Anda di halaman 1dari 12

I.

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Usaha budidaya ikan sekarang ini semakin bertambah intensif. Hal ini

sejalan dengan kemajuan zaman dan teknologi, dimana kita cenderung


menggunakan lahan seminimal mungkin namun diharapkan dapat memberikan
hasil yang semaksimal mungkin, sehingga hasil produksi semakin meningkat.
Budidaya ikan bertujuan untuk memperoleh hasil yang lebih tinggi daripada bila
ikan itu dibiarkan hidup secara alami sepenuhnya. Budidaya ikan di Indonesia
terutama dilaksanakan di kolam, tambak, sawah dan keramba atau kurungan
(Augusta, 2011).
Ikan gabus (Channa striata) adalah merupakan ikan lokal Kalimantan
Tengah, dan juga merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai
ekonomis tinggi, baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk awetan atau
kering. Ikan gabus mempunyai ciri-ciri tubuhnya panjang, kepala seperti kepala
ular, sirip punggung dan sirip anus panjang berdiri, bentuk sirip ekor membundar,
punggung berwarna kecoklatan hampir hitam, bagian perut putih keperakan atau
terang. Tergolong ikan buas, termasuk jenis karnivora. Pada tingkat larva
makanannya adalah rotozoa dan algae. Sedangkan pada tingkat dewasa
makanannya adalah ikan-ikan kecil, insekta, cacing dan udang, sehingga kadangkadang kehadirannya sebagai penggangu bagi ikan lainnya (Wahyuningsih, 1998).
Ikan gabus hidup di perairan tawar dengan pH berkisar antara 4,5 - 6 dan tidak
begitu dalam, terutama di sungai, danau dan rawa serta perairan payau (Asmawi,
1986).
Ikan gabus merupakan salah satu jenis ikan yang digunakan untuk
keperluan konsumsi. Ikan gabus diketahui memiliki kandungan protein yang
disebut albumin yang sangat tinggi. Kandungan tersebut sangat baik bagi tubuh
manusia, mengingat albumin adalah salah satu bagian protein yang cukup penting.
Dengan kandungan nutrisi yang dimiliki oleh ikan gabus, mengkonsumsi ikan
gabus secara rutin dipercaya mampu mengatasi berbagai macam jenis penyakit
berbahaya, seperti stroke, hepatitis, maupun infeksi paru-paru.

Ikan gabus merupakan ikan air tawar liar dan predator benih yang rakus
dan sangat ditakuti pembudidaya ikan. Ikan ini merupakan ikan buas (carnivore
yang bersifat pemakan segala yang predator). Di alam, ikan gabus tidak hanya
memangsa benih ikan tetapi juga ikan dewasa dan serangga air lainnya termasuk
kodok. Asal usul Ikan Gabus, Ternyata ikan gabus adalah ikan asli Indonesia.
Hidup di perairan sekitar kita, di rawa, di waduk dan di sungai-sungai yang airnya
tenang. Namun sayang, populasi ikan gabus di alam sudah mulai berkurang,
sehingga budiadaya ikan gabus ini sangat perlu dikembangkan.

1.2.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan materi ini adalah sebagai berikut:

1.

Mengetahui pembenihan ikan gabus (Channa striata) secara alami

2.

Mengetahui pembesaran larva ikan gabus di Indonesia berbasis biofilter


system

II. TINJAUAN PUSTAKA


Ikan gabus, Channa striata (Bloch 1793) merupakan ikan air tawar yang
melakukan pemjahan secara alami selama musim hujan. Secara alami, faktor
fisiologis dan lingkungan dijadikan pertimbangan sebagai isyarat penting dalam
merangsang pemijahan pada ikan teleost. Pada wilayah tropis, perubahan
temperatur perairan dan amplitude ketinggian permukaan air yang disebabkan
oleh pergantian musim dapat menjadi trigger untuk ikan gabus dalam melakukan
pemijahan (Zairin et al., 2001).
Ikan gabus dikenal dengan banyak nama. Ada yang menyebutnya sebagai
aruan, haruan (Melayu dan Banjar), kocolan (Betawi); bayong, bogo, licingan,
kutuk (Jawa); dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris, belut juga disebut dengan
berbagai nama, seperti common snakehead, snake-head murrel, chevron
snakehead, striped snakehead juga aruan. Name ilmiahnya adalah Channa striata
(Bloch, 1793) dan ada yang menyebutnya Ophiocephalus striatus. Adapun
klasifikasi dari ikan gabus adalah sebagai berikut:
kelas

