Anda di halaman 1dari 4

Vaksin DT adalah vaksin yang mengandung toksoid Difteri dan Tetanus yang telah

dimurnikan yang teradsorbsi ke dalam 3 mg/ml aluminium fosfat.


*toksoid : racun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri yang kemudian telah dilemahkan sehingga
tidak berbahaya bagi manusia
Vaksin DT diberikan dengan diinjeksikan secara intramuskular pada lengan atas dengan
dosis 0,5 mL. Pada tahun 1998, mulai dilaksanakan bulan imunisasi anak sekolah (BIAS), secara
serentak setiap bulan November. Imunisasi disesuaikan dengan jadwal pemberian 5 dosis TT
pada Wanita Usia Subur (WUS), yaitu imunisasi dasar DPT dianggap setara TT 2 dosis, pada
siswa SD kelas I hanya diberikan 1 kali DT, pada siswa kelas II dan III, diberikan TT masingmasing 1 dosis. Dengan demikian diharapkan setelah lulus SD mereka telah mendapat imunisasi
TT 5 dosis.

Kenali dan Cegah Penyakit Cacing Pada Anak


Sekitar 60 persen orang Indonesia mengalami infeksi cacing. Kelompok umur terbanyak adalah
pada usia 5-14 tahun. Angka prevalensi 60 persen itu, 21 persen di antaranya menyerang anak
usia SD dan rata-rata kandungan cacing per orang enam ekor. Data tersebut diperoleh melalui
survei dan penelitian yang dilakukan di beberapa provinsi pada tahun 2006. Hasil penelitian
sebelumnya (2002-2003), pada 40 SD di 10 provinsi menunjukkan prevalensi antara 2,2 persen
hingga 96,3 persen. Sekitar 220 juta penduduk Indonesia cacingan, dengan kerugian lebih dari Rp
500 miliar atau setara dengan 20 juta liter darah per tahun. Penderita tersebar di seluruh daerah,
baik di pedesaan maupun perkotaan. Karena itu, cacingan masih menjadi masalah kesehatan
mendasar di negeri ini.
Cara Penularan
Cacing masuk ke dalam tubuh manusia lewat makanan atau minuman yang tercemar telur-telur
cacing. Umumnya, cacing perut memilih tinggal di usus halus yang banyak berisi makanan.
Meski ada juga yang tinggal di usus besar. Penularan penyakit cacing dapat lewat berbagai cara,
telur cacing bisa masuk dan tinggal dalam tubuh manusia. Ia bisa masuk lewat makanan atau
minuman yang dimasak menggunakan air yang tercemar. Jika air yang telah tercemar itu dipakai
untuk menyirami tanaman, telur-telur itu naik ke darat. Begitu air mengering, mereka menempel
pada butiran debu. Telur yang menumpang pada debu itu bisa menempel pada makanan dan
minuman yang dijajakan di pinggir jalan atau terbang ke tempat-tempat yang sering dipegang
manusia. Mereka juga bisa berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Setelah masuk ke dalam
usus manusia, cacing akan berkembang biak, membentuk koloni dan menyerap habis sari-sari
makanan. Cacing mencuri zat gizi, termasuk protein untuk membangun otak.
Setiap satu cacing gelang memakan 0,14 gram karbohidrat dan 0,035 protein per hari. Cacing
cambuk menghabiskan 0,005 milimeter darah per hari dan cacing tambang minum 0,2 milimeter
darah per hari. Kalau jumlahnya ratusan, berapa besar kehilangan zat gizi dan darah yang
digeogotinya. Seekor cacing gelang betina dewasa bisa menghasilkan 200.000 telur setiap hari.
Bila di dalam perut ada tiga ekor saja, dalam sehari mereka sanggup memproduksi 600.000 telur.

