Anda di halaman 1dari 32

PENANGANAN LIMBAH HASIL PENGOLAHAN GULA KRISTAL

PUTIH DI PTPN XI (PERSERO) PG. PANJI SITUBONDO

LAPORAN KULIAH KERJA

Oleh
Anita Ray Suryaningtyas
NIM 111710101001

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Industri gula adalah salah satu industri yang menyokong kebutuhan bahan
pokok

masyarakat

Indonesia.

Sebagian

besar

industri

gula

Indonesia

menggunakan tanaman tebu sebagai bahan baku utama penghasil gula kristal.
Proses produksi gula kristal putih akan menghasilkan limbah yang tidak diinginkan.

PG. Panji merupakan salah satu pabrik yang mengolah tebu menjadi gula
kristal putih di daerah Situbondo, Jawa Timur. Beberapa proses pengolahan tebu
akan menghasilkan limbah. Limbah yang dihasilkan di pabrik gula terbagi
menjadi beberapa jenis dan dilakukan penanganan yang berbeda antara satu jenis
limbah dengan limbah yang lainnya. Jenis limbah yang dihasilkan pada produksi
gula berupa limbah cair, limbah padat, limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun),
dan limbah udara. Jumlah limbah cair dan limbah padat yang dihasilkan dari
proses produksi gula relatif banyak.
Jenis limbah yang dihasilkan di PG. Panji berupa limbah cair (limbah cair
proses, air bekas pendingin metal, air bekas pendingin dust collector, air bekas
kondensor, dan tetes), limbah padat (ampas, abu ketel, blotong dan ceceran tebu),
limbah gas (polutan cerobong ketel, polutan cerobong genset, polutan gas SO4, dan
polutan debu ampas halus), dan limbah B3 (pelumas bekas, Pb Asetat, accu bekas,
neon bekas, dan catridge bekas). Untuk tetes dan ampas merupakan jenis limbah
yang masih bisa dimanfaatkan sebagai produk samping.
Penanganan limbah yang kurang memperhatikan aspek lingkungan
menjadi salah satu permasalahan karena dapat memberikan dampak negatif
terhadap lingkungan. Sebagian limbah hasil pengolahan gula tebu ini dapat
dimanfaatkan kembali untuk keperluan industri lain sehingga dapat memperkecil
peluang terjadinya pencemaran lingkungan.
Kuliah Kerja merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi
mahasiswa yang menempuh program S-1 di Jurusan Teknologi Hasil
Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember. Dalam

mata kuliah ini mahasiswa dituntut untuk mengetahui kondisi di


lapangan kerja sehingga mahasiswa dapat mengaplikasikan dan
menyesuaikan antara ilmu yang didapat selama masa perkuliahan
dengan kondisi nyata di lapangan. Dengan adanya Kuliah Kerja ini,
mahasiswa dapat memahami dan memperdalam wawasan di bidang
Teknologi Hasil Pertanian seperti proses penanganan limbah hasil
pengolahan gula kristal putih di PTPN XI (PERSERO) PG. PANJI
SITUBONDO.

1.2

Tujuan

1.2.1 Tujuan umum:


Tujuan Kuliah Kerja secara umum adalah untuk mengetahui proses
pengolahan gula, jenis limbah dan produk samping yang dihasilkan serta proses
penanganan limbah di PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) PG. Panji,
Situbondo.
1.2.2 Tujuan khusus :
a. Mengetahui beberapa jenis limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan gula
kristal putih di PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) PG. Panji, Situbondo.
b. Mengetahui penerapan penanganan limbah pada pengolahan gula kristal putih
di pabrik gula di PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) PG. Panji, Situbondo.
1.3 Manfaat
Manfaat yang diperoleh bagi industri dari kegiatan Kuliah Kerja di PT.
Perkebunan Nusantara XI (Persero) PG. Panji, Situbondo antara lain :
a. Menambah ilmu pengetahuan bagi mahasiswa tentang teknologi
penanganan limbah
b. Melatih mahasiswa belajar mandiri dalam menekuni dunia kerja
c. Menambah pengalaman kerja di lapangan
d. Memberikan pengetahuan tentang penerapan penanganan
limbah di PG. Panji Situbondo

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gula
Gula adalah sukrosa yang merupakan disakarida dan tersusun atas
dua molekul monosakarida yaitu D-glukosa dan D-fruktosa. Sukrosa
mempunyai sifat karamelisasi yang hasilnya disebut karamel. Dalam
industri gula terjadinya karamel dapat merusak warna standart (Winarno,
2002).
Sukrosa adalah oligosakarida yang mempunyai peran penting
dalam pengolahan bahan makanan dan banyak terdapat dalam tebu. Industri
makanan biasanya menggunakan sukrosa dalam bentuk halus dan kasar
serta dalam jumlah yang besar atau digunakan dalam bentuk cairan (sirup).
Sukrosa yang dilarutkan dalam air dan dipanaskan, sebagian akan terurai
menjadi glukosa dan fruktosa yang disebut gula invert (Winarno, 2002).
2.2 Limbah
2.2.1 Pengertian Limbah
Limbah secara umum adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu
kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri,
pertambangan, dan sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas
dan debu, cair, dan padat. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu,
kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama
bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap
limbah ( Anonim, 2009).
2.2.2

Jenis Limbah Industri Gula


Menurut Sulai (2012) limbah pada industri gula dapat digolongkan

menjadi empat macam, yaitu:


1.

Limbah Cair
Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak
menggunakan air dalam sistem prosesnya. Di samping itu ada pula

bahan baku mengandung air sehingga dalam proses pengolahannya air


harus dibuang. Air terikut dalam proses pengolahan kemudian dibuang
misalnya ketika dipergunakan untuk pencuci suatu bahan sebelum
diproses lanjut. Air ditambah bahan kimia tertentu kemudian diproses
dan setelah itu dibuang. Semua jenis perlakuan ini mengakibatkan
buangan air.
2.

Limbah Padat
Limbah padat adalah hasil buangan industri berupa padatan,
lumpur, bubur yang berasal dari sisa proses pengolahan. Limbah padat
berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah domestik pada
umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan
perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari tempattempat umum. Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu, kain, karet/kulit
tiruan, plastik, metal, gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur, dan lainlain.

3. Limbah Gas dan Partikel


Partikel adalah butiran halus dan masih mungkin terlihat dengan
mata telanjang seperti uap air, debu, asap, kabut dan fume. Sedangkan
pencemaran berbentuk gas hanya dapat dirasakan melalui penciuman
(untuk gas tertentu) ataupun akibat langsung. Gas-gas ini antara lain
SO2, NOx, CO, CO2, hidrokarbon dan lain-lain.
4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
Limbah B3 merupakan limbah yang mengandung bahan berbahaya
atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun
tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup
atau membahayakan kesehatan manusia.Yang termasuk limbah B3
antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak
digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan
oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus.
Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih
karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif,

beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain, yang bila


diuji dengan toksikologi dapat diketahui termasuk limbah B3.
2.2.3 Alternatif Penanganan Limbah
Limbah industri dapat berdampak pada lingkungan dan juga
manusia. Hal seperti itu perlu ditanggulangi dengan adanya penanganan
untuk mengurangi dampak tersebut.
a. Penanganan Limbah Padat
Menurut Kristanto (2002), pengolahan limbah padat dapat dilakukan
melalui 2 cara yaitu limbah padat tanpa pengolahan dan limbah padat
dengan pengolahan. Limbah padat tanpa pengolahan dapat dibuang ke
tempat tertentu yang difungsikan sebagai tempat pembuangan akhir
karena limbah tersebut tidak mengandung unsur kimia yang beracun
dan berbahaya. Tempat pembuangan limbah semacam ini dapat di
daratan ataupun di laut. Berbeda dengan limbah padat yang
mengandung senyawa kimia berbahaya atau yang setidak-tidaknya
menimbulkan reaksi kimia baru. Limbah semacam ini harus diolah
terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Menurut
Kristanto
(2002),
faktor-faktor
yang

