Anda di halaman 1dari 19

PENGANTAR ILMU PENGETAHUAN LINGKUNGAN

Mata Kuliah : Ilmu Pengetahuan Lingkungan

Disusun Oleh :
Kelompok 2
Anggota :
1.
2.
3.
4.
5.

Aditya Wardana
Annisa Dhimar Anugraheni
Farhana Labiqoh
Ika Rizki Muhinda Putri
Nina Hardiana

(K4314001)
(K4314008)
(K4314030)
(K4314035)
(K4314048)

PENDIDIKAN BIOLOGI 2014


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya hak bagi Allah SWT, yang melimpahkan rahmat, taufik,
dan hidayah bagi hamba-Nya, yang tanpa ingkar dari tanggung jawab, sehingga
memperoleh kemampuan berbuat dalam rangka menunaikan pengabdian bagi
sesama sesuai dengan kemampuan. Terdorong oleh rasa tanggung jawab,
walaupun dengan segala keterbatasan ternyata secara perlahan namun terarah,
sehingga terhimpun huruf dan kata membentuk untaian kalimat yang tersusun
menjadi sebuah makalah berjudul Pengantar Ilmu Lingkungan.
Melalui uraian yang terangkum dalam makalah ini diharapkan pembaca
memahami betapa pentingnya mengelola lingkungan hidup secara benar, yang
mencakup aspek pemanfaatan, pemeliharaan, perawatan, pemulihan atau
rehabilitasi dan pengembangan. Hal ini didasarkan pada fungsi lingkungan hidup
sebagai tempat tinggal, sumber daya, dan perlindungan bagi kehidupan organisme
termasuk manusia.
Akhirnya masukan yang berbentuk kritik dan saran demi penyempurnaan
makalah ini sangat diharapkan. Namun tidak ada yang dapat diperbuat penyusun,
kecuali menyampaikan banyak terima kasih kepada pembaca dan pemberi
masukan.
Surakarta, 2014
Penyusun

DAFTAR ISI
1. Kata pengantar... 1
2. Daftar isi

3. Bab 1 Pendahuluan
a. Latar belakang.

b. Rumusan masalah

c. Tujuan Penulisan.

4. Bab 2 Landasan Teori...

5. Bab 3 Pembahasan
a. Manusia/masyarakat dan pendidikan

b. Pengertian dan konsep dasar pendidikan..

c. Komponen-komponen pendidikan

10

6. Bab 4 Penutup
d. Kesimpulan.

18

e. Saran...

18

7. Daftar pustaka...

19

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Permasalahan lingkungan hidup, mendapat perhatian yang besar di
hampir semua negara. Di Indonesia perhatian tentang lingkungan hidup telah
mulai muncul di media massa sejak tahun 1960-an. Namun, sebenarnya
permasalahan itu telah ada sejak manusia ada di bumi. Bahkan apabila kita
meninjaunya lebih luas daripada segi manusia, permasalahan itu ada sejak
bumi ini tercipta.
Uraian di atas menunjukkan dengan jelas permasalahan lingkungan
bukanlah hal yang baru. Permasalahan itu ada sejak bumi itu lahir, apabila
kita meninjaunya secara luas dan bukannya antroposentris. Kita lihat pula
bumi itu tidaklah statis, melainkan dinamis dan dengan terus menerus
mengalami perubahan. Kini pun perubahan itu masih terus berlangsung.
Yang baru dalam permasalahan lingkungan ialah cepat tersebarnya
informasi tentang permasalahan lingkungan. Dengan kemajuan teknologi
komunikasi, informasi tentang permasalahan lingkungan menyebar dengan
luas dan cepat ke segala penjuru dunia. Orang beranggapan pula,
permasalahan lingkungan menjadi besar karena kemajuan teknologi. Tetapi
harus pula disadari teknologi bukan saja dapat merusak lingkungan,
melainkan diperlukan juga untuk mengatasi masalah lingkungan.
Fakor yang sangat penting dalam permasalahan lingkungan ialah
besarnya populasi manusia. Pertumbuhan populasi ini telah mengakibatkan
perubahan yang besar dalam lingkungan hidup , terutama di negara yang
sedang berkembang yang tingkat ekonomi dan teknologinya masih rendah.
Dengan demikian masalah lingkungan di negara berkembang hanyalah dapat
diatasi dengan pembangunan. Yang menjadi masalah ialah bagaimanakah
membangun yang tidak merusak lingkungan, yaitu pembangunan yang

bijaksana yang menaikkan kualitas lingkungan yang terdukung terlanjutkan.


