Anda di halaman 1dari 9

Nama : Tiara Rahmah Dini Hanjari

NPM :1406650046

Asuhan Keperawatan Risiko Perilaku Kekerasan


A. Pengkajian
Tanda dan gejala yang ditemui pada pasien melalui observasi atau wawancara tentang
prilaku menurut Keliat B. A dan Akemat (2007) adalah sebagai berikut:
1. Muka merah dan tegang
2. Pandangan tajam
3. Mengatupkan rahang dengan kuat
4. Mengepalkan tangan
5. Jalan mondar-mandir
6. Bicara kasar
7. Suara tinggi, menjerit atau berteriak
8. Mengancam secara verbal atau fisik
9. Melempar atau memukul benda/orang lain
10. Merusak barang atau benda
11. Tidak mempunyai kemampuan mencegah/mengontrol perilaku kekerasan.
Sedangkan menurut Townsend M.C (1998) faktor yang berhubungan yaitu:

[Kurang rasa percaya (kecurigaan terhadap orang lain)]

[Panik]

Rangsangan Katatonik

[Contoh peran negatif]

Reaksi kemarahan/amuk

[Instruksi dan halusinasi]

[Pikiran delusional]

Berjalan bolak balik

Rahang kaku; mengepalkan tangan; poster tubuh yang kaku

Tindakan agresif; tujuan-merusak secara langsung benda benda yang berada dalam
lingkungan sekitarnya.

Perilaku merusak diri atau aktif; tindakan bunuh diri yang agresif

Perkataan mengancam yang bermusuhan; tindakan menyombongkan diri untuk


menyiksa orang lain secara psikologis.

Peningkatan aktivitas motorik; langkah kaki; rangsangan; mudah tersinggung;


kegelisahan.

[Mempersepsikan lingkungan sebagai suatu ancaman]

[Menerima suruhan melalui pendengaran atau penglihatan sebagai suatu ancaman]

B. Diagnosa Keperawatan
Menurut Keliat B. A dan Akemat (2007), diagnosa keperawatan ditetapkan sesuai
dengan data yang didapat, dan saat ini tidak melakukan perilaku kekerasan tetapi pernah
melakukan

perilaku

kekerasan

dan

belum

mempunyai

kemampuan

mencegah/mengontrol perilaku kekerasan tersebut.

C. Sasaran/tujuan
Menurut Townsend M.C (1998) :
1. Jangka Pendek
Dalam 2 minggu pasien dapat mengenal tanda tanda peningkatan ansietas dan
kegelisahan dan melaporkan kepada perawat agar dapat diverikan intervensi sesuai
kebutuhan.
2. Jangka Panjang
Pasien tidak akan membahayakan dirinya dan orang lain selama di rumah sakit.

D. Tindakan Keperawatan
Intervensi dengan rasional tertentu menurut Townsend M.C (1998) yaitu :
1. Pertahankan agar lingkungan pasien pada tingkat stimulus yang rendah (penyinaran
rendah, sedikit orang, dekorasi yang sederhana, tingkat kebisingan rendah). Tingkat
ansietas akan meningkat dalam lingkungan yag penuh stimulus. Individu individu
yang ada mungkin dirasakan sebagai suatu ancaman karena mencurigakan, sehingga
akhirnya membuat pasien agitasi.
2. Observasi secara ketat perilaku pasien (setiap 15 menit). Kerjakan hal ini sebagai
suatu kegiatan yang rutin untuk pasien untuk menghindari timbulnya kecurigaan
dalam diri pasien. Observasi ketat merupakan hal yang penting, karena dengan

