Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN

Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil


dan hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme
terdapat dimana-mana. Interaksinya dengan sesame mikroorganisme
ataupun organisme lain dapat berlangsung dengan cara yang aman dan
menguntungkan maupun merugikan (Pratiwi, 2008).
Mikroorganisme di dunia ini ada yang menguntungkan dan ada juga yang
merugikan. Mikroorganisme yang menguntungkan dapat kita manfaatkan
untuk kepentingan kesejahteraan hidup manusia. Akan tetapi, banyak juga
mikroorganisme yang tidak menguntungkan kita yaitu dengan menyebabkan
terjadinya penyakit pada tubuh manusia. Salah satu mikroorganisme yang
dapat menyebabkan atau menginfeksi manusia adalam Mycobacterium
tuberculosis. Bakteri ini dapat mengakibatkn penyakit tuberculosis pada
manusia. Tuberculosis itu sendiri merupakan salah satu penyakit yang
mematikan dan berbahaya di dunia.
Tuberculosis merupakan penyakit berbahaya ke-3 yang menyebabkan
kematian di dunia setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran
pernapasan, dan merupakan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. Saat
ini tuberculosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri
ini dapat menginfeksi sepertiga populasi dunia, setiap detik ada satu orang
yang terinfeksi tuberculosis, tetapi hanya bakteri yang aktif yang
menyebabkan orang menjadi sakit. Setiap tahunnya sekitar 4 juta penderita
tuberkulosis paru menular di dunia, ditambah lagi penderita yang tidak
menular. Hal ini menggambarkan setiap tahun di dunia akan ada sekitar 8 juta
penderita tuberkulosis paru, dan ada sekitar 3 juta orang meninggal setiap
tahunnya akibat penyakit ini.
Sampai hari ini, penyakit TBC masih menempatkan Indonesia dalam tiga
besar negara dengan jumlah penderita terbanyak. Pada umumnya kegagalan
pengobatan TBC terjadi disebabkan terapi yang terputus karena pasien
merasa sudah sembuh. Kendala lain yang sering timbul adalah lamanya
waktu pengobatan. Obat untuk TBC harus dimakan sedikitnya enam bulan.
Sementara biasanya setelah makan obat selama dua bulan, pasien malas
meneruskan pengobatan karena merasa sembuh dan tidak merasakan gejala
lagi. Padahal kalau pengobatan berhenti di tengah jalan, maka bukan saja
penyakitnya tidak sembuh dengan tuntas, tetapi juga menyebabkan bakteri
TBC menjadi kebal terhadap obat yang digunakan. Ketiadaan biaya malah
membuat seseorang tidak berobat, karena tidak mengetahui program
pemerintah yang menggratiskan obat TBC di seluruh Puskesmas di
Indonesia. Penyakit ini sering dianggap enteng oleh penderita karena masih
bisa bekerja seperti biasa, namun tanpa disadari keparahan penyakit yang
semakin meningkat sebanding dengan perjalanan waktu dan menurunnya
daya tahan tubuh.
Penanganan TBC masih terus menjadi tantangan besar untuk para tenaga
kesehatan. Untuk memutuskan rantai penularan perlu pula mendapati
perhatian lintas sektoral karena berkaitan dengan faktor sosial budaya dan

tempat hunian. Namun pada dasarnya penyakit TBC bisa disembuhkan


secara tuntas apabila pasien mengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk
minum obat secara teratur dan rutin sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
Selain itu diperlukan juga kepedulian dan pengawasan dari tenaga kesehatan
untuk mengawal perkembangan terapi pasien. Penyebab TBC memang
bukan bakteri biasa, karena itu diperlukan konsistensi dan kepatuhan pasien
dalam menjalani terapi untuk mencapai hasil terapi yang optimal.

TAKSONOMI, MORFOLOGI, FISIOLOGI SERTA EKOLOGI


MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS.

Mycobacterium tuberculosis pertama kali dideskripsikan pada tanggal 24


Maret 1882 oleh Robert Koch. Maka untuk mengenang jasa beliau, bakteri
tersebut diberi nama baksil Koch. Mycobacterium tuberculosis merupakan
bakteri penyebab penyakit tuberkulosa (TBC) (Wikipedia, 2010). Bahkan
penyakit TBC pada paru-paru pun dikenal juga sebagai Koch Pulmonum
(KP).
Berikut adalah taksonomi dari Mycobacterium tuberculosis.
Kingdom

