Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS

Disusun oleh:
Stevanus Jonathan (07120100070)

Pembimbing:
dr. Widya Wirawan.SpPD

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Rumah Sakit Marinir Cilandak
Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan
Periode 22 September 28 November 2014

Daftar isi
BAB I................................................................................ 3
Laporan Kasus..................................................................3
I.1 IDENTITAS PASIEN..................................................................3
I.2 Anamnesis..............................................................................3
I.2.1 Keluhan Utama...................................................................................3
I.2.2 Keluhan Tambahan.............................................................................. 3
I.2.3 Anamnesis (Riwayat Penyakit Sekarang)...................................................3
I.2.4 Riwayat penyakit Dahulu......................................................................4
I.2.5 Riwayat Keluarga................................................................................4
I.2.6 Riwayat kebiasaan............................................................................... 4
I.3 Pemeriksaan Fisik.....................................................................4
I.4 Pemeriksaan Penunjang.....................................................7
I.5 Pengobatan.....................................................................10
I.6 Diagnosa.........................................................................13

BAB III............................................................................14
Tinjauan Pustaka.............................................................14
II.1 Malaria..............................................................................14
II.2 Malaria di Indonesia................................................................14
II.3 Pola Demam.........................................................................15
II.5 Pemeriksaan Penunjang Malaria..................................................16
II.6 Pengobatan..........................................................................17
I.7 Malaria Berat........................................................................19
I.7.1 Gejala Klinis.................................................................................... 20
I.7.2 Pengobatan malaria Berat....................................................................23
I.8 Prognosis.............................................................................26

BAB II Pembahasan Kasus........................................................26


BAB IV.............................................................................29
Tinjauan Pustaka..................................................................29

BAB I
Laporan Kasus
I.1 IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. An

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Usia

: 22 Tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Lap Tembak

Nomor MR

: 00.42.82

I.2 Anamnesis
Auto Anamnesis
I.2.1 Keluhan Utama
Demam Kira-kira 1 minggu
I.2.2 Keluhan Tambahan
Mual , Keram Perut , Batuk
I.2.3 Anamnesis (Riwayat Penyakit Sekarang)
Pasien mengaku datang dengan keluhan demam sekitar 1 minggu yang lalu.
Demamnya seperti naik turun , biasanya suhu naik pada saat malam hari atau pagi
subuh. Pasien mengaku tidak mengukur suhu demamnya .Demam juga bersifat
episodik yaitu demam beberapa waktu disertai penurunan suhu selama kira-kira 2 3
hari lalu naik lagi suhu demamnya. Demam dimulai dengan mengigil hebat terlebih
dahulu kemudian baru badan terasa panas , pasien mengatakan bahwa demam selalu
disertai mengigil dan biasanya setelah badan terasa panas , pasien merasakan sakit
sendi disertai kekakuan sendi. Selain itu juga pasien mengeluh bahwa jika sudah
demam gejala lain yang menyertai adalah sakit di bagian perut dengan keram perut.
Pasien juga mengeluh mengenai pusing yang dirasakan pada saat demam. Setelah
beberapa hari pasien mengatakan bahwa demamnya turun dan bisa beraktifitas seperti
biasa selama kurang lebih 2 3 hari, kemudian demam kembali diserta
mengigil.Pasien tidak melihat adanya bintik-bintik atau ruas-ruas merah yang muncul

setelah demam. Pasien mengaku beberapa minggu belakangan ini pergi ke daerah
lampung 3 minggu yang lalu . Pasien juga mengaku bahwa demamnya ini tidak
memburuk. Pasien juga mengeluh tentang Buang air kecilnya yaitu warnanya seperti
air teh , tidak ada darah ataupun gumpalan-gumpalan . Tidak nyeri saat berkemih serta
tidak ada sakit di bagian perut. Pasien mengaku Buang air besarnya normal tetapi
awalnya encer pada saat-saat demam 2 hari pertama , tidak ada darah ataupun nyeri
perut. Pasien mengeluh batuk batuk tanpa dahak ,tidak ada sesak ataupun darah yang
keluar dari mulut.

I.2.4 Riwayat penyakit Dahulu


Pasien mengaku tidak memiliki riwayat berobat ke rumah sakit sebelumnya . Pasien
juga mengaku tidak ada Riwayat hipertensi , Diabetes , ataupun asthma . Pasien
belum pernah dioperasi ataupun masuk ke rumah sakit karena penyakit lain atau
penyakit dengan gejala yang sama sebelumnya. Pasien juga tidak mengkonsumsi
obat-obatan tertentu sehari-hari.

I.2.5 Riwayat Keluarga


Di keluarga pasien tidak ada riwayat Diabetes ,Hipertensi ,asthma ,thalasemia
,penyakit jantung ,dan penyakit keturunan lainnya.

I.2.6 Riwayat kebiasaan


Pasien tidak merokok dan minum minuman beralkohol .

I.3 Pemeriksaan Fisik


I.3.1 Status Generalis
-

Keadaan umum

: Tampak sakit Ringan

Tingkat kesadaran

: compos mentis

Tanda tanda vital

o Nadi

: 80 kali / menit

o Tekanan darah : 120/90 mmHg


o Pernapasan

: 18 kali / menit

o Suhu

: 36,6 0C

I.3.2 Head to toe examination


I.3.2.1 Kepala
Normosefal, rambut berwarna hitam, wajah berbentuk oval dan tidak terdapat
kelainan bentuk, tidak terdapat luka / lesi.
I.3.2.2 Mata
Mata simetris, tidak ada edema palpebra, konjutiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
pupil isokor dengan diameter 3 mm / 3 mm, refleks cahaya langsung dan tidak
langsung (+/+)
I.3.2.3 Telinga
Bentuk telinga normal dan simetris, tidak terdapat deformitas, liang telinga tidak
terdapat sekret, nyeri tekan tidak ada, pendengaran normal
I.3.2.4 Hidung
Bentuk hidung normal dan simetris, tidak terdapat deviasi, tidak terdapat sekret atau
darah yang keluar dari hidung
I.3.2.5 Mulut dan tengggorok
Bentuk bibir simetris, bibir berwarna merah dan tidak ada tanda tanda sianosis.
Lidah berbentuk normal, lembab dan tidak ada tremor. Uvula, faring dan tonsil tidak
terlihat
I.3.2.6 Leher
Trakea berada di tengah dan tidak terdapat deviasi. Tidak terdapat pembesaran KGB.
I.3.2.7 Thoraks
o Inspeksi
Bentuk dan pergerakan dada simetris, tidak terdapat retraksi
dinding dada, iktus kordis tidak terlihat

