Anda di halaman 1dari 13

REVISI

MAKALAH

I J M A
Disusun guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah

: Ushul Fiqh

Dosen Pengampu

: Misbakhudin, Lc, M.Ag

Disusun oleh:
1.
2.
3.
4.
5.

Abdul Chamid
Nurul Khotimah
Mustofiyah
Maslikhah Sulistiowati
Tatik Suryawati

202 109 113


202 109 124
202 109 125
202 109 142
202 109 147

TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2010
0

PENDAHULUAN
Ijma merupakan dasar hukum Islam setelah Al-Quran dan Hadis. Semua
peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadah ghairu mandhah (ibadah
yang tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) seperti bidang muamalah, bidang
pemasyarakatan atau semua hal-hak yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi
tidak ada dasarnya dalam Al-Quran dan hadis.
Ijma merupakan kumpulan salah satu diantara prinsip dari Ushul fiqih atau
dari syariat Islam. Ijma adalah suatu konsensus mengenai permasalahan hukum
Islam baik dinyatakan secara diam maupun secara nyata.

PEMBAHASAN
1. Pengertian Ijma
a. Secara etimologi
Secara etimologi ijma berarti kesepakatan atau konsensus.
Pengertian ini dijumpai dalam Surat Yusuf 12 : 15, yaitu:



Artinya:
Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar
sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur)
Pengertian etimologi ijma adalah

( ketetapan

hati

untuk melakukan sesuatu). Pengertian ini ditemukan dalam Surat Yunus, 10 :


71:


Artinya:
Bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu
Perbedaan antara pengertian pertama dan kedua terletak pada kuantitas
(jumlah) orang yang berketetapan hati. Pengertian pertama mencukupkan
satu tekad saja, sedangkan untuk pengertian kedua memerlukan tekad
kelompok.1
b. Secara terminologi
Ijma adalah kesepakatan seluruh dari kaum muslimin pada suatu
masalah setelah wafatnya Rasulullah SAW atas sesuatu hukum syara dalam
suatu kasus tertentu.2
Adapun pengertian ijma dalam istilah teknis hukum atau istilah syari
terdapat perbedaan rumusan. Perbedaan rumusan itu dapat dilihat dalam
beberapa rumusan atau definisi ijma sebagai berikut:
1) Al-Ghazali merumuskan ijma dengan:
1
2

Drs. H. Nasrun Haroen, M.A, Ushul Fiqh (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 51.
Prof. H.A. Djazuli, Ilmu Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2005), h. 73.



.



Artinya: Kesepakatan umat Muhammad secara khusus atas suatu
urusan agama.
Meskipun dalam sitilah ini dikhususkan kepada umat Nabi
Muhammad, namun mencakup jumlah yang luas, yait seluruh umat Nabi
Muhammad atau umat Islam. Pandangan Imam Al-Ghazali ini mengalami
perubahan dan perkambangan di tangan pengikutnya dikemudian hari.
2) Al-Amidi, yang juga pengikut Syafiiyah merumuskan ijma:
Imam Al-Amidi membatasi ijma itu pada kesepakatan orangorang tertentu dari umat Nabi Muhammad, yaitu ornag-orang yang
mempunyai fungsi sebagai pengungkai dan pengikat atau para ulama
yang membimbing kehidupan keagamaan umat Islam.
3) Definisi yang berbeda dai beberapa ulama fiqh
Menurut mereka tidak menitik beratkan kata semua. Akan tetapi
cukup pada suatu kelompok atau beberapa orang saja. Mereka tisak
mengharuskan kesepakatan menyeluruh dan mencukupkan dengan
kesepakatan kelompok, karena menurut mereka kesepakatan kelompok
ini bukan untuk menetapkan hukum tersendiri di luar apa yang ditetapkan
oleh Quran dan sunah. Bagi mereka ijma itu hanya untuk menemukan
adanya sunah yaitu ucapan atau perbuatan seseorang yang dianggap
mashum (terbebas dari dosa).
4) Al-Nazham (Pemuka kelompok Nazhamiyah, pecahan dari Mutazilah)
Mengemukakan rumusan tentang ijma yaitu suatu perkataan yang
hujjahnya tidak dapat dibantah. Maksudnya setiap ucapan atau pendapat
yang dapat ditegakkan sebagai hujjah syariah, meskipun ucapan
seseorang, walaupun rumusannya tidak sejalan denga arti lughowi yang
mengartikan ijma artinya kesepakatan.

