Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (2014)

SUHU TUBUH MANUSIA


SARAH NURAININA, 1512100032
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: srhnrnina@gmail.com

Abstrak Suhu tubuh didefinisikan sebagai salah satu tanda


vital yang menggambarkan status kesehatan seseorang. Suhu
tubuh juga merupakan keadaan seimbang antara proses
pembentukan panas tubuh dan proses kehilangan panas yang
disebabkan oleh berbagai faktor. Manusia dengan kondisi
normal memiliki suhu berkisar antara 36C - 37C. Praktikum
ini bertujuan untuk mempraktekkan penggunaan termometer
klinis dan juga mengetahui suhu tubuh manusia dengan
berbagai faktor yang mempengaruhi. Praktikum dilakukan
dengan menggunakan 1 probandus laki-laki dan 2 orang
probandus perempuan dengan berat tertinggi dan terendah,
lalu diukur suhu tubuhnya dengan termometer klinis pada saat
relaks, bernafas dengan mulut terbuka, dengan muut tertutup,
setelah beraktivitas dan setelah berkumur air es dengan
kondisi suhu ruang normal dan ruang rendah. Hasilnya
diketahui bahwa suhu normal rata-rata manusia berkisar
antara 36C - 37C, suhu dipengaruhi oleh jenis kelamin, berat
badan, aktivitas dan juga lingkungan.
Kata Kunci aktivitas, berat badan, faktor, jenis kelamin,
suhu.

I. PENDAHULUAN

UHU tubuh merupakan keadaan seimbang antara proses


pembentukan panas tubuh dengan proses kehilangan
panas yang disebabkan oleh berbagai faktor. Adanya
mekanisme perubahan suhu dapat disebabkan oleh radiasi,
konveksi, konduksi dan adanya evaporasi. Konduksi
merupakan perubahan panas tubuh karena kontak dengan
suatu benda. Konveksi adalah transfer panas akibat adanya
gerakan udara atau cairan melalui permukaan tubuh. Radiasi
dapat mentransfer panas antar obyek yang tidak kontak
langsung. Sebagai contoh, radiasi sinar matahari. Sedangkan
evaporasi proses kehilangan panas dari permukaan cairan
yang ditranformasikan dalam bentuk gas [1]. Selain dari
mekanisme-mekanisme tersebut, suhu juga dipengaruhi oleh
faktor lain, yaitu usia, aktivitas, hormon, irama sirkadian,
lingkungan dan stress [2]. Pengukuran suhu tubuh manusia
dapat dilakukan pada berbagai titik, contohnya yaitu pada
fossa axillaris atau ketiak, di bawah lidah, pada pangkal
auditory canal, di antara leher dan dagu dengan cara dijepit,
dan dapat juga diukur di bagian rektum. Pengukuran suhu di
bagian rectum merupakan pengukuran yang paling tepat
namun sulit untuk melakukanyya dan hasilnya tidak statis
sehingga pengukuran suhu tubuh lebih sering dilakukan
pada daerah aksial tubuh [3]. Seperti pengukuran suhu pada
umumnya, alat bantu ukur yang digunakan adalah
termometer. Untuk suu tubuh manusia, yang dgunakan
adalah termometer klinis digital karena dapat memastikan
suhu yang dihasilkan tubuh dengan lebih baik dan pada
termometer klinis digital terdapat penanda suara yang
memudahkan pengamat untuk mengetahui suhu tubuh orang
yang diukur suhu tubuhnya [2].

