Anda di halaman 1dari 16

Hari, Tanggal : Rabu, 08 Oktober 2014

Waktu

: 09.30 12.00

Kelompok

: 5 pagi

Dosen

: Drh. Dudung Abdullah SM

Laporan Praktikum Ilmu Bedah Khusus Veteriner 1

KASTRASI
Oleh:
1.

Alamsah Firdaus

B04110033

Operator

2.

Gina Melisa Sitorus

B04110034

Asisten operator

3.

Rahajeng Harnastiti

B04110035

Asisten umum 2

4.

Faris Makawaru S

B04110036

Asisten nadi dan napas

5.

Wuri Wulandari

B04110037

Asisten suhu dan anestesi

6.

Prista Ayu Nurjanah

B04110041

Asisten umum 1

DIVISI BEDAH DAN RADIOLOGI


DEPARTEMEN KLINIK REPRODUKSI DAN PATOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Reproduksi merupakan proses alamiah yang memegang penanan
penting dalam menjaga mahluk hidup di muka bumi. Organ reproduksi pada
jantan secara umum terdiri dari testis sebagai orang kelamin primer,
epididimis, duktus deferens, glandula aksesoris, dan penis sebagai alat
kelamin luar. Secara fisiologis organ reprosuksi jantan berfungsi sebagai
kelenjar endokrin dan eksokrin. Sebagai kelenjar endokrin, organ reprosuksi
jantan memproduksi hormone testosteron, sedangkan sebagai kelenjar
eksokrin memproduksi sperma (Friyadi 2001).
Pada kenyataannya, fungsi organ reproduksi pada jantan tidak selalu
normal. Terdapat beberapa kelainan yang dapat terjadi pada organ
reproduksi jantan. Kelainan pada organ reproduksi jantan yang sering
ditemukan diantaranya tumor, cryptorrkit, infeksi virus, dan lain sebagainya.
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut salah
satunya dengan tindakan bedah, yaitu kastrasi (Ward 2012)
Sebagian besar, hewan yang sering dilakukan tindakan kastrasi
adalah kucing. Umumnya kucing yang dikastrasi berumur 6-11 bulan,
sebelum memasuki masa puber. Hal ini dilakukan untuk mencegah
penyimpangan perilaku (Smith dan Soesanto 1987). Selain itu keuntungan
kastrasi yaitu untuk mengontrol populasi. Hal tersebut dilkukan guna
mencegah penyebaran penyakit yang dapat ditularkan oleh hewan
(McKenzie 2010).

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk melatih mahasiswa dalam melakukan
prosedur dalam melakukan kastrasi yang benar dan aseptis.sebagai salah
satu prosedur untuk menangani kasus-kasus pada alat reproduksi jantan.

MATERIAL DAN METODE


2.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu seperangkat alat
bedah minor (4 buah towel clamp, 2 buah pinset anatomis, 2 buah pinset
sirurgis, 1 buah pinset scalpel dan blade, 1 buah gunting lurus tajam-tajam,1
buah gunting lurus tajam-tumpul, 1 buah gunting tumpul-tumpul, 1 buah
gunting bengkok, 4 buah tang arteri anatomis lurus, 4 buah tang arteri
sirurgis bengkok, 2 tang arteri lurus sirurgis,dan 1 buah needle holder).
Perlengkapan operator dan asisten (2 buah penutup kepala, 2 buah masker,
2 buah sikat, 2 buah handuk, 2 pasang sarung tangan, dan 2 buah baju

bedah), autoklaf, kain duk, tali restraint, meja operasi, lampu operasi,
stetoskop, timbangan, thermometer, stopwatch, spoit 1 ml dan 3 ml,
pencukur rambut, tampon, kapas, dan jarum penampang segitiga diameter
lingkaran.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini, yaitu seekor kucing
jantan, alkohol 70%, betadine, dan benang cutgut, premedikasi (Atropin
sulfa dengan dosis 0,025 mg/kg BB), anastethikum (Xylazine dengan dosis 2
mg/kgBB dan Ketamine dengan dosis 10 mg/kgBB), dan antibiotik
(oxytetracycline dengan dosis 14 mg/kg BB, penicillin 50.000 IU, dan
amoxicillin dengan dosis 20 mg/Kg BB)

