Anda di halaman 1dari 12

A.

Pengertian Reksa Dana


Reksa dana merupakan salah satu alternative investasi bagi masyarakat investor,
khususnya investor kecil dan investor yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian
untuk menghitung risiko atas investasi mereka.
Reksa dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang
memiliki modal dan keinginan melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan
pengetahuan yang terbatas. Selain itu, reksa dana juga dapat diharapkan dapat
meningkatkan peran investor lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.
Menurut Undang Undang Pasar Modal no 8 tahun 1995, pasal 1 ayat 27,
reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat
Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi
yang telah mendapat ijin dari Bapepam.
Reksadana berbentuk KIK adalah kontrak yang dibuat antara Manajer Investasi dan
Bank Kustodian yang juga mengikat pemegang Unit Penyertaan sebagai investor.
Melalui kontrak ini Manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio
kolktif dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan dan
administrasi investasi kolektif.
Reksadana menjadi pilihan investasi yang sangat menarik, karena reksadana saat ini
sedang didukung oleh pemerintah untuk diperkenalkan ke masyarakat luas. Karenanya,
pemerintah membebaskan biaya pajak bagi reksadana yang menanamkan modalnya di
obligasi. Kelebihan inilah yang membuatnya mempunyai rate of return yang tinggi
(khusus reksadana terbuka). Berinvestasi di reksadana juga terjamin karena pemerintah
melalui Bank Kustodian melindungi dana masyarakat yang berhasil dihimpun dalam
reksadana.
B. Karakteristik Reksa Dana
Setelah penjelasan tentang definisi dan manfaat dari reksa dana sebelumnya, maka
perjalanan awal untuk lebih mengenal tentang Reksa Dana disajikan sebagai berikut:
1. Pengelola
Reksa dana dikelola oleh dua pihak, yakni manajer investasi dan bank kustodian.
Menurut Prospektus Reksa Dana (2003, pp1-2) dijelaskan pengertian manajer investasi
dan bank kustodian. Manajer investasi adalah perusahaan dan bukan perorangan, yang
kegiatan usahanya mengelola portofolio efek milik nasabah. Dengan kata lain, manajer
investasi bertanggung jawab atas kegiatan investasi, yang meliputi analisa dan pemilihan
jenis investasi, dan melakukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan untuk kepentingan
investor. Sementara bank kustodian bertindak sebagai penyimpan kekayaan. Bank
kustodian selain sebagai asset deposit box, juga bertanggung jawab melakukan
administrasi investasi yang meliputi penyelesaian transaksi (settlement) dengan brooker

atau bank, registrasi dan pendaftaran efek, corporate action yang berkaitan dengan
dividen, interest, right issue dan bonus perhitungan kenaikan aset dan pelaporan
(reporting). Jadi dana dan kekayaan (surat- surat berharga) yang dimiliki oleh reksa
dana adalah milik para investor dan disimpan atas nama reksa dana di bank kustodian.
2. Bentuk Hukum
Sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia, terdapat dua bentuk hukum reksa
dana, yakni reksa dana berbentuk Perseroan Terbatas (PT Reksa Dana) dan reksa dana
berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (reksa dana KIK). PT Reksa Dana akan
menerbitkan saham yang dapat dibeli oleh investor. Sementara reksa dana KIK tidak
menerbitkan saham, tetapi menerbitkan unit penyertaan. Dengan memiliki unit
penyertaan reksa dana KIK, investor juga mempunyai kepemilikan atas kekayaan bersih
reksa dana KIK tersebut.
Selain perbedaan dalam bentuk hukum, dari sifat operasionalnya, reksa dana juga
dibedakan antara reksa dana terbuka (open-end) dan reksa dana tertutup (closed- end).
Pada reksa dana terbuka, jual beli saham atau unit penyertaan reksa dana dilakukan
antara

reksa

dana

(manajer

investasi) dengan

investor, tanpa

melalui bursa.

