Anda di halaman 1dari 10

SURYA Online, GRESIK Tiga pekerja luka ringan terdapat di PT Petrowidada, sedang pekerja meninggal di di PT

Wilmar Nabati Indonesia (WNI), Jl Kapten Darmo Sugondo, Nomor 56, Kebomas, Gresik.
Informasi dari Polres Gresik, kecelakaan kerja di area PT Petrowidada terjadi pada pukul
21.30 Wib, pada salah satu kapal di Pelabuhan kusus PT Petrokimia Gresik yang akan mengirim
bahan bio disel ke PT Petrowidada.
"Selesai pengisian bio disel, pekerja ini membersihkan sekitar pompa bio disel. Karena lupa
menutup pum bio disel, akhirnya bio disel tersebut masuk ke pipa hingga pipa pecah beserta bor-bor
lepas dan cairan itu mengenai korban," kata Kapolres Gresik, AKBP E Zulpan, melalui Kasat Reskrim
AKP Ayub Diponegoro Azhar.
Sebagai dokter perusahaan di tempat tersebut, apa yang anda lakukan untuk mencegah hal
serupa terjadi?
KLARIFIKASI ISTILAH
DERAJAT LUKA :
LUKA RINGAN (luka derajat I)
Luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan
pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencahariannya
Contoh : luka lecet
LUKA SEDANG (luka derajat II)
Luka yang dapat menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan
pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencaharian untuk sementara waktu
(dalam beberapa hari)
Contoh : luka memar dan luka robek
LUKA BERAT (luka derajat III)
Penyakit atau luka yang tidak dapat diharapkan sembuh sempurna
Luka yang dapat mendatangkan bahaya maut
Rintangan tetap menjalankan pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata
pencaharian
Kehilangan salah satu dari panca indera
Contoh : robeknya jaringan hati, limpa
Kecelakaan Kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubungan dengan hubungan kerja, termasuk
penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam
perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja, dan pulang ke rumah melalui jalan biasa atau
wajar dilalui.
Biodiesel merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari pengolahan tumbuhan) di
samping Bio-etanol. Biodiesel adalah senyawa alkil ester yang diproduksi melalui proses alkoholisis
(transesterifikasi) antara trigliserida dengan metanol atau etanol dengan bantuan katalis basa
menjadi alkil ester dan gliserol; atau esterifikasi asam-asam lemak (bebas) dengan metanol atau
etanol dengan bantuan katalis basa menjadi senyawa alkil ester dan air
HIRARC

Hazard Identification
Suatu proses menyelidiki atau meneliti setiap area kerja dan tugas kerja yang bertujuan
untuk mengidentifikasi semua bahaya yang berkaitan dengan pekerjaan.
Tempat kerja tidak terbatas pada mesin, laboratorium, kantor, lingkungan agrikultur, dan
hortikultural, toko dan transportasi, dan tempat pembelajaran.
Yang termasuk tugas kerja antara lain: penggunaan peralatan audio visual, industri, bahan
berbahaya, dan atau berinteraksi dengan orang, mengendarai kendaraan, situasi emergency,
konstruksi, dlll.
This process is about finding what could cause harm in work task or area.
(University of Western Sidney, 2012)

