Anda di halaman 1dari 11

MATERI PENDIDIKAN KESEHATAN POSITIONING DAN AMBULASI

A. POSITIONING
1.

Pengaturan posisi tidur


a. Pengaturan posisi tidur terlentang
Posisi tidur terlentang pada pasien stroke akut adalah protraksi gelang bahu,
abduksi dan eksternal rotasi bahu, ekstensi siku, lengan bawah supinasi,
pergelangan tangan ekstensi, jari-jari abduksi dan ekstensi. Untuk posisi tungkai
protraksi, semifleksi dan interna rotasi sendi panggul. Pada lutut sedikit semi fleksi.
Kepala pada posisi netral atau lateral fleksi yang sehat. Posisi tersebut di atas
kurang menguntungkan karena memudahkan terjadinya retraksi sendi bahu dan
sendi panggul. Oleh karena itu, pada bahu dan lengan diletakkan di atas bantal
sehingga bahu sedikit terdorong ke depan (protraksi). Bantal juga diletakkan di
bawah sendi panggul untuk mencegah panggul jatuh ke belakang dan tungkai
memutar keluar (Soehardi, 1992).

Gambar a.
Posisi Tidur Terlentang (Johnstone, 1987)

b. Pengaturan posisi tidur miring ke sisi yang sehat


Posisi tidur miring pada penderita stroke adalah pasien harus miring
penuh, bahu yang lumpuh harus dalam keadaan protraksi dengan diganjal bantal
sampai pada lengan bawah dan lengannya harus lurus. Pada tungkai sedikit semi
fleksi dengan kaki yang lumpuh berada didepan kaki yang sehat diantara kedua
tungkai tepatnya diantara kedua paha diganjal dengan bantal (Soehardi, 1992).

Gambar b.
Posisi tidur miring kesisi sehat (Johnstone 1987)
c.

Pengaturan posisi tidur miring ke sisi yang lumpuh


Posisi miring dimana bahu yang lumpuh tidak boleh tertindih dan harus

terdorong agak kedepan, tungkai yang sehat semi fleksi pada hip dan lutut terletak
di depan tugkai yang lumpuh, tungkai yang lumpuh ekstensi pada hip dan semi
fleksi pada lututnya (Soehardi, 1992).

Gambar c.
Posisi tidur miring kesisi yang lumpuh (Johnstone 1987)
B. AMBULASI
A. Latihan aktivitas bagun ke duduk
Latihan aktivitas fungsional bangun ke duduk dilakukan dengan posisi
pasien terlentang keduduk, posisi terapis menyesuaikan posisi pasien. Pelaksanaan
:pasien dalam posisi terlentang, kedua lutut ditekuk dan diganjal bantal, kedua
lengan lurus ke atas dengan jari jari tangan dijalin satu sama. Kemudian setelah
itu pasien diminta berguling kesisi yang lumpuh dimana dimulai dengan ayunan
lengan rotasi gelang bahu, badan baru diikuti gerak panggul dan tungkai. Rotasi
bahu dan panggul merupakan refleks yang penting untuk mencegah pola spasti

ekstensi. Setelah pasien berguling di sisi yang lumpuh diminta bergerak ke bed
sebagai tumpuan berat badan.
Kaki saling disilangkan dan diturunkan kelantai. Saat bangun ke duduk
tersebut sambil dibantu terapis. Dengan pegangan pada lengan pasien yang sehat
dan kaki yang sakit. Bantuan terapis tersebut berupa gerakan menarik lengan
pasien. Sesudah sampai keposisi duduk, posisi tungkai harus selalu menapak
penuh. Sesudah sampai ke posisi duduk tersebut perlu diperhatikan ekspresi wajah
pasien, apakah menjadi pucat, keluar keringat dingin, keluhan rasa mual atau
muntah maupaun rasa pusing. Dicek pula terjadi peningkatan denyut nadi
melebihi 100 kali per menit atau turun melebihi 60 kali per menit dan pernapasan
menjadi cepat atau lambat, sebaiknya pasien dibaringkan kembali dan diselimuti
(Lihat gambar 4.15)

Gambar a.
bangun keduduk (johnstone, 1987)

B.

Latihan aktivitas fungsional untuk keseimbangan duduk


Latihan aktivitas fungsional untuk keseimbangan duduk dilakukan

dengan posisi pasien duduk, posisi terapis menyesuaikan posisi pasien. Setelah
pasien sampai ke posisi duduk dengan posisi kedua kaki menapak lantai dan
kedua lengan diletakkan di sisi tubuh kemudian dilatih keseimbangan dengan
pegangan terapis pada kedua bahu pasien. Pada saat itu pula dilanjutkan latihan
keseimbangan dengan pegangan terapi pada bawah leher, sedangkan posisi kedua
tangan pasien diletakkan diatas pangkuannya. Kemudian pasien digoyangkan ke
kanan kiri dan depan belakang untuk beberapa detik. Apabila pasien belum bisa
mempertahankan keseimbangannya selama 30 detik maka latihan tersebut perlu
ditingkatkan lagi ( Lihat gambar 4.16).

