Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Pulp dan Kertas


Pulp adalah bahan serat kering yang dibentuk melalui proses pemisahan serat
secara kimiawi atau mekanik dari bahan kayu, limbah serat atau limbah kertas. Pulp
dapat berbentuk gumpalan atau dibentuk menjadi lembaran. Pulp yang diangkut dan
dijual dalam bentuk bubur kertas (yang tidak diproses ke bentuk kertas dalam proses
pabrik yang sama) adalah sebagai bahan setengah jadi. Saat tersuspensi di dalam air,
serat terdispersi dan menjadi lebih lentur. Pulp ini dapat dicetak menjadi lembaran
kertas. Kayu adalah bahan yang sering digunakan dalam pembuatan kertas. Pulp
kayu terbuat dari kayu lunak (softwood) seperti cemara dan dari kayu keras
(hardwood) seperti eucalyptus.
Proses pembuatan pulp diantaranya dilakukan dengan proses mekans, kimia
dan semikimia. Prinsip pembuatan pulp secara mekanis yakni dengan cara
pengikisan menggnakan alat seperti gerinda. Proses mekanis yang biasanya dikenal
biasanya diantaranya PGW (Pine Groundwood) dan SGW (Semi groundwood).
Proses semikimia merupakan kombinasi antara mekanis dan kimia. Yang termasuk
ke dalam proses ini diantaranya CTMP (Chemi Thermo Mecanical Pulping) dengan
memanfaatkan suhu untuk mendegradasi lignin sehingga diperoleh pulp dengan
rendemen yang lebih rendah dengan kualitas lebih baik dari pada pulp dengan proses
mekanis. Proses pembuatan pulp dengan proses kimia dikenal dengan sebutan proses
Kraft. Dimana proses Kraft ini pertama sekali dikenal di Swedia pada tahun 1885.
Disebut Kraft karena pulp yang dihasilkan dari proses ini memiliki kekuatan lebih
tinggi daripada proses mekanis dan semikimia, akan tetapi rendemen yang dihasilkan
lebih kecil diantara keduanya karena komponen yang terdegradasi lebih banyak
(lignin, ekstraktif dan mineral) (Wikipedia2, 2010).
Kertas pertama kali ditemukan pada tahun 2500 dan 2000 SM. Kertas
tersebut terbuat dari alang-alang yang bernama Papyrus yang tumbuh di Sungai Nil
dan Mesir. Dalam proses pembuatannya, Papyrus dipukuli satu-persatu sampai pipih
untuk selanjutnya dianyam sehingga berwujud lembaran, kemudian anyaman

Universitas Sumatera Utara

dipukuli kembali hingga menyatu. Sementara itu, di negara china sekitar 105 M
digunakan kulit kayu Murbei sebagai bahan pembuat kertas (Win, 2008).

2. 2 Perkembangan Industri Pulp di Indonesia


Tingginya kebutuhan pulp & kertas dalam beberapa periode, tercermin dari
meningkatnya kapasitas produksi. Selama periode 20042008, kapasitas pulp
domestik meningkat rata-rata 0,6% per tahun, yaitu dari 5,2 juta ton menjadi 6,4 juta
ton per tahun. Dan pada tahun 2009, kapasitas terpasangnya meningkat lagi menjadi
6,9 juta ton per tahun, seiring dengan beroperasinya pabrik baru. Pada periode yang
sama, kapasitas produksi kertas juga mengalami peningkatan yang berarti, dari 10
juta ton menjadi 10,9 juta ton per tahun (Media Data Riset, 2010). Minat para
investor untuk berinvestasi di industri kertas dan bubur kertas (pulp) ternyata masih
cukup tinggi. Terdapat setidaknya tiga perusahaan kertas yang berencana
merealisasikan investasi total Rp 34,2 triliun di industri ini (BBPK, 2010).
Tabel 2. 1 Produk dan Ekspor Pulp Indonesia
Ekspor

Konsumsi

Produksi

Kapasitas tepasang

(juta ton)

(juta ton)

(juta ton)

(Adt)

2000

1,3

3,5

4,1

5,2

2001

1,7

3,5

4,7

5,6

2002

2,2

3,5

5,0

6,1

2003

2,4

3,6

5,2

6,3

2004

2,5

3,6

5,2

6,3

2005

2,6

3,8

5,5

6,5

2006

2,8

3,8

5,7

6,5

2007

2,4

4,2

5,8

6,5

2008

1,0

2,8

3,5

7,9

2009

1,5

2,0

3,5

7,9

Tahun

(APKI, 2009)

