Anda di halaman 1dari 44

KEPERAWATAN PERKEMIHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN OTHER


URINARY TRACT DISORDER
Stricture Uretra

Dosen Pembimbing :
Praba Diyan, S.Kep.,Ns.

Disusun Oleh Kelompok 2:


Muhammad Umar Ali K.

(131011076)

Komang Riyon Ningrat

(131011081)

Efa Imama Nur M.

(131011084)

Ennyke Rizki N.

(131011090)

Dian Laili A.

(131011093)

Nur Inayah

(131011098)

Lusi Puspitasari

(131011100)

Afining Dina Ariyanti

(131011129)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2013

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Asuhan Keperawatan pada Klin dengan Other Urinary Tract Disorders:
Stricture Uretra.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut
mendukung penyusunan makalah ini, antara lain kepada:
1. Praba Diyan, S.Kep.,Ns. sebagai fasilitator kelompok kami.
2. Semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Kami menyusun makalah ini dengan sistematis agar dapat dimengerti oleh
pembaca dan bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi mahasiswa
keperawatan. Namun kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, kami mohon saran dan kritik dari pembaca. Semoga makalah ini
bermanfaat dan berguna bagi pembaca. Amin.

Surabaya, 17 April 2013

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I: PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.2 Tujuan ............................................................................................................ 2
1.2.1 Tujuan Umum ......................................................................................... 2
1.2.2 Tujuan Khusus ........................................................................................ 2
1.3 Manfaat .......................................................................................................... 2
1.3.1 Manfaat Akademik ................................................................................. 2
1.3.2 Manfaat Klinik ........................................................................................ 2
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 3
2.1 Definisi .......................................................................................................... 3
2.2 Klasifikasi ...................................................................................................... 3
2.4 Manifestasi Klinik ......................................................................................... 8
2.5 Pemeriksaan Diagnostik ................................................................................ 9
2.6 Pemeriksaan Penunjang ................................................................................. 9
2.7 Komplikasi .................................................................................................. 12
2.8 Patofisiologi................................................................................................. 13
2.9 WOC ............................................................................................................ 14
2.10 Penatalaksanaan ......................................................................................... 14
2.11 Terapi ......................................................................................................... 17
2.12 Prognosis ................................................................................................... 18
BAB III: ASUHAN KEPERAWATAN ............................................................... 19
3.1 Pengkajian ................................................................................................... 19
3.2 Diagnosa dan Intervensi Secara Umum ...................................................... 21
3.3 Kasus Semu ................................................................................................. 29
3.4

Pengkajian .............................................................................................. 29

3.5 Analisis Data ............................................................................................... 31


3.6 Diagnosa dan Intervensi .............................................................................. 34
BAB IV: PENUTUP ............................................................................................. 40
4.1 Kesimpulan .................................................................................................. 40
4.2Saran ............................................................................................................. 40
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 41

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Striktur uretra adalah penyempitan atau kontraksi dari lumen urethra
akibat adanya obstruksi (Long, 1996). Striktur uretra adalah penyempitan
akibat dari adanya pembentukan jaringan fibrotik (jaringan parut) pada urethra
atau daerah urethra (UPF Ilmu Bedah, 1994). Striktur urethra adalah
berkurangnya diameter atau elastisitas uretra yang disebabkan oleh jaringan
uretra diganti jaringan ikat yang kemudian mengerut menyebabkan jaringan
lumen uretra mengecil.
Dari striktur uretra ini dapat menimbulkan berbagai masalah keperawatan
seperti nyeri akut, gangguan pola eliminasi urin, risiko infeksi saluran kemih,
dan bahkan bila parah dapat menyebabkan hidronefrosis yang dapat
mengakibatkan gagal ginjal. Karena itu, kasus ini perlu mendapat perhatian
khusus agar tidak menimbulkan berbagai masalah keperawatan.
Dilihat dari segi aspek promotif perawat berperan sebagai pendidik dapat
memberi pencegahan dan perawatan dalam menangani asuhan keperawatan
striktur uretra di Rumah Sakit, tidak hanya memberi perawatan, pengobatan
dan penyembuhan, tetapi juga bisa memberi informasi mengenai penyakit
yang bertujuan menghindari klien dari komplikasi yang mungkin timbul. Dari
segi aspek preventif peran perawat memberikan asuhan keperawatan yang
baik dengan memberikan penyuluhan, penatalaksanaan dini kepada klien
mengenai striktur uretra. Dari segi kuratif peran perawat untuk memberikan
pertolongan yang sangat cepat seperti pemberian obat antipiretik dan
antibiotik. Dari segi aspek rehabilitatif peran perawat adalah pemberian obat
teratur.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan asuhan
keperawatan pada klien denganOther urinary Tract Disorder: Stricture
Uretra.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi dari Stricture Uretra
2. Mengetahui etiologi dan faktor penyebab terjadinya Stricture Uretra
3. Mengetahui patofisiologi dari Stricture Uretra
4. Mengetahui manifestasi klinis yang muncul pada klien dengan
Stricture Uretra
5. Menjelaskan Web of Caution terjadinya Stricture Uretra
6. Mengetahui

pemeriksaan

diagnostik

yang

dilakukan

untuk

mendiagnosa Stricture Uretra


7. Menjelaskan penatalaksanaan pada klien dengan Stricture Uretra
8. Menjelaskan proses asuhan keperawatan pada klien dengan Stricture
Uretra

1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat Akademik
Mahasiswa mampu memahami definisi, etiologi, manifestasi
klinik, patofisiologi, WOC, pemeriksaan diagnostic, penatalaksanaan,
komplikasi dan prognosis dari Stricture Uretra.
1.3.2 Manfaat Klinik
Mahasiswa mampu mempraktikkan asuhan keperawatan dari
Stricture Uretrayang ada di klinik dengan benar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan
parut dan kontraksi (Smeltzer, 2002). Striktur uretra adalah penyempitan atau
kontraksi dari lumen urethra akibat adanya obstruksi. Striktur uretra lebih
sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena perbedaan
panjangnya uretra (Long, 1996).
Striktur uretra kemungkinan congenital dan didapat. Striktur uretra yang
didapat dapat disebabkan trauma (kecelakaan, instrumentasi), infeksi
(terutama gonore), dan tekanan tumor. Penyempitan uretra dapat disebabkan
oleh infeksi kronik karena inflamasi menyebabkan lumen menjadi sempat.
Tumor juga dapat menekan ureter. Gejala utama striktur uretra adalah
berkurangnya deras urin yang keluar dan kesulitan memulai berkemih. Gejala
dan tanda yang lain berkaitan dengan ISK dan retensi urin.
Dari striktur uretra ini dapat menimbulkan berbagai masalah keperawatan
seperti nyeri akut, gangguan pola eliminasi urin, risiko infeksi saluran kemih,
dan bahkan bila parah dapat menyebabkan hidronefrosis yang dapat
mengakibatkan gagal ginjal.

2.2 Klasifikasi
Striktur uretra dibagi dalam 3 jenis, yaitu :
1. Striktur uretra congenital
striktur uretra kongenital sering terjadi di fossa nafikularis dan pars
membranasae. Sifat striktur ini adalah stationer.
2. Striktur uretra traumatik
trauma pada daerah kemaluan dapat menimbulkan ruptur uretra. Timbul
striktura traumatik dalam waktu 1 bulan. Striktura akibat trauma lebih
progresif daripada striktur akibat infeksi. Pada ruptur uretra ditemukan
hematuri gross.

3. Striktur akibat infeksi


striktur jenis ini biasanya disebabkan oleh infeksi veneral. Timbulnya
lebih lambat dari pada striktur traumatik.