perlu

dipertimbangkan sebelum limbah diolah, yaitu:


a. Jumlah limbah
Jika jumlah limbah sedikit maka tidak membutuhkan penanganan
khusus seperti tempat dan sarana pembuangannya, tetapi jika
limbah yang dibuang misalnya 4 meter kubik perhari sudah tentu
membutuhkan tempat pembuangan akhir dan sarana pengangkutan
tersendiri.
b. Sifat fisik dan kimia limbah
Secara fisik dapat merusak dan mencemari lingkungan, secara
kimia dapat menimbulkan reaksi saat membentuk senyawa baru.
Limbah padat yang berupa lumpur akan mencemari air tanah
melalui penyerapan ke dalam tanah.
c. Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan
Perlu diketahui komponen lingkungan yang rusak

akibat

pencemaran pada tempat pembuangan akhir. Unsur mana yang

terkena dampak dan bagaimana tingkat pencemaran yang


ditimbulkan.
d. Tujuan akhir yang hendak dicapai
Tujuan yang hendak dicapai tergantung dari kondisi limbah,
bersifat ekonomis atau non ekonomis. Untuk limbah yang memiliki
nilai ekonomis mempunyai tujuan untuk meningkatkan efisiensi
dan untuk memanfaatkan kembali bahan yang masih berguna.
Sedangkan limbah non ekonomis pengolahan ditujukan untuk
pencegahan perusakan lingkungan.
Menurut Kristanto (2002), berdasarkan beberapa pertimbangan di
atas pengelolaan limbah padat dapat dilakukan proses-proses sebagai
berikut :
1. Pemisahan limbah
Pemisahan perlu dilakukan karena dalam limbah terdapat
berbagai ukuran dan kandungan bahan tertentu. Proses pemisahan
dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Sistem Balistik
Pemisahan cara ini dilakukan untuk mendapatkan ukuran
yang lebih seragam.
b. Sistem Gravitasi
Pemisahan dilakukan berdasarkan gaya berat limbah.
c. Sistem Magnetis
Bahan yang bersifat magnetis akan menempel pada magnet
yang terdapat pada peralatan.

2. Penyusutan Ukuran
Ukuran bahan diperkecil untuk mendapatkan ukuran yang lebih
homogen sehingga mempermudah pemberian perlakuan pada
pengolahan berikutnya dengan maksud antara lain:
a. Ukuran bahan menjadi lebih kecil
b. Volume bahan lebih kecil
c. Berat dan volume bahan lebih kecil. Cara ini umumnya
dilakukan dengan pembakaran (incineration) pada alat
incinerator.

3. Pengomposan
Bahan kimia yang terdapat di dalam limbah diuraikan secara
biokoimia, sehingga menghasilkan bahan organik baru yang lebih
bermanfaat. Pengomposan banyak dilakukan terhadap limbah
yang sudah membusuk, buangan industri, lumpur pabrik dan
sebagainya.
Untuk beberapa jenis buangan tertentu barang kali tidak
membutuhkan pengomposan, tetapi pembakaran (incineration)
dengan tahap sebagai berikut:
a. Pemekatan
b. Penghancuran
c. Pengurangan air
d. Pembakaran
e. Pembuangan
b.

Penanganan Limbah Cair


Menurut Sugiharto (1987), tujuan dilakukan pengolahan limbah cair
adalah untuk mengurangi partikel-partikel, BOD, membunuh organisme
patogen, menghilangkan nutrien, mengurangi komponen beracun,
mengurangi

bahan-bahan

yang

tidak

dapat

didegradasi

agar

konsentrasinya menjadi lebih rendah. Kegiatan pengolahan limbah cair


dapat dikelompokkan menjadi 6 bagian.
Menurut Sugiharto (1987), tahapan pengolahan limbah cair adalah :
1. Pengolahan Pendahuluan (pre treatment)
Pada pengolahan pendahuluan ini kegiatan yang dilakukan adalah
pengambilan benda yang terapung dan pengambilan benda
mengendap seperti pasir. Pengambilan benda-benda yang
terapung dengan cara melewatkan air limbah melalui celah-celah
satu saringan kasar atau dengan alat pencacah untuk memotong
zat padat yang terdapat pada air limbah tanpa mengambilnya dari
aliran air tersebut. Untuk pengambilan benda yang mengendap
disediakan bak pengendap pasir, untuk mencegah terjadinya

kerusakan alat karena pengikisan dan mencegah terganggunya


saluran serta mengurangi endapan pada pipa penyalur dan
sambungan serta mengurangi frekuensi pembersihan pada tangki
pencerna sebagai akibat terjadinya tumpukan pasir. Untuk
mengangkat pasir yang telah mengendap di dasar bak dapat
digunakan alat penyedot pasir (grit dragger) atau alat pengangkat
pasir yang disebut macerator yang berfungsi mengumpulkan
pasir yang mengendap ke satu tempat dengan menggunakan alat
penggaruk. Setelah pasir terkumpul maka dengan menggunakan
2.

tangga berjalan maka pasir dibawa ke atas untuk dibuang.


Pengolahan Pertama (primary treatment)
Pengolahan ini bertujuan untuk menghilangkan zat padat
tersuspensi melalui pengendapan atau pengapungan. Pengendapan
adalah kegiatan utama pada tahap ini dan pengendapan yang
dihasilkan karena adanya kondisi yang sangat tenang. Bahan
kimia dapat juga ditambahkan untuk menetralkan keadaan atau

3.

meningkatkan pengurangan dari partikel yang tercampur.


Pengolahan Kedua (secondary treatment)
Pengolahan kedua ini mencakup proses biologis
mengurangi

bahan-bahan

organik

dengan

untuk

memanfaatkan

mikroorganisme yang ada di dalamnya. Pada pengolahan ini


terjadi proses biologis, dimana proses biologis ini dipengaruhi
oleh jumlah air limbah, tingkat kekotoran dan jenis kotoran yang
ada dan sebagainya. Reaktor pengolahan lumpur aktif (activated
sludge) dan saringan penjernihan biasanya dipergunakan dalam
tahap ini. Pada proses pengguaan lumpur aktif, maka air limbah
yang telah lam ditambahkan pada tangki aerasi dengan tujuan
untuk memperbanyak jumlah bakteri secara cepat agar proses
biologis dalam menguraikan bahan organik berjalan lebih cepat.
Lumpur aktif tersebut dikenal dengan MLSS (mixed liquiour
4.

suspended solid).
Pengolahan Ketiga (tertiary treatment)

Pengolahan ini adalah lanjutan dari pengolahan-pengolahan


terdahulu, pengolahan jenis ini baru akan dipergunakan apabila
pada pengolahan pertama dan kedua masih banyak terdapat zat
tertentu

yang

masih

berbahaya

bagi masyarakat

umum.

Pengolahan ketiga ini merupakan pengolahan secara khusus


sesuai dengan kandungan zat terbanyak dalam air limbah yang
5.

khusus pula.
Pembunuhan Bakteri (desinfektan)
Pembunuhan bakteri bertujuan untuk mengurangi atau membunuh

6.

mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair.


