Anda di halaman 1dari 8

a. Bagaimana makanan terolah dapat menyebabkan hipertensi?

Kebiasaan mengkonsumsi makanan olahan dapat menyebabkan obesitas dan


terjadi penumpukan ( akumulasi lemak di trunkal ) dan terjadi peningkatan volume darah
sehingga akan meningkatkan insulin, asam lemak bebas, leptin, endotelin 1 dan
memacu meningkatnya aktivitas renin angiotensin aldosteron Dimana aktivasi renin
angiotensin tersebut akan membentuk angiotensin I dengan bantuan protein plasma
(substrat renin) , setelah terbentuknya angiotensin I, terdapat 2 asam amino tambahan
yang memecah menjadi angiotensin II peptida asam amino-8. Selama angiotensin II
berada dalam darah , akan meningkatkan tekanan arteri. Dan terjadi vasokontriksi
tekanan darah, dan dimana akan meningkatnya curah jantung sehingga terjadi
peningkatan sistem saraf simpatis vaskuler yang menyebabkan tekanan darah meningkat
(hipertensi)

b. Apa dampaknya makan makanan terolah dalam jangka waktu yang lama?
World Health Organization (WHO) dan Food and Agricultural Organization
(FAO) menyatakan bahwa ancaman potensial dari residu bahan makanan terhadap
kesehatan manusia dibagi dalam 3 kategori yaitu :aspek toksikologis: kategori residu
bahan makanan yang dapat bersifat racun terhadap organ-organ tubuh; aspek
mikrobiologis: mikroba dalam bahan makanan yang dapat mengganggu keseimbangan
mikroba dalam saluran pencernaan; aspek imunopatologis:keberadaan residu yang dapat
menurunkan kekebalan tubuh.
Penggunaan zat aditif yang berlebihan dan dikonsumsi secara terus menerus dapat
menimbulkan dampak negatif yang nyata bagi kesehatan.Dampak negatif zat aditif yang
terkandung dalam makanan cepat saji bisa terjadi sacara langsung maupun tidak
langsung,bisa terjadi dalam jangka pendek maupun jangka panjang.Dampak zat aditif
yang terkandung dalam makanan cepat saji dapat dilihat di bawah ini:
-

Sulfit menyebabkan sesak napas, gatal-gatal dan bengkak.

Zat pewarna ditambahkan ke dalam makanan bertujuan untuk menarik selera


dan keinginan konsumen. Jika penggunaan bahan-bahan sintetis tersebut secara
terus menerus dan melebihi dari kadar yang sudah ditentukan, maka akan
terakumulasi dalam tubuh yang akhirnya akan merusak jaringan atau organ

tubuh seperti hati dan ginjal. Bahan-bahan sintetis ini tidak saja menganggu
kesehatan jika terakumulasi, tetapi juga dapat menyebabkan nilai gizi pada
makanan tertentu berkurang.Zat Warna menimbulkan alergi,menimbulkan
kanker hati,menyebabkan hypertrophy, hyperplasia, carcinomas kelenjar tiroid.
-

Monosodium Glutamat (MSG) adalah salah satu penyedap sintetis yang


merupakan senyawa kimia yang dapat memperkuat atau memodifikasi rasa
makanan sehingga makanan tersebut terasa lebih gurih dan nikmat. Tetapi bila
dibandingkan, rasa bumbu alami tentu lebih nikmat dan segar dibandingkan
MSG, meskipun sangat gurih kadang meninggalkan rasa pahit atau rasa tidak
enak di mulut. MSG dapat memicu reaksi alergi seperti gatal-gatal, bintikbintik merah di kulit, keluhan mual, muntah, sakit kepala dan migren. Dalam
jumlah tertentu MSG masih

dianggap aman. Namun demikian, untuk

kesehatan konsumen, sebagai antisipasi adanya efek buruk yang mungkin


terjadi bila mengkonsumsi dalam jumlah besar, penggunaannya harus dibatasi
(Yulianti 2007). Menurut WHO batas aman penggunaan MSG yaitu 120 mg/kg
BB/hari.MSG menyebabkan kerusakan otak,kelainan hati, trauma, hipertensi,
stress, demam tinggi, mempercepat proses penuaan, alergi kulit, mual, muntah,
migren, asma, ketidakmampuan belajar, dan depresi.
-

BHT dan BHA menyebabkan kelainan kromosom pada orang yang alergi
terhadap aspirin.

Zat pemanis. tingkat kemanisan pemanis sintetis jauh lebih tinggi dari pemanis
alami. Hal tersebut mengakibatkan terus meningkatnya penggunaan pemanis
sintetis terutama sakarin dan siklamat. Rasa manis yang dirasakan dari pemanis
sintetis biasanya menimbulkan rasa ikutan pahit yang semakin terasa dengan
bertambahnya bahan pemanis ini. Dalam kehidupan sehari-hari, pemanis
buatan sakarin dan siklamat maupun campuran keduanya sering ditambahkan
ke dalam berbagai jenis jajanan anak-anak seperti makanan ringan (snack),
cendol, limun, makanan tradisional dan sirop (Yulianti 2007). Menurut WHO
batas

aman

penggunaan

bahan

pemanis

sintetis

yaitu

0-5

mg/kg

BB/hari.Pemanis menyebabkan kanker kantong kemih (saccarin),gangguan


saraf dan tumor otak (aspartan),mutagenik.

