajat
tinggi dan bahkan menjadi sebab diturunkannya keberkahan Allah untuk Bumi di mana tempat
ujian itu terjadi.
Ketika seorang anak dihadapkan kematian dengan pedang di tangan ayahnya sendiri, anak itu
dengan tulus berkata : Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah
kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Ketika seorang ayah harus
melaksanakan perintah untuk menyembelih anak tercintanya yang sedang berbaring lemas

dipangkuannya dan menyiapkan lehernya untuk digorok oleh tangannya sendiri, seorang bapak
mampu melakukannya dengan ihlas semata-mata karena melaksanakan perintah Allah, padahal
perintah itu hanya diterima melalui mimpi. Subhanallah !!! siapakah yang sanggup melakuan
pekerjaan yang tidak logis itu selain para kekasih-Mu Ya Allah. Seorang hamba yang lebih
mencintai-Mu dibandingkan cintanya kepada apa saja selain-Mu, meski kepada satu-satunya
calon penerus keturunan yang dibanggakannya !!
Ketika dengan sabar dan penuh keikhlasan Nabi Ibrahim As menjalankan perintah tersebut, Allah
bangga kepadanya. Sedetik sebelum mata pedang yang sudah diasah tajam itu menyentuh leher
anak yang matanya sudah terpejam, dengan kuasa-Nya Allah Swt mengganti tubuh anak tersebut
dengan seekor kambing kibas dari surga. Inilah peristiwa besar dalam sejarah kemanusiaan yang
mungkin tidak akan terulang sepanjang zaman. Peristiwa sejarah mana yang menunjukkan
pelajaran yang amat sangat berharga, yakni apabila orang mau bersabar menghadapi ujian dan
musibah dan ridho serta ikhlas menjalaninya, meski nyawa taruhannya, bukan saja akan
mendapat pahala basar, namun juga ganti yang lebih baik dan sempurna. Terbukti bahwa
pengurbanan yang dilakukan dua manusia pilihan itu tidak sia sia, tidak hilang begitu saja ditelan
zaman, namun telah menjadi pondasi yang kokoh kuat atas bangunan kota Mekkah alMukarromah dan keberkahan Allah yang dicurahkan di atas kota itu dan sekitarnya sampai saat
sekarang. Tanah yang asalnya mati dan gersang itu menjadi kota yang paling makmur dan penuh
berkah di muka bumi.
Allahu Akbar, 3X Allahu Akbar walillahil hamd.
Maaasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Idul Adha identik dengan Idul Qurban, tapi qurban yang dimaksudkan khotib bukan sekedar
menyembelih hewan qurban kemudian dagingnya dibagikan kepada orang-orang yang berhak
menerima. Qurban yang dimaksudkan adalah melaksanakan pengurbanan hakiki, yakni
mengurbankan sebagian yang kita cintai, baik harta benda maupun penghormatan untuk
dibagikan kepada orang yang lebih membutuhkannya, hal itu dilakukan semata-mata
melaksanakan taabbudan lillah, semata-mata mengabdi kepada Allah dalam rangka
memperingati dan mengenang pengurbanan besar yang dilakukan Nabiyullah Ibrahim As beserta
keluarganya. Pengurbanan mana yang nantinya tidak hanya bisa dijadikan pelajaran dalam hidup
saja, namun juga mampu meningkatkan taraf kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat
nanti. Pengurbanan yang mampu mengangkat hasrat kemanusian, meningkatkan kapasitas hidup
dan kemampuan pribadi, menjadi orang mulia baik dihadapan manusia maupun dihadapan
Rabbul Izzah, demikian itu yang pernah dilakukan dan didapatkan oleh Nabiyullah Ibrahim as
beserta keluarganya.
Disamping hal penting tersebut, ibadah qurban juga mengandung pesan kepada kita agar
memiliki jiwa sosial dan peka terhadap penderitaan sesama serta pembangunan mental spiritual
yang tangguh. Bahkan tidak hanya itu saja, ibadah qurban juga sekaligus harus bisa merontokkan
sifat-sifat basyariah yang tercela, kebiasaaan dan karakter kemanusiaan yang jika dibiarkan bisa
menjadi penyebab timbulnya kerusakan di di muka bumi. Ungkapan rasa syukur atas segala
anugerah yang diwujudkan dengan menasarufkan sebagian harta yang kita miliki dengan
membeli dan menyembelih hewan qurban serta pendistribusian dagingnya kepada kalangan