2.3 Etiologi
Striktur uretra paling sering terjadi pada pria dikarenakan uretra pria
yang lebih panjang daripada uretra wanita. Salah satu penyebab striktur uretra
sendiri adalah tekanan dari luar uretra seperti tumor pada hipertrofi prostat
benigna, atau pun juga bisa diakibatkan oleh kelainan kongenital,namun hal
tersebut jarang terjadi. Resiko striktur uretra meningkat pada orang yang
memiliki riwayat penyakit menular seksual, episode uretritis berulang, atau
hipertrofi prostat benigna. Faktor-faktor yang menjadi etiologi striktur uretra
antara lain :
1. Kelainan kongenital, seperti :
a. Kongenital meatus stenosis
b. Klep uretra posterior
2. Operasi rekonstruksi dari kelainan kongenital dan komplikasi pada
beberapa post-operasi saluran kemih, seperti :
a. Operasi pada hipospadia
Tujuan

utama

pada

penanganan

operasi

hipospadia

adalahmerekonstruksi penis menjadi lurus dengan meatus uretra


ditempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran urin saat
berkemih lurus kedepan dan dapat melakukan koitus dengan normal.
Salah satu komplikasi dari operasi ini adalah striktur uretra pada
proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari
anastomosis.
Terjadinya striktur uretra juga dapat terjadi dikarenakan akibat
pemasangan kateter yang kurang tepat. Setelah operasi selesai
dilaksanakan maka pada lubang kencing baru (post uretroplasty) akan
dilindungi dengan kateter sampai luka betul-betul menyembuh dan dapat
dialiri oleh air kencing. Di bagian supra pubik (bawah perut) dipasang
juga kateter yang langsung menuju kandung kemih untuk mengalirkan

air kencing. Pada tahap penyembuhan biasanya kateter yang telah


dipasang tadi di non fungsikan terlebih dulu sampai tim bedah yakin
bahwa hasil ureteroplasty dapat berfungsi dengan baik (Grace, 2006).
b. Operasi pada pasien dengan BPH ( Benign Prostatic Hyperthrophy)
Hipertrofi prostat jinak merupakan suatu kondisi yang ditandai
dengan meningkatnya ukuran zona dalam (kelenjar periuretra) dai
kelenjar prostat. Penatalaksanaan bedah BPH meliputi pengangkatan
bagian adenomatosa prostat, TURP dengan elektrokauter/ laser, ablasi
termal pada prostat dan prostatektomi terbuka pada ukuran yang besar
yang dapat dilakukan transversal atau retropubik. Pada penatalaksanaan
dengan TURP dan pemasangan stent uretra (kateter yang dipasang pada
uretra pars prostatika. Bentuk stent berupa spiral yang dibuat dari logam
bercampur emas yang dipasang diujung kateter (Prostacath). Stents ini
digunakan sebagai protesis indwelling permanen yang ditempatkan
dengan bantuan endoskopi atau bimbingan pencitraan), dapat terjadi
komplikasi berupa striktur uretra ( Grace, 2006 )
3. Trauma atau cedera uretra
Cedera uretra adalah suatu cedera yang mengenai uretra sehingga
menyebabkan ruptur pada uretra. Cedera uretra dibedakan menjadi cedera
uretra anterior dan cedera uretra posterior berdasarkan etiologi trauma,
tanda klinis, pengelolaan, serta prognosisnya berbeda.
Ruptur uretra posterior akan didapatkan pada kondisi patah tulang
pelvis, pada daerah suprapubik dan abdomen bagian bawah dijumpai jejas,
hematom perivesika dan nyeri tekan.
Pada kondisi parah terjadi ruptur uretra total, bisa ditemukan tanda
rangsangan peritoneum, klien mengeluh tidak bisa buang air kecil sejak
terjadi trauma. Klien biasanya mengalami syok hipovolemik akibat
pendarahan dalam dari fraktur pelvis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
tanda khas, meliputi (1) perdarahan per-uretra, (2) retensi urine, dan (3)
pada pemeriksaan colok dubur didapatkan kelembutan prostat dan terasa
organ prostat seperti melayang di dalam suatu hematom dan adanya darah

yang menetes pada sarung tangan mengindikasi adanya perdarahan masif


akibat trauma pada panggul.
Sedangkan pada ruptur uretra anterior mekanisme cedera yang
paling sering terjadi adalah cedera selangkangan (staddle injury) terutama
pada saat bersepeda, yaitu uretra terjepit di antara tulang pelvis dan benda
tumpul.
Pada pengkajian, klien mengeluh nyeri, adanya perdarahan peruretram

atau

hematuria.

Jika

terdapat

robekan

pada

korpus

spongiosum,terlihat adanya hematom pada penis atau hematoma kupukupu. Pada keadaan ini sering kali pasien tidak dapat miksi.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya daerah memar atau
hematom pada penis dan skrotum. Oleh karena kerusakan uretra,saat urine
melewati uretra, proses berkemih dapat menyebabkan estravasasi saluran
urine yang menimbulkan pembengkakan pada skrotum aau area inguinal
dengan memberikan gambaran butterfly haematome ( Muttaqin, 2011).
Adapun kasus-kasus trauma uretra yang banyak ditemui antara lain:
a. Fraktur tulang pelvis yang mengenai uretra pars membranasea
b. Trauma tumpul pada selangkangan (straddle injuries) yang mengenai uretra
pars bulbosa yang dapat terjadi pada anak yang naik sepeda dan kakinya
terpeleset dari pedal sepeda sehingga jatuh dengan uretra pada bingkai
sepeda pria sehingga terjadi cedera kangkang.
c. Trauma langsung pada penis
d. Trauma akibat instrumentasi transuretra yang kurang hati-hati (iatrogenik)
Kateterisasi uretra merupakan prosedur yang lazim dilakukan untuk
mengosongkan kandung kemih. Pemasangan kateter yang traumatik,
pemasangan kateter yang kasar dan fiksasi kateter yang salah dapat
menyebabkan striktur uretra.

4. Tumor atau keadaan infiltrasi keganasan


Desakan oleh tumor dapat menekan ureter seperti gambar dibawah ini :

Gambar 1 : karsinoma kandung kemih yang terlihat sebagai defek pengisian


pada kandung kemih yang terlihat sebagai defek pengisian pada kandung
kemih sebelah kiri dengan obstruksi pada ginjal kiri dengan perlambatan
pengosongan kontras ( Lecture Notes : Radiologi, 2006, halaman : 186 ).

Gambar 2: CT menunjukkan penebalan dinding kandung kemih kiri dan


penyebaran karsinoma melewati dinding kandung kemih ( dengan tanda
panah) ( Lecture Notes : Radiologi, 2006, halaman: 186 ).

5. Infeksi
Infeksi merupakan faktor yang paling sering menimbulkan striktur
uretra. Inflamasi menyebabkan hiperplasia lapisan uretra dan menyebabkan
lumen menjadi sempit. Kebanyakan striktur ini terletak di pars
membranasea, walaupun juga terdapat pada tempat lain. Contoh infeksi
yang menyebabkan striktur uretra adalah infeksi oleh kuman gonokokus
yang menyebabkan uretritis gonorrhoika atau non gonorrhoika yang telah
menginfeksi uretra (namun sekarang sudah jarang dengan pemakaian
antibiotik) dan infeksi chlamidia yang sekarang menjadi penyebab utama
striktur uretra. Infeksi ini juga dapat dicegah dengan menghindari kontak
dengan individu yang terinfeksi atau menggunakan kondom saat
berhubungan seksual.
Striktur uretra paling banyak terdapat pada sambungan penoskrotal
atau uretra bagian penis proksimal. Trauma pada selangkangan akan
menekan uretra melawan simpisis pubis dengan kemungkinan terjadinya
ruptur, sehingga penting untuk melakukan uretrografi sebelum memasang
kateter.

Letak Uretra

Penyebab

1. Pars

Trauma panggul, kesalahan fiksasi pada

membranasea

kateterisasi

2. Pars bulbosa

Trauma/ cedera kangkang, uretritis.

3. Meatus

Balanitis, instrumentasi kasar.

Tabel 1 : Letak striktur uretra dan penyebabnya

2.4 Manifestasi Klinik


Gejala dari striktur uretra yang khas adalah pancaran buang air seni kecil
dan bercabang. Gejala yang lain adalah iritasi dan infeksi seperti frekuensi,
urgensi, disuria, inkontinensia, urin yang menetes, kadang-kadang dengan
penis yang membengkak, infiltrat, abses dan fistel. Gejala lebih lanjutnya
adalah retensi urine ( Muttaqin, 2011).

2.5 Pemeriksaan Diagnostik


1. Anamnesis lengkap
Dengan anamnesis yang baik, diagnosis urethra mudah ditegakkan,
apabila ada riwayat infeksi veneral atau straddle injury seperti uretritis,
trauma dengan kerusakan pada pinggul straddle injury, instrumentasi pada
urethra, pemasangan kateter, dan kelainan sejak lahir.
2. Inspeksi
Meatus, ekstremus yang sempit, pembengkakan serta fistula di
daerah penis, skrotum, perineum, dan suprapubik.
3. Palpasi
Teraba jaringan parut sepanjang perjalanan urethra, anterior pada
bagian ventral dari penis, muara vistula bila dipijat mengeluarkan
getah/nanah.
4. Colok dubur
5. Untuk kepastian diagnosis dapat ditegakkan dan dipastikan dengan
uretrosistografi, uretoskopi kedalam lumen urethra dimasukkan dimana
kedalam kedalam urethra dimasukkan dengan kontras kemudian di foto
sehingga dapat terlihat saluran-saluran urethra dan buli-buli dan dari foto
tersebut dapat ditemukan :
a. Lokasi striktur : apakah terletak pada proksimal atau distal dari
sfinghter, sebab ini penting untuk tindakan operasi.
b. Besar kecilnya striktur
c. Panjang striktur
d. Jenis striktur

