Anda di halaman 1dari 21

GAYA BAHASA/MAJAS

1. Pengertian Gaya Bahasa


Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan
jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda
atau hal lain yang lebih umum. Pendek kata, penggunaan gaya bahasa tertentu dapat
mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale [et al] dalam Tarigan, 1986: 5).
Gaya bahasa juga berarti cara mempergunakan bahasa secara imajiantif, bukan dalam
pengertian yang benar-benar secara kalamiah (Warriner [et al] dalam Tarigan, 1986: 5).
Gorys Keraf mengatakan, gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui
bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa).
Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut: kejujuran, sopansantun, dan menarik (Keraf, 1985:113).
Gaya bahasa juga berarti 1) pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam
bertutur atau menulis; 2) pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu;
3) keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra; 4) cara khas dalam
menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan (KBBI, 1995: 297).
P. Suparman Natawidjaja (1986: 73) mengatakan, gaya bahasa adalah pernyataan
dengan pola tertentu, sehingga mempunyai efek tersendiri terhadap pemerhati. Dengan
pola materi akan menimbulkan efek lahiriah (efek bentuk), sedangkan dengan pola arti
(pola makna) akan menimbulkan efek rokhaniah (sic!).
Menurut Suparman, yang dimaksud gaya bahasa di sini adalah gaya bahasa sebagai
pernyataan berbentuk kalimat, bukan yang berbentuk paragraf. Itu berarti fabel tidak
termasuk macam gaya bahasa karena penyajiannya dalam bentuk paragraf atau cerita.
Berikut disajikan contohnya.
1) Dengan pola materi
Ayah membeli lima ekor kambing.
Ekor menunjukkan bagian dari materi (badan) kambing. Yang dibeli tentu bukan
ekornya saja, melainkan seluruh tubuh kambing tersebut.
2) Dengan pola arti
Anak Anda kurang pandai dalam ilmu pasti.
Kata kurang menunjukkan sifat atau keadaan kepandaian anak itu. Gaya bahasa ini
memperlemah arti tidak pandai (=bodoh) menjadi kurang pandai. Kata tidak
menunjukkan hal yang positif (tegas), sedangkan kata kurang menunjukkan
kerelatifan.
2. Klasifikasi Gaya Bahasa
Henry Guntur Tarigan mengklasifikasikan gaya bahasa menjadi empat, yaitu gaya bahasa
perbandingan, pertentangan, perulangan, dan pertautan (Tarigan, 1986: ix-xi).
J.S. Badudu ( 1983b:70) membedakan gaya bahasa atas gaya bahasa perbandingan, gaya
bahasa sindiran, gaya bahasa penegasan, dan gaya bahasa pertentangan.

Masing-masing jenis gaya bahasa dikelompokkan sebagai berikut.


a. Gaya Bahasa Menurut Henry Guntur Tarigan
1) gaya bahasa perban-dingan
a) perumpamaan
b) metafora
c) personifikasi
d) depersonifikasi
e) alegori
f) antithesis
g) pleonasme dan tautology
h) periphrasis
i) antisipasi dan prolepsis
j) koreksio dan epanortesis
2) gaya bahasa perten-tangan
a) hiperbola
b) litotes
c) ironi
d) oksimoron
e) paronomasia
f) paralipsis
g) zeugma dan silepsis
h) satire
i) innuendo

j) antifrasis
k) paradox
l) klimaks
m) antiklikaks
n) apostrof
o) anastrof atau inversi
p) apofasis atau preterisio
q) histeron proteron
r) hipalase
s) sinisme
t) sarkasme
3) Gaya bahasa pertautan
a) metonimia
b) sinekdoke
c) alusi
d) eufemisme
e) eponym
f) epitet
g) antonomasia
h) erotesis
i) paralelisme
j) ellipsis
k) gradasi

l) asyndeton
m) polisindeton
4) Gaya bahasa perulangan
a) aliterasi
b) asonansi
c) antanaklasis
d) kiasmus
e) epizeukis
f) tautotes
g) anaphora
h) epistrofa
i) simploke
j) mesodiplosis
k) epanalepsis
l) anadiplosis
b. Gaya Bahasa Menurut J. S. Badudu
1) Gaya bahasa perban- dingan
a) metafora
b) personifikasi
c) asosiasi
d) alegori
e) parabel
f) simbolik

g) tropen
h) metonimia
i) litotes
j) sinekdoke
k) eufemisme
l) hiperbolisme
m) alusio
n) perifrasis
o) antonomasia
2) Gaya bahasa sindiran
a) ironi
b) sinisme
c) sarkasme
3) Gaya bahasa penegasan
a) pleonasme
b) repetisi
c) paralelisme
d) tautology
e) klimaks
f) antiklimaks
g) inverse
h) elipsi
i) retoris