Pengolahan Lanjut (ultimate disposal)
Dari setiap pengolahan limbah cair maka hasilnya berupa lumpur
yang perlu untuk dilakukan pengolahan secara khusus agar
lumpur tersebut dapat dimanfaatkan kembali untuk keperluan
hidup misalnya untuk pupuk dan menimbun lubang.

c.

Penanganan Limbah Gas


Menurut Effendi (1994), dasar pengembangan untuk penyederhanaan
buangan gas dapat dilakukan dengan penyapuan partikel (particulate
scrubber), penyerapan absorbsi, pembakaran, penutupan bau, dilusi,
penyerapan ion exchanger, dan kolam netralisasi.
Menurut Effendi (1994), beberapa jenis peralatan yang digunakan untuk
pengolahan limbah gas:
1. Scrubber
Alat ini digunakan untuk membersihkan gas yang mudah bereaksi
dengan air. Prinsip kerjanya adalah mencampur air dengan
uap/gas dalam suatu wadah. Alat ini terdiri dari beberapa tipe
seperti wet scrubber, ventury scrubber dan vertical scrubber,
spray tower, package tower, plate tower dan cyclon.
2. Menara isi
Terdiri dari yang berbentuk silinder yang diisi dengan butiran
pengisi untuk memperluas permukaan kontak antara gas dan
cairan penyerap.
3. Menara semprot (spray tower)
Pemakaiannya lebih banyak untuk keperluan perpindahan panas.
4. Penyerapan berdasarkan tarikan cairan

Cara ini banyak dipakai untuk gas klor yang membawa partikelpartikel kapur.
5. Ruang penyerapan berbentuk siklon
Cara ini adalah perpaduan antara teknik penyemprotan dengan
prinsip mekanis dari gaya sentrifugal. Alat ini bisa dipakai untuk
menyerap buangan dalam bentuk gas seperti gas klor atau gas
yang membawa partikel.
6. Penyerapan secara mekanis
Dispersi cairan penyerap ke dalam gas pada alat ini dilakukan
dengan cara mekanis.
d.

Penanganan Limbah B3
Pengelolaan limbah B3 meliputi kegiatan pengumpulan, pengangkutan,
pemanfatan, pengolahan dan penimbunan (Anonimb, 2008). Setiap
kegiatan pengelolaan limbah B3 harus mendapatkan perizinan dari
kementerian lingkungan hidup (KLH) dan setiap aktivitas tahapan
pengelolaan limbah B3 harus dilaporkan ke KLH. Pengolahan limbah
B3 mengacu kepada keputusan kepala badan pengendalian dampak
lingkungan (Bapedal) Nomor Kep-03/BAPEDAL/09/1995 tertanggal 5
September 1995 tentang persyaratan teknis pengolahan limbah bahan
berbahaya dan beracun. Pengolahan limbah B3 harus memenuhi
persyaratan:
Lokasi pengolahan
Pengolahan B3 dapat dilakukan di dalam lokasi penghasil limbah
atau di luar lokasi penghasil limbah. Syarat lokasi pengolahan di
dalam area penghasil harus:
1.
daerah bebas banjir;
2.

jarak dengan fasilitas umum minimum 50 meter;

Syarat lokasi pengolahan di luar area penghasil harus:


1.

daerah bebas banjir;

2.

jarak dengan jalan utama/tol minimum 150 m


atau 50 m untuk jalan lainnya;

3.

jarak dengan daerah beraktivitas penduduk dan


aktivitas umum minimum 300 m;

4.

jarak dengan wilayah perairan dan sumur


penduduk minimum 300 m;

5.

dan jarak dengan wilayah terlindungi (seperti:


cagar alam,hutan lindung) minimum 300 m.

Fasilitas Pengolahan
Fasilitas pengolahan harus menerapkan sistem operasi, meliputi:
1.
sistem kemanan fasilitas;
2.
sistem pencegahan terhadap kebakaran;
3.
sistem pencegahan terhadap kebakaran;
4.
sistem penanggulangan keadaan darurat;
5.
sistem pengujian peralatan;
6.
dan pelatihan karyawan.
Keseluruhan sistem tersebut harus terintegrasi dan menjadi bagian
yang tak terpisahkan dalam pengolahan limbah B3 mengingat jenis
limbah yang ditangani adalah limbah yang dalam volume kecil pun
berdampak besar terhadap lingkungan.

Pengolahan Limbah B3
Jenis perlakuan terhadap limbah B3 tergantung dari karakteristik dan
kandungan limbah. Perlakuan limbah B3 untuk pengolahan dapat
dilakukan dengan proses sebagai berikut:
1.

proses secara kimia, meliputi: redoks, elektrolisa,


netralisasi, pengendapan, stabilisasi, adsorpsi, penukaran ion

2.

dan pirolisa.
proses secara fisika, meliputi: pembersihan gas,
pemisahan

cairan

dan

penyisihan

komponen-komponen

spesifik dengan metode kristalisasi, dialisa, osmosis balik, dan


lain-lain.
3.

proses stabilisasi/solidifikasi, dengan tujuan untuk


mengurangi potensi racun dan kandungan limbah B3 dengan
cara membatasi daya larut, penyebaran, dan daya racun
sebelum limbah dibuang ke tempat penimbunan akhir. proses
incineration, dengan cara melakukan pembakaran materi
limbah menggunakan alat khusus incinerator dengan efisiensi

pembakaran harus mencapai 99,99% atau lebih. Artinya, jika


suatu materi limbah B3 ingin dibakar (incineration) dengan
berat 100 kg, maka abu sisa pembakaran tidak boleh melebihi
0,01 k

BAB 3. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

3.1 Sejarah Singkat PG Panji


Pada tahun 1885 PG Panji didirikan oleh pemerintah Belanda yang
lokasinya berada di Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo dan berada dibawah
kantor pusat NV Tiedeman Van Kerchem yang berada di Belanda, sedangkan
perwakilannya berada di Surabaya. Berdasarkan Undang Undang Nasionalisasi
perusahaan milik asing (Belanda) No.8 1958 tanggal 10 Desember 1957, PG Panji
diambil alih oleh pemerintah Indonesia setelah masa kemerdekaan.
Pada tahun 1966, PG Panji berasa dibawah unit produksi Perusahaan
Negara Perkebunan (PNP) XXV yang meliputi enam pabrik gula yaitu 1) PG.
Asembagoes, 2) PG. Panji, 3) PG. Olean, 4) PG. Demas, 5) PG. Pradjekan, dan 6)
PG. Wringin Anom.
Berdasarkan PP NO.14 tanggal 14 Desember 1974, PP NO 15 tanggal 20
April 1975 dan Keputusan Menteri Keuangan No. 612-613 Menkeu tanggal 5 Juni
1975 bentuk Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) berubah menjadi Perseroan
Terbtas (Perseroan) dengan menggabungkan PNP XXIV dan PNP XXV menjadi
PT. Perkebunan (Persero) XXIV-XXV mulai tanggal 1 Juli 1975 yang meliputi 12
pabrik gula yaitu 1) PG. Asembagoes, 2) PG Panji, 3) PG. Olean, 4) PG. Demas,
5) PG. Pradjekan, 6) PG. Wringin Anom, 7) PG. Gending, 8) PG. Wonolangun, 9)
PG. Djatiroto, 10) PG. Padjarakan, 11) PG. Kedawung, dan 12) PG. Semboro.