o Palpasi
Ichtus cordis teraba 2 jari dibawah dan lateral dari garis
midklavikula sinistra. Tactile fremitus kanan = kiri
o Perkusi
Perkusi pada lapang paru terdengar sonor di seluruh lapang
paru
o Auskultasi
Jantung: suara dasar SI dan SII normal, tunggal murni, irama
irreguler, murmur (-), gallop (-)
Paru : suara napas vesikuler, ronchi (-/-),wheezing (-/-)
I.3.2.8 Abdomen
o Inspeksi
Dinding perut terlihat simetris, bentuk dinding perut datar,
tidak terdapat kelainan pada kulit, pergerakan dinding perut
sesuai dengan irama pernapasan
o Auskultasi
Bising usus (+) normal, tidak menurun atau meningkat dengan
frekuensi : 10 kali / menit
o Palpasi
Dinding perut supel, tidak terdapat distensi abdomen, nyeri
tekan (-), massa (-) pada pemeriksaan dalam dan dangkal.
Pemeriksaan Hati : Teraba pembesaran Hati 2 jari dari costa
Pemeriksaan Spleen : Teraba spleen yang membesar schuffner
2

o Perkusi
Timpani pada seluruh regio abdomen
Ruang Traube : Terisi
I.3.2.9 Ekstremitas
Akral Hangat , tidak terlihat adanya deformitas ataupun massa.
I.3.2.10 Kulit
Kulit tampak sawo matang , tidak ada ruam-ruam merah ataupun
tanda-tanda petechie.

I.4 Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium tgl 19/09/2014 Pertama kali datang
Pemeriksaan
Hasil Nilai normal
Hemoglobin / Hb
10.2 13 17 gr/dl
Hematokrit / Ht
30
37 54%
Leukosit
3.4
5 10 rb/ul
Trombosit
63
150 400
rb/ul
Laju Endap Darah /
45
< 10 mm/jam
LED
Basofil
0
0 1%
Eosinofil
0
2 4%
Neutrofil batang
2
3 5%
Neutrofil segmen
64
50 70%
Limfosit
25
25- 40%
Monosit
9
2 6%
Urinalisis
Urin lengkap
-Warna
-Kejernihan
-Berat Jenis

Hasil
Kuning
Jernih
1.020

-pH
-Protein
-Glukosa
-Keton
-Urobilinogen
-Bilirubin
-Urobilin
-Nitrit
-Blood

5.6
+
-

Nilai Normal
Kuning
Jernih
1.015
1.025
68
+
-

Sedimen
-Leukosit
-Eritrosit
-Epitel
-Bakteri
-Silinder
-Kristal

Hasil
23
0-1
+
+

Nilai Normal
0 5 /LPB
0 1/LPB
-

Laboratorium tgl 20/9/2014 pagi


Pemeriksaan
Hasil Nilai normal
Hemoglobin / Hb
10.2 13 17 gr/dl
Hematokrit / Ht
32
37 54%
Leukosit
2.5
5 10 rb/ul
Trombosit
71
150 400
rb/ul
Laboratorium tgl 20/9/2014 sore
Pemeriksaan
Hasil Nilai normal
Hemoglobin / Hb
9.9
13 17 gr/dl
Hematokrit / Ht
29
37 54%
Leukosit
4.1
5 10 rb/ul
Trombosit
81
150 400
rb/ul
Laboratorium 21/9/2014 pagi
Pemeriksaan
Hasil
Hemoglobin / Hb
9.6
Hematokrit / Ht
27
Leukosit
3.2
Trombosit
68
Laboratorium 21/9/2014 sore
Pemeriksaan
Hasil
Hemoglobin / Hb
9.1
Hematokrit / Ht
27
Leukosit
2.7
Trombosit
55

Nilai normal
13 17 gr/dl
37 54%
5 10 rb/ul
150 400
rb/ul
Nilai normal
13 17 gr/dl
37 54%
5 10 rb/ul
150 400
rb/ul

Laboratorium 22/9/2014 pagi pukul 2.00


Malaria
+ plasmodium vivax
Laboratorium 22/9/2014 siang
Pemeriksaan
Hasil Nilai normal
Hemoglobin / Hb
9.5
13 17 gr/dl

negatif

Hematokrit / Ht
Leukosit
Trombosit

29
3.4
60

Laboratorium 22/9/2014 sore


Pemeriksaan
Hasil
Hemoglobin / Hb
8.8
Hematokrit / Ht
27
Leukosit
2.9
Trombosit
60

Laboratorium 23/9/2014 pagi


Pemeriksaan
Hasil
Hemoglobin / Hb
8.8
Hematokrit / Ht
27
Leukosit
2.9
Trombosit
61
Laboratorium 23/9/2014 sore
Pemeriksaan
Hasil
Hemoglobin / Hb
8.6
Hematokrit / Ht
26
Leukosit
2.9
Trombosit
69
Laboratorium 24/9/2014 pagi
Pemeriksaan
Hasil
Hemoglobin / Hb
7.9
Hematokrit / Ht
24
Leukosit
3.2
Trombosit
87
Parasit count

37 54%
5 10 rb/ul
150 400
rb/ul
Nilai normal
13 17 gr/dl
37 54%
5 10 rb/ul
150 400
rb/ul

Nilai normal
13 17 gr/dl
37 54%
5 10 rb/ul
150 400
rb/ul
Nilai normal
13 17 gr/dl
37 54%
5 10 rb/ul
150 400
rb/ul
Nilai normal
13 17 gr/dl
37 54%
5 10 rb/ul
150 400
rb/ul

Laboratorium 25/9/2014 pagi


Pemeriksaan
Hasil
Hemoglobin / Hb
8.5
Hematokrit / Ht
26
Leukosit
3.4
Trombosit
108