2.2 Metode Praktikum


2.2.1 Persiapan Pra Operasi
2.2.1.1 Persiapan Ruang Operasi
Ruang operasi dan meja operasi didesinfeksi menggunakan
desinfektan. Selain itu, perlengkapan alat juga didesinfeksi. Kemudian
dilakukan fumigasi dengan menggunakan formalin 10% dan KMnO 4 1%
(1:2) dan dibiarkan selama 15 menit.
2.2.1.2 Persiapan Peralatan
Seperangkat alat bedah minor disiapkan, yaitu 4 buah towel clamp,
2 buah pinset anatomis, 2 buah pinset sirurgis, 1 buah pinset scalpel dan
blade, 1 buah gunting lurus tajam-tajam,1 buah gunting lurus tajamtumpul,1 buah gunting tumpul-tumpul, 1 buah gunting bengkok, 4 buah
tang arteri anatomis lurus, 4 buah tang arteri sirurgis bengkok, 2 tang arteri
lurus sirurgis,dan 1 buah needle holder. Peralatan tersebut direndam
dalam air yang diberi larutan pencuci, disikat dimulai dari ujung yang
paling steril (ujung yang pertama mengenai jaringan pasien) kemudian
dibilas dengan air yang mengalir 10-15 kali dimulai dari ujung yang
pertama disikat. Peralatan tersebut dikeringkan dengan handuk yang
steril, dimasukkan di dalam wadah yang bersih secara berurutan mulai
dari needle holder, tang arteri, gunting, pinset scalpel dan blade, pinset
sirurgis, pinset anatomis, dan towel clam, kemudian dibungkus dengan
dua lapis kain.
Kain pembungkus lapis pertama disiapkan terlebih dulu dengan
posisi memanjang kemudian peralatan dalam wadah diposisikan ditengah
kain tersebut. Kemudian sisi kain yang dekat dengan tubuh dilipat hingga
menutupi seluruh peralatan dan ujung lainnya dilipat mendekati tubuh, sisi
kanan peralatan dilipat selanjutnya sisi kiri. Setelah itu, kain penutup
kedua disiapkan dan wadah yang
sudah dibungkus oleh kain
sebelumnya diletakkan di tengah pada posisi diagonal. Ujung kain yang
dekat dengan tubuh dilipat hingga menutupi peralatan, sisi kanan dilipat
diikuti sisi kiri dan ujung yang lainnya dilipat mendekati tubuh dan
diselipkan tujuannya untuk memudahkan pelepasan kain pada saat

membuka penutup. Sterilisasi dengan oven dengan suhu 121C selama 15


menit.
Teknik pembukaan kain pembungkus peralatan terluar, yaitu
lipatan pertama ditarik kearah tubuh pembuka (personal yang berada di
ruang operasi) kemudian dilanjutkan dengan menarik masing-masing
ujung lipatan. Selanjutnya kain penutup kedua akan dibuka oleh pembuka
yang lebih steril dan bersih dengan cara menarik lipatan kearah tubuh
yang diikuti dengan ujung lipatan berikutnya. Setelah itu peralatan
tersebut diletakkan diatas meja alat yang steril.
2.2.1.3 Persiapan Obat-obatan
Obat-obatan yang harus dipersiapkan yaitu desinfektan (Alkohol
70%), preanestesi (Atropin sulfa (dosis 0,025 mg/kg BB) diberikan secara
SC), sedatif (Xylazine (dosis 2 mg/kg BB) diberikan secara IM), anestetik
(Ketamine (dosis 10 mg/Kg BB) diberikan secara IM), antibiotik
(Oxytetraxycline (dosis 14 mg/Kg BB) diberikan secara IM dan Amoxixillin
(dosis 20 mg/kg BB) diberikan secara oral).
Cara Pemberian dosis