Gejala dan Tanda

Pada kasus infeksi cacing ringan, tanpa gejala atau kadang tidak menimbulkan gejala
nyata. Gejala lan yang harus dikenali adalah lesu, tak bergairah, suka mengantuk, badan
kurus meski porsi makan melimpah, serta suka menggaruk-garuk anusnya saat tidur
karena bisa jadi itu pertanda cacing kremi sedang beraksi. Gangguan ini menyebabkan,
kurang zat gizi, kurang darah atau anemia. Berkurangnya zat gizi maupun darah,
keduanya berdampak pada tingkat kecerdasan, selain berujung anemia. Anemia akan
menurunkan prestasi belajar dan produktivitas. Menurut penelitian, anak yang kehilangan

protein akibat cacing tingkat kecerdasannya bisa menurun. Anemia kronis bisa
mengganggu daya tahan tubuh anak usia di bawah lima tahun (balita).
Tetapi pada kasus-kasus infeksi berat bisa berakibat fatal. Ascaris pada cacing dapat
bermigrasi ke organ lain yang menyebabkan peritonitis, akibat perforasi usus dan ileus
obstruksi akibat bolus yang dapat berakhir dengan kematian.
Infeksi usus akibat cacingan, juga berakibat menurunnya status gizi penderita yang
menyebabkan daya tahan tubuh menurun, sehingga memudahkan terjadinya infeksi
penyakit lain, termasuk HIV/AIDS, Tuberkulosis dan Malaria. Jenis penyakit parasit ini
kecil sekali perhatiannya dari pemerintah bila dibandingkan dengan HIV/AIDS yang
menyedot anggaran cukup besar, padahal semua bentuk penyakit sama pentingnya dan
sikap masyarakat sendiri juga tak peduli terhadap penyakit jenis ini.

Beberapa Jenis Cacing


Beberapa jenis cacing sangat potensial untuk menimbulkan infeksi pada anak-anak. Dan untuk
selanjutnya mereka akan menjadi sumber penularan bagi infeksi berikutnya yang sangat
potensial. Keadaan yang demikian inilah yang menyebabkan infeksi akibat parasit cacing sukar
diatasi secara tuntas. Penderita yang tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, merupakan
sumber penularan bagi orang-orang dekat di sekitarnya

Cacing gelang. Cacing betinanya yang panjangnya kira-kira 20-30 cm ini mampu
bertelur 200.000 telur per harinya. Dalam waktu lebih kurang 3 minggu telur ini akan
berisi larva yang bersifat infektif, yang dapat menjadi sumber penularan jika secara tidak
sengaja mencemari makanan/minuman yang kita konsumsi. Cacing ini hidup sebagai
parasit dalam usus halus, sehingga akan mengambil nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh
kita dan menimbulkan kerusakan pada` lapisan usus tersebut. Akhirnya timbullah diare
dan gangguan penyerapan sari-sari makanan tersebut. Bahkan pada keadaan yang berat,
larva dapat masuk ke paru sehingga membutuhkan tindakan operatif.
Cacing cambuk (Trichuris trichiura). Cacing ini juga menghisap sari makanan yang
kita makan. Dia menghisap darah dan hidup di dalam usus besar. Cacing betinanya bisa
bertelur 5 ribu-10 ribu butir per hari. Biasanya infeksi cacing ini menyerang pada usus
besar. Infeksinya sering menimbulkan perlakaan usus, karena kepala cacing dimasukkan
ke dalam permukaan usus penderita. Pada infeksi yang ringan biasanya hanya timbul
diare saja. Tetapi pada infeksi yang berat, hampir pada sebagian besar permukaan usus
besar dapat ditemukan cacing jenis ini. Akibatnya diare yang terjadi juga relatif berat dan
dapat berlangsung terus menerus. Karena juga dapat menyebabkan perlukaan usus, maka
anemia sebagai komplikasi perdarahan merupakan akibat yang tidak begitu saja dapat
dianggap ringan. Inilah sebetulnya akibat-akibat infeksi cacing yang tidak pernah kita
perkirakan selama ini dan proses yang merugikan itu berlangsung terus tanpa kita sadari.
Infeksi cacing biasanya menimbulkan anemia.
Cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale). Inilah cacing
yang paling ganas, karena ia menghisap darah. Cacing betinanya bisa bertelur 15 ribu-20
ribu butir per hari. Penularannya cepat, karena larva cacing tambang sanggup menembus
kulit kaki dan selajutnya terbawa oleh pembuluh darah ke dalam usus. Cacing dewasa
bertahan hidup 2-10 tahun. Cacing tambang ini menimbulkan perlukaan pada permu-kaan
usus, sehingga perdarahan dapat terjadi secara lebih berat dibanding dengan infeksi
cacing jenis lainnya. Perdarahan yang lebih berat ini disebabkan karena mulut (stoma)
cacing mengerat permukaan usus. Bahkan satu ekor cacing saja dapat menyebabkan
kehilangan darah sebanyak 0,0050,34 cc sehari. Mengingat itu semua, maka infeksi
cacing tambang merupakan penyebab anemia yang paling sering ditemukan pada anakanak, sehingga dapat mempengaruhi daya tahan tubuhnya dan menurunkan prestasi
belajarnya.
Telur cacing gelang yang masuk ke pencernaan akan menetas menjadi larva. Larva ini
menembus dinding usus halus menuju jantung dan paru-paru. Cacing gelang
menyebabkan gizi buruk dan membuat anak tidak nafsu makan, karena nutrisinya direbut
cacing. Cacing betinanya bisa bertelur mencapai 200 ribu butir per hari. Cacing dewasa
dapat bertahan hidup 6-12 bulan.

