Anda di halaman 1dari 16

Evaluasi Formasi

13. EVALUASI FORMASI

a. Mud Logging
Mud logging sering disebut juga logging hidrokarbon atau logging formasi secara
fisik, termasuk monitoring dan mencatat berbagai data yang berhubungan dengan
sumur bor dan proses pemboran. Mud logging termasuk analisis gas dan cutting dengan
menggunakan informasi pemboran untuk menciptakan suatu catatan evaluasi formasi
yang menerus sewaktu sumur sedang dibor. Peralatan dan pelayanan dari mudlogging
dapat bervariasi dari monitoring yang sederhana samapai modeling computer yang
terintegrasi daripada lingkungan wellsite dan sumur pemboran (borehole).

b. Well logging:
- Open hole logging
Open hole logging dipakai untuk mengetahui keadaan formasi di bawah
permukaan. Logging dilakukan sebelum dilakukannya pemasangan casing pada lubang
bor. Atribut formasi yang umum yang mungkin diketahui yaitu:
1. Kapasitas simpan (storage capacity) dari formasi, dimana normalnya termasuk porositas
dan kejenuhan fluida
2. Sifat dari fluida, termasuk densitas, gas oil ratio, API gravity, resistivitas air dan
kegaraman, suhu dan tekanan

3. Seting geologi, dimana termasuk kemiringan stratigrafi atau struktur, karakteristik fasies,
dan heterogenitas dari reservoar
- Case hole logging
Case hole logging merupakan proses logging yang dilakukan setelah dilakukan
pemasangan casing pada lubang bor. Terdapat beberapa alasan mengapa case hole
logging dilakukan:
1. Sebagai pengukuran tambahan dari pengukuran yang dilakukan pada open hole.
Sangatlah penting untuk melakukan pengukuran tambahan ini dikarenakan kondisi
sumur yang memungkinkan ketidakakuratan data open hole, atau adanya pengukuran
yang tak semestinya pada beberapa zona saat open hole
2. Untuk memonitor perubahan yang terjadi pada formasi yang terjadi pada saat terakhir
casing telah dipasang. Selama masa hidup suatu sumur, perubahan saturasi dari ruang
pori oleh minyak, gas atau air dapat dipengaruhi oleh adanya proses produksi. Ketika
perubahan ini terjadi, evaluasi dari sebab perubahan ini mungkin diperlukan untuk
merancang strategi recovery daripada hidrokarbon
3. Untuk menyediakan kedalaman referensi antara pengukuran open hole dan case hole

c. Proses pengambilan data


Pengambilan data dilakukan dengan memasukkan alat berupa sonde atau
elektroda yang dimasukkan ke dalam lubang sumur dengan menggunakan kabel
elektrik. Instrumen yang ditempatkan di dalam kendaraan khusus akan mencatat
electrical properties dari batuan dan fluida yang dilewati oleh sonde bersamaan ketika
sonde tersebut ditarik dari bawah ke atas.

d. Basic well log analysis


d.1 Radioactive log
d.1.1. Gamma ray log
Gamma ray log mengukur emisi dari gamma ray alam pada berbagai lapisan
pada sumur pemboran. Pengukuran ini berhubungan dengan kandungan isotop
radiogenic dari potassium, uranium dan thorium. Elemen tersebut (terutama potassium)
sangat umum dijumpai pada mineral clay dan beberapa jenis evaporit. Pada suatu
lapisan klastik terrigenous, log akan menunjukkan cleanness (kurangnya clay) atau
shaliness (radioaktivitas tinggi pada skala API) daripada batuan. Dikarenakan
karakteristiknya, maka log gamma ray akan menunjukkan suatu suksesi yang sama
antara lapisan pasir dan lapisan karbonat.
Perlu ditekankan disini bahwa pembacaan gamma ray bukan fungsi dari ukuran
butir atau kandungan karbonat, tetapi akan berhubungan dengan banyaknya kandungan
shale. Membedakan litologi seperti batupasir, konglomerat, dolomit atau batugamping
lebih baik jika dilakukan kalibrasi dengan satu atau lebih macam log yang lain atau
dengan core dan cutting. Log ini umumnya berada di sebelah kiri kolom kedalaman
dalam satuan API units. Log SP dan log sinar gamma terutama digunakan untuk
membedakan antara batuan reservoar dan non reservoar. Selain itu juga penting di
dalam pekerjaan korelasi dan evaluasi kandungan seprih di dalam suatu formasi.