CHEMICAL HAZARDS: ditemukan saat pekerja terpapar dengan preparasi bahan kimia di
tempat kerja dalam berbagai bentuk (padat, cair, gas).
Beberapa bahan lebih aman daripada yg lain, tetapi beberapa yang lebih sensitif terhadap
bahan kimia dapat mengakibatkan penyakit, iritasi kulit, dan masalah pada saluran
pernapasan.
Potential hazards in biofuels production and handling include:
Fire and Explosion Hazards of Biofuels
Chemical Reactivity Hazards in Biofuel Manufacturing
Toxicity Hazards in Biofuel Manufacturing
Potential Health Effects:
INHALASI
Dapat diabaikan kecuali dipanaskan hingga menghasilkan uap. Uap tsb dapat
mengiritasi membran mukosa dan menyebabkan iritasi, pusing, dan mual.
KONTAK MATA
Dapat menyebabkan iritasi. Bila terjadi kontak mata, irigasi mata denfan air mengalir
selama 15-20 menit. Periksa ke dokter apabila gejala berlanjut.
KONTAK KULIT
Kontak berulang atau dalam waktu lama tidak selalu menyebabkan iritasi kulit,
kecuali terjadi peningkatan suhu pada material. Kemungkinan dapat terjadi luka
bakar.
TERTELAN
Tidak ada bahaya yang diantisipasi dari tertelannya bahan kimia industri.
Risk Assessment
Risk Assessment adalah proses menganalisis risiko yang berkaitan dengan setiap bahaya
sehingga risikonya dapat diminimalisir, termasuk di antaranya bahaya yang dapat
ditimbulkan, seberapa parah efek bahaya, dan kemungkinan terjadinya. (University of
Western Sidney, 2012).
Risk assessment akan membantu dalam menentukan:
- Keparahan sebuah risk
- Apakah ada pengendalian/kontrol tindakan yang efektif
- Langkah apa yang harus dilakukan untuk mengendalikan risk
- Seberapa sangat diperlukannya tindakan dilakukan
Risk assessment meliputi:
(i)
Identifikasi faktor-faktor yang dapat berperan menjadi risk
Pada kasus ini faktor-faktor yang dapat berperan menjadi risk adalah
(ii) Menilik kembali informasi kesehatan dan keselamatan kerja yang dapat berasal dari sumber yang
berwenang dan relevan terhadap hazard yang bersangkutan.
Sumber informasi yang dapat dilihat/dijadikan patokan dallam menentukan hazard di kasus ini
seperti kepala direktur perusahaan, penanggungjawab kesehatan dan keselamatan kerja, manager
perusahaan, pengelola kapal, dll.
(iii) Evaluasi bagaimana kecelakaan dapat terjadi. Hal ini meliputi melihat jenis
kecelakaan/penyakit/luka/bahaya yang dapat diakibatkan dari hazard, banyaknya orang yang
terkena, rentetan kemungkinan akibat dari paparan hazard.

Kecelakaan yang terjadi merupakan kecelakaan kerja dengan paparan bahan kimia yang mengenai
korban dengan jumlah korban 1 orang meninggal dan 3 luka ringan. Akibat kasus ini adalah korban
jiwa dan korban material.
(iv) Evaluasi bagaimana hazard dapat menyebabkan kecelakaan. Hal ini meliputi pemeriksaan
bagaimana pekerjaan diselesaikan, apakah ada pengaturan/kontrol dari tindakan di tempat tersebut
dan apakah mereka mengendalikan kejadian kecelakaan, melihat situasi yang jarang atau tidak wajar
seperti yang ada dalam standard operasi. Rentetan kejadian yang berhubungan dengan risk
diperlukan pertimbangan lagi.
Hazard berupa bahan kimia di dalam pompa biodiesel dapat mengenai korban karena ada kelalaian
pekerja yaitu menutup tutup pompa biodiesel saat pembersihan pompa. Pada kasus ini terlihat
bahwa kecelakaan terjadi dapat dikarenakan kurangnya kontrol dari pihak perusahaan dalam setiap
kegiatan pekerja (dalam hal ini saat jam pengisian dan pembersihan alat di malam hari), dan
kurangnya pengendalian kecelakaan seperti pemasangan alat pemadam kebakaran atau sebagainya
pada setiap tempat kegiatan pekerjaan dilaksanakan (termasuk saat dipindahkan ke kapal).
(iv) Evaluasi bagaimana hazard dapat menyebabkan kecelakaan. Hal ini meliputi pemeriksaan
bagaimana pekerjaan diselesaikan, apakah ada pengaturan/kontrol dari tindakan di tempat tersebut
dan apakah mereka mengendalikan kejadian kecelakaan, melihat situasi yang jarang atau tidak wajar
seperti yang ada dalam standard operasi. Rentetan kejadian yang berhubungan dengan risk
diperlukan pertimbangan lagi.
Hazard berupa bahan kimia di dalam pompa biodiesel dapat mengenai korban karena ada kelalaian
pekerja yaitu menutup tutup pompa biodiesel saat pembersihan pompa. Pada kasus ini terlihat
bahwa kecelakaan terjadi dapat dikarenakan kurangnya kontrol dari pihak perusahaan dalam setiap
kegiatan pekerja (dalam hal ini saat jam pengisian dan pembersihan alat di malam hari), dan
kurangnya pengendalian kecelakaan seperti pemasangan alat pemadam kebakaran atau sebagainya
pada setiap tempat kegiatan pekerjaan dilaksanakan (termasuk saat dipindahkan ke kapal).
(v) Menentukan kemungkinan kecelakaan terjadi. Tingkat risk akan meningkat sejalan dengan
meningkatnya kemungkinan kecelakaan. Kemungkinan terjadinya kecelakaan dapat dihasilkan dari
seberapa sering tugas terselesaikan, dengan kondisi seperti apa, berapa banyak orang yang
terpapar hazard dan seberapa lama.
Probability/kemungkinan kecelakaan terjadi berdasarkan resiko pelaksanaan pekerjaan. Pada kasus
ini pekerja yang terdiri dari 3 orang melakukan pekerjaan di malam hari, di kapal pengangkut barang,
dan belum tentu memiliki kelengkapan keselamatan dan kesehatan kerja. Tugas pengiriman
biodiesel melalui kapal dilakukan hampir setiap hari atau setiap periodik (satu minggu atau satu
bulan sekali) ketika stok di luar pulau habis. Pekerjaan mengisi dan membersihkan bagian kapal dan
biodiesel dilakukan hampir setiap hari, hal ini dapat diperkirakan bahwa adanya sistem shift dalam
pekerjaan. Jadwal di malam hari dan dalam durasi yang cukup lama dapat meningkatkan resiko
kelelahan, kurang fokus, mengantuk, lupa, dsb.
(vi) Identifikasi tindakan sesegera mungkin untuk mengatasi risk; dan
Tindakan administratif sesegera mungkin untuk mengatasi risk pada kasus ini antara lain:
penambahan jumlah pekerja, penurunan durasi perkerjaan, penambahan jumlah shift (2shift dalam
sehari dapat ditingkatkan 3shift), pelatihan ulang pekerja/pelatihan secara berkala, pengawasan
pekerjaan yang lebih ekstra (terutama pada bagian pekerja yang langsung terpapar dengan
material), .
Tindakan teknis yang diperlukan saat terjadi kecelakaan akibat bahan kimia dapat berupa
penanganan kebakaran dan penanganan korban luka bakar apabila bahan mudah terbakar dan

