Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS KOMITMEN ORGANISASI DAN

MOTIVASI BERPRESTASI DALAM UPAYA MENINGKATKAN


KINERJA GURU (Studi pada Guru SMA Laboratorium UM)
Ulil Ismawati Farikhah
Alumni S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang
Email: ulil_ryuzzan@yahoo.co.id
Syihabudhin
Dosen Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen (UM)
Email: syihab.andsons@gmail.com
Madziatul Churiyah
Dosen Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen (UM)
Email: maziatul_c@yahoo.com
Abstract: This study was purposed on determining the state of teachers
organization commitment and achievement motivation in SMA Laboratorium as an
endeavour to enhance teachers performances. This research is a case study by
employing descriptive qualitative approach. The data source is primary and
secondary data which obtained through interview, observation, field note, and
documentation. The data analysis was conducted into three stages, namely data
reduction, data display, and conclusion drawing. The conclusion of the research is
teachers organization commitment is not fully affect to teachers performances. It
is due to the higher teachers achievement motivation to create one of the school
objectives, so it can be stated that teachers performances is Good.
Keywords: teachers organization commitment, teachers achievement motivation,
teachers performances
Abstak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara kondisi komitmen
organisasi dan motivasi berprestasi guru SMA Laboratorium dalam upaya
meningkatkan kinerja guru. Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan
pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data adalah data primer dan sekunder
yang diperoleh melalui wawancara, observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi.
Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya komitmen
organisasi guru yang masih belum sepenuhnya terhadap SMA Laboratorium UM
tidak berpengaruh pada kinerja guru. Hal ini disebabkan oleh adanya motivasi
berprestasi yang tinggi dari guru untuk mewujudkan salah satu misi sekolah
sehingga kinerja guru SMA Laboratorium dapat dikatakan baik.
Kata kunci: komitmen organisasi guru, motivasi berprestasi guru, kinerja guru

Peranan pendidikan harus dilihat dalam

konteks pembangunan

secara

menyeluruh, yaitu bertujuan untuk membentuk manusia sesuai dengan cita-cita


bangsa. Pembangunan tidak mungkin berhasil jika tidak melibatkan manusianya
sebagai pelaku dan sekaligus tujuan pembangunan (Hamalik, 2009: 6).

Pengembangan sumber daya manusia tersebut dapat dilakukan di sekolah sebagai


organisasi pendidikan di mana keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan
pembangunan nasional membutuhkan peran guru sebagai subjek pembangunan
nasional. Dengan meningkatkan kinerja, maka guru dapat memainkan perannya
sebagai subjek pembangunan nasional dengan baik di mana tujuan tersebut tersirat
dalam visi dan misi sekolah. Hal ini dapat diketahui dari seberapa jauh dukungan
yang diberikan guru kepada sekolah. Dukungan tersebut dapat berupa komitmen
organisasi dan motivasi berprestasi yang tinggi untuk meningkatkan kinerja dalam
mewujudkan tujuan pembangunan nasional.
Kanter (dalam Raju dan Srivastava, 1994) menyebutkan bahwa komitmen
sebagai sebuah minat individu yang melekat pada pola perilaku sosial yang
teroganisir. Sedangkan menurut Mathis dan Jackson (dalam Sopiah 2008:155)
komitmen organisasional adalah derajat yang mana karyawan percaya dan
menerima tujuan-tujuan organisasi dan akan tetap tinggal atau tidak akan
meninggalkan organisasi. Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa
komitmen organisasi merupakan minat individu yang melekat pada perilaku sosial
untuk bertahan menjadi anggota, percaya, dan menerima tujuan organisasi, serta
bertahan di organisasi untuk mewujudkan tujuan organisasi.
Dalam hal ini, motivasi berprestasi merupakan salah satu faktor yang
dapat berpengaruh terhadap komitmen seorang anggota pada organisasi (Rosyid,
2010). Komitmen organisasi akan mendorong seseorang untuk berprestasi dengan
motivasi berprestasi. Robbin (2008: 230) menyebutkan bahwa kebutuhan akan
prestasi (Need for Achievement) akan mendorong untuk melebihi, mencapai
standar-standar, berusaha keras untuk berhasil. Berdasarkan pada uraian di atas,
dapat diketahui bahwa komitmen dan motivasi berprestasi merupakan dua hal
yang sangat dibutuhkan oleh sekolah sebagai organisasi pendidikan yang
mengarah pada tujuan pembangunan nasional. komitmen dan motivasi berprestasi
dapat meningkatkan kinerja guru. Wahyuni (2011) menyebutkan bahwa
komitmen organisasi dan motivasi secara parsial mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap kinerja guru. Hal ini dapat diartikan bahwa kinerja guru akan
tinggi apabila komitmen dan motivasi berprestasi yang tinggi terdapat pada setiap
guru.