: Bacteria

Filum

: Actinobacteria

Ordo

: Actinomycetales

Upaordo

: Corynebacterineae

Famili

: Mycobacteriaceae

Genus

: Mycobacterium

Spesies

: Mycobacterium tuberculosis

Sumber: Wikipedia
Adapun bentuk bakteri Mycobacterium tuberculosis ini adalah basil tuberkel
yang merupakan batang ramping dan kurus, dapat berbentuk lurus ataupun
bengkok yang panjangnya sekitar 2-4 mm dan lebar 0,2 0,5 mm yang
bergabung membentuk rantai. Besar bakteri ini tergantung pada kondisi
lingkungan (Wikipedia, 2010).
Mycobacterium tuberculosis tidak dapat diklasifikasikan sebagai bakteri gram
positif atau bakteri gram negatif, karena apabila diwarnai sekali dengan zat
warna basa, warna tersebut tidak dapat dihilangkan dengan alkohol,
meskipun dibubuhi iodium. Oleh sebab itu bakteri ini termasuk dalam bakteri

tahan asam. Mycobacterium tuberculosis cenderung lebih resisten terhadap


faktor kimia dari pada bakteri yang lain karena sifat hidrofobik permukaan
selnya dan pertumbuhan bergerombol. Mycobacterium tuberculosis tidak
menghasilkan kapsul atau spora serta dinding selnya terdiri dari peptidoglikan
dan DAP, dengan kandungan lipid kira-kira setinggi 60% (Simbahgaul, 2008).
Pada dinding sel mycobacteria, lemak berhubungan dengan arabinogalaktan
dan peptidoglikan di bawahnya. Struktur ini menurunkan permeabilitas
dinding sel, sehingga mengurangi efektivitas dari antibiotik.
Lipoarabinomannan, suatu molekul lain dalam dinding sel mycobacteria,
berperan dalam interaksi antara inang dan patogen, menjadikan
Mycobacterium tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofag (Indah,
2010).
Bakteri Mycobacterium memiliki sifat tidak tahan panas serta akan mati pada
6C selama 15-20 menit. Biakan bakteri ini dapat mati jika terkena sinar
matahari lansung selama 2 jam. Dalam dahak, bakteri mycobacterium dapat
bertahan selama 20-30 jam. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat
bertahan hidup 8-10 hari. Biakan basil ini apabila berada dalam suhu kamar
dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari dengan suhu 20C
selama 2 tahun. Mycobacterim tahan terhadap berbagai khemikalia dan
disinfektan antara lain phenol 5%, asam sulfat 15%, asam sitrat 3% dan
NaOH 4%. Basil ini dihancurkan oleh jodium tinctur dalam 5 minit, dengan
alkohol 80 % akan hancur dalam 2-10 menit (Hiswani M.Kes, 2010).
Mycobacterium tuberculosis dapat tahan hidup diudara kering maupun dalam
keadaan dingin atau dapat hidup bertahun-tahun dalam lemari es. Hal ini
dapat terjadi apabila kuman berada dalam sifat dormant (tidur). Pada sifat
dormant ini apabila suatu saat terdapat keadaan dimana memungkinkan
untuk berkembang, kuman tuberculosis ini dapat bangkit kembali (Hiswani
M.Kes, 2010).
Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri aerob, oleh karena itu pada
kasus TBC biasanya mereka ditemukan pada daerah yang banyak udaranya.
Mikobakteria mendapat energi dari oksidasi berbagai senyawa karbon
sederhana. Aktivitas biokimianya tidak khas, dan laju pertumbuhannya lebih
lambat dari kebanyakan bakteri lain karena sifatnya yang cukup kompleks
dan dinding selnya yang impermeable, sehingga penggandaannya hanya
berlangsung setiap kurang lebih 18 jam. Karena pertumbuhannya yang
lamban, seringkali sulit untuk mendiagnostik tuberculosis dengan cepat.
Bentuk saprofit cenderung tumbuh lebih cepat, berkembangbiak dengan baik
pada suhu 22-23oC, menghasilkan lebih banyak pigmen, dan kurang tahan
asam dari pada bentuk yang pathogen. Mikobakteria cepat mati dengan sinar
matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang
gelap dan lembab (Simbahgaul, 2008).
Bakteri ini biasanya berpindah dari tubuh manusia ke manusia lainnya melalui
saluran pernafasan, keluar melalui udara yang dihembuskan pada proses
respirasi dan terhisap masuk saat seseorang menarik nafas. Habitat asli
bakteri Mycobacterium tuberculosis sendiri adalah paru-paru manusia.
Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati

sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di


alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman tuberkulosis
berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di dalam paru-paru
(Anonim a, 2010).
Bakteri Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri yang dapat menyebabkan
penyakit tuberkolosis atau disingkat TBC. Sumber penularan adalah penderita
Tuberculosis (TB) yang dahaknya mengandung kuman TB hidup (BTA (+)).
Infeksi kuman ini paling sering disebarkan melalui udara (air borne, droplets
infection). Penyebaran melalui udara berupa partikel-partikel percikan dahak
yang mengandung kuman berasal dari penderita saat batuk, bersin, tertawa,
bernyanyi atau bicara. Partikel mengandung kuman ini akan terhisap oleh
orang sehat dan menimbulkan infeksi di saluran napas. Bakteri aktif
mikobakteria mencemari udara yang ditinggali atau ditempati banyak
manusia, karena sumber dari bakteri ini adalah manusia. Bakteri ini dapat
hidup selama beberapa jam pada udara terbuka, dan selama itulah dia akan
berterbangan di udara hingga akhirnya menemukan manusia sebagai tempat
hidup. (U-knee, 2008).
Biasanya pencemaran oleh bakteri ini terjadi pada rumah yang penuh dengan
orang namun memiliki ventilasi yang buruk. Juga ditempat-tempat ramai yaitu
sarana perhubungan seperti bis sekolah, kapal laut, juga pada asrama,
penjara, bahkan dari dokter yang kurang memperhatikan sanitasi tubuhnya.
Habitat asli dari bakteri ini adalah manusia, dan hanya menjadikan lingkungan
sebagai perantara (Tin-U, 2005).
PENYAKIT TUBERCULOSIS (TBC)
Penyakit TBC adalah merupakan suatu penyakit yang tergolong dalam infeksi
yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TBC
dapat menyerang pada siapa saja tak terkecuali pria, wanita, tua, muda, kaya
dan miskin serta dimana saja. Apabila seseorang sudah terpapar dengan
bakteri penyebab tuberculosis akan berakibat buruk seperti menurunkan daya
kerja atau produktivitas kerja, menularkan kepada orang lain terutama pada
keluarga yang bertempat tinggal serumah, dan dapat menyebabkan
kematian. Pada penyakit tuberkulosis jaringan pang paling sering diserang
adalah paru-paru (95,9 %) (Hiswani M.Kes, 2010).
Gejala penyakit TBC digolongkan menjadi dua bagian, yaitu gejala umum dan
gejala khusus. Sulitnya mendeteksi dan menegakkan diagnosa TBC adalah
disebabkan gambaran secara klinis dari si penderita yang tidak khas,
terutama pada kasus-kasus baru (Anonim b, 2010).
a)

Gejala umum (Sistemik)

Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan


malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam
seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
Penurunan nafsu makan dan berat badan.
Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).

Perasaan tidak enak (malaise), lemah.


Sumber: Anonim b, 2010
b)

Gejala khusus (Khas)

Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat
penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan
suara mengi, suara nafas melemah yang disertai sesak.
Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai
dengan keluhan sakit dada.
Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang
pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di
atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan
disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah
demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Sumber: Anonim b, 2010
Pada penderita usia anak-anak apabila tidak menimbulkan gejala, Maka TBC
dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa.
Sekitar 30-50% anak-anak yang terjadi kontak dengan penderita TBC paru
dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan 5
tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA
positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah
(Anonim b, 2010)
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan
konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam
(subfibris), badan kurus atau berat badan menurun. Tempat kelainan lesi TB
yang perlu dicurigai adalah bagian apeks paru. Bila dicurigai infiltrat yang
agak luas, maka akan didapatkan perkusi yang redup dan auskultasi nafas
bronkial. Akan didapatkan juga suara nafas tambahan berupa ronkhi basah,
kasar, dan nyaring. Tetapi bila infiltrat ini diliputi oleh penebalan pleura, suara
nafasnya menjadi vesikular melemah.
Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang
perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:
-

Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.

Pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).

Pemeriksaan patologi anatomi (PA).

Rontgen dada (thorax photo).

Uji tuberkulin.