Berdasarkan PP NO. 16 Tanggal 14 Februari 1996 PT Perkebunan XXIVXXV dan PT. Perkebunan XX bergabung menjadi PT. Perkebunan Nusantara XI
(Persero) mulai tanggal 11 Maret 1996 dengan membawahi 17 unit pabrik gula
yaitu 1) PG. Asembagoes, 2) PG. Panji, 3) PG. Olean, 4) PG. Demas, 5) PG.
Pradjekan, 6) PG. Wringin Anom, 7) PG. Gending, 8) PG. Wonolangun, 9) PG.
Djatiroto, 10) PG. Padjarakan, 11) PG. Kedawung, 12) PG. Semboro, 13) PG.
Pagottan, 14) PG. Kanigoro, 15) PG. Soedono, 16) PG. Purwodadi, dan 17) PG.
Rejosari.
3.2 Lokasi PG Panji
PG Pannji berlokasi di desa atau kelurahan Mimbaan Kecamatan Panji,
Kabupaten Situbondo yang letaknya 3 Km dari Kabupaten Situbondo, dan
memiliki batas lokasi sebelah utara Desa Curahjeru, sebelah selatan Desa Panji
Lor, sebelah timur Desa Tokelan, dan sebelah barat pasar Panji Lor.
PG Panji mempunyai luas areal sebesar 4.672,405 Ha dengan tinggi dari
permukaan laut rata-rata 25 m dengan iklim tipe E menurut klasifikasi Smith dan
Ferguson. Berdasarkan data tersebut, lokasi ini memiliki keuntungan yaitu
tersedianya tenaga kerja mulai dari penanaman tebu sampai proses operasi pabrik
PG. Panji, selain itu juga memiliki keuntungan dalam pengadaan transportasi
bahan baku dan produk di PG. Panji sangat mudah, karena letaknya yang strategis
di jalan pantura antara Jawa Timur dan Bali. Alat transportasi yang digunakan
adalah truk untuk mengangkut bahan baku maupun hasil produksi.
3.3 Struktur Organisasi PG Panji
Struktur organisasi merupakan hubungan antara beberapa unit kerja yang
telah diintegrasikan dan dikoordinasikan sehingga terdapat hubungan yang
harmonis untuk mencapai suatu usaha yang efektif dan efisien.
Strutur oragnisasi pada PG. Panji dipimpin langsung oleh General
Manager yang dibantu oleh beberapa manager bagian. Bagan striktur oerganisasi
yang terdapat pada PG Panji dapat dilihat pada gambar 1:

Gambar 1. Struktur Organisasi PG Panji


Adapun tugas dan tanggung jawab general manager dan masing-masing
manager bagian adalah :
1. General Manager
a. Menetapkan dan merencanakan kebijaksanaan dalam pengelolaan
perusahaan sesuai dengan yang telah ditetapkan.
b. Memimpin, mengendalikan, dan mengkoordinir

secara

fisik

pelaksanaan tugas bagian Administrasi Keuangan dan Umum,


Tanaman, instalasi, dan Pabrikasi agar tercapai kesatuan tindakan.
c. Bertanggung jawab kepada Direksi atas kegiatan usahanya.
2. Manager Administrasi Keuangan dan Umum
a. Menjalankan kebijaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan oleh
administrator dalam bidang tata usaha dan keuangan sesuai dengan
telah digariskan oleh direksi supaya berhasil guna dan berdaya guna.
b. Membantu administrasi secara aktif dalam menyusun, melaksanakan
dan mengendalikan rencana kerja dan anggaran belanja di bidang tata
usaha dan keuangan.

3. Manager Tanaman
a. Menjalankan kebijaksanaan rencana kerja dalam bidang tanaman
b. Bertanggung jawab atas tersedianya bahan baku, baik dalam kualitas
maupun kuantitas tebu.
c. Bertanggung jawab atas pelaksanaan penanaman tebu, kebun
percobaan, agronomi, dan proteksi.
d. Bertanggung jawab atas koordinasi pelaksanaan angkutan bibit dan
tebangan.
4. Manager Teknik
a. Menjalankan kebijakan rencana kerja yang telah dietapkan oleh
administratur di bidang teknik sesuai yang telah digariskan oleh
direksi.
b. Membantu administratur dalam menyusun rencana kerja.
c. Bertanggung jawab atas berhasilnya produksi dan produktivitas.
d. Mengkoordinir tugas-tugas bawahan serta menjalankan kerjasama
yang baik dengan bagian lain.
5. Manager Pengolahan
a. Menjalankan kebijaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan
administrator di bidang pengolahan sesuai dengan yang telah
digariskan oleh direksi.
b. Membantu administratur secara aktif dalam menyusun rencana kerja
dan anggaran belanja di bidang pabrikasi.
c. Bertanggung jawab atas kelancaran operasi pabrik.
3.4 Sumber Daya Manusia (SDM)
a. Karyawan
Tenaga kerja atau karyawan dalam istilah manajemen dikenal
dengan sebutan Sumber Daya Manusia (SDM). SDM merupakan aset perusahaan
yang termahal dan merupakan unsur penting dalam mencapai sasaran utama.
Karyawan Pabrik Gula Panji dibedakan menjadi tiga golongan yaitu:
1. Karyawan

Pimpinan

adalah

karyawan

yang

memimpin

jalannya

operasional dan manajemen pabrik secara keseluruhan.


2. Karyawan Pelaksana adalah karyawan yang menjalankan tugas yang telah
diberikan oleh pimpinan untuk melaksanakan jalannya operasional dan
manajemen pabrik. Karyawan pada golongan ini dibagi menjadi dua,
yaitu:

a. Karyawan Dalam Masa Giling (DMG)


b. Karyawan Tetap adalah karyawan yang memiliki hubungan kerja
dengan perusahaan untuk jangka waktu yang tidak tentu.
c. Karyawan Musiman adalah Karyawan yang bekerja pada musim giling
dan melaksanakan tugas di luar emplacement pabrik.
3. Karyawan Luar Masa Giling
a. Karyawan Tetap
b. Karyawan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)
b. Jam Kerja Karyawan
Jam kerja karyawan di PG. Panji berlaku setiap harinya untuk bagian
kantor adalah :
Senin - Sabtu : pukul 06.30 14.00
Jumat
: pukul 06.00 11.00
Jam istirahat : pukul 11.30 12.30
Sedangkan bagi karyawan yang bekerja di pabrik bagian pabrik atau
proses baik karyawan musiman atau karyawan tetap dibagi menjadi tiga shift yaitu
Shift 1
Shift 2
Shift 3

: pukul 06.00 14.00


: pukul 14.00 22.00
: pukul 22.00 06.00

Pembagian shift kerja ini hanya berlaku pada musim giling saja. Apabila
tidak giling sistem kerja karyawan tetap sama dengan sistem kerja karyawan
bagian kantor kecuali bagian keamanan.
c. Upah Dan Sistem Penggajian
Pemberian upah di PG Panji dibedakan antara karyawan bulanan dan
karyawan harian, sedangkan besarnya gaji pegawai ditentukan berdasarkan
jabatannya masing-masing.

BAB 4. METODOLOGI

4.1 Tempat dan Waktu Kegiatan


4.1.1 Tempat
Kuliah Kerja (KK) dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara XI
(Persero) PG Panji, Kabupaten Situbondo.
4.1.2 Waktu
Kuliah Kerja (KK) dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 5 Juli 2014.
4.2 Metode Pelaksanaan
Pelaksanaan Kuliah Kerja (KK) ini dilaksanakan dengan beberapa metode,
yaitu:
1.

Studi kepustakaan yaitu metode pengumpulan data-data secara teoritis


sebagai bahan perbandingan yang dilakukan dengan cara mengumpulkan
data-data dari sejumlah buku dan literatur yang berkaitan dengan pengolahan

2.

tebu menjadi gula.