2.6 Pemeriksaan Penunjang


1) Laboratorium
a. Urin dan kultur urin untuk mengetahui adanya infeksi
b. Ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
2) Uroflowmetri
Uroflowmetri adalah pemeriksaan untuk menentukan kecepatan
pancaran urin. Volume urin yang dikeluarkan pada waktu miksi dibagi

dengan lamanya proses miksi. Kecepatan pancaran urin normal pada pria
adalah 20 ml/detik dan pada wanita 25 ml/detik.Bila kecepatan pancaran
kurang dari harga normal menandakan ada obstruksi.
3) Radiologi
Diagnosa pasti dibuat dengan uretrografi, untuk melihat letak
penyempitan dan besarnya penyempitan uretra. Untuk mengetahui lebih
lengkap mengenai panjang striktur adalah dengan membuat foto bipolar
sistouretrografi dengan cara memasukkan bahan kontras secara antegrad
dari buli-buli dan secara retrograd dari uretra. Dengan pemeriksaan ini
panjang striktur dapat diketahui sehingga penting untuk perencanaan terapi
atau operasi.
Striktur uretra dilakukan percobaan dengan memasukkan kateter
Foley ukuran 24 ch, apabila ada hambatan dicoba dengan kateter dengan
ukuran yang lebih kecil sampai dapat masuk ke buli-buli.Apabila dengan
kateter ukuran kecil dapat masuk menandakan adanya penyempitan lumen
uretra.
Untuk menegakkan diagnosis striktur uretra dapat pula dilakukan
pemeriksaan urin. Adanya hematuri, infeksi, atau abnormalitas dari
berkemih. Pada striktur uretra biasanya terjadi penurunan aliran urin,
penurunan jumlah urin, dan adanya keluhan saat berkemih yang tidak
biasa.
Diagnosis pasti terhadap stricture uretra, dapat dilakukan
pemeriksaan radiologi dengan kontras. Pemeriksaan radiologi dengan
kontras yang biasa dilakukan ialah Retrograde urethrogram (RUG) with
Voiding Cystourethrogram (VCUG).

10

Gambar 3 : Hasil pemeriksaan urethrogram. Tampak adanya striktur pada


uretra bulbar sepanjang 4cm.

Pada pemeriksaan yang lebih maju digunakan sistoskopi, yaitu


penggunaan kamera fiberoptik pada uretra. Dengan sitoskopi dapat dilihat
penyebab striktur, letaknya, dan karakter dari striktur.

Gambar 4 : Pemeriksaan sistoskopi

11

2.7 Komplikasi
Striktur urethra menyebabkan retensi urin di dalam kandung
kemih, penumpukkan urin di dalam kandung kemih beresiko tinggi
terjadinya infeksi yang dapat menyebabkan kerusakan kandung kemih,
prostat, dan ginjal. Abses diatas lokasi striktur juga dapat terjadi, sehingga
menyebabkan kerusakan uretra.
Selain itu terjadi batu kandung kemih juga meningkat, timbul
gejala sulit ejakulasi, fistula uretrokutancus (hubungan abnormal antara
uretra dengan kulit).
1. Trabekulasi, sakulasi, dan divertikel
Pada striktur uretra kandung kencing harus berkontraksi lebih kuat,
maka otot kalau diberi beban akan berkontraksi lebih kuat sampai pada
suatu saat kemudian akan melemah. Jadi pada striktur uretra otot buli-buli
mula-mula akan menebal terjadi trabekulasi pada fase kompensasi, setelah
itu pada fase dekompensasi timbul sakulasi dan divertikel. Perbedaan
antara sakulasi dan divertikel adalah penonjolan mukosa buli pada sakulasi
masih di dalam otot buli sedangkan divertikel menonjol di luar buli-buli,
jadi divertikel buli-buli adalah tonjolan mukosa keluar buli-buli tanpa
dinding otot.
2. Residu urine
Pada fase kompensasi dimana otot buli-buli berkontraksi makin
kuat tidak timbul residu. Pada fase dekompensasi maka akan timbul
residu. Residu adalah keadaan dimana setelah kencing masih ada urine
dalam kandung kencing.Dalam keadaan normal residu ini tidak ada.
3. Refluks vesiko ureteral
Dalam keadaan normal pada waktu buang air kecil urine
dikeluarkan buli-buli melalui uretra. Pada striktur uretra dimana terdapat
tekanan intravesika yang meninggi maka akan terjadi refluks, yaitu
keadaan dimana urine dari buli-buli akan masuk kembali ke ureter bahkan
sampai ginjal.

12

4. Infeksi saluran kemih dan gagal ginjal


Dalam keadaan normal, buli-buli dalam keadaan steril. Salah satu
cara tubuh mempertahankan buli-buli dalam keadaan steril adalah dengan
jalan setiap saat mengosongkan buli-buli waktu buang air kecil. Dalam
keadaan dekompensasi maka akan timbul residu, akibatnya maka buli-buli
mudah terkena infeksi.
Adanya kuman yang berkembang biak di buli-buli dan timbul
refluks, maka akan timbul pyelonefritis akut maupun kronik yang akhirnya
timbul gagal ginjal dengan segala akibatnya.
5. Infiltrat urine, abses, dan fistulasi
Adanya sumbatan pada uretra, tekanan intravesika yang meninggi
maka bisa timbul inhibisi urine keluar buli-buli atau uretra proksimal dari
striktur. Urine yang terinfeksi keluar dari buli-buli atau uretra
menyebabkan timbulnya infiltrat urine, kalau tidak diobati infiltrat urine
akan timbul abses, abses pecah timbul fistula di supra pubis atau uretra
proksimal dari striktur.

2.8 Patofisiologi
Proses radang akibat trauma atau infeksi pada uretra akan menyebabkan
terbentuknya jaringan sikatrik pada uretra. Jaringan sikatrik pada lumen uretra
menimbulkan hambatan aliran urine hingga retensi urine. Aliran urine yang
terhambat mencari jalan keluar di tempat lain (di sebelah proksimal striktura)
dan akhirnya mengumpul di rongga periuretra. Jika terinfeksi menimbulkan
abses periuretra yang kemudian pecah membentuk fistula uretrokutan. Pada
keadaan tertentu dijumpai banyak sekali fistula sehingga disebut sebagai
fistula seruling. Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktur uretra
dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu:
1) Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari sepertiga diameter lumen
uretra
2) Sedang : jika terdapat oklusi setengah sampai sepertiga diameter lumen
uretra
3) Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari setengah diameter lumen uretra

13

Pada penyempitan derajat berat, kadang kala teraba jaringan keras di korpus
spongiosum, yang dikenal dengan spongiofibrosis (Purnomo dkk.2010)

2.9 WOC
(terlampir)

2.10 Penatalaksanaan
Tujuan dari pengobatan striktur uretra adalah kesembuhan
permanen, tidak hanya sembuh sementara. Pengobatan terhadap striktur
uretra tergantung pada lokasi striktur, panjang/pendek striktur, dan
kedaruratannya. Contohnya, jika pasien datang dengan retensi urine akut,
secepatnya lakukan sistostomi suprapubik untuk mengeluarkan urine dari
buli-buli. Sistostomi adalah tindakan operasi dengan membuat jalan antara
buli-buli dan dinding perut anterior. Jika dijumpai abses periuretra, kita
lakukan insisi untuk mengeluarkan nanah dan berikan antibiotika.1 Jika
lokasi striktur di uretra pars bulbosa dimana terdapat korpus spongiosum
yang lebih tebal daripada di uretra pars pedularis, maka angka kesuksesan
prosedur uretrotomi akan lebih baik jika dikerjakan di daerah tersebut.
Penanganan konvensional seperti uretrotomi atau dilatasi masih tetap
dilakukan, walaupun pengobatan ini rentan menimbulkan kekambuhan.
Hasil sebuah studi mengindikasikan 80% striktur yang ditangani dengan
internal uretrostomi mengalami kekambuhan dalam 5 tahun berikutnya.
Pemasangan stent adalah alternatif bagi pasien yang sering mengalami
rekurensi striktur. Namun tidak menutup kemungkinan untuk terjadi
komplikasi seperti hiperplasia jaringan uretra sehingga menimbulkan
obstruksi sekunder.6,7 Beberapa pilihan terapi untuk striktur uretra adalah
sebagai berikut:
1) Dilatasi uretra
Ini merupakan cara yang paling lama dan paling sederhana dalam
penanganan striktur uretra. Direkomendasikan pada pasien yang tingkat
keparahan striktur masih rendah atau pasien yang kontra indikasi dengan
pembedahan. Dilatasi dilakukan dengan menggunakan balon kateter atau