Sumber: Anonim b, 2010


Penyakit tuberculosis memiliki beberapa variasi jenisnya. Adapun jenis-jenis
dari penyakit tuberculosis tersebut adalah:
Tuberculosis paru terkonfirmasi secara bakteriologis dan histologis
Tuberculosis paru tidak terkonfirmasi secara bakteriologis dan histologis
Tuberculosis pada sistem saraf
Tuberculosis pada organ-organ lainnya
Tuberculosis millier
Tuberculosis paru adalah tuberculosis yang menyerang jaringan paru, tidak
termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru
dibagi menjadi 2 yaitu Tuberkulosis Paru BTA positif dan Tuberkulosis Paru
BTA negatif (Avicenna, 2009)
Tuberculosis ekstra paru adalah tuberculosis yang menyerang organ tubuh
selain jaringan paru, misalnya pleura (selaput paru), selaput otak, selaput
jantung, kelejar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing,
alat kelamin dan lain-lain. Berdasarkan tingkat keparahannya, TB Ekstra Paru
dibagi menjadi 2 yaitu : tuberculosis ekstra paru ringan seperti misalnya
adalah TB kelenjar limfe, pleuritis eksudatif unilateral, tulang (kecuali tulang
belakang), sendi dan kelenjar adrenal serta tuberculosis ekstra paru berat,
misalnya adalah meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudatif
dupleks, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan alat kelamin
(Avicenna, 2009).
Dalam kasus TBC terdapat beberapa tipe penderita yang ditentukan
berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Adapun beberapa tipe
penderita tersebut yaitu: kasus baru adalah dimana penderita tersebut belum
pernah diobati dengan OAT (Obat Anti Tuberculosis) atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian) (Avicenna, 2009).
Kambuh (relaps) adalah penderita TB yang sebelumnya pernah mendapatkan
terapi TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif (Avicenna,
2009).
Pindahan (transfer in) adalah penderita TB yang sedang mendapatkan
pengobatan disuatu kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke
kabupaten ini. Penderita tersebut harus membawa surat rujukan/pindahan
(FORM TB 09) (Avicenna, 2009).
Kasus berobat setelah lalai (pengobatan setelah default/drop-out) adalah
penderita TB yang kembali berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA
positif setelah putus berobat 2 bulan atau lebih. (Avicenna, 2009).
Gagal adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali
menjadi positif pada akhir bulan ke-5 atau lebih atau penderita BTA negative,
rontgen positif yang menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan.
(Avicenna, 2009).

Semua penderita lain yang tidak memenuhi persyaratan tersebut diatas


merupakan tipe yang lain. Termasuk dalam kelompok ini adalah kasus kronik
(adalah penderita yang masih BTA positif setelah menyelesaikan pengobatan
ulang dengan kategori 2) (Avicenna, 2009).

INVASI MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS SERTA RIWAYAT


TERJADINYA TUBERCULOSIS
Penyebaran penyakit TBC biasanya dimulai melalui udara yang tercemar
dengan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dilepaskan pada saat
penderita TBC batuk. Pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari
penderita TBC dewasa. Bakteri tuberculosis ini bila sering masuk dan
terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak
(terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat
menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab
itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti:
paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening,
dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena
infeksi bakteri ini adalah paru-paru (Anonim d, 2010)
Saat Mycobacterium tuberculosis berhasil menginfeksi paru-paru, maka
dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat).
Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan
berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh
sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di
sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant
(istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai
tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen (Anonim d, 2010)
Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap
dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem
kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan
sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk
sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi
sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah
memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan
tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC (Anonim d, 2010).
Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak
dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi
sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat,
meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan
adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang
lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang
memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC (Anonim d, 2010).
Adapun riwayat terjadinya tuberculosis dapat dibagi menjadi 2 tahap yaitu
tahap infeksi primer dan pasca primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang

terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil
ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus,
dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi
dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan
diri di paru-paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran
limfe akan membawa kuman TB ke kelenjar limfe disekitar hilus paru, dan ini
disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai
pembentukan kompleks primer adalah 4 6 minggu. Adanya infeksi dapat
dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi
positif (Anonim c, 2010).
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan
besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi
daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB.
Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman
persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu
mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan,
yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi,
yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit,
diperkirakan sekitar 6 bulan (Anonim c, 2010).
Tahap kedua yaitu Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB) biasanya
terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya
karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang
buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang
luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura (Anonim c, 2010).
Penderita penyakit tuberculosis dapat mengalami komplikasi dimana
komplikasi ini sering terjadi pada penderita stadium lanjut. Beberapa
komplikasinya adalah sebagai berikut:
Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya
jalan napas.
Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
Bronkiectasis dan Fibrosis pada paru.
Pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru.
Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan
sebagainya.
Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).
Sumber: Anonim c, 2010
Komplikasi akibat penyakit TBC dapat menyerang beberapa organ vital tubuh,
di antaranya adalah tulang, usus, otak serta ginjal. TBC tulang ini bisa
disebabkan oleh bakteri TBC yang mengendap di paru-paru, lalu terjadi
komplikasi dan masuk ke tulang. Atau bisa juga bakteri TBC langsung masuk
ke tulang lewat aliran darah dari paru-paru. Waktu yang dibutuhkan bakteri
untuk masuk dan merusak tulang bervariasi. Ada yang singkat, tapi ada pula
yang lama hingga bertahun-tahun. Bakteri TBC biasanya akan berkembang
biak dengan pesat saat kondisi tubuh sedang lemah, misalnya selagi anak

