Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

Judul

: LABIRIN SEBAGAI RESEPTOR KESEIMBANGAN


DAN GERAK REFLEKS PADA KATAK

Tanggal praktikum : Selasa, 21 Oktober 2014

Nama anggota (No. Reg)

1. Agustina Setyanigsih (3425120270)


2. Dinda Nurul Nabila (3425122225)
3. Hazleini Misvayanty (3425122202)
4. Putri Ajeng Sariyanti (3425122216)
5. Agi Karlina (3425111406)
Kelompok

8 (delapan)

BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

LABIRIN SEBAGAI RESEPTOR KESEIMBANGAN

GERAK REFLEKS PADA KATAK

Pemberian nama otot rangka disebabkan karena otot ini menempel pada system
rangka (Seeley, 2002). Berdasarkan Tobin (2005), otot terdiri atas bundel-bundel
sel otot. Setiap bundel berada di dalam lembaran jaringan ikat yang membawa
pembuluh darah dan saraf yang mensuplai kebutuhan otot tersebut. Di setiap
ujung otot, lapisan luar dan dalam dari jaringan ikat bersatu menjadi tendon yang
biasanya menempel pada tulang. Otot rangka memiliki empat karakteristik
fungsional sebagai berikut:
1. kontraktilitas; kemampuan untuk memendek karena adanya gaya
2. eksitabilitas; kapasitas otot untuk merespon sebuah rangsang
3. ekstensibilitas; kemampuan otot untuk memanjang
4. elastisitas; kemampuan otot untuk kembali ke panjang normal setelah
mengalami pemanjangan. (Seeley, 2002).
Reflek gerak pada ektremitas (tungkai) berpusat di sumsum tulang belakang.
Jalannya impuls pada gerak reflek menurut Bell dan Magendie adalah : reseptor
saraf sensoris (melalui lengkung dorsal) medulla spinalissaraf motoris (melalui
lengkung ventral)efektor. Potensial aksi merupakan depolarisasi dan repolarisasi
membran sel yang terjadi secara cepat (Seeley, 2002). Pada sel otot (serabut
serabut otot), potensial aksi menyebabkan otot berkontraksi (Seeley, 2002).
Berdasarkan Campbell (2004), sebuah potensial aksi tunggal akan menghasilkan
peningkatan tegangan otot yang berlangsung sekitar 100 milidetik atau kurang
yang disebut sebuah kontraksi tunggal. Jika potensial aksi kedua tiba sebelum
respon terhadap potensial aksi pertama selesai, tegangan tersebut akan
menjumlahkan dan menghasilkan respon yang lebih besar. Jika otot menerima
suatu rentetan potensial aksi yang saling tumpang tindih, maka akan terjadi
sumasi yang lebih besar lagi dengan tingkat tegangan yang bergantung pada laju
perangsangan. Jika laju perangsangan cukup cepat, sentakan tersebut akan lepas
menjadi kontraksi yang halus dan bertahan lama yang disebut tetanus. Pada saat
sel saraf dalam keadaan istirahat (reseptor tidak dirangsang), membran sel dalam
keadaan impermeable terhadap ion. Jika sel saraf dirangsang, maka saluran ion
akan terbuka. Ion natrium akan masuk ke dalam sel dan ion kalium bersama ion
Cl akan keluar dari dalam sel. Muatan ion di dalam sel menjadi lebih positif dan
muatan ion di dalam sel menjadi lebih negatif. Keadaan ini disebut depolarisasi.
Membran sel dalam keadaan permeable terhadap ion. Perjalanan impuls saraf
dapat diblokir oleh rangsang dingin, panas, atau tekanan pada serabut saraf.
Pemblokiran yang sempurna dicapai dengan memberikan zat anastetik.

BAB II
HASIL PERCOBAAN

Keseimbangan Pada Manusia


a. Kerja Canalis Semisirkularis Lateral
Posisi Kepala dan
Mata
Menunduk dan mata
terpejam

Arah dan Percepatan


Putaran
Ke kanan, Lambat
Ke kanan, Agak cepat
Ke kanan, Lambat

b. Kerja Semisirkularis Anterior dan Posterior


Posisi Kepala dan
Arah dan Banyak
Mata
Putaran
Miring 1200 ke
Ke kanan dan sebanyak
kanan dan mata
10x
terpejam

Sensasi saat diputar


Belum merasakan pusing
Merasakan diputar
Merasakan di putar ke arah
kiri (berbalik arah)

Sensasi saat diputar


Berjalan miring ke arah
kanan

Keseimbangan Pada Katak


Gerak Refleks Katak Sebelum Sumsum Tulang Belakang Dirusak
Gerak Refleks Katak Sesudah Sumsum Tulang Belakang Dirusak
Perlakuan
Pengulangan
Lamanya Respon
Dipijit

