Anda di halaman 1dari 14

TUGAS KELOMPOK PENDIDIKAN KESEHATAN

AMBULASI DAN POSITIONING PADA PASIEN DENGAN STROKE


DI RUANG MELATI RS. dr. SOEBANDI JEMBER

oleh
Anggasari Pristiara Risky, S. Kep.
Muhammad Athok Fitriansyah, S. Kep.
Firdausi Nuzula Quruta, S. Kep.
Nita Eka Wijaya, S. Kep.

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014

PROGAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
Jalan Moch. Seruji No. 182 Jember, Jawa Timur
Telp (0331) 487145
Topik Materi

: Positioning dan ambulasi pada pasien dengan stroke

Sasaran

: Pasien dan keluarga pasien

Waktu

Hari/Tanggal

: Jumat, 24 Oktober 2014

Tempat

: Ruang Melati

1.

Latar Belakang
Stroke menduduki urutan ketiga terbesar penyebab kematian setelah penyakit
jantung dan kanker, dengan laju mortalitas 18% sampai 37% untuk stroke
pertama dan 62% untuk stroke berulang. Pada kasus yang tidak meninggal
dapat terjadi beberapa kemungkinan seperti Stroke Berulang (Recurrent
Stroke), Dementia, dan Depresi. Stroke berulang merupakan suatu hal yang
mengkhawatirkan pasien stroke karena dapat memperburuk keadaan dan
meningkatkan biaya perawatan. Diperkirakan 25% orang yang sembuh dari
stroke yang pertama akan mendapatkan stroke berulang dalam kurun waktu 5
tahun. Hasil penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa terjadinya risiko
kematian pada 5 tahun pasca-stroke adalah 45 61% dan terjadinya stroke
berulang 25 37%. Menurut studi Framingham, insiden stroke berulang
dalam kurun waktu 4 tahun pada pria 42% dan wanita 24%. Makmur dkk.
(2002) mendapatkan kejadian stroke berulang 29,52%, yang paling sering
terjadi pada usia 60-69 tahun (36,5%), dan pada kurun waktu 1-5 tahun
(78,37%) dengan faktor risiko utama adalah hipertensi (92,7%) dan
dislipidemia

(34,2%).

Faktor-faktor

risiko

stroke

berulang

belum

didefinisikan dengan jelas, tetapi tampaknya hampir sama dengan faktor


primer penyebab stroke. Mengutip penulis asing, Widiastuti (1992)
menyatakan bahwa faktor risiko stroke berlaku juga pada kejadian stroke
berulang, dan beberapa studi menyatakan bahwa pengendalian faktor risiko

dapat menurunkan angka kejadian stroke berulang. Seseorang yang pernah


terserang stroke mempunyai kecenderungan lebih besar akan mengalami
serangan stroke berulang, terutama bila faktor risiko yang ada tidak
ditanggulangi dengan baik. Karena itu perlu diupayakan juga suatu cara
perawatan yang tepat untuk menjaga keamanan serta meminimalkan resiko
yang terjadi pada pasien dengan stroke salah satunya yaitu cara ambulasi dan
positioning.
2.

Standar Kompetensi
Setelah diberikan pendidikan kesehatan, pasien dan keluarga pasien
diharapkan dapat mengetahui cara membantu pasien untuk ambulasi dan
memberikan positioning yang tepat, manfaat ambulasi dan positioning pada
pasien stroke atau pasien yang bed rest total dan mampu mempraktekkan cara
ambulasi dan positioning.

3. Kompetensi Dasar
Setelah diberikan pendidikan kesehatan, keluarga dan pasien diharapkan
dapat memahami dan mengetahui cara membantu pasien untuk ambulasi dan
memberikan positioning yang tepat, manfaat ambulasi dan berpindah pada
pasien stroke atau pasien yang bed rest total dan mampu mempraktekkan cara
ambulasi dan positioning.
4. Pokok Bahasan
Ambulasi dan positioning
5.

Subpokok Bahasan
a. Pengertian ambulasi
b. Manfaat ambulasi
c. Cara ambulasi
d. Pengertian positioning
e. Manfaat positioning
f. Cara positioning

6.