Sedangkan pada reksa dana tertutup, jual beli saham kepada pemodal adalah melalui
penawaran umum perdana yang dicatatkan di pasar modal. Selanjutnya pemodal hanya
dapat menjual saham atau unit penyertaan kepada pemodal lain pada pasar sekunder
(secondary market) di pasar modal dan bukan kepada perusahaan penerbit reksa dana.
Reksa dana berbentuk perseroan dapat beroperasi secara terbuka maupun tertutup,
sementara reksa dana berbentuk KIK hanya dapat beroperasi secara terbuka. Dalam
skripsi ini, pembahasan dan penelitian dibatasi pada reksa dana terbuka.
3. Penempatan Investasi, Bukti Kepemilikan dan Hasil Investasi
Investasi pada reksa dana adalah dengan membeli saham atau unit penyertaan yang
dikeluarkan oleh reksa dana. Unit penyertaan dapat dianalogikan seperti satuan saham
perusahaan. Harga per unit penyertaan dihitung berdasarkan Nilai Aktiva Bersih atau
NAB/unit penyertaan yang dikeluarkan oleh bank kustodian setiap hari dan diumumkan
di surat kabar harian.
Sebagai bukti kepemilikan atas unit penyertaan, bank kustodian akan mengirimkan surat
konfirmasi kepemilikan unit penyertaan. Beberapa reksa dana tidak mengirimkan surat
konfirmasi, tetapi menerbitkan laporan bulanan yang juga berfungsi sebagai bukti
kepemilikan unit penyertaan.
Hasil investasi pada reksa dana dilihat dari perubahan harga pada saat kita membeli dan
pada saat kita menjual. Harga itu sendiri bergantung pada Nilai Aktiva Bersih per unit
penyertaan pada saat itu.

4. Biaya dan Pajak Reksa Dana


Investor reksa dana (khususnya reksa dana terbuka) perlu memperhatikan biaya- biaya
yang dibebankan baik secara langsung maupun tidak langsung. Biaya yang secara
langsung dibebankan kepada investor umumnya hanya berbentuk biaya pembelian
(selling fee) yang dibebankan pada saat pembelian unit penyertaan dan biaya penjualan
kembali (redemption fee) yang dibebankan pada saat investor menjual kembali unit
penyertaannya.
Biaya yang tidak langsung yang dibebankan kepada investor meliputi biaya manajer
investasi, biaya bank kustodian, biaya transaksi, biaya auditor, biaya pajak dan lainya
yang berkenaan langsung dengan pengelolaan investasi. Biaya ini dikatakan tidak
langsung karena tidak langsung dibebankan kepada investor. Perhitungan pengenaan
biaya-biaya ini dilakukan pada saat perhitungan NAB per unit, sehingga hasil investasi
yang diketahui oleh investor melalui perubahan NAB per unit sudah merupakan hasil
bersih setelah dikurangi biaya-biaya tersebut di atas.
Hasil investasi yang diperoleh investor dari reksa dana bukanlah objek pajak. Hal ini
disebabkan hasil investasi sudah dikenakan pajak di tingkat reksa dana, sehingga jika
investor masih harus dikenakan pajak pada saat menerima keuntungan akan terjadi
pembayaran pajak berganda. Selain itu, hal yang menarik dari sisi perpajakan reksa dana
adalah dibebaskannya pajak atas bunga kupon obligasi yang diterima reksa dana.
Pasar Uang
Relatif lebih aman dibandingkan jenis reksa dana lainnya.
Bersifat likuid atau mudah dicairkan.
Investasi jangka pendek.
Mempunyai potensi keuntungan sedikit lebih tinggi dari deposito.
Pendapatan Tetap
Mempunyai potensi keuntungan lebih tinggi dari reksa dana pasar uang.
Investasi jangka menengah.
Campuran
Mempunyai potensi keuntungan yang cukup tinggi.
Investasi jangka menengah sampai panjang.
Saham
Mempunyai potensi keuntungan paling tinggi, namun mempunyai risiko yang lebih
tinggi reksa dana lainnya.
Investasi jangka panjang.
Terproteksi
Perlindungan 100% pada nilai pokok investasi, jika dicairkan sesuai dengan jangka
waktu yang ditentukan.
Mempunyai potensi keuntungan sebesar tingkat bunga portfolio obligasi.

