Anda di halaman 1dari 5

Laporan Tugas Mandiri 1

Industri Oleokimia
Nama : Nurul Azizah
NPM : 1206212312
Judul : Pemanfaatan Minyak Nabati dan Lemak
Outline:

Peran Penting Minyak Nabati dan Lemak sebagai Sumber Daya


Terbarukan dibandingkan dengan Fosil dari Bahan Baku Mineral
lain.
Perkembangan Pemanfaatan Minyak Nabati dan Lemak
Pelumas
Surfaktan
Bahan Baku Pengobatan
Biodiesel

Peran Penting Minyak Nabati dan Lemak sebagai Sumber Daya Terbarukan
dibandingkan dengan Fosil dari Bahan Baku Mineral lain.
Untuk minyak nabati, Indonesia mempunyai banyak jenis tanaman yang
berpotensi menjadi bahan baku minyak nabati, nomor dua di dunia setelah Brasil.
Karena itu bila Indonesiadapat mengembangkan dan menguasai teknologi ini dan
dapat mengelola sumber energi nabati ini dengan baik dan bijak, maka Indonesia
berpotensi menjadi penghasil besar sumber daya terbarukan yang berasal dari
minyak nabati. Apalagi dengan memperhatikan kondisi geografis yang terdiri
dari ribuan pulau. Indonesia mempunyai potensi sumber daya energi terbarukan
yang cukup besar, tetapi tidak dapat diekspor sehingga sebaiknya hanya bisa
dimanfaatkan untuk keperluan domestik dan pemanfaatan sumber daya energi ini
harus dilakukan seoptimal dan seefisien mungkin. Sedangkan sumber daya energi
fosil yang kita miliki seperti minyak bumi, gas bumi, dan batu bara mempunyai
peran yang strategis yaitu sebagai sumber energi bahan baku untuk industri, dan
penghasil devisa. Minyak nabati juga berpotensi menggantikan minyak mineral
(fosil mineral lainnya) sebagai bahan dasar untuk memecahkan masalah polusi
(Gong dkk, 2003; Zhu dkk, 2009).
Dibandingkan dengan fosil dari bahan baku mineral lain, memang minyak
nabati dan lemak memiliki peran penting terlebih lagi sebagai sumber daya
terbarukan. Seperti yang telah dibahas di atas, peran pentingnya adalah sebagai
berikut:
1. Sumber daya terbarukan
Minyak nabati dan lemak berasal dari sumber-sumber seperti tanaman dan
hewan, singkatnya, merupakan sumber yang bisa diganti. Tanaman dapat tumbuh
berulang-ulang pada lahan yang sama tanpa harus mengeluarkan biaya signifikan.
Bahan baku yang selalu tersedia membuat minyak nabati merupakan bahan baku
yang tidak pernah habis.

2. Mengurangi ketergantungan pada sumber daya yang tidak terbarukan.


Bahan baku fosil seperti minyak bumi, terdapat dalam jumlah terbatas.
Dibutuhkan jutaan tahun bagi pembentukan fosil sehingga tidak bisa digantikan
dalam waktu singkat. Bahan baku minyak nabati dan lemak hadir sebagai sumber
energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada fosil.
3. Mengurangi polusi
Bahan baku minyak nabati dan lemak dapat mengurangi polusi dalam
berbagai cara. Terutama dalam pemanfaatan sebagai bahan baku biodiesel.
Pemanfaatan bahan baku khusunya minyak nabati juga membantu mengurangi
kadar metana yang dilepas karena dekomposisi bahan organik ke udara. Metana
diketahui merupakan gas yang menyebabkan efek rumah kaca dan dengan
demikian sangat berbahaya bagi lingkungan. Dengan menggunakan bahan baku
tersebut, maka masalah tersebut menjadi terpecahkan. Begitu juga, menanam
tanaman yang digunakan sebagai bahan baku minyak nabati akan memperbanyak
konsentrasi oksigen sekaligus mengurangi emisi karbon dioksida.