Jadi, pembangunan yang berwawasan lingkungan.

B. Rumusan Masalah
1.

Apa pengertian dari ilmu lingkungan?

2.

Bagaimana sejarah singkat perlindungan alam dan lingkungan?

3.

Apa yang dimaksud ekologi dan ilmu lingkungan?

4.

Apa saja problematika SDA, lingkungan dan pembangunan?

5.

Apa yang dimaksud pembangunan berwawasan lingkungan?

6.

Bagaimana pengelolaan SDA dan lingkungan?

C. Tujuan Penulisan
1.

Menjelaskan pengertian dari ilmu lingkungan.

2.

Memaparkan sejarah singkat perlindungan alam dan lingkungan.

3.

Menjelaskan maksud dari ekologi dan ilmu lingkungan.

4.

Menyebutkaan problematika SDA, lingkungan dan pembangunan.

5.

Menjelaskan maksud dari pembangunan berwawasan lingkungan.

6.

Menjelaskan cara pengelolaan SDA dan lingkungan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Pengetahuan Lingkungan


Bisa dikatakan kita sebagai manusia telah hidup dalam dua dimensi.
Yang pertama adalah ketika manusia merupakan bagian dari makhluk alam.
Yang lainnya adalah ketika manusia dengan kapasitas sosial budaya dan
teknologi yang unik mempunyai kedudukan kuat dalam mengelola alam.
Keseimbangan proporsional yang baik antara kedua dimensi merupakan
tantangan yang harus diatasi karena kewenangan manusia dalam mengelola
sumber daya telah diganggu oleh kegiatan pemenuhan kebutuhan manusia
yang sembrono yang membuat ketahanan dunia kita berubah menjadi keadaan
terancam.
Pada masa lampau, dimana sumber daya tersedia dengan melimpah
untuk mempertahankan kehidupan populasi alam, dianggap sebagai ekologi
yang tidak terganggu. Tentu saja, manusia purba mempunyai kemampuan
yang terbatas untuk menggali sumber daya dari lingkungan sekitarnya. Tetapi,
ilmu pengetahuan dan teknologi begitu pula populasi manusia dan kebutuhan
mereka telah meningkat drastis yang membuat lingkungan secara dramatis
dieksploitasi dan sebaliknya, modifikasi seperti itu yang mengancam baik
kehidupan kita seterusnya dan juga peradaban dalam satu dimensi dan banyak
makhluk alam dimana kita berbagi dunia ini pada dimensi lainnya. Untuk
memastikan keberadaan dan peradaban manusia, lingkungan harus dipelihara
jadi keuntungan dan layanannya akan menyediakan penyokong kehidupan
manusia untuk waktu yang lama.
Seperti yang kita ketahui telah banyak masalah lingkungan yang
kita hadapi sekarang ini. Polusi dan limbah sebagai contoh, adalah masalah
lingkungan umum yang bisa dengan mudah kita amati dalam kehidupan
sehari-hari. Faktor apa menurutmu yang menyebabkan masalah seperti itu
terjadi? Pernahkah kamu berpikir bahwa masalah tersebut bisa saja terjadi

