Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tanah sudah digunakan orang sejak dahulu karena semua orang yang hidup
di permukaan bumi mengenal wujud tanah. Pengertian tanah itu sendiri
bermacam-macam, akan tetapi karena luas penyebarannya apa sebenarnya yang
dimaksud tanah, akan ditemui bermacam-macam jawaban atau bahkan orang
akan bingung untuk menjawabnya. Masing-masing jawaban akan dipengaruhi
oleh pengetahuan dan minat orang yang menjawab dalam sangkut-pautnya
dengan tanah. Mungkin pengertian tanah antara orang yang satu dengan yang lain
berbeda. Misalnya seorang ahli kimia akan memberi jawaban berlainan dengan
seorang ahli fisika, dengan demikian seorang petani akan memberi jawaban lain
dengan seorang pembuat genteng atau batubata. Pada mulanya orang
menganggap tanah sebagai medium alam bagi tumbuhnya vegetasi yang terdapat
di permukaan bumi atau bentuk organik dan anorganik yang di tumbuhi
tumbuhan, baik yang tetap maupun sementara.
Semua makhluk hidup sangat tergantung dengan tanah, sebaliknya suatu
tanah pertanian yang baik ditentukan juga oleh sejauh mana manusia itu cukup
terampil mengolahnya. Tanah merupakan sumber daya alam yang dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia. Tanah dapat
digunakan untuk medium tumbuh tanaman yang mampu menghasilkan berbagai
macam makanan dan keperluan lainnya. Maka dari berbagai macam tanah beserta
macam-macam tujuan penggunaannya itu perlu dilakukan suatu pembelajaran
lebih lanjut mengenai tanah agar kita benar-benar memahami tanah itu sendiri.
Air merupakan sumber daya alam yang cukup banyak di dunia ini, ditandai
dengan adanya lautan, sungai, danau dan lain-lain sebagainya. Tanah memegang
peranan penting dalam melakukan prespitasi air yang masuk ke dalam tanah,
selanjutnya sekitar 70% dari air yang diterima di evaporasi dan dikembalikan ke
atmosfer berupa air, dan tanah memegang peranan penting dalam refersi dan

penyimpanan. Sisanya itulah yang digunakan untuk kebutuhan tranpirasi,


evaporasi dan pertumbuhan tanaman.
Kandungan air dalam tanah dapat ditemukan dengan beberapa cara. Sering
dipakai istilah nisbi, seperti basah dan kering. Kedua-duanya adalah kisaran yang
tidak pasti tentang kandungan air dan karena itu dapat ditafsirkan bermacammacam. Walaupun penentuan kandungan air tanah didasarkan pada pengukuran
gravimetrik, tetapi jumlah air lebih mudah dinyatakan dalam hitungan volumetrik
seperti nisbah air.
Air diperlukan oleh tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya,
antara lain untuk memenuhi transpirasi dalam proses asimilasi. Reaksi kimia
dalam tanah hanya berlangsung bila terdapat air. Pelepasan unsur-unsur hara dari
mineral

primer

terutama

juga

karena

pengaruh

air,

yang

kemudian

mengangkutnya ke tempat lain (pencucian unsur hara). Sebaliknya kemampuan


air menghanyutkan unsur hara dapat pula dimanfaatkan untuk mencuci garamgaram yang berda dalam tanah.
Fungsi lain dalam tanah adalah melapukkan mineral yaitu menyiapkan hara
larut bagi pertumbuhan tanaman dan sebagai media gerak unsur-unsur hara ke
akar. Jadi air merupakan pelarut dan bersama-sama hara yang lain terlarut
membentuk larutan tanah, tetapi bila air teralalu banyak maka hara tanah akan
tercuci dan membatasi pergerakan udara dalam tanah.
Konsistensi tanah dan kesesuaian tanah untuk diolah sangat dipengaruhi oleh
kandungan air tanah. Demikian pula daya dukung tanah sangat dipengaruhi oleh
kandungan air dalam tanah. Berdasarkan uraian tersebut maka perlu
melaksanakan pengamatan penetapan Kadar Air tanah untuk mengetahui proses
dan berapa jumlah air yang dikandung oleh tanah.
Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase volume air
terhadap volume tanah. Cara penetapan kadar air dapat dilakukan dengan
sejumlah tanah basah dikering ovenkan dalam oven pada suhu 1000 C 1100 C
untuk waktu tertentu. Air yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah
air yang terkandung dalam tanah tersebut. Air irigasi yang memasuki tanah mulamula menggantikan udara yang terdapat dalam pori makro dan kemudian pori

mikro. Jumlah air yang bergerak melalui tanah berkaitan dengan ukuran pori-pori
pada tanah.
Dua fungsi yang saling berkaitan dalam penyediaan air bagi tanaman yaitu
memperoleh air dalam tanah dan pengaliran air yang disimpan ke akar-akar
tanaman. Jumlah air yang diperoleh tanah sebagian bergantung pada kemampuan
tanah yang menyerap air cepat dan meneruskan air yang diterima dipermukaan
tanah ke bawah. Akan tetapi jumlah ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar
seperti jumlah curah hujan tahunan dan sebaran hujan sepanjang tahun.