terkena penyakit berat. Saat itu kekebalan tubuhnya menurun, sehingga


bakteri pun leluasa menjalankan aksinya (Anonim e, 2010).
Bagian tulang yang biasa diserang bakteri TBC adalah sendi panggul,
panggul dan tulang belakang. Gangguan tulang belakang bisa terlihat dari
bentuk tulang belakang penderita. Biasanya tidak bisa tegak, bisa miring ke
kiri, ke kanan, atau ke depan. Sendi panggul yang rusak pun membuat
penderita tidak bisa berjalan dengan normal. Sedangkan pada ibu hamil,
kelainan panggul membuatnya tidak bisa melahirkan secara normal. Jika
kelainannya masih ringan, upaya pemberian obat-obatan dan operasi bisa
dilakukan. Lain halnya jika berat, tindakan operasi tidak bisa menolong
karena sendi atau tulang sudah hancur. Penderita bisa cacat seumur hidup
(Anonim e, 2010).
Selain karena komplikasi, TBC usus ini bisa timbul karena penderita
mengonsumsi makanan/minuman yang tercemar bakteri TBC. Bakteri ini bisa
menyebabkan gangguan seperti penyumbatan, penyempitan, bahkan
membusuknya usus. Ciri penderita TBC usus antara lain anak sering muntah
akibat penyempitan usus hingga menyumbat saluran cerna. Mendiagnosis
TBC usus tidaklah mudah karena gejalanya hampir sama dengan penyakit
lain. Ciri lainnya tergantung bagian mana dan seberapa luas bakteri itu
merusak usus. Demikian juga dengan pengobatannya. Jika ada bagian usus
yang membusuk, dokter akan membuang bagian usus itu lalu
menyambungnya dengan bagian usus lain (Anonim e, 2010).
Bakteri TBC juga bisa menyerang otak. Gejalanya hampir sama dengan
orang yang terkena radang selaput otak, seperti panas tinggi, gangguan
kesadaran, kejang-kejang, juga penyempitan sel-sel saraf di otak. Kalau
sampai menyerang selaput otak, penderita harus menjalani perawatan yang
lama. Sayangnya, gara-gara sel-sel sarafnya rusak, penderita tidak bisa
kembali ke kondisi normal. (Anonim e, 2010).
Bakteri TBC pun bisa merusak fungsi ginjal. Akibatnya, proses pembuangan
racun tubuh akan terganggu. Selanjutnya bukan tidak mungkin bakal
mengalami gagal ginjal. Gejala yang biasa terjadi antara lain mual-muntah,
nafsu makan menurun, sakit kepala, lemah, dan sejenisnya. Gagal ginjal akut
bisa sembuh sempurna dengan perawatan dan pengobatan yang tepat.
Sedangkan gagal ginjal kronik sudah tidak dapat disembuhkan. Beberapa di
antaranya harus menjalani cangkok ginjal (Anonim e, 2010).
Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit.
Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA
negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan
dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT
(Obat Anti Tuberkulosis) tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan
simptomatis. Bila perdarahan berat, penderita harus dirujuk ke unit spesialistik
(Anonim c, 2010).
PENGOBATAN PENYAKIT TUBERCULOSIS

Pengobatan TBC harus dilakukan secara tepat sehingga secara tidak


langsung akan mencegah penyebaran penyakit ini. Berikut adalah beberapa
obat yang biasanya digunakan dalam pengobatan penyakit TBC:
1)

Isoniazid (INH)

Obat yang bersifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri) ini


merupakan prodrug yang perlu diaktifkan dengan enzim katalase untuk
menimbulkan efek. Bekerja dengan menghambat pembentukan dinding sel
mikrobakteri (Anonim f, 2010).
2)

Rifampisin / Rifampin

Bersifat bakterisidal (membunuh bakteri) dan bekerja dengan mencegah


transkripsi RNA dalam proses sintesis protein dinding sel bakteri (Anonim f,
2010).
3)

Pirazinamid

Bersifat bakterisidal dan bekerja dengan menghambat pembentukan asam


lemak yang diperlukan dalam pertumbuhan bakteri (Anonim f, 2010).
4)