Di Indonesia, industri pulp dan kertas terus mengalami peningkatan dari


tahun ke tahun. Dewasa ini industri pulp dan kertas Indonesia memiliki 80
perusahaan, besar dan kecil serta baru dan lama dengan nilai investasi mencapai US$

Universitas Sumatera Utara

16 milyar dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat langsung sebanyak 178.624
orang serta devisa senilai US$ 2,817 milyar. Total kapasitas pabrik pulp mencapai
6,4 juta ton per tahun sementara pabrik kertas mencapai 10 juta ton per tahun. Semua
jenis kertas telah diproduksi, bahkan terdapat kelebihan untuk diekspor, yaitu 45 %
pulp dan 30 % kertas (dewataart.wordpress.com, 2009).
Tabel 2. 2 Harga Pulp Oktober 2009 - Pebruari 2010 (US$/ton)
Jenis

Oktober

Nopember

Desember

Januari

Pebruari

Maret

April

Mei

Pulp

2009

2009

2009

2010

2010

2010

2010

2010

760-770

780-800

800

830

860

890

930

960

800

830

830

850

880

910

960

1000

670-680

690-710

690-710

720

750

780

830

870

650

700

700

730

760

790

840

890

700

730

730

760

790

820

870

920

580-590

620-630

640-660

720

750

800

850

Serat Panjang
Eropa
Amerika
Serikat
Asia

Serat Pendek
Eropa
Amerika
Serikat
Asia

670690

(BBPK, 2010)

2. 3 Limbah Agar-agar
Pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku pembuatan agar-agar kertas
masih belum optimal. Tingkat efisiensi dari proses pengolahan agar-agar kertas di
daerah Pameungpeuk sekitar 17 % atau dari 30 kg bahan baku rumput laut kering
menjadi 5 kg agar-agar kertas tiap satu proses produksinya dan limbah padat yang
dihasilkan sebanyak 30 kg dalam keadaan basah. Pada tahun 2008 limbah dari
pengolahan rumput laut sekitar 1.682.542 ton. Jumlah yang besar ini sangat
disayangkan jika tidak diolah dan dimanfaatkan dengan baik (Harvey 2009).
Sebanyak 1.682.542 ton limbah industri agar-agar dapat dikonversikan sebanyak
25% menjadi pulp, yaitu sekitar 420.635,5 ton pulp (Kim et al, 2007)

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2. 3 Perusahaan Produsen Agar-agar di Indonesia


No.

Nama Perusahaan

Lokasi

1.

PT. Agarindo Bogatama

Tangerang, Banten

2.

PT. Alloy Jelly/Alloy Mandiri Food

Tangerang, Banten

3.

Caragenan Indonesia

Malang, Jawa Timur

4.

PT. Indofreeze Industrial Ltd

Bogor, Jawa Barat

5.

PT. Indoking Aneka Industri

Dairi, Sumatera Utara

6.

Jely Agar-agar

Tangerang, Banten

7.

PT. Merlindo Rekamatra

Bandung, Jawa Barat

8.

PT. Multi Karya Flora

Malang, Jawa Timur

9.

Pratama Agung

Jakarta Utara, D.K.I Jakarta

10.

CV. Riyana Cipta Pangan

Cirebon, Jawa Barat

11.

PT. Satelit Sriti

Pasuruan, Jawa Timur

12.

PT. Sinar Kencana Surabaya

Surabaya, Jawa Timur

13.

Sindura Agung

Jakarta Barat, D.K.I Jakarta

14.

CV. Top Food Industry

Jakarta Timur, D.K.I Jakarta

15.

PT. Agar Sehat Makmur Lestari

Jawa Barat

16.

PT. Dunia Bintang Walet

Petamburan, D.K.I Jakarta

17

CV. Agar Sari Jaya

Lawang, Jawa Timur

18.

PT. Usahatama Graha Sakura

Grogol, DKI Jakarta

19.

P.T Forisa Nusapersada

DKI Jakarta

20.

CV. Sumber laut

Lampung

21.

CV. AA Bersaudara

Bekasi, Jawa Barat

22.