Nilai normal
13 17 gr/dl
37 54%
5 10 rb/ul
150 400
rb/ul

Parasit count

Laboratorium 26/9/2014 (sebelum pulang)


Pemeriksaan
Hasil Nilai normal
Hemoglobin / Hb
8.9
13 17 gr/dl
Hematokrit / Ht
22
37 54%
Leukosit
4.3
5 10 rb/ul
Trombosit
191
150 400
rb/ul
Pemeriksaan Radiologi

Corakan bronkitis

I.5 Pengobatan
Tgl 19/9/2014
Cairan
RL
Obat
Inj Levofloxacin
Inj Ozid
(omeprazole)
Inj PCT
Donperidon
OBH Syr
Cetrizine
Tgl 20/9/2014
Cairan

20 TPM
Dosis
1 x 500
mg
2 x 40 mg
2x1g
3 x 10 mg
3 x CI
OO-I

RL
Obat
Inj Levofloxacin
Inj Ozid
(omeprazole)
Inj PCT
Inj Dexamethason
Donperidon
OBH Syr
Cetrizine
Curcuma

Tgl 21/9/2014
Cairan
RL
Obat
Inj Levofloxacin
Inj Ozid
(omeprazole)
Inj PCT
Inj Dexamethason
Donperidon
OBH Syr
Cetrizine
Curcuma
Tgl 22/9/2014
Cairan
RL
D5%
Obat drip
Artesunat
Codein
Neurobion
Obat
Inj Ozid
(omeprazole)
Inj PCT
Donperidon
OBH Syr
Cetrizine
Curcuma
Doxycyclin (7 hari)

20 TPM
Dosis
1 x 500
mg
2 x 40 mg
2x1g
2 x 1 amp
3 x 10 mg
3 x CI
OO-I
3x1

20 TPM
Dosis
1 x 500
mg
2 x 40 mg
2x1g
2 x 1 amp
3 x 10 mg
3 x CI
OO-I
3x1

20 TPM
100cc / hari
120 mg/ 2 flash
2 x 10 mg
1 amp
Dosis
2 x 40 mg
2x1g
3 x 10 mg
3 x CI
OO-I
3x1
2 x 100 mg

Tgl 23/9/2014
Cairan
RL
D5%
Obat drip
Artesunat
Neurobion
Obat
Inj Ozid
(omeprazole)
Inj PCT
Donperidon
OBH Syr
Cetrizine
Curcuma
Doxycyclin (7 hari)
Codein
Tgl 24/9/ 2014
Cairan
RL
Obat drip
Artesunat
Obat
Inj Ozid
(omeprazole)
Inj PCT
Inj Neurobion
As.Folat
Donperidon
OBH Syr
Cetrizine
Curcuma
Doxycyclin (7 hari)
Codein
Darplex
Tgl 25/9/2014
Cairan
D5%
Obat
Inj PCT
Inj Neurobion
Omeprazole
As.folat
Donperidon
OBH Syr

20 TPM
100cc / hari
120 mg/ 2 flash
1 amp
Dosis
2 x 40 mg
2x1g
3 x 10 mg
3 x CI
OO-I
3x1
2 x 100 mg
2 x 10 mg

20 TPM
Selesai
Dosis
2 x 40 mg
2x1g
1x1
3x1
3 x 10 mg
3 x CI
OO-I
3x1
2 x 100 mg
2 x 10 mg
1 x 4 tab

10 TPM
Dosis
2x1g
1x1
1 x 40 mg
3x1
3 x 10 mg
3 x CI

Cetrizine
Curcuma
Doxycyclin (7 hari)
Codein
Darplex

OO-I
3x1
2 x 100 mg
2 x 10 mg
1 x 4 tab

Tgl 26/9/2014
Cairan
D5%
Obat
Inj PCT
Inj Neurobion
Omeprazole
As.folat
Donperidon
OBH Syr
Cetrizine
Curcuma
Doxycyclin (7 hari)
Codein
Darplex

10 TPM
Dosis
2x1g
1x1
1 x 40 mg
3x1
3 x 10 mg
3 x CI
OO-I
3x1
2 x 100 mg
2 x 10 mg
1 x 4 tab

Tgl 27/9/2014
Cairan
D5%
Obat
Inj PCT
Inj Neurobion
Omeprazole
As.folat
Donperidon
OBH Syr
Cetrizine
Curcuma

10 TPM
Dosis
2x1g
1x1
1 x 40 mg
3x1
3 x 10 mg
3 x CI
OO-I
3x1

Doxycyclin (7 hari)
Codein
Darplex

2 x 100 mg
2 x 10 mg
1 x 4 tab

I.6 Diagnosa
Diagnosa Kerja
Malaria
Diagnosa Banding
Typhoid , DHF , TBC , Pneumonia .

BAB III
Tinjauan Pustaka
II.1 Malaria
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh sporozoa dari genus Plasmodium, yang
penularannya melalui gigitan nyamuk Anopheles. Secara klinis sering ditandai
dengan:

serangan paroksismal dan demam periodik


anemia
pembesaran limpa
kadang-kadang dengan komplikasi pernisiosa seperti ikterik, diare, black

water fever, acutetubular necrosis, dan malaria cerebral.


Keluhan prodromal sebelum terjadinya demam berupa kelesuan, malaise, sakit
kepala, merasa dingin di punggung, nyeri sendi dan tulang, demam ringan,
anoreksia, perut tidak enak, dan diare ringan.

