Anda di halaman 1dari 3

Penyakit yang mungkin muncul di Australia dan bagaimana cara pencegahannya,

diantaranya :
Rabies adalah penyakit menular yang akut darisusunan syaraf pusat yang
dapat menyerang hewan berdarah panas dan manusia yang disebabkan oleh
virus rabies.Bahaya rabies berupa kematian gangguan ketentraman hidup
masyarakat. Hewan sepertianjing, kucing dan kera yang menderita rabies akan
menjadi ganas
dan biasanya cenderung menyerang atau menggigit manusia. Penderita rabies
sekali gejala klinis timbul biasanya diakhiri dengan kematian. Terhadap
bahaya rabies termaksud diatas akan mengakibatkan timbulnya rasa cemas
atau rasa takut baik terhadap orang yang digigit maupun masyarakat pada
umumnya.

Adapun langkah-langkah pencegahan rabies dapat dilihat dibawah ini:

Tidak memberikan izin untuk memasukkan atau menurunkan anjing,


kucing, kera
dan hewan sebangsanya didaerah bebas rabies.

Memusnahkan anjing, kucing, kera atau hewan sebangsanya yang masuk


tanpa izin ke daerah bebas rabies.

Dilarang melakukan vaksinasi atau memasukkan vaksin rabies kedaerahdaerah bebas rabies.

Melaksanakan vaksinasi terhadap setiap anjing, kucing dan kera, 70%


populasi yang ada dalam jarak minimum 10 km disekitar lokasi kasus.

Demam kuning (dijuluki "Yellow Jack") adalah sebuah penyakit hemorrhagik


virus akut. Virus ini berupa sebuah virus RNA sebesar 40 hingga 50 nm
dengan indera positif dari keluarga flaviviridaer.
Virus demam kuning ini ditularkan melalui gigitan nyamuk betina (nyamuk
demam kuning, Aedes Aigypti, dan spesies lain) dan ditemukan di kawasan
tropis dan subtropis di Amerika Selatan dan Afrika, namun tidak di Asia.
Satu-satunya makhluk yang ditunggangi virus ini adalah primata dan beberapa
spesies nyamuk . Penyakit ini diyakini berasal dari Afrika, kemudian dari sana

diperkenalkan ke Amerika Selatan melalui perdagangan budak pada abad ke16. Sejak abad ke-17, beberapa epidemi besar penyakit ini tercatat muncul di
Amerika, Afrika dan Eropa. Pada abad ke-19, demam kuning dianggap
sebagai salah satu penyakit menular paling berbahaya.
Demam kuning terjadi dalam rupa demam,mual dan nyeri dan penyakit ini
umumnya menghilang setelah beberapa hari. Pada beberapa pasien, fase
beracunnya terjadi setelah itu, dan kerusakan hati dengan jaundis
(penguningan kulit yang memberi nama penyakit ini) dapat terjadi dan
mengakibatkan kematian. Karena kecenderungan pendarahan yang meningkat
( diatesis pendarahan ), demam kuning termasuk dalam kelompok demam
hemoragik. WHO memperkirakan bahwa demam kuning mengakibatkan
200.000 korban sakit dan 30.000 kematian setiap tahunnya di daerah
berpenduduk tanpa vaksin, sekitar 90% infeksi terjadi di Afrika. Vaksin
teraman dan efektif melawan demam kuning sudah ada sejak pertengahan
abad ke-20 dan beberapa negara mensyaratkan vaksinasi untuk pelancong.
Karena belum ada terapi untuk penyakit ini, program vaksinasi ini, bersama
peraturan mengurangi

populasi nyamuk pengangkut virus, memiliki

kepentingan besar di daerah-daerah terjangkit. Sejak 1980-an, jumlah kasus


demam kuning terus meningkat dan menjadikannya sebagai penyakit yang
bangkit kembali ( Oldstone, Michael B. A. 2000 ).

Cara Pencegahan
Demam kuning dapat dicegah dengan melakukan pembasmian nyamuk A.
Aegypti atau dengan menekanjumlahnya hingga taraf yang tidak lagi dapat
menyebabkan infeksi terus-menerus. Bentuk pengendalian bentuk silvatik
tidak praktis karena populasi virus terpelihara oleh adanya daur hutan.
Meski demikian, demam kuning tetap dicegah dengan cara imunisasi.
Vaksin yang diizinkan untuk diperdagangkandi Amerika Serikat dibuat dari
galur 17D yang dikembangkan oleh Max Theiler tahun 1937. Vaksinasi
dianjurkan bagi orang yang bepergian atau tinggal di daerah yang masih
dijangkiti infeksi demam kuning ini (Jawetz, 1996).

Sumber : http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani10.pdf diakses tanggal 8


oktober 2014
Oldstone, Michael B. A. (2000). Viruses, Plagues, and History (ed. 1st). Oxford University
Press. hlm. 45. ISBN 0195134222.
"Yellow fever fact sheet". WHOYellow fever. Diakses tanggal 8 oktober 2014
Jawetz, 1996, Mikrobiologi Kedokteran, EGC, Jakarta