: Pisces

Subkelas

: Actinopterygii

Ordo

: Perciformes

Famili

: Channidaeae

Genus

: Channa

Species

: Channa sriata

Ikan gabus yang tertangkap di awal musim kemarau sampai puncak musim
kemarau, 75-80% berada pada fase perkembangan gonad. Di awal musim
penghujan, dimana kondisi perairan rawa belum stabil maka dikondisi air
bangai pemijahan ikan belum terjadi. Hal ini memberikan indikasi bahwa secara
alami, ikan-ikan yang berpijah tergantung dengan musim dapat dijadikan
indikator pulihnya lingkungan perairan tersebut (Bijaksana, 2012).
Ikan gabus (Channa striata) merupakan asli yang hidup di peraiaran
umum Indonesia yang nilai ekonominya makin menunjukkan peningkatan. Di
Sumatera Selatan ikan gabus selain dijadikan lauk juga diolah menjadi makanan
olahan seperti empek-empek dan kerupuk, bahkan di Malaysia sudah popular

sebagai bahan obat. Usaha budidaya ikan gabus mulai berkembang terutama di
perairan umum tipe rawa dengan memanfaatkan benih yang berasal dari alam.
Keberlanjutan usaha budidaya ikan gabus selain memanfaatkan benih alami perlu
ditunjang oleh upaya perbenihan. Dalam kegiatan perbenihan selain teknik
pemijahan juga sangat penting teknologi perawatan benih dari ukuran larva
sampai siap ditebar (Gaffar et al., 2012).
Di beberapa lokasi, pemijahan alami ikan gabus terjadi di awal musim
penghujan sampai pertengahan musim penghujan. Setelah melewati kondisi air
bangai dan ketinggian air berangsur naik biasanya terjadi pemijahan dengan
membuat sarang di sekitar tumbuhan air atau di pinggiran perairan yang dangkal
yang mana berarus lemah, ikan gabus dapat memijah dengan umur induk sekitar 9
bulan pada ukuran sekitar 21 cm (Haniffa et al., 1996). Di Srilangka ikan Gabus
memijah beberapa kali dalam setahun, sedangkan di Fhilipina ikan gabus dapat
memijah setiap bulan. Musim pemijahan ikan gabus di Thailand antara bulan Mei
sampai Oktober, dengan puncaknya pada bulan Juli sampai September (Wee,
1982). Larva ikan gabus dapat dipelihara di dalam wadah budidaya dengan
pemberian pakan tambahan. Pemijahan alami ikan gabus di perairan rawa
Bangkau terjadi antara bulan Agustus sampai Pebruari dengan masa puncak
terjadi pada bulan Desember (Bijaksana, 2012).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BIOFILTER SYTEM MENGGUNAKAN ENCENG GONDOK


Kolam pengendapan sebagai pengendap lumpur dapat juga sebagai
biofilter yaitu dengan menambahkan tumbuhan air ke dalamnya. Untuk jenis
tanaman air yang dapat membantu penyaringan/filterisasi pilihlah jenis tanaman
yang mengapung seperti eceng gondok (Eichornia crassipes), jenis tanaman
terendam seperti Hydrilla dan jenis tanaman yang perakarannya tertanam di
bagian dasar seperti lotus/teratai. Kolam dengan system biofilter melalui tanaman
air digabung dengan system buatan akan menghasilkan kualitas air yang lebih
baik.

Gambar 1. Tanaman Eceng Gondok (Eichornia crassipes)


Tanaman air juga dapat menyerap zat racun yang dihasilkan oleh kotoran
dan urine ikan (amoniak) dan efektif meningkatkan kadar oksigen dalam air
melalui proses fotosintesis. Bila lahan yang tersedia sedikit dan kita membuat
kolam berukuran kecil tentu saja luasan kolam penyaring alami ini disesuaikan
dengan lahan yang tersedia, atau hanya menambahkan penyaring saja dengan
catatan kolam tidak terkena matahari langsung dan air hujan tidak masuk ke
kolam ini juga berakibat pada jenis dan jumlah ikan yang dipelihara menjadi
terbatas.