fuqoro wal masaakin agar di hari raya ini mereka dapat menikmati kegembiraan yang sama,
disamping merupakan simbol agar kita mau berbagi kepada sesama serta ikut meringankan
beban hidup orang lain yang bisa membangun kekuatan persaudaraan antara sesama umat, juga
menguatkan jiwa kita secara pripadi dalam menghadapi tantangan dan kompetisi hidup yang
rasanya seakan tidak berkesudahan, terlebih apabila hal yang sangat positif tersebut tidak hanya
bisa dilakukan pada hari-hari tertentu saja, seperti hari Idul Adha sekarang ini, tetapi juga setiap
saat dan kesempatan yang ada, saat kita diberi kemampuan dan kelebihan oleh Allah Swt.
Allahu Akbar, 3X Allahu Akbar walillahil hamd.
Maaasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Jika kita mengamati fenomena yang terjadi belakangan ini di mana tahun politik berarti tahun
kemunafikan, para Tokoh Partai Politik sedang memutar otak untuk menutupi boroknya dengan
kebohongan dan pencitraan, sekaligus mencari dana biaya pencitraan yang tidak sedikit, hingga
banyak dari kalangan mereka menjadi gelap mata, berlomba-lomba mengeruk uang haram,
memarup anggaran proyek di Kementrian yang dikuasai supaya ikut kebagian uang rampokan,
akibatnya di tahun politik ini korupsi jadi semakin meraja lela dan membabi buta.
Tidak hanya itu saja, para Tokoh Partisan yang jelas-jelas terindikasi berbuat kejahatan, korupsi
dan menyalagunakan jabatan masih saja ngotot untuk memenangkan pertarungan. Mereka tidak
sungkan-sungkan tampil di panggung pencitraan padahal boroknya tidak ketulangan, bahkan
banyak bermunculan orang yang hanya bermodalkan nekat, karena terbiasa merasa besar
dikalangan sendiri kemudian muncul di publik, akibat mabuk pujian dari para penjilat yang
nebeng kehidupan hingga tidak merasa malu dan mengukur kemampuan mendeklarasikan diri
jadi calon Presiden.
Bahkan dari kalangan para Ustadz yang terhormat, yang dulunya jadi panutan rakyat karena
selalu membawa-bawa nama ayat Agama dan Dakwah, ketika menduduki jabatan tinggi di Partai
Politik, bahkan satu-satunya partai politik yang berani menamakan diri Partai Dakwah, ternyata
sama saja, setali tiga uang, kini sebagian mereka ada yang duduk di kursi pesakitan, sementara
waktu harus berpisah dengan keluarga tercinta karena mempertanggungjawabkan perbuatan.
Inilah realita dan fenomena yang sampai saat ini setiap hari dan setiap saat masih saja disajikan
oleh media masa di Negeri ini, baik Elektronik/TV, media Cetak dan media Online.
Di hari yang suci ini, saat Kaum Muslimin di seluruh Dunia memperingati hari raya Idul Qurban,
kita boleh bertanya kepada diri kita sendiri. Apakah kita harus menyotoh mereka itu, para
perusak kehidupan sesama sekedar untuk meraih kejayaan pribadi maupun golongan?? , para
perampok uang rakyat bahkan dengan mengatasnamakan Agama dan Dakwah yang akhirnya
terjerembab jadi terdakwa ?? Jika tidak, pertanyaan berikutnya apa yang sudah kita perbuat
untuk kejayaan kita sendiri, pengorbanan macam apa yang sudah kita lakukan untuk mencapai
peningkatan hidup yang kita dambakan, untuk keberhasilan hidup kita sendiri bukan
keberhasilan hidup orang lain. Apakah kita hanya boleh menuntut saja tanpa berbuat apa-apa
sementara orang lain berkorban dan bahkan dikorbankan ?? Atau barangkali kita yang justru
selalu mengurbankan kepentingan orang lain untuk kelangsungan hidup kita ??, bahkan
menjadikan orang lain sebagai tumbal dan kambing hitam untuk sekedar menyelamatkan

kehidupan kita yang sedang terancam bahaya ??. Kita hanya berharap hidup enak tapi enggan
melakukan perjuangan..??, Apalagi kalau ternyata kita yang selalu menjadi sebab terjadinya
kerusakan di muka bumi dengan ucapan atau fitnah dan adu domba yang kita lontarkan kepada
sesama kawan kemudian kita berharap mendapatkan kebaikan dari keburukan yang kita lakukan
itu ?? apakah hal semacam itu bisa terwujud sementara fenomena sejarah telah berbicara secara
terang benderang, bahwa tanpa pengorbanan jangan harap ada keberhasilan.
Maaasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Inilah hikmah terbesar dari peringatan hari besar IDUL QURBAN yang sedang kita peringati
hari ini, bukan hanya untuk memperingati peristiwa sejarah kemanusia itu saja, namun juga,
disamping sebagai momentum untuk membersihkan jiwa dan pikiran kita dari penyakit
kehidupan yang mematikan, seperti korupsi, manipulasi, menyalahgunakan jabatan dan penyakit
kejiwaan lainnya yang tidak kalah mematikan, seperti iri, dengki, hasud, dendam dan sombong
yang bisa berujung fitnah dan adu domba, juga untuk membangkitkan semangat dan kesadaran
jiwa kita, dimana setiap pribadi Muslim harus siap berkorban untuk kebahagiannya sendiri.
Setiap kita harus siap menyongsong keberhasilan dan peningkatan hidup dengan perjuangan dan
pengorbanan. Dimulai dari diri sendiri untuk tidak berpangkutangan saja dan bermalas-malasan
dan ketika berakibat buruk pada kehidupannya kemudian orang mengkambinghitamkan nasib
dan takdir. Padahal nasib dan takdir itu harus dimulai dari diri sendiri, siapa beramal sholeh
maka itu untuk dirinya sendiri, dan siapa berbuat jahat akibatnya akan ditanggung sendiri.
Maksudnya, barangsiapa menanam kebaikan, akan menuai kebajikan dan barangsiapa menanam
kejahatan dan kemalasan akan menuai kehancuran. Itu berlaku untuk diri sendiri bukan untuk
orang lain, itulah sunnahtullah yang tidak ada perubahan untuk selama-lamanya.
: .

( 155)

( 156)
. .
.