meledak, perlingungan menggunakan masker atau adanya masker darurat apabila bahan kimia
bersifat racun, dan perlindungan dengan kelengkapan pakaian dan alat yang anti korosif apabila
bahan kimia bersifat korosif.
(vii) Identifikasi catatan yang diperlukan untuk disimpan agar dapat memastikan risk telah diatasi.
Laporan kasus dan penanganannya dicatat sebagai bukti dan evaluasi terhadap perusahaan dalam
menjamin keselamatan dan kesehatan kerja selanjutnya.
Risk Control: tindakan mengeliminasi risiko kesehatan dan keselamatan kerja (selama hal tsb masih
masuk akal untuk dilakukan). Ketika risiko tsb tidak bisa dieliminasi, lakukan risk control berdasarakn
hierarchy of controls.
(University of Western Sidney, 2012).

Elimination / Substitution
Pemikiran pertama untuk mengontrol bahaya adalah dengan mengeliminasi atau
menggantinya dengan bahan atau proses yang lebih aman.
(Goodwill Industries International)
Eliminasi merupakan langkah ideal dan pilihan pertama dengan cara menghentikan
peralatan yang menimbulkan bahaya.
Substitusi yaitu mengganti sumber risiko dengan sarana atau peralatan lain yang risikonya
kurang atau tidak ada.
Kuliah Dasar-dasar Higiene Industri atau Perusahaan
Sebagai substitusi dari bahan bakar minyak bumi, biodisel memiliki beberapa keunggulan,
terutama Cetane number yang lebih tinggi, tingkat emisinya lebih rendah, Flash point nya
tinggi serta kemampuan pelumasannya sangat baik.
http://datacon.co.id/Biofuel2008Ind.html
Cetane number
Cetane number menunjukan ukuran keterlambatan/delay waktu pembakaran bahan bakar(fuel
ignition), dimana angka cetane number yang lebih tinggi menunjukan waktu yang lebih singkat
antara masuknya bahan bakar (fuel injection) dan terjadinya pembakaran (fuel ignition). Cetane

