Anda di halaman 1dari 2

Transplantasi ginjal

Pelaksanaan pre-operatif
Tujuan praoperatif adalah mengembalikan status metabolic pasien kekadar normal sedekat mungkin.
Pemeriksaan fisik lengkap dilakukan untuk mendeteksi dan menanggani setiap kondisi yang
kemungkinan dapat menyebabkan komplikasi akibat transplantasi. Sample jaringan, sample darah, dan
skrining anti bodi dilakukan untuk menentukan kecocokan jaringan dan sel dari donor dan resipient.
Berbagai tes diagnostic lain harus dilengkapi untuk mengidentifikasi kondisi yang memerlukan
penangganan terutama untuk transplant. Traktur urinarius bawah diteliti untuk mengkaji fungsi leher
kandung kemih dan untuk mendeteksi refluks uretral. Pasien harus bebas dari infeksi pada saat
menjalani transplantasi ginjal Karena pasien ini mengalami imunosupresi dan beresiko terhadap infeksi.
Oleh karena itu, pasien harus dievaluasi dan ditanggani terhadap penyakit gingival dan karier gigi.
Evaluasi psikososial diarahkan untuk mengkaji kemampuan pasien dalam menyesuaikan diri dengan
transplant, pola koping, riwayat social, ketersediaan dukungan social dan sumber financial. Riwayat
penyakit psikiatri juga penting untuk dikaji, karena kondisi psikiatri sering diperburuk oleh kortikosteroid
yang diperlukan untuk imunosupresi pada transplantasi. Hemodialisis sering dilakukan sehari sebelum
jadwal prosedur transplantasi untuk menyakinkan status fisik pasien.

Penatalaksanaan pasca operatif


Tujuan perawatan setelah transplantasi ginjal adalah untuk mempertahankan homeostatis sampai ginjal
transplant berfungsi dengan baik. Ginjal yang dapat berfungsi segera merupakan tanda prognosis yang
mengembirakan .
Terapi imunosupresif. Kelangsungan ginjal transplant bergantung pada kemampuan tubuh untuk
menyekat respons imun terhadap ginjal transplant. Untuk mengatasi atau mengurangi mekanisme
pertahanan tubuh, medikasi imunosupresif seperti Azathioprine (Imuran), kortikosteroid (prednisone),
siklosporin, dan OKT-3 (antibodi monoclonal) dapat diberikan. FK-506 (prograf) telah disetujui
pemakaiannya oleh FDA pada bulan april 1994, sebagai agen imunosupresif terbaru dipasaran. FK-506
serupa dengan siklosporin dan 100 kali lebih poten. Globulin antilimfosit (ALG) kadang-kadang
digunakan untuk memodifikasi respon imun. Plamaleukaferesis (PLP), drainasi limfe, dan siklofosfamid
(cytoxan) merupakan metode imunosupresi lain yang jarang digunakan.
Dosis agens imunosupresif ditingkatkan secara bertahap selama beberapa minggu lebih, bergantung
pada respons imunologis pasien terhadap transplant. Namun demikian, pasien akan mengkonsumsi
medikasi antirejeksi seumur hidup.
Rejeksi tandur. Rejeksi tandur ginjal dan kegagalan dapat terjadi dalam waktu 24 jam (hiperakut), dalam
3 sampai 14 hari (akut), atau setelah beberapa tahun (kronik). Rejeksi akut jarang terjadi pada tahun
pertama setelah transplantasi. Ultrasound dapat digunakan untuk mendeteksi pembesaran ginjal,
sedangkan biopsy renal dan teknik radiografi digunakan untuk mengevaluasi rejeksi transplant. Jika

transplant ditolak pasien akan kembali menjalani dialysis. Ginjal yang ditolak tersebut dapat diangkat
atau tidak bergantung pada kapan penolakan tersebut terjadi (akut vs kronik) dan risiko infeksi jika ginjal
dibiarkan di tempat.

Smeltzer, S.C. 2002. Brunner dan Suddarth Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2.
Jakarta: EGC.