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mempraktekkan


penggunaan termometer klinis dan juga untuk mengetahui
suhu tubuh manusia dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi.
II. METODOLOGI
A. Waktu dan Lokasi Studi
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Botani dan
ruang H-307 Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Biologi, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Sukolilo Surabaya ITS pada
tanggal 20 Oktober 2014.
B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum
ini yaitu termometer raksa, termometer klinis, termometer
auriculaire, probandus laki-laki dan 2 probandus perempuan
dengan berat tertinggi dan berat terendah, alkohol 70%,
tissue dan es batu.
C. Cara Kerja
Satu probandus laki-laki dan dua probandus perempuan
dengan berat tertinggi dan berat terendah ditimbang berat
badannya. Suhu ruangan dihitung dengan termometer raksa
dan dicatat suhunya. Lalu ketiga probandus ditidurkan
terlentang dengan posisi relaks dan selanjutnya diukur
suhunya dengan termometer klinis di bagian fossa axillaris
yang sudah dibersihkan, ditunggu hingga termometer
berbunyi dan dicatat suhunya. Termometer dikalibrasi dan
dibersihkan dengan alkohol dan tissue. Setelah itu ketiga
probandus didudukkan dengan posisi relaks dan diukur
suhunya dengan termometer klinis di bagian bawah lidah
dalam kondisi mulut tertutup lalu ditunggu hingga
termometer berbunyi dan dicatat hasilnya. Langkah
selanjutnya yaitu diukur suhu ketiga probandus dalam
keadaan bernafas dengan mulut terbuka menggunakan
termometer auriculaire pada bagian pangkal auditory canal,
dicatat suhu hasilnya. Selanjutnya, ketiga probandus
diharuskan untuk melakukan aktivitas olahraga selama 5
menit atau hingga berkeringat dan terasa lelah, lalu diukur
suhu tubuhnya dengan termometer klinis pada bagian bawah
lidah dan dicatat hasilnya. Termometer lalu dibersihkan lagi
dengan alcohol dan tissue dan dikalibrasi. Setelah itu, es
batu yang sudah disiapkan dikulum oleh ketiga probandus
hingga es batu habis, setelah itu dihitung lagi suhu tubuh
probandus dengan termometer klinis di bagian bawah lidah
dan dicatat suhu saat termometer berbunyi pertama lalu
ditunggu lagi hingga termometer berbunyi yang kedua.
Langkah kerja ini diulangi pada suhu ruang rendah

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (2014)


(menggunakan air conditioner) lalu dibandingkan hasil
antara kelompok 9 dan kelompok 10.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Proban
dus

Suhu Probandus (C) dalam Suhu Normal


1

Fahmi
(64kg)
Ditha
(68kg)
Vita
(39kg)
Hilman
(60kg)
Erma
(57kg)
Niki
(37kg)

4
(1)

(2)

35.6

37

36.9

36.9

32.2

36.2

35.3

36.8

36.5

36.5

32.8

36

36.5

37

36.9

37.5

33

36.2

36.3

36.6

36.4

36.9

34.2

34.6

36.3

36.8

36.7

37.3

35.2

36.4

36.2

36.9

37

37

35.5

36.4

penurun suhu. Namun keadaan penurunan suhu ini tidak


berangsur lama karena efek dari es batu yang berangsurangsur berkurang.
Pada tabel pengukuran suhu di ruang dengan suhu rendah
(26C) , saat dilakukan pengukuran suhu pertama sudah
dapat dilihat adanya penurunan suhu tubuh probandus. Hal
ini dikarenakan adanya faktor lingkungan dari ruangan yang
menjadikan tubuh beradaptasi dan melakukan aklimatisasi
terhadap kondisi ruangan tersebut sehingga suhu tubuh
cenderung menurun. Sama halnya seperti pada saat di
ruangan dengan suhu normal, pada perhitungan di suhu
rendah pun tetap terjadi penambahan anas tubuh yang
tercatat setelah probandus melakukan aktivitas olahraga
dikarenakan adanya metabolism yang lebih cepat pada tubuh
sehingga dikeluarkan panas. Pada prosedur kelima juga
didapatkan data terjadinya penurunan suhu karena efek es
batu yang mendinginkan sehingga menurunkan suhu tubuh.
Dan karena dilakukan pada ruang dengan suhu rendah, maka
suhu yang tercatat juga lebih rendah dari suhu yang tercatat
pada saat di ruangan dengan suhu normal karena adanya
faktor lingungan yang juga ikut andil.

Berat Badan (Suhu Normal)

Tabel 1. Hasil pengukuran suhu pada tiap prosedur pada


suhu normal.

38
36
34
32

Proban
dus

Suhu Probandus (C) dalam Suhu Rendah

Fahmi
(64kg)
Ditha
(68kg)
Vita
(39kg)
Hilman
(60kg)
Erma
(57kg)
Niki
(37kg)

30

Ditha (68kg)

(1)

(2)

35.3

37.1

36.1

36.8

33.4

33.6

35.9

36.5

36.2

37

35.9

36.1

36

36.7

37

37.1

34.9

35.5

35.5

37

36.4

37.5

33.3

34.1

36

36.8

36.7

36.8

34.6

35.2

35.8

37

36.5

37.2

32.7

33.6

5 (1)

5 (2)

Vita (39kg)

Grafik 1. Hasil perbandingan suhu pada tiap prosedur di suhu


normal dengan perbandingan berat badan.