5) Rumusan yang lebih mencakup kepada pengertian ahl al sunnah


dikemukakan oleh Abdul Wahab Khallaf
Konseusus semua mujtahid muslim pada suatu masa setelah Rasul
wafat atas suatu hukum syara mengenai suatu kasus. Dari rumusan
tersebut jelaslah bahwa ijma itu adalah kesepakatan. Dan yang sepakat di
sini yaitu semua mujtahid muslim, berlaku sesudah wafatnya Nabi
Muhammad SAW, karena selama Nabi masih hidup, Al-Quranlah yang
akan menjawab persoalan hukum karena ayat Al-Quran kemungkinan
masih turun dan Nabi sendiri sebagai tempat bertanya tentang hukum
syara.3
2. Syarat-syarat Ijma
Dari definisi ijma di atas dapat disimpulkan beberapa persyaratan ijma.
Syarat-syarat terjadinya ijma adalah sebagai berikut:
a. Yang bersepakat adalah para mujtahid
Para ulama berbeda pendapat tentang istilah mujtahid, secara umum
mujtahid itu diartikan sebagai para ulama yang mempunyai kemampuan
dalam mengistinbath hukum dari dalil-dalil syara.
Dalam kitab jamli al-wajamI disebutkan bahwa yang dimaksud
mujtahid orang yang faqih. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa
mujtahid itu ahlul halli wal aqdi, dan istilah ini sesuai dengan pendapat al
wahid dalam kitab al-isbat. Bahwa mujtahid yang diterima fatwanya adalah
ahlul halli wa aqdi. Kedua pendapat tersebut sebenarnya mempunyai
kesamaan, bahwa yang dimaksud mujtahid adalah orang Islam yang baligh,
berakal, mempunyai sifat terpuji dan mampu mengistinbath hukum dari
sumbernya.
Dengan demikian, kesepakatan orang awam (umum) yang belum
mencapai derajat mujtahid tidak dapat dikatakan ijma. Begitu pula
penolakan mereka.
b. Yang bersepakat adalah seluruh mujtahid
3

Prof. Dr. H. Amir Syarifudin, Ushul Fiqh, Jilid I (Jakarta: PT. Logos Ilmu, 2001), h. 112-

115.

Apabila sebagian mujtahid bersepakat dan yang lainnya tidak


meskipun sedikit maka menurut jumhur ulama hal itu tidak bisa dikatakan
ijma, karena ijma; itu harus mencakup keseluruhan mujtahid. Sebagian
ulama berpandangan bahwa ijma itu sah bila dilakukan oleh sebagian besar
mujtahid, karena yang dimaksud dengan kesepakatan dalam ijma termasuk
pula kesepakatan sebagian besar dari mereka. Begitu pula menurut kaidah
fiqih, sebagian besar itu telah mencakup hukum keseluruhan. Sebagian ulama
lain berpandangan bahwa kesepakatan sebagian besar mujtahid itu adalah
hujjah, meskiupun tidak dikategorikan sebagai ijma. Karena kesepakatan
sebagian besar mereka menunjukkan adanya kesepakatan terhadap dalil
shahih yang mereka jadikan landasan penetapan hukum.
c. Para mujtahid harus umat Muhammad
Para ulama berbeda pendapat tentang arti umat Muhammad. Ada
yang berpendapat bahwa yang dimaksud umat Muhammad adalah orangorang mukallah dari golongan Ahl-halli wal aqdi, ada juga yang berpendapat
bahwa mereka adalah orang-orang mukallaf dari golongan Muhammad.
Namun yang jelas, arti mukallaf adalah muslim, berakal dan telah baligh.
Kesepakatan yang dilakukan oleh para ulama selain umat
Muhammad tidak dapat dikatakan ijma. Hal itu menunjukkan adanya umat
Nabi lain yang berijma. Adapun ijma umat Nabi Muhammad telah dijamin
bahwa mereka tidak mungkin berijma untuk melakukan suatu kesalahan.
d. Dilakukan setelah wafatnya Nabi
Ijma itu tidak terjadi ketika Nabi Muhammad masih hidup, karena
Nabi Muhammad senantiasa menyepakati perbuatan-perbuatan para sahabat
yang dipandang baik dan itu dianggap sebagai syariat.
e. Kesepatakan mereka harus berhubungan dengan syariat
Maksudnya kesepakatan mereka haruslah kesepakatan yang ada
kaitannya dengan syariatnya seperti tentnag wajib, sunah, makruh, haram dll.
Hal itu sesuai dengan pendapat Imam al-Ghazali yang menyatakan
bahwa kesepakatan tersebut dikhususkan pada maslah-masalah agama juga