Kinerja guru merupakan hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas
yang dicapai guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya untuk mencapai tujuan. Kinerja guru tidak dapat dipisahkan dari
kemampuan

seorang

guru

dalam

penguasaan

pengetahuan,

penerapan

pengetahuan dan keterampilan, sebagai kompetensi yang dibutuhkan sesuai


amanat Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang
Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Penguasaan kompetensi dan
penerapan pengetahuan serta keterampilan guru, sangat menentukan tercapainya
kualitas proses pembelajaran atau pembimbingan siswa, dan pelaksanaan tugas
tambahan yang relevan bagi sekolah, khususnya bagi guru dengan tugas tambahan
tersebut (Subagio, 2011).
Salah satu sekolah yang memiliki kepentingan untuk mengetahui
informasi tentang komitmen organisasi dan motivasi berprestasi guru dalam upaya
meningkatkan kinerja guru adalah SMA Laboratorium UM. SMA ini merupakan
laboratorium pendidikan UM yang berada di bawah pengelolaan BPLP UM. Agar
SMA Laboratorium UM dapat dioptimalkan sebagai laboratorium pendidikan
yang berkualitas, maka perlu diketahui informasi yang mendalam tentang
komitmen organisasi dan motivasi berprestasi dalam kaitannya dengan kinerja
guru di SMA Laboratorium UM. Guru SMA Laboratorium UM memiliki motivasi
berprestasi dalam pendampingan terhadap kegiatan siswa, misalnya pada kegiatan
LSC. Guru SMA Laboratorium UM mendampingi siswa hingga dapat menjalin
kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar di mana hal ini sangat membantu
kelancaran kegiatan LSC. Akan tetapi terdapat suatu persepsi pada beberapa guru
SMA Laboratorium UM, yaitu guru yang berstatus PNS DPK memiliki peluang
yang lebih besar untuk berprestasi maupun untuk berpartisipasi pada kegiatan
Dinas Pendidikan Malang dibandingkan dengan guru yang berstatus swasta. Hal
ini disebabkan oleh adanya ikatan dinas antara guru yang berstatus PNS DPK
dengan Dinas Pendidikan Malang sehingga guru tersebut wajib mengikuti
kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Malang. Untuk komitmen organisasi
guru SMA Laboratorium UM yang ditandai dengan rasa kepemilikan atas sekolah
salah satunya dipengaruhi oleh lama masa mengajar guru di sekolah.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Laboratorium UM, Jl. Bromo No. 16 Malang.
Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian studi
kasus (case study). Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara,
observasi, dokumentasi, dan catatan lapangan dengan menggunakan teknik
analisis reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Sample diambil dengan
cara purposive sample dan snowball sample. Purposive sample digunakan pada
waktu studi dan pendahuluan. Sedangkan snowball sample digunakan untuk
memilih narasumber berikutnya yang kemudian narasumber tersebut dipilih
kembali menggunakan purposive sample berdasarkan status kepegawaian. Sumber
data penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari
hasil wawncara dengan guru yang berinisial Pak Ry, Ibu Uy, Ibu Fa, Ibu Ta, Ibu
Ra, Ibu Ia, Ibu Ya, dan Ibu Ni dan Ibu Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd. selaku kepala
sekolah SMA Laboratorium UM. Selain itu, data primer juga diperoleh melalui
observasi aktivitas guru SMA Laboratorium UM di lingkungan sekolah secara
keseluruhan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari catatan lapangan, dan
dokumen resmi sekolah yang berupa arsip jumlah guru, status kepegawaian guru,
struktur organisasi sekolah, dan profil sekolah. Triangulasi yang digunakan untuk
mengecek keabsahan data adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik.
Narasumber dalam triangulasi sumber ini adalah Ibu Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd.
selaku kepala sekolah dan guru yang berinisial Pak Ry, Ibu Uy, Ibu Fa, Ibu Ta,
Ibu Ra, Ibu Ia, Ibu Ya, dan Ibu Ni. Sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan
metode wawancara, observasi dan dokumentasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN


