Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tanah kohesif adalah tanah yang memiliki ikatan antar butiran yang kuat. Hal
ini terjadi karena ikatan antar muatan yang terdapat disisi butiran sangat kuat. Gaya
yang bekerja antar butiran disebut juga gaya Van Der Waals, yaitu gaya tarik menarik
atau tolak menolak karena perbedaan muatan yang dikandungnya. Salah satu jenis tanah
yang termasuk tanah kohesi adalah tanah lempung. Secara visual tanah lempung
memang memiliki ikatan antar butiran (sifat kohesi) yang besar. Hal ini dapat
dibuktikan secara sederhana, yaitu apabila kita injak tanah lempung, pada umumya
sebagian tanah yang kita injak akan menempel dialas kaki kita.
Apabila tanah yang berbutir halus mengandung mineral lempung, maka tanah
tersebut dapat diremas-remas (remolded) tanpa menimbulkan retakan. Sifat kohesif ini
disebabkan adanya air yang terserap (adsorbed water) di sekeliling partikel lempung.

Konsistensi tanah merupakan kekuatan daya kohesi butir butir tanah atau daya
adhesi butir butir tanah dengan benda ain. Hal ini ditunjukan oleh daya tahan tanah
terhadap gaya yang akan mengubah bentuk. Tanah yang memilki konsistensi yang baik
umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah. Oleh karena tanah
dapat ditemukan dalam keadaan lembab, basah atau kering maka penyifatan konsistensi
tanah harus disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut.
Dalam keadaan lembab, tanah dibedakan ke dalam konsistensi gembur ( mudah
diolah ) sampai teguh ( agak sulit dicangkul). Dalam keadaan kering tanah dibedakan
kedalam konsistensi lunak sampai keras. Dalam keadaan basa dibedakan plastisitasnya
yaitu dari plastis sampai tidak plastis atau kelekatannya yaitu dari tidak lekat sampai
lekat.

Dalam keadaan lembab atau kering konsistensi tanah ditentuka dengan meremas
segumpal tanah. Bila gumpalan tersebut mudah hancur, maka tanah dikatakan
berkonsistensi gembur bila lembab atau lunak bila kering. Bila gumpalan tanah sukar
hancur dengan remasan tersebut tanah dikatakan berkonsistensi teguh (lembab) atau
keras (kering).
Dalam keadaan basah ditentukan mudah tidaknya melekat pada jari (melekat
atau tidak melekat) atau mudah tidaknya membentuk bulatan dan kemampuannya
memprtahankan bentuk tersebut (plastis atau tidak plastis).
B. Tujuan
Untuk mengetahui batas plastis dalam suatu contoh tanah

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Batas plastis (PL) didefinisikan sebagai kadar air (%), dimana tanah apabila
digulung sampai dengan diameter 1/8 in

(3 mm) menjadi retak-retak. Batas ini

merupakan batas terendah dari keplastisan suatu tanah (Das, 1995). Sedangkan menurut
Hardjowigeno (1995), batas plastis merupakan kadar air dimana gulungan tanah mulai
tidak dapat digolek-golekkan lagi. Bila digolek-golekkan tanah akan pecah-pecah ke
segala jurusan.
Bila tanah diaduk dengan air, dengan air lebih banyak daripada bagian tanahnya,
maka sebagian dari bubur ini dapat dialirkan ke bagian lainnya. Tetapi bila air dari
bubur tanah ini diuapkan, maka pada suatu saat bubur ini akan berhenti mengalir. Kadar
air pada keadaan ini disebut batas cair (LL) yang kira-kira sama dengan gaya menahan
air dan merupakan jumlah tertinggi air yang bermanfaat bagi tanaman ( Soedarmo dan
Djojoprawiro, 1988).
Perbedaan antara batas cair dan batas plastisitas suatu tanah dinamakan Indeks
plastisitas ( plasticity index = PI ), dengan rumus :
PI = LL PL.( 1 )
Dimana : PI

= indeks plastisitas ( %)

LL = batas cair (%)


PL = batas plastis (%)
Kriteria Batas plastis serta indeks plastisitas tanah berdasarkan harkat Atterberg
dapat dilihat dalam Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria Batas Cair dan Indeks Plastisitas Tanah