3 kali

Tidak ada Respon

Diberi Asam Cuka

3 kali

1. 1 detik
2. 2 detik
3. tidak ada respon

BAB III
PEMBAHASAN
LABIRIN SEBAGAI RESEPTOR KESEIMBANGAN
Keseimbangan Pada Manusia
Proses keseimbangan tubuh ketika badan dalam posisi tegak dan kepala
menunduk, dan tubuh diputar ke kanan, melibatkan kanalis semisirkularis lateral.
Mata OP ditutup agar kesadaran visual terhadap kondisinya tidak bekerja
sehingga OP hanya dapat mendeteksi kondisi keseimbangannya tanpa kesadaran
indera penglihatannya. Pada bagian dasar kanalis semisirkularis terdapat struktur
yang disebut ampula. Di dalam ampula terdapat reseptor sistem vestibular yang
disebut Krista ampularis. Rambut-rambut sensorik krista atau stereosilia ini
tertanam pada gelatin yang memanjang, disebut kupula. Di dalam ampula terdapat
cairan endolimfe. Ketika tubuh dalam posisi tegak dan kepala menunduk diputar
lambat, agak cepat, dan lambat lagi ke arah kanan sebanyak 10 kali serta mata
dipejamkan, maka kanalis semisirkularis lateral akan ikut bergerak ke arah kanan.
Namun cairan endolimfe akan bergerak sebaliknya yaitu ke arah kiri. Stereosilia
juga akan bergerak ke kiri karena mengalami depolarisasi ketika stereosilia
bergerak ke arah kinosilium. Sensasi yang diakibatkan adalah tubuh terasa
bergerak ke arah kanan. Namun saat putaran semakin lambat dan berhenti, cairan
endolimfe akan bergerak ke arah kanan, yang menyebabkan stereosilia bergerak
ke kanan, untuk mempertahankan kelembamannya. Karena itu saat mata masih
tertutup (kesadaran penglihatan tidak ada), OP akan merasa bergerak kearah kiri.
Proses keseimbangan tubuh ketika badan dalam posisi badan dan kepala
dimiringkan ke kanan, dan tubuh diputar ke kanan, melibatkan kanalis
semisirkularis posterior. Pada saat kepala dimiringkan ke kanan, posisi kanalis
semisirkularis posterior akan menjadi horizontal. Pada bagian dasar kanalis
semisirkularis ini juga terdapat struktur yang disebut ampula. Di dalam ampula
terdapat reseptor sistem vestibular yang disebut Krista ampularis. Rambut-rambut
sensorik krista atau stereosilia ini tertanam pada gelatin yang memanjang, disebut
kupula. Di dalam ampula terdapat cairan endolimfe. Ketika tubuh dalam posisi
tegak dan kepala dalam posisi miring ke kanan diputar serta mata dipejamkan
kemudian tubuh diputar ke arah kanan sebanyak 10 kali, maka kanalis
semisirkularis posterior akan ikut bergerak ke arah kanan. Namun cairan
endolimfe di dalamnya akan bergerak sebaliknya yaitu ke arah kiri. Stereosilia
juga akan bergerak ke kiri karena mengalami depolarisasi ketika stereosilia
bergerak ke arah kinosilium. Sensasi yang diakibatkan adalah tubuh terasa
bergerak ke arah kanan. Namun saat putaran dihentikan, kepala ditegakkan
(kanalis semisirkularis porterior kembali tegak), maka cairan endolimfe akan
bergerak ke depan (dalam posisi tegak), yang menyebabkan stereosilia bergerak
ke depan, untuk mempertahankan kelembamannya. Pada saat mata terbuka OP
tidak akan mengalami sensasi seperti yang terjadi pada table pengamatan karena
sensasi sadarnya telah bekerja dan tubuhnya telah menyadari bahwa ia tidak lagi
bergerak. Sensasi sadar lebih kuat daripada sensasi saat mata tertutup sehingga
sensasi tersebut dapat menggantikan sensasi saat mata tertutup.

