Anda di halaman 1dari 22

BAB I

LAPORAN KASUS
1.1 Identifikasi
Nama

: Tn.P

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 56 tahun

Kebangsaan

: Indonesia

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Buruh

Status

: Menikah

Alamat

: bogor

MRS

: 07 oktober 2014

1.2 Anamnesis
Keluhan Utama

Terdapat benjolan pada kantong kemaluan sebelah kanan.

Riwayat Perjalanan Penyakit

5 tahun SMRS OS mengeluh timbul benjolan pada daerah perut kanan bawah sebesar telur
puyuh. Benjolan tersebut keluar masuk. Saat aktivitas berat benjolan tersebut membesar, saat
berbaring benjolan tersebut hilang.
OS mengaku benjolan semakin membesar, jika pasien berdiri dan mengejan benjolan tersebut
keluar, namun disaat berbaring benjolan menghilang dan sangat menganggu saat beraktivitas
serta sesekali nyeri pada benjolan tersebut. Benjolan tersebut masih bisa keluar masuk. Mual
dan muntah tidak ada, makan dan minum biasa, bab dan bak biasa. Demam tidak ada.
Riwayat hipertensi (-) dan riwayat pengobatan (-).
Mual muntah (-), kembung (-), demam (-), BAB darah (-). BAK tidak ada kelainan. BAB
terakhir 1 hari SMRS.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riw sulit BAB (-)

Riw sulit BAK (-)

Riw batuk lama (-)

Riw trauma testis (-)

Riw kencing manis (-)

Riwayat Kebiasaan :
Merokok (+). Minum alkohol (-). Olahraga (-). Riwayat mengangkat beban berat.

1.3 Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Pernafasan

: 18x/menit

Nadi

: 88x/menit

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Suhu

: 36,4C

Status Generalis
Kepala

: Konjungtiva palbebra pucat (-/-)


Sklera ikterik (-/-)

Pupil

: Isokor, refleks cahaya (+/+)

Leher

: tidak ada kelainan

Kelenjar-kelenjar

: tidak ada pembesaran

Thorax

: tidak ada kelainan

Abdomen

: tidak ada kelainan

Genitalia

: dibahas lebih lanjut dalam status lokalis

Ekstremitas Superior

: tidak ada kelainan

Ekstremitas Inferior

: tidak ada kelainan

Status Lokalis
Genitalia

Inspeksi

: terdapat massa dengan bentuk agak bulat dengan ukuran 7 x 7 x 5 cm di daerah


inguinal dextra ke skrotum dextra berwarna seperti warna kulit disekitarnya tidak
tegang dan tidak terdapat tanda-tanda radang

Palpasi

: teraba massa dengan bentuk agak bulat dengan ukuran 7x7x5 cm di daerah
inguinal dextra ke skrotum dextra, permukaan rata, nyeri tekan (-) massa teraba
kenyal.

Auskultasi : Bising Usus (+).


Tes valsavah: (+)
Finger test : ujung jari menyentuh hernia HIL

1.4 Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium pre-operasi tanggal 4 Maret 2013
Pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

Hemoglobin

14,2g/dl

14 16 g/dl

Leukosit

8900 /L

5000 10000 /L

Trombosit

317.000/L

150.000 400.000 /L

Bleeding time

3 menit

1 6 menit

Clotting time

11 menit

10 15 menit

1.5 Diagnosis Banding


Hidrokel, lipoma, limfadenitis

1.6 Diagnosis Kerja


Hernia Scrotalis Dekstra
1.7 Penatalaksanaan
Non OP:
-

Observasi TNRS

IVFD RL 1000/24 jam

Inj ceftriaxone 1x2gr

Inj ketorolac 3x30 mg

Diet bebas

OP: Herniotomi + herniorapy

1.8 Prognosis
Quo ad vitam

: Bonam

Quo ad functionam : Bonam


Quo ad sanasionam : Bonam

TINJAUAN PUSTAKA
Hernia Secara Umum
Definisi
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian
lemah dari dinding rongga bersangkutan (fascia dan muskuloaponeurotik) yang menberi jalan
keluar pada alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut. Pada hernia abdomen, isi
perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding
perut. Hernia terdiri atas 3 hal : cincin, kantong dan isi hernia.