SMA Laboratorium UM berdiri pada tahun 1994. SMA berada di bawah naungan
Badan Pengembangan Laboratorium Pendidikan (BPLP) UM. Visi SMA
Laboratorium UM adalah Unggul Dalam Prestasi, Iman Dan Sosial. Visi
tersebut memiliki arti bahwa harapan dan keinginan ke depan bagi SMA
Laboratorium UM adalah mampu menghasilkan sebuah prestasi baik akademis
maupun non akademis, unggul dalam membentuk iman dan takwa yang menjadi
landasan dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari serta secara sosial maupun

berkompetisi dan beradaptasi di masyarakat dengan baik dan memiliki sikap dan
tindakan yang dapat dijadikan teladan bagi orang lain. Sedangkan misi SMA
Laboratorium UM yaitu: (1) Menghasilkan lulusan yang cerdas, terampil dan
berjiwa sosial, (2) Menciptakan masyarakat belajar (learning society) di sekolah,
(3) Menciptakan masyarakat sekolah yang mandiri, disiplin, bertanggung jawab
dan santun, dan (4) Menciptakan iklim kerja yang kuat dan kepemimpinan yang
tangguh.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa komitmen organisasi
guru SMA Laboratorium UM adalah komitmen afektif dan kontinuan. Setiap guru
memiliki komitmen yang berbeda ketika menjadi guru di SMA Laboratorium
UM. Komitmen afektif guru SMA Laboratorium UM yang diperoleh adalah
kehadiran guru di sekolah maupun di kelas, rasa kepemilikan atas SMA
Laboratorium UM, dan semangat guru untuk mewujudkan salah satu misi sekolah.
Sedangkan untuk komitmen kontinuan guru SMA Laboratorium UM dipengaruhi
oleh kebutuhan finansial, keinginan guru untuk menjadi PNS karena adanya
anggapan bahwa dengan menjadi PNS atau dosen Perguruan Tinggi maka tingkat
kesejahteraan hidup dan status sosial mereka akan meningkat, sulitnya mencari
pekerjaan, dan HR dari pihak SMA yang lebih baik dari sekolah yang lain. Hal itu
tidak bertentangan dengan SMA Laboratorium UM. Menurut kepala sekolah,
tidak ada kebijakan dari pihak sekolah yang melarang guru SMA Laboratorium
UM untuk berpartisipasi tes CPNS. Setiap guru yang ingin menjadi PNS
dipersilahkan oleh pihak SMA. Beliau yakin bahwa jika ada guru yang keluar dari
sekolah maka nanti akan ada gantinya di mana guru baru tersebut akan
menghasilkan ide-ide yang bagus bagi SMA Laboratorium UM.
Sedangkan untuk motivasi berprestasi guru SMA Laboratorium UM
terlihat dari beberapa indikator yang disajikan peneliti, yaitu guru memiliki
motivasi berprestasi dalam menjalankan profesinya sebagai guru. Selain itu,
indikasi motivasi berprestasi guru terdapat pada beberapa indikator motivasi
berprestasi yang ada pada guru. Indikasi motivasi berprestasi guru SMA
Laboratorium UM yaitu bekerja keras dalam menjalankan tugas guru untuk
mengajar yang ditunjukkan dengan adanya kerja keras guru dalam kepanitiaan
Penerimaan Siswa Baru maupun ujian semester II di sekolah, bertanggungjawab