: Dosis obat x Bobot badan Hewan


Konsentrasi Obat

2.2.1.4 Persiapan Perlengkapan Operator dan Asisten


Perlengkapan operator dan asisten disiapkan, yaitu 2 buah penutup
kepala, 2 buah masker, 4 buah sikat, 2 buah handuk, 2 pasang sarung
tangan, dan 2 buah baju bedah. Perlengkapan operasi dibungkus dengan
dua lapis kain (diletakkan ditengah) dengan urutan dari bawah, yaitu
sarung tangan yang sudah dibungkus dengan kertas/plastik/aluminium
foil, baju operasi yang sudah dilipat, handuk yang sudah dilipat, dua sikat
yang bersih, masker dan penutup kepala. Setelah selesai menata bahanbahan, selanjutnya dilakukan pembungkusan menggunakan dua lapis
kain. Bahan-bahan yang sudah tersusun rapi diletakkan ditengah sejajar
dengan sisi kain yang pertama, dilipat sejajar dari sisi yang dekat dengan
tubuh sisi yang didepannya diikuti sisi kanan dan kiri. Kemudian bahan
yang sudah terbungkus diletakkan di bagian tengah kain lapis luar, dilipat
sejajar dengan garis diagonal dan dimulai dari ujung yang ekat dengan
tubuh kemudian sisi kanan, sisi kiri dan ujung yang lainnya dilipat
mendekati tubuh dan diselipkan tujuannya untuk memudahkan pelepasan
kain pada saat membuka pembungkus. Peratalatan disterilisasi dengan
menggunakan autoklaf pada suhu 100C selama 30 menit.
Cara menggunakan perlengkapan operasi dapat dimulai dari
mencuci tangan dengan sabun yang dibilas dengan air bersih beberapa
kali, dikeringkan dengan handuk, satu sisi untuk tangan kanan dan sisi
lainnya untuk tangan kiri. Setelah itu, penutup kepala dipasang, masker
dipasang. Kemudian dilakukan pencucian tangan menggunakan sabun,
kedua tangan disikat dengan dua sikat yang berbeda, sikat pertama untuk

tangan kanan dan sikat kedua untuk tangan kiri, penyikatan dimulai dari
ujung jari hingga ujung siku. Setelah itu, dibilas dengan air mengalir
sebanyak 10-15 kali dari ujung kuku dialirkan ke siku, di keringkan
dengan handuk, satu sisi untuk tangan kanan dan sisi lainnya untuk
tangan kiri. Setelah itu, memasang baju operasi dilanjutkan dengan
pemasangan sarung tangan. Pemasangan sarung tangan pertama
dimulai dengan memegang sisi dalam dari sarung tangan dan
pemasangan sarung tangan kedua dilakukan dengan memegang bagian
luar dari sarung tangan yang bertujuan agar sarung tangan tetap dalam
keadaan steril ketika dipasang.
2.2.1.5 Persiapan Hewan
Preparasi hewan ini yaitu dengan melakukan pemeriksaan fisik (PF)
yang meliputi signalement (nama pemilik, nama hewan, bangsa hewan,
ras, jenis kelamin, umur, petanda khusus ataupun buatan dan berat
badan), anamnese, status present yang terdiri dari keadaan umum
(frekuensi jantung, frekuensi nafas, suhu badan, perawatan, habitus, gizi,
sikap berdiri, pertumbuhan badan dan cara berjalan) dan adaptasi
lingkungan. Selanjutnya kucing ditimbang guna menentukan jumlah
pemberian pre anaesthetikum, anaesthetikum dan antibiotik. Temperatur
tubuh kucing diukur menggunakan termometer (C). Setelah itu dihitung
frekuensi nafasnya (kali/menit) dengan melihat gerakan abdomen atau
toraks. Pernafasan kucing merupakan pernafasan tipe costal sehingga
untuk mengukur frekuensinya dapat dilihat pergerakan ossa costales.
Selain itu frekuensi pernafasan kucing juga dapat diukur dengan melihat
gerakan benang yang didekatkan di lubang hidungnya. Frekuensi denyut
nadi (kali/menit) diukur dengan meraba atau sedikit menekan arteri
femoralis di medial os femur.
Setelah pengukuran beberapa paramter di atas, kemudian
disiapkan alat suntik dan obatnya untuk dilakukan pembiusan dan
desinfeksi pada kucing. Sebelum dilakukan pembiusan, kucing diinjeksi
dengan premedikasi yaitu atrofin sulfa dengan dosis 0,025 mg/kg BB
dengan tujuan untuk mengurangi salivasi (efek yang ditimbulkan
anastethikum yang digunakan). Pembiusan menggunakan kombinasi dari
ketamine 10 % dengan dosis 10-15 mg/kg BB (dipilih dosis 10 mg/kg BB)
dan xylazine 2 % dosis 1-2 mg/kg BB (dipilih 2 mg/kg BB). Gabungan
obat tersebut diaplikasikan melalui intramuscular (IM) pada musculus
semitendinosus dan musculus semimembranosus. Letak kedua otot
tersebut adalah 2 jari di caudal dari tuber coxae.
Hal yang diamati adalah lamanya onset (lamanya obat setelah
diberikan/diaplikasikan sampai terlihat adanya efek), durasi (lamanya obat
itu bekerja sampai hilang efeknya, kucingnya sadar), frekuensi jantung,
frekuensi nafas, dan diameter pupil (secara horizontal atau vertikal), serta
ada tidaknya refleks. Parameter tersebut diukur kembali pada saat
operasi sampai kucing tersebut siuman. Ketika kucing akan sadar pada
saat masih operasi, kucing diberikan maintenance berupa pemberian

