Anda di halaman 1dari 11

PRAKTIKUM UOP 1 MODUL KONDUKSI

Nama Kelompok : 3r
Anggota Kelompok :
1. Danar Aditya
2. Endah Sasmita
3. Reyhan Jonathan
4. Rizki Mulia

SOAL dan JAWABAN TES AWAL KONDUKSI

1. Sebutkan tujuan dari praktikum modul konduksi!


Jawaban:
a. Menghitung koefisien perpindahan panas logam dan pengaruh suhu terhadap k,
dengan menganalisis mekanisme perpindahan panas konduksi tunak dan tak tunak.
b. Menghitung koefisien kontak

2. Sebutkan prosedur dalam melakukan praktikum ini!


Jawaban:
1. Memeriksa jaringan air pendingin masuk dan keluar peralatan konduksi, memeriksa
apakah air pendingin mengalir ke dalam alat dengan membuka kran pengontrol.
2. Mengalirkan air pendingin dengan laju kecil
3. Menghubungkan kabel ke sumber listrik
4. Memasang milivoltmeter, set mV meter pada penunjuk mV, DC.
5. Meng-ON-kan saklar utama dan unit dan
6. Mengatur heater unit pada angka 5 dan unit pada angka 400
7. Mengamati suhu tiap node 1 s/d 10 setiap 5 menit untuk unit 2 dan 3
8. Mengamati suhu air keluar untuk unit 2 dan 3
9. Menghentikan pengamatan apabila suhu node 10 tidak berubah pada 3 kali
pengamatan

3. Jelaskan apa itu konduksi dan jelaskan pula jenis-jenis konduksi (maksimal 1
halaman)!

Jawaban:
Konduksi adalah Perpindahan

kalor

secara

konduksi

adalah

proses

perpindahan kalor dimana kalor mengalir dari daerah yang bertemperatur tinggi ke
daerah yang bertemperatur rendah dalam suatu medium (padat, cair atau gas) atau
antara medium-medium yang berlainan yang bersinggungan secara langsung
sehingga terjadi pertukaran energi dan momentum.

Benda suhunya tinggi akan melepaskan kalor, sedangkan zat yang suhunya
rendah akan menerima kalor, hingga tercapai kesetimbangan termal.
Terjadinya konduksi kalor dapat diterangkan dengan teori molekul. Pada
bagian zat yang panas, molekul-molekul bergetar lebih cepat dan membentuk
molekul-molekul lain di sekitarnya. Benturan-benturan itu mengakibatkan molekulmolekul di sekitarnya juga bergetar lebih cepat dan suhunya naik (semakin panas).
Contoh Sepotong logam dipanasi pada salah satu ujungnya maka ujung yang lain akan
terus panas.
Jenis-jenis konduksi :
a. Konduksi Tunak
Perpindahan kalor konduksi tunak adalah perpindahan kalor secara konduksi
(tanpa disertai perpindahan partikel-partikel zat tersebut) dimana sistem berada
dalam kondisi setimbang atau tidak berubah terhadap waktu. Perpindahan kalor
konduksi tunak dapat dibedakan menjadi kategori satu dimensi dan dimensi
rangkap.
SATU DIMENSI
Pada perpindahan kalor konduksi tunak 1D, gradien suhu dinyatakan dalam satu
koordinat ruang saja. Contohnya adalah system konduksi yang melalu system
pelat datar, sistem silinder dan bola.
DUA DIMENSI

Pada perpindahan kalor konduksi tunak 2D, gradien suhu dinyatakan dalam dua
koordinat ruang saja. Dengan menganggap bahwa konduktivitas termal
konstan, berlaku persamaan Laplace.
b. Konduksi Tak Tunak
Perpindahan panas konduksi secara tak tunak maksudnya adalah panas berpindah
dari suhu yang lebih tinggi ke suhu yang lebih rendah dengan suatu medium yang
bersinggungan secara langsung, namun suhunya berubah dengan waktu. Pada
pemanasan oven dan microwave, fenomena ini terjadi pada makanan saat awal
pemanasan. Suhu makanan naik seiring dengan bertambahnya waktu karena
adanya pemanasan, hingga nanti akan tercapai kesetimbangan suhu.

4. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor yang memengaruhi perpindahan panas


konduksi!
Jawaban:

Faktor-faktor yang mempengaruhi konduksi adalah:


a) Perbedaan suhu antara kedua permukaan

Konduksi karena perbedaan suhu kedua permukaan(Sumber: www.composite.about.com)

Perpindahan panas secara konduksi dapat terjadi jika ada sebuah benda yang memiliki
dua permukaan yang suhunya berbeda. Jika terdapat perbedaan suhu, maka panas akan
mengalir melalui molekul-molekul dalam benda tersebut dari suhu tinggi ke suhu rendah.
Perpindahan panas ini sesuai dengan hukum alam dimana keadaan yang lebih
banyak/berat akan pindah ke keadaan yang lebih ringan agar tercapai suatu
kesetimbangan.

b) Ketebalan dinding zat perantara

Ketebalan dinding suatu zat perantara mempengaruhi perpindahan panas secara


konduksi. Semakin tebal dinding benda, maka perpindahan panas secara konduksi akan
semakin lambat. Hal ini disebabkan oleh semakin jauhnya jarak panas tersebut untuk
berpindah melalui molekul-molekul zat padat. Jarak yang semakin jauh membuat panas
memerlukan waktu yang lebih lama untuk berpindah dari tempat bersuhu tinggi ke suhu
rendah.
c) Luas Permukaan

Pengaruh luas permukaan terhadap perpindahan panas secara konduksi(Sumber: www.nist.gov)

Panas yang berpindah melalui medium dengan luas permukaan besar, akan
menghasilkan perpindahan panas yang besar pula. Hal ini disebabkan karena permukaan
yang luas memberikan penyebaran panas secara merata melalui molekul-molekul medium
tersebut. Permukaan yang luasnya besar juga memiliki penyebaran molekul yang tidak
terpusat di satu titik sehingga tidak menghambat perambatan panas. Hal ini sesuai dengan
persamaan:

Dimana luas permukaan benda berbanding lurus dengan panas yang merambat.

d) Konduktivitas thermal zat

Pengertian dari konduktivas thermal adalah kuantitas panas yang melewati suatu
material terhadap unit waktu dan dipengaruhi oleh luas medium dan perbedaan suhu.
Konduktivitas thermal dilambangkan dengan k, memiliki satuan W/(m.K) atau
Btu/(hr.ft.F). Nilai konduktivitas thermal berbeda-beda untuk setiap material.

Pengukuran nilai konduktivitas thermal bisa dilakukan dengan berbagai macam cara,
tergantung dari batasan suhu yang mampu diterima material. Cara yang biasa dilakukan
untuk memperoleh nilai konduktivitas thermal suatu material adalah cara steady-state.
Biasanya, material yang memiliki konduktivitas tinggi adalah logam karena kemampuan
elektronnya untuk berpindah tempat secara cepat.

e) Jenis medium perpindahan panas

Benda yang digunakan sebagai medium perpindahan panas juga mempengaruhi


perpindahan panas. Benda yang terbuat dari logam merupakan konduktor yang baik.
Logam memiliki kemampuan untuk mudah terionisasi dan elektronnya mudah berpindah
tempat secara cepat. Kemampuan seperti ini membuat panas yang merambat melalui
logam bisa dihantarkan dengan cepat oleh molekul-molekulnya.

5. Sebutkan data-data yang perlu diambil dalam praktikum ini! (Buat dalam bentuk
tabel)
Jawaban:
Data-data yang perlu diambil dalam percobaan ini adalah:
A. UNIT 2
Laju air pendingin (Q) = x mL/s
Suhu air masuk = x C
dx = jarak antar node
Tnode 1 = Suhu node 1
Tnode 2 = Suhu node 2
Tair 1 = Suhu air 1
Tair 2 = Suhu air 2
Tabel data percobaan UNIT 2
NODE
1
2
3
4

dx (m)

Tnode 1 (mV)

Tnode 2 (mV)

Tair 1 (C)

Tair 2 (C)