trias malaria yaitu episode dingin/menggigil, episode panas episode berkeringat

II.2 Malaria di Indonesia


Malaria masih merupakan masalah kesehatan utama negara yang sedang
berkembang seperti di Indonesia. Dari empat spesies parasit malaria yang
menginfeksi manusia yaitu Plasmodium falciparum, plasmodium vivax, plasmodium
malariae dan plasmodium oval, dua spesies yang pertama merupakan penyebab lebih
dari 95% kasus malaria di dunia.
Hampir separuh populasi Indonesia sebanyak lebih dari 90 juta orang tinggal
di daerah endemik malaria. Diperkirakan ada 30 juta kasus malaria setiap tahunnya,
kurang lebih hanya 10 % saja yang mendapat pengobatan di fasilitas kesehatan.
Menurut data dari fasilitas kesehatan pada 2001, diperkirakan prevalensi malaria
adalah 850,2 per 100.000 penduduk dengan angka yang tertinggi 20% di Gorontalo,
13% di NTT dan 10% di Papua. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001
memperkirakan angka kematian spesifik akibat malaria di Indonesia adalah 11 per
100.000 untuk laki-laki dan 8 per 100.000 untuk perempuan. Prevalensi kasus malaria
di Indonesia atau daerah-daerah endemi malaria tidak sama, hal ini tergantung pada
prilaku spesies nyamuk yang menjadi vektor. Di Kalimantan Selatan sendiri
merupakan daerah endemis malaria. Vektor malaria yang terdapat di Kalimantan
adalah Anopheles letifer dan Anopheles balabacensis.
Menurut WHO, sekitar 40% kasus malaria di dunia disebabkan oleh P.vivax.
Kasus malaria vivax walaupun jarang fatal tapi merupakan penyebab utama
morbiditas dan

mempengaruhi ekonomi baik tingkat individu maupun nasional.

P.vivax merupakan spesies parasit yang paling dominan di Asia Tenggara, Eropa
Timur, Asia Utara, Amerika tengah dan Selatan.

II.3 Pola Demam


Secara parasitologi dikenal 4 genus Plasmodium dengan karakteristik klinis yang
berbeda bentuk demamnya, yaitu :
1. Plasmodium vivax
Secara klinis dikenal sebagai Malaria tertiana disebabkan serangan demamnya
yang timbul setiap 3 hari sekali. Serangan pertama dimulai dengan sindrom
prodormal berupa: sakit kepala, sakit punggung, mual, malaise umum. Demam
tidak teratur pada 2-4 hari pertama, tetapi kemudian menjadi intermitten

dengan perbedaan yang nyata pada pagi dan sore hari, dimana suhu meninggi
kemudian turun menjadi normal.
2. Plasmodium malaria
Secara klinis juga dikenal juga sebagai Malaria Quartana karena serangan
demamnya yang timbul setiap 4 hari sekali. Suatu serangan seringkali dimulai
secara samar-samar.
Serangannya menyerupai malaria vivax dengan selang waktu antara dua
serangan adalah 72 jam. Serangan demam lebih teratur dan terjadi pada sore
hari. Perjalanan penyakitnya tidak terlalu berat.
3. Plasmodium ovale
Secara klinis dikenal juga sebagai Malaria Ovale dengan pola demam tidak
khas setiap 2-1 hari sekali. Suatu serangan bisa dimulai secara samar-samar
dengan menggigil, diiukuti berkeringat dan demam yang hilang-timbul.
Setelah demam reda, penderita merasakan sehat sampai terjadi menggigil
berikutnya.
4. Plasmodium falciparum
Secara klinis dikenal sebagai Malaria tropicana. Serangan demamnya tidak
teratur dengan gejala yang lebih berat dibandingkan infeksi oleh jenis
plasmodium lainnya.
Suatu serangan bisa diawali dengan menggigil. Suhu tubuh naik secara
bertahap kemudian tiba-tiba turun. Serangan bisa berlangsung selama 20-36
jam. Penderita tampak lebih sakit dibandingkan dengan malaria vivax dan
sakit kepalanya hebat.
Diantara serangan (dengan selang waktu 36-72 jam), penderita biasanya
merasa tidak enak badan dan mengalami demam ringan.

II.5 Pemeriksaan Penunjang Malaria


1. Pemeriksaan tetes darah untuk malaria
a. Apus darah tebal : Cara terbaik untuk menemukan parasit malaria. Sediaan
mudah dibuat. Pemeriksaan negatif bila setelah diperiksa 200 lapang
pandang dengan pembesaran kuat 700-1000 kali tidak ditemukan parasit.
b. Apus darah tipis :digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium.
Kepadatan parasit dapat dinyatakan sebagai hitung parasit, dapat dilakukan
berdasar julah eritrosit yang mengandung parasit per 1000 sel darah
merah. Bila parasit lebih dari 100000/ul darah menandakan infeksi berat.
Pemeriksaan darah tepi (tetes tebal dan hapus tipis)
Tetes tebal

(-)

: SD negatif

(tdk ditemukan parasit dlm 100 LP)

(+)

: SD positif 1 (ditemukan 1-10 parasit/100 LP)

(++)

: SD positif 2 (ditemukan 11-100 prst/100 LP

(+++)

: SD positif 3 (ditemukan 1-10 prst/ 1 LP)

(++++)

: SD positif 4 (ditemukan > 10 prst/ 1 LP)

Kepadatan parasit bila dihitung pd tetes tebal yaitu menghitung jumlah


parasit per 200 lekosit

2. Tes Diagnostik Cepat


Antigen HRP-2 (Histidine Rich Protein 2)

: PF test, ICT test,

Paracheck
Antigen enzim parasit Lactate Dehidrogenase (p-LDH)

: test optimal

Antigen HRP-2 4 spesies plasmodium

: pan malarial

3. Tes serologi
Deteksi adanya antibodi spesifik terhadap malaria atau pada keadaan dimana
parasit sangat minimal.
4. Pemeriksaan PCR
Samgat peka dengan teknologi amplifikasi DNA, waktu yang dipakai cukup
cepat dan sensitivitas maupun spesifisitasnya tinggi. Keunggulannya walaopun
jumlah parasit sedikit, dapat memberikan hasil yang positif.
5. Faal hati : SGOT, SGPT,bilirubin direk dan indirek, prothrombin time
6. Urine lengkap
7. Gula darah

II.6 Pengobatan
Pengobatan malaria menurut keperluannya dibagi menjadi pencegahan bila obat
diberikan sebelum infeksi terjadi, pengobatan supresif bila obat diberikan untuk
mencegah timbulnya gejala klinis, pengobatan kuratif untuk pengobatan infeksi
yang sudah terjadi terdiri dari serangan akut dan radikal, dan pengobatan untuk
mencegah transmisi atau penularan bila obat digunakan terhadap gametosit dalam
darah.