14

busi logam dimasukan hati-hati ke dalam uretra untuk membuka daerah


yang menyempit.1 Pendarahan selama proses dilatasi harus dihindari
karena itu mengindikasikan terjadinya luka pada striktur yang akhirnya
menimbulkan striktur baru yang lebih berat. Hal inilah yang membuat
angka kesuksesan terapi menjadi rendah dan sering terjadi kekambuhan
2) Uretrotomi interna
Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan alat endoskopi yang
memotong jaringan sikatriks uretra dengan pisau Otis atau dengan pisau
Sachse, laser atau elektrokoter.
Otis uretrotomi dikerjakan pada striktur uretra anterior terutama
bagian distal dari pendulans uretra dan fossa navicularis, otis uretrotomi
juga dilakukan pada wanita dengan striktur uretra.
Indikasi untuk melakukan bedah endoskopi dengan alat Sachse
adalah striktur uretra anterior atau posterior masih ada lumen walaupun
kecil dan panjang tidak lebih dari 2 cm serta tidak ada fistel, kateter
dipasang selama 2-3 hari pasca tindakan. Setelah pasien dipulangkan,
pasien harus kontrol tiap minggu selama 1 bulan kemudian 2 minggu
sekali selama 6 bulan dan tiap 6 bulan sekali seumur hidup. Pada waktu
kontrol dilakukan pemeriksaan uroflowmetri, bila pancaran urinnya < 10
ml/det dilakukan bouginasi.
3) Pemasangan stent
Stent adalah benda kecil, elastis yang dimasukan pada daerah
striktur.Stent

biasanya

dipasang

setelah

dilatasi

atau

uretrotomi

interna.Ada dua jenis stent yang tersedia, stent sementara dan permanen.
Stent permanen cocok untuk striktur uretra pars bulbosa dengan minimal
spongiofibrosis. Biasanya digunakan oleh orang tua, yang tidak fit
menjalani prosedur operasi. Namun stent permanen juga memiliki kontra
indikasi terhadap pasien yang sebelumnya menjalani uretroplasti substitusi
dan pasien straddle injury dengan spongiosis yang dalam. Angka rekurensi
striktur bervariasi dari 40%-80% dalam satu tahun. Komplikasi sering
terjadi adalah rasa tidak nyaman di daerah perineum, diikuti nyeri saat
ereksi dan kekambuhan striktur.6

15

4) Uretroplasti
Uretroplasti merupakan standar dalam penanganan striktur uretra,
namun masih jarang dikerjakan karena tidak banyak ahli medis yang
menguasai teknik bedah ini.Sebuah studi memperlihatkan bahwa
uretroplasti dipertimbangkan sebagai teknik bedah dengan tingkat invasif
minimal dan lebih efisien daripada uretrotomi.2 Uretroplasti adalah
rekonstruksi uretra terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis.Ada dua
jenis uretroplasti yaitu uretroplasti anastomosis dan substitusi. Uretroplasti
anastomosis dilakukan dengan eksisi bagian striktur kemudian uretra
diperbaiki dengan mencangkok jaringan atau flap dari jaringan sekitar.
Teknik ini sangat tepat untuk striktur uretra pars bulbosa dengan panjang
striktur 1-2 cm. Uretroplasti substitusi adalah mencangkok jaringan
striktur yang dibedah dengan jaringan mukosa bibir, mukosa kelamin, atau
preputium. Ini dilakukan dengan graft, yaitu pemindahan organ atau
jaringan ke bagian tubuh lain, dimana sangat bergantung dari suplai darah
pasien untuk dapat bertahan.
Proses graft terdiri dari dua tahap, yaitu imbibisi dan inoskulasi.
Imbibisi adalah tahap absorsi nutrisi dari pembuluh darah paien dalam 48
jam pertama. Setelah itu diikuti tahap inoskulasi dimana terjadi
vaskularisasi graft oleh pembuluh darah dan limfe. Jenis jaringan yang
bisa digunakan adalah buccal mucosal graft, full thickness skin graft,
bladder epithelial graft, dan rectal mucosal graft. Dari semua graft diatas
yang paling disukai adalah buccal mucosal graft atau jaringan mukosa
bibir, karena jaringan tersebut memiliki epitel tebal elastis, resisten terhadp
infeksi, dan banyak terdapat pembuluh darah lamina propria. Tempat asal
dari graft ini juga cepat sembuh dan jarang mengalami komplikasi.2
Angka kesuksesan sangat tinggi mencapai 87%. Namun infeksi saluran
kemih, fistula uretrokutan, dan chordee bisa terjadi sebagai komplikasi
pasca operasi
5) Prosedur rekonstruksi multiple
Adalah suatu tindakan bedah dengan membuat saluran uretra di
perineum. Indikasi prosedur ini adalah ketidakmampuan mencapai panjang

16

uretra, bisa karena fibrosis hasil operasi sebelumnya atau teknik substitusi
tidak bisa dikerjakan. Ketika terjadi infeksi dan proses radang aktif
sehingga teknik graft tidak bisa dikerjakan, prosedur ini bisa menjadi
pilihan operasi. Rekonstruksi multiple memang memerlukan anestesi yang
lebih banyak dan menambah lama rawat inap pasien, namun berguna bila
pasien kontra indikasi terhadap teknik lain.
Karena rentannya kekambuhan dan komplikasi pasca operasi, ada
beberapa hal yang harus diperhatikan para ahli medis agar operasi berjalan
baik. Pertama saat pre-operasi kita perkirakan panjang striktur dan derajat
fibrosis yang terjadi. Gunakan pemeriksaan radiologi seperti yang
disebutkan di atas. Analisis urine dan kultur harus dikerjakan sebelum
operasi, karena urine harus steril saat kita melakukan intervensi, untuk
mencegah infeksi. Riwayat seksual pasien juga harus ditanyakan. Saat
operasi, menjaga sfingter dan inervasinya dengan cara memotong jaringan
konektif antara sfingter dan uretra berguna dalam mencegah kontinesia
dan gangguan ereksi pasca operasi. Eksisi seluruh jaringan parut,
mencegah mobilisasi uretra yang berlebih, dan drainase urine sebelum
operasi

adalah

hal-hal

penting

yang

harus

diperhatikan

untuk

meningkatkan angka kesuksesan terapi.5 Antibiotik diberikan pada pasien


yang dicurigai mengalami infeksi saluran kemih dan jenisnya diberikan
sesuai dengan hasil tes kepekaan. Jika hasil kepekaan steril, maka dapat
diberikan antibiotik profilaksis seperti ampicillin atau cephalosporin.

2.11 Terapi
1) Kalau penderita datang dengan retensio urine maka pertolongan
pertama dengan sistostomi kemudian baru dibuat pemeriksaan
uretrografi untik memastikan adanya striktur uretra.
2) Kalau penderita dengan infiltrasi urin atau abses, dilakukan insisi
infiltrat dan abses dan dilakukkan sistostomi baru kemudian dibuat
uretrografi.

17

2.12 Prognosis
Striktur uretra kerap kali kambuh/residif,sehingga pasien harus sering
menjalani pemeriksaan yang teratur. Hal tersebut dipengaruhi oleh perawatan
kateter, terutama untuk mencegah infeksi, pengobatan dan kontrol yg
berlanjut. Follow up seksama selama 1 tahun tanpa kekambuhan dapat
dikatakan bahwa pasiensembuh. (Suddarth & Brunner, 2001).

18

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1. Identitas pasien
Nama, usia, pekerjaan, alamat rumahagama, kewarganegaraan,dan tingkat
penididikan.
2. Keluhan Utama
Sulit berkemih sering menjadi keluhan utama pasien yang dating dengan
striktur uretra.
3. Riwayat penyakit sekarang
Penyakit atau keluhan yang sekarang sedang dialami dan dirasakan,
biasanya meliputi frekuensi kencing meningkat, berkemih di rasa tidak
tuntas dan harus mengejan, setelah mengejan pun pancaran urin kecil.
Kadang terasa nyeri di daerah suprapubis jika urin tidak segera keluar.
Saat dipalpasi buli teraba penuh, serta keluar darah saat kencing.
4. Riwayat penyakit dahulu .
Adanya riwayat penyakit sebelumnya seperti infeksi pemasangan kateter,
uretritis, straddle injury, fraktur pelvis, keluarnya batu secara spontan dan
kelainan bawaan.
5. Riwayat penyakit keluarga.
Riwayat penyakit keluarga seperti DM atau hipertensi.
6. Pemeriksaan fisik
Head to toe
a. Kepala : normal
b. Mata :
- Konjungtifa : ananemis, anikterus
- Sclera : anikterus
c. Thoraks
Kardiovaskuler
- Inspeksi : tidak nampak ictus cordis
- Palpasi

: tidak teraba ictus cordis,

19

- Perkusi

: kardiomegali (-)

- Auskultasi: bunyi jantung S1S2 tunggal, gallop (-), murmur (-)


Pulmo
- Inspeksi : simetris dalam keadaan statis maupun dinamis
- Palpasi

: vocal fremitus simetris D/S

- Perkusi

: sonor pada kedua lapang paru

- Auskultasi: vesikuler
Abdomen
- Inspeksi : rata, simetris D/S
- Auskultasi: bising usus 15x/menit
- Palpasi

: supel, tidak ada pembesaran hepar dan limpa

- Perkusi

: timpani, batas hepar normal

d. Ektremitas
Superior

: edema D/S (-), sianosis D/S (-), CRT 2 detik

Inferior

: edema D/S (-), sianosis D/S (-)

e. Status urologi
Penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk mengosongkan
kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekurnsi berkemih.
Hematuri, nyeri suprapubik, hesistensi.
7. Pemeriksaan penunjang
a. Urinalisis : ditemukan warna urin merah terang indikasi adanya
hematuri.
b. Kultur urin : tidak ditemukan adanya staphylokokus aureus
mengindikasikan bahwa tidak terdapat infeksi.
c. Kimia klinik : BUN 20 mg/dl, kreatinin 1,7 mg/dl.
8. Uretrografi : ditemukan penyempitan uretra sebesar dari diameter lumen
uretra

20

3.2 Diagnosa dan Intervensi Secara Umum


Pre Operatif
1. Nyeri akut b.d obstruksi saluran kemih
Tujuan

: dalam 2 x 24 jam eliminasi urin tidak akan terganggu.