5
6
7
8
9
10

B. UNIT 3
Laju air pendingin (Q) = x mL/s
Suhu air masuk = x C
dx = jarak antar node
Tnode 1 = Suhu node 1
Tnode 2 = Suhu node 2
Tair 1 = Suhu air 1
Tair 2 = Suhu air 2

Tabel data percobaan UNIT 2


NODE
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

dx (m)

Tnode 1 (mV)

Tnode 2 (mV)

Tair 1 (C)

Tair 2 (C)

6. Jelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang ingin
dicapai dalam nomor 1!
Jawaban:
a) Tujuan 1 = Menghitung koefisien perpindahan panas logam dan pengaruh suhu
terhadap k, dengan menganalisa mekanisme perpindahan panas konduksi tunak dan tak
tunak.

Untuk menghitung nilai koefisien perpindahan panas (k) dari masing-masing bahan
penyusun node dihitung dengan menggunakan azas Black, dimana kalor yang diterima
sama dengan kalor yang dilepaskan (keluar). Secara matematis ditunjukkan oleh
persamaan berikut:

(6.1)

dimana,

= Laju alir massa


= Konstanta perpindahan panas air
= Perbedaan temperature air ditiap node
= Luas permukaan logam yang tegak lurus dengan arah perpindahan
kalor (luas penampang logam)
= Beda suhu logam rata-rata pada tiap node
= Jarak antar node

Nilai k untuk masing-masing logam (stainless steel, aluminium, dan magnesium) dapat
dihitung dengan menghitung k untuk keadaan steady pada setiap daerah antar 2 node,
kavg stainless steel = k node1-2
kavg aluminium = (k node3-4 + k node 4-5 + k node 5-6)/3
kavg magnesium = (k node 7-8 + k node 8-9 + k node 9-10)/3
dT dihitung dengan menggunakan metode finite difference.

Pengaruh temperature terhadap nilai koefisien perpindahan kalor (k) dapat dilihat dari
persamaan mula-mula yaitu:
(6.2)

Dimana dari persamaan diatas dapat dilihat bahwa nilai k dari suatu bahan akan
semakin besar apabila selisih suhu semakin kecil dan begitu juga sebaliknya, jika nilai
k suatu bahan semakin kecil maka selisih suhu semakin besar.

b) Tujuan 2 = Menghitung koefisien kontak.


Nilai koefisien kontak (hc) dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
(

)(6.3)

dimana,
Lg = Tebal ruang kosong antara A dan B
kf = Konduktivitas fluida dalam ruang kosong
A = Luas penampang total batang
Ac = Luas penampang batang yang kontak
Av = Luas penampang batang yang tidak kontak

Dari modul diketahui bahwa Lg = 5 x 10-6m dan Ac/A = 0.5

Asumsi bahwa fluida yang terperangkap didalam ruang kosong adalah udara,
sehingga harga kf sangat kecil jika dibandingkan dengan nilai ka dan kbdan bisa
diabaikan, persamaannya menjadi ;
(

)(6.4)

Untuk menghitung nilai A dapat menggunakan persamaan berikut dimana D


merupakan diameter dari penampang yang digunakan.
(6.5)

Untuk menghitung nilai k baik ka dan kb dapat dicari dari masing-masing bahan
penyusun node dihitung dengan menggunakan azas Black, dimana kalor yang
diterima sama dengan kalor yang dilepaskan (keluar). Secara matematis
ditunjukkan oleh persamaan berikut:

(
(

dimana,

)
)

(6.6)

= Laju alir massa


= Konstanta perpindahan panas air
= Perbedaan temperature air ditiap node
= Luas permukaan logam yang tegak lurus dengan arah
perpindahan kalor (luas penampang logam)
= Beda suhu logam rata-rata pada tiap node
= Jarak antar node

Nilai k untuk masing-masing logam (stainless steel, aluminium, dan


magnesium) dapat dihitung dengan menghitung k untuk keadaan steady pada
setiap daerah antar 2 node,

a) kavg stainless steel = k node1-2


b) kavg aluminium = (k node3-4 + k node 4-5 + k node 5-6)/3
c) kavg magnesium = (k node 7-8 + k node 8-9 + k node 9-10)/3
dT dihitung dengan menggunakan metode finite difference.