Klasifikasi hernia
Hernia diberi nama menurut tempat dimana terdapat kelemahannya. Hernia dibagi menjadi
beberapa macam, antara lain :

1. Berdasarkan kausanya:
a. hernia congenital
b. hernia akuisita/dapatan, dimana hernia dapat terjadi karena peningkatan tekanan intra
abdominal.
2. Berdasarkan sifatnya:
a. hernia reponibilis
Jika isi kantong hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengedan, dan
masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri dan gejala
obstruksi usus.

Gambar 1. Hernia reponibilis


b. Hernia irreponibilis
Jika isi kantong hernia tidak dapat keluar masuk. Ini biasanya terjadi disebabkan oleh
perlengketan isi kantong hernia pada peritoneum kantong hernia. Hernia jenis ini
biasanya dikenal dengan nama hernia akreta. Tidak ada keluhan nyeri atau tanda
sumbatan usus.

Gambar 2. Hernia irreponibilis


c. Hernia inkarserata

Merupakan hernia irreponibilis yang disertai tanda-tanda obstruksi usus. Pada hernia
tipe ini, isi kantung hernia terjepit sehingga terjadi gangguan aliran pasase usus,
dimana makanan tidak bisa lewat. Operasi hernia inkarserata merupakan operasi
darurat nomer 2 setelah operasi appendicitis. Selain itu hernia inkarserata merupakan
penyebab nomer satu kasus obstruksi usus di Indonesia.

Gambar 3. Hernia inkarserata


d. Hernia Strangulata
Hernia irreponibilis dimana sudah terjadi gangguan vaskularisasi viscera yang
terperangkap dalam kantung hernia. Pada keadaan sebenarnya, gangguan vaskularisasi
sudah mulai terjadi sejak jepitan dimulai. Gangguan terdiri dari beberapa tingkatan, dari
mulai bendungan sampai dengan nekrosis.

Gambar 4. Hernia strangulata


3. Berdasarkan arah hernia
a. Hernia eksterna
Merupakan hernia yang penonjolannya dapat dilihat dari luar, karena menonjolnya ke arah
luar. Misalnya:

Hernia inguinalis medialis dan lateralis

hernia femoralis

hernia umbilikalis

hernia epigastrika

hernia lumbalis,dll

b. Hernia interna
Jika isi hernia masuk ke dalam rongga lain, misalnya ke cavum thorax, bursa omentum, atau
masuk ke dalam recessus di dalam cavum abdomen. Misalnya :

hernia diafragmatika

hernia omentalis

hernia messenterika

Hernia Regio Inguinalis


1.1 Definisi.
Hernia inguinalis adalah hernia yang paling sering kita temui. Menurut patogenesisnya hernia
ini dibagi menjadi dua, yaitu hernia inguinalis lateralis (HIL) dan hernia inguinalis medialis
(HIM). Ada juga yang membagi menjadi hernia inguinalis direk dan hernia inguinalis indirek.
Meskipun terapi terbaik pada hernia ini adalah sama yaitu herniotomi dan herniorafi, tapi penting
untuk mengetahui perbedaannya karena akan mempengaruhi pada teknik operasinya nanti.
Hernia inguinalis lateralis timbul karena adanya kelemahan anulus intenus sehingga organ-organ
dalam rongga perut (omentum, usus) masuk ke dalam kanalis inguinalis dan menimbulkan
benjolan di lipat paha sampai skrotum. Sedangkan hernia ingunalis medialis timbul karena
adanya kelemahan dinding perut karena suatu sebab tertentu. Biasanya terjadi pada segitiga
hasselbach. Secara anatomis intra operatif antara HIL dan HIM dipisahkan oleh vassa
epigastrika inferior. HIL terletak di atas vassa epigastrika inferior sedang HIM terletak di
bawahnya