Waktu

1 x 30 menit.
7.

Bahan/Alat yang diperlukan:


a. Laptop
b. Leaflet.

8.

Model Pembelajaran
a. Jenis model pembelajaran: ceramah dan demonstrasi
b. Landasan teori : Konstruktivisme
c. Langkah pokok:
1. Menciptakan suasana yang baik
2. Mengajukan masalah
3. Membuat nilai keputusan personal
4. Mengidentifikasi pilihan tindakan
5. Memberi komentar
6. Menetapkan tindak lanjut

9.

Persiapan
Pemberi materi mencari bahan materi yang benar tentang ambulasi dan
positioning

10. Kegiatan Sosialisasi Kesehatan


Proses

Tindakan
Kegiatan Sosialisasi

Pendahuluan a. Memberikan salam,


memperkenalkan

Kegiatan Peserta
Memperhatikan dan
menjawab salam

diri, dan membuka


sosialisasi.
b. Menjelaskan materi

Memperhatikan

secara umum dan


manfaat bagi pasien
dan keluarga
pasien.
c. Menjelaskan

Waktu

Memperhatikan

5 menit

tentang TIU dan


TIK dan kontrak
waktu.
Penyajian

a. Menjelaskan

Memperhatikan

20 menit

pengertian ambulasi
dan positioning
b. Menjelaskan
manfaat ambulasi

Memperhatikan dan
memberi tanggapan

dan positioning.
c. Menjelaskan cara

Memperhatikan

ambulasi dan
positioning
d. Menonton video

Memperhatikan

ambulasi dan
positioning
e. Mendemostrasikan
cara ambulasi dan

Memperhatikan dan
member tanggapan

positioning

Penutup

a. Menutup pertemuan

Memperhatikan

dengan memberi
kesimpulan dari
materi yang
disampaikan.
b. Memberikan waktu
untuk bertanya

Memberikan
pertanyaan

maksimal 3
pertanyaan.

c. Mengajukan

Memberi saran

5 menit

pertanyaan pada
peserta.
d. Mendiskusikan

Member komentar

bersama pertanyaan

dan menjawab

yang telah

pertanyaan bersama

diberikan.

Memerhatikan dan

e. Menutup pertemuan

membalas salam

dan memberi salam.

11. Evaluasi
a. Apa yang dimaksud ambulasi dan positioning?
b. Apa manfaat dan tujuan ambulasi dan positioning?
c. Bagaimana cara melakukan ambulasi dan positioning?

12. Referensi
a.

Smeltzer SC., Bare BG. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Edisi 8 vol. 3. Jakarta: EGC

13. Daftar Lampiran


1. Materi
2. Media yang digunakan (leaflet)

Penyuluh,

Kelompok 5

MATERI PENDIDIKAN KESEHATAN POSITIONING DAN AMBULASI


A.

POSITIONING

1.Pengaturan posisi tidur


a. Pengaturan posisi tidur terlentang
Posisi tidur terlentang pada pasien stroke akut adalah protraksi gelang bahu,
abduksi dan eksternal rotasi bahu, ekstensi siku, lengan bawah supinasi,
pergelangan tangan ekstensi, jari-jari abduksi dan ekstensi. Untuk posisi tungkai
protraksi, semifleksi dan interna rotasi sendi panggul. Pada lutut sedikit semi
fleksi. Kepala pada posisi netral atau lateral fleksi yang sehat. Posisi tersebut di
atas kurang menguntungkan karena memudahkan terjadinya retraksi sendi bahu
dan sendi panggul. Oleh karena itu, pada bahu dan lengan diletakkan di atas bantal
sehingga bahu sedikit terdorong ke depan (protraksi). Bantal juga diletakkan di
bawah sendi panggul untuk mencegah panggul jatuh ke belakang dan tungkai
memutar keluar (Soehardi, 1992).

