Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK KI-2242

PERCOBAAN K-1
VISKOSITAS CAIRAN SEBAGAI FUNGSI SUHU

Nama

Mohammad Mersa Bayu Wibisono

NIM

13712046

Kelompok

Shift

Rabu Siang

Tgl Percobaan

9 Oktober 2013

Tgl Laporan

16 Oktober 2013

Asisten

Deasy Anisa N.R.

10510044

Daris Q. N.

20513035

LABORATORIUM KIMIA FISIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2013

VISKOSITAS CAIRAN DALAM PERSAMAAN SUHU


I.

TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan besar viskositas cairan menggunakan metode Oswald.
2. Menentukan perubahan nilai viskositas pada temperatur yang berbeda.

II.

TEORI SINGKAT
Setiap fluidaa, gas, ataupun cairan memiliki suatu sifat yang dikenal sebagai
viskositas yang didefinisan sebagai ketahanan yang dilakukan suatu lapisan fluida
terhadap lapisan lainnya.
Pada aliran laminer, fluida dalam pipa dianggap terdiri atas lapisan molekulmolekul yang bergerak satu diatas yang lainnya dengan kecepatan yang berbedabeda profil kecepatan berbagai lapisan ini berbentuk parabola dengan kecepatan
paling tinggi terdapat pada lapisan di bagian tengah pipa.
Salah satu cara untuk menentukan viskositas cairan adalah metode kapiler dari
Poiseulle. Pada metode ini diukur waktu yang diperlukan suatu volume cairan
untuk mengalir di pipa kapiler pada tekanan tetap. Dalam hal ini, cairan yang
mengalir dengan laminar, dinyatakan dengan persamaan Poiseulle

R = Jari-jari
L = Panjang pipa
Bila fluida yang berbeda melalui pipa kapiler yang sama maka berlaku
perbandingan antara fluida pertama dengan yang kedua yang dinyatakan dalam

Viskositas cairan adalah fungsi ukuran dan permukaan molekul, gaya tarik
antar molekul dam struktur cairan. Tiap molekul dalam cairan dianggap dalam
keadaan setimbang, maka sebelum lapisan molekul dapat melewati suatu lapisan
lainnya diperlukan suatu energi tertentu. Sesuai dengan hukum distribusi
maxwell-boltzman, jumlah molekul yang memiliki energi yang diperlukan untuk
mengalir dihubungkan dengan faktor e-E/RT. Fluiditas berhubungan dengan faktor
tersebut, sedangkan viskositas dengan eE/RT.

Pengukuran viskositas menggunakan viscometer. Adapun beberapa jenis


viscometer lainnya selain viscometer Ostwald yaitu Viskometer Hoppler yang
meninjau bola yang digelindingkan pada tabung gelas yang berisi zat cair yang
diselidiki, Cup and Bob yang meninjau sample yang digeser- geser diantara
lapisan Cup dan Bob, dan viscometer Cone and Plane yang digunakan dengan
cara meletakan sample ditengah papan kemudian dibaujjab ghingga dibawah
kerucut.
Viskositas menentukan kemudahan suatu molekul bergerak karena adanya
gesekan antara molekul, karena viskositas menunjukan tingkat ketahanan suatu
cairan untuk mengalir. Semakin besar viskositas maka aliran semakin lambat.
Besarnya viskositas dipengaruhi beberapa factor antara lain temperature, gaya
tarik molekul, ukuran, dan jumlah molekul terlarut, fluida, cair atau gas, yang
jenisnya berbeda memiliki tingkat kekentalan yang berbeda pula. Pada zat cair,
viskositas disebabkan karena gaya kohesi yaitu gaya tarik menarik antar molekul
sejenis, sedangkan pada gas disebabkan oleh tumbukan antar molekul.

III.

