Anda di halaman 1dari 3

Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environmental behavior)

Perilaku ini adalah respons individu terhadap lingkungan sebagai


determinant (faktor penentu) kesehatan manusia. Respons individu terhadap
lingkungan dibedakan menjadi respons positif dan respons negatif. Respons
positif adalah respons individu yang menunjukkan kepedulian terhadap
lingkungan sebagai penentu kesehatan manusia, sedangkan respons negatif
adalah respons individu yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap
lingkungan sebagai penentu kesehatan manusia. Dalam kasus sawan
pengantin menunjukkan respon negatif terhadap kondisi lingkungan sebagai
faktor penentu kesehatan.
Respon negatif dalam kasus ditunjukkan oleh sikap suami yang tidak
memperhatikan kondisi lingkungan karena sibuk bekerja dan juga pengurus
Karang Taruna. Kondisi lingkungan yang tidak diperhatikan terlihat dari
halaman belakang yang rimbun oleh pohon pisang dan semak-semak, kolam
yang penuh dengan tanaman air, dan letak rumahnya yang dekat dengan
ladang sehingga banyak bertebaran sampah-sampah plastik maupun daundaunan.
Kondisi

lingkungan

yang

tidak

diperhatikan

dapat

memicu

perkembangbiakan vektor penyakit. Salah satunya vektor penyakit malaria


yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan yang memungkinkan nyamuk berkembangbiak dan berpotensi
melakukan kontak dengan manusia serta menularkan parasit malaria.
Terdapat tiga faktor yang berperan dalam penyebaran malaria, yaitu parasit,
inang, dan lingkungan. Penyebaran malaria dapat terjadi apabila ketiga
komponen tersebut saling mendukung. Penyakit menular ini disebabkan oleh
Plasmodium sp. yaitu Plasmodium falciparum, P. vivax, P. ovale, dan P.
malariae yang disebarkan oleh nyamuk Anopheles betina.

Faktor lingkungan yang berperan dalam penyebaran malaria adalah


hujan, suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, serta ketinggian.
Namun dalam kasus Sawan Pengantin hanya disebutkan letak rumah yang
dekat dengan dengan ladang sehingga banyak bertebaran sampah-sampah
plastik maupun daun-daunan, halaman belakang yang rimbun oleh pohon
pisang dan semak-semak, kolam yang penuh dengan tanaman air, dan
kurangnya ventilasi dalam rumah.
Pada kelembaban yang lebih tinggi nyamuk menjadi aktif dan lebih
sering menggigit, sehingga meningkatkan penularan malaria. Tingkat
kelembapan 60% merupakan batas paling rendah untuk memungkinkan
nyamuk hidup (Gunawan, 2000). Berdasarkan penelitian Ririh, 2008
kelembaban kelembaban udara minimal untuk kehidupan nyamuk, sehingga
kemungkinan
kelembapan

nyamuk
yang

untuk

tinggi

bertahan

hidup

juga mempengaruhi

makin
nyamuk

besar.

Adanya

untuk mencari

tempat yang lembap dan basah di luar rumah sebagai tempat hinggap
istirahat pada siang hari (Depkes RI, 2004).
Keberadaan semak yang rimbun juga akan mengurangi sinar matahari
masuk dan menembus tanah, sehingga lingkungan di sekitarnya menjadi
teduh dan lembab. Kondisi ini merupakan tempat yang baik untuk
peristirahatan nyamuk Anopheles sp. dan dapat pula sebagai tempat
perindukan nyamuk jika di bawah semak terdapat genangan air.
Menurut Depkes RI (2004), adanya tumbuh-tumbuhan sangat
mempengaruhi kehidupan nyamuk antara lain: sebagai tempat meletakkan
telur, tempat berlindung, tempat mencari makan dan berlindung bagi jentik
dan tempat hinggap istirahat nyamuk dewasa selama menunggu siklus
gonotropik. Semak-semak merupakan tempat hinggap dan beristirahat
nyamuk. Pekarangan dapat dimanfaatkan untuk tempat istirahat nyamuk.

Yudhastuti (2005), berpendapat bahwa bagi nyamuk dewasa tumbuhan


sangat penting untuk memperoleh mikroklimat yang cocok dan enak serta
bisa berlindung dari banyaknya ancaman musuh alaminya.
Depkes RI Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan. 2004. Pedoman Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor.
Jakarta: Departemen Kesehatan.
Gunawan, S. 2000., dalam: Harijanto, P.N. ed: Malaria Epidemiologi,
Patogenesis, Manifestesi Klinis dan Penanganan Epidemiologi Malaria.
Jakarta: EGC.
Yudhastuti, Ririh, 2005. Perumusan Indeks Lingkungan Untuk Prediksi
Peningkatan Kasus Malaria. Disertasi. Surabaya: Universitas Airlangga, : 3441.i
Yudhastuti, Ririh. 2011. Gambaran Faktor Lingkungan Daerah Endemis
Malaria Di Daerah Berbatasan (Kabupaten Tulungagung Dengan Kabupaten
Trenggalek). Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan
Masyarakat. Universitas Airlangga.