Disini kita menggunakan eceng gondong sebagai biofilternya, kelebihan


eceng gondok dari pada tanaman air yang lainnya yaitu :
1. mudah tumbuhnya
2. mudah didapat
3. mudah hidupnya
4. daunnya yang hijau enak dilihat
5. bunganya pun cukup cantik berwarna ungu
6. tidak menyebabkan gatal
7. tidak perlu perlakuaan khusus dalam perawatannya,
Atau kita dapat pula membuat kolam khusus untuk penyaring biofilter ini.
Tidak harus besar cukup 100 cm x 50 cm dengan kedalaman 25 cm. Ketebalan
taburan pasir dan kerikil pada dasar kolam setebal 1 cm. Posisi kolam biofiler ini
lebih tinggi dari kolam utamanya. Setelah kolam diisi air masukkan eceng gondok
sampai menutupi seluruh permukaan kolam. Air di salurkan dari kolam utama
menggunakan Pompa air (water pump) ke kolam biofilter melalui pipa di mana
pada bagian ujung pipa yang berada pada dasar kolam disambungkan dengan alat
penetral pH air sederhana yang telah dibolong-bolongi hanya saja bolongan pada
kemasan air minum ini lebih banyak dibandingkan bila kita gabungkan alat ini
dengan penyaring buatan.

Gambar 2. Kolam biofilter menggunakan enceng Gondok (Eichornia crassipes)

4.1. Perbedaan jantan dan betina


Perbedaan ikan Jantan dan betina ikan gabus bisa dibedakan dengan
mudah yaitu dengan cara melihat tanda-tanda pada tubuh. Ikan Jantan ditandai
dengan kepala lonjong, warna tubuh lebih gelap, lubang kelamin memerah dan
apabila diurut keluar cairan putih bening. Sedangkan ikan betina ditandai dengan
kepala membulat, warna tubuh lebih terang, perut membesar dan lembek, bila
diurut keluar telur. Induk jantan dan harus sudah mencapai 1 kg (Bijaksana, 2012)
4.2. Pemijahan ikan gabus
Di beberapa lokasi, pemijahan alami ikan gabus terjadi di awal musim
penghujan sampai pertengahan musim penghujan. Setelah melewati kondisi air
bangai dan ketinggian air berangsur naik biasanya terjadi pemijahan dengan
membuat sarang di sekitar tumbuhan air enceng gondok atau di pinggiran perairan
yang dangkal yang berarus lemah, dapat memijah dengan umur induk sekitar 9
bulan pada ukuran sekitar 21 cm. Pemijahan ikan gabus dapat berlangsung 2-3
kali dalam satu musim pemijahan bahkan masih terjadi pemijahan di akhir musim
penghujan. Dari beberapa parameter status reproduksi yang dimati maka
perubahan ketinggian air erat berhubungan dengan diameter telur (Bijaksana,
2012). Pemijahan ikan gabus dapat dilakukan dalam bak beton atau fibreglass.
Hal pertama yang dilakukan yaitu mempersiapkan sebuah bak beton ukuran
panjang 5 m, lebar 3 m dan tinggi 1 m, kemudian dilakukan pengeringan selama 3
4 hari, selanjutnya memasukan air setinggi 50 cm dan biarkan mengalir selama
pemijahan. Agar ikan gabus dapat memijah maka menggunakan rangsangan yaitu
adanya eceng gondok hingga menutupi sebagian permukaan bak. Lalu
memasukan 30 ekor induk betina dan 30 ekor induk jantan. Setelah dimasukan
kemudian dibiarkan memijah dengan sendirinya. Apabila telur sudah terlihat
dibak tersebut maka telur di ambil dengan sekupnet halus, sehingga telur siap
untuk ditetaskan. Untuk mengetahui terjadinya pemijahan dilakukan pengontrolan
setiap hari. Telur ikan gabus bersifat mengapung di permukaan air. Satu ekor
induk betina bisa menghasilkan telur sebanyak 10.000 11.000 butir. Ikan gabus
dengan kisaran bobot 60-640 fekunditas antara 1,141-16,486 butir dan kisarn
bobot gonad antara 1,15 dan 17,04 gram. Diameter telur ikan gabus pada TKG III

berkisar antara 0,65-1,27 mm. TKG IV dan V berkisar antara 0,65-1.34 mm


(Makmur, 2006).
4.3. Penetasan telur ikan gabus
Penetasan telur dilakukan di akuarium. Pertama yaitu