Berat Badan (Suhu Rendah)


38
37
36
35
34
33
1

Ditha (68kg)

Tabel 2. Hasil pengukuran suhu pada tiap prosedur pada


suhu rendah.

Dari tabel, dapat kita lihat bahwa pada suhu ruang normal
sebesar 29,5C suhu semua probandus rata-rata berada di
kisaran suhu normal manusia yaitu sekitar 36-37C. Lalu
jika dilihat lagi pada prosedur 4 dimana semua probandus
melakukan aktivitas olahraga, suhu tubuh semua probandus
mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan adanya aktivitas
yang cukup keras sehingga metabolisme tubuh lebih cepat
dan menghasilkan panas. Pada prosedur kelima dimana
probandus diharuskan memakan es batu, suhu tubuh
mengalami penurunan. Penurunan ini dikarenakan adanya
faktor yang sengaja diinduksikan yaitu es batu sebagai

5 (1)

5 (2)

Vita (39kg)

Grafik 2. Hasil perbandingan suhu pada tiap prosedur di suhu


rendah dengan perbandingan berat badan.

Dari grafik di atas dapat dilihat pada grafik suhu pada


suhu rungan normal, probandus Vita memiliki kisaran suhu
yang lebih tinggi daripada Ditha. Begitu pula pada saat
pengukuran di suhu rendah, suhu tubuh Vita relatif lebih
tinggi dibanding Ditha. Suhu tubuh Ditha lebih tinggi hanya
pada saat perhitungan setelah memakan es batu. Menurut
[4], ukuran tubuh mempengaruhi suhu tubuh seseorang.
Pada orag yang bertubuh relatif lebih kecil, akan lebih
mudah untuk orang tersebut menyerap panas dan juga
kehilangan panas karena pada orang yang bertubuh lebih
kecil atau kurus memiliki area permukaan yang lebih besar
dibandingkan dengan rasio volume tubuhnya. Orang yang

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (2014)


lebih kecil akan mudah menangkap atau menyimpan panas
karena lebih luasnya daerah permukaan untuk mendapatkan
panas dibandingkan dengan volume tubuh yang dapat
menyimpan panas tersebut. Sedangkan pada orang yang
lebih besar atau lebih tinggi berat badannya, perbandingan
antara luas area permukaan penyerapan dengan rasio volume
tubuhnya kecil, sehingga orang yang lebih gemuk akan sulit
mendapatkan panas dan sulit pula untuk melepaskan panas
dari tubuhnya karena volume tubuhnya yang luas dapat
meyimpan panas tersebut. Dimungkinkan hasil grafik ini
sesuai dengan literatur, karena prosedur memakan es batu
dilakukan setelah adanya prosedur untuk beraktivitas
olahraga dimana panas yang didapatkan Ditha pada saat
berolahraga belum dapat dilepaskan karena volume tubuh
yang lebih dapat enyimpan panas dibanding dengan Vita
yang luas tubuhnya lebih besar daripada rasio volume
tubuhnya sehingga ia dengan mudah dapat kehilangan panas
yang dihasilkan saat melakukan aktivitas olahraga.

Jenis Kelamin (Suhu Normal)


38
36
34
32
1

Hilman (60kg)

5 (1)

5 (2)

Erma (57kg)2

Grafik 3. Hasil perbandingan suhu pada tiap prosedur di suhu


normal dengan perbandingan jenis kelamin.

Jenis Kelamin (Suhu Rendah)


38
36
34
32
30
1

Hilman (60kg)

5 (1)

5 (2)

Erma (57kg)

Grafik 4. Hasil perbandingan suhu pada tiap prosedur di suhu


normal dengan perbandingan jenis kelamin.

Dari grafik di atas terlihat pada perhitungan di suhu


ruangan normal, suhu tubuh Erma selalu lebih besar
dibanding suhu tubuh Hilman. Sedangkan pada pengukuran
di suhu ruangan yang rendah, suhu tubuh Hilman lebih
tinggi daripada Erma pada prosedur pengukuran dengan
mulut tertutup dan setelah beraktivitas. Menurut [2] dan [5],
suhu laki-laki lebih besar dibading suhu perempuan karena
metabolisme yang lebih tinggi dan adanya homon kelamin
pria yang meningkatkan 10-15% kecepatan normal
sehingga diproduksi panas tubuh yang lebih dibandingkan
dengan perempuan, namun fluktuasi suhu yang terjadi pada
perempuan lebih besar dibandingkan dengan fluktuasi suhu
pada laki-laki karena pada perempuan pengaruh hormon