kombinasi ketamine dan xylazine dengan dosis dari pemberian


anaesthesi awal.
Tahap selanjutnya yaitu pencukuran pada daerah yang akan
dioperasi, dalam praktikum ini yaitu daerah scrotum. Lokasi pencukuran
mengelilingi daerah scrotum dan arah pencukuran berlawanan dengan
arah rambut. Setelah itu, bagian yang dicukur dicuci dengan sabun dan
dibilas dengan air lalu dikeringkan menggunakan kapas. Setelah itu
dibilas dengan alkohol 70%, desinfeksi dengan iodium tincture 3-10% dan
ditutup dengan kain penutup.
2.2.2 Operasi
Setelah kucing teranestesi, keempat kakinya difiksir menggunakan
simpul tomfool ke meja operasi. Duk dipasang pada daerah orientasi
operasi. Duk difiksasi dengan menggunakan towel clamp. Setelah itu
bagian scrotum dipegang dan ditekansecara halus. Penyayatan dilakukan
pada rape testis. Kulit scrotum disayat dengan sekali sayatan. Setelah itu
pada sisi testis dilanjutkan penyayatan pada tunika vaginalis sampai
tunika dartos dan testis ditekan sampai tersembul keluar. Tahap
selanjutnya yaitu isi spermatic cord (pembuluh darah, pembuluh limfe,
dan syaraf) dipisahkan dan ligamentum dipisahkan dari testis.
Selanjutnya spermatic cord ditarik dan dilakukan clamp pada ujungnya
dengan dua tang arteri. Bagian paling ujung dibelakang arteri clamp diikat
dengan benang. Kemudian dilakukan penyatan di antara jepitan tang
arteri lalu sampai testis terputus. Prosedur serupa dilakukan pada testis
yang satunya lagi. Tahap terakhir yaitu dilakukan penjahitan pada kulit
scrotum dengan jahitan sederhana. Setelah itu, hewan disuntikkan
dengan antibiotik oxytetracyclin.
2.2.3 Perawatan Post Operasi
Selama post operasi dilakukan pemantauan kondisi hewan seperti
temperatur, frekuensi denyut jantung dan frekuensi nafas, nafsu makan,
urinasi, defekasi serta kondisi luka. Pengobatan post operasi dilakukan
dengan memberikan antibiotik topikal dan sistemik. Pada saat operasi
diberikan (disemprotkan) antibiotik Penicillin 50.000 IU pada daerah
sayatan sesuai dengan dosis. Setelah operasi dilakukan, kucing disuntik
Oxytetracyclin dengan dosis 14 mg/kg BB secara intramuscular.
Selanjutnya dilakukan perawatan terhadap hewan hingga hari ke-7
post operasi. Setiap harinya hewan diberikan antibiotik amoxicillin (dosus
20 mg/kg BB) selama 5 hari secara per oral setiap 2 kali sehari. Selain itu
diamati juga fisiologis tubuh kucing (temperatur, frekuensi nafas, frekuensi
denyut nadi), urinasi, defekasi, makan dan minum kucing. Setelah 7 hari
post operasi, dilakukan pembukaan jahitan.