d.1.2 Density Log


Log densitas mengukur densitas semu formasi menggunakan sumber radioaktif
yang ditembakkan ke formasi dengan sinar gamma yang tinggi dan mengukur jumlah
sinar gamma rendah yang kembali ke detektor.

d.1.3 Neutron Log


Log neutron mengukur hydrogen index formasi menggunakan sumber neutron
radioaktif yang ditembakkan ke formasi deengan neutron yang cepta. Neutron
bertumbukan dengan atom dari formasi, mentransfer energi melalui tumbukan.
Transfer energi yang paling efisien adalah dengan atom hydrogen karena massa
hydrogen diperkirakan sama dengan massa neutron. Gas mempunyai hydrogen index
yang rendah dibandingkan air, sehingga menyebabkan alat akan mencatat porositas
yang rendah pada formasi yang mengandung gas. Jika digunakan bersama log densitas,
akan sangat gampang untuk mengidentifikasi interval formasi yang mengandung gas.

d.2 Electric log


d.2.1. Resistivity Log
Resistivity log atau log tahanan jenis/resistivitas akan mengukur tahanan dari
fluida dalam pori-pori batuan terhadap aliran elektrik. Aliran elektrik ini ditransmisikan
secara langsung kepada batuan melalui elektroda jauh ke dalam formasi. Istilah dalam
disini berarti arah horizontal dari lubang bor. Resistivitas pada kedalaman yang berbeda
akan diukur oleh berbagai panjang alat yang bervariasi. Beberapa kurva
resistivitas biasaya ditampilkan pada satu track saja.
Log resistivitas digunakan untuk evaluasi fluida di dalam formasi. Alat ini juga
dapat digunakan untuk indentifikasi batubara (tahanan tinggi). Pada sumur-sumur tua
dimana hanya sedikit jenis log yang digunakan, log resisitivitas sangat berguna untuk
picking bagian top dan bottom dari formasi, dan untuk korelasi sumur. Batuan berpori
yang dijenuhi freshwater mempunyai resistivitas tinggi, oleh karena itu log ini dapat

digunakan untuk memisahkan shale dari batupasir dan batugamping berpori. Batuan
yang kering dan hidrokarbon merupakan konduktor yang jelek kecuali klorit, grafit, dan
sulfide yang mengandung unsur logam. Ketika suatu formasi dibor, maka air pemboran
akan masuk ke dalam formasi dari dinding lubang bor sehingga membentuk tiga zona
yaitu zona terinvasi (flushed zone), zona transisi (transisition zone) dan zona yang tak
terinvasi air lumpur pemboran (uninvaded zone). Log tahanan jenis ada dua macam
yaitu dual laterolog-Rxo log dan dual induction-spherically focused log. Kedua macam
log tahanan jenis ini mempunyai fungsi yang sama yaitu untuk mengetahui tahanan
jenis darui formasi.

d.2.2. Log SP (Spontaneous Potential)


Log SP merupakan hasil dari pengukuran beda potensial arus searah antara
elektroda di dalam lubang bor dengan elektroda di permukaan. Beda potensial inilah
yang kemudian direkam dalam bentuk log. Untuk lebih memahami proses pengukuran
beda potensial sehingga dihasilkan log SP, maka dapat dipahami mengenai aliran arus SP
di
dalam formasi yang diukur. Log ini selalu diletakkan di sebelah kiri kolom kedalaman
bersama-sama dengan log GR. Satuannya yaitu milivolt (mV). Log SP terdiri atas garis
dasar yang agak lurus dengan puncak-puncak (peaks) yang berarah ke kiri. Garis dasar
ini

menunjukkan

lapisan-lapisan

impermeable

sedangkan

puncak-puncaknya

berhadapan dengan lapisan permeable.


