Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dewasa ini, produksi minyak sawit mentah (CPO) dalam negeri semakin meningkat
seiring dengan meningkatnya lahan perkebunan sawit di Indonesia. Tandan kosong sawit
(TKS) sebagai limbah dari pabrik CPO jumlahnya otomatis juga semakin meningkat. Apabila
tidak dikelola dengan baik, TKS dapat menimbulkan permasalahan lingkungan yang cukup
serius. Dalam industri pulp dan kertas, TKS dimanfaatkan sebagai sumber selulosa. Limbah
cair yang dihasilkan dari industri ini dikenal sebagai lindi hitam. TKS maupun lindi hitam
mengandung lignin yang cukup besar, yaitu 15 22 %.
Lignin merupakan bahan alam yang melimpah di negeri kita, jumlahnya hanya
terkalahkan oleh selulosa, yang merupakan komponen utama dinding sel dan berfungsi
sebagai kerangka tumbuhan atau kayu. Tetapi lignin, yang berperan dalam transportasi air
pada batang tumbuhan, pengikat antarsel, dan penguat dinding sel kayu, belum termanfaatkan
secara baik, bahkan dibuang percuma ke alam tanpa ada pemanfaatan. Padahal bahan ini bisa
dibuat macam-macam produk yang dibutuhkan kehidupan dan memiliki nilai tambah yang
tinggi.
Di sini, kami mengusulkan untuk meningkatkan nilai tambah lignin tersebut dengan
mengkonversinya menjadi surfaktan. Surfaktan adalah suatu bahan penurun tegangan
permukaan yang banyak digunakan dalam pembuatan sabun, injeksi sumur untuk peningkatan
produksi minyak, dan emulsi pada berbagai industri. Proses konversi itu dilakukan dengan
mensulfonasi lignin sehingga menghasilkan surfaktan natrium lignosulfonat (NaLS). NaLS
memiliki kemampuan yang baik dalam menurunkan tegangan permukaan, penstabil sistem
emulsi, dan pendispersi
Harga

surfaktan

NaLS

dipasaran

dunia

adalah

sekitar

Rp.

1600.000/Kg

(www.sciencelab.com). Kebutuhan surfaktan di Indonesia pada tahun 2008 sekitar 95 ribu


ton, sedangkan kapasitas produksi dalam negeri 55 ribu ton dan sisanya diimpor
(www.lipi.go.id). Kebutuhan industri terhadap surfaktan semakin lama semakin meningkat.
NaLS dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk substitusi
produk impor tersebut.

I.2 Perumusan Masalah


1. Bagaimana cara mengkonversi lignin dari tandan kosong kelapa sawit menjadi
surfaktan ?
2. Bagaimana mengidentifikasi kondisi optimum untuk mensintesis NaLS ?
3. Bagaimana produk surfaktan NaLS dari hasil sintesis yang didapat ?

I.3 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui cara mengkonversi lignin dari tandan kosong kelapa sawit .
2. Dapat mengidentifikasi kondisi optimum untuk mengsintesis NaLS meliputi
komposisi bahan,temperature,dan pH dalam sintesis NaLS.
3. Menentukan kinerja NaLS produk dalam menurunkan tegangan permukaan

I.4 Manfaat Penelitian


1. Pemanfaatan limbah yang sumbernya relative melimpah diindonesia
2. Mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah yang membusuk
3. Menambah cabang produksi alternative surfaktan diindonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lignin
Lignin berasal dari bahasa Latin, yaitu lignum yang artinya adalah kayu. Lignin
merupakan senyawa polimer fenol yang terdapat dalam dinding sel tumbuhan (Stiadi, 1992).
Lignin ditemukan pada jaringan tanaman, terikat pada selulosa dan komponen-komponen
tanaman lainnya. Lignin mempunyai beberapa fungsi pada batang tanaman. Fungsi lignin
adalah sebagai bahan pengikat komponen penyusun lainnya, sebagai pengikat antara sel
batang sehingga membentuk semacam material komposit yang, dan berperan dalam
menyalurkan air, nutrisi, serta hasil metabolisme di dalam batang. Kandungan lignin berbagai
biomassa disajikan pada tabel 1.
Tabel 1 Kandungan lignin dalam berbagai biomassa
Biomassa