a. Kanalis inguinalis
Kanalis inguinalis pada orang dewasa panjangnya kira-kira 4 cm dan terletak 2-4 cm kearah
caudal ligamentum inguinal. Kanal melebar diantara cincin internal dan eksternal. Kanalis
inguinalis mengandung salah satu vas deferens atau ligamentum rotundum. Funikulus
spermatikus terdiri dari serat-serat otot cremaster, pleksus pampiniformis, arteri testicularis, n
ramus genital, nervus genitofemoralis, ductus deferens, arteri cremaster, limfatik, dan prosesus
vaginalis.
Kanalis inguinalis harus dipahami dalam konteks anatomi tiga dimensi. Kanalis inginalis
berjalan dari lateral ke medial, dalam ke luar dan cephal ke caudal. Kanalis inguinalis dibangun
oleh aponeurosis musculus obliquus abdominis ekternus dibagian superficial, dinding inferior
dibangun oleh ligamentum inguinal dan ligamentum lacunar. Dinding posterior (dasar) kanalis
inguinalis dibentuk oleh fascia transversalis dan aponeurosis transverses abdominis. Dasar
kanalis inguinalis adalah bagian paling penting dari sudut pandang anatomi maupun bedah.
Pembuluh darah epigastric inferior menjadi batas superolateral dari trigonum Hesselbach.
Tepi medial dari trigonum dibentuk oleh membrane rectus, dan ligamentum inguinal menjadi
batas inferior. Hernia yang melewati trigonum Hesselbach disebut sebagai direct hernia,
sedangkan hernia yang muncul lateral dari trigonum adalah hernia indirek.

Etiologi
Secara fisiologis, kanalis inguinalis merupakan kanal atau saluran yang normal. Pada fetus, bulan
kedelapan dari kehamilan terjadi descensus testiculorum. Penurunan testis yang sebelumnya
terdapat di rongga retroperitoneal, dekat ginjal, akan masuk kedalam skrotum sehingga terjadi
penonjolan peritoneum yang dikenal sebagai processus vaginalis peritonei. Pada umumnya,
ketika bayi lahir telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanal
tersebut. Biasanya obliterasi terjadi di annulus inguinalis internus, kemudian hilang atau hanya
berupa tali. Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup yang hasilnya ialah terdapatnya
hernia didaerah tersebut.
Setelah dewasa kanal tersebut telah menutup. Namun karena daerah tersebut ialah titik lemah,
maka pada keadaan yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen kanal itu dapat
terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis akuisita. Sementara di usia ini seseorang lebih
produktif dan melakukan banyak aktivitas. Sehingga penyebab hernia pada orang dewasa ialah
sering mengangkat barang berat, juga bisa oleh karena kegemukan, atau karena pola makan yang
tinggi lemak dan rendah serat sehingga sering mengedan pada saat BAB.
Hernia pada orang tua terjadi karena faktor usia yang mengakibatkan semakin lemahnya tempat
defek. Biasanya pada orang tua terjadi hernia medialis karena kelemahan trigonum Hesselbach.
Namun dapat juga disebabkan karena penyakit-penyakit seperti batuk kronis atau hipertrofi
prostat.
.
1.1

Diagnosis
1. Anamnesis
Keluhan biasanya berupa benjolan di lipat paha yang hilang timbul, muncul
terutama pada waktu melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan tekanan intraabdomen seperti mengangkat barang atau batuk, benjolan ini hilang pada waktu berbaring
atau dimasukkan dengan tangan (manual). Terdapat faktor-faktor yang berperan untuk
terjadinya hernia. Dapat terjadi gangguan passage usus (obstruksi) terutama pada hernia
inkarserata. Nyeri pada keadaan strangulasi, sering penderita datang ke dokter atau ke
rumah sakit dengan keadaan ini.