DATA PENGAMATAN
T. Ruang

= 26C

W. Piknometer kosong = 18,75 g


Zat

t2(s)

t3(s)

tAVG(s)

8,42

8,14

8,4

8,32

30

7,72

7,68

7,53

7,64

40

7,31

7,34

7,36

7,367

45

7,01

6,88

6,77

6,887

26
Air

Toluena

W.pikno+

t1(s)

T(C)

zat(g)
43.4

26

39,6

7,43

7,42

7,39

7,413

30

39,31

7,26

7,14

7,09

7,15

40

39,11

7,05

7,11

7,07

7,0787

45

38,67

6,92

6.79

6,82

6,843

T. Ruang

= 26C

W. Piknometer kosong = 28,51g


Zat

t2(s)

t3(s)

tAVG(s)

5,93

6.67

6,00

6,00

30

5,56

5,50

5,51

5,523

40

5,14

5,20

5,16

5,167

45

4,98

5,02

5,03

5,01

26
Air

Metanol

IV.

W.pikno+

t1(s)

T(C)

zat(g)
60,36

26

53,63

4,23

5,25

5,29

5,257

30

53,36

4,99

5,01

5,00

5,00

40

53,21

4,84

4,9

4,89

4,877

45

53,05

4,7

4,07

4,68

4,683

PENGOLAHAN DATA
1. Penentuan Volume Piknometer
V Piknometer =
W Pikno

W. Pikno+

Kosong (gr)

air (gr)

Methanol

28,51

60,36

0,996783

31,953

Toluena

18,75

43,6

0,996783

24,93

Zat

air (g/ml)

V pikno
(ml)

2. Penentuan Methanol dan Toluena di Berbagai Suhu


Methanol =

Toluena =

W.Pikno Kosong
Suhu
(C)

(gr)

W Pikno+ Zat (gr)

Zat (g/ml)

VAVG Pikno (ml)

Methanol

Toluena

Methanol

Toluena

Methanol

Toluena

Methanol

Toluena

26

28,51

18,75

53,63

39,6

31,953

24,93

0,786

0,836

35

28,51

18,75

53,36

39,31

31,953

24,93

0.778

0,825

40

28,51

18,75

53,21

39,11

31,953

24,93

0,773

0,817

45

28,51

18,75

53,05

38,67

31,953

24,93

0,768

0,799

3. Penentuan air, Methanol, dan Toluena

Zat

Air

V avg

t avg (s)

(g/ml)

(gr/ml s)

8,32

0,996783

0,000871

28,4415

7,64

0,99408

0,000720

40

28,4415

7,367

0,99225

0,000653

45

28,4415

6,887

0,99022

0,000596

26

28,4415

6,00

5,257

0,786

0,0006018

35

28,4415

5,523

5,00

0.778

0,0005104

40

28,4415

5,167

4,877

0,773

0,0004802

45

28,4415

5,01

4,683

0,768

0,00023208

26

28,4415

8,32

7,413

0,836

0,000632

35

28,4415

7,64

7,15

0,825

0,0005592

T(C)

pikno(ml)

Air

26

28,4415

35

Zat

Methanol

Toluena

40

28,4415

7,367

7,0787

0,817

0,0005166

45

28,4415

6,887

6,843

0,799

0,0004778

4. Penentuan E dan A
Ln =
y= mx + c
ln A= c

Zat

Air

Methanol

Toluena

T (C)

1/T (K)

(g/ml s)

ln

26

0,003339

0,000871

-7,04567

35

0,003247

0,000720

-7,23626

40

0,003195

0,000653

-7,33393

45

0,0031446

0,000596

-7,42527

26

0,003339

0,0006018

-7,41558

35

0,003247

0,0005104

-7,58036

40

0,003195

0,0004802

-7,64131

45

0,0031446

0,00023208

-8,36843

26

0,003339

0,000632

-7,366621

35

0,003247

0,0005592

-7,48900

40

0,003195

0,0005166

-7,56824

45

0,0031446

0,000478

-7,64624

A. Grafik

terhadap ln pada air

ln
-7
0.0031
-7.05

0.0032

0.0033

y = 1956.9x - 13.584
R = 0.9989
0.0034

-7.1
-7.15
-7.2

ln
Linear (ln )