atas tugas kepanitiaan tanpa mengesampingkan tugas dan peran guru sebagai
pendidik yang ditunjukkan dengan kelulusan siswa 100% untuk tahun 2011/2012,
memperoleh kebanggaan, menghargai waktu yang ada dengan cara datang ke
sekolah dan masuk ke kelas sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, serta
memanfaatkan waktu luang untuk membuat soal ujian siswa. Selain itu, guru juga
berorientasi masa depan yang ditunjukkan oleh adanya motivasi guru dalam
mengembangkan kemampuan profesinya serta adanya kemampuan guru dalam
membangun jaringan kerja yang ditunjukkan dengan adanya hubungan sekolah
dengan perusahaan-perusahaan besar pada kegiatan LSC.
Akan tetapi ada beberapa hal yang berkaitan dengan kegiatan Dinas
Pendidikan Malang yang masih jarang diikuti oleh guru SMA Laboratorium UM.
Hal ini salah satunya disebabkan oleh adanya persepsi guru yang menganggap
bahwa kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Malang mayoritas untuk
sekolah negeri.
Walupun terdapat keadaan motivasi guru SMA Laboratorium UM yang
masih belum maksimal, akan tetapi guru memiliki kinerja yang dapat dikatakan
baik. Guru SMA Laboratorium UM melaksanakan tugas dan perannya dengan
baik yang merupakan salah satu indikator kinerja guru. Indikator kinerja guru
untuk menjaga kedisiplinan sudah dilakukan dengan baik dengan cara datang dan
masuk kelas sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sekolah. Sedangkan
indikator kinerja guru untuk mampu berpikir sistematis tentang apa yang akan
dilakukan dapat ditemui oleh peneliti dalam perangkat pembelajaran yang dibuat
guru pada awal semester bersama dengan guru yang mengajar bidang studi yang
sama dan mempersiapkan bahan ajar ketika akan masuk kelas.
Selain itu, indikator guru dalam melakukan interaksi dengan siswa untuk
menimbulkan motivasi di kelas nampak pada saat guru menggunakan
keterampilan mengajar di kelas yaitu pembelajaran di mana siswa yang lebih aktif
dari pada guru. Hal ini didukung oleh adanya indikasi loyalitas guru pada tugas
mengajar di SMA Laboratorium UM. Loyalitas guru pada tugas mengajarnya
sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan siswa.
Walaupun guru merasa loyal akan tugas mengajarnya, akan tetapi ada
pula

guru

yang

merasa

tidak

nyaman

ketika

mengajar

di

sekolah.

Ketidaknyamanan tersebut disebabkan oleh jumlah siswa yang terlalu banyak,


fasilitas LCD sekolah yang kurang memadai, adanya kelompok informal antar
guru dan beberapa ketidakadilan. Kelompok informal ini dapat terlihat saat guru
tertentu berbincang-bincang maupun melakukan aktivitas informal bersama guru
yang dianggap teman baiknya di lingkungan sekolah. Beberapa guru asik
berbincang-bincang dengan kelompoknya. Begitu pula kelompok guru yang lain.
Hal ini mengurangi kenyamanan guru ketika berada di sekolah. Sedangkan
ketidakadilan dirasakan saat guru tersebut mendapatkan tugas yang banyak dari
pimpinan. Pimpinan sering memberi tugas baru dimana tugas yang sebelumnya
masih belum terselesaikan. Hal ini dirasakan terlalu berat oleh guru SMA
Laboratorium UM.