Gambar b. Latihan keseimbangan duduk (Johnstone, 1987)

C. Latihan aktifitas duduk ke berdiri


Latihan dimulai dari posisi duduk, kedua kaki pasien menapak sempurma
dilantai, terapis berdiri menghadap pasien. Kedua tangan pasien memegang
pinggang terapis sedangkan kedua tangan terapis memegang pada crista iliaca.
Terapis memberikan fiksasi dilutut pasien dengan menggunakan kedua lutut
terapi

D. Teknik Memindahkan Klien Dari Tempat Tidur Ke Kursi Roda


Memindahkan klien yang tidak dapat atau tidak boleh berjalan dan dilakukan
dari tempat tidur ke kursi roda. Tujuan untuk mengurangi atau menghindarkan
pergerakan pasien sesuai dengan keadaan fisiknya., memberikan rasa nyaman
pada pasien. memenuhi kebutuhan konsultasi atau pindah ruangan. Prosedur
pelaksanaan
a. Memberitahu pasien tentang hal yang akan dilakukan
b. Mencuci tangan
c. Bantu pasien untuk posisi duduk di tepi tempat tidur, siapkan kursi roda
dalam posisi 45 derajat terhadap tempat tidur
d. Pastikan bahwa pasien menggunakan sepatu/sandal yang stabil dan tidak
licin
e. Renggangkan kedua kaki anda.
f. Fleksikan panggul dan lutut Anda, sejajar lutut anda dengan lutut klien.
g. Genggam sabuk pemindah dari bawah atau rangkul aksila pasien dan
tempatkan tangan anda di scapula pasien.
h. Angkat pasien sampai berdiri pada hitungan ke-3 sambil meluruskan
panggul dan tungkai Anda,dengan tetap mempertahankan lutut agak
fleksi.
i. Pertahankan stabilitas tungkai yang lemah atau paralisis dengan lutut.
j. Tumpukan pada kaki yang jauh dari kursi.
k. Instruksikan pasien untuk menggunakan lengan yang memegang kursi
untuk menyokong.
l. Fleksikan panggul dan lutut Anda sambil menurunkan pasien ke kursi.
m. Kaji pasien untuk kesejajaran yang tepat untuk posisi duduk.

E. Teknik Memindahkan Klien Dari Tempat Tidur Ke Brancard


Memindahkan pasien yang tidak dapat atau tidak boleh berjalan dilakukan
dari tempat tidur ke brancard. Tujuan untuk mengurangi atau menghindari
pergerakan pasien sesuai dengan keadaan fisiknya, memberi rasa aman dan
nyaman pada pasien, memenuhi kebutuhan konsultasi atau pindah ruang.
Prosedur pelaksanaan
a. Menempatkan kereta dorong sedemikian rupa sehingga membentuk sudut
90 yaitu bagian kepala brancard berada pada bagian kaki tempat tidur
atau sejajar dengan tempat tidur (bila pasien dapat menggerakkan
badannya sendiri).
b. Memberitahu pasien
c. Mencuci tangan
d. Mengambil seprei atas dari atas kereta dorong dan menutupnya pada
pasien. orang yang akan mengangkat pasien berdiri di sebelah kanan
pasien, berdiri menurut tinggi yaitu paling tinggi berdiri di bagian kepala,
yang terpendek berdiri di tengah.
e. Masukkan kaki kiri masing-masing orang-orang sedikit ke muka/depan
f. Susupkan lengan-lengan orang-orang di bawah leher, punggung, bokong,
paha, kaki pasien dengan telapak tangan menghadap ke atas sampai

mencapai sisi kiri pasien, telapak tangan orang dirapatkan ke badan pasien
dengan sedikit ditekan untuk menahan agar pasien tidak lepas/jatuh.
g. orang yang berdiri di bagian kepala memberi aba-aba dan dengan serentak
pasien diangkat, dan melangkahkan kaki secara teratur dan hati-hati.
h. Meletakkan pasien secara bersama-sama dan perlahan-lahan
i. Merapikan pasien
j. Mencuci tangan

F. Membantu pasien berjalan

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, A. Azis Alimul. 2006. Keterampilan Dasar Praktik Klinik. Jakarta: Salemba
Medika.

Ulyah, Musrifatul. 2004. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: EGC.