j) koreksio
k) asyndeton
l) polisindeton
m) interupsi
n) eksklamasio
o) enumerasio
p) praterito
4) Gaya bahasa perten-tangan
a) paradox
b) antithesis
c) kontradiksio interminis
d) anakronisme
c. Gaya Bahasa Menurut P.Suparman Natawidjaja
a) alegori
b) alusi
c) amplikasi
d) anastrop
e) antitesis
f) antonomasia
g) asindeton
h) asosiasi
i) sinis
j) eklamasi

k) eliptis atau pemeo


l) enumaresi
m) efimisme
n) hiperbaton
o) hiperbol
p) influen
q) interupsi
r) ironi
s) klimaks
t) koreksio
u) litotes
v) metafora
w) metonimia
x) okupasi
y) paralelisme
z) paradoks
aa) paranomasi
bb) pemeo
cc) personifikasi
dd) pleonasme
ee) polisindeton
ff) pretesio
gg) preterito

hh) prolepsis
ii) propinsialistis
jj) resensi
kk) repetisi
ll) sarkasme
mm) sinonimis
3. Daftar Gaya Bahasa Menurut Abjad
1. alegori
2. aliterasi
3. alusio
4. amplikasi
5. anabasis
6. anadiplosis
7. anaphora
8. anakronisme
9. anastrof (bandingkan dengan inversi)
10. antanaklasis
11. antifrasis
12. antiklimaks
13. antisipasi dan prolepsis
14. antithesis
15.

16. apofasis atau preterisio

antonomasia

17. apostrof
18. asyndeton
19. asonansi
20. asosiasi
21. batos
22. dekrementum
23. depersonifikasi
24. eklamasi
25. ellipsis
26. elipsis atau pemeo
27. enumerasio
28. epanalepsis
29. epanortesis
30. epistrofa/epifora
31. epitet
32. epizeukis
33. eponym
34. erotesis/retoris
35. Eufemisme
36. fable
37. gradasi
38. hipalase
39. hyperbaton

40. hiperbola/hiperbolisme
41. histeron proteron
42. Influen
43.interupsi
44. innuendo
45. inversi
46. ironi
47. katabasis
48. kiasmus
49. klimaks/antiklimaks
50. kontradiksio interminis
51. koreksio/epanortesis
52. litotes
53. mesodiplosis
54. metafora
55. metonimia
56. oksimoron
57. okupasi
58. parable
59. paradox
60. paralelisme
61. paralipsis
62. paronomasia/pun

63. pemeo
64. periphrasis
65. personifikasi
66. perumpamaan/simile
67. pleonasme
68. polisindeton
69. preterito
70. pretesio
71. prolepsis
72. propinsionalistis
73. repetisi
74. resensi
75. retoris (lihat erotesis)
76. Sarkasme
77. satire
78. silepsis
79. simbolik
80. simploke
81. sinekdoke (totem pro part/pars pro toto)
82. sinis/sinisme
83. sinonimis
84. tautotes/ tautology
85. tropen

85. zeugma
4. Daftar Gaya Bahasa: Pengertian dan Contoh
1) Alegori adalah cerita yang dikisahkan dengan lambang-lambang; merupakan metafora yang
diperluas dan berkesinambungan; dalam alegori unsur-unsur utama menyajikan sesuatu yang
terselubung; mengandung nilai-nilai moral atau spiritual manusia. Alegori disebut juga
perbandingan utuh. Beberapa perbandingan yang bertaut satu dengan yang lain membentuk satu
kesatuan utuh. Contoh: Wejangan orang tua, Hati-hatilah kamu mendayung bahtera hidupmu,
mengarungi lautan penuh bahaya, batu karang, gelombang, topan, dan badai. Apabila nakhoda
dan juru mudi senantiasa seia sekata dalam melayarkan bahteranya, niscaya akan tercapai tanah
tepi yang menjadi idaman.
2) Aliterasi adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan konsonan yang
sama pada awal kata. Contoh: (1) muka muda mudah muram; (2) tangan tangguh tadahkan
tangguk
3) Alusi/alusio atau kilatan adalah gaya bahasa yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu
peristiwa atau tokoh berdasarkan praanggapan adanya pengetahuan yang sama yang dimiliki
oleh pengarang dan pembaca serta adanya kemampuan para pembaca untuk menangkap
pengacuan itu. Contoh: (1) Tugu ini mengenangkan kita pada peristiwa Bandung Selatan. (2) Di
Surabaya inilah peristiwa 10 November terjadi.
4) Amplikasi adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan sesuatu dengan kalimat
majemuk bertingkat dengan perluasan anak kalimatnya sehingga terasa eksplisit. Contoh: (1) Ia
pergi juga, meskipun hujan, padahal ibu telah melarangnya. (2) Anak saya datang, ketika saya
sedang mengobati pasien, sesuai dengan janjinya hari itu ia akan datang.
5) Anabasis adalah semacam gaya bahasa klimaks yang terbentuk dari beberapa gagasan yang
berturut-turut semakin meningkat kepentingannya. Contoh: Dengan penuh penderitaan aku
menuntut ilmu yang akan kupersembahkan kepada nusa dan bangsa untuk meningkatkan taraf
pendidikan para siswa untuk menciptakan kesejahteraan sosial bangsa kita, bangsa Indonesia.
6) Anadiplosis adalah sejenis gaya bahasa repetisi di mana kata atau frase terakhir dari suatu
klausa atau kalimat menjadi kata atau frase pertama dari kalimat berikutnya. Contoh:
Dalam raga ada darah, Dalam darah ada tenaga, Dalam tenaga ada daya, Dalam daya ada segala
7) Anafora adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap
baris atau setiap kalimat. Contoh: Lupakah engkau bahwa merekalah yang mengasuh dan
membesarkanmu? Lupakah engkau bahwa keluarga itulah yang menyekolahkanmu sampai ke
perguruan tinggi? Lupakah engkau bahwa mereka pulalah yang mengawinkanmu dengan gadis
pujaanmu itu? Lupakah engkau?
8) Anakronisme adalah cara menyebutkan sesuatu hal atau uraian yang tidak sesuai dengan
sejarah. Sesuatu yang disebutkan dalam cerita itu belum ada pada masa itu. Dalam hal ini
pengarang tidak teliti sehingga menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Ini sebenarnya tidak