B. Tujuan
Praktikum penentuan kadar air ini bertujuan untuk menentukan nilai kadar air
pada tanah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kadar Air
Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk
kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air
menutupi hampir 71% permukaan bumi. Air diperlukan untuk kelangsungan
proses biokimiawi organisme hidup, sehingga sangat essensial(Wulan, 2011).
Sarwono Hardjowigeno (1987) berpendapat bahwa berdasarkan gaya yang
bekerja pada air tanah yaitu gaya adhesi, kohesi dan gravitasi, maka air tanah
dibedakan menjadi :
1.

Air Higroskopis
Air higraskopis adalah air yang diadsorbsi oleh tanah dengan sangat kuat,

sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Jumlahnya sangat sedikit dan merupakan
selaput tipis yang menyelimuti agregat tanah. Air ini terikat kuat pada matriks
tanah ditahan pada tegangan antara 31-10.000 atm (pF 4,0 4,7).
2.

Air Kapiler
Air kapiler merupakan air tanah yang ditahan akibat adanya gaya kohesi

dan adhesi yang lebih kuat dibandingkan gaya gravitasi. Air ini bergerak ke
samping atau ke atas karena gaya kapiler. Air kapiler ini menempati pori mikro
dan dinding pori makro, ditahan pada tegangan antara 1/3 15 atm (pF 2,52
4,20).
Menurut Kartasapoetra dan Sujedja (1991), Air kapiler dibedakan menjadi:
a.

Kapasitas lapang, yaitu air yang dapat ditahan oleh tanah setelah air

gravitasi turun semua. Kondisi kapasitas lapang terjadi jika tanah dijenuhi air
atau setelah hujan lebat tanah dibiarkan selama 48 jam, sehingga air gravitasi
sudah turun semua. Pada kondisi kapsitas lapang, tanah mengandung air yang
optimum bagi tanaman karena pori makro berisi udara sedangkan pori mikro
seluruhnya berisi air. Kandungan air pada kapasitas lapang ditahan dengan
tegangan 1/3 atm atau pada pF 2,54.

b.

Titik layu permanen, yaitu kandungan air tanah paling sedikit dan

menyebabkan tanaman tidak mampu menyerap air sehingga tanaman mulai layu
dan jika hal ini dibiarkan maka tanaman akan mati. Pada titik layu permanen, air
ditahan pada tegangan 15 atm atau pada pF 4,2. Titik layu permanen disebut juga
sebagai koefisien layu tanaman.
3.

Air Gravitasi

Air gravitasi merupakan air yang tidak dapat ditahan oleh tanah karena
mudah meresap ke bawah akibat adanya gaya gravitasi. Air gravitasi mudah
hilang dari tanah dengan membawa unsur hara seperti N, K, Ca sehingga tanah
menjadi masam dan miskin unsur hara.
Kandungan air tanah dapat ditentukan dengan beberapa cara. Sering dipakai
istilah-istilah nisbih, seperti basah dan kering. Kedua-duanya adalah kisaran yang
tidak pasti tentang kadar air sehingga istilah jenuh dan tidak jenuh dapat diartikan
yang penuh terisi dan yang menunjukkan setiap kandungan air dimana pori-pori
belum terisi penuh. Jadi, yang dimaksud dengan kadar air tanah adalah jumlah air
yang bila dipanaskan dengan oven yang bersuhu 105C hingga diperoleh berat
tanah kering yang tetap (Apriyanti, 2012).
Jumlah air yang ditahan oleh tanah dapat dinyatakan atas dasar berat dan isi.
Begitupula pada tanah Alfisol pada umunya, dasar penentuannya adalah
pengukuran kehilangan berat dari suatu contoh tanah yang lebih lembab setelah
dikeringkan pada suhu 105oC selama 24 jam. Kehilangan berat sama dengan
berat air yang terdapat dalam contoh tanah. Kadar air (0) dihitung secara
gravimetrik dengan satuan g / g, yaitu berat air yang terdapat di dalam suatu
massa tanah kering (0 = tanah lembab-berat kering oven).(Askari,2010)
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah.
Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada
tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir
umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau
liat. Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman. Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi: banyaknya
curah hujan atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya

evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi),


tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau
kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan tanah (Madjid,
2010).
B. Faktor faktor yang Mempengaruhi Kadar Air tanah
Faktor yang mempengaruhi kadar air adalah : (1) tekstur tanah.
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah.
Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada
tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir
umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau
liat. (2) Bahan organik, semakin tinggi kadar bahan organik suatu tanah semakin
tinggi pula kadar dan ketersediaan airnya (3) Senyawa kimia, semakin banyak
senyawa kimia semakin rendah kadar air tanah, (4) Kedalaman solum, semakin
dalam kedalaman solum suatu tanah maka semakin besar kadar airnya, (5) Iklim,
faktor iklim meliputi curah hujan suhu dan air (6) Tanaman, faktor tanaman dapat
meliputi kedalaman perakaran toleransi terhadap kekeringan serta tingkat dan
stadium pertumbuhan yang pada prinsipnya terkait dengan kebutuhan air
tanaman. (7) Struktur tanah, apabila struktur tanahnya berbentuk remah, granuler
maka kemampuan menahan airnya lebih besar karena struktur tanah tersebut
tidak mudah rusak sehingga pori-pori tanah tidak cepat tertutup apabila terjadi
hujan (Hakim, 1986).
Faktor-faktor yang mempemgaruhi kadar air yaitu evaporasi, tekstur tanah
serta bahan organik. Tanah yang berlempung misalnya mempunyai kandungan
air yang labih banyak dibandingkan tanah berpasir. Gerakan air dalam tanah akan
mempengaruhi keberadaan air disuatu tempat, gerak kapiler pada tanah basah
akan lebih cepat daripada gerakan keatas maupun kesamping (Mulyani, 1991).

BAB III
METODELOGI

A. Tempat dan Waktu


Praktikum penentuan kadar air tanah ini dilaksanakan setiap hari rabu
pukul 14.30 16.00, bertempat di Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas
Pertanian, Universitas Sriwijaya, Indralaya.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah 1) cawan (5), 2) neraca
analitik, 3) sendok, 4) nampan, 5) penjepit cawan, 6) oven, 7) desikator.
Bahan yang digunakan pada praktikum kadar air ini adalah sampel tanah
terganggu.
C. Cara Kerja
1. Beri label dibagian bawah cawan pada masing-masing cawan. (S1 sampai S5)
2. Masukkan cawan kosong ke dalam oven selama 1 jam pada suhu oven 103
2 oC.
3. Setelah dioven selama 1 jam cawan tersebut didinginkan dalam desikator
yang telah diisi dengan biji desikator selama 15 menit, memindahkan cawan
kedalam desikator harus dengan menggunakan penjepit cawan, ini bertujuan
untuk menjaga cawan agar tetap bersih, dan tidak terkontaminasi.
4. Timbang cawan dengan timbangan analitik. Catat berat cawan. Pastikan
timbangan digital dikalibrasi pada angka 0 g.
5. Timbang sample tanah terganggu kurang lebih 3 Timbang cawan dan sampel
dengan menggunakan neraca analitik.
6. Masukkan masing-masing cawan yang berisi sampel tanah kedalam oven
pada suhu 103 2 oC 24 jam.
7. Setelah 24 jam keluarkan cawan dari oven dengan menggunakan penjepit
masukkan kedalam desikator selama 15 menit.
8. Timbang lagi masing-masing cawan.
9. Masukkan ke oven lagi sebanyak 3x atau sampai mencapai berat konstan,
catat hasilnya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Nama

Berat

BTB(gr)

BTK 1

BTK 2

BTK 3

Rata-rata

Sampel

Cawan(gr)

S1

5,5450 gr

3 gr

6,7087 gr

6,7011 gr

6,6867 gr

6,69883

S2

5,5760 gr

3 gr

7,6494 gr

7,6342 gr

7,6324 gr

7,63667

S3

5,6614 gr

3 gr

6,7195 gr

6,7011 gr

6,6961 gr

6,70557

BTK

Perhitungan :