Studi lapang yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara mengadakan pengamatan secara langsung terhadap proses pengolahan
tebu menjadi gula di lapang. Beberapa metode untuk melakukan studi lapang
adalah sebagai berikut.
a.
Observasi

yaitu

metode

pengumpulan

data

dengan

menggunakan pencatatan secara langsung di lapang.


b.
Interview dan diskusi yaitu metode pengumpulan data dengan
c.

menggunakan wawancara pada beberapa sumber di lapang.


Dokumentasi yaitu metode pengumpulan data dengan cara
mencatat hasil pengamatan data produksi dan mengambil gambar proses
pengolahan tebu menjadi gula di lapang.

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN

Proses pengolahan tebu di PG. Panji menghasilkan limbah dan produk


samping. Limbah yang dihasilkan berupa limbah cair (limbah cair proses, air
bekas pendingin metal, air bekas pendingin dust collector, air bekas kondensor,
dan tetes), limbah padat (ampas, abu ketel, blotong, dan ceceran tebu), limbah gas
(polutan cerobong ketel, polutan cerobong genset, polutan gas SO4, dan polutan
debu ampas halus), dan limbah B3 (pelumas bekas, Pb Asetat, accu bekas, neon
bekas, dan catridge bekas).
5.1 Proses Pengolahan Tebu dan Jenis Limbah Yang Dihasilkan
Beberapa proses pengolahan tebu yang dilakukan di PG. Panji meliputi
proses penimbangan, penggilingan, pemurnian, penguapan, pemasakan, puteran,
dan pengemasan. Dari beberapa proses tersebut dapat menghasilkan limbah yang
bermacam-macam berupa limbah cair, limbah padat, limbah gas, dan limbah B3.
5.1.1

Proses Penimbangan
Proses awal yang dilakukan pada proses pengolahan tebu yaitu

penimbangan tebu menggunakan timbangan atau neraca digital. Tebu diangkut


dari kebun menuju stasiun penimbangan kemudian diangkat menggunakan katrol
yang dilengkapi dengan neraca digital yang akan menunjukkan berat bersih dari
tebu. Pada proses ini menghasilkan limbah padat berupa ceceran tebu.
5.1.2

Proses Penggilingan
Proses penggilingan dilakukan setelah tebu dari hasil penimbangan

diangkut menuju stasiun gilingan. Tujuan dari proses penggilingan adalah


melakukan pemerahan nira semaksimal mungkin, kehilangan gula yang ikut
dalam ampas seminimal mungkin dengan waktu yang cepat dan biaya yang
digunakan rendah sehingga pada proses ini dilakukan dengan bantuan alat kerja
pendahuluan seperti meja tebu (cane table) yang dilengkapi dengan alat untuk
mengatur dan meratan tebu (cane leveller) kemudian diangkut melalui cane
carrier menuju cane knife atau cane cutter yang berfungsi sebagai alat pemotong
tebu dan hasil potongan tersebut masuk ke dalam unigrator dengan tujuan untuk

mecacah potongan tebu menjadi serabut-serabut tebu sehingga mempermudah


proses pemerahan nira pada proses penggilingan.
Proses penggilingan di PG. Panji dilakukan sebanyak 4 seri penggilingan
dengan penambahan air imbibisi sebanyak 30% dari berat tebu pada gilingan ke 4
sehingga kandungan gula yang terikut dalam ampas dapat diminimalkan dengan
pol ampas yang diinginkan sebesar 2%. Ampas yang dihasilkan dari stasiun
gilingan digunakan untuk bahan bakar stasiun ketel (pusat tenaga). Sedangkan
limbah yang dihasilkan yaitu air bekas pendingin metal gilingan. Selain itu, pada
stasiun gilingan menggunakan pendingin metal gilingan yang menghasilkan
limbah cair yaitu air bekas pendingin metal gilingan yang dialirkan menuju bak
penangkap minyak.
5.1.3

Proses Pemurnian
Proses pemurnian bertujuan untuk memisahkan kotoran yang ada dalam

nira sehingga menghasilkan nira jernih. Proses pemurnian PG. Panji


menggunakan sulfitasi alkalis yaitu dengan menambahkan susu kapur ke dalam
larutan gula secara berlebih sehingga tercapai pH 8,5-9,5 dan gas SO2 untuk
menetralkan pH hingga mencapai pH 7,2. Nira mentah ditimbang, dipompa ke
pemanas pendahuluan PP I sehingga mencapai suhu 75 80oC. Kemudian nira
mentah masuk defekator I direaksikan dengan susu kapur (Ca(OH)2) hingga
tercapai pH 7,0 7,2. Setelah melewati defekator I, nira mentah dialirkan ke
defekator II. Pada defekator II, penambahan susu kapur dilakukan hingga tercapai
pH 9,5 10,5. Nira mentah yang telah didefekasi, dipompa ke bejana sulfiter
diberi gas belerang (SO2) untuk membentuk endapan ekstra dan menetralkan
kelebihan susu kapur sehingga pH kembali netral, yaitu pH 7,0 7,4 serta
memberikan pengaruh warna putih pada gula yang akan dihasilkan.
Nira mentah tersulfitir akan dialirkan ke PP II untuk dipanaskan pada suhu
95 1050C. Nira mentah tersulfitir dari PP II akan dipompa ke flash tank,
sekaligus dilakukan penambahan flokulan Accofloc A-110 dengan konsentrasi 3
ppm. Selanjutnya, nira mentah tersulfitir akan dialirkan ke door clarifier sehingga
terjadi proses pengendapan kotoran dan dihasilkan nira encer yang bersih dan
jernih. Nira encer akan dipompa ke DSM screen yang dilanjutkan ke PP III hingga
tercapai suhu 1100C.

Kotoran yang dihasilkan dari stasiun pemurnian berupa endapan (nira


kotor) yang dipompa menuju Rotary Vacum Filter (RVF) untuk dilakukan
penapisan atau penyaringan nira. Nira kotor dicampur dengan ampas halus yang
berasal dari ketel dengan tujuan memadatkan blotong agar strukturnya menjadi
kompak. Pada alat tersebut dilakukan dalam kondisi vakum dengan tujuan
menghasilkan nira secara maksimal dengan pol blotong yang diinginkan sebesar
2%. Di PG. Panji menghasilkan pol blotong yang masih tinggi yaitu sebesar (.),
diduga pada proses ekstraksi tebu kurang maksimal yang disebabkan oleh alat
yang sudah tua dan Blotong merupakan jenis limbah padat yang dihasilkan dari
proses pemurnian. Gas sisa reaksi SO2 yang dihasilkan merupakan limbah gas dari
hasil stasiun pemurnian.
5.1.4

Proses Penguapan
Proses penguapan bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi nira hingga

mendekati konsentrasi kejenuhannya. Selain itu, juga untuk memaksimalkan


proses pemasakan dalam menghasilkan kristal kristal gula. Pada stasiun
penguapan di PG. Panji menggunakan enam unit badan evaporator dengan sistem
Quintiple Effect Evaporator yang disusun secara interchangeable agar dapat
dibersihkan secara bergantian, lima unit digunakan dalam proses penguapan
sedangkan satu unit digunakan sebagai cadangan apabila salah satu unit badan
evaporator dilakukan pembersihan.
Nira encer yang berasal dari PP III masuk ke badan evaporator I.
Kemudian, nira akan mengalir ke badan evaporator II. Air kondensat yang
dihasilkan dari stasiun penguapan akan dialirkan ke ketel.
Pada stasiun penguapan terdapat pan pemanas yang menghasilkan uap
untuk penguapan nira. Proses pembersihan di stasiun penguapan menggunakan
senyawa pembersih bersifat basa yang berfungsi sebagai pembersih kerak-kerak
pipa pada evaporator. Air yang dihasilkan dari proses pembersihan merupakan
limbah cair proses yang disebut air bekas chemical cleaning (air bekas sekrapan
pipa pemanas), limbah tersebut ditampung dalam bak penampung limbah
sementara. Sedangkan air kondensor langsung dibuang ke saluran irigasi
persawahan.