C. Manfaat atau Keuntungan Reksa Dana Bagi Investor


Manfaat yang diperoleh investor jika melakukan investasi dalam reksa dana antara lain :
- Investor, walaupun tidak memiliki dana yang cukup besar, dapat melakukan
-

diversifikasi investasi dalam efek, sehingga dapat memperkecil risiko.


Reksa dana mempermudah investor untuk melakukan investasi di pasar modal.
Efisiensi waktu. Dengan melakukan investasi pada reksa dana yang dikelola oleh
manajer investasi professional, investor tidak perlu repot repot memantau kinerja
investai karena kegiatannya tersebut telah dialihkan kepada manajer investasi.

D. Risiko Reksa Dana Bagi Investor


Reksa Dana dapat memberikan keuntungan bagi Investor apabila portfolio efek yang
dikelola oleh Investasi memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan, namun jika
portfolio efek tersebut mengalami kerugian maka Reksa Dana juga bisa mengalami
kerugian. Seperti halnya wahana investasi lain, di samping mendatangkan berbagai
peluang keuntungan, reksa dana pun mengandung berbagai peluang risiko, antara lain :
- Risiko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan
- Risiko Likuiditas
- Risiko Wanprestasi (Gagal Bayar)
E. Jenis Jenis Reksa Dana
Menurut peraturan Bapepam, reksadana di Indonesia dibagi menjadi 4 kategori,
yakni reksadana Pasar Uang, reksadana Pendapatan Tetap, reksadana Saham, dan reksadana
Campuran. Pengkategorian jenis reksadana ini memang berdasarkan kategori instrumen di
mana reksadana melakukan investasi.
1. Reksa Dana Pasar Uang
Reksadana Pasar Uang didefinisikan sebagai reksadana yang melakukan
investasi 100% pada efek Pasar Uang. Efek pasar uang sendiri didefinisikan
sebagai efek efek hutang yang berjangka kurang dari 1 tahun. Secara umum,
instrumen atau efek yang masuk dalam kategori ini meliputi deposito, SBI,
obligasi serta efek hutang lainnya degan jatuh tempo kurang dari 1 tahun.
Reksadana Pasar Uang merupakan reksadana dengan tingkat risiko paling
rendah. Di lain pihak, potensi keuntungan reksadana ini juga terbatas. Hasil
investasi reksadana Pasar Uang umumnya sangat mirip dengan tingkat suku
bunga deposito, karena hampir sebagian besar portofolio investasi reksadana
Pasar Uang terdiri dari deposito.
Reksadana Pasar Uang sangat cocok untuk investasi jangka pendek (kurang dari
1 tahun). Tujuan investasi reksadana Pasar Uang umumnya untuk perlindungan