menyiapkan

akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm, kemudian


dilakukan pengeringan selama 2 hari, lalu pengisian air bersih setinggi 40 cm,
memasangkan dua buah titik aerasi dan hidupkan selama penetasan, dan dipasang
pemanas air hingga bersuhu 28oC, selanjutnya masukan telur dengan kepadatan 4
6 butir/cm2 dan diiarkan hingga menetas. Telur akan menetas dalam waktu 24
jam. Sampai dua hari, larva tidak perlu diberi pakan, karena masih menyimpan
makanan cadangan (Makmur, 2006).
4.4. Pemeliharaan larva ikan gabus
Pemeliharaan larva dilakukan setelah 2 hari menetas hingga berumur 15
hari, dalam akuarium yang sama dengan kepadatan 5 ekor/liter. Kelebihan larva
bisa dipelihara dalam akuarium lain. Pada umur 2 hari, larva diberi pakan berupa
naupli artemia dengan frekwensi 3 kali sehari. Artemia sp, memiliki kandungan
protein serta susunan asam amino yang hampir sama satu sama lain, bentuk dari
pakan yang diberikan dalam bentuk tepung juga sama-sama mudah dicerna oleh
benih ikan gabus (C.striata), aroma pakan yang diberikan juga sama-sama dapat
merangsang nafsu makan benih ikan gabus (C. striata). Dari umur 5 hari, larva
diberi pakan tambahan berupa daphnia 3 kali sehari, secukupnya. Untuk menjaga
kualitas air, dilakukan penyiponan, dengan membuang kotoran dan sisa pakan dan
mengganti dengan air baru sebanyak 50 persen. Penyiponan dilakukan 3 hari
sekali, tergantung kualitas air (Kurnia et al., 2013).
4.5. Pendederan ikan gabus
Pendederan I ikan gabus dilakukan di kolam tanah. Hal pertama yang
dilakukan yaitu menyiapkan kolam ukuran 200 m 2, kemudian dikeringkan selama
4 5 hari, selama pengeringan seluruh bagian kolam dilakukan perbaiakn, hal ini
dilakukan apabila terjadi kerusakan pada kolam tersebut. Pembuatan kemalir
dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm, untuk penumbuhan pakan alami kolam
ditebarkan 5 7 karung kotoran ayam atau puyuh, selanjutnya pengisian air
setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan). Larva ikan gabus

ditebar sebanyak 4.000 ekor pada pagi hari, setelah 2 hari, diberi 1 2 kg tepung
pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari, pemanenan benih dilakukan
setelah berumur 3 minggu (Sasanti dan Yulisman, 2012).
4.6. Pembesaran ikan gabus
Pembesaran ikan gabus dapat dilakukan di kolam tanah, kolam terpal,
maupun kolam semen. Pertama yaitu persiapan kolam, apabila kolam telah
disiapkan maka isilah kolam dengan air sampai ketinggian minimal 80 cm karena
ikan gabus sangat menyukai perairan yang dalam. Masukkan juga obat anti jamur
dan bakteri ke dalam kolam. Setelah memasukkan benih ikan gabus, benih yang
dimasukkan sebaiknya sudah berukuran 4-6 cm atau lebih besar. Kegiatan
pembesaran ini pakan merupakan faktor yang sangat penting untuk pertumbuhan
ikan gabus, untuk pemberian pakan pada awal pembesaran disesuaikan dengan
ukuran benih yang dimasukkan ke dalam kolam untuk benih ukuran 4-6 cm
sebaiknya diberikan pelet PF 800. Pemberian pakan diberikan sebanyak 4-5 kali
dalam sehari dengan interval 4 jam. Pakan untuk pembesaran ikan gabus
diberikan secukupnya dengan selalu mengamati ikan pada waktu makan hal ini
untuk mencegah pakan tidak habis yang akhirnya membuat air kolam menjadi
cepat kotor (Sasanti dan Yulisman, 2012).
Kualitas air dalam kegiatan budidaya ikan gabus juga harus diperhatikan.
Hal ini dapat mengakibatkan kematian ikan gabus apabila kondisi air tidak lagi
sesuai dengan kebutuhan ikan gabus khususnya kandungan amoniak yang ada di
dalam air kolam. Untuk menjaga kualitas air kolam maka air kolam harus diganti
secara berkala, hal ini tergantung dari faktor padat tebar benih dalam kolam
maupun faktor lain seperti tumbuhnya lumut dalam kolam. Padat tebar 50
ekor/m3 maka air kolam dapat diganti dua minggu sekali, penggantian air
dilakukan dengan cara membuang air bawah kolam sebanyak 2/3 kemudian diisi
lagi dengan air yang baru sampai air mencapai ketinggian semula namun apabila
kolam telah ditumbuhi banyak lumut maka air kolam harus secepatnya diganti
secara menyeluruh dan kita juga harus membersihkan lumut yang tumbuh pada
dinding-dinding kolam dan dasar kolam (Muthmainnah, 2013). Secara biologi,
ikan gabus masih tahan terhadap kondisi tingkungan perairan yang kurang baik.
Datam kondisi kekurangan air ikan gabus masih mampu bertahan hidup karena

ikan gabus memiliki atat bantu


oksigen bebas di udara untuk

pernafasan

sehingga dapat memanfaatkan

proses pernafasanya.