number yang lebih tinggi identik dengan mudahnya menghidupkan mesin dalam kondisi dingin serta
putaran mesin yang lebih lancar.
Tingkat emisi
Untuk biodisel murni (B100) emisi CO2 nya dapat ditekan hingga 73%, emisi methane dapat
dikurangi hingga 51%, hydocarbon yang tidak terbakar dapat berkurang sebesar 67%, emisi carbon
monoksida turun 48% dan sulphur oxide dapat ditekan hingga 100% serta penurunan limbah dan
potensi polusi lingkungan lainnya dibanding petroleum diesel.
Flash point
Flash point adalah titik terbakarnya bahan bakar disel setelah mencapai tekanan tertentu dalam
mesin sehingga terbakar, biodisel mempunyai titik bakar yang lebih tinggi dibanding petroleum
diesel sehingga relatif lebih aman, karena tidak mudah terbakar akibat tekanan yang lebih rendah.
Pelumasan/Lubricity
Kemampuan pelumasan dari bahan bakar disel sangat penting, karena sangat berpengaruh terhadap
kemampuan mesin tersebut untuk jangka panjang, terutama dalam menjaga fungsi peralatan injeksi
bahan bajar/fuel injection component.
Biodisel mempunyai kemampuan pelumasan yang lebih baik karena berdasarkan spesifikasi EPA
2006 kandungan sulfur yang lebih tinggi akan menurunkan kemampuan pelumasan dari bahan bakar
disel.
Dibalik kelebihan itu biodisel mempunyai kekurangan yaitu kandungan energinya masih dibawah
petroleum diesel, karena sifat dasar ester yang dikandungnya yang berbeda dengan petroleum
diesel.
Engineering Controls
Engineering controls adalah perubahan fisik pada area kerja atau proses yang secara efektif
dapat meminimalisir paparan bahaya kepada pekerja.
Mengubah desain tempat kerja, peralatan atau proses (prosedur) kerja untuk mengurangi
risiko.
Memindahkan area penyimpanan.
Perbaikan ventilasi (utk zat kimia).
Pemakaian lift barang utk mengurangi lewat tangga.
Isolasi thd area bahaya
Memasang pagar pengaman di sekitar lokasi bhy.
Menutup atau menjaga peralatan yg berbahaya.
Melarang personel masuk area berbahaya, kecuali yg bertugas.
Engineering controls terhadap bahaya kebakaran dan ledakan biodiesel:
Perencanaan fasilitas yang baik
Desain saluran dan pipa yang sesuai
All vessels are stainless steel and piping is constructed of stainless or carbon
steel, with appropriate biodiesel compliant elastomers. All vessels, piping and
equipment are manufactured according to code specified for their intended
use.

http://www.biodiesel.com/technologies/process-equipment-systems/
Peralatan listrik yang sesuai untuk daerah berbahaya
All electrical equipment is designed for Class I, Division II environments.
Instrumen yang adekuat dengan alarm, interlocks, dan shutdowns.

Administrative Controls
Menggunakan prosedur, standar operasi (SOP), atau panduan sebagai langkah untuk
mengurangi risiko.
Melakukan rotasi kerja/membatasi waktu kerja.
Membuat prosedur, instruksi kerja atau pelatihan pengamanan.
Melakukan pemeliharaan pencegahan dan membuat prosedur house keeping.
Membuat tanda bahaya.
Personal Protective Equipment (PPE)
PPE dapat digunakan dalam apabila:
Bahaya tidak dapat dieliminasi melalui engineering atau administrative
controls
Emergency
OSHA

Goggles
Chemical Splash Goggles
Chemical Splash Goggles sebaikanya digunakan ketika ada potensi terkena bahan
kimia.
Chemical splash goggles idealnya memiliki ventilasi indirek sehingga bahan kimia tsb
tidak bisa mengalir ke mata.
Protective Clothing
Ketika ada risiko kontaminasi bahan kimia, protective clothing yang tahan terhadap bahaya
fisik dan kimia dari bahan tsb harus digunakan.
Lab coats sesuai untuk cipratan bahan kimia ringan dan kontaminasi bahan padat,
sedangkan apron plastik atau karet sesuai untuk proteksi dari cairan korosif dan iritatif.