Perkembangan Pemanfaatan Minyak Nabati dan Lemak


Dengan contoh-contoh inovasi produk terbaru dari pengembangan
oleokimia, pengembangan sukses dari produk
ramah lingkungan yang
kompatibel dan kuat dalam arti pembangunan yang berkelanjutan juga telah
ditunjukkan. Dapat diprediksi bahwa di masa depan lebih lanjut kemungkinan
untuk menggunakan sumber daya terbarukan akan terus meningkat. Sejauh
pengembangan bahan baku baru bersangkutan, instansi pemerintah dalam rangka
proyek-proyek yang disponsori pemerintah dalam
mewujudkan minyak
terbarukan, karena lemak dioptimalkan pada komposisi asam, akan memenuhi
persyaratan untuk keperluan industri dengan cara yang lebih baik. Contoh minyak
biji bunga matahari dengan kandungan asam oleat (85%) yang tinggi dan
kandungan asam stearat yang rendah. Kombinasi dari berbagai bahan baku
tumbuhan untuk membentuk produk baru juga akan menjadi tantangan untuk
penelitian dan pengembangan di masa depan, diantaranya adalah pengembangan
produk polimer atau aplikasi komposi.
Minyak nabati dan lemak adalah bahan baku yang berasal dari berbagai
tumbuhan dan hewan (misalnya, lemak, lemak babi). Minyak nabati adalah
minyak yang disari/diekstrak dari berbagai bagian tumbuhan dengan bahan baku
nabati seperti kedelai, kelapa sawit, rapeseed dan minyak biji bunga matahari.
Minyak nabati dan lemak sudah banyak `
1dimanfaatkan oleh industri di
Indonesia dan dunia diataranya dimanfaatkan dalam industri makanan, pelumas,
bahan bakar, bahan pewangi (parfum),pengobatan, dan berbagai penggunaan
industri lainnya.
Sekitar 101 juta ton lemak dan minyak yang diproduksi di seluruh dunia
pada tahun 1998, sebagian besar dimanfaatkan untuk makanan manusia. Untuk
oleokimia, 14 juta ton yang tersedia. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah yang
dihasilkan terus-menerus meningkat sekitar 3% per tahun. Diperkirakan bahwa
tren ini akan berlanjut dalam jangka menengah dan panjang. Penentuan komposisi
asam lemak yang terkandung dalam minyak (spektrum asam lemak) penggunaan

minyak yang lebih lanjut. Perhatian khusus harus diberikan untuk minyak kelapa
dan minyak inti sawit (minyak laurat) karena mereka memiliki asam lemak yang
tinggi dengan panjang rantai pendek atau menengah (terutama atom karbon 12
dan 14: C12, C14). Ini sangat cocok untuk diproses lebih lanjut untuk surfaktan
(agen pencucian dan pembersihan) serta kosmetik. Kelapa sawit, kedelai,
rapeseed dan biji bunga matahari, serta lemak hewan, mengandung asam lemak
terutama dengan rantai panjang (misalnya, C18, jenuh dan tidak jenuh) dan
digunakan sebagai bahan baku untuk aplikasi polimer dan pelumas. Berdasarkan
hasil dari siklus analisis dan studi ekologi dan toksikologi bahwa produk
berdasarkan sumber daya terbarukan biasanya lebih ekologis kompatibel bila
dibandingkan dengan zat-zat yang berbasis petrokimia kriteria penting dalam
pengembangan produk baru, seperti harga dan performa.
Pelumas
Lemak yang dapat digunakan sebagai bahan baku pelumas, misalnya
berasal dari hewan, sebagai contoh adalah minyak atau lemak ikan, lemak sapi,
lemak kambing, dan sebagainya. Bahan pelumas dari hewan ini diperkirakan
merupakan pelumas yang paling tua umurnya. (Anonim, 2014). Sedangkan untuk
minyak nabati, sebagai contoh, minyak jarak kepyar memiliki kandungan ester
risinoleat tinggi sehingga baik digunakan sebagai bahan dasar pelumas. Energi
alternatif yang digunakan sebagai aditif pelumas salah satunya adalah gliserol.
Gliserol dihasilkan sebagai produk samping pembuatan biodiesel yang berasal
dari reaksi minyak nabati dengan alkohol (Ueoka dan Katayama, 2001). Produksi
gliserol melalui transesterifikasi trigliserida dalam industri biodiesel menjadi
sumber utama produksi gliserol. Namun, pertumbuhan industri biodiesel yang
diikuti produksi gliserol semakin meningkat tersebut menurunkan harga gliserol
dan masalah lingkungan terkait kontaminasi pembuangan gliserol (Lopez dkk,
2009). Selain reaksi transesterifikasi, gliserol juga dapat dihasilkan dari
pembuatan sabun melaluireaksi saponifikasi dan reaksi hidrolisis (Tamalampudi
dkk, 2008; Gregg dan Goodwin, 2008).
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menemukan aplikasi baru dari
gliserol yang berpotensial dikembangkan menjadi produk yang bernilai komersial.
Gliserol telah banyak digunakan dalam industri farmasi, kosmetik, produk
perawatan pribadi, dan aditif makanan (Pagliaro dan Rossi, 2010; Chheda dkk,
2007). Peranannya dalam industri polimer ditambahkan sebagai stabilizer, 2
plasticizer, dan co-pelarut dalam polimerisasi emulsi. Gliserol juga penting
sebagai bahan baku untuk sintesis beberapa senyawa yang berharga (Guner dkk,
2006).
Surfaktan
Surfaktan adalah bahan yang dapat mencampurkan dua cairan yang
umumnya tidak saling bercampur seperti minyak dan air, karena menurunkan
tegangan permukaan cairan. Surfaktan DEA umumnya dibuat dari minyak kelapa
dan banyak digunakan pada industri kosmetika dan farmasi. Aplikasi surfaktan
juga dibutuhkan dalam jumlah besar di pertambangan minyak. Untuk
memproduksi surfaktan DEA, asam laurat dalam minyak inti sawit direaksikan
dengan DiEtanolAmide dengan rasio molar dan kondisi proses tertentu. Proses
tersebut berlangsung dalam reaktor amidasi yang dilengkapi dengan pengaduk