Kriteria hasil : - Sumber sumbatan dapat dihilangkan.


- Tidak terjadi retensi urin.
- BUN dan kratinin dalam batas normal.
NO
1.

INTERVENSI

RASIONAL

Pantau eliminasi urin, meliputi Dengan memantau perkembangan


frekuensi, konsistensi, bau dan kondisi
warna.

pasien

kita

dapat

menentukan tindakan yang akan


dilakukan selanjutnya.

2.

Instruksikan pada pasien untuk Apabila pasien menahan kencing


berespon

segera

terhadap terlalu lama dapat menyebab buli-

kebutuhan eliminasi.

buli

penuh

sehingga

mengakibatkan refluk ke ginjal


dan ginjal tenggelam.
3.

Kolaborasikan

pada

dokter Pembedahan pada striktur uretra

untuk melakuan pembedahan

memang sangat dibutuhkan untuk


melancarkan haluaran urin.

2. Gangguan pola eliminasi urin : hesistensi, frekuensi, dan perasaan tidak


puas setelah miksi b.d obstruksi mekanik : striktur uretra.
Tujuan

: dalam 2 x 24 jam eliminasi urin tidak akan terganggu.

Kriteria hasil : - Sumber sumbatan dapat dihilangkan.


- Tidak terjadi retensi urin.
- BUN dan kratinin dalam batas normal.
NO
1.

INTERVENSI

RASIONAL

Pantau eliminasi urin, meliputi Dengan memantau perkembangan


frekuensi, konsistensi, bau dan kondisi
warna.

pasien

kita

dapat

menentukan tindakan yang akan


dilakukan selanjutnya.

21

2.

Instruksikan pada pasien untuk Apabila pasien menahan kencing


berespon

segera

terhadap terlalu lama dapat menyebab buli-

kebutuhan eliminasi.

buli

penuh

sehingga

mengakibatkan refluk ke ginjal


dan ginjal tenggelam.
3.

Kolaborasikan

pada

dokter Pembedahan pada striktur uretra

untuk melakuan pembedahan

memang sangat dibutuhkan untuk


melancarkan haluaran urin.

3. Resiko infeksi saluran kemih b.d residu urin


Tujuan

: dalam 2 x 24 jam tidak terjadi infeksi.

Kriteria hasil

: - Tidak terdapat tanda atau gejala infeksi (kalor, dolor,


rubor, tumor dan fungsiolesa).
- Nilai WBC normal 4.000 10.000 sel/ul darah
- Menunjukan hygiene yang adekuat.
- Urinalisa dan kultur hasilnya negatif.

NO
1.

INTERVENSI

RASIONAL

Pantau tanda / gejala infeksi Perubahan suhu tubuh , warna urin


(suhu tubuh, warna urin, hasil dan
laboratorium).

hasil

terjadinya
pemantau

lab.

menandakan

infeksi,
yang

dengan

berkala

dapat

mencegah terjadinya infeksi yang


parah.
2.

Instruksikan
higiene

untuk

menjaga Hygiene lingkungan sekitar dan

pribadi

melindungi

untuk tubuh

tubuh

pasien

penting

untuk

terhadap mencegah infeksi, lingkungan yang

infeksi.

kotor

dapat

meningkatkan

kontaminasi kuman.
3.

Kolaborasikan
untuk
apabila

pada

pemberian
terdapat

dokter Pemberian antibiotic pada saat


antibiotic muncul tanda-tanda infeksi dapat

tanda-tanda membantu

munculnya infeksi.

mencegah

infeksi lebih lanjut.

22

terjadinya

4.

Ajarkan pasien dan keluarga Kebersihan meatus uretra dapat


untuk

membersihkan

area mencegah kuman masuk ke saluran

saluran kemih setelah berkemih.

kemih

melalui

meatus

uretra,

karena pada pasien striktur uretra


biasanya

terjadi

peningkatan

frekuensi berkemih.

4. Resiko kerusakan integritas : lecet kulit b.d inkontinensia urin.


Tujuan

: Tidak terjadi kerusakan integritas kulit setelah intervensi 2

x 24 jam.
Kriteria hasil : - Tidak ada lesi pada kulit sekitar saluran kemih.
- Pasien menunjukan hygiene yang baik.
- Pasien menunjukan pemenuhan nutrisi yang adekuat.
NO
1.

INTERVENSI

RASIONAL

Ajarkan pasien dan keluarga Melatih kemandirian pasien untuk


untuk

melakukan

perineal menjaga kebersihan perineal setiap

hygiene yang baik dan benar.

setelah BAK agar tidak terjadi lesi


akibat teriritasi urin yang keluar.

2.

Anjurkan

pasien

untuk Dengan

memenuhi

kebutuhan

memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi dan cairan dapat membantu


nutrisi yang adekuat.

mempertahankan kelembaban kulit


serta kulit tidak mudah teriritasi.

3.

Kolaborasikan dengan ahli gizi Gizi

yang

adekuat

dapat

untuk pemenuhan gizi yang meningkatkan kekebalan tubuh dan


sesuai dengan kondisi pasien.
4.

Observasi

menjaga kesehatan kulit.

perkembangan Mengantisipasi terjadinya lesi pada

kesehatan pasien dan segera kulit sekitar perineal dan apabila


laporkan

pada

terdapat

tanda-tanda

kerusakan

dokter

integritas

bila terlanjur

terjadi

adanya teratasi dengan baik.


kulit

perineal : lecet
5. Disfungsi seksual b.d obstruksi saluran ejakulasi.

23

dapat

segera

Tujuan

: dalam 2 x 24 jam gangguan disfungsi sexual dapat

diatasi.
Kriteria hasil

:- Pasien mengungkapkan secara verbal pemahamannya


tentang perubahan pada fungsi seksual.
- Pasien menunjukan hubungan yang baik dengan
pasangannya.
- Pasangan pasien mengungkapkan kepamahamanya
tentang kondisi pasien.

NO
1.

INTERVENSI

RASIONAL

Diskusikan dengan pasien dan Meningkatkan pengetahuan klien


keluarga

tentang

perubahan dan pasangan (keluarga) tentang

fungsi seksual yang merupakan disfungsi


efek dari penyakit.

yang

terjadi

serta

penyebabnya dan bagaimana ke


depanya

agar

tidak

terjadi

kesalahpahaman.
2.

Rujuk pasien ke ahli terapis Merujuk pada yang lebih ahli


seksual untuk konseling bila untuk mencegah terjadinya stress
dibutuhkan.

dan membantu mengatasi masalah


disfungsi seksual pada pasien.

3.

Libatkan pasangan pasien dalam Diharapkan pasangan pasien dapat


setiap jadwal konseling.

menerima kondisi pasien dan tetap


terjaga

keharmonisan

dalam berhubungan.
4.

Observasi
pasien

kesehatan
untuk

psikis

mencegah

terjadinya stress/depresi akibat


perubahan fungsi seksual

24

mereka

6. Ansietas b.d kurang informasi tentang penyakit dan tindakan operatif yang
akan dilakukan.
Tujuan

: dalam 2 x 24 jam cemas berkurang / hilang

Kriteria hasil : - Pasien melaporkan cemas berkurang.


- Klien tampak rileks dan beristirahat yang cukup.
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
- Pengetahuan pasien dan keluarga bertambah tentang
penyakit yang diderita.
- Pasien siap untuk menjalani operasi.
NO
1.

INTERVENSI

RASIONAL

Beri penjelasan pada pasien dan Memberikan

penjelasan

tentang

keluarga tentang penyakit yang penyakit dapat mengurangi cemas


dialami.

pada

pasien

dan

keluarga,

setidaknya pasien dan keluarga


tahu komplikasi yang mungkin
terjadi dan tanda gejala yang
mungkin dialami.
2.