Sedangkan dalam program pemberantasan malaria dikenal 3 cara


pengobatan, yaitu :
1. Pengobatan presumtif dengan pemberian skizontisida dosis tunggal untuk
mengurangi gejala klinis malaria dan mencegah penyebaran
2. Pengobatan radikal diberikan untuk malaria yang menimbulkan relaps jangka
panjang
3. Pengobatan massal digunakan pada setiap penduduk di daerah endemis
malaria secara teratur. Saat ini pengobatan massal hanya di berikan pada saat
terjadi wabah.
Obat antimalaria terdiri dari 5 jenis, antara lain:
1. Skizontisid jaringan primer yang membasmi parasit pra-eritrosit, yaitu
proguanil, pirimetamin
2. Skizontisid jaringan sekunder yang membasmi parasit ekso-eritroit, yaitu
primakuin
3. Skizontisid darah yang membasmi parasit fase eritrosit, yaitu kina, klorokuin,
dan amodiakuin
4. Gametosid yang menghancurkan bentuk seksual. Primakuin adalah gametosid
yang ampuh bagi keempat spesies. Gametosid untuk P.vivax, P.malaria,
P.ovale, adalah kina, klorokuin, dan amidokuin
5. Sporontosid mencegah gametosid dalam darah untuk membentuk ookista dan
sporozoid dalam nyamuk anopheles, yaitu primakuin dan proguanil.

Protokol untuk pengobatan malaria rawat jalan atau rawat inap sebagai berikut:
1. Klorokuin bisa diberikan total 25 mg/KgBB selama 3 hari, dengan perincian
sebagai berikut :
Hari pertama 10 mg/kgBB (maksimal 600 mg basa), 6 jam kemudian
dilanjutkan 10 mg/kgBB (maksimal 600 mg basa) dan 5 mg/kgBB pada 24
jam (maksimal 300 mg basa) + Primakuin 1 hari. Atau hari I dan II masingmasing 10 mg/kgBB dan hari III 5 mg/kgBB + Primakuin 1 hari
2. Bila dengan pengobatan butir 1 ternyata pada hari ke IV masih demam, atau
hari ke VIII masih dijumpai parasit dalam darah, maka di berikan :
a. Kina Sulfat 30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis, selama 7 hari atau
b. Fansidar atau suldox dengan dasar dosis pirimetamin 1-1,5 mg/kgBB atau
sulfadoksin 20-30 mg/kgBB single dose (usia diatas 6 bulan)
3. Bila dengan pengobatan butir 2 pada hari ke IV masih demam atau hari ke
VIII masih dijumpai parasit maka diberikan :

a. Tetrasiklin HCL 50 mg/kgBB, sehari 4 kali selama 7 hari + fansidar/suldox


bila belum mendapat pengobatan butir 2a atau
b. Tetrasiklin HCL + kina sulfat bila sebelumnya mendapatkan pengobatan
butir 2b. Dosis kina dan fansidar/suldox sesuai butir 2a dan 2b (tetrasiklin
hanya diberikan pada umur 8 tahun atau lebih)
4. Bila tersedia dapat di beri obat-obat sebagai berikut :
a. Meflokuin15 mg/kgBB (maksimum 1000 mg) dibagi dalam 2 dosis
dengan jarak waktu pemberian 12 jam secara terpisah. Meflokuin tidak
boleh diberikan sebelum lewat 12 jam pemberian lengkap kina parenteral
b. Halofantrin 8 mg basa/kgBB setiap 6 jam untuk 3 dosis
5. Untuk pencegahan relaps pada P. Vivax dan P. Ovale (untuk umur > 5 tahun)
diberikan primakuin 0,3 mg basa/kgBB/hari selama 14 hari (maksimal 26,3
mg/hari)
Sedangkan menurut WHO (1971), pengobatan malaria secara radikal tertera pada
tabel berikut:
Tabel 3. Pengobatan Malaria Secara Radikal
Malaria

Umur

Hari

Nivaquine

Primakuin

Pemberian

(Klorokuin

basa
-

Tertiana

< 1 thn

basa)
75-150 mg

Tropika

1-4 thn

75-150 mg

Malaria

4-8 thn

dois

8-15 thn

150-300 mg

2,5 mg

150-300 mg

2,5 mg

dosis

2,5 mg

300-400 mg

5 mg

300-400 mg

5 mg

dosis

5 mg

400-600 mg

10 mg

400-600 mg

10 mg

dosis

10 mg

I.7 Malaria Berat

World Health Organization (WHO) 2006: parasitemia P. falsiparum fase aseksual


dengan disertai satu atau lebih gambaran klinis atau laboratoris berikut
1. Manifestasi klinis : kelemahan, gangguan kesadaran, respiratory distress
(pernapasan asidosis), kejang berulang, syok, edema paru, perdarahan
abnormal, ikterik, hemoglobinuria;
2. Pemeriksaan laboratorium: anemia berat, hipoglikemia, asidosis, ganguan
fungsi ginjal, hiperlaktatemia, hiperparasitemia.

I.7.1 Gejala Klinis


Manifestasi malaria berat bervariasi, dari kelainan kesadaran sampai gangguan
organ-organ tertentu dan gangguan metabolisme. Manifestasi ini dapat berbedabeda menurut katagori umur pada daerah tertentu berdasarkan endemisitas
setempat.
1. Faktor Predisposisi
a. Anak-anak usia balita
b. Wanita hamil
c. Penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah, misaInya penderita
penyakit keganasan, HIV, penderita dalam pengobatan kortikostreroid
d. Penduduk dari daerah endemis malaria yang telah lama meninggalkan
daerah tersebut dan kembali ke daerah asalnya.
2. Malaria Serebral
Ditandai dengan : penurunan kesadaran berupa apatis, disorientasi,
somnolen, stupor, sopor, koma yang dapat terjadi secara perlahan dalam
beberapa hari atau mendadak dalam waktu hanya 1-2 jam, sering disertai
kejang. Penilaian penurunan kesadaran ini dievaluasi berdasarkan GCS
(Glasgow Coma Score).
Diperberat karena gangguan metabolisme, seperti asidosis, hipoglikemi,
gangguan ini dapat terjadi karena beberapa proses patologis. Terjadi
perdarahan dan nekrosis sekitar venule dan kapiler.
Penelitian dengan imunofluoresensi memperlihatkan adanya deposit
antigen P. Falsifarum dan imunoglobulin G dalam kapiler otak dan ruang
ekstrvaskular di area inflamasi akut.
3. Jenis Gejala klinis

