Anda di halaman 1dari 3

Kisi kisi

Penentuan aktivitas enzim


Pengaruh inhibitor terhadap aktivitas enzim saliva
Menjelaskan tahapan isolasi dna dan fungsi penambahan

Rangkuman

Rumus penentuan enzim


[(

)]

Pengaruh inhibitor terhadap enzim saliva


Untuk mengetahui pengaruh inhibitor terhadap aktivitas enzim saliva, dilakukan
dengan mencampurkan larutan saliva dengan larutan inhibitor ( toluena, kloroform, HgCl2
1%, fenol, NaF dan H2O ). Masing- masing campuran tersebut kemudian ditambahkan
larutan tepung 1% kemudian dinkubasi selama 15 menit dengan suhu inkubasi 38C.
Uji benedict dilakukan untuk mengidentifikasi adanya gula pereduksi pada larutan.
Hal ini ditandai dengan banyaknya jumlah endapan yang dihasilkan pada proses hidrolisis
amilum menjadi maltosa dan glukosa. Semakin sedikit endapan yang terbentuk menunjukan
bahwa inhibitor yang ditambahkan semakin baik dan bekerja secara efektif karena
menghambat proses hidrolisis amilum.
Sedangkan uji iodium dilakukan untuk menguji adanya amilum pada larutan. Hasil
positif ditandai terbentuknya warna biru pada larutan. Hasil positif adanya amilum
menunjukan bahwa inhibitor yang ditambahkan bekerja secara efektif pada karena
menghambat proses hidrolisis amilum menjadi maltosa dan glukosa
DNA
Teori
DNA (Deoxyribose Nucleic Acid) adalah master molecul (molekul utama) yang mengkode
semua informasi yang dibutuhkan untuk proses metabolisme dalam setiap organisme
(Jamilah, 2005). DNA ini tersusun atas 3 komponen utama yaitu gula deoksiribosa, basa
nitrogen dan fosfat yang tergabung membentuk nukleotida (Istanti, 1999). Molekul DNA ini
terikat membentuk kromosom, dan ditemukan di nukleus, mitokondria dan kloroplas. DNA
yang menyusun kromosom ini merupakan nukleotida rangkap yang tersusun heliks ganda
(double helix), dimana basa nitrogen dan kedua benang polinukleotida saling berpasangan
dalam pasangan yang tetap melalui ikatan hidrogen dan antara nukleotida yang satu dengan
nukleotida yang lain dihubungkan dengan ikatan fosfat. DNA terdapat di dalam setiap sel
makhluk hidup dan disebut sebagai cetak biru kehidupan karena molekul ini berperan
penting sebagai pembawa informasi hereditas yang menentukan struktur protein dan proses
metabolisme lain (Jamilah, 2005).
DNA dapat mengalami denaturasi dan renaturasi. Selain itu DNA juga bisa diisolasi. Zubaidah
(2004) dalam Jamilah (2005) menyatakan bahwa isolasi DNA dapat dilakukan melauli

