Anda di halaman 1dari 5

Reaksi diatas mengumpamakan bahwa rasio antara : S sama dengan 1 pada gel C-S-H

awal. Dan jumlah anion silikat dalam gel C-S-H banyak pada waktu hidrasi yang
berlangsung singkat. Terjadinya endapan gel C-S-H mengambil tempat dipermukaan C3S,
dimana mempunyai konsentrasi ioni yang besar, karenanya lapisan tipis terjadi di
permukaan C3S. Kedua reaksi di atas dapat di tulis menjadi:
2Ca3SiO5 + 7H2O Ca2(OH)2H4Si2O7 + 4Ca2+ + 8OH
Selama periode ini, konsentrasi lewat jenuh kalsium hidrosida tidak tercapai, karena itu
pada persamaan diatas ini konsentrasi kapur bertambah selama proses hidrasi
berlamgsung.
a.2.Induction period
Pada period ini, laju pembebasan panas turun. Penambahan gel S-S-H lambat, konsentrasi
Ca2+ dan OH terus bertambah. Ketika kondisi super saturated tercapai, pengkristalan
kalsium hidrosida mulai terjadi. Pada temperatur lingkungan, lamanya period ini
berlangsung beberapa jam.
a.3.Acceleration Period dan Deceleration Period
Pada akhir period induksi, hanya sedikit dari C3S yang menghidrasi. Pada acceleration
period, padatan Ca(OH)2 mengkristal dan gel C-S-H terjebak kedalam ruangan-ruangan
kosong dalam air membentuk jaringan yang menyatu, dengan proses ini mulai terbentuk
kekuatan (strength) semen.
Porositas system menurun karena kandungan hidrat. Akhirnya perpindahan ion-ion pada
jaringan gel C-S-H terhalangi, dan kecepatan hidrasi menurun. Period ini berlangsung
beberapa hari. Acceleration period dan deceleration period biasanya disebut dengan
Setting Period.
a.4.Diffusion Period
Pada period ini, hidasi berlangsung dalam keadaan lambat dan porositas sistem
berkurang. Jaringan produk hidrat menjadi lebih tebal dan strength bertambah besar.
Kristal portlandite terus berkembang dan memakan butiran C3S yang berakibat hidrasi
total tidak pernah tercapai.
b.Hidrasi Fasa Aluminat
Fasa aluminat, terutama C3A, sangat reaktif pada hidrasi yang berlangsung singkat.
Walupun kadar aluminat lebih kecil daripada kadar silikat, namun aluminat ini
berpengaruh terhadap reologi suspensi semen dan pembentukan strength semen pada
awal period.
Seperti pada C3S, maka langka hidrasi awal C3A adalah reaksi antara permukaan solid
dengan air. Reaksi irreversible menuntun hidroksidasi anion AlO2- dan O2- kedalam
[Al(OH)4] dan OH, dan mengakibatkan terputusnya permukaan yang berproton.
Ca3Al2O6 + 6H2O 3A2+ + 2[Al(OH)4] + 4OH
Larutan dengan cepat menjadi supersaturated sehingga timbul kalsium aluminat hidrat.