2. Pemeriksaan Fisik
Ditemukan benjolan lunak di lipat paha di bawah ligamentum inguinale di medial
vena femoralis dan lateral tuberkulum pubikum. Benjolan tersebut berbatas atas tidak
jelas, bising usus (+), transluminasi (-).
Gejala/tanda

Obstruksi usus pada hernia

Nekrosis/gangren pada hernia

inkarserata

strangulata

Nyeri

Kolik

Menetap

Suhu badan

Normal

Normal/meninggi

Denyut nadi

Normal/meninggi

Meninggi/tinggi sekali

Leukosit

Normal

Leukositosis

Rangsang peritoneum

Tidak ada

Jelas

Sakit

Sedang/berat

Berat sekali/toksik

Tabel 1. Hernia inkarserata dengan obstruksi usus dan hernia strangulata yang menyebabkan nekrosis atau
ganggren

Teknik pemeriksaan
Hernia yang melalui annulus inguinalis abdominalis (lateralis/internus) dan mengikuti jalannya
spermatid cord di canalis inguinalis serta dapat melalui annulus inguinalis subcutan (externus)
sampai scrotum. Mempunyai LMR ( Locus Minoris Resistentie Secara klinis HIL dan HIM
dapat dibedakan dengan tiga teknik pemeriksaan sederhana yaitu finger test, Ziemen test dan
Tumb test. Cara pemeriksaannya sebagai berikut :
Pemeriksaan Finger Test :
1. Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.
2. Dimasukkan lewat skrortum melalui anulus
eksternus ke kanal inguinal.
3. Penderita disuruh batuk:

Bila impuls diujung jari berarti Hernia


Inguinalis Lateralis.

Bila

impuls

disamping

jari

Hernia

Inguinnalis Medialis.
Pemeriksaan Ziemen Test :
1. Posisi berbaring, bila ada benjolan masukkan dulu
(biasanya oleh penderita).
2. Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan.
3. Penderita disuruh batuk bila rangsangan pada :

jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis.

jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis.

jari ke 4 : Hernia Femoralis.

Pemeriksaan Thumb Test :

1.2

Anulus internus ditekan dengan ibu jari dan penderita disuruh mengejan

Bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis medialis.

Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis Lateralis.

Diagnosis Banding

1. Limfadenitis yang disertai tanda radang lokal umum dengan sumber infeksi di
tungkai bawah, perineum, anus, atau kulit tubuh kaudal dari tingkat umbilikus.
2. Lipoma kadang tidak dapat dibedakan dari benjolan jaringan lemak preperitoneal
pada hernia femoralis.
3. Abses dingin yang berasal dari spondilitis torakolumbalis dapat menonjol di fosa
ovalis.
Untuk membedakannya perlu diketahui bahwa munculnya hernia erat
hubungannya dengan aktivitas seperti mengedan, batuk, dan gerak lain yang disertai
dengan peninggian tekanan intra-abdomen, sedangkan penyakit lain seperti limfadenitis
femoralis tidak berhubungan dengan aktivitas demikian

1.3

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan
1. Konservatif
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian
penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.
a.Reposisi
Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate, kecuali pada pasien anakanak. reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia membentuk
corong sedangkan tangan kanan mendorongnya kearah cincin hernia dengan tekanan
lambat tapi menetap sampai terjadi reposisi. Pada anak-anak inkarserasi lebih sering
terjadi pada umur dibawah dua tahun. Reposisi spontan lebih sering dan sebaliknya
gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi jika dibandingkan dengan orang dewasa. Hal
ini disebabkan oleh cincin hernia yang lebih elastis dibandingkan dengan orang dewasa.
Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedative dan kompres es
diatas hernia. Bila usaha reposisi ini berhasil anak disiapkan untuk operasi pada hari
berikutnya. Jika reposisi hernia tidak berhasil dalam waktu enam jam harus dilakukan
operasi segera. Pada tindakan reposisi ini posisi penderita dapat dilakukan denagn posisi
seperti pada gambar :

Gambar 11 : Reposisi dengan posisi trendelenburg


b. Bantalan penyangga ( sabuk Truss)
Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang telah direposisi
dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harusdipakai seumur hidup. Namun cara yang

berumur

lebih

dari

4000

tahun

ini

masih

saja

dipakai

sampai

sekarang.

