Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Aspal pada kehidupan manusia, telah digunakan cukup lama, yang pada waktu itu
sebagian besar dipakai untuk pembuatan bangunan, perapat air, dan juga untuk
mengawetkan bahan lain. Perkembangan selanjutnya adalah untuk penggunaan
konstruksi jalan yang merupakan pemakaian yang tersebar
Pemakaian aspal dalam bidang keteknikan semakin meluas setelah diketahui bahwa
aspal dari sisa penyulingan minyak bumi dapat lebih dikontrol. Tetapi penggunaan aspal
yang paling besar masih dipakai dalam bidang konstruksi jalan, baik itu jalan raya
maupun jalan pelapis landasan pacu pesawat terbang
Bahan aspal yang diperlukan jalan, dipakai aspal dan aspal buatan hasil
penyulingan minyak yang terutama dengan proses penyulingan pakai hampa udara
sehingga tidak banyak merubah sifat aspal atau dalam bentuk emulasi untuk bahan
penutup atap atau untuk keperluan teknik lainnya yang biasanya sifat aspal itu
berhubungan dengan udara atau suhu dan diperlukan aspal dari jenis yang lebih keras
dipakai aspal dari hasil proses oksidasi atau proses pemecahan (cracking) seperti blown
asphalt

1.2

RUMUSAN MASALAH
1.

Apakah yang dimaksud dengan keramik?

2. Apa saja bahan penyusun keramik?


3. Bagaimana proses pembuatan keramik?
4. Bagaimana sifat dari bahan keramik?
5. Apa saja jenis-jenis bahan keramik?
6.

Apa saja kegunaan dan manfaat dari keramik?

1.3

TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini yaitu :
1.

Mengetahui definisi dari keramik

2. Untuk mengetahui bahan penyusun dari bahan keramik


3. Mengetahui proses pembuatan keramik
4. Untuk mengetahui sifat dari bahan keramik
5. Untuk mengetahui jenis-jenis bahan keramik
6. Untuk mengetahui kegunaan dan manfaat dari keramik

BAB II
ISI

2.1 PENGERTIAN KERAMIK


Keramik pada awalnya berasal dari bahasa Yunani, keramos, yang berarti bahan yang
dibakar, maka yang disebut produk keramik adalah mencakup macam-macam produk yang
dibuat melalui proses pembakaran. Kamus dan ensiklopedia tahun 1950-an mendefinisikan
keramik sebagai suatu hasil seni dan teknologi untuk menghasilkan barang dari tanah liat yang
dibakar seperti gerabah, genteng, porselin, dan sebagainya. Tetapi saat ini tidak semua keramik
berasal dari tanah liat. Definisi pengertian keramik terbaru mencakup semua bahan bukan logam
dan anorganik yang berbentuk padat. Adapun juga definisi keramik dari standar ISO adalah
lempeng tipis yang dibuat dari lempung/tanah liat dan atau material anorganik lain, biasanya
digunakan untuk melapisi dinding dan lantai, pada umumnya dibentuk dengan cara ekstrusi (A)
atau dipress/ditekan (B) pada suhu ruang, tetapi dapat juga dibentuk dengan proses lain (C),
kemudian dikeringkan dan sesudah itu dibakar pada suhu yang cukup untuk memperoleh sifatsifat yang diinginkan; ubin dapat diglasir (GL) atau tanpa glasir (UGL), tidak mudah terbakar
dan tidak dipengaruhi cahaya.

2.2 BAHAN PENYUSUN KERAMIK

1. Clay (tanah liat) : Mengandung hidrated aluminum silica (Al2O3, 2SiO2, 2H2O),
merupakan bahan pokok untuk pembuatan keramik, merupakan salah satu bahan yang
kegunaannya sangat menguntungkan bagi manusia karena bahannya yang mudah didapat
dan pemakaian hasilnya yang sangat luas. Kira-kira 70% atau 80% dari kulit bumi terdiri
dari batuan merupakan sumber tanah liat. Tanah liat banyak ditemukan di areal pertanian
terutama persawahan. Dilihat dari sudut ilmu kimia, tanah liat termasuk hidrosilikat
alumina dan dalam keadaan murni mempunyai rumus : Al2O3, 2SiO2, 2H2O dengan
perbandingan berat dari unsur-unsurnya : Oksida Silinium (SiO2) 47%, Oksida