Cacing kremi. Cacing ini mirip kelapa parut, kecil-kecil dan berwarna putih. Awalnya,
cacing ini akan bersarang di usus besar. Saat dewasa, cacing kremi betina akan pindah ke
anus untuk bertelur. Telur-telur ini yang menimbulkan rasa gatal. Bila balita menggaruk
anus yang gatal, telur akan pecah dan larva masuk ke dalam dubur. Saat digaruk, telurtelur ini bersembunyi di jari dan kuku, sebagian lagi menempel di sprei, bantal atau
pakaian. Lewat kontak langsung, telur cacing menular ke orang lain. Lalu siklus cacing
dimulai lagi.

Pencegahan Penyakit Cacing Pada Anak


Untuk dapat mengatasi infeksi cacing secara tuntas, maka upaya pencegahan dan terapi
merupakan usaha yang sangat bijaksana dalam memutus siklus penyebaran infeksinya.
Pemberian obat anti cacing secara berkala setiap 6 bulan dapat pula dikerjakan. Menjaga
kebersihan diri (Ian lingkungan serta sumber bahan pangan adalah merupakan sebagian dari
usaha pencegahan untuk menghindari dari infeksi cacing. Memasyarakatkan cara-cara hidup
sehat, terutama pada anak-anak usia sekolah dasar, dimana usia ini merupakan usia yang sangat
peka untuk menanamkan dan memperkenalkan kebiasaan-kebiasaan baru. Kebiasaan untuk
melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan salah satu contohnya.
Beberapa Tips Pencegahan :

Cucilah tangan sebelum makan.