5.1.5

Proses Pemasakan
Proses pemasakan nira bertujuan untuk menghasilkan gula kristal putih

dengan proses kristalisasi. PG Panji menggunakan sistem 3 tingkat masakan, yaitu


sistem A C D. Masakan A merupakan masakan yang langsung menghasilkan
GKP, sedangkan bibitan C dan gula D digunakan sebagai bibit masakan C. Pan
masak yang dimiliki oleh PG Panji adalah 11 unit. Pan 1 5 digunakan untuk
masakan A, pan 6-8 untuk masakan C, dan pan 9-11 untuk masakan D. Sedangkan
palung pendingin yang dimiliki oleh PG Panji sebanyak 21 unit. Palung pendingin
1-6 untuk masakan A, 7-9 untuk masakan C, dan 10-21 untuk masakan D.
Masakan A terbagi menjadi 2, yaitu masak A2 dan A. Bahan masakan A2
yang digunakan adalah babonan C (inti kristal) dan nira kental tersulfitir (NKS).
Babonan C juga disebut gula C, yaitu hasil pemutaran masakan C yang telah
terpisah antara stroop C dan kristal gulanya. Sebelum dilakukan pemasakan, pan
dibersihkan (dikrengseng) dan dikondisikan dalam keadaan vakum. Bahan yang
digunakan untuk memasak A adalah leburan babonan C dan D serta NKS.
Bahan yang digunakan untuk memasak masakan C adalah baboban D dan
stroop A. Babonan D juga disebut gula D2, yaitu hasil pemutaran gula D2 yang
telah terpisah antara klare D dan kristal gulanya. Sedangkan stroop A merupakan
bilasan hasil dari putaran gula A2. Tahap awal persiapan, pan masakan dibersihkan
dan dikondisikan dalam keadaan vakum. Bahan dasar yang digunakan untuk
memasak masakan D adalah stroop A dan klare A.
Pada stasiun pemasakan dilakukan pembersihan

pan

masakan

menggunakan senyawa pembersih bersifat basa yang berfungsi sebagai pembersih


kerak-kerak pipa pada pan masakan. Dari stasiun pemasakan menghasilkan
limbah berupa air sekrapan pan masakan dan chemical sekrapan yang ditampung
dalam bak penampung limbah sementara. Sedangkan air kondensor langsung
dibuang ke saluran irigasi persawahan.
5.1.6

Proses Puteran
Pada proses puteran menghasilkan limbah cair berupa tetes yang

dihasilkan dari puteran D1 yang ditampung dalam tangki tetes. Stasiun putaran
bertujuan untuk memisahkan antara kristal gula dari larutannya (stroop), klare dan
tetes sehingga dapat dihasilkan kristal gula dengan kemurnian yang lebih tinggi.

Proses pemisahan tersebut dengan sistem penyaringan yang menggunakan gaya


sentrifugal. Tahap awal putaran akan dilakukan perlahan, kemudian masakan
(massecuite) dimasukkan ke dalam tromol. Stasiun putaran di PG Panji memiliki
16 unit putaran yang terbagi menjadi dua, yaitu 9 unit Low Grade Fugal (LGF)
dan 7 unit High Grade Fugal (HGF). Berdasarkan hasil masakan (massecuite)
yang diumpankan, masakan C dan D akan diputar menggunakan LGF sedangkan
masakan A menggunakan HGF. Putaran C dan D beroperasi secara kontinyu
sedangkan putaran A dioperasikan secara diskontinyu (batch).
5.1.7

Proses Pengemasan
Proses pengemasan dilakukan dengan tujuan untuk menjaga kualitas gula

agar tidak mengalami kerusakan. Kemasan yang digunakan oleh PG Panji adalah
karung dengan plastik di dalamnya. Masing masing kemasan memiliki netto 50
kg. Gula yang telah dikemas akan disimpan dalam gudang penyimpanan. PG
Panji memiliki 4 gudang gula yang digunakan, yaitu gudang A, B, C dan D.
Masing masing gudang memiliki kapasitas yang berbeda. Gudang dilengkapi
dengan hygrometer dan thermometer, tujuannya untuk mengukur kelembaban
udara dan mengetahui suhu dalam gudang. Dalam proses pengemasan tidak
dihasilkan limbah apapun.

5.2 Proses Penanganan Limbah


Limbah dan produk samping yang dihasilkan pada proses pengolahan tebu
di PG. Panji dilakukan penanganan khusus dari masing-masing jenis limbah untuk
mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Untuk dapat mengenal lebih baik,
sumber dan macam limbah dari proses pengolahan tebu menjadi gula kristal putih
dapat dilihat pada gambar 2.
TEBU
Air Imbibisi
Air Pendingin
Metal

Stasiun
Gilingan

Ampas
Air mengandung
Minyak

NM
Gas SO2
Kapur

Stasiun
Pemurnian

Gas sisa reaksi SO2

Ketel/
Boiler

Gas Cerobong
Abu Ketel
Air Kurasan
(blow down)

Phosphat
Flokulan
Air

Blotong

NE
Air Injeksi
Chemical Cleaning
(skrap pipa pemanas)

Stasiun
Penguapan

Air Kondensor

Sungai
IPAL

Air Bekas Chemical


Cleaning

NK
Air Injeksi

Stasiun
Kristalisasi

Air

Stasiun
Sentrifugasi

Air Kondensor

Sungai

Air
Tetes

GULA

Gambar 2. Diagram Alir Limbah PG. Panji


5.2.1 Limbah Cair
Pada proses penguapan menghasilkan limbah cair berupa air sekrapan
evaporator dan air sekrapan pan evaporator dengan kerak-kerak pipa yang
disebut chemical sekrapan. Pada proses pemasakan nira menghasilkan limbah
berupa air sekrapan pan masakan dan chemical sekrapan. Limbah yang dihasilkan
dari masing-masing stasiun tersbut ditampung dalam bak penampung limbah
sementara yang kemudian dialirkan menuju Unit Pengolahan Limbah Cair
(UPLC) dengan system aerasi lanjut yang berada di sekitar pabrik dapat dilihat
pada Lampiran. Pada UPLC terdapat beberapa bak penampung yang terdiri dari
bak stabilisasi I, bak stabilisasi II, bak equalisasi, bak aerasi, bak sedimentasi, bak
pengering pasir, dan bak kontrol.
Proses penanganan limbah cair dilakukan dengan dua tahap, yaitu tahap
pembibitan dan tahap aerasi. Pada tahap awal yaitu tahap pembibitan dilakukan
pada bak stabilisasi I dengan menyiapkan bibit INOLA 221 dan larutan media (air
bersih mencapai setengah dari volume bak, urea sebanyak 36 kg, gula sebanyak
32 kg, dan SP sebanyak 0,27 kg) dan diaduk hingga merata kemudian udara