Aluminium (Al2O3) 39%, dan Air (H2O) 14%. Bentuknya seperti lempengan kecil-kecil
hampir berbentuk segi enam dengan permukaan yang datar. Bentuk kristal seperti ini
menyebabkan tanah liat bila dicampur dengan air mempunyai sifat liat (plastis), mudah
dibentuk karena kristal-kristal ini meluncur di atas satu dengan yang lain denga air
sebagai pelumasnya. Mineral liat terbentuk dari hasil hancuran iklim terhadap mineral
primer atau batuan yang mengandung mineral feldspar, mika, piroksin dan eamfibol.
Pada dasarnya mineral liat dapat dibedakan atas 2 kelompok senyawa, yaitu liat silikat
dan liat bukan silikat.

Liat silikat kemudian dibedakan pula dalam 3 tipe yaitu : tipe 1:1, tipe 2:1, dan tipe 2:2.
Tipe dalam hal ini menunjukkan perbandingan antara Si-tetraeder dengan Al-oktaeder.
Dengan mengetahui tipe mineral liat juga dapat ditentukan tingkat hancuran suatu tanah.
Tanah yang mengandung liat 1:1 menunjukkan suatu tanah yang lebih tua daripada tanah
berliat tipe 2:1. Karena Si-oktaeder telah habis tercuci. Disamping liat silikat amorfus,
yaitu alofan. Liat bukan silikat merupakan kelompok senyawa hidrus oksida besi dan
aluminum. Nama hidrus oksida mencerminkan asosiasi antara molekul air dan oksida.
Tanah liat memiliki sifat-sifat yang khas yaitu bila dalam keadaan basah mempunyai sifat
plastis tetapi bila dalam keadaan kering akan menjadi keras, sedangkan bila dibakar akan
menjadi padat dan kuat. Pada umumnya, masyarakat memanfaatkan anah liat (lempung)
sebagai bahan baku pembuatan bata dan gerabah.

Fungsi tanah liat adalah untuk mempermudah proses pembentukan keramik. Sifat dan
keadaan dari tanah liat diantaranya adalah berbutir kasar, rapuh, dalam keadaan basah
mempunyai sifat plastis tetapi bila dalam keadaan kering akan menjadi keras, bila dibakar
akan menjadi padat dan kuat, sangat tahan api.

2. Kwarsa (flint), yaitu bentuk lain dari batuan silica (SiO2). Tujuan pemakaian kwarsa
adalah untuk mengurangi susut kering, mengurangi susut waktu dibakar dan
mempertinggi kwalitas, merupakan rangka selama pembakaran. Sifat-sifat dari kwarsa
yaitu memiliki ukuran partikel yang halus, sifat plastis yang tinggi, memiliki kekuatan
kering yang tinggi, penyusutan pada saat pengeringan dan pembakaran tinggi, warna

setelah pembakaran abu-abu muda karena unsur besinya lebih tinggi dibanding kaolin,
titik lebur tinggi sekitar 1728C.

3. Feldspar, yaitu suatu kelompok mineral yang berasal dari batu karang yang ditumbuk dan
dapat memberikan sampai 25 % flux (pelebur) pada badan keramik. Bila keramik
dibakar,

feldspar

akan

meleleh

(melebur)

dan

membentuk

leburan

gelas

yang menyebabkan partikel tanah dan bahan lainnya melekat satu sama lain. Pada saat
membeku, bahan ini memberikan kekuatan pada badan keramik. Feldspar tidak larut
dalam air, mengandung alumina, silika dan flux yang digunakan untuk membuat gelasir
suhu tinggi.

Feldspar pada saat ini nerupakan group mineral dengan jumlah mineral yang paling
besar di kerak bumi, membentuk sekitar 60% batuan terrestrial. Kebanyakan feldspar
yang tersedia berupa sodium feldspar, potassium feldspar dan feldspar campuran.
Feldspar kebanyakan digunakan pada aplikasi-aplikasi industri yang membutuhkan
kandungan feldspar yang berupa alumina dan alkali.