HASIL

3.1 Sebelum Operasi


3.1.1 Signalement
Nama Hewan
Jenis Hewan
Ras
Warna bulu dan kulit
Jenis Kelamin
Umur
Tambahan khusus
Berat badan
Petanda buatan
Petanda bawaan
Petanda khusus

: Cleo
: Kucing
: Domestic
: Hitam-putih
: Jantan
: 1 tahun
:
: 2,45 kg
:::-

3.1.2 Status Present


3.1.2.1 Keadaan umum :
Perawatan
Habitus
Gizi
Pertumbuhan badan
Sikap berdiri
Suhu
Frekuensi nadi
Frekuensi nafas
Cara berjalan
CRT

: Baik
: Agresif
: Sedang
: Sedang
: Bertumpu pada keempat kaki
: 38 C
: 120 x/ menit
: 24 x/ menit
: Tidak ada kelainan
: < 3 detik

3.1.2.2 Adaptasi lingkungan : baik

3.1.3 Perhitungan Dosis Anaesthesi


3.1.3.1 Perhitungan Pemberian Preparat Anaesthetik
Athropin 0,25 mg/ml (premedikasi)
Dosis injeksi =

0,025mg / kg 2,45kg
0,245ml
0,25mg / ml

Xylazine 20 mg/ml
Dosis injeksi =

2mg / kg 2,45kg
0,245ml
20mg / ml

Ketamin 100 mg/ml

Dosis injeksi =

10mg / kg 2,45kg
0,245ml
100mg / ml

Dosis maintenance =

dosis yang diberikan

3.1.3.2 Perhitungan Pemberian Antibiotik


Penicilline 50.000 IU/ml
Dosis pemberian = 2 ml (pada sebelum jahitan di kulit)
Oxytetracyclin
Dosis injeksi =

14mg / kg 2,45kg
0,69ml
50mg / ml

Amoxicilin
Dosis per oral per hari =

20mg / kg 2,45kg
1,96ml
25mg / ml

3.2 Selama Operasi


Tabel 1 Hasil pengukuran suhu, frekuensi jantung, frekuensi nafas, CRT
(Capillary Refill Time), mukosa, dan tonus otot selama operasi.
Status

15

30

Menit Ke45

60

75

Suhu (oC)

38

38

38,7

37,9

36,7

35,9

Frek.jantung(x/menit)

120

120

128

150

150

128

Frek. Nafas(x/menit)

24

24

32

40

44

48

CRT (detik)

<3

<3

<3

<3

<3

<3

Mukosa

Rose

Rose

rose

rose

rose

Rose

Tonus otot (+/-)

Grafik 1 Hasil pengukuran suhu selama operasi.

Grafik 2 Hasil Pengukuran Frekuensi jantung selama operasi

Grafik 3 Hasil pengukuran frekuensi nafas selama operasi

3.3 Post Operasi


Tabel 2 Pemeriksaan post operasi
Pemeriksaan post operasi hari keParameter

II

III

IV

Pg

mlm

pg

mlm

pg

mlm

pg

mlm

Pg

mlm

Nafas

52

54

52

40

52

52

52

40

38

54

Jantung

80

96

84

80

84

84

80

82

86

100

Suhu (0C)

37,8

37,9

37,7

37,8

38

37,9

37,8

38

38,2

37,9

Makan

Urinasi

Defekasi

Minum

Jahitan
(basah/kering)

bsh

bsh

bsh

bsh

krg

krg

Krg

krg

Krg

Krg

Grafik 4 Hasil pengukuran suhu post operasi

Grafik 5 Hasil Pengukuran frekuensi nafas post operasi

Grafik 6 Hasil pengukuran frekuensi jantung post operasi

PEMBAHASAN
Kastrasi merupakan tindakan atau prosedur bedah dengan tujuan
membuang atau menghilangkan testis. Kastrasi dilakukan pada hewan
yang teranastesi. Tujuan dari kastrasi ini yaitu untuk melakukan tindakan
dalam prosedur pengobatan kasus kelinan-kelainan pada alat reproduksi
hewan jantan. Namun terdapat beberapa tujuan lain selain untuk
pengobatan, diantaranya yaitu untuk mengontrol populasi dan
penggemukan hewan (McKenzie 2010).
Sebelum dilakukan operasi, kucing diperiksa secara umum
terlebih dahulu untuk mengetahui kondisinya. Kucing yang akan dioperasi
harus dalam keadaan sehat. Hal ini agar pada saat operasi dan post
operasi tidak terjadi kelainan yang dapat menyebabkan kucing menderita.
Setelah dipastikan kucing dalam kondisi baik, kucing dianastesi dengan
kombinasi ketamine-xlazine. Sebelumnya kucing diinjeksi atrofin sulfa