kapital dan untuk menyediakan likuiditas yang tinggi, sehingga jika dibutuhkan
kita dapat mencairkannya setiap hari kerja dengan risiko penurunan nilai
investasi yang hampir tidak ada.
2. Reksa Dana Pendapatan Tetap
Reksadana Pendapatan Tetap adalah reksadana yang melakukan investasi
sekurang kurangnya 80% dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek
bersifat hutang. Efek bersifat hutang umumnya memberikan penghasilan dalam
bentuk bunga, seperti deposito, SBI, obligasi dan instrumen lainnya. Umumnya
reksadana Pendapatan Tetap di Indonesia memanfaatkan instrumen obligasi
sebagai bagian terbesar investasinya.
Reksadana Pendapatan Tetap memiliki karakteristik potensi hasil investasi yang
lebih besar dari reksadana Pasar Uang, sementara risiko reksadana Pendapatan
Tetap juga lebih besar dari reksadana Pasar Uang. Hasil investasi yang lebih
besar ini umumnya dihasilkan dari obligasi yang secara teoritis memberikan
hasil yang lebih tinggi daripada deposito.
Reksadana cocok untuk tujuan investasi jangka menengah dan panjang (>3
tahun) dengan risiko menengah. Sebagian besar reksadana Pendapatan Tetap
yang ada pada saat ini berorientasi pada obligasi. Namun, sejak terjadinya krisi,
di mana harga harga obligasi turun tajam dan beberapa obligasi mengalami
kegagalan memenuhi kewajibannya, ada beberapa reksadana Pendapatan
Tetapyang lebih berorientasi pada pasar uang. Karena itu, investor juga perlu
memperhatikan sebelum berinvestasi, untuk lebih kritis memeriksa komposisi
portofolio reksadana yang akan dibelinya.
3. Reksa Dana Saham
Reksadana saham adalah reksadana yang melakukan investasi sekurang
kurangnya 80% dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek bersifat ekuitas
(saham). Berbeda dengan efek pendapatan tetap seperti deposito dan obligasi, di
mana investor lebih berorientasi pada pendapatan bunga, efek saham umumnya
memberikan potensi hasil yang lebih tinggi berupa capital gain melalui
pertumbuhan harga harga saham. Selain hasil dari capital gain, efek saham
juga memberikan hasil lain berupa dividen.

Dibandingkan dengan reksadana Pasar Uang dan reksadana Pendapatan Tetap,


reksadana Saham memberikan potensi pertumbuhan nilai investasi yang lebih
besar, demikian juga risikonya.
Reksadana saham merupakan investasi

pada perusahaan perusahaan yang

dalam jangka panjang (>10 tahun) akan memberikan hasil investasi yang lebih
besar daripada deposito maupun obligasi. Namun dalam jangka pendek terdapat
risiko karena harga harga saham yang selalu berfluktuasi.
4. Reksa Dana Campuran
Tidak seperti reksadana Pasar Uang, reksadana Pendapatan Tetap dan reksadana
Saham yang mempunyai batasan alokasi investasi yang boleh dilakukan, reksadana
Campuran dapat melakukan investasinya baik pada efek hutang maupun ekuitas dan porsi
alokasi yang lebih fleksibel. Secara definisi reksadana Campuran adalah reksadana yang
melakukan investasi dalam efek ekuitas dan efek hutang yang perbandingannya (alokasi)
tidak termasuk dalam kategori reksadana Pendapatan Tetap dan reksadana Saham. Jadi,
reksadana

yang tidak dapat dikategorikan ke dalam reksadana Pasar Uang, reksadana

Pendapatan Tetap dan reksadana Saham akan masuk kategori jenis reksadana Campuran.
Potensi hasil dan risiko reksadana Campuran secara teoritis dapat berada di
tengah tengah antara reksadana Pendapatan Tetap dan reksadana Saham, sehingga
investor yang kurang berani menerima risiko yang terlalu besar namun ingin memperoleh
hasil yang sedikit lebih besar dapat memilih reksadana Campuran sebagai alternatif
terhadap reksadana Saham.
Melihat fleksibilitas baik dalam pemilihan jenis investasinya (saham, obligasi,
deposito, atau efek lainnya) serta komposisi alokasinya, reksadana campuran dapat
berorientasi ke saham, ke obligasi, atau bahkan ke pasar uang. Dari sisi pengelolaan
investasi, fleksibilitas ini dapat dimanfaatkan untuk berpindah pindah dari saham ke
obligasi, atau deposito, atau sebaliknya tergantung pada kondisi pasar dengan melakukan
aktivitas trading, atau sering juga disebut usaha melakukan market timing. Market timing
memang merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan hasil investasi dan / atau
menurunkan risiko.
F. Reksa Dana Terproteksi, Reksa Dana Penjaminan, Reksa Dana Indeks
G. Reksa Dana di Pasar Modal Indonesia
H. NAB / Unit Penyertaan
NAB / Unit merupakan harga beli per Unit Penyertaan yang harus kita bayar, jika
kita ingin berinvestasi dengan membeli Unit Penyertaan Reksadana. Ia juga sekaligus