4. Serbuk Kaca (cullent), yaitu serbuk kaca yang sangat kecil. Kaca biasanya dihasilkan dari
campuran silicon atau bahan dioksida (SiO2) yang merupakan benda amorf, dibentuk
melalui proses pemadatan dari peleburan tanpa kristalisasi. Kaca kadang-kadang
dianggap sebagai cairan kental (viskos) karena bukan kristalin atau amorf. Akan tetapi
hanya beberapa cairan yang dapat membentuk kaca. Pada suhu tinggi, kaca merupakan
cairan sejati, dan pada fase cair ini struktur dari bahan-bahan anorganik belum beraturan
dan atom-atomnya selalu bergerak terus-menerus.

2.3 PROSES PEMBUATAN KERAMIK

1. Penyiapan bahan mentah, meliputi :


a. Penggalian bahan mentah, bahan mentah yang digunakan untuk keramik pada
umumnya adalah lempung/tanah liat. Sebagian besar lempung merupakan bentuk

endapan yang terletak di permukaan bumi sehingga penggaliannya dilakukan


dengan cara terbuka
b. Penimbunan, bahan mentah hasil galian sebaiknya ditimbun dahulu. Selama
dalam penimbunan, lempung ini diberikan air, jika perlu direndam dalam air. Hal
ini perlu dilakukan agar partikel-partikel yang semula di bawah dan kurang
menyerap air menjadi lebih lapuk dan menyerap air. Selain itu juga untuk
melarutkan garam sulfat yang merugikan. Pada saat penimbunan ini, biasanya
juga dilakukan pencampuran dengan bahan lain, misalnya pasir.
c. Penggilingan, Untuk lempung yang berbentuk bongkahan yang keras, sebelum
ditimbun

digiling

terlebih

dahulu.

Penggilingan

dilakukan

dengan

menggunakan kollegrang yang dasarnya berlubang-lubang untuk mendapatkan


susunan besar butir yang lebih homogen. Selama digiling didalam alat ini, bahan
yang sudah menjadi tepung ditambah dengan air sambil digiling, sehingga keluar
dari kollegrang, bahan sudah berbentuk lempung basah. Untuk mendapatkan
lempung yang lebih homogen, dilakukan penggilingan lagi di pugmill (mixer).
Selesai dari pugmill, bahan diolah lagi di dalam extruder. Di dalam alat ini
lempung diaduk dan ditekan, sehingga dihasilkan lempung yang benar-benar
padat berbentuk kolom segi empat atau bulat.
2. Pembentukan Produk Keramik
Proses pembentukan produk keramik sangat menentukan sifat fisik suatu produk
keramik. Cara pembentukan keramik tergantung pada : tujuan pemakaian, sifat
bentuknya dan bahan dasarnya. Ada empat cara pembentukan produk keramik, yaitu :
a. Cara pembentukan dengan proses lempung lembek (soft mud process).
b. Cara pembuatan dengan proses lempung kaku (Stiff mud).
c. Cara Pembentukan dengan masa slip.
d. Cara Pembentukan dengan proses kering.
3.

Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah untuk mnguapkan air yang masih terkandung di dalam
produk mentah tadi, sehingga pada saat dibakar tidak banyak terjadi kerusakan, tidak
berubah sifat maupun bentuknya. Pada saat pengeringan, akan terjadi penyusutan
karena air di dalam bahan mentah akan menguap sehingga butir-butir masa lempung

akan mendekat satu sama lain. Pengeringan produk mentah dilakukan dengan 2 cara,
yaitu :
1) Pengeringan alami, yaitu suatu cara pengeringan yang memanfaatkan matahari
dan suhu di sekitar benda tersebut. Kecepatan pengeringan alami tergantung oleh :
suhu udara di sekitarnya, kelembaban udara, kecepatan gerakan udara.
2) Pengeringan buatan, yaitu cara pengeringan dengan menggunakan tungku
pemanas sehingga radiasi panas dari tungku dimanfaatkan untuk mengeringkan
keramik mentah tadi.
4. Pembakaran
Pembakaran produk keramik bertujuan untuk mendapatkan produk yang bersifat
tidak berubah bentuknya, keras, cukup kuat menahan beban, tahan air, padat dan
tahan terhadap pengaruh cuaca lainnya. Proses yang terjadi pada keramik selama
pembakaran terdiri dari beberapa tahap, yaitu :
a. Tahap penguapan air mekanis sisa pengeringan.
b. Tahap Penguapan air mineral.
c. Tahap Pembakaran Cepat.