untuk mencegah muntah dan hipersalivasi akibat efek obat anastetikum


pada saat operasi. Atropin menyebabkan blokade reversibel kerja
kolinomimetik yang mempenaruhi motilitas usus, bronkodilatator, dan
mencegah terjadinya hipersalivasi (Katzung 2001).
Kucing yang telah diinjeksi anestetikum ditunggu sampai
menunjukkan gejala anastesi. Terdapat beberapa stadium sebelum
kucing teranatesi sempurna. Stadium analgesia terjadi ketika kucing mulai
kehilangan rasa sakit tetapi belum kehilangan kesadaran. Setellah itu
kucing terlihat sempoyongan, keadaan ini disebut stadium eksitasi atau
stadium involunter. Tahap terakhir kesadaran dan rasa sakit kucing hilang
seluruhnya. Stadium ini merupakan stadium pembedahan, yaitu saat
yang tepat di mana operasi dapat segera dilakukan.
Setelah kucing teranastesi dengan baik, terlebih dahulu daerah
yang akan dioperasi rambutnya di cukur lalu diberi betadine. Hal tersebut
bertujuan untuk menghindari kontaminasi rambut pada saat operasi yang
dapat menyebabkan kelainan dan pemberian betadine untuk mencegah
infeksi sekunder pada saat penyayatan. Setelah itu, kucing diletakkan di
meja operasi, difiksir dengan menggunakan tali pada keempat kakinya
lalu ditutup dengan menggunakan duk sehingga yang terlihat hanya
daerah orientasi operasi. Duk yang digunakan untuk menutup bagian
tubuh kucing, difiksir dengan menggunakan towel clamp..
Kastrasi terbuka merupakan salah satu teknik atau metode
kastrasi. Berdasarkan kedalaman penyayatan, terdapat dua teknik pada
bedah kastrasi yaitu kastrasi terbuka dan tertutup. Penyayatan pada
kastrasi terbuka dilakukan sampai tunika vaginalis communis, sedangkan
pada kastrasi tertutup, penyayatan hanya sampai tunika dartos (Searle et
al. 1999). Operasi yang dilakukan pada praktikum kali ini menggunakan
metode kastrasi terbuka karena sayatan dilakukan sampai tunika
vaginalis communis.
Penyayatan pertama dilakukan pada kulit scrotum dengan
menggunakan scalpel yang tajam secara tegas. Penyayatan bisa
dikakukan pada rape testis (bagian tengah scrotum) atau pada kulit
scrotum kiri dan kanan. Penyayatan yang dilakukan pada praktikum yaitu
rape testis. Hal tersebut bertujuan agar sayatan pada bagian kulit hanya
sedikit dan mempercepat dalam penjahitan. Setelah kulit disayat,
dilakukan penyayatan sampai tunika vaginalis communis dan testis
ditekan sampai tersembul keluar. Isi dari spermtic cord kemudian
dipisahkan dan ligamentum pun dipisahkan dari testis. Pemisahan
ligamentum ini bertujuan agar spermatic cord dapat ditarik maksimal,
sedangkan pemisahan isi spermatic cord bertujuan agar tidak terjadi
kesalahan penyayatan sehingga pendarahan.
Setelah itu, ujung spermatic cord dijepit dengan dua tang arteri
dan dibelakang tang arteri paling ujung dilakukan pengikatan (ligasi). Hal
tersebut bertujuan untuk menghentikan aliran darah ke testis agar pada
saat dilakukan pemotongan tidak terjadi pendarahan yang berlebihan.