dan pemanas. Selama reaksi juga ditambahkan katalis, yaitu sodium metilat
dengan konsentrasi tertentu. (Ani Suryani, __).
Bahan Baku Pengobatan
Pada saat ini, minyak nabati juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan
baku pengobatan. Banyak minyak yang berasal dari tumbuhan-tumbuhan dapat
berkhasiat untuk mencegah ataupun menyembuhkan berbagai penyakit.
Diantaranya adalah minyak kedelai, minyak kelapa dan lain-lain.
Minyak kedelai Terbuat dari biji kacang kedelai. Minyak kedelai ini kaya
akan kandungan asam lemak tidak jenuh ganda (asam linoleat (omega 3) dan
asam linolenat (omega 6) yang lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya.
Makanya, minyak ini dapat mencegah kolesterol dan penyakit jantung koroner.
Minyak Kelapa Kandungan minyak kelapa dapat membantu dalam
mencegah penuaan dini, membantu degeneratif karena sifat antioksidanmengobati
pankreatitis, mencegah penyakit ginjal, mencegah kandung empedu, melarutkan
batu ginjal, mengendalikan gula darah, mencegah dan mengobati diabetes,
osteoporosis. Kandungan minyak kelapa sangat efektif melawan berbagai infeksi
karena minyak kelapa memiliki sifat anti jamur, anti virus, dan anti bakterinya.
Kandungan minyak kelapa dapat membunuh virus yang menyebabkan influenza,
campak, hepatitis, herpes, Sars, bisul, infeksi tenggorokan, infeksi saluran kemih,
pneumonia dan gonore, dan membantu meningkatkan sistem pencernaan.
Bahan Bakar Biodiesel
Biodiesel/Biosolar adalah senyawa organik yang dapat digunakan sebagai
bahan bakar diesel, yang dihasilkan dari minyak nabati, lemak, hewani, atau
minyak bekas (Dwiarum S, 2006). Menurut Sutarman (2006), bahwa sifat
biodiesel mirip minyak solar, namun merupakan bahan bakar yang memiliki
keuntungan ramah lingkungan karena bebas sulfur, rendah bilangan asap,
pembakaran lebih sempurna dan non toxic. Karena sifat itulah minyak nabati ini
baik digunakan sebagai pengganti/campuran solar. Pembakaran dengan
menggunakan biodiesel pada mesin lebih sempurna, sehingga mengurangi kadar
karbon monoksida dan karbon dioksida yang keluar dari gas buangan. Sutarman
(2006), mengatakan bahwa biodiesel ini berasal dari asam lemak yang berasal dari
tanaman yang mengandung minyak nabati meliputi sirsak, kelapa, kelapa sawit,
kapuk, jarak pagar, kedelai, dll
Bahan baku biodiesel yang baik adalah berasal dari minyak kelapa sawit
(Elaesis guineensis) dakam bentuk crude palm oil (CPO). Namun CPO
merupakan bahan untuk minyak konsumsi dan komoditas eksport yang memiliki
nilai ekonomis tinggi. Sebenarnya tanaman jarak pagar (Jatropha curcas) lebih
ekonomis sebagai bahan biodiesel, karena tanaman ini mampu tumbuh dan
berkembang pada lahan kritis. Selama ini tanaman jarak pagar (Jatropha curcas)
belum diusahakan secara khusus . Secara agronomis, tanaman jarak pagar
beradaptasi dengan lahan maupun agroklimat di Indonesia, bahkan tanaman ini
dapat tumbuh baik pada kondisi kering (curah hujan lebih kecil dari 500 mm per
tahun) maupun pada lahan kritis sekalipun (Departemen Energi dan Sumberdaya
mineral, 2007). Dimana disampaikan juga bahwa luas lahan kritis di Indonesia
lebih dari 20 juta hektar, dengan pemanfaatan yang belum optimal atau bahkan
cenderung ditelantarkan. Dengan potensi tanaman jarak pagar yang mudah

tumbuh, dapat dikembangkan sebagai sumber bahan bakar alternatif pada lahan
kritis memberikan harapan baru.
Referensi
http://surfaktansawit.innov.ipb.ac.id/perspektif/ (diakses pada tanggal 20
September 2014 pukul 20.00)
http://www.amazine.co/27018/6-kelebihan-kekurangan-energi-biomassa/ (diakses
pada tanggal 20 September 2014 pukul 20.15)
http://www.natural-health-information-centre.com/vegetable-oil.html (diakses
pada tanggal 20 September 2014 pukul 19.40)
http://www.ristek.go.id/?module=News%20News&id=3630 (diakses pada tanggal
20 September 2014 pukul 21.45)
Karlheinz Hill. 2000. Fats and oils as oleochemical raw materials. Cognis
Deutschland GmbH, Dsseldorf. Germany.
Nanny Kusminingrum. ___. Bahan Bakar Nabati sebagai Salah Satu Alternatif
untuk Mendukung Penggunaan Bahan Bakar Ramah Lingkungan.
Puslitbang Jalan dan Jembatan. Bandung.