progesteron yang ada pada saat ovulasi. Pengaruh hormon


ini dapat menyebabkan adanya peningkatan suhu sebesar
0,3-0,6C. Dari hasil grafik di atas, diindikasikan probandus
perempuan (Erma) mengalami fluktuasi suhu diakibatkan
hormone progesterone yang aktif atau dimunginkan juga
karena adanya faktor lain yang tidak berhubungan dengan
jeis kelamin atau hormon, seperti stress atau faktor
lingkungan lain.
Pertama dilakukan pengukuran berat badan pada masingmasing probandus untuk mengetahui beratnya karena berat
mempengaruhi suhu tubuh [4]. Setelah itu dilakukan
pengukuran suhu pada ruangan yang saat itu berkisar antara
29,5C untuk mengetahui apakah lingkungan dapat menjadi
faktor yang merubah suhu. Perlakuan pertama yaitu
pengukuran suhu tubuh saat relaks (tidur terlentang) di
bagian fossa axillaris, hal ini bertujuan untuk mengetahui
suhu tubuh dalam kondisi normal karena aktivitas
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi suhu
manusia [1] dan selain itu juga untuk mencoba menghitung
suhu di bagian ketiak. Pada prosedur ini suhu normalnya
berkisar antara 36-37C karena sesuai dengan kondisi tubuh
normal manusia. Suhu tubuh yang kurang dari suhu normal
dapat diindikasikan karena adanya faktor lain yang
mempengaruhi seperti faktor dari lingkungan, jenis kelamin
atau irama sirkadian dari probandus sendiri [2]. Lalu
termometer dibersihkan dengan alkohol untuk alasan
kebersihan dan kesterilan.
Setelah itu prosedur kedua yaitu pengukuran suhu di
bagian bawah mulut untuk mengetahui perbedaannya
dengan pengukuran di ketiak. Setelah itu suhu tubuh juga
dihitung sengan termometer auriculaire yang memang
khusus digunakan untuk mengukur suhu tubuh di bagian
pangkal auditory canal dan pengukurannya sangat cepat
sehingga termometer ini umum digunakan untuk mengukur
suhu bayi atau balita [5]. Pengukuran prosedur ketiga
dilakukan pada posisi saat probandus bernafas dengan
dengan mulut terbuka yaitu untuk mengetahui apakah suhu
badan memiliki hubungan dengan mekanisme pernafasan.
Pada prosedur keempat, probandus melakukan aktivitas
olahraga seperti lari dan push-up agar dapat dibandingkan
respon suhu yang terjadi bila terdapat faktor yang merubah
suhu tubuh [2]. Setelah dicatat hasilnya, termometer klinis
dibersihkan dengan alcohol untuk sterilisasi karena
pengukuran dilakukan di bawah lidah. Prosedur terakhir
yaitu probandus memakan es batu sebelum dilakukan
pengukuran. Hal ini dilakukan sebagai pembanding agar
dapat diketahui apakah prosedur tersebut dapat merubah
suhu yang dihasilkan saat pengukuran dan menjadi faktor
yang dapat merubah suhu. Pencatatan suhu pada prosedur
kelima dilakukan 2 kali yaitu saat bunyi pertama atau suhu
awal dan saat bunyi kedua atau suhu akhirnya. Semua
prosedur dilakukan lagi untuk kondisi ruang dengan suhu
rendah (26C).Setelah mendapat semua data suhu pada
masing-masing probandus, data dari kelompok 9 dan 10
dibandingkan untuk mengetahui kesesuaian data dengan
literature yang ada dan sebagai data total percobaan yang
dilakukan.
Pada mekanisme pengaturan suhu pada tubuh, kelenjar
yang memepengaruhi adalah kelenjar hipotalamus.
Hipotalamus anterior (AH/POA) berperanan meningkatkan
hilangnya panas, vasodilatasi dan menimbulkan keringat.
Hipotalamus posterior (PH/ POA) berfungsi meningkatkan
penyimpanan panas, menurunkan aliran darah, piloerektil,
menggigil, meningkatnya produksi panas, meningkatkan