2.4 SIFAT BAHAN KERAMIK

Sifat keramik sangat ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia dan mineral
bawaannya. Oleh karena itu sifat keramik juga tergantung pada lingkungan geologi di mana
bahan diperoleh. Sifat yang umum dan mudah dilihat secara fisik pada kebanyakan jenis
keramik adalah britle atau rapuh, hal ini dapat kita lihat pada keramik jenis tradisional seperti
barang pecah belah, gelas, kendi, gerabah dan sebagainya, walaupun sifat ini tidak berlaku pada
jenis keramik tertentu, terutama jenis keramik hasil sintering, dan campuran sintering antara
keramik dengan logam. Sifat lainnya adalah tahan suhu tinggi, sebagai contoh keramik
tradisional yang terdiri dari clay, flint dan feldfar tahan sampai dengan suhu 1200 C, keramik
engineering seperti keramik oksida mampu tahan sampai dengan suhu 2000 C. Kekuatan tekan
tinggi, sifat ini merupakan salah satu faktor yang membuat penelitian tentang keramik terus
berkembang.
Secara umum sifat keramik meliputi :

1. Keras, kuat, tetapi bersifat getas atau mudah pecah


2. Tahan terhadap korosi
3. Kapasitas panas yang baik dan konduktivitas panas yang rendah
4. Sifat listriknya dapat menjadi isolator, semikonduktor, konduktor bahkan superkonduktor
5. Dapat bersifat magnetik dan non magnetic

2.5 JENIS- JENIS KERAMIK

Pada prinsipnya keramik terbagi menjadi dua, yaitu :


1. Keramik Tradisional, yaitu keramik yang dibuat dengan menggunakan bahan alam,
seperti kuarsa, kaolin, dll. Yang termasuk keramik ini adalah : barang pecah belah
(dinnerware), keperluan rumah tangga (tile, bricks), dan untuk industri (refractory).
2. Keramik Halus atau fine ceramics (keramik modern atau biasa disebut keramik teknik,
advanced ceramic, engineering ceramic, techical ceramic) adalah keramik yang dibuat
dengan menggunakan oksida-oksida logam atau logam, seperti : oksida logam (Al2O3,
ZrO2, MgO,dll). Penggunaannya: elemen pemanas, semikonduktor, komponen turbin,
dan pada bidang

medis.

Jenis keramik menurut kepadatan :


1. Gerabah (Earthenware)
Dibuat dari semua jenis bahan tanah liat yang plastis dan mudah dibentuk dan
dibakar pada suhu maksimum 1000C. Keramik jenis ini struktur dan teksturnya sangat
rapuh, kasar dan masih berpori. Agar supaya kedap air, gerabah kasar harus dilapisi
glasir, semen atau bahan pelapis lainnya. Yang termasuk keramik jenis garabah antara
lain bata, genteng, paso, pot, anglo, kendi, gentong dan sebagainya.
2. Keramik Batu (Stoneware)
Dibuat dari bahan lempung plastis yang dicampur dengan bahan tahan api
sehingga dapat dibakar pada suhu tinggi (1200-1300C). Keramik jenis ini mempunyai
struktur dan tekstur halus dan kokoh, kuat dan berat seperti batu. Keramik jenis termasuk
kualitas golongan menengah.