Beberapa manifestasi dari malaria berat antara lain Malaria Serebral,


Gagal ginjal Akut, Kelaianan Hati (malaria biliosa), Edema Paru ARDS,
Anemia, Hipoglikemia, Hemoglobinuria (Black water fever), Malaria Algid
Asidosis Gastrointestinal Hiponatremia Gangguan Perdarahan , Gagal Ginjal
Akut.
a. Kelainan fungsi ginjal
Dapat terjadi prerenal karena dehidrasi (>50%), dan hanya sekitar 5-10%
disebabkan oleh nekrosis tubulus akut. Gangguan fungsi ginjal ini oleh
karena anoksia yang disebabkan penurunan aliran darah ke ginjal akibat
dehidrasi dan sumbatan mikrovaskular akibat sekuestrasi, sitoadheren dan
rosseting.
b. Kelainan Hati (Malaria Biliosa)
Ikterus sering dijumpai pada infeksi malaria falsifarum, sekuestrasi dan
sitoadheren, obstruksi mikrovaskular. Ikterik karena hemolitik sering
terjadi.
Ikterik yang berat karena P. faisifarum: penderita dewasa >>> anak-anak,
hemolisis, kerusakan sel-sel hepatosit.
kenaikan kadar serum albumin & penurunan ringan kadar serum
transaminase
Ganggguan fungsi hati : hipoglikemia, asidosis laktat, gangguan
metabolisme obat-obatan.
c. Edeme Paru/ARDS
Edema paru dapat terjadi oleh karena hiperpermiabilitas kapiler dan atau
kelebihan cairan dan mungkin j uga oleh karena peningkatan TNF-x.
Penyebab lain Gangguan pernafasan (Respiratory distress):
1) Kompensasi pernafasan asidosis metabolik.
2) Efek langsung dari parasit atau peningkatan tekanan intrakranial pada
pusat pernapasan di otak
3) Infeksi skunder pada paru-paru.
4) Anemia berat.
5) Kelebihan dosis antikonvulsan (phenobarbital) menekan pusat
pernafasan.
d. Anemia
percepatan destruksi sel-sel darah merah dan peningkatan bersihan oleh
limpa, & gangguan (inefektifitas) sistem eritropoesis.

Gambaran umum malaria berat adalah anemia yang sering kali


memerlukan transfusi darah yang terdapat pada sekitar 30% kasus.
Indikasi transfusi bila kadar Hb < 5 g/dI atau bila hematokrit < 15%.
hiperparasitemia disertai dengan anemia berat diperlukan transfusi ganti
(exchange blood transfusion).
e. Hipoglikemi
Hipoglikemi sering terjadi pada anak-anak, wanita hamil, dan penderita
dewasa dalam pengobatan quinine.
Hipoglikemi terjadi karena :
1) Cadangan glukosa << penderita Starvasi atau malnutrisi.
2) Gangguan absorbsi glukosa berkurangnya aliran darah ke
splanchnicus.
3) Meningkatnya metabolisme glukosa di jaringan.
4) Pemakaian glukosa oleh parasit.
5) Sitokin akan menggangu glukoneogenesis.
6) Hiperinsulinemia pada pengobatan quinine.
f. Haemoglobinuria (Black Water Fever)
Klinis ditandai oleh demam, anemia hemolitik, haemoglobinuria, oliguria
dan ikterik, yang bukan disebabkan oleh karena defisiensi G6PD.
g. Malaria Algid
Terjadi gagal sirkulasi atau syok, tekanan sistolik < 70 mmHg , disertai
keringat dingin . Syok dan dehidrasi dan biasanya bersamaan dengan
sepsis.
Pada kebanyakan kasus didapatkan tekanan darah normal rendah yang
disebabkan karena vasodilatasi.
h. Asidosis
Asidosis (bikarbonat < 15meq) atau asidemia (PH < 7,25), pada malaria
menunjukkan prognosis yang buruk.
Keadaan ini dapat disebabkan:
1) Perfusi jaringan yang buruk oleh karena hipovolemia yang akan
2)
3)
4)
5)
6)
7)

menurunkan pengangkutan oksigen


Produksi laktat oleh parasit.
Terbentuknya laktat karena aktifitas sitokin terutama TNF, pada fase
respon akut.
Aliran darah ke hati yang berkurang, sehingga mengganggu bersihan
laktat.
Gangguan fungsi ginjal,sehingga terganggunya ekresi asam.

8) Asidosis metabolik dan gangguan metabolik : pernafasan Kussmaul,


peningkatan asam laktat, dan PH darah menurun (< 7,25) dan
penurunan bikarbonat (< 15meq).
i. Gastro Intestinal
Gejala gastrointestinal sering dijumpai pada malaria falsifarum berupa
keluhan tak enak diperut, flatulensi, mual, muntah, kolik, diare atau
konstipasi.
j. Hiponatremia
Terjadinya hiponatremia disebabkan karena kehilangan cairan dan garam
melalui muntah dan mencret.
k. Gangguan Perdarahan
Gangguan perdarahan oleh karena trombositopenia sangat jarang.
Perdarahan lebih sering disebabkan oleh Koagulasi intravaskular
diseminata (KID).

I.7.2 Pengobatan malaria Berat


Pengobatan malaria berat secara garis besar terdiri atas 3 komponen

1.

suportif (perawatan umum dan pengobatan simtomatis)


spesifik dengan kemoterapi anti malaria
komplikasi
Pengobatan Suportif
Menjaga keseimbangan cairan elektrolit dan keseimbangan asam-basa,
mengatasi keadaan hipovolemia. Perhatikan cairan & oksigenisasi lancarnya
saluran nafas dan kalau perlu dengan ventilasi bantu.
suhu 40' C (hipertermia)
1). Kompres dingin intensif
2). Pemberian anti piretik untuk mencegah hipertermia, parasetamol
15mg/kgBB/kali, diberikan setiap 4 jam.
Anemia diberikan transfusi darah, yaitu bila Hb < 5 g/dl atau hematokrit < 15
%. Pada keadaan asidosis perbaikan anemi merupakan tindakan yang utama
sebelum pemberian koreksi bikarbonat.
Kejang diberi diazepam 10-20 mg intravena diberikan secara perlahan atau
phenobarbital 100mg diberikan 2 kali sehari.

