Anda di halaman 1dari 4

Nama : Ahmad Muliansyah

NIM

: 13713045

Prodi

: Teknik Material

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK


MODUL N1 PENENTUAN VOLUME MOLAR PARSIAL
RABU, 29 OKTOBER 2014

1. Volume molar parsial adalah perubahan kenaikan suatu volume larutan baik pelarut
maupun zat terlarut, sehingga penambahan tersebut tidak memengaruhi jumlah
komposisi dalam larutan tersebut. Kenaikan volume tersebut kemudian disebut
dengan volume parsial dari komponen i, atau dapat juga diartikan sebagai
penambahan volume yang terjadi, jika 1 mol suatu komponen ditambahkan kepada
sejumlah besar campuran sehingga tidak mengakibatkan perubahan komposisi dalam
suatu campuran tersebut.
2. Volume molar parsial merupakan fungsi konsentrasi (variabel ekstensif), sedangkan
volume molar spesifik merupakan fungsi posisi waktu (variabel intensif).
3. Volume molar parsial dapat dirumuskan sebagai berikut :
Vm =
dengan Vm adalah volume molar parsial, M adalah massa molar, dan adalah
densitas larutan. Dari persamaan tersebut, maka faktor-faktor yang memengaruhi
volume molar parsial adalah massa molar dan densitas (massa jenis). Hubungannya
adalah volume molar parsial berbanding lurus dengan massa molar dan berbanding
terbalik dengan densitas (massa jenis).
4. a. Variabel intensif adalah variabel termodinamika yang tidak tergantung pada
jumlah materi dalam senyawa. Contoh : tekanan dan temperatur.
b. Variabel ekstensif adalah variabel termodinamika yang tergantung pada jumlah
materi dalam senyawa. Contoh : massa dan panjang.
5.

Pembuktian Persamaan 10, 16, 17, 20, 23, 24, dan 26.
Persamaan 10
Sesuai persaman Gibbs-Duhem: n1 dV 1 n2 dV 2 0 .
Diketahui bahwa x1

n1
n2
; x2
n1 n2
n1 n2

substitusi kedua persamaan di atas menghasilkan

( x1 dV 1 x2 dV 2)(n1 n2) 0 ; maka ( x1 dV 1 x 2 dV 2) = 0

x1 dV 1 x 2 dV 2
; karena x1 x2 0 ,maka dV 1

x 2 dV 2
dV 1
x1

x 2 dV 2
(10)
( x 2 1)

Persamaan 16

d
d d n2
1
d

.
dn2 d n2 dn2
2 n2 d n2

d d

n2

n2

d
d n2

dn2
n2

(a)

Substitusi pers. (a) ke pers 14 :

V2

n2 d
3 n2 d

...........(16)
2 d n2 n1
2 d n2 n1

Persamaan 17

V n1 V 1 n 2

V1

1
V n2V 2 1 n1V 1 n2 n2 n2V 2 1 n1V 1 n2V 2
n1
n1
n1
d

dn 2

Karena V 2 n 2

maka persamaan di atas menjadi : V 1

1
d

n 2 d
V1

n
1V 1 n 2 n 2
dn2
n1
n1 dn2

jika pelarutnya berupa air (n1 =55,51) maka persamaannya menjadi

V 1 V 1

d
n 2 d
n2

V 1
55,51 dn2
55,51.2 n 2 d n 2

V 1 V 1

d
n2

..........
...(17)
55,51.2 d n 2

3/ 2

Persamaan 20

V n1V 1 n2V 2
Jika pelarutnya berupa air dengan molalitas m makadalam 1000 gram pelarut akan
mengandung m mol zat terlarut dan 55,51 mol air, sehingga

V 55,51V 1 mV 2 (20)

Persamaan 23

Volume total larutan, V =

massa total larutan


rapat massa larutan (d)

Jika pelarut yang digunakan adalah air dengan konsentrasi larutan m molal, maka

1000 mV 2
d

3
cm ..(23)

Persamaan 24
Volume molar suatu pelarut sama dengan perkalian volume molar parsial pelarut murni V1o
dengan mol pelarut n1
Volume parsial pelarut sama dengan massa pelarut dibagi rapat massa pelarut do, maka

n1V 1

1000 3
cm .(24)
do

Persamaan 26

1
1000 d do
m2

d
m do

karena dalam percobaan menggunakan piknometer yang sama, maka volume yang
digunakan untuk mengukur rapat massa adalah sama. Dan selisih antara rapat massa sama
dengan selisih massa dibagi volume:

d do

w we wo we dan do wo we
V

d do w we wo we w wo

wo we
wo we
do
dan karena

1
1000 d do
m2

maka;

d
m do

1
1000 w wo
(26)

m 2
d
m wo we