Bahan pengawet adalah bahan yang dapat menghambat atau memperlambat


proses fermentasi, penguraian, atau

pengasaman yang disebabkan oleh

mikroorganisme. Pemakaian bahan pengawet dari satu sisi menguntungkan


karena dengan bahan pengawet, bahan pangan dapat dibebaskan dari
kehidupan mikroba, baik yang bersifat patogen yang menyebabkan keracunan
maupun non-patogen yang menyebabkan kerusakan bahan makanan seperti
pembusukan. Namun dari sisi lain, bahan pengawet pada dasarnya adalah
senyawa kimia yang apabila pemakaiannya berlebihan kemungkinan besar
akan menimbulkan kerugian bagi orang yang mengkonsumsi baik langsung
misalnya keracunan maupun tidak langsung atau kumulatif misalnya kanker.
Selain itu untuk para perempuan sebaiknya lebih waspada lagi karena fast food
dapat menyebabkan kegemukan dan obesitas. Kandungan lemak yang tinggi dalam
makanan fast food juga dapat merangsang pertumbuhan kanker terutama kanker
payudara.Kandungan kolesterol dan kalori yang cukup tinggi pada makanan cepat saji
merupakan penyebab kegemukan dan berbagai gangguan metabolisme dan jantung.
Efek samping konsumsi makanan yang mengandung zat kimia berlebih untuk jangka
pendek yaitu sakit perut, diare, demam, sakit kepala, mual, dan muntah-muntah
sedangkan pada jangka panjang dapat menyebabkan penyakit kanker, tumor, dan
gangguan saraf, gangguan fungsi hati, iritasi lambung, dan perubahan fungsi sel.

c. Apa kandungan gizi makanan terolah?


Makanan Yang Mengandung Zat Aditif Berbahaya Saat ini banyak
makanan yang beredar luas dipasaran yang sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh
manusia sehinga kita harus cermat dan berhati hati seblum membeli dan mengkonsumsi
makanan tersebut. Ada 5 Jenis Makanan Yang Mengandung Zat Aditif Berbahaya.
1. Soda dan minuman yang mengandung pemanis buatan
Seringkali bahwa minuman kemasan yang memiliki aneka rasa lebih
sehat daripada penggunaan gula untuk mempermanis minuman di rumah.
Padahal kebanyakan minuman kemasan mengandung pemanis buatan
yang jauh lebih berbahaya dari gula biasa.

Aspartame, sakarin dan sucralose adalah beberapa jenis pemanis


buatan yang sangat populer dan sering digunakan dalam minuman
bersoda, jus kemasan, permen karet, dan makanan lainnya.
Pemanis buatan tidak hanya meningkatkan risiko terhadap diabetes
tetapi juga dapat menyebabkan obesitas. Untuk melindungi diri dari risiko
penyakit karena pemanis buatan, kurangi konsumsi soda dan minuman
kemasan yang tidak sehat, batasi pula penggunaan gula mentah dan
menggantinya dengan pemanis alami seperti madu murni.
2. Makanan dan minuman ringan yang mengandung sirup jagung
kaya fruktosa
Sirup jagung kaya fruktosa merupakan cairan yang manisnya 6 kali
lipat lebih manis dari tebu. Sirup jagung sering ditambahkan pada
makanan olahan seperti minuman ringan, bumbu, saus apel, makanan dan
roti atau sereal yang tampak berbahaya.
Konsumsi terhadap sirup jagung kaya fruktosa ini terkait dengan risiko
obesitas, kerusakan otak, IQ rendah, dan bahkan keracunan merkuri.
Hindari konsumsi makanan dan minuman yang tampak mencurigakan dan
memiliki rasa manis yang terlalu tajam.

3. Makanan yang mengandung minyak nabati dan lemak trans


Banyak orang juga telah salah paham mengenai penggunaan minyak
nabati tak jenuh yang dijadikan alternatif yang sehat dari lemak tak jenuh
pada makanan. Tetapi minyak sayuran dapat berubah menjadi tengik lebih
cepat, sehingga dapat bersifat seperti racun dalam tubuh.
Konsumsi makanan yang mengandung minyak nabati dalam kadar
tinggi dapat menyebabkan masalah kesehatan yang parah seperti penyakit
jantung dan kanker. Minyak nabati kebanyakan berasal dari organisme
hasil rekayasa genetik termasuk minyak canola, kedelai, dan jagung yang
melalui pros hidrogenasi.

Lebih baik gunakan sumber lemak tak jenuh yang sehat seperti
mentega, minyak kelapa, minyak zaitun, dan minyak rami untuk
meningkatkan kesehatan dan menurunkan risiko penyakit.