menjadi harga jual per Unit Penyertaan jika kita ingin mencairkan investasi kita,
dengan menjual Unit Penyertaan reksadana yang kita miliki.
Perubahan NAB / Unit memberikan indikator kinerja investasi suatu reksadana.
Karena reksadana merupakan suatu portofolio investasi yang terdiri dari berbagai macam
investasi pada surat berharga (efek), seperti saham, obligasi, deposito dan efek lainnya
maka naik turunnya NAB / Unit reksadana dipengaruhi oleh nilai pasar dari masing
masing efek yang dimiliki oleh reksadana tersebut.
I. Perbedaan antara Membeli Saham secara Langsung dengan Membeli Reksa Dana
Saham
J. Pengelola Reksa Dana
K. Hal Hal yang Perlu diperhatikan dalam Reksa Dana
1. Reksa Dana bukan merupakan produk bank, sehingga tidak dijamin oleh bank, serta
tidak termasuk dalam cakupan objek program penjaminan pemerintah atau penjaminan
simpanan.
2. Semakin tinggi potensi keuntungan yang dapat Anda raih, semakin besar pula risiko
hilangnya nilai investasi Anda.
3. Pastikan memperoleh Bukti Kepemilikan Unit Penyertaan.
4. Pastikan memiliki hak untuk menjual kembali sebagian atau seluruh Unit
Penyertaannya, kepada Manajer Investasi.
5. Dapatkan laporan posisi Nilai Aktiva Bersih dari Unit Penyertaan dan laporan tahunan
posisi penyertaan serta pembaharuan prospektus.
6. Ketahui dan pahami rencana investasi portfolio yang akan ditanam dari produk Reksa
Dana baik potensi hasil dan risiko dengan membaca prospektus secara cermat.
7. Pahami tujuan rencana keuangan pribadi dan pemilihan produk sesuai dengan profil
risiko.
8. Tetap menyediakan dana yang cukup dan menabung secara teratur untuk
mengantisipasi
timbulnya risiko investasi.
9. Pilih jangka waktu investasi yang sesuai dengan rencana keuangan Anda dan jangan
mudah terpengaruh pendapat orang lain, serta berpikir dan bertindak realistis dalam
berinvestasi.
L. Kewajiban Manajer Investasi
M.

Larangan bagi Manajer Investasi

N. Kewajiban Bank Kustodian


O. Mekanisme Kegiatan Reksa Dana Berbentuk Perseroan
Reksadana dikelola oleh 2 pihak, yakni Manajer Investasi dan Bank Kustodian.
Manajer investasi bertanggung jawab atas kegiatan investasi, yang meliputi analisis dan