-7.25
-7.3
-7.35
-7.4
-7.45

B. Grafik

terhadap ln pada air

ln
-7
0.0031 0.00315 0.0032 0.00325 0.0033 0.00335
-7.05

y = 1956.9x - 13.584
R = 0.9989

-7.1
-7.15
-7.2
-7.25
-7.3
-7.35
-7.4
-7.45

ln
Linear (ln )

C. Grafik terhadap ln pada Methanol

ln
-7.2
0.0031 0.00315 0.0032 0.00325 0.0033 0.00335
-7.4

y = 4272.3x - 21.557
R = 0.7057

-7.6
ln

-7.8

Linear (ln )
-8

Linear (ln )

-8.2
-8.4
-8.6

D. Grafik terhadap ln pada Toluena

ln
-7.3000000
0.0031
-7.3500000

0.0032

0.0033

y = 1435,9496 x -12,1576
R = 0,7465
0.0034

-7.4000000
-7.4500000

Y-Values

-7.5000000
-7.5500000

Linear (YValues)

-7.6000000
-7.6500000
-7.7000000

E. Tabel Hasil E dan A

Zat

Air

16269,66

- 13.584

Methanol

35519,9

- 21.557

Toluena

18753.06

- 14.767

5. Penentuan Tetapan Van der Waals


y = mx +c
=m +b

b= tetapan Van der Waals

zat (g/ml s)

Zat

T(C)

zat (g/ml)

Air

26

0,996783

1,00322

0,000871

1148,1

35

0,99408

1,005955

0,000720

1388,89

40

0,99225

1,00781

0,000653

1531,39

45

0,99022

1,00988

0,000596

1677,85

26

0,786

1,27226

0,0006018

1661,68

35

0.778

1,28535

0,0005104

1959,25

40

0,773

1.29366

0,0004802

2082,46

45

0,768

1,302

0,00023208

4308,86

26

0,836

1,19617

0,0007398

1351,72

35

0,825

1,21212

0,0005592

1788,27

40

0,817

1,22399

0,0005166

1935,73

45

0,799

1,25156

0,000478

2092,05

metanol

toluena

A. Grafik Terhadap Pada Air

Y-Values
1.012
1.01
1.008
1.006
1.004
1.002
0

500

1000

1500

Persamaan regresi: y = 1,24*10-5 x 0,9887874

2000

B.Grafik Terhadap Pada Methanol

1/zat
1.3100
y = 8,44 *10^-6 x + 1,2671
R = 0,6593

1.3050
1.3000
1.2950
1.2900

1/zat

1.2850

Linear (1/zat )

1.2800
1.2750
1.2700
0

1000

2000

3000

4000

5000

C.Grafik Terhadap Pada Toluena

1/
1.260
y = 7 * 10^-5 x + 1,1
R = 0,8476

1.250
1.240
1.230
1.220

1/

1.210
1.200
1.190
1.180
0

500

1000

1500

2000

D. Tabel Hasil Harga b


Zat

Harga b

Air

- 78732

Methanol

- 21481

Toluena

- 13535

2500

Linear (1/)

F. PEMBAHASAN

G. KESIMPULAN
1. Dari data hasil percobaan diatas didapatkan beberapa harga densitas dan juga
viskositas dari air, toluene dan methanol dalam berbagai suhu antara lain :
Zat

T(C)

(g/ml s)

(g/ml)

Air

26

0,000871

0,996783

35

0,000720

0,99408

40

0,000653

0,99225

45

0,000596

0,99022

26

0,0006018

0,786

35

0,0005104

0.778

40

0,0004802

0,773

45

0,00023208

0,768

26

0,0007398

0,836

35

0,0005592

0,825

40

0,0005166

0,817

45

0,000478

0,799

Metanol

Toluena

2. Perubahan nilai viskositas dari air, toluena dan methanol terlihat pada data
hasil percobaan diatas terbukti bahwa nilai viskositas suatu larutan sangat
dipengaruhi oleh temperatur larutan tersebut.