termasuk gaya bahasa, tetapi kesalahan atau ketidaktelitian penulis dalam menggunakan data
(pen.). Misalnya Kalau dalam karangan dikatakan bahwa saat perang dunia I, Amerika dan
sekutunya mengebom Irak habis-habisan adalah tidak tepat karena waktu perang dunia I belum
ada bom dan bukan Irak musuh Amerika waktu itu.
9) Anastrof adalah semacam gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata
yang biasa dalam kalimat (lihat Inversi). Contoh: (1) Diceraikannya istrinya tanpa kompromi. (2)
Ditebasnya pohon-pohon di belakang rumahnya itu sampai habis karena dianggap menimbulkan
berbagai persoalan.
10) Antanaklasis adalah gaya bahasa yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna
yang berbeda (homonim). Contoh: (1) Giginya tanggal dua pada tanggal dua bulan ini. (2)
Tambang
besar
ini
akan
dibawa
ke
daerah
tambang.
11) Antifrasis adalah gaya bahasa berupa penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya.
Contoh: (1) Mari kita sambut kedatangan siswa teladan (maksudnya siswa paling malas). (2)
Hebat, memang kau orang pintar (maksudnya orang bodoh).
12) Antiklimaks adalah gaya bahasa yang merupakan acuan yang berisi gagasan-gagasan yang
diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan kurang penting (kebalikan dari klimaks).
Contoh: (1) Pembangunan besar-besaran dilaksanakan di kota, di desa, dan di dusun-dusun
terpencil. (2) Banyak sekali hewan ternakmu, ada sapi, kambing, angsa, ayam.
13) Antisipasi adalah gaya bahasa yang berwujud penggunaan terlebih dahulu satu atau beberapa
kata sebelum gagasan atau pun peristiwa yang sebenarnya (lihat prolepsis). Contoh: (1) Kami
sangat bergembira, minggu depan kami memperoleh hadiah dari Bapak Bupati. (2) Mobil yang
malang itu ditabrak oleh truk pasir dan jatuh ke jurang.
14) Antitesis adalah gaya bahasa yang menggunakan perbandingan atau komparasi antara dua
antonim. Contoh: (1) Dia bergembira ria atas kegagalanku dalam ujian itu. (2) Kecantikannyalah
yang justru mencelakakannya.
15) Antonomasia adalah gaya bahasa yang merupakan penggunaan gelar resmi atau jabatan
sebagai pengganti nama diri. Apabila seseorang kita namai atau kita panggil bukan dengan nama
aslinya, melainkan dengan nama panggilan yang disebabkan oleh sifat atau keadaan yang
dimiliki atau ciri tubuhnya, misalnya Si Gemuk, Si Botak, Si Kacamata, Si Jangkung, maka ini
disebut antonomasia.
16) Apofasis adalah gaya bahasa yang berupa penegasan sesuatu tetapi justru tampaknya
disangkalnya (lihat preterisio). Contoh: (1) Saya tidak ingin mengungkapkan di dalam rapat ini
bahwa sebenarnya anakmu itu sudah berbadan dua; sudah hamil. (2) Saya sebenarnya malu
mengatakannya; saya termasuk orang yang kurang paham mengenai persoalan itu.
17) Apostrof adalah gaya bahasa yang berupa pengalihan amanat dari yang hadir kepada yang
tidak hadir. Contoh: Wahai roh-roh nenek moyang kami yang bertahta di segenap penjuru,
datanglah, bantulah kami dalam menyelesaikan persoalan kami ini!