karena hasil dari kekuatan pendorong yang saling berhubungan daripada agen
penyebab sederhana? Penyelesaian terhadap masalah lingkungan harus
mempertimbangkan banyak faktor kompleks. Sebab itu, jelas bahwa hal itu
akan 0menjadi tidak mungkin untuk menyelesaikan masalah ini tanpa
pendekatan secara keseluruhan dan multidisiplin.
Sudah terjadi sejak lama dimana orang-orang sadar dan perhatian
pada kejadian fakta dari masalah lingkungan. Strategi telah digambarkan dan
dilaksanakan untuk meredakan masalah lingkungan atau setidaknya untuk
mencegah lingkungan semakin memburuk. Strategi bisa dalam bentuk
penyembuhan atau pencegahan (Karyanto, 2012). Strategi penyembuhan
adalah strategi yang menegaskan pada usaha yang didesain secara langsung
dalam mengatasi masalah lingkungan atau untuk membuat pengaruhnya
menjadi berkurang terhadap kehidupan sosial manusia. Strategi jenis ini
didominasi oleh pendekatan teknologi yang berasal dari hal paling sederhana
menuju ke modern dan tinggi investasi. Strategi kedua yaitu pencegahan.
Strategi jenis ini menegaskan pada bagaimana untuk mencegah masalah
lingkungan terjadi atau setidaknya untuk membuat antisipasi jika timbul
masalah tertentu. Dua jenis strategi ini dilaksanakan secara ideal dengan
saling melengkapi karena masalah lingkungan sering membutuhkan solusi
yang cepat, tepat, dan berkelanjutan.
Hal tersebut telah disetujui oleh ahli lingkungan, masalah
lingkungan mempunyai faktor yang rumit untuk membuatnya muncul. Dengan
demikian, jika orang-orang ingin mengambil solusi yang tepat untuk masalah
lingkungan mereka tidak seharusnya bergantung hanya pada penyelesaian satu
dimensi atau hanya satu aturan tetapi juga harus bergantung pada banyak
dimensi yang membuat masalah lingkungan muncul dan aturan lain yang
berguna untuk menyediakan sumber analisis ilmiah dan analitis untuk
mengajukan masalah lingkungan secara efisien dan efektif. (Lihat kotak 1
untuk pemahaman lebih lanjut kenapa masalah lingkungan harus diselesaikan
dengan pendekatan pada tata tertib dan sektor yang banyak). Tapi, ini bisa
dipahami bahwa hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dengan

pembelajaran lingkungan akan menjadi ilmu pengetahuan pada beberapa


aturan. Ilmu pengetahuan lingkungan, merupakan penggabungan antar cabang
bidang akademik berhubungan dengan ilmu pengetahuan alam (termasuk
fisika, kimia, biologi, ilmu ketanahan, geologi dan geografi), ilmu
pengetahuan sosial dan pembelajaran dengan analisisi secara keseluruhan
terhadap lingkungan. Dan lagi berbeda dengan banyak disiplin ilmu teoritis
lainnya, ilmu pengetahuan lingkungan memiliki misi khusus untuk
memberikan pengetahuan yang dapat membuat orang-orang mengubah sikap
mereka dan tanggung jawab untuk terlibat dan mencoba untuk melakukan
beberapa hal yang berkaitan dengan masalah lingkungan yang dihadapi orangorang saat ini.
Misi di atas termasuk penting. Mengubah sikap orang untuk
menjadi ramah lingkungan adalah kuncinya. Untuk sejumlah masalah
lingkungan, kesulitan bukanlah dalam mencari solusi teknologi dan perbaikan.
Keduanya sekarang sudah dipahami dengan baik. Masalahnya adalah dalam
mengubah perilaku dan sikap orang. Perubahan ini akan berfungsi sebagai
pelumas untuk melakukan upaya yang efektif dalam peningkatan lingkungan
secara sosial, politik dan ekonomi dapat diterima.
B. SEJARAH SINGKAT PELINDUNGAN ALAM DAN LINGKUNGAN
Orang-orang hidup di planet yang menakjubkan yang memiliki fitur yang
paling menakjubkan dalam hal keragaman dan sumber daya yang ada di sana.
Orang masa lalu hidup dalam kondisi dimana sumber daya dan keragaman dan
jasa ekologi tanpa batas mendukung peradaban mereka karena pasokan jauh
melampaui permintaan
Saat ini, lebih dari 7,1 miliar orang yang mendiami planet ini dan, ini
masih akan terus meningkat sekitar 80 juta orang per tahun. Berbeda dengan
masa lalu, permintaan bisa bertambah seiring dengan persediaan dan terlebih
lagi, perubahan lingkungan yang dramatis dan degradasi akan menjadi
konsekuensinya. Isu lingkungan kemudian menjadi masalah yang sangat
umum yang kita hadapi saat ini. Perubahan iklim, kelangkaan air, krisis
energi, hilangnya keanekaragaman hayati, polusi merupakan isu-isu yang jelas

menantang orang untuk menjawab demi kelangsungan hidup peradaban


manusia untuk jangka waktu lama.
Kebanyakan orang (jika tidak dapat dikatakan sebagai semua individu)
tidak akan menyangkal pernyataan bahwa orang sangat bergantung pada
lingkungan sekitar mereka untuk bertahan hidup. Tapi fenomena faktual
menunjukkan kepada kita bahwa kebanyakan orang bertindak dalam cara
mereka tidak tergantung pada lingkungan. Pertanyaan berikutnya, mengapa
orang masih terus melanjutkan tindakan gegabah mereka dalam mengelola
sumber daya? Apakah mereka tidak sadar? Atau mungkin alasan yang
diperdebatkan

telah mendorong mereka untuk

melakukannya.