Lignin (%b/b)

Tandan kosong sawit (oil palm empty fruit bunches)

15-22

Pelepah sawit (oil palm petiole)

18-20

Batang sawit (oil palm trunk)

22.6

Sabut sawit (oil palm tusk)

31.9

Sabut kelapa (coconut husk)

38.9

Jerami padi (paddy straws)

12-16

Jerami gandum (wheat)

16-21

Ampas tebu (bagasse)

19-24

Bambu (bamboo)

21-31

Kayu karet(rubber)

22

Kayu akasia(acacia)

30

Keterangan : % b/b dihitung atas dasar berta kering kayu setelah dioven
Struktur lignin berbeda-beda tergantung dari jenis tumbuhan sumbernya. Penelitian
dengan 14C radioaktif menegaskan bahwa p-hidroksi sinamil alkohol, koniferil alkohol, dan
sinapil alkohol merupakan unit monomer pembentuk lignin.(Fengel dan Wegener, 1995).

Unit monomer pembentuk lignin dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1 Unit monomer pembentuk lignin

2.2 Surfaktan
Surfaktan merupakan zat yang ditambahkan pada cairan untuk meningkatkan sifat
penyebaran atau pembasahan dengan menurunkan tegangan permukaan cairan, khususnya air.
Surfaktan mempunyai struktur molekul yang terdiri dari gugus lyophobic dan lyophilic.
Dalam bidang komersial, surfaktan diklasifikasikan berdasarkan kegunaannya. Secara ilmiah
surfaktan terdiri dari beberapa jenis yang dibagi berdasarkan jenis dari headnya, yaitu
surfaktan anionik, surfaktan kationik, surfaktan nonionik, dan surfaktan amfoterik. Surfaktan
anionik, adalah surfaktan yang bagian headnya bermuatan negatif. Mengikuti namanya
masing-masing, surfaktan kationik adalah surfaktan dengan head bermuatan positif, surfaktan
nonionik mempunyai head yang tidak bermuatan, dan surfaktan amfoterik bagian headnya
bermuatan positif dan negatif.
Surfaktan banyak digunakan dalam industri minyak, industri mineral, industri kimia,
farmasi, penyamakan kulit, pengeboran, penggalian, dan pengecoran. Selain itu, surfaktan
manjadi salah satu bahan utama pada deterjen, sabun, sampo, cat, lem, tinta, dan kosmetik.
Di industri perminyakan, surfaktan berperan pada proses penyulingan dan produksi. Surfaktan
digunakan seabagai flotation agent dan reagen untuk mengatur parameter-paremeter dasar
dalam drilling mud (Gultom dkk, 2009).

2.3 Surfakan Natrium Lignosulfonat


2.3.1 Lignosulfonat
Lignosulfonat disebut juga lignin sulfonat atau sulphite lignin. Lignosulfonat
merupakan suatu surfaktan yang dihasilkan dari proses sulfite pulping pada kayu. Pada proses