18) Asindeton adalah gaya bahasa yang berupa acuan padat; beberapa kata, frase, atau klausa
sederajat tidak dihubungkan dengan kata penghubung, tetapi biasanya dipisahkan dengan tanda
koma. Contoh: Tujuan instruksional, materi pelajaran, kualitas guru, metode yang serasi, media
pengajaran, pengelolaan kelas, minat murid, evaluasi yang akurat, turut menentukan keberhasilan
proses belajar mengajar.
19) Asonansi adalah sejenis gaya bahasa repetisi berupa perulangan vokal yang sama. Contoh:
Dara damba daku, datang dari danau, duga dua duka, diam di diriku.
20) Asosiasi adalah gaya bahasa yang memberikan perbandingan terhadap suatu benda yang
sudah disebutkan. Perbandingan itu menimbulkan asosiasi terhadap benda tadi sehingga
gambaran tentang benda atau hal yang disebutkan tadi menjadi lebih jelas (lihat juga
perumpamaan/simile). (1) Jadikanlah jiwamu seperti karang di tengah lautan, jangan seperti air
di daun talas. (2) Mengapa kau seperti bulan kesiangan?
21) Batos adalah sejenis gaya bahasa antiklimaks yang mengandung penukikan tiba-tiba dari
gagasan yang sangat penting ke suatu gagasan yang sama sekali tidak penting. Contoh: (1) Dia
memang raja uang di desa ini, seorang budak hawa nafsu dan keserakahan. (2) Negara kita
memang kaya sehingga banyak orang miskin terlantar di mana-mana.
22) Dekrementum adalah semacam gaya bahasa antiklimaks yang berwujud menambah gagasan
yang kurang penting pada suatu gagasan penting. Contoh: (1) Mereka akan mengakui betapa
besarnya jasa orang tua mereka, bila mereka mengenangkan penderitaan dan kegigihan orang tua
itu mengasuh mereka.
23) Depersonifikasi adalah gaya bahasa yang berupa pembendaan manusia/insan (kebalikan dari
personifikasi). Contoh: (1) Andaikan adinda menjadi bunga, kakanda menjadi kumbangnya.
24) Eklamasi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru untuk menegaskan sesuatu.
Aduhai, inilah hidup! Sungguh, baru sekali ini aku melakukan perjalanan sejauh ini!
25) Elipsis adalah gaya bahasa yang di dalamnya dilakukan penanggalan kata-kata/penghilangan
kata-kata yang merupakan unsur penting dalam konstruksi kalimat yang lengkap. Dalam ellipsis
ada unsur subjek atau predikat yang tidak disebutkan karena dianggap sudah diketahui. Contoh:
(1) Mereka ke Jakarta besok (menghilangkan predikat pergi, berangkat). (2) Sudah pergi?
(menghilangkan subjek mereka).
26) Enumerasio adalah gaya bahasa yang dibentuk dengan cara menggabungkan beberapa
peristiwa yang membentuk satu kesatuan dirincikan satu per satu supaya tiap-tiap peristiwa
tampak semakin jelas. Contoh: Laut tenang. Di atas permadani biru itu tampak satu per satu
perahu nelayan melancar perlahan. Angin berembus sepo-sepoi. Bulan memancar dengan
terangnya. Di sana-sini bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan alam
yang harmonis. Itulah keindahan alam yang sejati.

27) Epanalepsis adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama dari
baris, klausa, atau kalimat menjadi yang terakhir. Contoh: (1) Saya akan tetap berusaha mencapai
cita-cita saya. (2) Akan kupersembahkan padamu segala yang dapat kupersembahkan padamu.
28) Epanortesis/koreksio adalah gaya bahasa yang berwujud mula-mula ingin menegaskan
sesuatu, tetapi kemudian memeriksa dan memperbaiki mana-mana yang salah.
29) Epistrofa/epifora (kebalikan anafora) adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa
perulangan kata atau frase pada akhir baris atau kalimat secara berurutan. Contoh: Kemarin dulu
dia datang. Kemarin dia datang. Hari ini dia datang. Mungkinkah besok dia datang?
30) Epitet adalah gaya bahasa yang mengandung acuan yang menyatakan suatu ciri khas dari
seseorang atau sesuatu hal. Contoh: Lonceng pagi bersahut-sahutan menyambut sang surya yang
akan menerangi alam (lonceng pagi=ayam jantan).
31) Epizeukis adalah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung dengan cara mengulang
kata yang dipentingkan beberapa kali berturut-turut. Contoh: Ingat, kamu harus bertobat,
bertobat, sekali lagi bertobatlah agar dosa-dosamu diampuni Yang Maha Kuasa.
32) Eponim adalah gaya bahasa yang mengandung nama seseorang yang begitu sering
dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Contoh:
(1) Tampaknya Dewi Fortuna sedang menyertainya (Dewi Fortuna=i keberuntungan). (2) O,
rupanya baru berjumpa Romeo. Pantas bahagianya melangit (Romeo=pria pujaan).
33) Erotesis/retoris adalah gaya bahasa berupa pertanyaan retoris dengan tujuan untuk mencapai
efek yang lebih mendalam dan sama sekali tidak menuntut suatu jawaban. Contoh: (1) Sampai
hatikah kau menyakiti hati ibumu? (2) Adakah pemimpin yang rela menyerahkan tanah airnya
kepada penjajah?
34) Eufemisme adalah gaya bahasa berupa pengungkapan yang lebih halus sebagai pengganti
pengungkapan yang dirasakan kasar, yang dianggap merugikan, atau tidak menyenangkan.
Contoh: (1) Ibunya telah berpulang ke rahmatullan minggu lalu (meninggal). (2) Maaf, anak ibu
memang kurang pandai sehingga kenaikan kelasnya tertunda (kurang pandai= bodoh, kenaikan
kelas tertunda= tidak naik kelas).
35) Fabel adalah sejenis alegori yang di dalamnya binatang-binatang dapat bertingkah laku atau
berbuat seperti manusia. Contoh yang terkenal adalah cerita kancil dan buaya, kancil dan siput.
36) Gradasi adalah gaya bahasa yang mengandung rangkaian atau urutan kata atau istilah yang
secara sintaksis bersamaan yang mempunyai satu atau beberapa ciri semantik secara umum dan
yang di antaranya paling sedikit satu ciri diulang-ulang dengan perubahan yang bersifat
kuantitatif. Contoh: Kita malah berbangga hati dengan kemiskinan kita karena kita tahu bahwa
kemiskinan yang kita alami merupakan jalan perjuangan untuk mencapai kemuliaan, dan
kemuliaan itu adalah akhir dari perjuangan panjang.