KA ( basis basah) =

x 100%

( basis basah) =
=

x 100%

x 100%

= 61,539%
( basis basah) =
=

x 100%

x 100%

= 31,311%
( basis basah) =
=

x 100%

x 100%

= 65,194%
B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan praktikum yang bertujuan untuk menentukan
nilai kadar air pada tanah. Pada praktikum kali ini digunakan tiga sampel tanah
terganggu yang diambil dari tiga titik yang berbeda. Sebelum dilakukan praktikum

cawan diberi label terlebih dahulu agar memudahkan kita untuk mengenali masingmasing sampel tanah. Setelah itu cawan cawan tersebut dimasukan dalam oven
selama 1 jam. Kemudian cawan di masukkan dalam desikator selama 15 menit
cawan dipindahkan dari oven ke desikator menggunakan penjepit cawan, dengan
tujuan suapaya cawan tersebut tidak terkontaminasi. Setelah itu, cawan-cawan
tersebut di timbang guna mendapatkan berat cawannya. Kemudian masukkan sampel
tanah terganggu kedalam cawan sebanyak 3gr, cawan yang telah berisi sampelsampel tanah tersebut dimasukkan kedalam oven selama 24 jam. Lalu dimasukkan
kedalam desikator selama 15 menit. Disini desikator berfungsi sebagai penyerap uap
panas pada cawan yang telah dioven dan juga sebagai sterillisasi. Setelah keluar dari
desikator, timbang masing-masing cawan dengan menggunakan timbangan digital
analitik yang ada di laboratorium. Lalu masukkan lagi kedalam oven, sehingga
didapat berat terakhir dimana berat tidak akan berubah kembali atau sampai
mencapai berat konstan.
Berdasarkan percobaan kita dapat mengetahui berat tanah basah, berat tanah
kering dan berat rata-rata kering ketiga sampel tanah yang diamati. Berat tanah basah
masimg-masing samel adalah sama yaitu 3 gr. Selam dilakukan pengamatan berat
kering ketiga sampel selalu turun setiap dihitung beratnya. Pada sampel S2 memiliki
nilai rata-rata kering yang tinggi yaitu 7,63667. Setelah kita tahu berat kering ratarata masing-masing sampel baru kita hitung kadar air masing-masing tanah. Setelah
dilakukan perhitungan kadar air pada sampel ke-3 memiliki persentase kadar air yang
tinggi yaitu 65,194%. Sedangkan sampel ke-1 memiliki kadar air 61,539% dan
sampel ke-2 memiliki kadar air 31,311%. Hal ini berbanding terbalik dengan berat
rata-rata kering tanah.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Kadar air tanah adalah perbandingan antara berat air yang terkandung dalam
tanah dengan berat tanah kering setelah di oven.
2. Oven yang digunakan berfungsi sebagai alat pengering tanah dan digunakan
suhu untuk pengeringan yaitu 103 2 oC.
3. Desikator berfungsi sebagai alat penyerap uap panas pada cawan dan tanah
setelah dilakukan pengeringan didalam oven, didalam desikator selama 15
menit.
4. Penjepit cawan berfungsi untuk memindahkan cawan suapaya cawan tidak
terkontaminasi.
5. Hasil perhitungan menunjukan bahwa berat kering rata-rata berbanding
terbalik dengan besar kadar air tanah.
6. Pada sampel ke-3 memiliki nilai persentase kadar air terbesar.

B. Saran
Saran saya untuk praktikum ini yaitu semoga dalam kegiatan praktikum
selanjutnya, para praktikan untuk lebih memperhatikan penyampaian materi
pada saat praktikum sedang berlangsung.

10

DAFTAR PUSTAKA

Apriyanti,

Mety.

2012.

Penetapan

Kadar

Air

Tanah.

(online:http://mety-

apriyanti.blogspot.com/2012/05/penetapan-kadar-air-tanah.html).

Diakses

tanggal 27 Oktober 2014.


Askari, Wahyu. 2010. (online:http://wahyuaskari.wordpress.com/literatur/kadar-airtanah/). Diakses 27 oktober 2014.
Hakim N., M.Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S.G. Nugroho, H.M. Soul, M.A. Diha, Go
Bang Hong, H.H. Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasam
Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur: Ujung Pandang.
Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo : Jakarta
Mulyani, M. 1991. Pengantar Ilmu Tanah. Rineka Cipta: Jakarta
Wulan,

2011.

Penetapan

Kadar

Air

Metode

Oven

Pengering.(online:http://wulaniriky.wordpress.com/2011/01/19/penetapankadar-air-metode-oven-pengering-aa/,). Diakses tanggal 27 Oktober 2014.

11

LAMPIRAN

Penimbangan berat cawan pada neraca analitik

Proses pemasukan dalam oven dan pengovenan

12

13