Etika

lingkungan merupakan pandangan penting untuk menjelaskan pertanyaan ini


(lihat bab tentang etika lingkungan) karena etika ini sangat mendasar dalam
mengatur pola pengelolaan lingkungan tertentu yang diterapkan oleh individu
atau diwujudkan dengan menggunakan institusi tertentu. Ini memungkinkan
untuk membagi beberapa pola dari cara orang menggunakan dan mengelola
lingkungan mereka berdasarkan masalah yang mereka hadapi setidaknya
dalam dua kategori utama. Klasifikasinya mengacu pada masalah-masalah
yang dihadapi orang, pola kesadaran masyarakat dalam mengelola lingkungan
mereka sebaik pola umum pada pengelolaan lingkungan dari masa lampu
sampai saat ini. Pola-polanya adalah :
1. Konservasi sumber daya pragmatis
2. Pelestarian alam moral dan estetika
3. Kekhawatiran tentang kerusakan ekologis yang disebabkan oleh polusi
lingkungan.
4. Kewarganegaraan lingkungan global
Pola tertentu mungkin tidak hanya mematuhi satu kategori eksklusif tetapi
campuran antara dua kategori atau lebih.
Berbicara tentang klasifikasi berarti membahas peradaban manusia juga.
Orang zaman dulu dapat dikategorikan prakmatis karena mereka hanya

menggunakan apa yang ada di sekitar mereka untuk melangsungkan


perjuangan hidup mereka (dengan tujuan yang sama, setiap praktek baru-baru
ini juga dapat dianggap sama). Paradigma pragmatic telah berkembang
menjadi

pemanfaatan

pragmatis

ketika

orang

mulai

memperhatikan

kepentingan lingkungan dalam mempertahankan hidup manusia. Di sini,


manusia melestarikan alam bukan karena mereka indah atau memiliki hak
yang sama untuk hidup, tetapi karena lingkungan memberikan manfaat kepada
manusia. Pemanfaatan pragmatis dikritik oleh banyak pendukung paham
lingkungan yang memihak pada pelestarian biosentris kuat atau etika
lingkungan kuat. Melestarikan alam bukan karena alam memberikan
keuntungan pada manusia. Manusia juga harus mempertimbangkan bahwa
banyak makhluk hidup juga memiliki hak untuk hidup dan hak untuk berbagi
sumber daya yang tersedia. Pelestarian alam moral dan estetika diusulkan
sebagai lawan dari pemanfaatan pragmatis. Pendukung arus ini misalnya Aldo
Leopold dan John Muir memperjuangkan pendapat ini melawan Roosevelt
dan Pinchot.
Pemanfaatan

pragmatis

merupakan

Industrialisasi yang pesat merupakan

pemenang

pada

waktu

itu.

bukti dari pemanfaatan pragmatis

penemuan telah menjadi kekuatan untuk industrialisasi dan meningkatkan


kesempatan bagi utilitarianisme untuk mendominasi. Industrialisasi cepat ini
membawa pada polusi lingkungan yang telah dikenal setidaknya selama
kerusakan hutan. Industrialisasi cepat ini menyebabkan masalah lingkungan
baru yang menambahkan perhatian baru untuk agenda lingkungan secara
langsung
Karena konsep perhatian baru kekhawatiran itu muncul, kekhawatiran
tentang sunyi kerusakan ekologi yang disebabkan oleh polusi lingkungan telah
dikenal dengan baik. Rachel Carson merupakan pencetus untuk perhatian ini.
Silent Spring, buku terkenal yang ditulis oleh Carson menunjukkan
pendapatnya untuk memperhatikan ancaman polusi dan bahan kimia
berbahaya untuk manusia dan spesies lainnya.