Disposable outer garments (i.e., Tyvek suits) dapat digunakan apabila sulit membersihkan
pakaian dari kontaminasi.
Footwear
Sepatu tertutup digunakan selama di dalam gedung di mana bahan kimia disimpan atau
digunakan. Sepatu terbuka atau sandal sebaiknya tidak digunakan.
Sepatu yang tahan bahan kimia atau boots dapat digunakan untuk menghindari
kemungkinan paparan bahan kimia korosif atau pelarut dalam jumlah yang besar, yang
mungkin bisa masuk ke sepatu biasa. ss
Sepatu kulit cenderung menyerap bahan kimia dan harus dibuang jika terkontaminasi
dengan bahan berbahaya.
Walaupun secara umum tidak digunakan di sebagain besar laboratorium, steel-toed safety
shoes dibutuhkan ketika ada risiko objek besar jatuh atau terguling ke kaki, seperti di tempat
pencucian botol dan fasilitas pemeliharaan hewan.
Gloves
Pemilihan alat pelindung tangan penting dalam laboratorium, mengingat kejadian dermatitis
atau inflamasi pada kulit yang berkaitan dengan kerja sebesar 40-45%.
Tidak hanya bahan kimia penyebab iritasi atau luka bakar, tetapi juga absorbsi melalui kulit
dapat menjadi rute penting pada paparan bahan kimia. Dimethyl sulfoxide (DMSO),
nitrobenzene, dan beberapa pelarut merupakan contoh bahan kimia yang dapat dengan
mudah diabsorbsi melalui kulit dan masuk ke peredaran darah (dapat menimbulkan efek
berbahaya).
Protective gloves harus digunakan ketika memegang bahan kimia berbahaya dan bahan
kimia yang tidak diketahui toksisitasnya, bahan yang korosif, objek yang kasar atau bersisi
tajam, dan bahan dengan suhu ekstrim (terlalu panas atau terlalu dingin).
Ketika memegang bahan kimia, disposable latex, vinyl or nitrile examination gloves sering
digunakan. Gloves ini dapat memproteksi dari kontak atau cipratan insidental.
Selecting the Appropriate Glove Material
Yang perlu diperhatikan:
Tingkat degradasi
Lama paparan
Tingkat penetrasi

Degradasi adalah perubahan fisik dari gloves yang diakibatkan kontak dengan bahan kimia.
Ditandai dengan pengerasan, pengkakuan, pembengkakan, pengkerutan, atau perobekan
glove. Tingkat degradasi mengindikasikan seberapa baik glove akan bertahan ketika terpapar
bahan kimia.
Breakthrough time adalah waktu yang dihabiskan antara kontak awal dengan bahan kimia
pada permukaan gloves sampai bahan kimia masuk ke dalam glove.
Tingkat penetrasi adalah tingkat penyerapan bahan kimia pada permukaan glove, diffusi ke
glove, desorpsi bahan kimia ke dalam glove.

Monitoring & Review


Monitoring and Review:
Memonitor identifikasi bahaya, analisis risiko, dan proses kontrol risiko yang sedang
berlangsung, dan me-review untuk memastikan keefektifannya.
(University of Western Sidney, 2012).
Risk control monitor
Risk control yang dijalankan harus di evaluasi baik saat pelaksanaan dan sesudah pelaksanaan.
Pertanyaan berikut ini membantu untuk evaluasi risk control
Apakah risk control berhasil mengeliminasi atau mengurangi resiko yang berhubungan
dengan hazard ?
Apakah risk control menimbulkan hazard yang baru ?
Apakah informasi, instruksi, dan pelatihan yang diberikan untuk risk control terbukti efektif ?
Apakah pekerja melakukan risk control sesuai yang diinstruksikan ?
Risk control review
Risk control harus di review setelah beberapa waktu diimplementasikan. Risk control ini mungkin
terlihat efektif pada jangka pendek, tetapi pada jangka panjang mungkin sudah tidak efektif lagi.
Terlebih lagi, perkembangan teknologi mungkin menghasilkan solusi yang lebih efektif.
Risk control measure - review
Apakah risk control melibatkan orang kesehatan dan keselamatan kerja ?
Apakah risk control dilakukan langsung karena ada risk yang harus segera ditangani ?

Apakah risk control fokus ke sumber hazard dan tidak ke perorangan ?


Apakah risk control secara signifikan mengurangi jumlah injury pekerja.
Apakah risk control sesuai standar ?
Apaka anda mempertimbangkan risk control jangka pendek/ panjang ?
Apakah perlakuan, jangka waktu, dan efektivitas dari risk control di evaluasi secara berkala ?