dimasukkan selama 5 menit dan dilakukan aerasi selama 20 jam. Selama proses
aerasi berlangsung diamati pH bibitan agar mencapai pH 7-8.
Pada tahap kedua yaitu tahap aerasi dilakukan pada bak aerasi 1, bak
aerasi 2, bak aerasi 3, dan bak aerasi 4. Limbah yang berada dalam bak
penampung limbah sementara dialirkan menuju bak equalisasi yang berisi limbah
cair proses ditambah dengan air hingga suhu 36 oC. Indikator lain yang diamati
yaitu tidak terdapat bau asam yang dihasilkan dari bak equalisasi, apabila sesuai
indikator maka limbah tersebut bersama cairan dari bak stabilisasi I ditarik oleh
pompa menuju bak aerasi 1 hingga bak aerasi 4 hingga terjadi proses penguraian
limbah yang dilakukan oleh mikroorganisme dan diamati pHnya mencapai pH 78. Pada tahap aerasi ditambahkan udara (gas O 2) untuk menjaga mikroorganisme
tersebut tetap dapat hidup.
Setelah melalui tahap aerasi ke 4 selanjutnya ditarik dengan pompa
menuju bak sedimentasi yang berfungsi sebagai proses pengendapan. Apabila
volume endapan yang dihasilkan mencapai 30% maka endapan dan air akan
dipompa dan dialirkan kembali menuju bak stabilisasi I dan dibiarkan mengendap
2 jam sedangkan air jernih dipompa dialirkan menuju bak aerasi. Sisa endapan
diaerasi selama 7-12 hari, kemudian endapan yang sudah stabil dialirkan menuju
bak pengering pasir yang berisi karung goni dibiarkan selama 3 hari hingga kering
lalu dibuang.
Parameter mutu pada tahap aerasi dilakukan pengambilan sampel uji
kualitas effluent IPAL dapat dilihat pada tabel 1. Air limbah yang keluar dari bak
sedimentasi dilakukan pengamatan terhadap kadar COD <250 mg/l, kadar BOD5
<100 mg/l.
Tabel 1. Hasil Pengujian Effluent IPAL Periode Oktober s/d Nopember
NO
1
2
3
4
5
6
7

PARAMETER
Volume Limbah Cair per
satuan produk
pH
BOD5
COD
TSS
Minyak & Lemak
Sulfida sebagai H2S

SATUAN
m3/ton
produk
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l

BAKU

HASIL

MUTU

UJI

0,5

Memenuhi BM

6-9
100
250
100
5
1

7,10
10,1
22,7
4,40
<1,05
<0,02

Memenuhi BM
Memenuhi BM
Memenuhi BM
Memenuhi BM
Memenuhi BM
Memenuhi BM

KETERANGAN

Keterangan : BM (Baku Mutu)


Berdasarkan hasil pengujian effluent IPAL pada tabel 1 dapat dilihat
bahwa limbah yang diproses kembali telah memenuhi baku mutu sehingga limbah
tersebut aman dan tidak berdampak negatif pada lingkungan.
Air jernih dari bak sedimentasi akan mengalir ke dalam bak control yang
diuji kelayakannya dengan menggunakan ikan uji dengan indikator tidak terjadi
kematian pada ikan dalam bak kontrol. Air yang dihasilkan langsung dialirkan ke
sungai disekitar pabrik setelah diuji kelayakannya.
Pada proses penguapan terdapat limbah cair berupa air bekas kondensor
yang langsung dibuang ke saluran irigasi persawahan. Limbah cair lainnya yaitu
air kondensat yang dikembalikan lagi sebagai air pengisi boiler dan air untuk
proses sedangkan sisanya ditampung di tangki deaerator Marakiri sebagai
cadangan. Air kondensat yang ditampung di tangki deaerator dengan suhu 6080oC diberi panas dengan suhu 105oC kemudian air tersebut ditarik oleh pompa
menuju mesin bakar yang didalamnya terdapat pipa-pipa yang yang diberi panas
dengan suhu 700-800oC sehingga menghasilkan uap yang digunakan sebagai
penggerak turbin dan mesin uap.
Limbah cair yang dihasilkan pendingin metal dari stasiun gilingan berupa
air bekas pendingin metal gilingan yang dialirkan ke bak penangkap minyak
melalui saluran pembuangan air, minyak yang tertangkap akan ditampung di bak
penampung minyak sedangkan air bersih akan dialirkan ke saluran irigasi. Air
bekas pendingin dust collector dari stasiun ketel akan akan dialirkan menuju bak
pengendap abu yang berada disekitar pabrik untuk memisahkan abu dan airnya,
air bekas pendingin dust collector akan disirkulasi kembali sebagai air siraman
dust collector.
Pada stasiun puteran akan menghasilkan limbah cair lainnya berupa tetes
dari puteran D1 yang masih bisa dimanfaatkan sebagai produk samping. Tetes
yang dihasilkan sebesar 5% dari berat nira tebu terimbibisi. Tetes berada dalam
tangki D1 akan dipompa menuju tangki tetes di sekitar pabrik, ada dua tangki
tetes di PG. Panji. Tetes tersebut akan diangkut oleh truk menuju tempat-tempat
yang bekerja sama dengan PG. Panji sebagai pihak kedua untuk diolah kembali
menjadi produk untuk pembuatan MSG (Monosodium Glutamat).

5.2.2

Limbah Padat
Pada awal proses pengolahan tebu yaitu pada stasiun penimbangan

menghasilkan limbah padat berupa ceceran tebu. Ceceran tebu tersebut diambil
secara manual oleh petugas untuk dimasukkan ke gilingan. Setelah proses
penimbangan kemudian dilakukan proses penggilingan yang akan menghasilkan
limbah padat berupa ampas yang masih bisa dimanfaatkan sebagai produk
samping dan dibawa dari gilingan ke 4 melalui conveyor belt menuju stasiun
ketel. Ampas tersebut digunakan sebagai bahan bakar pada ketel (boiler). Jumlah
ampas yang dihasilkan dari gilingan tebu sebanyak 30% dari berat tebu yaitu
sebanyak 51 ton per hari, hal ini sudah memenuhi kapasitas pada stasiun ketel
yang membutuhkan ampas sebanyak 23,75 ton. Pada stasiun ketel menghasilkan
limbah berupa abu ketel yang merupakan abu sisa hasil dari pembakaran yang
dikeluarkan melalui cerobong dan abu lainnya dibuang di bak pengendapan abu.
Ada tiga ketel yang digunakan di PG. Panji yaitu ketel STORK, ketel
MAN dan ketel STERLING. Ketiga ketel tersebut menggunakan dust collector
dengan sistem wet dust collector dan sistem cyclone. Sistem wet dust collector
yaitu abu yang keluar dari cerobong akan ditangkap oleh penangkap debu yang
didalamnya terdapat spray yang berfungsi sebagai alat penyemprot air pada abu
yang akan jatuh, sedangkan sistem cyclone yaitu abu kering yang akan jatuh ke
bawah akan ditampung oleh konveyor yang berisi air. Perbedaan dari ketiga ketel
tersebut hanya terletak pada kapasitasnya. Ketel STORK memiliki kapasitas uap
sebesar 20 ton/hari, ketel MAN sebesar 15 ton/hari dan ketel STERLING sebesar
12,5 ton/hari.
Di PG. Panji memiliki 12 bak pengendapan abu tetapi yang digunakan
hanya sebanyak 6 bak pengendapan dan sisanya digunakan sebagai cadangan. Abu
yang sangat halus dialirkan melalui pipa yang berada di dust collector menuju bak
pengendapan abu. Air yang berada diatas permukaan akan mengalir menuju
saluran pembuangan air dan abu yang mengendap diambil secara manual diangkut
menuju tempat pembuangan akhir (TPA) menggunakan truk ke TPA Moncel. Abu
yang berada di TPA setiap 3 hari sekali disiram untuk mengurangi adanya abu
yang beterbangan.