Tahap terakhir yaitu dilakukan pemotongan diantara jepitan dua tang


arteri.
Setelah proses pemotongan kedua testis kemudian sisa tunika
vaginalis communis dan ligamentum dikembalikan ke dalam scrotum dan
sebelum kulitnya dijahit diberi antibiotik penicilin 50.000 IU dalam bentuk
cair. Tujuan dari pemberian antibiotik ini adalah untuk mencegah
terjadinya infeksi. Setelah itu bekas sayatan pada kulit scrotum dijahit
dengan jahitan sederhana menggunakan benang catgut. Hal ini bertujuan
agar bekas sayatan yang mengandung darah bekas pemotongan tidak
dijilati oleh kucing pada saat kucing siuman. Berbeda halnya dengan
kastrasi pada kuda, bekas sayatan kulit di scrotum dibiarkan terbuka
(tidak dijahit). Hal ini berkaitan dengan efesiensi di lapangan karena lebih
cepat dan murah (Searle et al. 1999).
Selama proses operasi berlangsung, dilakukan pula pengamatan
terhadap frekuensi nafas, jantung, suhu, CRT, mukosa, tonus otot.
Pengamatan ini dilakukan tiap 15 menit sekali. Selama pengamatan
terihat adanya penurunan suhu. Hal ini merupakan salah satu efek dari
anestetikum (ketamine) yang diberikan (Plumbs 2005). Pemantauan
parameter-parameter tersebut ini harus dilakukan untuk mengetahui efek
dosis anaesthesi yang diberikan dan mencegah kondisi kritis pada hewan.
Pengamatan post operasi terhadap frekuensi nafas, frekuensi
jantung, temperatur, makan, minum, urinasi, defekasi, jahitan dan muntah
setelah operasi (post operasi) dilakukan dua kali sehari. Hari pertama
kucing sudah mau makan dan urinasi namun belum ada devekasi. Kucing
muntah pada hari pertama post operasi. Hal ini normal terjadi karena
salah satu efek obat anastetikum (ketamin) yang diberikan adalah muntah
(Plumbs 2005). Akibat muntah, kucing menjadi terlihat lemas karena
dehidrasi. Oleh karena itu kucing dicekok air minum menggunakan spoit.
Setelah itu, pada hari berikutnya kucing kembali normal seperti biasanya.
Sampai hari kelima pengamatan post operasi kondisi kucing
lincah, aktif, meskipun tidak sekatif sebelum dioperasi dan luka jahitan
sudah mengering. Pemberian amoxillin dilakukan sebanyak 1 ml, dua kali
sehari selama 5 hari secara teratur untuk mempercepat proses
penyembuhan dan menghindari adanya infeksi sekunder dari bakteri.
Pembukaan jahitan dilakukan seminggu setelah operasi dengan kondisi
jahitan dan luka bedah sudah kering. Pembukaan jahitan dilakukan satu
persatu menggunakan gunting setelah itu diberikan yodium tingtur
sebagai antiseptic untuk menghindari infeksi sekunder.

PENUTUP

5.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum ini, dapat disimpulkan bahwa teknik
operasi bedah kastrasi dapat dilakukan untuk berbagai tujuan. Teknik
yang dilakukan yaitu kastrasi terbuka dan dilakukan dengan teknik
penyayatan pada rape testis.

5.2

Saran
Perlunya peningkatan kemampuan masing-masing praktikan dan
kekompakan tim dalam melakukan tindakan bedah.

DAFTAR PUSTAKA
Friyad,Y. 2001. Morfologi testis dan konsentrasi sperma kauda epididimis kucing
lokal (Felis domesticus) pada umur dewasa. [Skripsi]. Bogor (ID):
FKH IPB.
McKenzic B. 2010. Evaluating the benefit and risk of neutering dogs and cats.
[Review]. Los Altos (USA): Prespective in Agriculture, Veterinary
Science, Nutrition and Natural Resources.
Plumbs DC. 2005. Plumbs Veterinary Drug Handbook: Fifth Edition. Oxford (UK):
Blackwell Publishing.
Searle D, Dart AJ, Dart CM,Hodgson DR. 1999. Equine Castration: review of
anatomy, approaches, techniques, and complication in normal,
cryptorchid, and monorchid horse. Aus Vet J. 77: 428-434
Smith JB, Sosanto M. 1987. The cure breeding and management of experimental
animal for research in the topic. Canbera (AUS): International
Development Program of Australian Universitas and College Limited
Canbera.
Ward E. 2012. Castration or Neutering. Victoria (USA): Victoria Veterinary Care.

LAMPIRAN GAMBAR

Gambar 1 Pemeriksaan fisik sebelum operasi

Gambar 2 Pemberian Anastesi

Gambar 3 Pencukuran dan pemberian antiseptik pada daerah


orientasi operasi

Gambar 4 Prosedur Operasi