H. DAFTAR PUSTAKA
Daniels, farrington dan Robert A. Alberty. 1961. Physical Chemistry 2nd Edition.
McGrawHill Book Company: USA. Halaman 350-353.
J. M. Wilson et al, Experimental in Physical Chemmistry ed. 2, 1969. Halaman
8-9
http://lilt.ilstu.edu/ewpeter/geo360/water%20density%20table.pdf
ftp://dge.stanford.edu/pub/joeberry/Stomata/Kestin_ea_Viscosity.pdf
http://www.engineeringtoolbox.com/water-dynamic-kinematic-viscosityd_596.html
http://people.ucsc.edu/~bkdaniel/WaterProperties.html
http://www.scribd.com/doc/88464157/Viskositas-Cairan-Sebagai-Fungsi-Suhu

I. LAMPIRAN
A. JAWABAN PERTANYAAN
1. Bilangan Reynolds adalah rasio antara gaya inersia (vs) terhadap gaya
viskos (/L) yang mengkuantifikasikan hubungan kedua gaya tersebut
dengan suatu kondisi aliran tertentu. Bilangan ini digunakan untuk
mengidentikasikan jenis aliran yang berbeda, misalnya laminar dan
turbulen. Aliran laminar merupakan aliran fluida yang bergerak dengan
kondisi lapisan- lapisannya membentuk garis- garis alir yang tidak
berpotongan satu sama lain. Pada laju aliran rendah laminar tergambar
sebagai filament panjang yang tergambar sepanjang aliran. Maka, dapat
disimpulkan fungsi bilangan reynold adalah untuk mengkuantifikasi
hubungan antara gaya inersia terhadap gaya viskos.
2. Cara untuk mengukur viskositas suatu zat ialah dengan menggunakan
viscometer, adapun beberapa jenis viscometer berikut penjelasan
singkatnya ialah antara lain
Viskometer Brookfield
Pada viscometer ini nilai viskositas didapatkan dengan mengukur gaya
puntir sebuah rotor silinder yang dicelupkan ke dalam sample. Viskometer
Brookfield memungkinkan untuk mengukur viskositas dengan
menggunakan teknik dalam viscometry. Alat ukur kekentalan
dapatmengukur viskositas melalui kondisi aliran berbagai bahan sampel
yang diuji. Untuk dapat mengukur viskositas sampel dalam viskometer
Brookfield, bahan harus diam didalam wadah sementara poros bergerak
sambil direndam dalam cairan.Pada metode ini sebuah spindle dicelupkan
ke dalam cairan yang akan diukur viskositasnya. Gaya gesek antara
permukaan spindle dengan cairan akan menentukan tingkat viskositas
cairan.
Viskometer Oswald
Pada viscometer ini yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh
sejumlah cairan tertentu untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya
yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri. Didalam percobaan diukur
waktu aliran untuk volume V melalui pipa kapiler yang vertical.

Viskometer Hoppler
Yang diukur adalah waktu yang diperlukan oleh sebuah bola untuk
melewati cairan pada jarak atau tinggi tertentu. Karena adanya gravitasi
benda yang jatuh melalui medium yang berviskositas dengan kecepatan
yang semakin besar sampai mencapai kecepatan maksimum. Viskometer
Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antaradinding luar dari bob
dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah.
Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang
disebabkan geseran yang tinggi di sepanjangkeliling bagian tube sehingga
menyebabkan penurunan konsentrasi. Penurunan konsentras ini
menyebabkab bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini
disebut aliran sumbat.
Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah papan,
kemudian dinaikkan hingga posisi di bawah kerucut. Kerucut digerakkan
oleh motor dengan bermacam kecepatan dan sampelnya digeser di dalam
ruang semitransparan yang diam dan kemudian kerucut yang berputar

TABEL VISKOSITAS AIR DAN MASSA JENIS AIR