Log SP hanya dapat menunjukkan lapisan permeable, namun tidak dapat
mengukur harga absolut dari permeabilitas maupun porositas dari suatu formasi. Log SP
sangat dipengaruhi oleh bebeapa parameter seperti resistivitas formasi dan air lumpur
pemboran, ketebalan formasi dan parameter yang lain.

d.3Sonic log
Log sonik mengukur kecepatan gelombang suara di dalam batuan. Kecepatan ini
tergantung pada
1) litologi
2) jumlah ruang pori yang saling berhubungan
3) Jenis fluida yang ada dalam pori. Log ini sangat berguna untuk memisahkan lapisan
dengan kecepatan yang sangat rendah seperti batubara atau poorly cemented
sandstone

d.4 Repeat Formation Tester, Side Wall Core, Dipmeter, dll


d.4.1. Repeat formation tester
Side wall core telah dikembangkan untuk mendapatkan data core yang diambil
setelah sumur telah dibor dan dilakukan logging. Alat dapat secara tepat diletakkan
pada zona yang ingin diteliti menggunakan referensi log gamma atau SP sebagai
petunjuk. Sidewall core adalah suatu alat yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan
tentang formasi. Namun bagaimana pun, side wall core tidak dapat digunakan sebagai
pengganti dari core dikarenakan sampling yang tidak kontinyu dalam menjadi misinterpretasi pada sekuen geologi.

d.4.2. Dipmeter
Dipmeter adalah alat logging yang digunakan untuk mengukur arah dan besarnya
kemiringan lapisan yang melalui lubang bor. Sebelum adanya dipmeter, arah dan

besarnya kemiringan lapisan diperoleh dari formasi bagian atas pada tiga lubang bor
yang berbeda. Dari data yang didapat, arah dan besarnya kemiringan dapat ditentukan.
Sedangkan dengan dipmeter, besar dan arah kemiringan formasi diperoleh dari satu
lubang bor saja. Informasi dipmeter ini berguna didalam menentukan kemungkinan
adanya struktur geologi, menentukan arah pemboran selanjutnya, memperkirakan
adanya reservoar, ketidaselarasan dan informasi stratigrafi. Semua informasi ini
diperlukan oleh geologi perminyakan di dalam mengembangkan lapangannya.

e. Analisis kualitatif
Wireline log merupakan data yang sangat penting di dunia perminyakan. Hal ini
dikarenakan melalui data wireline log dapat diketahui sifat petrofisika yang meliputi
porositas dan kejenuhan air dari batuan yang ditembus oleh lubang bor. Sifat petrofisika
batuan ini dapat digunakan untuk mengetahui besarnya kandungan hidrokarbon pada
batuan reservoar di bawah permukaan. Karena peranannya yang sangat penting ini
menyebabkan wireline log mengalami perkembangan yang sangat cepat baik teknologi
ataupun jenisnya. Analisa kualitatif adalah termasuk:

- Interpretasi litologi
Interpretasi litologi umumnya dilakukan menggunakan log gamma ray. Untuk
analisis tingkat lanjut, maka bermacam-macam jenis log yang lain dapat digunakan
untuk mendukung interpretasi litologi, seperti log SP, log tahanan jenis, log sonik, dan
log densitas.

- Interpretasi fluida reservoar


Untuk melakukan interpretasi fluida, log yang dapat digunakan secara efektif
adalah log tahanan jenis. Log ini secara langsung akan mengukur tahanan jenis daripada
fluida yang berada di dalam pori batuan. Dengan mengetahui nilai daripada tahanan itu,
maka fluida reservoar dapat diinterpretasi. Beberapa jenis log lain juga dapat dipakai
untuk mendukung interpretasi, misalnya seperti log sonik.

- Interpretasi GOC, GWC dan OWC


Untuk melakukan interpretasi GOC, GWC dan OWC maka diperlukan beberapa
jenis log secara bersama, yaitu log GR, log tahanan jenis, log sonik dan log densitas.

f. Evaluasi formasi
Evaluasi formasi adalah studi tentang karakteristik lubang sumur dan reservoar,
utamanya berdasarkan log yang dijalankan pada sumur tersebut.

g. Analisis kuantitatif
Analisa log kuantitatif membedakan antara clean formation dan shaly formation.
Shaly formation membutuhkan perlakukan yang berbeda di dalam penghitungan sifat
petrofisikanya. Hal ini dikarenakan hadirnya serpih (shale) yang cukup tinggi di dalam
batuan reservoar. Hasil studi berbagai cekungan di dunia menunjukkan bahwa serpih
terutama terdiri atas 50% lempung (clay) sedangkan sisanya 25% silika, 10% feldspar,
10% karbonat, 3% oksida besi, 1% bahan organik dan 1% mineral lain (Dewan, 1983).
Peralatan logging di dalam melakukan pengukuran akan merespon formasi yang