Jelasakan

pada

keluarga

tentang

pasien

dan Diet dan cairan yang adekuat

persiapan secara

operasi :
pasien

meningkatkan

dapat

untuk tubuh dan mencegah terjadinya

asupan

diet infeksi,

dan cairan.

untuk

langsung

membantu mempertahankan imun

- Anjurkan

- Ajarkan

tidak

disamping

dari

resiko

infeksi akibat prosedur operasi.


mobilisasi

dilakukan

aktif Mobilisasi

aktif

pasca

operasi

setelah dapat merangsang hipofisis untuk

operasi.

memproduksi

growth

hormone

- Jelaskan pada pasien tentang yang berperan membantu dalam


prosedur operasi.

proses penyembuhan luka.

- Anjurkan pasien untuk tetap Beribadah


beribadah dan mendekatkan memberikan
diri pada Tuhan.

pasien.

25

diyakini

dapat

ketenangan

pada

3.

Kolaborasikan dengan dokter Pemberian obat penurun cemas


untuk

pemberian

obat-obatan diharapkan

dapat

membantu

untuk mengurangi rasa cemas menurunkan rasa cemas apabila


bila diperlukan.

tidak terdapat kontra indikasi.

Post operatif
1. Nyeri akut b.d trauma jaringan
Tujuan

: dalam 2 x 24 jam nyeri berkurang / hilang.

Kriteria hasil

: - Pasien melaporkan nyeri berkurang / hilang


- Ekspresi wajah dan posisi pasien relaks
- Tidak terjadi gangguan tidur.

NO
1.

INTERVENSI
Bantu

pasien

mendapatkan

RASIONAL
untuk Posisi yang nyaman tanpa ada

posisi

yang kontra indikasi dapat memberikan

nyaman menurut pasien selama rasa


tidak ada kontra indikasi.

relaks

pada

pasien

dan

diharapkan pasien dapat memenuhi


kebutuhan istirahat.

2.

Ajarkan
nyeri

pasien

managemen Diharapkan dengan mendengarkan

seperti

melakukan musik, menulis atau berbincang-

pengalihan melalui mendengar bincang pasien dapat mengabaikan


musik,

menulis,

atau rasa nyerinya.

berbincang-bincang.
3.

Anjurkan pasien untuk tetap Mobilisasi aktif diharapkan dapat


melakukan mobilisasi aktif saat membantu
serangan

nyeri

mempercepat

tidak penyembuhan

berlangsung.

mencegah

luka

insisi

penurunan

dan

peristaltic

usus dan tonus otot.


4.

Kolaborasikan dengan dokter Apabila


untuk pemberian analgesik bila terlalu
diperlukan.

nyeri

yang

dirasakan

hebat,

perlu

diberikan

analgesik tapi ada beberapa obat


yang menyebabkan spasme otot
system

urin,

jadi

pertimbangan yang matang.

26

perlu

2. Resiko infeksi b.d port de entre bakteri sekunder luka insisi bedah.
Tujuan

: dalam 2 x 24 jam tidak terjadi infeksi

Kriteria hasil : - Suhu tubuh pasien dalam batas normal 360 37,50 C.
- Luka insisi bersih, mongering dan tidak terjadi infeksi.
- Urin yang keluar jernih tidak bercampur pus.
NO
1.

INTERVENSI

RASIONAL

Periksa suhu setiap 4 jam dan Perubahan suhu tubuh , warna urin
segera laporkan pada dokter dan

hasil

lab.

apabila terjadi peningkatan suhu terjadinya


di atas normal.

pemantau

menandakan

infeksi,
yang

dengan

berkala

dapat

mencegah terjadinya infeksi yang


parah.
2.

Periksa luka insisi adanya nyeri , Perawatan luka setiap 2 hari sekali
kemerahan,
adanya

bengkak,

dan dapat mencegah kuman masuk

kebocoran

urin. melalui luka insisi yang dapat

Bersihkan luka dengan prinsip menyebabkan infeksi.


steril.
3.

Ajarkan pasien dan keluarga Dengan membersihkan area sekitar


untuk membersihkan area sekitar luka, atau mandi bisa mengurangi
luka yang tidak steril.

resiko kuman dapat masuk ke luka


insisi.

4.

Anjurkan pasien dan keluarga Hygiene lingkungan sekitar dan


untuk

menjaga

kebersihan tubuh

pasien

penting

untuk

lingkungan sekitar pasien dan mencegah infeksi, lingkungan yang


kebersihan pasien itu sendiri kotor
(mandi).
5.

Informasikan

dapat

meningkatkan

kontaminasi kuman.
pada

pasien Nutrisi

yang

adekuat

keluarga untuk mempertahankan membantu


nutrisi pasien yang adekuat.

penyembuhan

mempercepat
luka

insisi

meningkatkan system imun.

27

dapat

dan

6.

Kolaborasikan dengan ahli gizi Pemberian diet yang tepat juga


untuk pemberian diet TKTP.
Kolaborasikan
untuk
apabila

pada

pemberian
terdapat

berpengaruh pada penyembuhan

dokter luka dan pemulihan kondisi pasien,


antibiotic Pemberian antibiotic pada saat

tanda-tanda muncul tanda-tanda infeksi dapat

munculnya infeksi.

membantu

mencegah

infeksi lebih lanjut.

28

terjadinya

3.3 Kasus Semu


Tn. A usia 48 tahun seorang guru dibawa keluarganya ke RS. C
dengan keluhan utama sulit berkemih sejak 2 minggu yang lalu, keluhan
timbul perlahan dan semakin parah. Tn. A mengatakan frekuensi kencing
meningkat, sehingga pasien sering ke kamar mandi, tetapi berkemih di rasa
tidak tuntas dan harus mengejan, setelah mengejan pun pancaran urin
kecil.Kadang terasa nyeri di daerah suprapubis jika urin tidak segera
keluar.Saat dipalpasi buli teraba penuh.pasien juga mengatakan pernah keluar
darah saat kencing 2 hari yang lalu. Tn. A mempunyai riwayat fraktur pelvis
akibat kecelakaan sepeda motor. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
kesadaran compos mentis, TD : 120/80 mm/Hg, N : 88x/ menit, S : 36,50 C,
RR : 20x/menit. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan warna urin merah
terang, tidak ditemukan adanya staphylokokus aureus, BUN 20 mg/dl,
kreatinin 1,7 mg/dl, dari uretrografi ditemukan penyempitan uretra sebesar
dari diameter lumen uretra. Menurut advise dokter Tn. A akan dilakukan
operasi sistostomi suprapubis lusa. Pasien nampak cemas dengan keadaan
penyakitnya dan operasi yang akan dilakukan.

3.4 Pengkajian
1. Identitas pasien
Nama

: Tn. A

Usia

: 48 tahun

Pekerjaan

: Guru

2. Keluhan Utama
Sulit berkemih sejak 2 minggu yang lalu
3. Riwayat penyakit sekarang
Sulit berkemih sejak 2 minggu yang lalu, keluhan timbul perlahan dan
semakin parah. Frekuensi kencing meningkat, pasien mengatakan sering
ke kamar mandi, tetapi berkemih di rasa tidak tuntas dan harus mengejan,
setelah mengejan pun pancaran urin kecil. Kadang terasa nyeri di daerah

29

suprapubis jika urin tidak segera keluar. Saat dipalpasi buli teraba penuh.
Pasien juga mengatakan pernah keluar darah saat kencing 2 hari yang lalu.
4. Riwayat penyakit dahulu .
Tn. A mempunyai riwayat fraktur pelvis akibat kecelakaan sepeda motor
5. Riwayat penyakit keluarga.
Tidak ada.
6. Pemeriksaan fisik
Head to toe
f. Kepala : normal
g. Mata :
- Konjungtifa : ananemis, anikterus
- Sclera : anikterus
h. Thoraks
Kardiovaskuler
- Inspeksi : tidak nampak ictus cordis
- Palpasi

: tidak teraba ictus cordis,

- Perkusi

: kardiomegali (-)

- Auskultasi: bunyi jantung S1S2 tunggal, gallop (-), murmur (-)


Pulmo
- Inspeksi : simetris dalam keadaan statis maupun dinamis
- Palpasi

: vocal fremitus simetris D/S

- Perkusi

: sonor pada kedua lapang paru

- Auskultasi: vesikuler
Abdomen
- Inspeksi : rata, simetris D/S
- Auskultasi: bising usus 15x/menit
- Palpasi

: supel, tidak ada pembesaran hepar dan limpa

- Perkusi

: timpani, batas hepar normal

i. Ektremitas
Superior

: edema D/S (-), sianosis D/S (-), CRT 2 detik

Inferior

: edema D/S (-), sianosis D/S (-)

30

j. Status urologi
Penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk mengosongkan
kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekurnsi berkemih.
Hematuri, nyeri suprapubik, hesistensi.
7. Pemeriksaan penunjang
8. Urinalisis : ditemukan warna urin merah terang indikasi adanya hematuri.
9. Kultur

urin

tidak

ditemukan

adanya

staphylokokus

aureus

mengindikasikan bahwa tidak terdapat infeksi.