37) Hipalase adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari suatu hubungan alamiah antara
dua komponen gagasan. Contoh: Kami tetap menagih bekas mertuamu utang kepada pamanmu
(Maksudnya, Kami tetap menagih utang bekas mertuamu kepada pamanmu).
38) Hiperbaton adalah menyatakan sesuatu dengan kata yang mengandung aspek progresif, terus
mendaki dan tidak terikat oleh waktu. Selain peningkatan sifat, juga sering menggunakan kata
tugas; makin, terus, sampai, tetap, bertambah, bahkan. Contoh: (1) Hatinya makin terpaut pada
gadis gunung itu, bahkan makin melestari. (2) Sekarang aku mengalaminya, mengalaminya, dan
terus mengalaminya entah sampai kapan akan berakhir.
39) Hiperbola/hiperbolisme adalah gaya bahasa berupa pengungkapan yang berlebih-lebihan apa
yang sebenarnya dimaksudkan: jumlahnya, ukurannya, sifatnya. Contoh: (1) Orang tua anak itu,
tabungannya berjuta-juta, emasnya berkilo-kilo, sawah-ladangnya berhektar-hektar (pengganti
kata orang kaya). (2) Setiap hari anak itu memeras keringat membanting tulang mencukupi
nafkah hidupnya (pengganti kata bekerja keras).
40) Histeron proteron adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan sesuatu yang logis dengan
makna menurun (lihat hiperbaton). Contoh: (1) Semangatnya berkobar-kobar seperti lampu
kehabisan minyak. (2) Dia membaca buku cerita itu cepat sekali dengan cara mengeja kata demi
kata.
41) Influen adalah menyatakan sesuatu dengan istilah asing. Contoh: (1) Kakaknya memang
pandai mendesain cover story. (2) Janganlah terlalu apriori menanggapi persoalan itu.
42) Interupsi adalah menjelaskan sesuatu dengan menyelipkan keterangan di antara pokok
pikiran dan penjelasnya. Contoh: (1) Pungliistilah yang populer pada tahun 1977kini
semarak lagi di mana-mana. (2) Hamidaanak sulung pedagang sayur itutelah sukses di
perguruan tinggi.
43) Inuendo adalah gaya bahasa berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang
sebenarnya. Contoh: (1) Pada pesta tadi malam, dia sedikit sempoyongan karena terlalu banyak
minum minuman keras. (2) Hasil ulangannya selalu buruk karena dia kurang banyak membaca.
44) Inversi adalah gaya bahasa yang merupakan pembalikan urutan unsur-unsur konstruksi
sintaksis. Inversi digunakan bila predikat kalimat hendak lebih dipentingkan daripada subjeknya,
lalu ditempatkan di depan subjek. Contoh: (1) Terang benar bulan malam ini. (2) Besar sekali
gajinya. (3) Tak terkabul permintaannya.
45) Ironi adalah gaya bahasa sindiran yang paling halus, menyatakan sesuatu dengan makna
yang bertentangan dengan maksud berolok-olok. Contoh: (1) Saya percaya benar kepadamu, tak
pernah kau tepati janjimu. (2) Aduh, rapinya kamar ini, segalanya berhamburan.
46) Katabasis adalah sejenis gaya bahasa antiklimaks yang mengurutkan sejumlah gagasan yang
semakin kurang penting; merupakan kebalikan dari anabasis. Contoh: Istrinya adalah wanita
yang cantik, pintar, pendiam, dan buta huruf.