Batas Cair

Indeks Plastisitas

(%)

(%)

rendah

< 20

05

Rendah

20 30

5 10

Sedang

31 45

10 17

Tinggi

46 70

17 30

Sangat tinggi

71 100

30 43

> 43

Kriteria

Sangat

Ekstrim
tinggi

Sumber : Sarief, dkk (2001)


Baver dkk. (1972) menjelaskan lebih lanjut perbedaan antara adhesi dan kohesi
yang menyebabkan plastisitas tanah. Adhesi adalah penarikan fase cair oleh bagian
permukaan fase padat. Molekul-molekul air dapat melekat baik pada permukaan
partikel tanah ataupun pada benda lain yang menempel pada tanah. Kohesi dalam tanah
adalah ikatan di antara partikel-partikel tanah karena adanya kekuatan mengikat di
antara partikel yamg timbul dari mekanisme fisika-kimia. Kekuatan mengikat tersebut
mungkin terjadi pengaruh faktor-faktor sebagai berikut :

1. gaya van der Wall yang berbanding terbalik dengan jarak pangkat tiga dari tiaptiap partikel;
2. gaya tarik elektrostatik di antara permukaan liat yang bermuatan negatif dan
bagian pinggir liat yang bermuatan positif;
3. gabungan partikel tanah melalui jembatan kationik;
4. pengaruh sementasi atau perekatan bahan organik, oksida-oksida alumunium dan
besi, karbonat-karbonat, dan lain-lain; dan
5. tegangan permukaan yang selalu terjadi pada bidang temu antara udara dan air
yang terdapat pada tanah liat dalam keadaan jenuh air.

BAB III
METODELOGI
A. Tempat dan Waktu
Praktikum penentuan kadar air tanah ini dilaksanakan setiap hari kamis
pukul 14.300 selesai, bertempat di Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas
Pertanian, Universitas Sriwijaya, Indralaya.
B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah 1) cawan (5), 2) timbangan
digital, 3) loyang, 4) nampan, 5) penjepit cawan, 6) oven, 7) desikator 8)sprayer,
9) saringan, 10) tempayan
Bahan yang digunakan pada praktikum kadar air ini adalah sampel tanah
terganggu.
C. Cara Kerja
1.
2.
3.
4.
5.

Siapkan alat dan bahan yang digunakan


Keluarkan sampel atau contoh tanah dalam ring sampel
Timbang berta cawan
Hancurkan dan haluskan sampel tanah per lapisan hingga menjadi bubuk
Saring dengan saringan untuk memisahkan antara agregat kasar dan agregat
halus.
6. Sampel tanah yang sudah menjadi serbuk dibasahi air dengan cara disemprotkan
dengan sprayer sampai homogen.
7. Memilin dengan tangan pada plat kaca dengan tekanan yang cukup dengan
diameter 3 mm, pemilinan berhenti dilakukan jika terjadi retakan.
8. Timbang berat basah hasil pilinan tersebut per lapisan.
9. Oven pada suhu 10320C selama , lakukan sampai 3 kali
10. Keluarkan dari oven, lalu dinginkan di desikator selama 15 menit.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Nama sampel

Berat

Berat

Berat

Rata-

cawan

tanah

tanah

rata

(gr)

basah

kering 1

BTK

(gr)

Sampel tanah 1
A1

5,2792

8,70

8,0179

8,0179

A2

5,6442

6,99

6,8937

6,8937

A3

4,1911

6,07

5,8711

5,8711

Sampel tanah 2
A1

5,450

6,87

6,7282

6,7282

A2

5,5760

7,08

6,926

6,926

A3

5,6614

5,42

5,29

5,29

Sampel tanah 3
A1

5,38

6,85

6,5711

6,5711

A2

4,30

5,46

5,195

5,195

A3

5,45

7,23

7,096

7,096

KA ( basis basah) =

x 100%

Sampel tanah 1
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 19,93 %
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 7,15 %
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 10,58 %

Sampel tanah 2
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 9,42 %
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 10,23 %
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= -53,85 %