Sifat ini sangat

menguntungkan datam usaha membudidayakan ikan gabus, karena ikan gabus


memiliki ketahanan hidup tebih tinggi (Muslim, 2007).
Penyortiran dapat dilakukan setelah 4 minggu terhitung dari hari
memasukkan benih, penyortiran dilakukan dengan mengelompokkan ukuran ikan
gabus kedalam 2 bagian, selanjutnya kelompok ikan gabus yang besar dan
kelompok ikan gabus yang lebih kecil dibesarkan dalam kolam yang berbeda hal
ini dilakukan untuk mencegah kelompok ikan gabus yang lebih kecil kalah dalam
perebutan makanan. Pada umumnya ikan gabus sudah dapat di panen ketika sudah
mencapai umur 6-7 bulan dengan ukuran 5-6 ekor dalam satu kilo .

DAFTAR PUSTAKA
Asmawi, S. 1986. Pemeliharaan Ikan Dalam Karamba. Cetakan Kedua. Gramedia
Jakarta.
Augusta, Tania Serezova. 2011. Pengaruh Pemberian Pakan Tambahan Cincangan
Bekicot dengan Persentase yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Ikan Gabus
(Channa striata). Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan
Universitas Kristen Palangka Raya. Media SainS,Volume 3 Nomor 1. ISSN
2085-3548 52.
Bijaksana, Untung. 2012. Dosmestikasi Ikan Gabus, Channa Striata Blkr, Upaya
Optimalisasi Perairan Rawa Di Provinsi Kalimantan Selatan. Program Studi
Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas
Lambung Mangkurat. Lampung. Jurnal Lahan Suboptimal. ISSN2252-6188
Vol. 1, No.1: 92-101.
Gaffar, Abdul Karim., Dina Muthmainnah dan Ni Komang Suryati. 2012.
Perawatan Benih Ikan Gabus Channa striata dengan Perbedaan Padat Terbar
dan Perbedaan Volume Pakan. Balai Penelitian Perikanan Perairan Umum.
Palembang. Prosiding Insinas.
Haniffa MA, Shaik MS, Rose TM. 1996. Induction of ovulation in Channa
striatus (Bloch) by sGnRHa. Fishing Chimes. 16: 23 24.

Kurnia, D., Amin Alamsjah dan Epy Muhammad Luqman. 2013. Pengaruh
Substitusi Artemia spp. Dengan Keong Macan (Pomacea Canaliculata)
dan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Terhadap Pertumbuhan dan
Retensi Protein Benih Ikan Gabus (Channa striata). Jurnal Ilmiah
Perikanan dan Kelautan, 5 (2).
Makmur, Safran. 2006. Fekunditas dan Diameter Telur Ikan Gabus (Channa
striata BLOCH) di Daerah Banjiran Sungai Musi Sumatera Selatan. Jurnal
Perikanan, 8 (2): 254-259.
Muslim. Potensi, Peluang dan Tantangan Budidaya Ikan Gabus (Channa sriata) di
Propinsi sumatera Selatan. Prosiding Forum Perairan Umum lndonesia
lV.
Muthmainnah, Dina. 2013. Hubungan panjang berat dan faktor kondisi ikan
gabus (Channa striata Bloch, 1793) yang dibesarkan di rawa lebak,
Provinsi Sumatera Selatan. Depik, 2(3): 184-190.

Sasanti, A.D., dan Yulisman. 2012. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih
Ikan Gabus (Channa striata) yang Diberi Pakan Buatan Berbahan Baku
Tepung Keong Mas (Pomacea sp.). Jurnal Lahan Suboptimal, 1 (2): : 158162.
Wahyuningsih, 1998. Pemeliharaan Ikan Lokal Dalam Keramba Terapung Oleh
Masyarakat Di Sungai Rungan Desa Marang Lama Kelurahan Marang
kecamatan Bukit Batu Kotamadya Palangka Raya. Skripsi. Jurusan
Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.
Wee KL. 1982. The biology and culture of snakeheads. Recent advances in
aquaculture, Westview Press, Boulder, Colorado.
Zairin MJr, Furukawa K, Aida K. 2001. Induction of spawning in the tropical
walking catfish, Clarias batrachus by controlling water level and
temperature. Biotropia 16:18-27.