sulphite pulping, lignin dibuat larut dalam dalam solven polar (air) melalui proses sulfonasi
dan hidrolisis (Kirk Othmer 1981).
Lignin dapat mengalami reaksi seperti oksidasi, reduksi, discolorasi, hidrolisis, dan
reaksi kimia lain serta reaksi enzymatik. Hal ini dikarenakan terbentuknya gugus intermediet
pada lignin yang bersifat reaktif yaitu phenoxy radical, quinonemethide, dan phenoxy anion.
Pada sulphite pulping, lignin bereaksi dengan bisulfit membentuk lignosulfonat. Reaksi yang
terjadi adalah: HSO3- + lignin-OH lignin-SO3- + H2O. (Lawoko Martin 2005)
2.3.2 Manfaat Natrium Lignosulfonat
Beberapa manfaat dari Natrium Lignosulfonat diberikan sebagai berikut.
1. Sebagai superplasticizer pada hidrasi semen portland untuk memperbaiki
stabilitas semen.
2. Sebagai penghambat korosi dan pengerakan serta berpotensi digunakan dalam
sistem resirkulasi air pendingin.
3. Sebagai agen fungsionalisasi multiwalled carbon nanotubes (MWCNTs).
4. Sebagai reinforcing agent dalam pembuatan tembikar, porselen dan bahanbahan yang tidak mudah terbakar.
5. Dalam bidang pertanian, NaLS digunakan sebagai agent pendispersi dari
pestisida dan sebagai pelletizing agent dalam pembuatan pupuk dan pakan
ternak.
6. Turunan NaLS dapat digunakan sebagai embryo reinforcing agent karena
dapat meningkatkan fluiditas dari slurry dan embrio.
2.3.3 Proses Pembuatan Natrium Lignosulfonat
Ada beberapa proses pembuatan natrium lignosulfonat yang sudah diteliti. Secara
umum terdapat kemiripan dalam proses-proses tersebut. Perbedaan biasanya terletak pada
kondisi proses sulfonasi (temperatur dan pH) dan jenis garam sulfit yang digunakan (Gultom
dkk, 2009). Salah satu proses pembuatan natrium lignosulfonat terdapat dalam US Paten
No.4,892,588 yang diajukan Juni (2010). Pada umumnya terdapat enam tahap dalam
pembuatan natrium lignosulfonat, yaitu isolasi lignin, pengaktivan lignin, metilolasi,
pengasaman, dan sulfonasi.
A. Isolasi Lignin
Metode isolasi lignin dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar yaitu metode
presipitasi lignin dengan asam dan metode melarutkan lignin dengan pelarut tertentu atau
dengan pembentukan turunan lingnin yang larut (Fengel dan Wegener, 1995). Metode isolasi
5

dengan presipitasi menghasilkan lignin asam. Umumnya presipitasi dilakukan dengan asam
sulfat, asam klorida, campuran asam-asam tersebut, atau menggunakan asam mineral lain. Hal
lain disebabkan karena suasana asam dapt mengubah ion tertionisasi (ion fenolat) menjadi
bentuk tak terionasi (fenol). Pelarut lain yang lebih cocok untuk melarutkan lignin adalah
dioksan. Lignin larut baik dalam dioksan. Dengan pelarut dioksan, lignin yang dihasilkan
lebih murni dan tidak mengalami perubahan struktur.
B. Pengaktifan Lignin
Pada proses aktivasi, padatan lignin dicampur dengan larutan NaOH 50%. Pada proses
pencampuran ini, lignin padatan dengan pH sekitar 6 akan dicampur dengan larutan NaOH
yang sangat basa, sehingga pada akhir reaksi akan dihasilkan fase lumpur dengan pH sebesar
11. Pada proses in, Na+ dari larutan NaOH mensubstitusi H+ yang terdapat pada lignin,
sehingga akan dihasilkan kompleks Na-Lignin, sedangkan OH- dari NaOH bergabung dengan
H+ membentuk H2O. Aktivasi lignin pada umunya dilangsungkan pada temperatur 65-70 oC.
Skema reaksi pengaktivan lignin dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2 Skema reaksi pengaktivan lignin


C. Metilolasi
Metilolasi merupakan proses reaksi antara lignin yang telah diaktifkan dengan larutan
formaldehid yang bertujuan untuk menambah gugus CH2OH pada lignin. Pada US Paten
No.4,892,588 disebutkan bahwa jumlah formaldehid yang digunakan dalam reaksi ini adalah
3 mol formaldehid per 1000 gram lignin. Proses ini dilangsungkan selama 2 jam pada rentang
temperatur 65 70 oC dan pH 9,5 11. Hasil dari reaksi ini adalah metilolated lignin yang
akan disalurkan untuk proses pengasaman. Skema reaksi metilolasi lignin ini dapat dilihat
pada gambar 3.