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (2014)


sekresi hormon tiroid dan mensekresi epinephrine dan
norepinephrine serta meningkatkan rata-rata metabolisma
basal [6]. Jika terjadi penurunan suhu tubuh inti, maka akan
terjadi
mekanisme
homeostasis
yang
membantu
memproduksi panas melalui mekanisme feedback negatif
untuk dapat meningkatkan suhu tubuh ke arah normal [6].
Termoreseptor di kulit dan hipotalamus mengirimkan
impuls saraf ke area preoptic dan pusat peningkata panas di
hipotalamus, serta sel neurosekretory hipotalamus yang
menghasilkan hormon TRH (Thyrotropin Releasing
Hormone) sebagai tanggapan.hipotalamus menyalurkan
impuls saraf dan mensekresi TRH, yang sebaliknya
merangsang Thyrotroph di kelenjar pituitary anterior untuk
melepaskan TSH (Thyroid Stimulating Hormone). Impuls
saraf di hipotalamus dan TSH kemudian mengaktifkan
organ efektor. Berbagai organ efektor akan berupaya untuk
meningkatkan suhu tubuh untuk mencapai nilai normal,
Diantaranya seperti impuls saraf dari pusat peningkatan
panas merangsang saraf simpatis yang menyebabkan
pembuluh darah kulit akan mengalami vasokonstriksi yang
akan menurunkan aliran darah hangat, sehingga terjadi
perpindahan panas dari organ internal ke kulit.
Melambatnya kecepatan hilangnya panas menyebabkan
temperatur tubuh internal meningkatkan reaksi metabolis
melanjutkan untuk produksi panas; impuls saraf di nervus
simpatis menyebabkan medula adrenal merangsang
pelepasan epinephrine dan norepinephrine ke dalam darah.
Hormon
sebaliknya,
menghasilkan
peningkatan
metabolisme selular, dimana meningkatkan produksi panas;
pusat peningkatan panas merangsang bagian otak yang
meningkatkan tonus otot dan memproduksi panas. Tonus
otot akan meningkat, dan terjadi siklus yang berulang-ulang
yang disebut menggigil. Selama menggigil maksimum,
produksi panas tubuh dapat meningkat 4 kali dari basal rate
hanya dalam waktu beberapa menit; kelenjar tiroid
memberikan reaksi terhadap TSH dengan melepaskan
hormon tiroid secara lebih kedalam darah. Peningkatan
kadar hormon tiroid ini perlahan-lahan akan meningkatkan
tingkat metabolisme, dan peningkatan suhu tubuh. Jika suhu
tubuh meningkat diatas normal maka putaran mekanisme
feedback negatif berlawanan dengan yang telah disebutkan
diatas. Tingginya suhu darah akan merangsang
termoreseptor, impuls saraf dari pusat penurun panas
menyebabkan dilatasi pembuluh darah di kulit dan kulit
menjadi hangat, dan kelebihan panas hilang ke lingkungan
melalui radiasi dan konduksi bersamaan dengan peningkatan
volume aliran darah dari inti yang lebih hangat ke kulit yang
lebih dingin. Pada waktu yang bersamaan, metabolisme
berkurang, dan tidak terjadi menggigil. Tingginya suhu
darah merangsang kelenjar keringat kulit melalui aktivasi
syaraf simpatis hipotalamik. Saat air menguap melalui
permukaan kulit, kulit menjadi lebih dingin. Respon ini
melawan efek penghasil panas dan membantu
mengembalikan suhu tubuh kembali normal [6].
Termoregulasi adalah proses fisiologis yang merupakan
kegiatan integrasi dan koordinasi yang digunakan secara
aktif untuk mempertahankan suhu inti tubuh melawan
perubahan suhu dingin atau hangat [6]. Sedangkan
homeostasis adalah adanya usaha mempertahankan kondisi
fisik dan kimia yang relative konstan dalam lingkungan sel
organisme menurut batas-batas fisiologis. Persyaratan kimia
untuk mempertahankan kondisi yang konstan meliputi
volume air yang mencukupi dan oksigen yang mecukupi [5].