Sampel tanah 3
( basis basah) =

x 100%

= 18,97 %

x 100%

( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 27,69 %
( basis basah) =
=

x 100%
x 100%

= 7,52 %

B. Pembahasan

Praktikum plastisitas tanah kali ini dimulai dari pengambilan sampel tanah.
Tanah yang dibutuhkan pada praktikum ini adalah tanah terganggu yang telah diambil
dari lahan pertanian Universitas Sriwijaya. Plastisitas merupakan karakteristik tanah
berbutir halus (lempung) yang sangat penting. Pertama tanah dihaluskan terdahulu dan
dipisahkan antara agregat tanah halus dan agregat tanah kasar dengan alat saringan.
Setelah itu dibasahi dengan air menggunakan sprayer sampai homogen. Kemudian,
tanah dipilin tanpa berhenti sampai timbul adanya retakan dengan diameter 3 mm pada
tanah tersebut. Pemilinan dilakukan di atas plat kaca. Alasan kenapa plat kaca
digunakan untuk pemilinan adalah karena permukaan plat kaca lebih rata dan lebih
mempermudahkan kita untuk memilin tanah. Hasil pada sampel tanah 3 memiliki
persentase yang besar. Hal ini dikarenakan beberpa hal, diantaranya adalah sebagai
berikut :
1. Keterlambatan dalam pengovenan, karena laboratorium yang akan digunakan
ternyata dipergunakan oleh praktikan lain yang sedang melakukan praktikum
lain.

2. Keterlambatan dalam menimbang tanah tersebut.


Plastisitas sangat tergantung pada kadar air tanah, semakin besar kadar air maka
akan semakin tinggi pula tingkat plastisitas tanahnya. Pada tanah lempung plastisitas
tanah sangatlah kurang karena ikatan antar partikel tanah yang tidak terlalu baik. Untuk
memperbaiki sifat plastis tanah dapat dilakukan dengan beberapa cara salah satunya
adalah penambahan bahan lain untuk meningkatkan plastisitas. Pada praktikum ini
digunakan metode dangan cara menggulung tanah sampai berbentuk lonjong dengan
diameter 3 mm.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Istilah plastisitas menggambarkan kemampuan tanah untuk berdeformasi pada
volume tetap tanpa terjadi retakan.
2. Apabila tanah yang berbutir halus mengandung mineral lempung, maka tanah
tersebut dapat diremas-remas (remolded) tanpa menimbulkan retakan.

3. Kondisi tanah lempung memiliki sifat kohesif dan plastis, besarnya penurunan
yang terjadi akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan air (permeabilitas) untuk
melewati lapisan tanah lempung yang bersifat kohesif dan plastis tersebut.
4. Batas plastis atau juga disebut dengan Plastic Limit dimana tanah apabila
digulung sampai dengan diameter 0,3 cm menjadi retak-retak. Batas ini
merupakan batas terendah dari kapasitas suatu tanah.
5. Batas plastis merupakan batas terendah dari keplastisan suatu tanah.

B. Saran
Sebaiknya sebelum melakukan praktikum, kita harus mengatur jadwal untuk
menggunakan laboratorium agar pada saat penimbangan atau pengovenan dapat
berjalan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2010.

Konsistensi

Tanah.

[online://http://hmit.lk.ipb.ac.id/2010/07/17/konsistensi/] diakses pada tanggal


11 November 2014
Baver . 1972. Ilmu Tanah. Jakarta : Bharata Karya Aksara .

Davi.

2012.

Laporan

Praktikum

Mekanika

Tanah.

[online://http//dhaviee.blogspot.com/2012/05/laporan-praktikum-mekanikatanah.html] diakses pada tanggal 11 November 2014


Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu-Ilmu Tanah Perguruan Tinggi. Jakarta : Medyatama
Sarana Perkasa.
Olovan.

2011.

Penentuan

Konsistensi

dan

Index

Plastisitas

Tanah.

[online://olovans.wordpress.com/2011/05/01/penentuan-konsistensi-dan-indexplastisitas-tanah/] diakses pada tanggal 11 November 2014

LAMPIRAN

Tahap

pada

dihaluskan

saat

tanah

dibasahi

yang

telah

dengan

air

menggunakan penyemprotan (sprayer)

Tahap pengadukan agar tanah dan air


bercampur hingga homogen

Retakan yang terjadi pada tanah dan


Tahap pemilinan di atas plat kaca

pemilinan dihentikan.