demikian intervensi yang tepat dapat diberikan segera dan untuk selalu memastikan
bahwa pasien berada dalam keadaan aman.
3. Singkirkan semua benda benda yang dapat membahayakan dari lingkungan sekitar
pasien, sehingga jika pasien berada dalam keadaan gelisah, bingung, pasien tidak
akan menggunakan benda benda tersebut untuk membahayakan diri sendiri
maupun orang lain.
4. Coba salurkan perilaku merusak diri ke kegiatan fisik untuk menurunkan ansietas
pasien (mis. Memukul karung pasir). Latihan fisik adalah suatu cara yang aman dan
efektif untuk menghilangkan ketegangan yang terpendam.
5. Staf harus mempertahankan dan menampilkan perilaku yang tenang di hadapan
pasien. Ansietas menular dan dapat ditransfer dari perawat ke pasien.
6. Miliki cukup staf yang kuat secara fisik yang dapat memabntu mengamankan pasien
jika dibutuhkan. Hal ini dibutuhkan untuk mengontrol situasi dan juga memberikan
keamanan fisik kepada staf.
7. Berikan obat obatan transquiliser sesuai program terapi pengobatan. Pantau
keefektifan obat obatan dan efek sampingnya. Cara mencapai batasan alternatif
yang paling sedikit harus diseleksi ketika merencanakan intervensi untuk psikiatri.
8. Jika pasien tidak menjadi tenang dengan cara mengataka sesuatu yang lebih penting
daripada yang dikatakan oleh pasien (mengehntikan pembicaraan) atau dengan obat
obatan, gunakan alat alat pembatasan gerak (fiksasi). Pastikan bahwa anda
memilik cukup banyak staf untuk membantu. Ikuti protokol yang telah ditetapkan
oleh institusi. Pada kebanyakan situasi seperti ini dibutuhkan reevaluasi tenaga
medis dan diskusi baru tentang tindakan baru untuk fiksasi dilakukan. Dari
kebanyakan pengalaman sebelumnya didapatkan bahwa intervemsi ini ternyata
sesuai untuk situsi darurat atau pada suatu keadaan dimana perilaku pasien
sepertinya dapat membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.
9. Observasi pasien yang dalam keadaan fiksasi setiap 15 menit (atau sesuaikan dengan
kebijakan institusi). Pastikan bahwa sirkulasi pasien tidak terganggu (periksa suhu,
warna, dan denyut nadi pada ekstremitas pasien). Bantu pasien untuk memenuhi,
kebutuhannya untuk nutrisi, hidrasi dan eliminasi. Berikan posisi yang memberikan
rasa nyaman untuk pasien dan dapat mencegah aspirasi. Keamanan klien merupakan
prioritas keperawatan.
10. Begitu kegelisahan menurun, kaji kesiapan pasien untuk dilepaskan dari fiksasi.
Lepaskan satu per satu fiksasi pasien atau dikurangi secara bertahap. Jangan

sekaligus, sambil terus mengkaji respons pasien. Hal ini akan meminimalkan risiko
kecelakaan bagi pasien dan perawat.
Tindakan keperawatan untuk pasien dan keluarga menurut Keliat B. A dan Akemat
(2007) :
1. Tindakan keperawatan untuk pasien
a.

Tujuan keperawatan
1) Pasien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
2) Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
3) Pasien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah
dilakukannya
4) Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang
dilakukannya
5) Pasien

dapat

menyebutkan

cara

mencegah/mengontrol

perilaku

kekerasannya
6) Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara fisik,
spiritual, sosial, dan dengan terapi psikofarmaka.
b. Tindakan keperawatan
1) Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar
pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan saudara.
Tindakan yang harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan
saling percaya adalah:
a) Mengucapkan salam terapeutik
b) Berjabat tangan
c) Menjelaskan tujuan interaksi
d) Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu
pasien
2) Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan yang
lalu
3) Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan
a) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik

b) Diskusikan

tanda

dan

gejala

perilaku

kekerasan

secara

psikologis
c) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara sosial
d) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara spiritual
e) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara intelektual
4) Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan pada
saat marah secara:
a) Verbal
b) terhadap orang lain
c) terhadap diri sendiri
d) terhadap lingkungan
5) Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya
6) Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan secara:
a) Fisik: pukul kasur dan batal, tarik nafas dalam
b) Obat
c) Social/verbal: menyatakan secara asertif rasa marahnya
d) Spiritual: sholat/berdoa sesuai keyakinan pasien
7) Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik:
a) Latihan nafas dalam dan pukul kasur bantal
b) Susun jadwal latihan dalam dan pukul kasur bantal
8) Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal
a) Latih mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik,
meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik
b) Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal.
9) Latih mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual:
a) Latih mengontrol marah secara spiritual: sholat, berdoa
b) Buat jadwal latihan sholat, berdoa
10) Latih mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum obat:
a) Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar
(benar nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar
waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat
dan akibat berhenti minum obat
b) Susun jadwal minum obat secara teratur

11) Ikut sertakan pasien dalam Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi
mengontrol Perilaku Kekerasan
SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya, identifikasi penyebab perasaan
marah, tanda dan gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, akibatnya
serta cara mengontrol secara fisik.
SP 2 Pasien : Membantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan dengan
cara fisik kedua yaitu :
a. Evaluasi latihan nafas dalam
b. Latih cara fisik ke-2: pukul kasur dan bantal
c. Susun jadwal kegiatan harian cara kedua
SP 3 Pasien : Membantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara
sosial/verbal yaitu :
a. Evaluasi jadwal harian untuk dua cara fisik
b. Latihan mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik, meminta
dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik.
c. Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal
SP 4 Pasien : Bantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara spiritual
yaitu :
a. Diskusikan

hasil

latihan

mengontrol

perilaku

kekerasan

secara

fisik

dan sosial/verbal
b. Latihan sholat/berdoa
c. Buat jadwal latihan sholat/berdoa
SP 5 Pasien : Membantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan dengan
obat yaitu :
a. Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara mencegah marah yang sudah
dilatih.

b. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama
pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum obat, dan
benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat.
c. Susun jadwal minum obat secara teratur

2. Tindakan keperawatan untuk keluarga


a. Tujuan keperawatan
Keluarga dapat merawat pasien di rumah
b. Tindakan keperawatan
1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
2) Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab,
tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut)
3) Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera
dilaporkan kepada perawat, seperti melempar atau memukul benda/orang
lain
4) Bantu latihan keluarga dalam merawat pasien dengan perilaku kekerasan
a) Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang
telah diajarkan oleh perawat
b) Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien
dapat melakukan kegiatan tersebut secara tepat
c) Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila
pasien menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan
5) Buat perencanaan pulang bersama keluarga
SP 1 Keluarga: Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang cara merawat klien
perilaku kekerasan di rumah
a. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
b. Diskusikan

bersama

keluarga

tentang

perilaku

kekerasan

(penyebab,

tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut.
c. Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera dilaporkan
kepada perawat, seperti melempar atau memukul benda/orang lain
SP

Keluarga:

Kemarahan

Melatih

keluarga

melakukan

cara-cara

mengontrol

a. Evaluasi pengetahuan keluarga tentang marah


b. Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang telah
diajarkan oleh perawat
c. Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien dapat
melakukan kegiatan tersebut secara tepat
d. Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila pasien
menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan
SP 3 Keluarga: Membuat perencanaan pulang bersama keluarga
a. Buat perencanaan pulang bersama keluarga

E. Hasil Pasien yang Diharapkan/Kriteria Pulang


Menurut Townsend M.C (1998) :
1. Ansietas dipertahankan pada tingkat dimana pasien tidak menjadi agresif.
2. Pasien memperlihatkan rasa percaya kepada orang lain di sekitarnya.
3. Pasien mempertahankan orientasi realitasnya.

Daftar Pustaka

Keliat B. A dan Akemat (2007) Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta :
EGC
Townsend M.C (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Pskiatri :
Pedoman Untuk Pembuatan Rencana Keperawatan (Ester : Monica). Jakarta :
EGC.