Keseimbangan Pada Katak


Berdasarkan pengamatan di dapatkan hasil bahwa dalam keadaan normal
saat papan bedah diputar, digoyangkan kesegala arah dan dinaikturunkan, Rana
sp. Memperlihatkan cara berenang dengan posisi miring ke kiri. Hal ini
disebabkan karena pada struktur telinga dalam terdapat macula akustika (organ
keseimbangan statis) dan krista akustika (organ keseimbangan dinamis) melalui
koordinasi penyampaian impuls sarafnya masing-masing. Sel reseptor pada
macula akustica yang berupa sel-sel rambut dan sel-sel penunjung melekat pada
membran yang mengandung butiran CaCO3 yang disebut otolit. Macula di
sakulus dan di utriculus peka terhadap gaya berat otolit ini. Perubahan posisi
kepala menimbulkan tarikan gravitasi yang menyebabkan depolarisasi sel reseptor
yang menjalar ke otak kecil sebagai organ keseimbangan. Sedangkan sel-sel
reseptor pada krista akustika yang juga berupa sel-sel rambut dan penunjang tidak
melekat pada otolit. Sel-sel rambut disini di stimulasi oleh gerakan endolimfe.
Ketika rana sp. Bergerak akibat terjadinya perputaran tubuh, endolimfe yang
berasal dari labirin akan mengalir diatas sel-sel rambut. Sel-sel rambut menerima
rangsangan dan mangubahnya menjadi impuls saraf. Sebagai responnya, otot-otot
berkontraksi untuk mempertahankan keseimbangan tubuh pada posisi yang baru
Namun saat diberi perlakuan kedua yaitu ditusuk bagian otaknya Rana sp.
melompat dan berenang dengan posisi miring kekiri pula. Hal ini disebabkan
karena batang otak yang terdiri dari medulla, pons dan otak tengah merupakan
organ penghubung penting bagi otak lainnya dengan medulla spinalis. Karena
kerusakan ini mengakibatkan sistem spinal tidak berfungsi lagi dan
mengakibatkan terjadinya disorientasi posisi pada Rana sp.
GERAK REFLEKS PADA KATAK
Respon katak sebelum sumsum tulang belakang dirusak

Respon katak setelah sumsum tulang belakang dirusak


Dipijit
Pada percobaan ini, dimana medulla spinalisnya dirusak dan
kemudian diberi perlakuan dengan memijit kaki kanan dan kiri katak namun
katak tersebut tidak merespon. Hal i n i t e r j a d i k a r e n a m e d u l l a
s p i n a l i s ya n g merupakan pusat saraf juga telah dirusak, maka secara
langsung tidak akan terjadi gerakan refleks. Rusaknya medulla spinalis
menyebabkan impuls terhambat karena seluruh sarafnya yang seharusnya
dapat menghantarkan impuls telah rusak (Sherwood, 2001).
Dicelup cuka
Pada percobaan perusakan sumsum tulang belakang pada katak, respon
yang diberikan yaitu katak masih dapat mengangkat salah satu kakinya ketika
dicelupkan ke dalam cuka selama 1-2 detik. Timbulnya respon terhadap penarikan

salah satu kaki ini mungkin disebabkan oleh sumsum tulang belakang belum
seluruhnya mengalami kerusakan sehingga katak masih dapat memberikan
respon. Pearce (1989), menambahkan bahwa perusakan tulang belakang ternyata
merusakkan tali-tali spinal sebagian jalur saraf. Tali-tali spinal sendiri terdiri dari
saraf sensori dan motorik, sehingga bila saraf tersebut rusak maka respon terhadap
stimulus tidak terjadi. Larutan cuka merupakan asam lemah dan berbahaya apabila
terkena tubuh. Ketika Kaki katak dicelupkan ke dalam larutan cuka akan
mengakibatkan katak sebisa mungkin akan menarik kakinya dari larutan itu
karena berbahaya bagi tubuhnya, ini merupakan salah satu gerakan untuk
perlindungan tubuhnya dari zat-zat kimia yang berbahaya. Percobaan ini
membuktikan bahwa dalam suatu sistem refleks diperlukan sumsum tulang
belakang sebagai pusat koordinasi dan pengaturan gerak refleks.
Refleks adalah suatu respon organ efektor (otot ataupun kelenjar) yang
bersifat otomatis atau tanpa sadar terhadap suatu stimulus tertentu. Respon
tersebut melibatkan suatu rantai yang terdiri atas sekurang-kurangnya dua neuron,
yang membentuk suatu busur refleks. Dua neuron yang penting dalam suatu busur
refleks adalah neuron afferen, sensoris, atau penghubung (interneuron) yang
terletak diantara neuron reseptor dan neuron efektor. Refleks spinal yang khas
adalah refleks rentang yang digambarkan dengan refleks pemukulan ligamentum
partela, sehingga menyebabkan otot lutut terentang. Aksi refleks ini tidak
memerlukan kontrol kesadaran (Frandson, 1992).
Rangsangan yang datang dari luar diterima oleh saraf sensorik yang
diteruskan oleh saraf spinal ke tulang belakang, lalu dari tulang belakang
diteruskan ke saraf motorik hingga menjadi suatu gerak. Gerakan ini tidak
disadari karena tidak melalui otak yang disebut gerak refleks (Weichert, 1959).
Refleks dapat melibatkan berbagai bagian otak dan sistem saraf otonom, refleks
yang paling sederhana adalah refleks spinal. Gerak refleks spinal diatur oleh sarafsaraf yang terdapat di dalam medula spinalis. Medula spinalis atau sumsum tulang
belakang terdapat di dalam kanalis vertebratalis berhubungan dengan otak melalui
fragmen magnum. Sumsum ini terbungkus oleh badan lemak dan dilindungi oleh
sentrum serta lengkung neural, kecuali cyclostoma (Djuhanda, 1988).
Katak memiliki sistem saraf yang mana saraf-saraf tersebut dapat
menghantarkan stimulus ke otak hingga menimbulkan respon. Respon akan
ditanggapi oleh neuron dengan mengubah potensial yang ada antara permukaan
luar dan dalam dari membran. Sel-sel dengan sifat ini disebut dapat dirangsang
(excitable) dan dapat diganggu (irritable). Neuron ini segera bereaksi tehadap
stimulus, dan dimodifikasi potensial listrk dapat terbatas pada tempat yang
menerima stimulus atau dapat disebarkan ke seluruh bagian neuron oleh
membran. Penyebaran ini disebut potensial aksi atau impuls saraf, mampu
melintasi jarak yang jauh impuls saraf menerima informasi ke neuron lain, baik
otot maupun kelenjar (Junqueira, 1995). Mekanisme refleks dimulai jika reseptorreseptor dirangsang dan menimbulkan impuls dalam neuron afferent. Neuron ini
merupakan bagian dari suatu saraf spinal dan menjulur ke dalam sumsum tulang
belakang dan membawa impuls itu kembali melalui saraf spinal ke sekelompok
otot ekstensor (Ville et al, 1988). Diagram mekanisme refleks menurut Mitchell