Limbah padat lainnya berasal dari stasiun pemurnian yaitu berupa blotong
yang masih bisa dimanfaatkan sebagai produk samping dalam pembuatan pupuk
organik. Pada proses penapisan menghasilkan nira tapis dan blotong, nira tapis
dipompa ke Door clarifier untuk dilakukan pemurnian kembali bersama nira
mentah sedangkan blotong yang dihasilkan dicampur dengan ampas halus
kemudian diangkut melalui conveyor belt menuju truk penampung yang akan
dibawa ke TPA. PG. Panji bekerja sama dengan PT. WOM sebagai lokasi TPA
untuk mengolah blotong menjadi pupuk organik.
5.2.3 Limbah Gas
PG. Panji menghasilkan beberapa limbah gas diantaranya yaitu polutan
cerobong ketel, polutan cerobong genset, polutan gas SO 4 dan polutan debu ampas
halus. Polutan cerobong ketel dan polutan cerobong genset berasal dari stasiun
ketel dengan ketiga jenis ketel yang bekerja yaitu ketel STORK, ketel MAN dan
ketel STERLING. Limbah gas di PG. Panji diuji berdasarkan kualitas udara emisi
cerobong dan ambien udara di sekitar pabrik. Selain itu, dilakukan pengamatan
visual untuk melihat ada tidaknya sebaran fly ash di lingkungan sekitar PG. Panji.
Hasil pengujian kualitas udara emisi cerobong PG. Panji dapat dilihat pada tabel
2.
Tabel 2. Hasil Pengujian Kualitas Udara Emisi Periode Juni
No

Sumber
Emisi

Ketel
STORK

Satuan

Kadar
Terukur

Baku Mutu
Udara Emisi
Per.Gub.Jatim
No. 10/2009

Nitrogen Dioksida
(NO2)

mg/Nm3

20,9

800

Sulfur Dioksida (SO2)

mg/Nm3

600

Total Pertikel

mg/Nm3

130

250

13,3

30

m/det

17,4

mg/Nm3

13,8

800

mg/Nm3

600

Parameter

Opasitas

Ketel MAN

Kec. Linear Gas


Buang
Nitrogen Dioksida
(NO2)
Sulfur Dioksida (SO2)

Total Pertikel
Opasitas

Ketel
STERLING

Kec. Linear Gas


Buang
Nitrogen Dioksida
(NO2)
Sulfur Dioksida (SO2)
Total Pertikel
Opasitas
Kec. Linear Gas
Buang

mg/Nm3

173

250

14,1

30

m/det

15,6

mg/Nm3

27,1

800

mg/Nm3
mg/Nm3
%

199
15

600
250
30

m/det

14,2

Berdasarkan hasil pengujian kualitas udara emisi cerobong pada tabel 2


dapat dilihat bahwa dari ketiga ketel menghasilkan limbah gas yang aman
sehingga tidak berdampak negatif terhadap lingkungan. Sedangkan untuk
pengujian kualitas udara ambien dilakukan pada dua tempat yaitu Desa Curah Jeru
dan Desa Mimbaan.
Polutan gas SO4 yang dihasilkan dari dapur belerang diamati secara visual
dan dilakukan pencegahan terjadinya kebocoran gas SO4 selain dari cerobong
pembuangan dengan cara membersihkan sisa kerak belerang dan mengganti pipapipa gas SO2 yang sudah tipis. Sedangkan polutan debu ampas halus yang
dihasilkan diamati secara visual dan dipasang jaring penangkap debu ampas halus
di sekitar gudang BBA (Bahan Bakar Alternatif) sehingga dapat mengurangi
polutan debu ampas halus yang beterbangan.
5.2.4 Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
Proses pengolahan tebu menghasilkan limbah B3 selain menghasilkan
limbah padat, cair dan gas. Limbah B3 yang dihasilkan berupa pelumas bekas, Pb
Asetat, accu bekas, neon bekas, dan catridge bekas. Limbah B3 tersebut
ditampung di tempat penampungan limbah B3 sementara dengan tujuan untuk
mencegah dan menanggulangi pencemaran lingkungan.
Pelumas bekas didapat dari penggantian pelumas mesin dan kendaraan,
limbah tersebut ditampung dalam tong bekas berkapasitas 200 lt.

Pb Asetat

didapat dari elektrolisa larutan penjernih untuk analisa nira dengan menggunakan
kertas saring. Kertas saring yang mengandung Pb Asetat selanjutnya dikeringkan
dalam oven. Accu bekas didapat dari penggantian accu kendaraan bermotor. Neon

bekas didapat dari penggantian lampu penerangan di area pabrik. Catridge bekas
didapar dari penggantian catridge pada printer di semua bagian pabrik. Limbahlimbah tersebut disimpan di TPS (Tempat Penampungan Sementara) Limbah B3
dengan pembersihan yang dilakukan secara rutin minimal satu kali dalam satu
minggu. Jika limbah B3 yang disimpan sudah banyak maka disalurkan kepada
supplier yang mempunyai izin mengelola limbah B3.

BAB 6. PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Proses pengolahan gula menghasilkan limbah yang dapat diklasifikasikan
menjadi 4 yaitu limbah padat, limbah cair, limbah gas, dan limbah B3.
Limbah padat berupa ceceran tebu, blotong dan abu ketel. Limbah cair berupa
limbah cair proses, air bekas pendingin metal, air bekas pendingin dust
collector dan air bekas kondensor. Limbah gas berupa polutan cerobong ketel,
polutan cerobong genset, polutan gas SO4, dan polutan debu ampas halus. Dan
limbah B3 (pelumas bekas, Pb Asetat, accu bekas, neon bekas, dan catridge
2.

bekas). Sedangkan produk samping yang dihasilkan berupa ampas dan tetes.
Limbah dan produk samping yang dihasilkan dari proses pengolahan gula
kristal putih memiliki penanganan yang berbeda-beda. Limbah berupa ampas
tebu dimanfaatkan untuk bahan bakar ketel, blotong dikelola dengan cara
bekerja sama dengan pihak ketiga untuk dijadikan pupuk, abu ketel ditimbun
di TPA Moncel, cairan polutan mengalami proses daur ulang di unit
pengolahan limbah cair (UPLC) dan recycle ke jalur sebagai air injeksi,
limbah gas yang berasal dari ketel diuji secara emisi dan ambien sedangkan
limbah B3 ditampung di gudang penyimpanan sementara yang selanjutnya
akan diangkut dan diolah oleh pemanfaat yang sudah memiliki ijin dari
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Sedangkan ampas digunakan
sebagai bakan bakar untuk stasiun ketel dan tetes diolah kembali sebagai
bahan baku pembuatan MSG oleh pihak kedua.

6.2 Saran
Saran yang dapat kami berikan kepada Pabrik Gula Panji adalah
pemanfaatan abu ketel dapat digunakan sebagai bahan campuran dalam
pembuatan batako untuk mengurangi tumpukan abu ketel yang berada pada TPA.
Selain itu, untuk mengurangi pol blotong yang masih tinggi sebaiknya digunakan
system pemurnian yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Gula Rafinasi. http://www.disbun.jabarprov.go.id/ [Diakses pada
11 Juni 2014].
Effendi, A. 1994. Diktat Mata Kuliah Teknologi Gula. Surabaya: Erlangga
Kristanto, P. 2002. Ekologi Industri. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Sugiharto. 1987. Pengelolaan Air Limbah. Yogyakarta: Kanisius.
Sulai. 2012. Jenis-Jenis Limbah. http://sulaimantap.wordpress.com/2011/03/
04/jenis-jenis-limbah/ [Diakses pada tanggal 11 Juni 2014].
Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.