Gambar a.
Posisi Tidur Terlentang (Johnstone, 1987)

b.Pengaturan posisi tidur miring ke sisi yang sehat


Posisi tidur miring pada penderita stroke adalah pasien harus miring
penuh, bahu yang lumpuh harus dalam keadaan protraksi dengan diganjal bantal
sampai pada lengan bawah dan lengannya harus lurus. Pada tungkai sedikit semi
fleksi dengan kaki yang lumpuh berada didepan kaki yang sehat diantara kedua
tungkai tepatnya diantara kedua paha diganjal dengan bantal (Soehardi, 1992).

Gambar b. Posisi tidur miring kesisi sehat (Johnstone 1987)

c.Pengaturan posisi tidur miring ke sisi yang lumpuh


Posisi miring dimana bahu yang lumpuh tidak boleh tertindih dan harus
terdorong agak kedepan, tungkai yang sehat semi fleksi pada hip dan lutut terletak
di depan tugkai yang lumpuh, tungkai yang lumpuh ekstensi pada hip dan semi
fleksi pada lututnya (Soehardi, 1992).

Gambar c.
Posisi tidur miring kesisi yang lumpuh (Johnstone 1987)

B.AMBULASI
a.Latihan aktivitas bagun ke duduk
Latihan aktivitas fungsional bangun ke duduk dilakukan dengan posisi
pasien terlentang keduduk, posisi terapis menyesuaikan posisi pasien. Pelaksanaan
:pasien dalam posisi terlentang, kedua lutut ditekuk dan diganjal bantal, kedua
lengan lurus ke atas dengan jari jari tangan dijalin satu sama. Kemudian setelah
itu pasien diminta berguling kesisi yang lumpuh dimana dimulai dengan ayunan

lengan rotasi gelang bahu, badan baru diikuti gerak panggul dan tungkai. Rotasi
bahu dan panggul merupakan refleks yang penting untuk mencegah pola spasti
ekstensi. Setelah pasien berguling di sisi yang lumpuh diminta bergerak ke bed
sebagai tumpuan berat badan.
Kaki saling disilangkan dan diturunkan kelantai. Saat bangun ke duduk
tersebut sambil dibantu terapis. Dengan pegangan pada lengan pasien yang sehat
dan kaki yang sakit. Bantuan terapis tersebut berupa gerakan menarik lengan
pasien. Sesudah sampai keposisi duduk, posisi tungkai harus selalu menapak
penuh. Sesudah sampai ke posisi duduk tersebut perlu diperhatikan ekspresi wajah
pasien, apakah menjadi pucat, keluar keringat dingin, keluhan rasa mual atau
muntah maupaun rasa pusing. Dicek pula terjadi peningkatan denyut nadi
melebihi 100 kali per menit atau turun melebihi 60 kali per menit dan pernapasan
menjadi cepat atau lambat, sebaiknya pasien dibaringkan kembali dan diselimuti
(Lihat gambar 4.15)

Gambar a.
bangun keduduk (johnstone, 1987)

b. Latihan aktivitas fungsional untuk keseimbangan duduk


Latihan

aktivitas

fungsional

untuk

keseimbangan

duduk

dilakukan dengan posisi pasien duduk, posisi terapis menyesuaikan posisi pasien.
Setelah pasien sampai ke posisi duduk dengan posisi kedua kaki menapak lantai
dan kedua lengan diletakkan di sisi tubuh kemudian dilatih keseimbangan dengan
pegangan terapis pada kedua bahu pasien. Pada saat itu pula dilanjutkan latihan
keseimbangan dengan pegangan terapi pada bawah leher, sedangkan posisi kedua
tangan pasien diletakkan diatas pangkuannya. Kemudian pasien digoyangkan ke
kanan kiri dan depan belakang untuk beberapa detik. Apabila pasien belum bisa
mempertahankan keseimbangannya selama 30 detik maka latihan tersebut perlu
ditingkatkan lagi ( Lihat gambar 4.16).