Gambar 3 Skema reaksi metilolasi lignin


6

D. Pengasaman
Pengasaman dilakukan dengan mereaksikan metilolated lignin dengan larutan H2SO4.
Ada dua tujuan dalam proses pengasaman, yaitu untuk menghindari reaksi yang tidak
diinginkan dan mengurangi kandungan elektrolit yang dihasilkan dari reaksi metilolasi.
Skema pengasaman metilolasi lignin ini dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4 Skema reaksi pengasaman lignin


E. Sulfonasi
Tahap ini merupakan tahapan inti untuk menghasilkan garam lignosulfonat. Reaksi
terjadi antara lignin yang telah diasamkan dengan garam sulfit. Ada beberapa jenis garam
sulfit yang dapat digunakan dalam sulfonasi. Pada US Paten No.4,892,588 garam sulfit yang
digunakan adalah natrium bisulfit. Skema proses sulfonasi lignin ini dapat dilihat pada
gambar 5

Gambar 5 Skema reaksi sulfonasi lignin dengan natrium bisulfit


2.3.4 Karakterisasi Natrium Lignosulfonat
1. Spektroskopi Ultraviolet (UV)
Bila suatu molekul mengabsorpsi sinar UV, maka akan terjadi transisi elektron di antara
tingkat-tingkat energi elektronik dalam molekul tersebut. Transisi umumnya terjadi antara
orbital ikatan atau orbital pasangan elektron bebas, dari ground state ke excited state.
Panjang gelombang absorpsi merupakan perbedaan tingkat-tingkat energi pada orbital-orbital
yang bersangkutan (Silverstein dkk, 1991).
Absorpsi UV digunakan secara luas untuk mengidentifikasi suatu senyawa, baik
penentuan kualitatif, kuantitatif, maupun karakterisasi perubahan struktur senyawa tersebut
(Syahmani, 2001).
7

2. Spektroskopi Inframerah (IR)


Suatu molekul yang dapat mengabsorpsi sinar IR, panjang gelombang 400 700 nm
atau bilangan gelombang 4000 400 cm-1 memiliki energi yang lebih kecil bila
dibandingkan sinar UV, sehingga elektron tidak mampu melakukan transisi elektronik, tetapi
hanya terjadi vibrasi molekul (Syahmani, 2001).
Vibrasi dengan perubahan momen dipol dapat menyerap radiasi IR. Ada dua jenis
vibrasi yang terjadi, yaitu vibrasi ulur (stretching) dan vibrasi tekuk (bending). Vibrasi ulur
adalah vibrasi yang terjadi dalam molekul tanpa mengubah sudut ikatan, sedangkan vibrasi
tekuk menyebabkan terjadinya perubahan sudut ikatan (Silverstein dkk, 1991; Syahmani
2001).
Ikatan-ikatan kimia mempunyai tipe-tipe tertentu yang berbeda frekuensi vibrasinya.
Perbedaan ini menyebabkan terjadinya absorpsi radiasi pada panjang gelombang yang
berbeda-beda. Ikatan yang mempunyai tipe sama dalam dua senyawa yang berbeda dapat
mengabsorpsi IR pada panjang gelombang yang sama. Jadi, spektrum IR merupakan sifat
khas senyawa-senyawa yang strukturnya sudah diketahui secara pasti (Fengel dan Wegener,
1995; Syahmani 2001).
Spektrum IR menunjukkan sejumlah pita absorpsi yang mempresentasikan gugus-gugus
fungsi struktural suatu senyawa. Beberapa pita absorpsi ditunjukkan dalam tabel 2 (Syahmani,
2001).
Tabel 2 Pita Absorpsi Spektroskopi Inframerah untuk Beberapa Gugus Senyawa
Bilangan Gelombang (cm-1)

Asal Pita Absorpsi

3450 3400

Rentangan O-H

2940 2820

Rentangan C-H pada gugus metil dan metilen

1715 1710

Rentangan C=O tak terkonjugasi dengan cincin aromatik

1675 1660

Rentangan C=O terkonjugasi dengan cincin aromatik

1605 1600

Vibrasi cincin aromatik

1515 1505

Vibrasi cincin aromatik

1470 1460

Deformasi C-H (asimetri)