Streptomisin

Termasuk dalam golongan aminoglikosida dan dapat membunuh sel mikroba


dengan cara menghambat sintesis protein (Anonim f, 2010).
5)

Ethambutol

Bersifat bakteriostatik. Bekerja dengan mengganggu pembentukan dinding


sel bakteri dengan meningkatkan permeabilitas dinding (Anonim f, 2010).
6) Fluoroquinolone
Fluoroquinolone adalah obat yang menghambat replikasi bakteri M.
tuberculosis. Replikasi dihambat melalui interaksi dengan enzim gyrase, salah
enzim yang mutlak diperlukan dalam proses replikasi bakteri M. Tuberculosis.
Enzim ini tepatnya bekerja pada proses perubahan struktur DNA dari bakteri,
yaitu perubahan dari struktur double helix menjadi super coil (Gambar 5).
Dengan struktur super coil ini DNA lebih mudah dan praktis disimpan di dalam
sel. Pada proses tersebut enzim gyrase berikatan dengan DNA, dan
memotong salah satu rantai DNA dan kemudian menyambung kembali
(Gambar 5). Dalam proses ini terbentuk produk sementara (intermediate
product) berupa ikatan antara enzim gyrase dan DNA (kompleks gyrase-DNA)
(Anonim g, 2008)
Fluoroquinolone mamiliki kemampuan untuk berikatan dengan kompleks
gyrase-DNA ini, dan membuat gyrase tetap bisa memotong DNA, tetapi tidak
bisa menyambungnya kembali. Akibatnya, DNA bakteri tidak akan berfungsi
sehingga akhirnya bakteri akan mati. Selain itu, ikatan fluoroquinolone

dengan kompleks gyrase-DNA merupakan ikatan reversible, artinya bisa


lepas kembali sehingga bisa di daur ulang. Akibatnya, dengan jumlah yang
sedikit fluoroquinolone bisa bekerja secara efektif (Anonim g, 2008)
Dalam terapi TBC, biasanya dipilih pemberian dalam bentuk kombinasi dari 34 macam obat tersebut. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya
resistensi bakteri terhadap obat. Dosis yang diberikan berbeda untuk tiap
penderita, bergantung tingkat keparahan infeksi. Karena bakteri tuberkulosa
sangat lambat pertumbuhannya, maka penanganan TBC cukup lama, antara
6 hingga 12 bulan yaitu untuk membunuh seluruh bakteri secara tuntas
(Anonim f, 2010).
Pengobatan harus dilakukan secara terus-menerus tanpa terputus, walaupun
pasien telah merasa lebih baik / sehat. Pengobatan yang terhenti ditengah
jalan dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten. Jika hal ini terjadi, maka
TBC akan lebih sukar untuk disembuhkan dan perlu waktu yang lebih lama
untuk ditangani. Untuk membantu memastikan penderita TBC meminum obat
secara teratur dan benar, keterlibatan anggota keluarga atau petugas
kesehatan diperlukan yaitu mengawasi dan jika perlu menyiapkan obat yang
hendak dikonsumsi. Oleh karena itu, perlunya dukungan terutama dari
keluarga penderita untuk menuntaskan pengobatan agar benar-benar
tercapai kesembuhan (Anonim f, 2010).
Obat diminum pada waktu yang sama setiap harinya untuk memudahkan
penderita dalam mengkonsumsi obat. Lebih baik obat diminum saat perut
kosong sekitar setengah jam sebelum makan atau menjelang tidur (Anonim f,
2010).
Selain dengan menggunakan obat-obatan tersebut, pengobatan penyakit
akibat infeksi bakteri mycobacterium ini dapat dilakukan dengan
menggunakan jahe dan mengkudu. Jahe dan mengkudu dapat
menyembuhkan penyakit yang disebabkan bakteri berbentuk batang tersebut
karena kedua bahan itu kaya akan senyawa antibakteri. Misalnya jahe
mempunyai gingerol yang bersifat antibakteri. Demikian juga mengkudu yang
mengandung senyawa aktif antrakuinon, acubin, asperuloside, dan alizarin.
Keempat senyawa itu juga berkhasiat untuk membunuh bakteri tuberculosis
(Anonim h, 2010)
Kedua bahan itu mempunyai sifat antibakteri lebih kuat ketika disatukan.
Sebaliknya bila dipisah, kekuatannya berkurang. Jahe dan mengkudu juga
bersifat imunostimulan alias meningkatkan daya tahan tubuh. Duet mengkudu
dan jahe menyusul meniran yang lebih dulu diuji klinis sebagai penyembuh
tuberkulosis. Phyllanthus niruri itu terbukti sebagai antituberkulosis.
Pemberian 50 mg kapsul meniran selama 3 kali sehari menyembuhkan TB
pada pekan ke-6 atau lebih cepat 8 minggu dibandingkan pasien yang tidak
mengkonsumsi meniran. Meniran juga bersifat sebagai imunomodulator alias
penguat sistem kekebalan tubuh. Ketika kekebalan tubuh meningkat, bibitbibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh dapat dilemahkan. Jika sel-sel
imun seseorang diganggu, maka orang tersebut akan rentan sakit (Anonim h,
2010).