Saat ini banyak orang percaya bahwa masalah linkungan berhubungan erat
dengan masalah sosial. Banyak proses sosial terutama kemiskinan dan ketidak
sama rataan sering menjadi variable kunci utama dalam menentukan masalah
lingkungan tertentu. Hubungan antara degradasi lingkungan dan kemiskinan
juga telah dijelaskan dengan baik oleh Reardon dan Vosti (1993) dan
Bahamondes (2003) kemiskinan dalamistilah akses terbatas untuk lima tipe
mata pencaharian utama dihubungkan pada tingkat degradasi lingkungan.
Sejak itu, modal lingkungan diklaim sebagai hak global yang menyebabkan
modallingkungan menjadi didegradasi dan dikosongkan juga akan menjadi
perhatian global. Tapi itu masih diperdebatkan untuk membicarakan
kemiskinan dunia dan ketidak samarataan seperti jenis proses sosial yang
berkaitan dengan masalah lingkungan kedalamdiskusi pada srategi lingkungan
dunia. Konsep pengmbanganberkelanjutan telah dihamburkanoleh PBB
menjadikonsensus global, untuk para digma pengelolaan lingkungan baru
terhadap kelanjutan dunia. Era global baru pengelolaan lingkungan
selanjutnya dipopulerkan, tetapi peradaban lingkungan dunia pada kegiatan
lingkungan telah masuk pada era tersebut.

C. EKOLOGI DAN ILMU LINGKUNGAN


Pada tahun 1868, Reiter mengemukakan istilah ekologi yang diturunkan
dari dua kata bahasa yunani oikos dan logos. Oikos adalah rumahatau tempat
tingggal, dan logos adalah ilmu, pembelajaran, atau diskusi. Pada tahun 1869,
Ernst Haeckel member definisi ekologi sebagai kesatuan hubungan binatang
dengan semua lingkungan organic dan anorganik. Ernst Haeckel selanjutnya
disebut sebagai bapak ekologi.
Definisi ekologi dalam kamus Webster (Websters Unbridge Dictionary,
1990) yaitu ekologi adalah keseluruhan atau kaidah hubungan antara jasad
hidup dengan lingkungannya. Disebut juga biologi lingkungan, dengan
demikian, ekologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi.

Ekologi membahas keterkaitan antara jasad hidup, baik secara individu,


jenis, maupun kesatuan yang lebih kompleks, dengan semua komponen yang
ada di sekitarnya.
Teknologi

berkembang

dengan

pesat

menjawab

tantangan

yang

dikemukakan oleh Thomas Robert Malthus pada akhir abad XVIII. Malthus
mengemukaan bahwa pertumbuhan penduduk mengikuti deret deret ukur,
sedangkan pertumbuhan produksi bahan yang diperlukan manusia menurut
deret hitung.. untuk meningkatkan produksi bahan itu diperlukan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Akan tetapi, perkembangan

industrialisasitersebut juga mengundang

berbagai permasalahan, antara lain adalah kepunahan beberapa jenis jasad


hidup, penurunan mutu lingkungan, dan munculnya berbagai penyakit baru
baik penyakit fisiologis maupun penyakit menular.
Oleh sebab itu, Maurice E. Strong, memprakarsai pertemuan internasional
pertama yang membahas masalah lingkungan hidup. Pertemuan itu
dilangsungkan di Stockholm pada tanggal 5 sampai 16 Juni 1972 dan dikenal
sebagai Konverensi Stockholm yang menghasilkan Deklarasi Stockholm yaitu
kesepakatan untuk memperbaiki lingkungan dan menyelamatkan bumi. Juga
ditetapkannya tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Dalam ranga untuk menyelamatkan lingkungan hidup dibentuklah badan
internasional yang membidangi lingkungan hidup yaitu United Nations
Environment Programme (UNEP) yang di dalamnya ditetapkan asas
pembangunan

berwawasan

lingkungan

berkelanjutan

(Sustainable

Development). UNEP berkedudukan di Nairobi, Kenya, Afrika.


Selanjutnya pertemuan internasional dengan agenda utama penyelamatan
bumi diselenggarakan di Rio de Jenairo (Brazillia) tanggal 5 Juni 1992, dan
menghasilkan kesepakatan yang dikenal dengan Delarasi Rio. Sebagai tindak
lanjut dari kesepakatan itu, Indonesia mengeluarkan Undang-Undang RI No. 4
tahun 1982 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang
selanjutnya diganti dengan Undang-Undang RI No. 23 tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam Bab 1 pasal 1 ayat 1 dinyataan bahwa

Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan segala benda, daya,


keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya,
yang memengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia
serta makhluk hidup lainnya.
Secara garis besar, ilmu lingkungan menempatkan manusia sebagai pusat
pertimbangan untung dan rugi suatu kegiatan manusia. Oleh sebab itu,
manusia harus berupaya agar selalu dapat memanfaatkan lingkungan secara
optimum untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tanpa menimbulkan kerugian.