6Ca2+ + 4[Al(OH)4] + 8OH + 15H2O Ca2[Al(OH)5]2


3H2O + 2[Ca2Al(OH)7 6H2O]
Kedua reaksi diatas digabungkan menjadi:
2C3A + 27H C2AH8 C2AH8 + C4AH19
Kalsium aluminat hidrat pada persamaan ini hampir stabil kondisinya dan terjadi dalam
bentuk kristal heksagonal. Kemudian berubah menjadi lebih stabil dalam bentuk kubik
sebagai C3AH6, menurut reaksi dibawah ini:
C2AH8 + C4AH19 2 C3AH6 + 15H
Tidak seperti kalsium silikat hidrat, kalsium aluminat hidrat tidak amorphous dan tidak
mempunyai lapisan pelindung. Karenanya pada hidrasi fasa aluminat tidak ada period
induksi dan hidrasinya berlangsung cepat.
Hidrasi C3A dikontrol dengan penambahan 3 5% gipsum pada clinker sebelum digiling.
Ketika kontak dengan air, sebagian gipsum pecah. Ion-ion kalsium dan sulfat bereaksi
dengan ion aluminat dan hidroksil membentuk kalsium Trisulfoaluminat Hidrat yang
biasa dikenal sebagai mineral Ettringite, seperti terlihat pada reaksi dibawah ini:
6Ca+ +2[Al(OH)4]- + 3SO42- + 4 OH- + 26H2O Ca6[Al(OH)6]
2(SO4)3 .26H2O
Ettiingite terjadi dalam bentuk kristal jarum yang timbul pada permukaan C3A, yang
menghindari hidrasi berikutnya. Jadi periode induksi seolah-olah dibuat. Selama periode
ini, gipsum secara perlahan-lahan habis dan ettringite terus timbul. Kemudian hidrasi C3A
menjadi lebih cepat, saat gipsum mulai habis. Konsentrasi ion sulfat berkurang dengan
tajam. Ettringite menjadi tidak stabil dan berubah menjadi kalsium monosulfoaluminat
hidrat.
C3A.3CS.32H+2C3A+4H 3C3A.CS.12H
Sedang C3A sisa yang tidak menghidrat membentuk kalsium aluminat hidrat.
4.2.Hidrasi Pada Temperatur Tinggi
Seperti telah diterangkan sebelumnya, bahwa semen Portland terdiri paling banyak
dari material kalsium silikat. Penambahan air pada material tersebut akan membentuk gel
kalsium silikat hidrat yang disebut gel C-S-H. Gel ini akan mempengaruhi strength dan
kestabilan semen pada temperatur biasa, selain itu sejumlah kalsium hidroksida
dibebaskan.
Gel C-S-H merupakan produks awal pada temperatur tinggi, dan sebagai material
pengikat pada temperatur kurang dari 1100C (2300F)
Pada temperatur yang lebih tinggi, gel C-S-H mengalami metamorfosis yang selalu
menyebabkan turunnya compressive strength dan menaikan permeabilitas semen.

Kejadian ini umum disebut dengan istilah Strength Retrogression, yang pertama kali
dikemukakan oleh SWAYZE pada tahun 1945.
Gel C-S-H sering berubah fasa menjedi Alpha Dicalcium Silicate Hydrate (a C2SH),
yang berbentuk kristal dan lebih padat bentuknya dibandingkan gel C-S-H. Akibatnya
mempengaruhi kelakuan compressive strength dan permeabilitas semen pada temperatur
2300C (4460C).
Compresive strength akan hilang dalam waktu satu bulan dan permeabilitas akan naik.
Masalah strength retrogression dapat dicegah dengan menambahkan bubuk kapur silica
dalam bubuk semen.
Pada gambar 10 dibawah ini melukiskan kondisi bermacam-macam komponen kalsium
silika. Rasio C:S diplot terhadap temperature. Gel C-S-H mempunyai rasio rata-rata
sekitar 1.5. Terjadinya a-C2SH pada 1100C(2300F) dapat dicegah dengan penambahan
35 - 40% silika, sehingga mengurangi rasio C:S menjadi sekitar 1. Pada kondisi ini,
sebuah mineral yang diketahui sebagai Tobermorite (C5S6H5) terbentuk yang memberikan
sifat strength tinggi dan permeabilitas rendah dapat dipertahankan. Kenaikan temperatur
sampai (1490C 3000F) menyebabkan tobermorite berubeh menjadi Xonotlite (C6S6H) dan
sebagian kecil Gyrolite (C6S3H2). Namun kadang-kadang Tobermorite bertahan hingga
temperatur 2500C (4820F), karena adanya penggantian aluminium dalam struktur atom
semen Portland.

Bertambah baiknya kelakuan kestabilan silika semen Portland pada temperatur tinggi
dapat dilihat pada gambar 11.
Pada temperatur 2490C (4800F), Truscottite (C7S12H3) mulai terbentuk. Dan mendekati
temperatur (4000C 7500F) baik Xonotlite dan Truscottite mencapai keadaan yang stabil,
dan bila melebihi temperature stabil ini, maka keduanya dapat merusak semen.

Disamping mineral-mineral di atas, terbentuk pula mineral lainnya seperti Pectolite


(NC4S6H), Scawtite (C7S6CH2), Reyelite (KC14S24H5, Kilchoanite (serupa dengan C3S2H),
dan Calcio-chondrodite (serupa dengan C5S2H). Namun mineral-mineral ini tidak begitu
mempengaruhi sifat-sifat semen.
Semen yang mengandung pectolite, sodium kalsium silikat hidrat, dalam pengembangan
semen memuat semen lebih tahan terhadap korosi yang disebabkan adanya air asin.
Sementara scawtite berpengaruh dalam peningkatan compressive strength semen
walaupun hanya sedikit. Umumnya semen yang mengandung kalsium silikat hidrat
dengan rasio kurang dari 1 cenderung mempunyai compressive strength yang tinggi dan
permeabilitas yang rendah.