pemilihan jenis investasi, mengambil keputusan keputusan investasi, memonitor


pasar investasi dan melakukan tindakan tindakan

yang dibutuhkan untuk

kepentingan investor. Sementara Bank Kustodian bertindak sebagai penyimpan


kekayaan (safe keeper) serta administrator reksadana. Dana yang terkumpul dari sekian
banyak investor melalui reksadana bukan merupakan bagian dari kekayaan Manajer
Investasi dan Bank Kustodian, sehingga tidak termasuk dalam neraca keuangan, baik
Manajer Investasi maupun Bank Kustodian. Dana dan kekayaan (surat surat berharga)
yang dimiliki oleh reksadana adalah milik para investor dan disimpan atas nama
reksadana di Bank Kustodian.
Manajer Investasi adalah perusahaan, bukan perorangan, yang kegiatan usahanya
mengelola portofolio efek milik nasabah. Untuk dapat melakukan kegiatan usahanya,
Perusahan Manajer Investasi harus memperoleh ijin dari Bapepam untuk melakukan
kegiatan sebagai Manajer Investasi.
Sedangkan Bank Kustodian adalah bagian dari kegiatan usaha suatu bank dalam bidang
penyimpanan surat berharga serta administrasinya. Sama halnya seperti Manajer
Investasi, bank yang akan melakukan kegiatan harus memperoleh ijin dari Bapepam.
Dalam pengelolaan suatu reksadana, Manajer Investasi dan Bank Kustodian tidak
diperkenankan terafiliasi, guna menjaga independensi dari masing masing pihak.
Kewajiban dan tanggung jawab Manajer Investasi serta Bank Kustodian secara rinci
dicantumkan dalam dokumen kontrak kerjasama antar keduanya.
Mekanisme kerjanya dapat diilustrasikan pada gambar berikut ini :

Gambar 2.2 Mekanisme Kerja Reksadana di Indonesia


Sumber : Reksadana : Solusi Perencanaan Investasi di Masa Modern, p43
1. Permohonan pembelian (investasi) atau penjualan kembali (pencairan) Unit Penyertaan
2. Penyetoran Dana pembelian unit penyertaan atau pembayaran hasil penjualan kembali
3. Perintah transaksi investasi

4. Eksekusi transaksi investasi


5. Konfirmasi transaksi
6. Perintah penyelesaian transaksi
7. Penyelesaian transaksi dan penyimpanan harta
8. Informasi Nilai Aktiva Bersih / Unit secara harian melalui media massa
9. Laporan valuasi harian dan bulann
10. Laporan Bulanan kepada Bapepam
P. Tips Memilih Reksa Dana yang Tepat
Reksa dana sebagai salah satu alternatif produk investasi sudah semakin dikenal oleh
masyarakat, khususnya para nasabah perbankan. Kendati telah mengalami beberapa kali
pasang surut, hal ini tidak membuat industri reksa dana menjadi surut melainkan tetap
tumbuh dan semakin berkualitas dengan pondasi berupa pemahaman produk yang lebih
baik.
Bagi masyarakat atau investor pemula, sebagai gambaran reksa dana adalah sebuah
produk investasi yang menjembatani keinginan investor yang ingin berinvestasi pada
instrumen pasar modal, seperti saham dan obligasi, namun mereka mempunyai kendala,
seperti : kendala dalam hal ilmu / informasi pasar modal ; kendala dalam jumlah nominal
investasi ; kendala waktu untuk memonitor transaksi / portofolio.
Atas dasar beberapa kendala diatas, maka lahirlah reksa dana dimana para investor
ritel bisa berinvestasi dengan dana yang terjangkau di pasar modal melalui produk reksa
dana yang dikelola oleh Manajer Investasi profesional.
Reksa dana yang umum dikenal saat ini berbentuk Kontrak Investasi Kolektif, yakni
kontrak antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang mengikat pemegang Unit
Penyertaan, dimana Manajer Investai diberi wewenang untuk mengelola portofolio
investasi dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan kolektif.
Industri reksa dana di Indonesia sempat terpuruk pada sekitar bulan September 2005
dimana banyak investor saat itu yang mengalami kerugian investasi, namun bila ditelaah
lebih jauh, kejadian seperti tahun 2005 lalu sudah bisa dibenahi agar tidak terulang lagi
dikemudian hari.
Pemicu utama pada saat itu antara lain karena : Pertama, industri reksa dana yang
mempunyai total dana kelolaan sekitar Rp. 113 triliun sangat dominan pada jenis Reksa
Dana Pendapatan Tetap ; Kedua, Pemahaman yang keliru bahwa Reksa Dana Pendapatan