47) Kiasmus adalah gaya bahasa yang berisi perulangan dan sekaligus pula merupakan inversi
hubungan antara dua kata dalam satu kalimat. Contoh: (1) Mengapa kamu menyalahkan yang
benar dan membenarkan yang salah? (2) Banyak orang pintar merasa bodoh dan yang bodoh
merasa dirinya paling pintar. Aneh bukan?
48) Klimaks (kebalikannya antiklimaks) adalah gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan
yang makin lama makin mengandung penekanan. Contoh: (1) Setiap guru yang berdiri di kelas
haruslah mengetahui, memahami, menguasai, serta menghayati bahan pelajaran yang diajarkan.
(2) Mulai dari bayi yang masih dalam gendongan, anak-anak, bapak-ibu, sampai kakek-nenek
pun ikut menyaksikan atraksi yang menghebohkan itu.
49) Kontradiksio interminis adalah gaya bahasa yang menunjukkan pertentangan dengan apa
yang sudah dikatakan semula. Apa yang sudah dikatakan, disangkal oleh ucapan yang kemudian.
Contoh: (1) Semua undangan sudah hadir, kecuali pak Kades. (2) Tidak seorangpun yang berani
angkat muka bila dia bicara. Hanya si brewok yang selalu bertolak pinggang.
50) Koreksio adalah gaya bahasa yang berwujud mula-mula ingin menegaskan sesuatu, tetapi
kemudian memeriksa mana-mana yang salah (lihat epanortesis). Koreksio dipakai bila akan
membetulkan apa yang salah diucapkan baik sengaja maupun tidak. Contoh: (1) Dia adikku, eh,
bukan, kakakku. (2) Ibu di dapur, ah, bukan, di kamar mandi.
51) Litotes adalah gaya bahasa yang berupa pernyataan mengenai sesuatu dengan cara
menyangkal atau mengingkari kebalikannya atau menyebutkan sesuatu dengan merendahkan
diri. Contoh: (1) Ellyas Pical bukanlah petinju kampungan yang bisa dianggap enteng. (2) Kalau
ada waktu, singgahlah ke gubuk deritaku.
52) Mesodiplosis adalah sejenis gaya bahasa repetisi berupa pengulangan kata atau frase di
tengah-tengah baris atau beberapa kalimat berurutan. Contoh: Anak merindukan orang tua.
Orang tua merindukan anak. Setiap orang merindukan kekasih. Setiap makhluk merindukan
sesuatu.
3) Metafora adalah gaya bahasa perbandingan yang implisittanpa kata yang menyatakan
perbandingandi antara dua hal yang berbeda. Contoh: (1) Generasi muda adalah tulang
punggung pembangunan bangsa dan negara. (2) Belajarlah sungguh-sungguh selagi muda agar
kelak menjadi orang yang berguna dan tidak menjadi sampah masyarakat.
54) Metonimia adalah gaya bahasa yang memakai ciri atau nama hal yang ditautkan dengan
nama orang, barang, atau hal sebagai penggantinya. Contoh: (1) Dia baru mempelajari
Archimedes. (2) Jangan lupa ya, Sasa satu bungkus, Anak Pintar satu bungkus, dan Kapal Api
selera ayahmu.
55) Oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan
kata-kata yang berlawanan dalam frase yang sama. Contoh: (1) Olah raga mendaki gunung
memang menarik hati walaupun sangat berbahaya. (2) Kadang-kadang kita membenci sesuatu
yang sebenarnya layak dicintai.

56) Okupasi adalah pernyataan yang mengemukakan tanggapan atas sesuatu hal disertai
kontradiksinya. Contoh: (1) Merokok memang merusak kesehatan, tetapi selalu didalihkan
sebagai alat pergaulan. (2) Minum air mentah banyak bahayanya, tipus, kolera, disentri, diare,
tetapi sekedar penyejuk muka tak apalah.
57) Parabel adalah suatu cerita yang mengajak para pembaca atau penyimak membandingkan
situasi yang khusus atau yang umum dalam kehidupannya dengan situasi yang dilukiskan dalam
cerita itu. Gaya bahasa parabel terkandung dalam seluruh karangan. Secara halus dalam karangan
itu tersimpul falsafah hidup, pedoman hidup, misalnya dalam buku Bhagawat Gita, Bayan
Budiman, Mahabarata.
58) Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta
yang ada. Yang dipertentangkan sebenarnya berlainan persoalannya. Misalnya satu masalah
lahiriah, satu masalah batiniah. Bandingkan paradoks dengan antitesis. Contoh: (1) Teman karib
ada kalanya menjadi musuh sejati. (2) Aku merasa kesepian di tengah keramaian ini.
59) Paralelisme adalah gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian katakata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama.
Paralelisme digunakan dalam puisi. Paralelisme pada awal baris disebut anafora, paralelisme
pada akhir baris disebut epifora.
Contoh (1) anaphora
Junjunganku, Apatah kekal, Apatah tetap, Apatah tak bersalin rupa, Apatah boga sepanjang masa
Oleh Amir Hamzah
Contoh (2) epifora
Kalau kau mau, aku akan datang. Kalau kau kehendaki, aku akan datang. Bila kau kehendaki,
aku akan datang
60) Paralipsis adalah gaya bahasa yang berupa formula yang dipergunakan sebagai sarana untuk
menerangkan bahwa seseorang tidak mengatakan apa yang tersirat dalam kalimat itu sendiri.
Contoh: (1) semoga Tuhan menolak doa kita ini, eh maaf, mengabulkannya. (2) Saya sendiri
sebenarnya berani menghadapi penjahat besar itu, oh salah, maksud saya tidak berani.
61) Paronomasia/pun adalah gaya bahasa yang berisi penjajaran kata-kata yang berbunyi sama
tetapi bermakna lain. Contoh: (1) Oh, adindaku sayang, akan kutanam bunga tanjung di tanjung
hatimu. (2) Ban tuan ini sebaiknya diberikan sebagai bantuan dalam lomba balap sepeda besok.
62) Pemeo adalah kata-kata yang menjadi populer, kemudian selalu diucapkan kembali baik
yang mengandung dorongan semangat maupun yang mengandung ejekan. Contoh: (1) Sekali
merdeka, tetap merdeka. (2) Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