Analisis Komitmen Organisasi dan Motivasi Berprestasi dalam Upaya


Meningkatkan Kinerja Guru SMA Laboartorium UM
Pada SMA Laboratorium UM terdapat guru yang memiliki kinerja yang baik akan
tetapi komitmen terhadap organisasi yang dimiliki adalah komitmen kontinuan.
Indikasi komitmen kontinuan tersebut terlihat dari keinginan dari beberapa guru
SMA Laboratorium UM yang rela untuk keluar dari sekolah apabila diterima
menjadi CPNS. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Allen dan
Meyer (dalam Majorsy, 2007) bahwa komitmen kontinuan merupakan komitmen
yang didasrakan pada pertimbangan rasional mengenai keuntungan dan kerugian
dalam memutuskan akan bertahan atau meninggalkan organisasi. Pada SMA
Laboratorium UM terdapat guru yang pernah meraih prestasi pada lomba PTK.
Namun hal itu tidak menjamin bahwa beliau tetap berkeinginan untuk tetap
bertahan mengajar di SMA Laboratorium UM karena keinginan guru tersebut
untuk menjadi CPNS dan dosen Perguruan Tinggi. Keinginan menjadi CPNS dan
dosen ini disebabkan oleh adanya asumsi dari guru bahwa dengan menjadi PNS
atau pun dosen di Perguruan Tinggi memiliki kesejahteraan yang lebih baik
apabila dibandingkan dengan menjadi guru di SMA Laboratorium UM.
Walaupun terdapat guru yang kurang berkomitmen terhadap sekolah
sebagai organisasi, akan tetapi kinerja yang dimiliki dapat dikatakan bagus. Hal
ini disebabkan oleh adanya motivasi berprestasi dari guru untuk mewujudkan

salah satu tujuan sekolah, yaitu menghasilkan lulusan siswa yang cerdas. Mc.
Clelland (dalam Sule, dkk., 2004: 244) menyebutkan bahwa terdapat indikasi
adanya korelasi yang erat antara kebutuhan berprestasi dengan pencapaian kinerja.
Artinya, sekolah yang memiliki guru yang motivasi berprestasi tinggi maka akan
memiliki kinerja yang tinggi. Adapun sekolah yang memiliki guru yang
bermotivasi rendah akan cenderung memiliki kinerja yang rendah pula. Untuk
mencapai hal tersebut guru mencari informasi tentang pengembangan profesi,
PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru), maupun workshop atau pelatihan
yang dapat menambah wawasan dan keterampilan guru dalam menjalankan
tugasnya. Guru yang mengikuti PLPG akan dapat mengajar dengan lebih baik
sesuai dengan kebutuhan siswa dan perkembangan zaman. Selain itu wawasan
guru tentang pendidikan juga akan bertambah sehingga guru dapat bersikap
profesional ketika mengajar, yaitu mengabdikan diri sepenuhnya pada profesi
keguruan dengan sepenuh hati, mengupayakan yang terbaik untuk siswa, dan
bertanggung jawab atas tugas yang diberikan (Sanjaya, 2012).

KESIMPULAN
Komitmen organisasi setiap guru di SMA Laboratorium UM berbeda. Komitmen
afektif ditunjukkan dengan kehadiran guru yang tepat waktu, semangat guru
dalam mewujudkan misi sekolah, rasa kepemilikan atas sekolah yang dipengaruhi
oleh lama masa guru mengajar. Sedangkan komitmen kontinuan guru di SMA
Laboratorium UM dipengaruhi oleh kebutuhan finansial, yaitu keinginan guru
untuk tetap mengajar di sekolah karena sulitnya mencari pekerjaan, jumlah HR
yang tinggi, dan keinginan guru untuk mengikuti tes CPNS dan menjadi dosen
Perguruan Tinggi. Adanya komitmen kontinuan ini tidak berpengaruh terhadap
kinerja guru. Hal ini disebabkan oleh adanya motivasi berprestasi yang tinggi dari
guru untuk mewujudkan salah satu misi sekolah dan mengembangkan profesi
sehingga kinerja guru SMA Laboratorium dapat dikatakan baik. Guru SMA
Laboratorium memiliki motivasi berprestasi dalam menjalankan profesinya yang
ditunjukkan dengan keaktifan guru dalam mengikuti pelatihan, seminar, LSBS
(Lesson Study Berbasis Sekolah), PTK (Penelitian Tindakan Kelas), dan modul

atau LKS (Lembar Kerja Siswa) yang dapat menambah keterampilan guru di
kelas.

