Anda di halaman 1dari 3

ADAPTASI SEL

Sel mempertahankan homeostasis normalnya. Ketika stress fisiologis / rangsang patologis, sel bisa
beradaptasi mencapai kondisi baru dan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sel harus secara
konstan beradaptasi terhadap perubahan di lingkungannya
Adaptasi sel ada 2 jenis :

Adaptasi fisologis
Respon sel terhadap rangsangan normal oleh hormon atau mediator kimiawi endogen.
Contoh : pembesaran otot atlet yang dilatih setiap hari. Dan pembesaran payudara karena
kehamilan.

Adaptasi patologik
Respon sel untuk mengatur lingkungannya dan idealnya melepaskan diri dari cedera.

Adaptasi selular yaitu keadaan diantara kondisi normal, antara sel yang tidak stress dengan sel yang
cedera stress berlebihan. Respon adaptif selular dapat terjadi di setiap tahap, termasuk ikatan
reseptor, transduksi sinyal, transkripsi translasi, dan eskpor protein.
Perubahan adaptif dalam pertumbuhan dan diferensiasi sel yang sangat penting dalam kondisi
patologi yaitu :

Atrofi (pengurangan ukuran sel)

Hipertrofi (penambahan ukuran sel)

Hiperplasia (penambahan jumlah sel)

Metaplasia (perubahan tipe sel)

ATROFI
Adalah pengerutan ukuran sel disertai dengan hilangnya substansi sel. Contohnya, otak mns
berusia 82 thn dg otak mns berusia 25 thn. Sel atrofi tidak mati, hanya mengalami penurunan
fungsi.
Penyebab Atrofi

Berkurangnya beban kerja.


Con : saat luka, terjadi imobilitas anggota gerak
Hilangnya persyarafan
Nutrisi yang tidak adekuat
Hilangnya rangsangan endokrin
Berkurangnya suplai darah
Penuaan

Perubahan tsb menggambarkan kemunduran sel menjadi berukuran lebih kecil, tapi masih
memungkinkan untuk bertahan hidup. Keseimbangan bisa dicapai antara ukuran sel dengan
berkurangnya suplai darah, nutrisi dan stimulasi trofik. Mekanisme biokimiawi yang mendasari
teerjadinya atrofi bervariasi. Tetapi akhirnya mempengaruhikeseimbangan antara sintesis dan
degradasi. Sintesis, katabolisme atau keduanya akan mengakibatkan terjadinya ATROFI.
Dalam perjalananya menjadi atrofi, sel harusmengabsorpsi sebagian unsurnya. Hal ini
meliputi autofagositosis atau autofagi (memakan diri sendiri). Bagian-bagian yang mencerna enzim
pada sel terdapat di dalam vakuola sitoplasma. Bila organel sitoplasma rusak, organel tersebut
diasingkan di dalam vakuola sitoplasma dan dicernakan secara enzimatis.
Proses pencernaan cenderung meninggalkan bekas zat sisa yang tidak dapat dicerna, yang
sedikit demi sedikit tertimbun di dalam sel. Sejalan dengan sel yang semakin tua, sel tersebut
mengakumulasikan pigmen intrasitoplasma yang semkin lama semakin banyak, disebut sebagai
Lifusin, pigmen penuaan atau pigmen aus-robek. Sewaktu sel mengalami atrofi, lifopusin menjadi
lebih pekat karena meningkatnya aktifitas autafagositik.

HIPERTROFI
Adalah penambahan ukuran sel sehingga menyebabkan penambahan ukuran organ.Pada
hipertrofi murni, tidak ada penambahan jumlah sel, hanya sel yang membesar. Dikarenakan
adanya sintesis organella dan protrin struktural
Jenis Hipertrofi

Hipertrofi fisiologi.
seorang yang gemar angkat beban mengembangkan reaksi fisik hanya dgn hipertrofi otot skelet
dan peningkatan beban kerja.
Hipertrofi Patologi
Pembesaran jantung akibat hipertensi / penyakit katup aorta.

Sel otot jantung maupun sel otot rangka dapat mengalami hipertrofi akibat respon terhadap
peningkatan kebutuhan sel. Karena pada orang dewasa sel tersebut tidak tidak dapat membelah
lagi. Akibatnya terjadi sintesis protein dan mikrofilamen yang lebih banyak di tiap sel sehingga
tercapai keseimbangan antara kebutuhan dan kapasitas fungsional sel. Hal ini mengakibatkan
peningkatan beban kerja dengan tingkat aktifitas metabolik per unit volume sel yang tidak berbeda
dari sel normal. Tidak semua perubahan adaptif tersebut bersifat jinak. Dapat juga mengakibatkan
perubahan dramatis pada fenotip selular. Ex:hamil . Mekanisme pengatur hipertrofi jantung
melibatkan 2 sinyal:

Pemicu mekanis : regangan


Pemicu trofik : aktifasi reseptor -adrenergik

Mekanisme hipertrofi, akan tercapai suatu batas yang pembesaran massa ototnya tidak lagi
dapat melakukan kompensasi untuk peningkatan beban. Contoh : pada kasus jantung akan
mengalami gagal jantung,