63) Perifrasis adalah gaya bahasa yang mirip pleonasme, tetapi kata-kata yang berlebihan itu
pada dasarnya dapat digantikan dengan sebuah kata saja. Contoh: Anak yang telah
menyelesaikan kuliahnya dengan baik pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan
Daerah FKIP Uncen itu telah mengajar di SMA di kota kami (maksudnya anak yang telah lulus
di Uncen itu mengajar di SMA di kota kami).
64) Personifikasi atau penginsanan adalah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani kepada
barang yang tidak bernyawa atau ide yang abstrak. Contoh: (1) Angin malam meraung-raung,
menusuk-nusuk hati dan jiwaku, perasaanku semakin dibuatnya hancur. (2) Urip dan Yakop
bersiul-siul menyambut pagi yang penuh harapan (Urip dan Yakop adalah jenis burung).
65) Perumpamaan atau simile adalah gaya bahasa berupa perbandingan dua hal yang hakekatnya
berbeda tetapi sengaja dianggap sama. Kalimatnya dapat mengungkapkan keadaan atau kelakuan
seseorang dengan mengambil perbandingan dari alam sekitar; senantiasa didahului dengan katakata pembanding seperti, laksana, umpama, sebagai, bagai Contoh: (1) Mereka bersua seperti air
dengan minyak. (2) Dia itu seperti air di daun talas.
66) Pleonasme adalah gaya bahasa berupa pemakaian kata yang mubazir atau berlebihan yang
sebenarnya tidak perlu. Contoh: (1) Saya telah menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepala
saya sendiri. (2) Kejadian itu saya catat dengan tangan kanan saya ini.
67) Polisindeton adalah gaya bahasa berupa penghubungan beberapa kata, frase, atau klausa
yang berurutan dengan kata sambung (kebalikan asindeton). Contoh: Kakek dan neneknya serta
Bapak dan ibunya telah tiada.
68) Preterito adalah menyatakan sesuatu dengan menyembunyikan persoalan yang dikemukakan
karena dianggap sudah tahu. Contoh: (1) Akan hal kedatangan saya kemari, tidak perlu saya
kemukakan, sama seperti yang kita sepakati kemarin. (2) Saya rasa kau tahu, apa yang akan
terjadi jika kau tidak melunasi utang-utangmu.
69) Prolepsis adalah gaya bahasa yang berwujud penggunaan terlebih dahulu satu atau beberapa
kata sebelum gagasan atau peristiwa yang sebenarnya terjadi (lihat antisipasi).
70) Propinsionalistis (kedaerahan) adalah gaya bahasa yang menjelaskan sesuatu dengan katakata kedaerahan. Jika digunakan pada tempatnya akan melahirkan stilistika yang khas.
Contoh:(1) Kalau tidak becus jangan menjadi pemimpin. (2) Alangkah tengiknya lelucon tuan,
ya.
71) Repetisi adalah gaya bahasa yang mengandung perulangan kata atau kelompok kata yang
sama berkali-kali. Repetisi digunakan dalam prosa. Misalnya: Selama nafasku masih mengalun,
selama darah masih mengalir di tubuhku, selama jantungku masih berdenyut, aku tidak akan
menghentikan usahaku ini.
72) Resensi adalah pernyataan yang dikemukakan disertai dengan penilaian atas pernyataan itu.
Contoh: (1) Engkau akan biasa dengan kekerasan. Manusia punya tenaga menyesuaikan diri
amat besar. Tidak saja membunuh pada garis kewajiban, tetapi juga membunuh di luar garis