(1956) : Stimulus Reseptor Neuron afferent Mengalami integrasi


Neuron efferent Efektor Respon.
Faktor mempengaruhi refleks spinal menurut Subowo (1992), yaitu
adanya refleks spinal dari katak berupa respon dengan menarik kaki depan atau
kaki belakang saat perusakan sumsum tulang belakang disebabkan karena masih
terjadi interkoneksi dari satu sisi korda spinalis ke sisi yang lain.Faktor lain yang
mempengaruhi terjadinya refleks spinal adalah masih berfungsinya sumsum
tulang belakang. Sumsum tulang belakang mempunyai dua fungsi penting yaitu
mengatur impuls dari dan ke otak dan sebagai pusat refleks. Adanya sumsum
tulang belakang, pasangan saraf spinal dan cranial akan menghubungkan tiap
reseptor dan efektor dalam tubuh sampai terjadi respon. Apabila sumsum tulang
belakangnya telah rusak total maka tali-tali spinal sebagai jalur syaraf akan rusak
dan tidak ada lagi yang menunjukkan respon terhadap stimulus (Ville et al.,
1988).

KESIMPULAN

Labirin berfungsi sebagai alat keseimbangan tubuh karena memiliki organorgan vestibular (sakulus,utrikulus, dan kanalis semisirkularis).
Proses keseimbangan tubuh ketika badan dalam posisi tegak dan kepala
menunduk, dan tubuh diputar ke kanan, melibatkan kanalis semisirkularis
lateral.
Proses keseimbangan tubuh ketika badan dalam posisi badan dan kepala
dimiringkan ke kanan, dan tubuh diputar ke kanan, melibatkan kanalis
semisirkularis posterior.
Perubahan posisi kepala menimbulkan tarikan gravitasi yang
menyebabkan depolarisasi sel reseptor yang menjalar ke otak kecil sebagai
organ keseimbangan.
Refleks adalah suatu respon organ efektor (otot ataupun kelenjar) yang
bersifat otomatis atau tanpa sadar terhadap suatu stimulus tertentu.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell,Neil A., Jane B. Reece dan lawrence G.Mitchell.2004. Biologi Edisi
Kelima Jilid 3. Erlangga: Jakarta
Duke,NH.1995.The Physiology of Domestic Animal. Comstock Publishing: New
York
Ganong, William F. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Edisi 20). Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Guyton,D.C.1993.Fisiologi Hewan.EGC: Jakarta
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta:Kanisius.
Pinel,J.P.J.1993. Biopsycology.2nd ed. Massachusetts:Allyn and Bacon.
Puspita, I.1999. Psikologi faal.Depok: Universitas Gunadarma.
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia. Jakarta: Buku Kedokteran EGC