10. Kimia klinik : BUN 20 mg/dl, kreatinin 1,7 mg/dl.
11. Uretrografi : ditemukan penyempitan uretra sebesar dari diameter lumen
uretra.

3.5 Analisis Data


Pre Operatif
Data

Analisa

DS : pasien mengatakan

Obstrtuksi mekanik

nyeri di area suprapubic dan

nyeri saat akan berkemih

Penyempitan pada

P: saat miksi

ureter

Q: seperti ditusuk-tusuk
R: daerah supra pubis

Kandung kemih terasa

S: tingkat nyeri 8

penuh

T: saat miksi

Proses miksi

DO :
- Pasien tampak gelisah

Nyeri

saat akan BAk


- Pasien

terlihat

selalu

berhati-hati dalam setiap


gerakannya

31

Masalah
Nyeri

DS : pasien mengatakan

Striktur uretra
Gangguan pola

urin keluar hanya sedikit


eleminasi urin
Tekanan vesika urinaria
(disuria) dan pancarannya
meningkat
kecil.

Penebalan otot Vesika


urinaria
DO :

- Hesistensi
Penurunan kontraksi
otot Vesika urinaria
- Retensi

- Buli-buli teraba penuh


Kesulitan berkemih
- BUN 20mg/dl

Output urine
- Kreatinin 1,7 mg/dl

Disuria

Perubahan pola
eliminasi urin
DS : pasien mengeluh saat
Penyempitan pada
Resiko infeksi
urin keluar terasa panas.

ureter

DO:
- Suhu badan normal 370

Kandung kemih terasa

C.

penuh

- Urin berwarna seperti


teh.

Proses miksi

- Ureter mengalami
penyempitan sehingga
urin tidak lancar.

Urin keluar tidak lancar


dan jumlahnya sedikit

- WBC 6.000 sel/ul darah.

Residu urin

Resiko infeksi saluran


kemih

32

saluran kemih

DS : pasien mengungkapkan

Striktur uretra

cemas dengan keadaan


penyakitnya.

Ansietas

Keadaan penyakit,
Hospitalisasi

DO:
- Pasien sering bertanya

Rencana tindakan

tentang keadaan

operatif

penyakitnya
- Kurang konsentrasi saat

Kurang informasi

diajak bicara.

Krisis situasi

Ansietas

Post operatif
Data

Analisa

DS : pasien mengatakan

Pembedahan

nyeri pada area yang di

insisi.

Terdapat luka insisi

P: saat bergerak maupun


diam

Nyeri

Q: hilang timbul
R: daerah supra pubis
S: tingkat nyeri 4
T: sebentar
DO:
- Perubahan pola tidur.
- Berusaha menjauhkan
tempat yang nyeri dari
orang lain.

33

Masalah
Nyeri

DS: -

Pembedahan

DO:

- Suhu 37,80 C

Resiko infeksi

Luka insisi

- Kondisi luka masih baru,


belum kering.

Port de entry masuknya

- Area sekitar luka tidak

kuman

terlalu baersih.
- Tidak keluar pus pada

Resiko infeksi

luka dan urin yang


keluar.
- Tidak ada rembesan urin

3.6 Diagnosa dan Intervensi


Pre operatif
1. Nyeri b.d penyumbatan saluran kencing sekunder terhadap striktur uretra.
Tujuan

: dalam 2 x 24 jam nyeri berkurang

Kriteria hasil

: - Skala nyeri menurun dari 8 menjadi 4


- Ekspresi wajah klien rileks.
- Pasien melaporkan dapat mengontrol nyeri.
- Tidak terjadi gangguan tidur

NO
1.

INTERVENSI

RASIONAL

Anjurkan pasien untuk tidak Pasien

biasanyamenjadi

takut

menahan saat ingin BAK karena untuk berkemih karena takut akan
takut nyeri.

rasa nyerinya dan hal ini bisa


memperparah retensi urin.

2.

Ajarkan

pasien

managemen Diharapkan dengan nafas dalam

nyeri seperti nafas dalam saat saat BAK dapat mengurangi rasa
BAK.
3.

nyeri.

Kolaborasikan dengan dokter Apabila


untuk pemberian analgesik bila terlalu
diperlukan.

nyeri

yang

dirasakan

hebat,

perlu

diberikan

analgesik tapi ada beberapa obat


yang menyebabkan spasme otot

34

sistem

urin,

jadi

perlu

pertimbangan yang matang.


4.

Observasi

pengeluaran

urin Observasi urin tiap pergantian shift

pasien, adakah batu, darah atau untuk mengetehui apakah mungkin


tidak.

nyeri disebabkan oleh batu.

2. Gangguan pola eliminasi urin : hesistensi, frekuensi, dan perasaan tidak


puas setelah miksi b.d obstruksi mekanik : striktur uretra.
Tujuan

: dalam 2 x 24 jam eliminasi urin tidak akan terganggu.

Kriteria hasil

: - Sumber sumbatan dapat dihilangkan.


- Tidak terjadi retensi urin.
- BUN dan kratinin dalam batas normal.

NO
1.

INTERVENSI

RASIONAL

Pantau eliminasi urin, meliputi Dengan memantau perkembangan


frekuensi, konsistensi, bau dan kondisi
warna.

pasien

kita

dapat

menentukan tindakan yang akan


dilakukan selanjutnya.

2.

Instruksikan pada pasien untuk Apabila pasien menahan kencing


berespon

segera

terhadap terlalu lama dapat menyebab buli-

kebutuhan eliminasi.

buli

penuh

sehingga

mengakibatkan refluk ke ginjal dan


ginjal tenggelam.
3.

Kolaborasikan

pada

dokter Pembedahan pada striktur uretra

untuk melakuan pembedahan

memang sangat dibutuhkan untuk


melancarkan haluaran urin.

3. Resiko infeksi saluran kemih b.d retensi urin


Tujuan

: dalam 2 x 24 jam tidak terjadi infeksi.

Kriteria hasil

: - Tidak terdapat tanda atau gejala infeksi (kalor, dolor,


rubor, tumor dan fungsiolesa).
- Nilai WBC normal 4.000 10.000 sel/ul darah
- Menunjukan hygiene yang adekuat.
- Urinalisa dan kultur hasilnya negatif.

35

NO
1.

INTERVENSI

RASIONAL

Pantau tanda / gejala infeksi Perubahan suhu tubuh , warna urin


(suhu tubuh, warna urin, hasil dan
laboratorium).

hasil

lab.

terjadinya
pemantau

menandakan

infeksi,
yang

dengan

berkala

dapat

mencegah terjadinya infeksi yang


parah.
2.

Instruksikan
higiene

untuk

menjaga Hygiene lingkungan sekitar dan

pribadi

melindungi

untuk tubuh

tubuh

pasien

penting

untuk

terhadap mencegah infeksi, lingkungan yang

infeksi.

kotor

dapat

meningkatkan

kontaminasi kuman.
3.

Kolaborasikan
untuk
apabila

pada

pemberian
terdapat

dokter Pemberian antibiotic pada saat


antibiotic muncul tanda-tanda infeksi dapat

tanda-tanda membantu

munculnya infeksi.
4.

mencegah

terjadinya

infeksi lebih lanjut.

Ajarkan pasien dan keluarga Kebersihan meatus uretra dapat


untuk

membersihkan

area mencegah kuman masuk ke saluran

saluran kemih setelah berkemih.

kemih

melalui

meatus

uretra,

karena pada pasien striktur uretra


biasanya

terjadi

peningkatan

frekuensi berkemih.

4. Ansietas b.d kurang informasi tentang penyakit dan tindakan operatif


yang akan dilakukan.
Tujuan

: dalam 2 x 24 jam cemas berkurang / hilang

Kriteria hasil

: - Pasien melaporkan cemas berkurang.


- Klien tampak rileks dan beristirahat yang cukup.
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
- Pengetahuan pasien dan keluarga bertambah tentang
penyakit yang diderita.
- Pasien siap untuk menjalani operasi.

36

NO
1.

INTERVENSI

RASIONAL

Beri penjelasan pada pasien dan Memberikan

penjelasan

tentang

keluarga tentang penyakit yang penyakit dapat mengurangi cemas


dialami.

pada

pasien

dan

keluarga,

setidaknya pasien dan keluarga


tahu komplikasi yang mungkin
terjadi dan tanda gejala yang
mungkin dialami.
2.