2. Pengobatan Spesifik
a. Artemisin
pilihan pertama untuk pengobatan malaria berat malaria falsiparum yang
resisten terhadap klorokuin maupun kuinin.
Golongan artemisin yang dipakai untuk pengobatan malaria berat antara
lain :
1) Artemether
diberikan dengan dosis 3,2mg/kgbb/hari im pada hari pertama,
dilanjutkan dengan 1,6mg/kgbb/han (biasanya diberikan dengan dosis
160mg dilanjutkan dengan dosis 80mg) sampai 4 hari (penderita dapat
minum obat), kemudian dilanjutkan dengan obat kombinasi peroral.
2) Artesunate
Artesunate diberikan dengan dosis 2,4mg/kgbb iv pada waktu masuk
(time= 0) kemudian pada jam ke 12 dan jam ke 24, selanjutnya setiap
hari sekali sampai penderita dapat minum obat dilanjutkan dengan obat
oral kombinasi.
Pengobatan

lanjutan

peroral

pada

penderita

yang

sebelumnya

mendapatkan pengobatan dengan Artemeter ini atau Artesunate iv dapat


berupa kombinasi Artesunate dengan Amodiaquin selania 3 hari atau
kombinasi Kuinin dengan Tetrasiklin/Doksisiklin/Klindamisin selama 7
hari.
b. Kuinin HCL
Kumin HC1 25% 500mg (dihitung BB rata-rata 50kg) dilarutkan
dalarn 500cc Dekstrose 5% atau Dekstrose dalam larutan saline diberikan
selarna 8 jam, atau pemberian infus dalarn cairan tersebut diberikan
selarna 4jam, kemudian diulang dengan cairan yang sama terus menerus
sampai penderita dapat minum obat dan dilanjutkan dengan pembenian
kuinin peroral dengan dosis 3 kali sehari 10mg/kgBB (3x600mg), dengan
total pemberian kuinin keseluruhannya selamia 7 hari.
Kuinin HC1 25% dengan dosis loading 20mg/kg/BB dalam 100-200cc
cairan dekstrose 5% (NaC1 0,9%) selama 4jam, dan dilarjutkan dengan 10
mg/kgbb dilarutkan dalam 200 ml dekstrose 5% diberikan dalam waktu 4
jam. Selanjutnya diberikan dengan dosis dan cairan serta waktu yang sama
setiap 8 jam.. Apabila penderita sudah sadar penderita dapat minum obat

dan dilanjutkan dengan pemberian kuinin peroral dengan dosis 3 kali


sehari

10mg/kgBB

(3x600mg),

dengan

total

pernberian

kuinin

keseluruhannya selama 7 hari. Dosis loading ini tidak dianjurkan pada


penderita yang telah mendapat pengobatan kumin atau meflokuin dalarn
24jam sebelumnya, penderita usia lanjut atau pada penderita dengan
pemanjangan Q-Tc interval/arittriia pada basil pemeriksaan EKG.
Selama pemberian kuinin parenteral monitoring
1). Gula darah setiap 8 jam
2). EKG. Kuinidin glukonate diberikan dengan dosis 7,5 mg/kg/BB selama
4 jam setiap 8 jam sampai penderita dapat mimun obat.
c. Klorokuin
jarang dipakai untuk pengobatan malaria berat. Klorokuin diberikan
bila masih sensitif atau pada kasus demam kencing hitam (black water
fever) atau pada mereka yang diketahui hipersensitif terhadap kina.
Klorokuin basa diberikan dengan :
Dosis loading 10 mg/kgbb dilarutkan dalarn 500 ml NaC1 0,9% diberikan
dalarn, 8 jam, kemudian ditanjutkan dengan dosis 5mg/kgBB per infus
selama 8 jam dan sebanyak 3 kali (dosis total 25mg/kgBB selarria 32 jam).
Bila secara intravena tidak memungkinkan, dapat diberikan secara intra
muskuleratau sub kutan dengan cara: 3,5mg/kgBB k1oroquin basa dengan
interval setiap 6 jam, atau 2,5mg/kgBB kloroquin basa dengan interval
setiap 4 jam.
d. Transfusi Ganti (Exchange Transfusion)
Tindakan transfusi ganti dapat menurunkan secara cepat pada keadaan
parasitemia. Tindakan mi berguna untuk mengeluarkan eritrosit yang
berparasit, menurunkan toksin hasil parasit dan metabolismenya (sitokin
dan radikal bebas) serta memperbaiki anemia.
3. Pengobatan Komplikasi
a. Gagal ginjal akut
Hemodialisis atau hemofiltrasi dilakukan sesuai dengan indikasi
umumnya. Dialisis dini akan memperbaiki prognosis.
b. Hipoglikemia (gula darah <50mg/dl)
Pada penderita yang tidak sadar harus dilakukan pemeriksaan gula darah
setiap 4-6 jam. Bila terjadi hipoglikemi berikan suntik dekstrosa 40% i.v,

dilanjutkan dengan infus dekstrosa 10% dan gula darah tetap dipantau tiap
4-6 jam. Monitoring gula darahjuga harus dilakukan pada penderita yang
mendapat pengobatan dengan kuinin
c. Koma
Jaga jalan nafas, singkirkan penyebab lain dari koma (hipoglikemi,
meningitis bakteri). Hindari pemakaian kortikosteroid, Heparin dan
adrenalin.
d. Syok
Suspek septikemia, pemeriksa kultur darah, antimikroba parenteral, atasi
ganguan hemodinamik.