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan suhu


menurut [2], [5] dan [7], yaitu:
1. Irama Sirkadian
Suhu tubuh bervariasi pada siang dan malam hari. Suhu
terendah manusia yang tidur pada malam hari dan bangun
sepanjang siang terjadi pada awal pagi dan tertinggi pada
awal malam.
2. Berat badan
Semakin kecil ukuran badan seseorang akan lebih mudah
untuk mendapat dan mengeluarkan panas dari tubuhnya
karena luas permukaan yang lebih besar disbanding rasio
volume tubuh.
3. Jenis kelamin
Sesuai dengan kegiatan metabolisme, suhu tubuh pria
lebih tinggi daripada wanita. Suhu tubuh wanita
dipengaruhi daur haid. Pada saat ovulasi, suhu tubuh
wanita pada pagi hari saat bangun meningkat 0,3-0,5C
4. Lingkungan
Suhu lingkungan yang tinggi akan meningkatkan suhu
tubuh. Udara lingkungan yang lembab juga akan
meningkatkan suhu tubuh karena menyebabkan hambatan
penguapan keringat, sehingga panas tertahan di dalam
tubuh.
5. Usia
Pada saat lahir, mekanisme kontrol suhu masih imatur.
Produksi panas meningkat seiring dengan pertumbuhan
bayi memasuki masa anak-anak. regulasi suhu
akan normal setelah anak mencapai pubertas. Lansia
sensitif terhadap suhu yang ekstrem akibat turunnya
mekanisme kontrol suhu.
6. Olahraga
Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan
metabolisme lemak dan karbohidrat.
7. Kadar Hormon
Penjelasan hormon hamper sama denganpenjelasan faktor
jenis keamin karena adanya hormone progesteron paa
perempuan, dan hormon kelamin pria pada laki-laki.
Selain itu juga terdapat hormon pertumbuhan yang
menyebabkan peningkatan suhu.
8. Stress
Stress fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui
stimulasi hormonal dan persyarafan.
Tubuh mendapatkan panas dari proses metabolisme basal
yang etrjadi di dalam tubuh. Sedangkan untuk mekanisme
kehilangan panas, pada tubuh dapat terjadi mekanisme
radiasi, konveksi, konduksi dan juga evaporasi. Konduksi
merupakan perubahan panas tubuh karena kontak dengan
suatu benda. Konveksi adalah transfer panas akibat adanya
gerakan udara atau cairan melalui permukaan tubuh. Radiasi
dapat mentransfer panas antar obyek yang tidak kontak
langsung. Sebagai contoh, radiasi sinar matahari. Sedangkan
evaporasi proses kehilangan panas dari permukaan cairan
yang ditranformasikan dalam bentuk gas [1].
IV.

KESIMPULAN

Dari hasil studi tentang suhu tubuh manusia dapat


disimpulkan bahwa suhu tubuh normal berkisar antara 3637C dan perubahan suhu dapat disebabkan oleh berbagai
faktor yaitu jenis kelamin, berat badan, aktivitas dan
lingkungan. Selain itu perubahan suhu juga disebabkan oleh
hormon, variasi diurnal atau irama sirkadian, stress dan juga
usia.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (2014)

DAFTAR PUSTAKA
[1] E.P. Kurniawan, R. Hantoro, G. Nugroho, Pengaruh
Jarak Antar Dinding terhadap Distribusi Temperatur
pada Inkubator Bayi Berdinding Ganda, Jurnal Teknik
Pomits, Vol. 2, No. 1, (2013).
[2] E. Sloane, Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula,
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC (2004).
[3] A. Davie, J. Amoore, Best Practice in The
Measurement of Body Temperature, Nursing Standard,
24(42), 42-49 (2010).
[4] J.G. Kingsolver, R.B. Huey, Size, Temperature, and
Fitness : Three Rules, Evolutionary Ecology Research,
Vol. 10 (2008): 251268.
[5] S.H. Koplewich, Penyakit Anak Diagnosa dan
Penanganannya. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher
(2005).
[6] Sunardi, Kontrol Persyarafan Terhadap Suhu Tubuh,
(2008).
[7] M. Uliyah, A. A. A. Hidayat, Ketrampilan Dasar
Praktik Klinik Kebidanan, Edisi 2. Jakarta : Penerbit
Salemba Medika (2008).

LAMPIRAN
No.
1.

2.

3.

Perlakuan
Probandus tidur
terlentang dan dalam
posisi relaks lalu
diukur suhu tubuhnya
dengan termometer
klinis yang diletakkan
di bagian fossa
axillaris dan dicatat
hasil perhitungannya.
Probandus duduk
dengan relaks dan
diukur suhunya
dengan termometer
klinis yang diletakkan
di bagian bawah lidah
dan dicatat hasilnya.

Probandus diukur suhu


tubuhnya dengan
termometer
auriculaire/auricle di
bagian pangkal
auditory canal dan
dicatat hasilnya.

Foto

4.

Probandus diukur suhu


tubuhnya dengan
termometer klinis
setelah melakukan
aktivitas olahraga dan
dicatat hasilnya.

5.

Probandus diukur suhu


tubuhnya dengan
termometer klinis
setelah memakan es
batu dan dicatat
perhitungan suhunya.