mempunyai ketebalan vertikal minimal 2-4 feet. Hal ini mengakibatkan ketiga jenis
bentuk serpih ini tidak dapat dibedakan oleh peralatan logging. Penghitungan sifat
petrofisika batuan reservoar dapat dilakukan tanpa memperhatikan ketiga jenis bentuk
serpih ini.
Analisis log secara kuantitatif mempunyai tujuan yaitu menghitung porositas
efektif (e ) dan kejenuhan air (Sw) pada suatu batuan reservoar yang mengandung
hidrokarbon. Kedua parameter ini sangat penting di dalam meng-estimasi cadangan
hidrokarbon yang ada di dalam batuan reservoar tersebut. Di dalam menghitung
kejenuhan air (Sw) parameter yang harus dicari terlebih dahulu adalah tahanan jenis air
formasi (Rw) dan tahanan jenis foramsi (Rt).

- Perhitungan porositas
Porositas () meruipakan fraksi ruang pori yang berada pada suatu batuan.
Porositas efektif merupakan fraksi ruang pori yang saling berhubungan yang terdapat
pada suatu batuan. Porositas ini ditunjukkan sebagai suatu fraksi bulk volume dari suatu
batuan, jadi selalu mempunyai harga antara 0 dan 1. Porositas biasa dinyatakan dalam
persentase atau porosity unit (PU), misalnya suatu batuan yang mempunyai porositas
25% dapat dinyatakan dalam 25 PU Log untuk mengukur porositas yang utama adalah
densitas, neutron, sonik dan Rxo (Heysse, 1991).
Alat untuk mengukur porositasini sangat sensitif terhadap matrik batuan dan
fluida yang berada di dalam pori. Log-log di atas tidak dapat megukur porositas
sesungguhnya dari batuan. Log-log ini hanya mengukur parameter tertentu yang
kemudian digunakan untuk mengukur porositas.

Di dalam penghitungan porositas, beberapa asumsi digunakan yaitu tentang matrik dan
fluida. Selain itu, pengukuran porositas dilakukan pada zona terinvasi. Hal ini nantinya
akan mempengaruhi harga porositas yang didapatkan.
Log densitas mengukur bulk density (b), parameter ini digunakan untuk
menghitung porositas setelah diasumsikan densitas matrik (ma) dan densitas fluida
(f). Rumus yang digunakan adalah: D = ma b/ ma f Log neutron akan sangat
dipengaruhi oleh jumlah hidrohgen di dalam formasi, selain itu juga dipengaruhi batuan,
salinitas, suhu fluida dan tekanan formasi. Setelah mengasumsi hal ini, maka N dapat
diketahui dengan membaca pada log. Cara menghitung porositas yang sering digunakan
adalah dengan menggunkan kombinasi antara log
densitas dan log neutron. Untuk shaly formation, penambahan serpih akan mengurangi
porositas dari batuan (Heyse, 1991). Kombinasi dari log neutron dan log densitas dapat
digunakan untuk mengoreksi porositas pada shally formation yang dipengaruhi serpih,
yaitu dengan menggunakan rumus:
e = Nsh.D-Dsh.N/ Nsh-Dsh
Demikian juga untuk menghitung harga Vsh digunakan rumus
Vsh = N D/ Nsh - Dsh
- Perhitungan volume lempung reservoar
- Perhitungan kejenuhan air dan minyak

Kejenuhan air (Sw) didefinisikan sebagai fraksi dari pori batuan yang mengandung atau
diisi oleh air. Bulk volume dari air merupakan hasil kali dari dan Sw sementara bulk

volume dari hidrokarrbon adalah (1- Sw). Harga Sw dapat dihitung dengan berbagai
metode
o Clean sand formation
o Shaly sand formation

h. MWD (Measurement While Drilling) dan LWD (Logging While Drilling) Teknologi MWD
memberikan evaluasi bawah permukaan yang meliputi sinar gamma (GR), tahanan jenis,
dan porositas ketika pemboran sedang berlangsung. Teknologi MWD yang didapat
ketika sedang melakukan pemboran ini umumnya digunakan sebagai data tambahan
atau untuk menggantikan data log untuk evaluasi formasi atau korelasi geologi pada
daerah dengan resiko yang tinggi atau ongkos operasi yang besar.