SARAN
Berdasarkan penelitian, maka beberapa saran yang dapat diberikan (1) Bagi Guru
SMA Laboratorium UM: (a) Hendaknya guru SMA Laboratorium UM dapat
secara aktif mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Malang
supaya guru dapat menambah wawasan, keterampilan, dan segala informasi untuk
mengembangkan pendidikan. (b) Diharapkan guru SMA Laboratorium UM aktif
mencari informasi tentang pendidikan yang bermanfaat untuk menambah
wawasan dan kemampuan profesi guru. (2) Bagi SMA Laboratorium UM: (a)
Hendaknya kepala sekolah mendelegasikan perwakilan dari guru SMA
Laboratorium UM pada setiap kegiatan Dinas Pendidikan Malang. (b) kepala
sekolah sebaiknya selalu mengetahui informasi maupun kegiatan dari luar Dinas
Pendidikan Malang yang dapat meningkatkan keterampilan keprofesian guru. (3)
Bagi Universitas Negeri Malang: (a) Sebaiknya pihak BPLP UM dapat
memberikan program pelatihan atau workshop gratis bagi guru SMA
Laboratorium UM untuk menambah wawasan pendidikan, kemampuan profesi
serta keterampilan dalam mengajar guna meningkatkan kinerja guru. (4) Bagi
peneliti selanjutnya: (a) Peneliti selanjutnya yang tertarik untuk melakukan
penelitian dengan tema yang sama disarankan untuk meneliti lebih mendalam dan
dapat menambah variabel yang dibutuhkan oleh objek penelitian, misalnya
dengan menambah variabel kepemimpinan sekolah yang menjadi salah satu faktor
yang dapat meningkatkan kinerja guru. (b) hendaknya peneliti selanjutnya
menggunakan indikator kinerja guru yang bersumber dari Permenpan terbaru.

DAFTAR RUJUKAN
Hamalik, Oemar. 2009. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Majorsy, Ursa. 2007. Kepuasan Kerja, Semangat Kerja dan Komitmen
Organisasional pada Staf Pengajar Universitas Gunadarma. Jurnal
Psikologi, (Online), Vol 1 (1): 63-74, (http://ejournal.gunadarma.ac.id),
diakses 30 April 2012.

Raju, P. Mohan & Srivastava, R.C. 1994. Factors Contributing to Commitment to


The Teaching Proffesion. International Journal of Educational
Management, Vol. 8 (5): 7-13. (Online), (maziatul_c@yahoo.com),
diakses 23 Februari 2012.
Robbins, P. Stephen. 2008. Perilaku Organisasi. Edisi 12a. Diterjemahkan oleh
Diana Angelica. Jakarta: Salemba Empat.
Rosyid.
2008.
Menumbuhkan
Semangat
Kerja
Sama,
(Online),
(http://www.rosyid.info/2010/07/menumbuhkan-semangat-kerjasama.html), diakses 22 Februari 2012.
Sanjaya. 2012. PLPG dijadwalkan Juni 2012 dengan 249.001 orang Peserta.
(Online), (http://bio-sanjaya.blogspot.com/2012/05/plpg-dijadwalkan-juni2012-dengan.html), diakses 17 Juni 2012.
Sopiah. 2008. Perilaku Organisasional. Malang : ANDI.
Subagio. 2011. Penilaian Kinerja Guru, (Online), (http://subagiosubagio.blogspot.com/2011/11/penilaian-kinerja-guru.html), diakses 3 Mei
2012.
Sule, Ernie Tisnawati, dkk. 2004. Pengantar Manajemen. Bandung: Kencana.
Wahyuni, Dewi Urip. 2011. Pengaruh Komitmen Organisasional Dan Motivasi
Terhadap Kinerja Guru STS Di Surabaya. Jurnal Mitra Ekonomi dan
Manajemen Bisnis, (Online), Vol 2, (1): 60-78, (http://puslit2.petra.ac.id),
diakses 1 Mei 2012.