Budayakan kebiasaan dan perilaku pada diri sendiri, anak dan keluarga untuk mencuci
tangan sebelum makan. Kebiasaan akan terpupuk dengan baik apabila orangtua
meneladani. Dengan mencuci tangan makan akan mengeliminir masuknya telur cacing ke
mulut sebagai jalan masuk pertama ke tempat berkembang biak cacing di perut kita.
Pakailah alas kaki jika menginjak tanah. Jenis cacing ada macamnya. Cara masuknya pun
beragam macam, salah satunya adalah cacing tambang (Necator americanus ataupun
Ankylostoma duodenale). Kedua jenis cacing ini masuk melalui larva cacing yang
menembus kulit di kaki, yang kemudian jalan-jalan sampai ke usus melalui trayek saluran
getah bening. Kejadian ini sering disebut sebagai Cutaneus Larva Migran (dari namanya
ini kita sudah tahu lah apa artinya; cutaneus: kulit, larva: larva, migrant: berpindah). Nah,
setelah larva cacing sampai ke usus, larva ini tumbuh dewasa dan terus berkembang biak
dan menghisap darah manusia. Oleh sebab itu Anda akan anemia. *Lha wong berbagi
darah dan hidup dengan cacing
Gunting dan bersihkan kuku secara teratur. Kadang telur cacing yang terselip di antara
kuku Anda dan selamat masuk ke usus Anda dan mendirikan koloni di sana.
Jangan buang air besar sembarangan dan cuci tangan saat membasuh. Setiap kotoran
baiknya dikelola dengan baik, termasuk kotoran manusia. Di negara kita masih banyak
warga yang memanfaatkan sungai untuk buang hajat. Dengan perilaku ini maka kotorankotoran ini akan liar tidak terjaga, sehingga mencemari lingkungannya. Dan, jika
lingkungan sudah cemar, penularan sering tidak pandang bulu. Orang yang sudah
menjaga diri sebersih mungkin sekalipun masih dapat dihinggapi parasit cacing ini.
Bertanam atau Berkebunlah dengan baik. Ambillah air yang masih baik untuk menyiram
tanaman. Agar air ini senantiasa baik maka usahakan lingkungan sebaik mungkin.
Menjaga alam ini termasuk bagian dalam merawat kesehatan.
Peduli lah dengan lingkungan, maka akan dapat memanfaatkan hasil yang baik. Jika air
yang digunakan terkontaminasi dengan tinja manusia, bukan tidak mungkin telur cacing
bertahan pada kelopak-kelopak tanaman yang ditanam dan terbawa hingga ke meja
makan.
Cucilah sayur dengan baik sebelum diolah. Cucilah sayur di bawah air yang mengalir.
Mengapa demikian? Ya, agar kotoran yang melekat akan terbawa air yang mengalir, di
samping itu nilai gizi sayuran tidak hilang jika dicuci di bawah air yang mengalir. Cara
mengolah sayuran yang baik dapat Anda lihat di artikel Cerdas mengolah Sayuran :
Menjamin Ketersediaan Nutrisi.
Hati-hatilah makan makanan mentah atau setengah matang, terutama di daerah yang
sanitasinya buruk. Perlu dicermati juga, makanan mentah tidak selamanya buruk. Yang

harus diperhatikan adalah kebersihan bahan makanan agar makanan dapat kita makan
sesegar mungkin sehingga enzim yang terkandung dalam makanan dapat kita rasakan
manfaatnya. Ulasan saya tentang makanan mentah yang menyehatkan dapat dilihat pada
artikel Diet Sunda ini.
Buanglah kotoran hewan hewan peliharaan kesayangan Anda seperti kucing atau anjing
pada tempat pembuangan khusus
Pencegahan dengan meminum obat anti cacing setiap 6 bulan, terutama bagi Anda yang
risiko tinggi terkena infestasi cacing ini, seperti petani, anak-anak yang sering bermain
pasir, pekerja kebun, dan pekerja tambang (orang-orang yang terlalu sering berhubungan
dengan tanah.

Pengobatan

Penanganan untuk mengatasi infeksi cacing dengan obat-obatan merupakan pilihan yang
dianjurkan. Obat anti cacing Golongan Pirantel Pamoat (Combantrin dan lain-lain)
merupakan anti cacing yang efektif untuk mengatasi sebagian besar infeksi yang
disebabkan parasit cacing.
Intervensi berupa pemberian obat cacing ( obat pirantel pamoat 10 mg / kg BB dan
albendazole 10 mg/kg BB ) dosis tunggal diberikan tiap 6 bulan pada anak SD dapay
mengurangi angka kejadian infeksi ini pada suatu daerah
Paduan yang serasi antara upaya prevensi dan terapi akan memberikan tingkat
keberhasilan yang memuaskan, sehingga infeksi cacing secara perlahan dapat diatasi
secara maksimal, tuntas dan paripurna