Evaluasi formasi
Evaluasi formasi dengan menggunakan MWD mempunyai beberapa kelebihan
dibandingkan log konvensional, yaitu:
- Karena pengukuran MWD dilakukan segera setelah interval yang dipenetrasi oleh bit,
efek dari invasi fluida dapat dikurangi. Dengan berkurangnya efek dari invasi fluida ini,
maka evaluasi karakteristik suatu formasi yang kritis akan dapat dicapai.

- Dalam suatu directional well dimana sudut dari lubang bor dapat berdeviasi sampai 80
dari vertikal, log konvesional sangat sulit dan mahal untuk dapat dijalankan. Dalam
kasus yang demikian, maka data MWD akan menyediakan satu-satunya catatan
permanen daripada lubang sumur. Log MWD juga menyediakan asuransi dalam satu
kasus dimana suatu sumur harus ditinggal karena alasan-alasan teknis.

- Jarak tiap elektroda dan juga rerata penetrasi yang lebih lambat daripada alat MWD
akan memberikan suatu angka sample per feet yang lebih besar. Naiknya densitas
sampel sering mengakibatkan resolusi yang lebih baik pada lapisan batuan yang tipis,
terutama untuk peralatan resistivitas. Dikarenakan kecepatan logging tergantung pada
rate of penetration, maka pemboran dapat dikontrol melalui zona tujuan untuk
mencapai resolusi yang maksimum.

Korelasi geologi
Sebelum adanya MWD, plot waktu pemboran dan plot dari rate of penetration
digunakan untuk korelasi geologi ketika pemboran masih dalam proses. Plot ini sulit
untuk digunakan, terutama untuk suatu area yang kompleks, dikarenakan rate of
penetration dapat dikontrol secara mekanis. Dengan MWD berupa gamma ray atau
tahanan jenis, korelasi dengan sumur-sumur offset dapat dilakukan dengan lebih
terpercaya. MWD telah sukses digunakan sebagai alat korelasi dengan menyediakan
beberapa fungsi:
1. Penentuan untuk tempat coring dilakukan
2. Pemilihan casing yang optimum dan kedalaman total pemboran
3. Penentuan titik kick off untuk sumur-sumur sidetrack
4. Membantu dalam mengendalikan sumur-sumur mempunyai deeviasi yang tinggi atau
sumur horizontal
Diposkan oleh Yayang Geologist di 04.37 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Jumat, 17 Desember 2010

Reservoar Batuan Retak

7. RESERVOAR BATUAN RETAK (FRACTURED RESERVOIR)

a. Teori retakan
Hampir semua batuan, termasuk batuan sedimen kecuali evaporit, cukup brittle
untuk mengalami retak (fracture) secara alamiah. Batuan akan lebih kuat dibawah gaya
kompresi dibandingkan jika mengalami gaya tension. Kekuatan kompresi (compressional
strength) dari batuan reservoar sedimen (gaya kompresi di mana batuan hancur) adalah
antara 8 MPa 180 MPa. Nilai kekuatan kompresi rata-rata batuan karbonat adalah
sekitar 100 MPa (14.000 psi). Untuk batupasir lebih rendah dengan rata-rata 60 MPa
atau 8500 psi.Batupasir mempunyai variasi dalam bagian semennya, dimana batupasir
biasanya pecah pada grain-nya dan bukan pada semen.
Kekuatan tensile batuan adalah lebih rendah dibandingkan kekuatan kompresi
dengan perbandingan ratusan. Hal ini menunjukkan bahwa retakan akan lebih mudah
dijumpai pada gaya ekstensi (regional atau local) daripada dibawah gaya kompresi. Jika
retakan menyebabkan adanya porositas efektif dan permeabilitas, maka bodi dari
batuan akan menyusut. Retakan akan efektif terjadi pada gaya ekstensi.
Gaya ekstensi yang bekerja pada batuan tidak berarti terjadinya regime ekstensi
secara regional. Retakan yang terbentuk secara ekstensi akan terbentuk sejajar
sedangkan retakan yang terjadi dari kompresi biasanya adalah shear fracture. Retakan
ekstensi akan terbentuk tegak lurus terhadap sumbu 1, sebagai pelepasan dari
kompresi sedangkan retakan kompresi terbentuk secara oblique terhadap sumbu
kompresi (arah dari gaya 1). Sebagai hasilnya adalah terbentuknya suatu set retakan.
Pada suatu skala yang besar maka akan menjadi suatu pola kekar (joint) yang besar.