1430 1425

Vibrasi cincin aromatik

1370 1365

Deformasi C-H (simetri)

1330 1325

Vibrasi cincin siringil

1270 1275

Vibrasi cincin quaiasil

1085 1030

Deformasi C-H atau C-O


8

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metodologi Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang akan dicapai, pelaksanaan penelitian ini terdiri dari
dua bagian utama.
1. Sulfonasi lignin dengan natrium hidrogen sulfit atau bisulfit menghasilkan Natrium
Lignosulfonat.
2. Karakterisasi NaLS hasil sulfonasi yang meliputi penentuan kandungan lignosulfonat,
analisis spektrum UV, analisis spektrum FTIR, dan penentuan kinerja dalam menurunkan
tegangan permukaan.

3.2 Percobaan
A. Bahan
Lignin yang didapatkan dari tandan kosong kelapa sawit
Aqua dm, digunakan untuk pengenceran, pembuatan larutan, dan pencucian.
Asam klorida (HCl), digunakan untuk mengatur pH.
Asam sulfat (H2SO4), digunakan untuk mengatur pH.
Asam oksalat (H2C2O4.2H2O), digunakan dalam pembuatan larutan baku primer
untuk penentuan konsentrasi NaOH.
Asam borat (H3BO3), digunakan untuk pembuatan larutan bufer borat pH 12.
Kalium dihidrogen fosfat (KH2PO4), digunakan untuk pembuatan bufer fosfat pH 6.
Etanol (C2H5OH), digunakan sebagai pelarut pada pengukuran spektrum UV.
Kertas Whatman No. 41, digunakan dalam penyaringan.
Metanol (CH3OH), digunakan dalam pemurnian natrium lignosulfonat dari campuran
reaksi dengan cara mengendapkan bisulfit yang tidak bereaksi.
Natrium hidrogen sulfit (NaHSO3) 37% b/v, digunakan dalam proses sulfonasi lignin.
Natrium hidroksida (NaOH), digunakan untuk mengatur pH.
Kertas pH indikator universal (pH 1-14), digunakan untuk menentukan pH larutan.

B. Alat
Cawan penggerus dan mortar, digunakan untuk menggerus, menghaluskan, dan
mencampurkan sampel.
Buret ukuran 25 mL, digunakan untuk titrasi.
Desikator, digunakan untuk pengeringan lanjutan setelah sampel dikeringkan dalam
oven pengering
Labu takar Pyrex ukuran 1 L, 500 mL, 250 mL, 100 mL, 50 mL, dan 25 mL
Mikroburet ukuran 5 mL, digunakan untuk mengambil larutan dengan volume
tertentu.
Neraca, Sartorius, digunakan untuk menimbang zat padat.
Oven pengering, digunakan untuk mengeringkan zat dan alat yang akan dipakai.
Penyaring vakum atau corong Buncher, digunakan untuk menyaring endapan lignin.
Penyaring vakum dengan corong kaca Masir
Pipet ukuran 50 mL, 25 mL, 15 mL, 10 mL, 1 mL, dan 0,5 mL
Rotavapor-R Buchi-Brinkmann, digunakan untuk menguapkan pelarut dari suatu
sampel.
Seperangkat alat refluks, digunakan untuk melakukan reaksi sulfonasi dan
menentukan kemurnian lignin.
Spektrofotometer UV-Vis, digunakan untuk mengukur absorbans pada panjang
gelombang tertentu dalam analisis gugus dan kemurnian.
Spektrofotometer FTIR, digunakan untuk karakterisasi gugus fungsi.
Tabung Eppendorf berukuran 1,5 mL, sebagai tempat larutan sampel untuk berbagai
analisis.
Termometer skala 0C sampai 250C, digunakan untuk mengukur suhu pada berbagai
proses.
Thermolyne Cimarec 2 yang dilengkapi dengan magnetic stirrer