7. Sebutkan dan jelaskan persamaan-persamaan yang terlibat dalam perhitungan


modul konduksi ini!
Jawaban:
Koefisien yang dihitung pada percobaan modul konduksi ini adalah nilai k, nilai dan
nilai hc, sehingga persamaan yang terlibat hanya hukum fourier, persamaan konduktivitas
termal dan persamaan pada tahanan kontak termal.
Hukum Fourier
Hukum Fourier digunakan pada perhitungan laju perpindahan kalor secara konduksi.
Hukum ini menunjukan bahwa waktu rata-rata perpindahan kalor melalui media sebanding
dengan gradien suhu dan daerah yang dilalui kalor tersebut.
(7.1)
dimana q merupakan laju perpindahan kalor (W atau J/s), A luas penampang yang tegak
lurus arah arus kalor (m2), dan

adalah gradien suhu perpindahan kalor (oC/m), serta k

adalah konduktivitas termal benda atau media yang mengaliri kalor tersebut (W/moC).
Hukum Fourier juga dapat dinyatakan dalam bentuk integrasi, yaitu:

(7.2)
dengan syarat bahwa nilai k sama pada T2 dan T1. Jika konduktivitas termal berbuah
menurut hubungan linear dengan suhu, maka persamaan kalor dapat diubah menjadi:
[(

)](7.3)

Konduktivitas Termal
Konduktivitas termal adalah sifat suatu bahan atau media dalam menghantarkan
panas. Dengan kata lain, konduktivitas termal menunjukkan berapa cepat kalor mengalir
dalam bahan tertentu. Nilai konduktivitas termal dapat diperoleh dari persamaan umum
konduksi, yaitu:
(7.4)
dimana T adalah perbedaan suhu dan x adalah ketebalan permukaan media yang
memisahkan dua suhu. Nilai konduktivitas panas didapat dari:

Konduktivitas termal dapat dijelaskan pula sebagai kuantitas panas (Q) yang
diteruskan pada waktu t melalui ketebalan media (x), dengan luas A, dengan perbedaan
suhu T, pada keadaan tunak dan ketika perpindahan panas hanya bergantung pada
gradien suhu. Konduktivitas termal bergantung pada sifat-sifat bahan, khususnya struktur
bahan, dan suhu. Biasanya perubahan k dapat diperkirakan dengan fungsi linear, yaitu:
(

Tahanan Kontak Termal


Apabila dua batangan padat dihubungkan maka akan terjadi tahanan kontak termal
seperti pada. Dua sisi batang tersebut diisolasi sehingga aliran kalor hanya terjadi pada
arah aksial, yaitu searah sejajar poros. Meskipun konduktivitas termal kedua bahan
berbeda, fluks kalor yang melewati bahan tersebut dalam keadaan tunak akan sama karena
sisinya diisolasi. Penurunan suhu secara tiba-tiba pada bidang B terjadi karena tahanan
kontak termal.
Dengan menerapkan neraca energi pada kedua bahan, didapatkan
(7.5)

Dengan 1/hcA adalah tahanan kontak termal dan hc adalah koefisien konduktansi
termal. Ada beberapa hal yang mempengaruhi tahanan kontak termal. Perpindahan kalor
pada sambungan dapat terjadi melalui konduksi zat padat dengan zat padat pada titik
singgung dan melalui gas yang terkurung pada ruang-ruang lowong yang terbentuk karena
persinggungan (hal inilah yang memberikan tahanan terbesar bagi aliran kalor karena
konduktivitas gas yang sangat kecil). Aliran kalor yang melintasi sambungan :

dimana Ac adalah bidang kontak, Av adalah bidang kosong, Lg adalah tebal ruang lowong,
kf adalah konduktivitas termal fluida, A adalah luas penampang total batangan. Dengan
menyelesaikan persamaan tersebut, maka diperoleh hc yaitu koefisien kontak
(

Referensi :
1. Pitt, Donald R. 1983. Heat Transfer. Singapore : MC Graw-hill.
2. Holman, J.P. 1994. Perpindahan Kalor. Edisi ke-6. Jakarta : Erlangga.