sesuai dengan pendapat al-Juwaini dalam kitab Al-Warakat, Syafiudin dalam


Qawaidu Ushul, Kamal bin Hamam dalam kitab Tahriri dan lain-lain.
3. Macam-macam (Tingkatan) Ijma
a. Ditinjau dari segi terjadinya dan martabatnya
1) Ijma Sharih/Qauli/Haqiqi
Adalah kesepakatan seluruh mujtahid pada suatu masa terhadap
sesuatu masalah yang berkaitan dengan hukum syara dan kesepakatan ini
dinyatakan secara tegas oleh masing-masing mujtahid.
Menurut Abdul Karim Zaidan ijma sharih dapat terjadi melalui
beberapa jalan yaitu boleh jadi para mujtahid menghadapi sesuatu
masalah, lalu asing-masing mereka menyatakan kesepakatan secara bulat.
Mungkin pula bisa terjadi bahwa para mujtahid tersebut
dihadapkan dengan sesuatu masalah, kemudian masing-masing mereka
terdapat persamannya. Kemungkinan, boleh jadi pula sebagian mujtahid
mengeluarkan fatwa dan fatwa ini sampai ke mujtahid yang lain dan
mereka menyetujuinya. Atau, dapat pula terjadi seorang mujtahid
menetapkan hukum sesuatu masalah dan ketetapan hukum tersebut
disepakati oleh mujtahid yang lain secara nyata.
2) Ijma Sukuti
Yaitu pendapat sebagian ulama tentang suatu masalah yang
diketahui oleh para mujtahid lainnya, tetapi mereka diam. Tidak
menyepakati ataupun menolak pendapat tersebut secara jelas.
Ijma sukuti dikatakan sah bila memenuhi beberapa kriteria sebagai
berikut:
a) Diamnya para mujtahid itu betul-betul tidak menunjukkan adanya
kesepakatan atau penolakan
b) Keadaan diamnya para mujtahid itu cukup lama, yang bisa dipakai
untuk memikirkan permasalahannya dan biasanya cukup untuk
memikirkan