D. PROBLEMATIKA

SUMBERDAYA

ALAM,

LINGKUNGAN,

DAN

PEMBANGUNAN
Indonesia memiliki wilayah yang kaya akan sumber daya alam, baik jenis
maupun jumlahnya. Menyadari akan hal tersebut, para orang-orang terdahulu
telah menerapkan prinsip dasar pengelolaan sumber daya alam dalam
konstitusi Negara yang tetap hingga sekarang, yaitu: Bumi, air dan kekayaan
yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan
sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Hutan merupakan salah satu sumber daya yang penting, tidak hanya dalam
menunjang perekonomian nasional tetapi juga dalam menjaga daya dukung
lingkungan terhadap keseimbangan ekosistem dunia. Di Indonesia tiap
tahunnya jumlah hutan diperkirakan berkurang 3-5% per tahunnya.
Kerusakan DAS (Daerah Aliran Sungai). Praktik penebangan liar dan
konversi lahan menimbulkan dampak yang luas, yaitu kerusakan ekosistem
dalam tatanan DAS. Kerusakan DAS tersebut juga dipacu oleh pengelolaan
DAS yang kurang terkoordinasi antara hulu dan hilir serta kelembagaan yang
masih lemah. Hal ini akan mengancam keseimbangan ekosistem secara luas,
khususnya cadangan dan pasokan air yang sangat dibutuhkan untuk irigasi,
pertanian, industri, dan konsumsi rumah tangga.
Habitat ekosistem pesisir dan laut semakin rusak. Rusaknya habitat
ekosistem pesisir seperti deforestasi hutan mangrove telah mengakibatkan
erosi pantai dan berkurangnya keanekaragaman hayati (biodiversity). Erosi

ini juga diperburuk oleh perencanaan tata ruang dan pengembangan wilayah
yang kurang tepat. Beberapa kegiatan yang diduga sebagai penyebab
terjadinya erosi pantai, antara lain pengambilan pasir laut untuk reklamasi
pantai, pembangunan hotel, dan kegiatan- kegiatan lain yang bertujuan untuk
memanfaatkan pantai dan perairannya. Sementara itu, laju sedimentasi yang
merusak perairan pesisir juga terus meningkat.
Citra

pertambangan

yang

merusak

lingkungan.

Sifat

usaha

pertambangan,khususnya tambang terbuka (open pit mining), selalu merubah


bentang alam sehingga mempengaruhi ekosistem dan habitat aslinya. Dalam
skala besar akan mengganggu keseimbangan fungsi lingkungan hidup dan
berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Dengan citra semacam ini usaha
pertambangan cenderung ditolak masyarakat. Citra ini diperburuk oleh
banyaknya pertambangan tanpa ijin (PETI) yang sangat merusak lingkungan.
Dengan permasalahan-permasalahan di atas, sasaran pembangunan yang
ingin dicapai adalah membaiknya sistem pengelolaan sumber daya alam dan
lingkungan hidup bagi terciptanya keseimbangan antara aspek pemanfaatan
sumber daya alam sebagai modal pertumbuhan ekonomi dengan aspek
perlindungan terhadap kelestarian fungsi lingkungan hidup sebagai penopang
sistem kehidupan secara luas. Seluruh kegiatannya harus dilandasi tiga pilar
pembangunan secara seimbang, yaitu menguntungkan secara ekonomi
(economically viable), diterima secara sosial (socially acceptable) dan ramah
lingkungan (environmentally sound). Prinsip tersebut harus dijabarkan dalam
bentuk instrumen kebijakan dan peraturan perundangan lingkungan yang
dapat mendorong investasi pembangunan jangka menengah di seluruh sektor
dan bidang yang terkait dengan sasaran pembangunan sumber daya alam dan
lingkungan hidup.
Yang terpenting dalam melestarikan sumber daya alam dilakukan
eksplorasi yang tidak merusak lingkungan dan pelaksanaannya dilakukan
secara lestari. Semua perbuatan akan membawa akibat di masa datang.
Anugerah yang diberikan harus dijaga untuk kepentingan generasi
berikutnya.

E. PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN


Orientasi dalam pengetahuan lingkungan adalah adalah manusia atau
dikenal dengan istilah anthropocentris, sehingga manusia sebagai titik sentral
ukuuran menguntungkan dan merugikan, namun tidak satupun manusia yang
menginginkan kesejahteraan sesaat saja, melainkan kesejahteraan secara
berkelanjutan sebagai manifestasi pembangunan yang juga merupakan
pengelolaan

sumberdaya,

seperti

yang

diungkapkan

sebagai

prinsip

pembangunan berkelanjutan (sustainable development) atau juga dikenal


dengan pembangunan berwawasan lingkungan berkelanjutan.
Yang

dimaksud

dengan

pembangunan

berwawasan

lingkungan

berkelanjutan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola


sumberdaya secara bijaksana yang berkesinambungan untuk meningkatkan
mutu hidup (UU No.23 tahun 1997). Kebijaksanaan Pembangunan
Berwawasan Lingkungan ini diucapkan Presiden Soeharto dalam amanat
lingkungan tanggal 5 Juni 1982, yang memuat lima pokok penting, yaitu:
1. Menumbuhkan sikap kerja berdasarkan kesadaran saling membutuhkan
antara satu dengan yang lain.
2. Kemampuan menyerasikan kebutuhan dengan kemampuan sumberdaya
alam dalam menghasilkan barang dan jasa.
3. Mengembangkan

sumberdaya

manusia,

agar

mampu

menghadapi

tantangan pembangunan tanpa merusak lingkungan.


4. Mengembangkan kesadaran di kalangan masyarakat, sehingga tumbuh
menjadi kesadaran berbuat.
5. Menumbuhkan lembaga swadaya masyarakat yang dapat mendayagunakan
dirinya untuk menggalakkan peran serta masyarakat dalam mencapai
tujuan pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan.
Untuk melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan berkelanjutan
diperlukan tiga cara pendekatan, yaitu (1) pendekatan kependudukan, (2)
pendekatan kelestarian lingkungan, dan (3) pendekatan keselarasan manusia
dan lingkungannya (Salim, E., 1986)

Permasalahan yang berkaitan dengan kependudukan adalah pesatnya


pertambahan jumlah penduduk secara eksponensial. Ditinjau dari segi
manusia sebagai sumberdaya pembangunan, penambahan jumlah penduduk
menguntungkan. Tetapi di sisi lain, peningkatan jumlah penduduk ini
memerlukan kebutuhan yang banyak, sehingga dapat berakibat buruk terhadap
lingkungan hidup. Dengan demiian peningkatan jumlah penduduk tersebut
dapat menurunkan kualitas lingkungan hidup.
Selanjutnya, beberapa permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan
hidup adalah (1) lingkungan alami, (2) lingkungan binaan, dan (3) lingkungan
sosial. Lingkungan alami merupakan sumberdaya yang sangat penting dalam
pembangunan. Jika lingkungan alami urang terpelihara,maka kemampuan
sumberdaya alam menurun. Oleh karena itu kualitas lingkungan perlu dijaga,
agar tetap berfungsi sebagaimana fungsinya. Dengan kata lain, lingkungan
harus dipelihara dan dirawat dengan prinsip yang merusak yang menanggung
resikonya atau Polluter Pays Principles (PPP) yang dianalogkan dalam
bahasa Indonesia dengan Pemakai Wajib Merawat (PWM).
Dalam pembangunan berwawasan lingkungan berkelanjutan diperlukan
adanya perencanaan secara cermat, agar keselarasan antara kebutuhan hidup
dengan sumberdaya yang tersedia dapat dijaga. Walaupun teknologi mampu
mempercepat

tersedianya

bahan

kebutuhan

manusia,

tetapi

harus

dipertimbangkan kelestarian fungsi dari sumberdaya alam yang tersedia dalam


lingkungan.sumberdaya alam terbatas, makin banyak diambil manfaatnya
makin dapat menurunkan kualitas dan kuantitasnya. Perkembangan teknologi
juga berpengaruh terhadap lingkungan sosial budaya masyarakat, sehingga
dalam memanfaatkan jasa teknologi perlu memperhatikan keselarasan dengan
lingkungan sosial budaya masyarakat yang terkait, terutama yang ada di
sekitar kegiatan.