Tetap sama / mirip dengan Deposito ; Ketiga, Penerapan valuasi obligasi marked to
market belum berjalan dengan baik.
Saat ini industri reksa dana sudah pulih kembali dengan total dana kelolaan per
Desember 2009 sekitar Rp 113 triliun namun dengan komposisi yang lebih tersebar,
dengan terbesar pada reksa dana saham 32%, reksa dana terproteksi 31%, reksa dana
pendapatan tetap 16%, selanjutnya reksa dana campuran dan pasar uang.
Belajar dari naik turunnya industri reksa dana, maka bagi investor yang ingin sukses
berinvestasi di reksa dana juga diperlukan beberapa kiat yang harus dicermati dalam
memilih produk reksa dana, antara lain sebagai berikut :
1. Sesuaikan dengan Profil Risiko Anda
Seperti kita ketahui investasi pada reksa dana selain menjanjikan imbal hasil yang
menarik, juga mempunyai risiko investasi, karena itu investor agar memilih produk yang
sesuai dengan profil risikonya. Misalnya, bagi investor pemula yang konservatif bisa
mencoba di jenis Reksa Dana Pasar Uang dan Reksa Dana Terproteksi sementara bagi
investor yang mengerti dan berpengalaman bisa memilih jenis Reksa Dana Saham yang
menjanjikan imbal hasil yang sangat menarik walaupun dengan tingkat risiko yang lebih
tinggi.
2. Cek mengenai keabsahan / perizinan dari Bapepam LK
Untuk memastikan Anda tidak membeli produk fiktif : agar mencek izin Manajer
Investasi serta Petugas Penjualnya (WAPERD) ; izin Produk Reksa Dananya ; dan bila
Anda membeli lewat Bank - Agen Penjual, cek juga izinnya (APERD), tidak semua bank
di Indonesia mempunyai izin Agen Penjual Reksa Dana.
3. Cek Rekam Jejak Pengelolanya Manajer Investasi
Disamping untuk mengetahui kinerja para manajer investasi dalam meracik dan
mengemas produk reksa dana juga untuk mengetahui apakah para pengelola investasi
tersebut mempunyai kredibilitas yang baik, dan tidak pernah terkait dengan tindakan
kejahatan atau penyelewengan dibidang keuangan.
4. Cek Kinerja Produknya
Secara umum, sebaiknya kita memilih produk yang sudah mempunyai catatan kinerja
yang baik dalam beberapa periode kebelakang. Jangan lupa membandingkan kinerja reksa
dana dengan kinerja tolak ukurnya, misal : kinerja Reksa Dana Pasar Uang biasanya
dibandingkan dengan tingkat deposito satu bulan; sementara kinerja Reksa Dana Saham
dibandingkan dengan kinerja IHSG. Namun tetap diingat bahwa kinerja produk masa lalu
bukan merupakan jaminan kinerja masa datang.
5. Cek Dokumen Produk dan Laporan
Sebelum membeli reksa dana, investor wajib membaca dan memahami prospektus
reksa dana serta minta infomasi lainnya seperti Kinerja Produk Bulanan (Fund Fact
Sheets). Setelah membeli reksa dana, investor akan mendapatkan konfirmasi transaksi dari
10

Bank Kustodian untuk memastikan bahwa transaksi / investasi anda telah benar-benar
tercatat. Investor juga bisa memonitor kinerja produknya dari Laporan Bulanan maupun
informasi harga NABnya di media massa.

DAFTAR PUSTAKA
Ang, Robert. 1997. Buku Pintar Pasar Modal Indonesia.. Edisi Pertama. Jakarta : Mediasoft
Indonesia.
11

Anoraga, Pandji. 2001. Pengantar Pasar Modal. Edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta.
Darmadji, Tjiptono. 2006. Pasar Modal di Indonesia : Pendekatan Tanya Jawab. Edisi
Kedua. Jakarta : Salemba Empat.
Sartono, Agus. 2010. Manajemen Keuangan : Teori dan Aplikasi. Edisi Keempat.
Yogyakarta : BPFE.
Widoatmodjo, Sawidji. 2009. Pasar Modal Indonesia Pengantar & Studi Kasus. Ghalia
Indonesia: Bogor Selatan

12

Anda mungkin juga menyukai