Perpaduan ekstrak jahe dan mengkudu itu mampu menyempurnakan obat


standar resep dokter seperti rifampisin serta pirazinamid yang selama ini
digunakan untuk mengatasi TB. Untuk yang tidak cocok mengkonsumsi obatobatan dokter tersebut, menyebabkan gangguan hati. Namun, apabila
penggunaannya disertai dengan konsumsi jahe dan mengkudu, hal tersebut
tidak akan terjadi. Ekstrak jahe dan mengkudu juga mencegah resistensi
(Anonim h, 2010)
RESISTENSI MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS
Bakteri Mycobacterium tuberculosis secara alami resisten terhadap berbagai
antibiotik yang telah ada sebelumnya. Hal ini menyebabkan sulitnya
pengobatan penyakit TB secara tuntas. Sifat resisten ini dipengaruhi oleh
adanya enzim-enzim yang mampu memodifikasi obat seperti b-lactamase dan
aminoglycosida acetyl transferase. Jika diterapi dengan benar, tuberkulosis
dapat disembuhkan yang disebabkan oleh kompleks Mycobacterium
tuberculosis, yang peka terhadap obat, praktis dapat disembuhkan. Tanpa
terapi tuberkulosa akan mengakibatkan kematian dalam lima tahun pertama
pada lebih dari setengah kasus (Palit, 2010)
Mycobacterium tuberculosis resisten terhadap fluoroquinolone melalui
struktur unik protein MfpA. Berdasarkan analisa model dengan menggunakan
komputer (computer modeling) ditemukan bahwa protein MfpA bisa masuk ke
dalam bagian aktif (active site) dari enzim gyrase, seperti halnya DNA. Ini
disebabkan karena protein MfpA memiliki struktur yang sama dengan DNA.
Akan tetapi berbeda dengan interaksi gyrase dengan DNA, interaksi gyrase
dengan MfpA mengakibatkan gyrase tidak bisa berinteraksi dengan
fluoroquinolone. Dengan kata lain, kompleks MfpA-gyrase tidak bisa
berinterkasi dengan fluoroquinolone, sehingga fluoroquinolone tidak bisa
berfungsi sebagaimana mestinya (Anonim g, 2008).
Interaksi gyrase dan DNA penting dalam proses replikasi bakteri M.
tuberculosis. Interaksi protein MfpA dengan gyrase, secara otomatis juga
menghambat interaksi gyrase dengan DNA. Dengan kata lain, protein MfpA
merupakan inhibitor dari enzim gyrase, yakni menghambat aktivitas enzim
gyrase itu senditi. Hambatan fungsi enzim gyrase ini mengakibatkan proses
replikasi M. tuberculosis terganggu. Pada kenyataannya memang demikian.
Artinya, perkembangbiakan bakteri M. tuberculosis menurun, akan tetapi hal
ini lebih baik bagi bakteri dari pada mati karena obat fluoroquinolone. Dan
biasanya bakteri yang resisten terhadap suatu obat bukan secara tiba-tiba,
melainkan mulai dari jumlah yang sedikit dan kemudian perlahan-lahan
bertambah sesuai dengan perjalanan waktu (Anonim g, 2008).
Mekanisme fungsi protein MfpA dalam proses resistensi M. tuberculosis
sangat unik. Pada umumnya resistensi disebabkan oleh penguraian obat antibakteri oleh enzim atau protein tertentu. Akan tetapi tidak demikian halnya
dengan protein MfpA. Protein ini hanya memproteksi interaksi obat dengan
targetnya. MfpA adalah protein yang pertama kali dibuktikan mempunyai
fungsi demikian (Anonim g, 2008).