tahapan-tahapan antara lain: preparasi esktrak sel, pemurnian DNA dari ekstrak sel dan
presipitasi DNA. Meskipun isolasi DNA dapat dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi
pada setiap jenis atau bagian tanaman dapat memberikan hasil yang berbeda, hal ini karena
adanya senyawa polifenol dan polisakarida dalam konsentrasi tinggi yang dapat
menghambat pemurnian DNA. Jika isolasi DNA dilakukan dengan sampel buah, maka kadar
air yang pada masing-masing buah berbeda, dapat memberi hasil yang berbeda pula. Buah
dengan kadar air tinggi akan menghasilkan isolat yang berbeda jika dibandingkan dengan
buah berkadar air rendah. Semakin tinggi kadar air maka sel yang terlarut di dalam ekstrak
akan semakin sedikit, sehingga DNA yang terpretisipasi juga akan sedikit.
Proses isolasi DNA diawali dengan proses ekstraksi DNA. Hal ini bertujuan untuk
memisahkan DNA dengan partikel lain yang tidak diinginkan. Proses ini harus dilakukan
dengan hati-hati, sehingga tidak menyebabkan kerusakan pada DNA. Untuk mengeluarkan
DNA dari sel, dapat dilakukan dengan memecahkan dinding sel, membran plasma dan
membran inti baik dengan cara mekanik maupun secara kimiawi. Cara mekanik bisa
dilakukan dengan pemblenderan atau penggerus menggunakan mortar dan pistil. Sedangkan
secara kimiawi dapat dengan pemberian yang dapat merusak membran sel dan membran
inti, salah satunya adalah deterjen.
Penambahan deterjen dalam isolasi DNA dapat dilakukan karena deterjen dapat
menyebabkan rusaknya mebran sel, melalui ikatan yang dibentuk melalui sisi hidrofobik
deterjen dengan protein dan lemak pada membran membentuk senyawa lipid proteindeterjen kompleks. Senyawa tersebut dapat terbentuk karena protein dan lipid memiliki
ujung hidrofilik dan hidrofobik, demikian juga dengan deterjen, sehingga dapat membentuk
suatu ikatan kimia (Machmud, 2006).
Pembahasan
Isolasi DNA pada dasarnya dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam sumber
DNA yang dapat diperoleh dari hewan maupun tumbuhan. Upaya untuk mengeluarkan DNA
dari sel dilakukan dengan merusak dinding dan membrane sel dan juga membran inti. Cara
yang digunakan untuk merusak membran-membran tersebut sangat beraneka ragam,
misalnya dengan pemblenderan atau penggerusan dengan mortal dan pistil. Selain
perusakan secara fisik, membrane dan dinding sel dapat pula dirusak dengan menggunakan
senyawa-senyawa kimia. Perusakan dinding sel dan membrane sel pada praktikum isolasi
DNA kali ini dilakukan dengan cara penggerusan dengan mortal. DNA yang didaptkan dalam
pengamatan kali ini adalah DNA yang berupa benang-benang halus sehingga hanya serupa
kabut putih yang sangat lembut.
Apabila dilihat dari sumber DNA yang digunakan untuk pengisolasian ini, macam buah yang
digunakan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Masing-masing buah untuk sumber
DNA menghasilkan DNA yang berbentuk benang-benang halus berwarna putih. Macam buah
yang digunakan dalam proses pengisolasian DNA kali ini adalah jenis buah yang memiliki
kadar air yang tinggi. Tidak ada perbedaan yang ditunjukkan untuk perlakuan variasi jenis
buah ini. Suatu sumber menyatakan bahwa dalam proses pembuatan sumber DNA untuk

isolasi DNA hendaknya jangan terlalu encer karena semakin encer sumber DNA, DNA yang
terpresipitasi akan semakin sedikit. Karena sel yang lisis di dalam air tentunya lebih sedikit
jika dibandingkan dengan sumber DNA yang lebih kental. Namun, masalah pengaruh
keenceran terhadap hasil isolasi DNA dapat diatasi dengan pengurangan jumlah Akuades
yang digunakan sehingga walaupun sumber DNA yang digunakan adalah buah dengan kadar
air tinggi, tetap dapat diperoleh ekstrak yang cukup kental.
Membran sel pada setiap organisme dapat mengalami kerusakan yang disebabkan oleh
pengaruh senyawa-senyawa kimia. Dalam proses isolasi DNA, deterjen berfungsi
menggantikan senyawa-senyawa kimia tersebut di atas. Deterjen mengandung sodium
dodesil sulfat (SDS) yang dapat menyebabkan hilangnya molekul lipid pada membran sel
sehingga struktur membrane akan rusak dan melisiskan isi sel.
Pengisolasian DNA menggunakan garam dapur dengan tujuan untuk memekatkan DNA. Hal
ini dapat terjadi karena ion Na+ yang dikandung oleh garam mampu membentuk ikatan
dengan kutub negative pada ikatan fosfat DNA. Saat ion Na+ garam berikatan dengan fosfat,
pada saat itulah DNA akan berkumpul. Sedangkan penambahan alcohol pada permukaan
larutan betujuan untuk melakukan presipitasi sehingga DNA yang telah terkumpul tadi
mampu memisah dari larutan dan terbentuklah lapisan-lapisan yang dapat diidentifikasi
unsur penyusunnya.