permaslaahannya

mengemukakan pendapatnya.
6

dan

biasanya

cukup

untuk

c) Permasalahan yang difatwakan oleh mujtahid tersebut adalah


permaslahan ijtihadi, yang bersumber dari dalil-dalil yang bersifat
zhanni.
Tentang permasalahan yang tidak boleh diijtihadi, atau yang
bersumber dari dalil-dalil qathi, apabila seorang mujtahid mengeluarkan
pendapat tanpa didasari dalil yang kuat, sedangkan lainnya diam, hal itu
tidak bisa dikatakan jma.
Hal ini karena diamnya mereka tidak dapat dikatakan menyepakati
melainkan meremehkan pemberi fatwa tersebut karena ilmunya masih
dangkal.4
b. Ditinjau dari segi mujtahid yang berijma
Ditinjau dari segi mujtahid yang berijma, ijma terbagi atas beberapa
macam, yaitu:
1) Ijma Ummat
Yaitu ijma yang dimaksud dalam definisi ijma tersebut yaitu
kesepakatan seluruh mujtahid dari kaum muslimin setelah wafatnya
Rasulullah SAW.
2) Ijma sahabat
Yaitu kesepakatan seluruh ulama sahabat terhadap suatu urusan.
3) Ijma Ahli Madinah
Yaitu kesepakatan ulama-ulama penduduk Madinah terhadap suatu
masalah. Ijma dijadikan hujjah oleh Imam Malik.
4) Ijma Ahli Kuffah
Yaitu kesepakatan ulama-ulama penduduk Kuffahterhadap suatu masalah.
Ijma ini dijadikan hujjah oleh Imam Abu Hanifah.
5) Ijma al-Khulafa al-Arbaah
Yaitu kesepakatan empat khalifah pertama, Abu Bakar, Umar bin Khattab,
Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Sebagian ulama menganggap
ijma ini sebagai hujjah.
6) Ijma al-Syaikhan
4

Ade Dedi Rohayana, M.Ag, Ushul Fiqh, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2005), h.

121-125.

Yaitu kesepakatan antara Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Sebagian
ulama juga menganggap ijma ini sebgai hujjah.
7) Ijma al-Itrah
Yaitu kesepakatan ulama-ulama ahli bait.5
4. Kehujjahan Ijma
Para ulama memang berbeda pendapat tentang otoritas ijma ini.
Perbedaan-perbedaan ini lebih banyak dipengaruhi persoalan-persoalan substansi
ijma dan aspek-aspek internal masing-masing mazhab ushul. Persoalan
substansial ijma di sini adalah ijma itu dalam arti kesepakatan seluruh mujtahid
tanpa terkecuali, atau sebagian besar mujtahid saja.
Kemudian persoalan yang menyangkut aspek internal masing-masing
mazhab yaitu terkait pada sumber terbentuknya ijma dan penerimaan mereka
terhadap ijma tersebut.
Terhadap substansial ijma terdapat tiga persoalah yang menjadi
perbedaan di kalangan mazhab ushul, yaitu:
a. Tentang ukuran dan batasan ijma
Para ulama ushul berbeda pendapat tentang ukuran jumlah yang
disebut ijma. Diantara ulama yang mengatakan bahwa ijma itu tidak perlu
adanya kesepakatan seluruh mujtahid, tetapi sudah dipandang cukup jika
jumlah mereka sudah mencaai sebanyak tingkat mutawatir. Akan tetapi,
sebagian ulama ushul berpendapat bahwa ijma itu harus kesepakatan
mujtahid, kalau ada yang tidak setuju meskipun sedikit itu harus kesepatakan
mujtahid, kalau ada yang tidak setuju meskipun sedikit tidak dapat dikatakan
ijma.

b. Kemungkinan terjadinya ijma

Prof. H.A. Djazuli, Op.Cit., h. 75-76.

Para ulama berbeda pendapat tentang kemungkinan adanya ijma dan


kewajiban melaksanakan jumhur ulama berkata ijma itu bisa terjadi bahkan
telah terlaksana.
Menurut Al-Nizam dan golongan Syiah, ijma itu bisa terjadi dengan
mengmukakan beberapa argumentasi, antara lain:
1) Sesungguhnya ijma yang dimaksudkan oleh jumhur ulama tentang
diharuskannya adanya kesepakatan semua mujtahid pada suatu masa
sehingga harus memenuhi kriteria.
2) Ijma itu harus bersadarkan pada dalil baik yang zhanni ataupun Qathii.
apabila berlandaskan pada dalil Qathi tidak diragukan bahwa hal itu tidak
membutuhkan ijma dan sebaliknya apabila menggunakan dalil Zhanni,
dapat dipastikan para ulama akan berbeda pendapatnya dengan
kemampuan berfikir dan daya nalar mereka, disertai berbagai dalil yang
menguatkan pendapat mereka. Itulah beberapa alasan terpenting yang
dikemukakan oleh mereka yang mengingkari adanya ijma.
Adapun mereka yang mengakui adanya ijma memberikan argumen
dengan mengemukakan beberapa contoh, ijma yang telah dilakukan oleh
para mujtahid dari golongan sahabat, seperti nenek mendapat seperenam dari
harta waris, tidak sahnya perempuan muslimin menikah dengan non muslim
dan lain-lainnya.
c. Kehujjahan ijma sebagai dalil
Berbagai pandangan yang muncul di kalangan ulama shul baik klasik
maupun kontemporer, bahwa ijma merupakan salah satu dalul hukum. Akan
tetapi, di kalangan ulama ushul timbul perbedaan pendapat tentang hakekat
dan kekuatan kehujjahan ijma sebagai dalil hukum baik ijma sharih maupun
ijma sukuti.
1) Terhadap ijma sharih, jumhur ulama sepakat bahwa ia merupakan hujjah
qathi yang wajib diamalkan
Dalam pandangan jumhur ulama, haram hukumnya menyalahi
atau menolak ijma sharih, sebaliknya bagi al-Nizzam, sebagian khawarij
dan syiah. Ijma sharih tidak dapat dijadikan sebagai hujjah. Mereka
9