Jelasakan

pada

keluarga

tentang

pasien

dan Diet dan cairan yang adekuat

persiapan secara

operasi :

tidak

langsung

dapat

membantu mempertahankan imun

- Anjurkan

pasien

meningkatkan

untuk tubuh dan mencegah terjadinya

asupan

diet infeksi,

dan cairan.
- Ajarkan
untuk

disamping

dari

resiko

infeksi akibat prosedur operasi.


mobilisasi

dilakukan

aktif Mobilisasi

aktif

pasca

operasi

setelah dapat merangsang hipofisis untuk

operasi.

memproduksi

growth

hormone

- Jelaskan pada pasien tentang yang berperan membantu dalam


prosedur operasi.

proses penyembuhan luka.

- Anjurkan pasien untuk tetap Beribadah


beribadah dan mendekatkan memberikan
diri pada Tuhan.
3.

diyakini

dapat

ketenangan

pada

pasien.

Kolaborasikan dengan dokter Pemberian obat penurun cemas


untuk

pemberian

obat-obatan diharapkan

dapat

membantu

untuk mengurangi rasa cemas menurunkan rasa cemas apabila


bila diperlukan.

tidak terdapat kontra indikasi.

Post operatif
1. Nyeri b.d luka insisi pembedahan
Tujuan

: dalam 2 x 24 jam nyeri berkurang / hilang.

Kriteria hasil

: - Pasien melaporkan nyeri berkurang / hilang


- Ekspresi wajah dan posisi pasien relaks
- Tidak terjadi gangguan tidur.

37

NO
1.

INTERVENSI
Bantu

pasien

mendapatkan

RASIONAL
untuk Posisi yang nyaman tanpa ada

posisi

yang kontra indikasi dapat memberikan

nyaman menurut pasien selama rasa


tidak ada kontra indikasi.

relaks

pada

pasien

dan

diharapkan pasien dapat memenuhi


kebutuhan istirahat.

2.

Ajarkan

pasien

nyeri

managemen Diharapkan dengan mendengarkan

seperti

melakukan musik, menulis atau berbincang-

pengalihan melalui mendengar bincang pasien dapat mengabaikan


musik,

menulis,

atau rasa nyerinya.

berbincang-bincang.
3.

Anjurkan pasien untuk tetap Mobilisasi aktif diharapkan dapat


melakukan mobilisasi aktif saat membantu
serangan

nyeri

mempercepat

tidak penyembuhan

berlangsung.

mencegah

luka

insisi

penurunan

dan

peristaltic

usus dan tonus otot.


4.

Kolaborasikan dengan dokter Apabila


untuk pemberian analgesik bila terlalu
diperlukan.

nyeri

yang

dirasakan

hebat,

perlu

diberikan

analgesik tapi ada beberapa obat


yang menyebabkan spasme otot
system

urin,

jadi

perlu

pertimbangan yang matang.

2. Resiko infeksi b.d port de entre masuknya kuman


Tujuan

: dalam 2 x 24 jam tidak terjadi infeksi

Kriteria hasil

: - Suhu tubuh pasien dalam batas normal 360 37,50 C.


- Luka insisi bersih, mongering dan tidak terjadi infeksi.
- Urin yang keluar jernih tidak bercampur pus.

NO
1.

INTERVENSI

RASIONAL

Periksa suhu setiap 4 jam dan Perubahan suhu tubuh , warna urin
segera laporkan pada dokter dan

hasil

apabila terjadi peningkatan suhu terjadinya

38

lab.
infeksi,

menandakan
dengan

di atas normal.

pemantau

yang

berkala

dapat

mencegah terjadinya infeksi yang


parah.
2.

Periksa luka insisi adanya nyeri , Perawatan luka setiap 2 hari sekali
kemerahan,
adanya

bengkak,

dan dapat mencegah kuman masuk

kebocoran

urin. melalui luka insisi yang dapat

Bersihkan luka dengan prinsip menyebabkan infeksi.


steril.
3.

Ajarkan pasien dan keluarga Dengan membersihkan area sekitar


untuk membersihkan area sekitar luka, atau mandi bisa mengurangi
luka yang tidak steril.

resiko kuman dapat masuk ke luka


insisi.

4.

Anjurkan pasien dan keluarga Hygiene lingkungan sekitar dan


untuk

menjaga

kebersihan tubuh

pasien

penting

untuk

lingkungan sekitar pasien dan mencegah infeksi, lingkungan yang


kebersihan pasien itu sendiri kotor
(mandi).
5.

dapat

meningkatkan

kontaminasi kuman.

Informasikan

pada

pasien Nutrisi

yang

adekuat

keluarga untuk mempertahankan membantu


nutrisi pasien yang adekuat.

dapat

mempercepat

penyembuhan

luka

insisi

dan

meningkatkan system imun.


6.

Kolaborasikan dengan ahli gizi Pemberian diet yang tepat juga


untuk pemberian diet TKTP.
Kolaborasikan
untuk
apabila

pada

pemberian
terdapat

berpengaruh pada penyembuhan

dokter luka dan pemulihan kondisi pasien,


antibiotic Pemberian antibiotic pada saat

tanda-tanda muncul tanda-tanda infeksi dapat

munculnya infeksi.

membantu

mencegah

infeksi lebih lanjut.

39

terjadinya

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Striktur uretra dapat menimbulkan berbagai masalah keperawatan yang
perlu perhatian khusus dan dapat menjadi masalah yang berbahaya apabila
tidak ditangani dengan baik. Umumnya penderita tidak dapat pulih dengan
sempurna, karena itu untuk menghindari akibat yang lebih parah, penanganan
yang baik dan tepat harus dimulai dari upaya diagnostik yang akurat, serta
dapat dilakukan tindakan preventif untuk meminimalkan angka kejadian kasus
tersebut.

4.2Saran
Mengetahui banyaknya komplikasi yang dapat diakibatkan oleh adanya
stricture uretra ini, maka penanganan dan perawatan yang tepat harus
diperhatikan. Selain dengan bantuan petugas medis, pasien maupun keluarga
juga harus memahami perawatan sehingga mampu melakukan perawatan
mandiri di rumah karena prognosis dari penyakit ini tidak memungkinkan
untuk terjadi recovery lengkap seperti semula. Sehingga penting bagi perawat
untuk selalu memberikan health education kepada pasien dan keluarganya
untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.
Kerjasama antar disiplin seperti urologi dan rehabilitasi medik sangat
diperlukan. Namun di atas segalanya, perhatian, kesabaran, dan dedikasi untuk
menolong pasien sangat penting agar kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan.
Selain penanganan yang tepat, yang lebih penting adalah tindakan preventif
sedapat mungkin harus dilakukan untuk meminimalkan angka kejadian
striktur uretra, sehingga meminimalkan masalah-masalah keperawatan yang
dapat ditimbulkan.

40

DAFTAR PUSTAKA
Baradero, Mary. (2005). Klien Gangguan Ginjal: seri asuhan keperawatan.
Jakarta: EGC.
Barbagli Guido, Lazerri Masimo. Surgical treatment of anterior urethral stricture
disease: brief overview. International Braz J Urol. 2007; 33. P. 461-469.
Carpenito, Linda Juall. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan
(terjemahan).Jakarta: EGC.
Doenges, Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Grace, A Pierce, Borley Neil R. (2006). At A Glance Ilmu Beedah edisi 3. Jakarta:
penerbit Erlangga.
Jong, Wim De, R. Sjamsuhidayat. (2004). Striktur Uretra. Dalam: Saluran Kemih
dan Alat Kelamin Lelaki, Buku Ajar Ilmu Bedah hal.752. Jakarta: EGC.
Media Aesculaipius.(2000). Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, edisi ke3 jilid 2.Jakarta: Kapita Selekta.
Muttaqin, Arif. (2011). Asuhan Keperawatan Sistem Perkemihan. Jakarta:
Salemba Medika.
Nursalam.Asuhan

Keperawatan

pada

Pasien

dengan

Gangguan

Sistem

Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.


Purnomo B. Basuki. (2011). Dasar-dasar Urologi.Edisi ketiga. Jakarta: CV
Sagung Seto.
Purnomo, B. Basuki. (2000), Dasar-dasar Urologi, Malang:fakultas kedokteran
universitas Brawijaya.
Purnomo, B. Basuki., dkk. (2010). Diagnosis dan Terapi. Malang: UB Press.
Sabiston, David C. (1994). Uretra. Dalam: Sistem Urogenital, Buku Ajar Bedah
Bagian 2, hal.463. Jakarta: EGC.
Sjamsuhidayat R, Wim de Jong. (1996). Striktur Uretra, dalam: Buku Ajar Ilmu
Bedah Ed. Revisi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Soeparman.(1990). IlmuPenyakit Dalam Jilid II. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Staf pengajar bagian ilmu bedah fakultas kedokteran universitas Indonesia.(1998).
Kumpulan kuliah ilmu bedah. Tangerang: Penerbit Binarupa Aksara.
Suddarth & Brunner.(2001). Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 vol.2. Jakarta:
EGC.

41