3.3 Prosedur
Berdasarkan tujuan dan metodologi penelitian, percobaan ini meliputi sulfonasi lignin
untuk mendapatkan NaLS dan karakterisasi NaLS.
3.3.1 Sintesis Natrium Lignosulfonat
Lignin sebanyak 5 gram disuspensikan dengan 150 mL air (1:15 w/w) di dalam labu
bulat leher dua ukuran 500 mL menggunakan magnetic stirer. Suspensi kemudian ditambah
10

dengan bisulfit 37 % b/v sampai pH = 5 yang ditunjukkan pada indikator pH univrsal.


Campuran direfluks sambil diaduk dengan magnetic stirer agar campuran bereaksi sempurna
pada suhu pemanasan 100 C dengan pemanas listrik selama 4 jam sambil terus dimonitor
dengan termometer.
Hasil refluks didistilasi untuk menguapkan air dari hasil sulfonasi pada suhu 100 C,
kemudian disaring dengan corong Buchner. Filtratnya mengandung natrium lignosulfonat dan
bisulfit sisa reaksi. Metanol ditambahkan ke dalam filtrat sambil dikocok kuat sehingga
bisulfit sisa terendapkan dan dapat disaring dengan corong Buchner. Pelarut yang masih
terdapat dalam filtrat diuapkan dengan rotavapor-R Buchi sehingga NaLS menjadi semakin
pekat. Filtrat kemudian dikeringkan di dalam oven vakum pada suhu 60 C. NaLS yang
diperoleh ditimbang sampai memperoleh berat konstan, kemudian ditentukan persen berat
rendemennya.
3.3. 2 Karakterisasi Natrium Lignosulfonat
A. Analisis Spektrum UV Natrium Lignosulfonat
NaLS hasil sintesis sebanyak 0,1 gram dimasukkan ke dalam labu takar larutan bufer
pH 12 sampai 100 mL. Hasil pencampuran ini berperan sebagai larutan stok. Larutan NaLS
dengan konsentrasi 0,12 gram/L diperoleh dengan mengambil 2 mL larutan stok, kemudian
diencerkan sampai 50 mL dengan larutan bufer pH 12. Larutan netral NaLS yang sama dibuat
dengan mengambil 2 mL larutan stok, kemudian ditambahkan 2 mL larutan asam sulfat 0,1 N,
dan diencerkan sampai 50 mL dengan larutan bufer pH 6. Perbedaan spektrum ditentukan
melalui pengukuran absorbans dari larutan alkali relatif terhadap larutan netral yang
ditempatkan di dalam sel reference dari spektofotometer sebagai blanko. Pembacaan
dilakukan dari 280 nm sampai 400 nm dalam daerah panjang gelombang maksimum, dan
dicatat setiap jarak 2 sampai 4 nm. Perbedaan spektrum diplotkan dalam absortivitas (L.gram1.cm-1) yang diperoleh dari pembagian nilai absorbans dengan konsentrasi dalam gram/L.
Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan spektrum senyawa model.
B. Penentuan Kandungan Lignosulfonat
Sampel NaLS sebanyak 0,1 gram yang sudah dikeringkan di dalam oven dilarutkan ke
dalam 100 mL air. Larutan sebanyak 5 mL dipipet dan dimasukkan ke dalam gelas kimia 250
mL, lalu diencerkan sampai 200 mL. Larutan dijaga supaya mempunyai pH 4 5 dengan
penambahan 1 tetes NaOH 0,124 N atau HCl 0,2 N. Larutan kemudian dipindahkan ke dalam
labu volumetrik 250 mL dan diencerkan sampai 250 mL. Absorban larutan diukur relatif

11

terhadap air deionisasi dalam kuvet 1 cm pada 323 nm. Hasil pengukuran spektrum UV dapat
digunakan untuk menetukan kandungan lignosulfonat.