mengatakan Seungguhnya ijma bukan hujjah. Mereka mengingkari dan


menolak kehujjahan ijma.
2) Terhadap ijma sukuti terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama ushul
fiqh
Pendapat pertama menyatakan bahwa ijma sukuti bukan ijma apalagi
untuk dijadikan hujjah, sekalipun hujjah yang bersifat Zhanni (Imam
Syafii dan sebagian ulama Malikiyah).
Pendapat kedua mengatakan bahwa ijma sukuti adalah hujjah yang
qathi dan tidak boleh ditolak, karena kedudukannya sama dengan ijma
sharih meskipun kekuatannya sedikit lebih rendah dari ijma sharih
(sebagian besar pendapat ulama Hanafiyah dan Hanbali)
Pendapat ketiga mengatakan bahwa ijma sukuti tidak digolongkan keada
ijma tetapi menjadi hujjah yang bersifat Zhanni (pendapat sebagian ulama
hanafiyah dan sebagian ulama syafiiyah).
Menurut al-Amidi, para ulama telah sepakat mengenai ijma sebagai
hujjah yang wajib diamalkan. Pendapat tersebut bertentangan syiah, khawarij,
dan al-Nizzam dari golongan mutazilah.
Al-Hijjab berkata bahwa ijma adalah hujjan tanpa harus menanggapi
pendapat al-Nizzam, khawarij dan syiah. Menurut syiah baik Zaidiyah
maupun Imamiyah sebenarnya menerima ijma sebagai hujjah, tetapi ijma
yang mereka terima adalah ijma dari imam-imam mereka yang dianggap
mashum (terpelihara) dari kesalahan.6

Ade Dei Rohayana, .Ag, Op.Cit., h. 126-132.

10

PENUTUP
Dari pembahasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa ijma yaitu
kesepakatan seluruh dari kaum muslimin pada suatu maslaah setelah wafatnya
Rasulullah SAW, atas suatu hukum ysra dalam suatu kasus tertentu. Dan ada
beberapa macam-macam ijma.
a. Dari segi martabat dan terjadinya
1) Ijma sharih/Qauli/Hakiki
2) Ijma Sukuti
b. Dari segi mujtahid yang berijma
1) Ijma ummat
2) Ijma sahabat
3) Ijma Ahli Madinah
4) Ijma Ahli Kuffah
5) Ijma al-Khulafa al-Arbaah
6) Ijma al-Syaikhan
7) Ijma al-Itrah
Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat bagi kita semua. Mohon
maaf apabila dalam penulisan makalah ini banyak kesalahan. Untuk itu kami mohon
kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

11

DAFTAR PUSTAKA
Dedi Rohayana, Ade. 2005. Ushul Fiqh. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press
Djazuli, A. 2005. Ilmu Fiqh. Jakarta: Kencana
Haroen, Nasrun. 1997. Ushul Fiqh. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu
Syarifudin, Amir. 2001. Ushul Fiqh. Jilid I. Jakarta: PT. Logos Ilmu.

12