3. Porselin (Porcelain)
Jenis keramik bakaran suhu tinggi yang dibuat dari bahan lempung murni yang
tahan api, seperti kaolin, alumina dan silika. Oleh karena badan porselin jenis ini
berwarna putih bahkan bisa tembus cahaya, maka sering disebut keramik putih. Pada
umumnya, porselin dipijar sampai suhu 1350C atau 1400C, bahkan ada yang lebih
tinggi lagi hingga mencapai 1500C. Porselin yang tampaknya tipis dan rapuh
sebenarnya mempunyai kekuatan karena struktur dan teksturnya rapat serta keras seperti
gelas. Oleh karena keramik ini dibakar pada suhu tinggi maka dalam bodi porselin terjadi
penggelasan atau vitrifikasi. Secara teknis keramik jenis mempunyai kualitas tinggi dan
bagus, disamping mempunyai daya tarik tersendiri karena keindahan dan kelembutan
khas porselin. Juga bahannya sangat peka dan cemerlang terhadap warna-warna glasir.
4. Keramik Baru (New Ceramic)
Keramik yang secara teknis, diproses untuk keperluan teknologi tinggi seperti
peralatan mobil, listrik, konstruksi, komputer, cerobong pesawat, kristal optik, keramik
metal, keramik multi lapis, keramik multi fungsi, komposit keramik, silikon, bioceramic,
dan keramik magnit. Sifat khas dari material keramik jenis ini disesuaikan dengan
keperluan yang bersifat teknis seperti tahan benturan, tahan gesek, tahan panas, tahan
karat, tahan suhu kejut seperti isolator, bahan pelapis dan komponen teknis lainnya.

2.6 KEGUNAAN DAN MANFAAT KERAMIK

Dengan berkembangnya teknologi, pada abad terakhir ini, pemakaian bahan keramik
tidak hanya terbatas pada bahan bangunan dan alat rumah tangga, seperti lantai, batu-bata,
genteng keramik, tegel keramik , pipa-pipa keramik untuk pembuangan, tetapi sudah meningkat
pada keramik untuk bidang teknik, antara lain keramik untuk teknik listrik dan teknik suhu tinggi
seperti isolator listrik, busi kendaraan, transistor dan kapasitor, bata tahan api, ceramic metal,
fibre optic, silicon, dll.
Dalam bidang teknologi kedirgantaraan maupun antariksa, ternyata bagian-bagian
tertentu dari pesawat terbang maupun pesawat luar angkasa terbuat dari bahan keramik. Sebagai
contoh, pesawat antariksa ulang alik Columbia dan Discovery ternyata seluruh badan pesawat
bagian luarnya dilapisi dengan mantel yang tahan api yang terbuat dari keramik yang ringan

(light refractory brick ) yang tahan terhadap suhu yang sangat tinggi. Bahan keramik juga
digunakan di bidang teknologi nuklir. Hal ini disebabkan karena bahan keramik, selain tahan
terhadap suhu yang sangat tinggi, juga sekaligus penghantar panas yang sangat buruk . Bahkan
bahan keramik merupakan bahan satu satunya yang tahan terhadap radiasi nuklir,sehingga
reactor nuklir dimanapun menggunakan bahan keramik sebagai pelindung, agar radiasi tidak
menyebar kemana-mana karena sangat membahayakan .

BAB III
PENUTUPAN

1.1

KESIMPULAN

Keramik merupakan suatu bentuk dari tanah liat yang telah mengalami proses
pembakaran yang pada umumnya terbuat dari tanah liat, kwarsa, feldsfar, dan serbuk kaca. Sifat
keramik ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia dan mineral bawaannya.
Secara umum keramik memiliki sifat keras, kuat, tetapi bersifat getas atau mudah pecah,
tahan terhadap korosi, kapasitas panas yang baik dan konduktivitas panas yang rendah, sifat
listriknya dapat menjadi isolator, semikonduktor, konduktor bahkan superkonduktor, dan dapat
bersifat magnetik dan non magnetic.
Pada umumnya, keramik dapat dibuat dengan cara ekstrusi (atau dipress/ditekan pada
suhu ruang, tetapi dapat juga dibentuk dengan proses lain, kemudian dikeringkan dan sesudah itu
dibakar pada suhu yang cukup. Keramik biasa digunakan untuk bahan bangunan, seperti batubata, genteng keramik, tegel keramik , pipa-pipa keramik untuk pembuangan. Selain itu keramik
juga berfungsi daalam bidang teknik, antara lain keramik untuk teknik listrik dan teknik suhu
tinggi, dalam teknologi kedirgantaraan maupun antariksa, dan digunakan di bidang teknologi
nuklir

DAFTAR PUSTAKA

http://ellyawan.dosen.akprind.ac.id/?p=19
http://www.kimianet.lipi.go.id