Pada umumnya kegagalan pengobatan TBC terjadi disebabkan terapi yang


terputus karena pasien merasa sudah sembuh. Masalah yang sering timbul
adalah lamanya waktu pengobatan. Obat untuk TBC harus dimakan
sedikitnya enam bulan. Sementara biasanya setelah makan obat selama dua
bulan, pasien malas meneruskan pengobatan karena merasa sembuh dan
tidak merasakan gejala lagi. Padahal apabila pengobatan berhenti di tengah
jalan, maka tidah hanya penyakitnya saja yang tidak sembuh dengan tuntas,
tetapi juga menyebabkan bakteri TBC menjadi kebal terhadap obat yang
digunakan. Ketiadaan biaya juga membuat seseorang tidak berobat, karena
tidak mengetahui program pemerintah yang menggratiskan obat TBC di
seluruh Puskesmas di Indonesia. Penyakit ini sering dianggap enteng oleh
penderita karena masih bisa bekerja seperti biasa, namun tanpa disadari
keparahan penyakit yang semakin meningkat sebanding dengan perjalanan
waktu dan menurunnya daya tahan tubuh.
EPIDEMIOLOGI DAN PENYEBARAN PENYAKIT TUBERCULOSIS
TBC umumnya menyerang orang dewasa muda dan banyak terjadi di negara
berkembang. Setengahnya terdapat di Asia. Pada tahun 2008, WHO
memprediksi ada sekitar 9,4 juta orang yang menjadi penderita TBC aktif.
Dari 15 negara dengan tingkat TBC paling tinggi, 13 diantaranya ada di
Afrika. Sementara itu setengahnya ada di negara Asia, diantaranya
Bangladesh, China, India, Indonesia, Pakistan dan Filipina (Anonim i, 2010)
Apabila penyakit tuberculosis ini tidak diobati, maka setelah lima tahun, 50 %
dari penderita TB akan meninggal, 25 % akan sembuh sendiri dengan daya
tahan tubuh tinggi, dan 25 % sebagai kasus kronik yang tetap menular (WHO
1996).
Menurut WHO (1999), di Indonesia setiap tahun terjadi 583 kasus baru
dengan kematian
130 penderita dengan tuberkulosis positif pada dahaknya. Sedangkan
menurut hasil penelitian kusnindar 1990, Jumlah kematian yang disebabkan
karena tuberkulosis diperkirakan 105,952 orang pertahun. Kejadian kasus
tuberkulosa paru yang tinggi ini paling banyak terjadi pada kelompok
masyarakat dengan sosio ekonomi lemah. Terjadinya peningkatan kasus ini
disebabkan dipengaruhi oleh daya tahan tubuh, status gizi dan kebersihan diri
individu dan kepadatan hunian lingkungan tempat tinggal (Hiswani M.Kes,
2010).
HIV juga memberikan pengaruh signifikan terhadap penyebaran penyakit
tuberculosis ini. Hal ini terjadi karena infeksi HIV mengakibatkan kerusakan
luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular Immunity), sehingga jika terjadi
infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan
menjadi sakit parah bahkan mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang
terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah penderita TB akan meningkat, dengan
demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula (Anonim j, 2010).
PENCEGAHAN PENYAKIT TUBERCULOSIS

Pencegahan terhadap kemungkinan terjangkitnya penyakit ini merupakan


langkah yang paling efektif dan efisien. Adapun yang dapat kita lakukan
sebagai upaya pencegahan adalah sebagai berikut:
* Konsumsi makanan bergizi
Dengan asupan makanan bergizi, daya tahan tubuh akan meningkat.
Produksi leukosit pun tidak akan mengalami gangguan, hingga siap melawan
bakteri TBC yang kemungkinan terhirup. Selain itu, konsumsi makanan
bergizi juga menghindarkan terjadinya komplikasi berat akibat TBC (Anonim
e, 2010).
* Vaksinasi
Dengan vaksinasi BCG yang benar dan di usia yang tepat, sel-sel darah putih
menjadi cukup matang dan memiliki kemampuan melawan bakteri TBC.
Meski begitu, vaksinasi ini tidak menjamin penderita bebas sama sekali dari
penyakit TBC, khususnya TBC paru. Hanya saja kuman TBC yang masuk ke
paru-paru tidak akan berkembang dan menimbulkan komplikasi. Bakteri juga
tidak bisa menembus aliran darah dan komplikasi pun bisa dihindarkan.
Dengan kata lain, karena sudah divaksin BCG, anak hanya menderita TBC
ringan (Anonim e, 2010).
* Lingkungan
Lingkungan yang kumuh dan padat akan membuat penularan TBC
berlangsung cepat. Untuk itulah mengapa lingkungan yang sehat dan
kebersihan makanan dan minuman sangat perlu untuk dijaga (Anonim e,
2010).