I.8 Prognosis
Prognosis pada malaria berat tergantung pada:
1. Kecepatan/ketepatan diagnosis dan pengobatan
Makin cepat dan tepat dalam menegakkan diagnosis dan pengobatannya akan
memperbaiki prognosisnya serta memperkecil angka kematiannya.
2. Kegagalan fungsi organ
Kegagalan fungsi organ dapat tejadi pada malaria berat terutama organ-organ
vital. Semakin sedikit organ vital yang terganggu dan mengalami kegagalan
dalam fungsinya, semakin baik prognosisnya.
3. Kepadatan parasit
Pada pemeriksaan hitung parasit (parasite count) semakin padat/banyak
jumlah parasitnya yang didapatkan, semakin buruk prognosisnya, terlebih lagi
bila didapatkan bentuk skizon dalam pemeriksaan darah tepinya.

BAB II Pembahasan Kasus


Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh sporozoa dari genus Plasmodium,
yang penularannya melalui gigitan nyamuk betina Anopheles. Pada manusia terdapat
4 spesies yaitu plasmodium vivax, plasmodium falcifarum, plasmodium malaria dan
plasmodium ovale. Daur hidup keempat spesies malaria pada manusia umumnya
sama. Proses ini terdiri dari fase seksual eksogen (sporogoni) dalam badan nyamuk
Anopheles dan fase aseksual (skizogoni) dalam badan horpes. Fase aseksual

mempunyai 2 daur yaitu skizogoni eritrosit dan skizogoni eksoeritrosit. Plasmodium


vivax menyebabkan penyakit malaria vivax (malaria tertiana). Pada infeksi
plasmodium vivax daur eksoeritrosit berlangsung terus sampai bertahun-tahun
melengkapi perjalanan penyakit yang dapat berlangsung lama (bila tidak diobati)
disertai banyak relaps.
Pada pasien ini dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik , serta pemeriksaan
menunjang mengarah ke penyakit malaria.
Anamnesis menunjukkan bahwa pasien mengalami gejala klasik malaria yaitu demam
ditandai dengan fase mengigil terlebih dahulu lalu demam yang diakhiri dengan fase
berkeringat.Lalu demamnya ini bersifat episodik dimana setelah demam akan diakhiri
sengan fase sehat sekitar 2 sampai 3 hari kemudian demam kembali. Umumnya fase
pasien merasa sehat kembali berlangsung 12 jam pada p.falciparum , 36 jam pada
p.vivax , dan 60 jam pada p.Malariae. Akan tetapi dengan perubahan yang terjadi hal
ini tidak dapat dijadikan patokan untuk mendiagnosis pasien dengan tipe malaria
tertentu. Kemungkinan memang pasien ini terkena malaria vivax karena p.vivax lebih
sering menunjukkan gejala trias malaria. Demam dan mengigil terjadi karena eritrosit
lisis dan keluarnya merozoit ke sirkulasi.
Masa tunas intrinsik malaria vivax biasanya berlangsung 12 17 hari, tetapi beberapa
strain P.vivax dapat sampai 6 9 bulan atau mungkin lebih lama. Masa inkubasi
untuk P. vivax lebih lama dibandingkan P.falcifarum yaitu18 40 hari. Anamnesa
yang sangat mendukung diagnosis malaria pada penderita demam adalah riwayat
bepergian kedaerah endemis malaria. Pada pasien ini ditemukan riwayat berpergian ke
daerah endemis malaria yaitu Lampung.
Hasil pemeriksaan morfologi darah tepi menunjukkan berbagai stadium dari
spesies P.vivax, yaitu stadium tropozoit muda, tropozoit setengah dewasa, tropozoit
dewasa,

schizoit

dan

gamet.

Diagnosis

pasti

malaria

dilakukan

dengan

menemukan parasit dalam darah yaitu pemeriksaan morfologi darah tepi melalui
apusan darah tepi tebal maupun tipis dengan pewarna Giemsa. Pada morfologi darah
tepi menunjukkan adanya fase aseksual dan seksual parasit dalam darah. Pada fase
aseksual, merozoit dari skizon hati masuk ke peredaran darah menghinggapi eritrosit.
Merozoit dalam eritrosit tumbuh menjadi trofozoit muda yang berbentuk cincin,
dengan pulasan giemsa sitoplasmanya berwarna biru, inti merah mempunyai vakuol
yang besar. Eritrosit yang dihinggapi parasit mengalami perubahan yaitu menjadi

besar, berwarna pucat dan tampak titik-titik halus berwarna merah yang bentuk dan
besarnya sama disebut titik schuffner. Trofozoit muda kemudian menjadi trofozoit
dewasa yang sangat aktif sehingga sitoplasmanya tampak berbentuk amoeboid.
Setelah daur eritrosit berlangsung beberapa kali terjadi fase seksual, merozoit yang
tumbuh menjadi trofozoit dapat membentuk gametosit.
Pasien ini pertama masuk didiagnosa dengan suspek DHF. Gejala klinis DHF adalah
panas, rasa lemah, nafsu makan kurang, anemia, splenomegali, hepatomegali. Pada
pasien ini tidak terdapat perdarahan.Setelah dilakukan pemeriksaan morfologi darah
tepi ditemukan parasit P.vivax maka diagnosa pasien ini menjadi malaria vivax.

BAB IV

Tinjauan Pustaka
1.Millet JP, Ollalla PG, Santisteve PC et al. Imported malaria in a cosmopolitan
European city: a mirror image of the world epidemiological situation.
Malaria Journal 2008; 7 (56): 1-9

2.Munthe CE. Malaria serebral.Cermin dunia kedokteran2001; 131: 5-6


3.Kawai S, Ikeda E, Sugiyama M et al. Enhancement of splenic glucose
metabolismduring acute malarial infection: correlation of findings of FDG-PET
imaging with pathological changes in a primate model of sever human malaria. Am. J.
Trop.Med. Hyg 2006; 74 (3): 353 60
4.Umar N. Gambaran penyakit malaria di bagian anak Rumah Sakit Umum
LangsaAceh Timur.Cermin dunia kedokteran1994; 94: 14-15
5.WHO. Guidelines fot the treatment of malaria. 2006. Dari URL: www.who.int
6.Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 UNICEF Indonesia, 2000, Multiple
Indicator Cluster Survey Report on the Education and Health of Mothers and Children