Gambar b. Latihan keseimbangan duduk (Johnstone, 1987)

c.Latihan aktifitas duduk ke berdiri


Latihan dimulai dari posisi duduk, kedua kaki pasien menapak sempurma
dilantai, terapis berdiri menghadap pasien. Kedua tangan pasien memegang
pinggang terapis sedangkan kedua tangan terapis memegang pada crista iliaca.
Terapis memberikan fiksasi dilutut pasien dengan menggunakan kedua lutut
terapi

d.

Teknik Memindahkan Klien Dari Tempat Tidur Ke Kursi Roda

Memindahkan klien yang tidak dapat atau tidak boleh berjalan dan dilakukan dari
tempat tidur ke kursi roda. Tujuan untuk mengurangi atau menghindarkan
pergerakan pasien sesuai dengan keadaan fisiknya., memberikan rasa nyaman
pada pasien. memenuhi kebutuhan konsultasi atau pindah ruangan. Prosedur
pelaksanaan
a. .Memberitahu pasien tentang hal yang akan dilakukan
b. Mencuci tangan
c. .Bantu pasien untuk posisi duduk di tepi tempat tidur, siapkan kursi roda
dalam posisi 45 derajat terhadap tempat tidur
d. Pastikan bahwa pasien menggunakan sepatu/sandal yang stabil dan tidak licin
e. Renggangkan kedua kaki anda.
f. Fleksikan panggul dan lutut Anda, sejajar lutut anda dengan lutut klien.
g. Genggam sabuk pemindah dari bawah atau rangkul aksila pasien dan
tempatkan tangan anda di scapula pasien.
h. Angkat pasien sampai berdiri pada hitungan ke-3 sambil meluruskan panggul
dan tungkai Anda,dengan tetap mempertahankan lutut agak fleksi.
i. Pertahankan stabilitas tungkai yang lemah atau paralisis dengan lutut.
j. Tumpukan pada kaki yang jauh dari kursi.
k. Instruksikan pasien untuk menggunakan lengan yang memegang kursi untuk
menyokong.

l. Fleksikan panggul dan lutut Anda sambil menurunkan pasien ke kursi.


m. Kaji pasien untuk kesejajaran yang tepat untuk posisi duduk.

E.Teknik Memindahkan Klien Dari Tempat Tidur Ke Brancard


Memindahkan pasien yang tidak dapat atau tidak boleh berjalan dilakukan
dari tempat tidur ke brancard. Tujuan untuk mengurangi atau menghindari
pergerakan pasien sesuai dengan keadaan fisiknya, memberi rasa aman dan
nyaman pada pasien, memenuhi kebutuhan konsultasi atau pindah ruang. Prosedur
pelaksanaan
a. Menempatkan kereta dorong sedemikian rupa sehingga membentuk sudut 90
yaitu bagian kepala brancard berada pada bagian kaki tempat tidur atau sejajar
dengan tempat tidur (bila pasien dapat menggerakkan badannya sendiri).
b. Memberitahu pasien
c. Mencuci tangan
d. Mengambil seprei atas dari atas kereta dorong dan menutupnya pada pasien.
orang yang akan mengangkat pasien berdiri di sebelah kanan pasien, berdiri
menurut tinggi yaitu paling tinggi berdiri di bagian kepala, yang terpendek
berdiri di tengah.
e. Masukkan kaki kiri masing-masing orang-orang sedikit ke muka/depan

f. Susupkan lengan-lengan orang-orang di bawah leher, punggung, bokong,


paha, kaki pasien dengan telapak tangan menghadap ke atas sampai mencapai
sisi kiri pasien, telapak tangan orang dirapatkan ke badan pasien dengan
sedikit ditekan untuk menahan agar pasien tidak lepas/jatuh.
g. orang yang berdiri di bagian kepala memberi aba-aba dan dengan serentak
pasien diangkat, dan melangkahkan kaki secara teratur dan hati-hati.
h. Meletakkan pasien secara bersama-sama dan perlahan-lahan
i. Merapikan pasien
j. Mencuci tangan

F. Membantu pasien berjalan

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, A. Azis Alimul. 2006. Keterampilan Dasar Praktik Klinik. Jakarta:
Salemba Medika.
Ulyah, Musrifatul. 2004. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: EGC.