Sebaiknya cara ini tidak dinjurkan karena mempunyai komplikasi, antara lain merusak
kulit dan tonus otot dinding perut didaerah yang tertekan sedangkan strangulasi tetap
mengancam. Pada anak-anak cara ini dapat menimbulkan atrofitestis karena tekanan pada
funikulus spermatikus yang mengandung pembuluh darah dari testis

2. Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional.
Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah
hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.

a. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka dan
isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat
setinggi mungkin lalu dipotong.
Indikasi :
1. Hernia Inkarserata / Strangulasi (cito)
2. Hernia Irreponabilis ( urgen, 2 x 24 jam)
3. Hernia Reponabilis dilakukan atas indikasi sosial : pekerjaan (elektif)
4. Hernia Reponabilis yang mengalami incarserasi (HIL,Femoralis)
Prinsip semua hernia harus dioperasi, karena dapat menyebabkan inkarserasi / strangulasi.
Herniotomy pada dewasa lebih dulu faktor-faktor penyebab harus dihilangkan dulu, misal BPH
harus dioperasi sebelumnya.
Tehnik Operasi

Incisi inguinal 2 jari medial SIAS sejajar ligamentum inguinale ke tuberculum pubicum

Incisi diperdalam sampai sampai nampak aponeurosis MOE : tampak crus medial dan
lateralis yang merupakan anulus eksternus

Aponeurosis MOE dibuka kecil dengan pisau , dengan bantuan pinset anatomis dan
gunting dibuka lebih lanjut ke kranial sampai anulus internus dan ke kaudal sampai
membuka

annulus

inguinalis

eksternus.

Hati2

dengan

N.Ilioinguinalis

dan

N.Iliohypogastrik. M.cremaster disiangi sampai nampak funiculus spermaticus

Funiculus dibersihkan dicantol dengan kain kasa dibawa ke medial, sehingga nampak
kantong peritoneum

Peritoneum dijepit dengan 2 bh pinset kemudian dibuka selanjutnya usus didorong ke


cavum abdomen dengan melebarkan irisan ke proksimal sampai leher hernia, kantong
sebelah distal dibiarkan

Leher hernia dijahit dengan kromik dan puntung ditanamkan di bawah conjoint tendo dan
digantungkan

Selanjutnya dilakukan hernioplasty secara :

Ferguson
Funiculus spermaticus ditaruh disebelah dorsal MOE dan MOI abdominis. MOI & transversus
dijahitkan pada ligamentum inguinale dan meletakkan funiculus di dorsalnya. kemudian
aponeurosis

MOE

dijahit

kembali,

sehingga

tidak

ada

lagi

canalis

inguinalis.

Bassini
MOI dan transversus abdominis dijahitkan pada ligamentum inguinal, Funiculus diletakkan
disebelah ventral, aponeurosis MOE tidak dijahit, sehingga canalis inguinalis tetap ada.
Kedua musculus berfungsi memperkuat dinding belakang canalis,sehingga LMR hilang
Gam

Teknik bassini
Halsted
Dilakukan penjahitan MOE, MOI dan m.transversus abdominis, untuk memperkuat /
menghilangkan

LMR.

Funiculus

spermaticus

diletakkan

di

subcutis

Cara Ferguson dan Bassini dilakukan pada orang dewasa. Cara Halsted dilakukan pada orang
tua, supaya dinding perut lebih kuat

Kemudian luka ditutup lapis demi lapis

1. Aponeurosis MOE jahit simpul dengan cromic catgut


2. Subcutan fat dijahit simpul dengan catgut
3. Kilit dijahit dengan zyde secara simpul

Tehnik operasi Herniotomi Herniorafi Lichtenstein


Hernia inguinalis lateralis dan medialis:
1. Penderita dalam posisi supine dan dilakukan anestesi umum, spinal anestesi atau anestesi lokal
2. Dilakukan insisi oblique 2 cm medial sias sampai tuberkulum pubikum
3. Insisi diperdalam sampai tampak aponeurosis MOE (Muskulus Obligus Abdominis Eksternus)
4. Aponeurosis MOE dibuka secara tajam
5. Funikulus spermatikus dibebaskan dari jaringan sekitarnya dan dikait pita dan kantong hernia
diidentifikasi
6. Isi hernia dimasukan ke dalam cavum abdomen, kantong hernia secara tajam dan tumpul
sampai
anulus internus
7. Kantong hernia diligasi setinggi lemak preperitonium , dilanjutkan dengan herniotomi
8. Perdarahan dirawat, dilanjutkan dengan hernioplasty dengan mesh
9. Luka operasi ditutup lapis demi lapis