F. DAMPAK LINGKUNGAN AKIBAT PERBUATAN MANUSIA

G. PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN


Pengelolaan lingkungan hidup adlah upaya terpadu untuk melestarikan
fungsi lingkungan hidupyang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan,
dan pengendalian lingkungan hidup. Dengan demikian jelas bahwa tujuan
pengelolaan lingkungan hidup untuk memelihara kelestarian lingkungan,
dalam arti fungsi dari setiap komponen lingkungan atau sumberdaya.
Kelestarian fungsi komponen lingkungan ini diharapkan dapat menunjang
pemanfaatan secara optimal dari sumberdaya secara berkelanjutan, sehingga
kesejahteraan hidup manusia dapat meningat secara berkelanjutan.
Menurut

Soemarwoto

(1985)

pengelolaan

lingkungan

dapat

dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu:


1. Pengelolaan lingkungan secara rutin
Secara tidak disadari, manusia telah mengelola lingkungan hidup
untuk memperoleh kebutuhannya. Sebagai contoh, pembuangan sampah
dan limbah, pembersihan kamar / tempat, merupakan suatu bentuk
pengelolaan secara rutin. Para petani membuat tanggul, memberantas
hama, membuat saluran irigasi, menyiangi gulma, dan sebagainya.
Demiian pula masyarakat perkotaan secara rutin membersihkan got,
menanam pohon pelindung, membuat rambu-rambu jalan, dan lain-lain.
Bentuk-bentuk

tersebut

merupakan

beberapa

contoh

pengelolaan

lingkungan hidup secara rutin.


2. Pengelolaan lingkungan secara dini (terencana)
Pengelolaan lingkungan secara dini sebaiknya dilakukan di daerah
yang berpotensi besar untuk pembangunan, antara lain di sekitar
perkotaan, sepanjang jalan raya, daerah industri, daerah yang memiliki
sumberdaya potensial, daerah transmigrasi, serta tempat pariwisata.
Daerah yang berpotensi besar untuk dikembangkan ini sangat diperlukan
identifikasi dan inventarisasi sumberdaya yang dikandungnya.
Dalam perencanaan ini sangat diperlukan pertimbangan keterkaitan
antar sumberdaya dan antar kegiatan. Oleh karena itu, dalam penyusunan
suatu perencanaan perlu dipertimbangkan segala aspek dan segala macam

sumberdaya beserta sifat-sifatnya atau disebut Integrated Planning. Jika


alam pemanfaatan sumberdaya hanya dilakukan pengelolaan secar rutin,
tanpa

perencanaan

dini,

dapat

menimbulkan

berbagai

macam

permasalahan, seperti satwa liar masuk kampong, berbagai macam kasus


pencemaran, banjir, dan sebagainya.
3. Pengelolaan lingkungan untuk memperbaiki lingkungan yang rusak
Banyak sumberdaya atau lingkungan hidup yang rusak akibat
tindakan darurat yang berkepanjangan. Untuk menghindari hal ini, maka
diperlukan suatu tindakan pengelolaan yang bersifat memperbaiki
sumberdaya atau lingkungan hidup yang sudah terlanjur rusak. Tindaan
rehabilitasi itu lebih sukar dan mahal dibandingkan dengan pencegahan.
Tetapi keadaan telah memaksa, sehingga tindakan yang tepat adalah
perencanaan yang diikuti pelaksanaan pengelolaan rehabilitasi dan
perencanaan pemanfaatan secara terpadu dan secara menyeluruh.
4. Pengelolaan lingkungan berdasarkan pada perkiraan dampak kegiatan
Pengelolaan lingkungan atas dasar perkiraan dampak lingkungan,
telah ditetapan melalui peraturan perundang-undangan mengenai jenis
usaha dan/atau kegiatan wajib AMDAL (Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan). Untuk melaksanakan pengelolaan model ini diperlukan
informasi perkiraan mengenai keuntungan dan kerugian kegiatan
pengelolaan yang akan ditimbulkannya. Dari kedua perkiraan dampak ini
dipertimbangkan, mana yang lebih banyak member manfaat bagi manusia.
Kemudian dicari beberapa alternatif untuk memaksimalkan dampak positif
dan meminimalkan dampak negatifnya.
Perkiraan ini menyangkut berbagai aspek komponen lingkungan
hidup, sehingga tampak adanya keterkaitan antar komponen dan antar
kegiatan. Ketepatan perkiraan tergantung pada beberapa factor antara lain
kelengkapan dan kecermatan rencana kegiatan, kelengapan dan kesahihan
data dasar, dan kemampuan serta pengalaman pelasana analisisnya. Untuk
pengelolaan model ini diusahakan peran serta teknologi untuk memberikan

berbagai alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan


sumberdaya.