kewajiban. Pada kekejaman dan darah. (Jalan Tak Ada Ujung, oleh Mochtar Lubis) (2) Hidup itu
memang aneh. Aku sendiri tidak mengerti mengapa sampai terjadi demikian.
73) Sarkasme adalah gaya bahasa sindiran kasar, mengandung olok-olok dan menyakiti hati.
Contoh: (1) Meminang anak gadis orang memang mudah dan menyenangkan, tetapi
memeliharanya setengah mati. (2) Kehadiranmu membuatku mual!
74) Satire adalah gaya bahasa yang berupa ungkapan menertawakan atau menolak sesuatu;
berupa sajak atau karangan yang berupa kritik menyerang, baik sebagai sindiran ataupun terangterangan.
75) Sensasi adalah menyatakan sesuatu dengan istilah yang merangsang perhatian. Contoh: (1)
Amerika memang ingin menjadi polisi dunia. (2) Rekor-rekor nasional atletik bertumbangan.
76) Silepsis adalah gaya bahasa yang berupa konstruksi yang secara gramatikal benar, tetapi
secara semantik salah. Contoh: Makna dan sikap hidup kita akan mencerminkan kepribadian
kita.
77) Simbolik adalah gaya bahasa kiasan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan
benda-benda lain sebagai simbol atau perlambangan, misalnya bunglon lambang orang yang
tidak berpendirian tetap, melati lambang kesucian, lintah darat lambang pemeras, Kekasih
lambang Tuhan.
78) Simploke adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan pada awal dan akhir
beberapa baris atau kalimat berturut-turut. Contoh: Kau katakan aku ini brengsek, kujawab
biarlah! Kau katakan aku ini jelek, kujawab biarlah! Kaukatakan aku ini penakut, aku jawab
biarlah. Memang biarlah orang lain menghinaku asalkan aku tidak menghina orang lain.
79) Sinekdoke adalah gaya bahasa yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama
keseluruhan, atau sebaliknya. (Sinekdok totem pro part untuk menyebutkan sesuatu secara
keseluruhan, tetapi yang dimaksud sebagian; sinekdoke pars pro toto untuk menyebutkan
sebagian, tetapi yang dimaksud keseluruhan). Contoh sinekdoke totem pro part: (1) Tadi malam
berlangsung pertandingan seru antara Inggris dan Italia. (2) Amerika menyerang Irak habishabisan dalam perang Teluk beberapa tahun yang lalu. Contoh sinekdoke pars pro toto: (1)
Setiap kepala memperoleh jatah raskin 10 kg. (2) Tolong potongkan ayam dua ekor untuk acara
selamatan nanti malam.
80) Sinisme adalah gaya bahasa berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung
ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Sinisme adalah sindiran yang lebih kasar. Contoh:
(1) Memang Andalah tokohnya yang dapat menghancurkan desa ini dalam sekejap mata. (2)
Memang Pak Dukunlah orangnya yang dapat menghidupkan orang mati, apalagi mematikan
orang hidup.
81) Sinonimis adalah menegaskan sesuatu dengan mendampingkan sinonim pokok pikiran dari
pernyataan atau penjelas dari pokok pikirannya. Contoh: (1) Seperti biasa, aku merasa bosan

untuk tinggal di rumah. Aku ingin keluar. (2) Bagaimana akan menggantinya, sedangkan dia
hanya seorang budak yang sebagai milik orang semata.
82) Tautologi adalah gaya bahasa berupa penggunaan kata yang berlebihan yang pada dasarnya
merupakan perulangan dari kata yang lain (lihat pleonasme). Contoh: (1) Kami tiba di rumah
pukul 04.00 subuh. (2) Orang yang meninggal itu menutup mata untuk selama-lamanya.
83) Tautotes adalah gaya bahasa repetisi berupa pengulangan sebuah kata berkali-kali dalam
sebuah konstruksi. Contoh: (1) Kakanda mencintai adinda, adinda mencintai kakanda, kakanda
dan adinda saling mencintai, kakanda dan adinda menjadi satu.
84) Tropen adalah gaya bahasa kiasan yang mempergunakan kata-kata yang tepat dan sejajar
artinya dengan pengertian yang dimaksudkan. Atau gaya bahasa yang digunakan untuk
menyatakan sesuatu keadaan yang sedang berlaku tanpa menyebutkan alat apa yang
dipergunakan. Contoh: (1) Besok Presiden akan terbang ke Surabaya. (2) Seharian ia hanya
berkubur dalam kamarnya.
85) Zeugma adalah gaya bahasa yang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan cara
menghubungkan sebuah kata dengan dua (atau lebih) kata lain yang pada hakekatnya hanya
sebuah saja yang mempunyai hubungan dengan kata yang pertama. Dalam zeugma terdapat
gabungan gramatikal dua buah kata yang mengandung ciri-ciri semantik yang bertentangan
(bandingkan dengan silepsis). Contoh: (1) Paman saya memarahi anak itu dengan
membelalakkan mata dan telinganya. (2) Anak itu memang rajin dan malas di sekolah.