Komplikasi
Durante Operasi

Lesi funiculus spermaticus, usus, vu, vasa epigastrica inferior, vasa iliaca ekterna

Putusnya arteri Femoralis

Post Operasi

Hematom, Infeksi, Wound dehisiensi

Atropi testes

Hydrocele

Rekurens

b. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat
dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah
terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode hernioplasti seperti
memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia
transversa, dan menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m. oblikus internus
abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut
metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus abdominis, m.oblikus internus
abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi
residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau
marleks untuk menutup defek.

Shouldice
Menurut Abrahamson (1997) prinsip dasar tehnik Shouldice adalah Bassini multi layer, di klinik
khusus hernia Shouldice digunakan kawat baja no 32 atau 34 untuk menjahit defek dinding
posterior kanal inguinal. Tetapi penggunaan benang monofilamen sintetis non absorbsi lebih
biasa dipakai diluar Toronto. Adapun tahapan hernioplasty menurut Shouldice:
Langkah pertama:

Setelah dilakukan insisi garis kulit sampai fasia, dengan preparasi saraf ilioinguinal dan
iliohipogastrika, bebaskan funikulus dari fasia transversalis sampai ke cincin interna, membuang
kantong dan ligasi setinggi mungkin.
Dilanjutkan dengan memotong fasia transversalis dan membebaskan lemak pre peritoneal.

Langkah berikutnya dilakukan rekonstruksi dinding belakang inguinal dengan jahitan jelujur
membuat suatu flap dari tepi bawah fasia ke bagian belakang flap superior, usahakan titik jahitan
tidak segaris dengan jarak 2-4 mm. Bagian flap superior yang berlebih dijahitkan kembali pada
lapisan dibawahnya dengan jelujur membentuk lapisan ke dua (gambarA). Demikian seterusnya

dengan menjahit tendon konjoin ke ligamentum inguinal membentuk lapisan ke tiga (gambar B).
Kemudiaan penjahitan aponeorosis obliqus eksterna membentuk lapisan ke empat (gambar C).
Bagian flap superior yang berlebih dijahitkan kembali pada lapisan dibawahnya dengan jelujur
membentuk lapisan ke dua (gambarA). Demikian seterusnya dengan menjahit tendon konjoin ke
ligamentum inguinal membentuk lapisan ke tiga (gambar B). Kemudiaan penjahitan aponeorosis
obliqus eksterna membentuk lapisan ke empat (gambar C).
Lichtenstein Tension free
Tehnik pemasangan mesh pada Lichtenstein seperti berikut (Wexler, 1997) : Dilakukan terlebih
dahulu herniotomi

Letakkan bahan mesh ukuran 10x5 cm diletakkan di atas defek, disebelah bawah
spermatik kord.

Dilakukan penjahitan dengan benang non absorbsi 3-0 ke arah :

- Medial : perios tuberkulum pubikum.


- Lateral : melingkari spermatik kord.
- Superior : pada konjoin tendon.
- Inferior : pada ligamentum inguinal.

Gambar : setelah pemasangan mesh

Karena penjahitan pada tehnik Shouldice dilakukan cara jelujur tidak terputus pada titik yang
berbeda kesegarisannya menyebabkan tarikan yang terjadi menyebar dan terdistribusi dibanyak
titik sehingga rasa nyeri menjadi tidak dominan disatu tempat. Hal inilah yang menyebabkan
keluhan rasa nyeri pasca operasi menjadi lebih ringan dibanding tehnik konvensional lainnya
(Abrahamson, 1997).
Penggunaan material sintetis sebagai penutup defek miopektineal dinding belakang kanalis
inguinal memerlukan persyaratan tertentu, prostesis yang dipakai harus cukup kuat sebagai
penyangga, tidak bersikap alergen, mempunyai potensi untuk menimbulkan respon inflamasi dan
cepat berintegrasi dengan jaringan sekitar. Agar integrasi menjadi solid, prostesis berupa
anyaman yang berpori sehingga jaringan tumbuh diantara pori-pori tersebut. Polypropylene mesh
dikategorikan memiliki sifat tersebut serta mampu bersifat permanen sehingga tidak
diperbolehkan kontak langsung dengan organ visera karena akan menimbulkan perlengketan
serta obstruksi atau pembentukan fistula. Saat ini polypropylen mesh dipilih sebagai prostesis
baku dalam petatalaksanaan hernio plasty (Wexler, 1997).