b. Penyebab retakan pada batuan


Retakan pada batuan mempunyai banyak sebab antara lain:
1. Buckle folding dikarenakan gaya yang parallel terhadap lapisan batuan. Sebagai
contoh yaitu puncak antiklin yang terbentuk karena adanya ekstensi secara local.
2. Buckle folding sebagai akibat dari gaya yang tegak lurus terhadap lapisan batuan.
Sebagai contoh yaitu adanya uplift/ horst yang terjadi akibat adanya gaya yang tegak
lurus terhadap lapisan batuan.

3. Sesar merupakan penyebab yang efektif adanya retakan pada batuan, dapat
terjadi akibat gaya kompresi ataupun gaya ekstensi.
4. Tekanan fluida atau fluid pressure adalah penyebab paling utama dari retakan
ekstensional. Retakan ekstensional terjadi jika tekanan fluida melebihi confining stress
(3).
5. Relief of lithostatic pressure.
6. Pressure solution, umumnya terjadi pada batuan karbonat.
7. Hilangnya atau berkurangnya kandungan fluida akan menyebabkan retakan batuan.
Hal ini dikarenakan hilangnya volume batuan yang sebelumnya terisi oleh air sehingga
mengakibatkan penyusutan batuan dan mengakibatkan retakan.
8. Pelapukan atau weathering, terjadi akibat adanya aktivitas tumbuhan.
9. Pendinginan daripada batuan beku akan mengakibatkan keretakan pada batuan beku
tersebut.

10. Impact crater atau kawah yang terbentuk akibat adanya tumbukan yang keras,
seperti akibat adanya tumbukan dari meteorit ke bumi akan menimbulkan pula retakan
pada batuan.

c. Hubungan kerapatan retakan dan ketebalan lapisan


Pada umumnya hubungan antara kerapatan retakan dan ketebalan lapisan relatif
berbanding lurus, dimana pada lapisan yang lebih tebal maka intensitas retakan
cenderung lebih tinggi.

d. Macam-macam reservoar retak


Terdapat berbagai macam batuan yang dapat berfungsi sebagai reservoar retak,
yaitu:
1. batugamping (limestone) dan dolomit, merupakan reservoar retakan yang
spektakuler yang telah ditemukan.
2. Chalk dan marls.
3. Diatomite, baturijang (chert) dan serpih silika (siliceous shale).
4. Bituminous shale.
5. Siltstone.
6. Batuan beku (igneous rocks).
7. Batuan dasar atau basement.

e. Cara mengenali reservoar retakan


Sebagai petunjuk awal dalam mengenali adanya reservoar retakan yaitu dengan
melihat performance daripada sumur. Jika sumur dapat memproduksi dengan lebih baik
dari yang diharapkan, ada kemungkinan terjadi reservoar retakan walau hal ini masih
cukup sulit untuk diidentifikasi. Salah satu cara yang cukup baik adalah dengan cara
menurunkan kamera ke dalam lubang sumur berupa downhole camera walaupun hal ini
juga masih cukup sulit untuk mengetahui adanya reservoar retakan.
Adanya data core juga diharapkan dapat membantu dalam identifikasi adanya
reservoar retakan. Core bukan merupakan data statistik yang baik karena core hanya
diambil pada daerah interval tertentu saja. Selain itu, juga sulit untuk mempertahankan
bentuk core jika terjadi retakan pada batuan. Kehadiran slickenside pada retakan dan
juga tension gashes yang berasosiasi dengan stylolite merupakan indikasi adanya
retakan yang terjadi secara alamiah. Juga dari analisis cutting yang diambil dari lumpur
pemboran, bentuk cutting yang planar cenderung berasosiasi dengan retakan. Analisis
dengan menggunakan well log adalah salah satu cara yang juga biasa dipakai untuk
mengidentifikasi reservoar retak.
Kombinasi dari log neutron dan density merupakan jenis log yang paling
terpercaya untuk melakukan identifikasi adanya suatu reservoar retak. Rate of
penetration yang bertambah cepat sewaktu berlangsungnya pengeboran juga
merupakan indikasi lain adanya reservoar retak, walaupun hal ini juga dapat terjadi
akibat adanya sebab yang lain.