C. Analisis Spektrum FTIR Lignin


Sampel NaLS digerus sampai halus dan ditambahkan kristal KBr. Campuran ini digerus
sampai halus dan homogen. Campuran kemudian diletakkan dalam alat press untuk membuat
pelet KBr. Udara dievakuasi sebelum penekanan pelet. Pelet diupayakan sangat tipis dan
homogen. Scanning dilakukan terhadap pelet dengan menggunakan FTIR Perkin Elmer.
Sampel lignin yang telah berbentuk pelet KBr dimasukkan dalam alat FTIR dan diukur
serapannya pada bilangan gelombang 4600-400 cm-1.
D. Penentuan Kinerja NaLS dalam Menurunkan tegangan Permukaan
Pada tahap ini, semua sampel diuji dengan alat pengukur tegangan permukaan yaitu
dengan tensiometer.

3.4 Variasi
Pada penelitian ini, variasi dilakukan pada kondisi operasi sulfonasi lignin menjadi
NaLS. Variasi kondisi operasi meliputi temperatur, pH, dan konsentrasi NaHSO3.

3.5 Interpretasi Data


Data yang akan diolah yaitu dalam penentuan kemurnian lignosulfonat yang dihasilkan.
Perhitungan memanfaatkan hasil analisis spektrum UV dari sampel NaLS hasil sintesis.
Metode analisis spektrum UV telah dijelaskan pada subbab prosedur percobaa. Kemurnian
lignosulfonat dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan 3.1.

dimana,
P = pengenceran = (100) (250) / (5) = 5000 mL
Faktor = 35 untuk NaLS

12

3.6 Jadwal Pelaksanaan Penelitian

3.7 Rincian Biaya


No

Jenis Pengeluaran

Jumlah

Bahan Habis Pakai ( Material Penelitian)


a

Lignin (80 gram )

800.000

Natrium Bisulfit 37% (500 g)

600.000

NaOH 0.1 N( 8L)

400.000

HCl 0.2 N (1 L)

800.000

Asam Sulfat 0.1 N (3L)

600.000

Formaldehida (500 ml)

400.000

Biaya Perjalanan

2
a

Pengecekan Sampel

800.000

Seminar Pemantauan

100.000

Pengeluaran Lain-Lain

3
a

Biaya pemotretan/skanning sampel

100.000

Dokumentasi & pembuatan laporan

100.000

Penelusuran pustaka,Fotokopi,Penjilidan

100.000

Administrasi surat menyurat

100.000

Biaya Pemilihan dan pembelian Alat

200.000
13

Uji spektrum FTIR

500.000

Uji spektrum UV

500.000

Uji tegangan permukaan

650.000

Komunikasi

50.000

Jumlah

6.800.000

14

DAFTAR PUSTAKA
Kirk RE, Othmer DP. 1981. Encyclopedia of Chemical Technology Fourth Edition, Volume
12, John Willey and Sons Inc.
Pettersen RC. 1984. The chemical composition of wood. In: The Chemistry of Solid Wood,
Rowell R.M.,Editor, Advances in Chemistry Series 20, American Chemical Society.
Susanto H, Rusmanto, Sudrajat A. 1999. Production of Lignosulfonate From Lignin in Black
Liquor of Ethanosolv-Pulping, Prosiding Seminar Nasional Fundamental dan Aplikasi
Teknik Kimia, C21-1-6.
Syahmani. 2001 Isolasi, Sulfonasi, dan Asetilasi Lignin dari Tandan Kosong Sawit dan
Studi Pengaruhnya terhadap Proses Pelarutan Urea, Tesis Magister Kimia, Institut
Teknologi Bandung.
http://www.sciencelab.com/page/S/PVAR/SLS4618
http://iopri.org/stat_kepemilikan
http://www.datacon.co.id/CPO1-2009Sawit.html
http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1209485632&135&2006
http://www.lsuagcenter.com/en/our_offices/departments/Audubon_Sugar_Institute/News/Pote
ntial+Market+for+Biorefinery+Lignin.htm
http://isroi.wordpress.com/2008/11/23/karakteristik-lignoselulosa/

15