4. Roti putih dan makanan yang terbuat dari tepung halus


Makanan yang terbuat dari tepung putih halus seperti roti putih, pasta
dan makanan lainnya adalah salah satu perusak kesehatan yang paling
umum saat ini. Produk tepung putih bersifat karsinogenik karena
diputihkan melalui berbagai proses.
Selain itu, tepung putih juga kehilangan nutrisi penting dari gandum
ketika menjalani proses pemutihan. Hindari makanan yang terbuat dari
tepung putih dan semua produk olahan gandum untuk mengoptimalkan
kesehatan.

5. Makanan yang mengandung MSG dan garam halus


Monosodium glutamat atau yang dikenal dengan istilah MSG, sering
tersembunyi dalam makanan dengan nama yang menipu. MSG adalah
bahan kimia garam yang dapat menyebabkan sakit kepala, masalah
jantung, kerusakan otak, dan masalah lainnya jika dikonsumsi dalam
tingkat tinggi dan pada jangka waktu yang panjang\

Makanan Cepat Saji


Secara umum makanan cepat saji mengandung kalori, kadar lemak, gula
dan sodium (Na) yang tinggi tetapi rendah serat, vitamin A, asam akorbat,
kalsium dan folat. Dan berikut ini gambaran kandungan nilai gizi dari beberapa
jenis makanan cepat saji yang saat ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena
pengaruh tren globalisasi. Contoh kandungan makanan cepat saji.
a. Komposisi gizi Pizza (100 g) : Kalori (483 KKal), Lemak (48 g),
Kolesterol (52 g), Karbohidrat (3 g), Gula (3 g), Protein (3 g).

b. Komposisi gizi Hamburger (100 g) : Kalori (267 KKal), Lemak (10


g), Kolesterol (29 mg), Protein (11 g), Karbohidrat (33 g), Serat
kasar (3 g), Gula (7 g).
c. Komposisi gizi Donat (I bh = 70 g) : Kalori (210 Kkal), Lemak (8 g),
Karbohidrat (32 g), Serat kasar (1 g), Protein (3 g), Gula (11 g),
Sodium (260 mg).
d. Komposisi gizi Fried Chicken (100 g) : Kalori (298 KKal), Lemak
(16,8 g), Protein (34,2 g), Karbohidrat (0,1 g).
e. Siomay 170 gr 162 kalori
f. Mie bakso sepiring 400 kalori
g. Chicken nugget 6 potong: 250 kalori
h. Mie Instant (1 bungkus) 330 Kalori
i. Kentang goreng mengandung 220 kalori
j. Chicken nugget: protein 15,5%, lemak 9,7%, karbohidrat 66,7%

d. Bagaimana patofisiologi hipertensi?

e. Apa penyebab hipertensi?


Penyebab utama terjadinya hipertensi pada obesitas diduga berhubungan dengan
kenaikan volume tubuh, peningkatan curah jantung, dan menurunnya resistensi vaskuler
sistemik. Beberapa mekanisme lain yang berperan dalam kejadian hipertensi pada
obesitas antara lain peningkatan sistem saraf simpatik, meningkatnya aktivitas renin
angiotensin aldosteron (RAAS), peningkatan leptin, peningkatan insulin, peningkatan
asam lemak bebas (FFA),peningkatan endotelin 1, terganggunya aktivitas natriuretic
peptide (NP), serta menurunnya nitrit oxide (NO).

f. Bagaimana derajat tingkat hipertensi?


Klasifikasi Hipertensi menurut WHO

Kategori

Sistol (mmHg)

Diastol (mmHg)

Optimal

< 120

< 80

Normal

< 130

< 85

Tingkat 1 (hipertensi ringan)

140-159

90-99

Sub grup : perbatasan

140-149

90-94

Tingkat 2 (hipertensi sedang)

160-179

100-109

Tingkat 3 (hipertensi berat)

180

110

Hipertensi sistol terisolasi

140

< 90

Sub grup : perbatasan

140-149

< 90

Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7


Kategori

Sistol (mmHg) Diastole (mmHg)

Normal

<120

<80

Pre hipertensi

120-139

80-89

Hipertensi tahap 1

140-159

90-99

Hipertensi tahap 2

160

100

Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia


Kategori

Sistol (mmHg)

Diastole (mmHg)

Normal

<120

<80

Pre hipertensi

120-139

80-89

Hipertensi tahap 1

140-159

90-99

Hipertensi tahap 2

160

100

Hipertensi sistol

140

< 90

terisolasi

g. Obat apa saja yang digunakan untuk mengatasi hipertensi?

Obat-obat golongan: alkaloid rauwolfia, alkaloid veratum, hidralazin, deuretik


tiazid, guanetidin, metildopa, obat penghambat monoamin oksidase (pargilin, iproniazid,
dan feniprazin), klonidin, debrisokin, obat penghambat adrenoseptor-

Daftar Pustaka
Gan, Sulistia dkk. 1980. Farmakologi dan Terapi Ed. 2. Bagian Farmakologi FKUI: Jakarta
Sudoyono et all. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI.
Notoatmodjo, S.. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rinena Cipta. Kapita Selekta
Kedokteran Edisi 3. 2000. Jakarta: FK UI. Dalam
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25010/3/Chapter%20II.pdf. Diakses pada 5
November 2014 pukul 17.09 WIB