Hernioplasty dengan polypropylene mesh mencegah terjadinya peregangan sewaktu rekonstruksi


dinding belakang kanalis inguinal sehingga perasaan nyeri pasca operasi dapat berkurang dengan
nyata. Diikuti pemulihan dan kembali kepada aktivitas rutin yang lebih dini, serta pencegahan
rekurensi jangka panjang. Pemulihan dan kemampuan kerja setelah operasi ternyata sangat
dipengaruhi oleh rasa sakit (Callesen, 1999). Bax (1999) melaporkan dengan polypropylene
mesh lebih dari 60% pekerja kasar dan lebih dari 90% pekerja kantoran telah dapat bekerja
dalam 10 hari. Ismail (2000) melaporkan 74 % penderita telah kembali mengemudikan mobil
dalam 10 hari, 49 % diantaranya dalam 7 hari.
Untuk mencegah rekurensi jangka panjang penggunaan material harus cukup lebar untuk
menutup seluruh defek miopektineal (dengan ukuran 10 x 5 cm), tidak terjadi lipatan-lipatan,
melingkari bagian dari spermatik kord di daerah kanalis inguinal interna

Komplikasi
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi hernia dapat
tertahan di dalam kantong hernia pada hernia irreponibilis, hal ini terjadi jika hernia terlalu besar
atau terdiri dari omentum, organ ekstraperitoneal, atau hernia akreta. Di sini tidak timbul gejala
klinik kecuali berupa benjolan.
Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi hernia strangulata yang
menimbulkan obstruksi usus yang sederhana. Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan
perfusi jaringan isi hernia. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi oedem organ
atau struktur di dalam hernia dan transudasi ke dalam kantong hernia. Timbulnya oedem
menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin bertambah sehingga akhirnya peredaran darah
jaringan terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat berupa
cairan serosanguinus. Kalau isi hernia terdiri dari usus, dapat terjadi perforasi yang akhirnya
dapat menimbulkan abses lokal, fistel, atau peritonitis jika terjadi hubungan dengan rongga
perut.
Hernia inguinalis dapat menjadi inkarserata dan strangulata. Mual, muntah, dan nyeri abdomen
yang berat dapat terjadi pada hernia strangulata. Hernia strangulata merupakan suatu kondisi
yang mengancam jiwa (gawat darurat) yang membutuhkan pembedahan segera.

Prognosis

Prognosis biasanya cukup baik bila hernia diterapi dengan baik. Angka kekambuhan setelah
pembedahan kurang dari 3%.

Daftar pustaka :
1.

R, Syamsuhidajat, Wim de Jong; Buku Ajar Ilmu Bedah : Jakarta EGC, 1997

hal

700 - 711.
2.

She Warts, Seymour I, Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah, Alih Bahasa Laniyati
Celal, editor Linda Chandranata - Jakarta, EGC, 2000, hal 509 - 515.

3.

Sabiston, Devid C; Buku Ajar Bedah : Sabistons Essential Surgey, Alih Bahasa
Petrus Andrianto, Timah I. S; editor, Jonatan Oswan - Jakarta : EGC, 1995, hal 228 231.

4.

Botsford-Dunphy, W.B Saunders Company Publisher, Pemeriksaan Fisik Bedah;


Physycal Examination, Alih Bahasa I Janvar Ahmad dkk, Yayasan Essentia Medica,
Jakarta, 1977, hal 73 - 77.

5.

Schrock, Theodore R, Ilmu Bedah; Handbook of Surgey, Penerjemah Med. Ajidharma


dkk, Ed. 7 Jakarta, EGC, 1991, hal 300 - 302.