UD. Rumput Laut

Cakra Negara

23.

PT. Agar Sari Jaya Utama

Karawaci, Tangerang

24.

PT. Agarindo Rasa Utama

Karawaci, Tangerang

25.

PT. Amarta Carrageenan Indonesia

Desa Jerukpurut, Gempol

26.

PT. Bola Dunia Walet

Taman Sari, Jakarta

Universitas Sumatera Utara

27.

UD. Carragenan Indonesia

Blimbing, Malang

28.

PD. Dunia Manis

Karawaci, Tangerang

29.

Dunia Walet

Penjaringan, Jakarta

30.

PT. Gelinti Utama

Kebon Melati, Jakarta

31.

PT. Indoking Aneka Agar-Agar Industri

Medan, Sumatera Utara

32.

Sri Gunting Agar-Agar

Singosari

33.

CV. Sinar Rezeki

Cikupa, Banten

34.

CV. Riadi

Mataram

35.

UD. Tirta Utama

Gudo, Jawa Timur

36.

PT. Sedapindo Trijaya

Bekasi, Jawa Barat

37.

PT. Satelit Sriti

Semarang, Jawa Tengah

38.

PT. Satelit Sriti

Desa Gondang, Pandaan

39.

PT. Pantai Samudra

Cikoke, Sukabumi

40.

CV. Maju Makmur Mandiri

Petamburan, Jakarta

41.

PT. Rapid Niaga Internasional

Makassar, Sulawesi

42.

CV. Maju Makmur Mandiri

Petambuan, Jakarta

(Depperin, 2009)

Kapasitas pabrik PT. Agarindo Bogatama pada tahun 1999 adalah 3000
ton/tahun kemudian meningkat pada tahun 2009 menjadi 5300 ton/tahun dan PT.
Agar Sehat dengan kapasitas 600 ton/tahun (Dinas Kelautan dan perikanan Sulawesi
Tengah, 2010 ; Erwin, 2008). Di daerah Jawa Barat, khususnya di Kecamatan
Pameungpeuk, terdapat sekitar 20 pengusaha yang memproduksi agar-agar dengan
kapasitas 2 ton/hari dan industri sedang dengan kapasitas 20 ton/hari (Zulmunir,
2009). Untuk semakin meningkatkan produksi agar-agar di Indonesia, pemerintah
dan pelaku industri rumput laut berupaya meningkatkan kapasitas produksi bahan
olahan menjadi 30 ton/hari dari sebelumnya 10 ton/hari untuk 200 pengusaha industri
menengah (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2010). Berdasarkan hasil penelitian
Balai Riset Kelautan dan Perikanan (2003), limbah industri agar-agar (Gracilaria
sp.) memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi, yaitu 45,9%. Kandungan
selulosa yang sangat tinggi tersebut merupakan dasar untuk menjadikan limbah
industri agar-agar sebagai bahan baku kertas (Jaelani et al, 2010)

Universitas Sumatera Utara

Indonesia memiliki potensi perairan budidaya laut sekitar 1.115.050 Ha yang


tersebar dari NAD hingga Irian Jaya. Gracilaria telah dibudidayakan di tambak
terutama di Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Pelopo dan di Jawa Timur yaitu
Gresik. Produktivitasnya bekisar 1,5-2 ton rumput laut kering per hektar.
Table 2.4 Potensi lahan perairan pengembangan budidaya rumput laut
Provinsi

Luas Area (Ha)

Nanggroe Aceh Darussalam

104.100

Sumatera Utara

2.000

DKI Jakarta

1.800

Jawa

37.100

Bali

18.100

Nusa Tenggara

17.150

Sulawesi

226.300

Maluku

206.600

Irian Jaya

501.900

Total

1.115.050

(Basmal dan Irianto, 2006)

Luasnya lahan untuk budidaya rumput laut serta banyaknya volume yang
dihasilkan merupakan suatu indikasi bahwa bahan baku industri agar-agar memiliki
keterjaminan dalam hal kontinuitas. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa
dengan adanya keterjaminan bahan baku industri agar-agar pada akhirnya akan
menjamin ketersediaan bahan baku industri kertas berbasis limbah industri agar-agar
(Jaelani et al, 2010)
Indonesia memiliki lahan untuk budidaya rumput laut (bahan dasar Industri
agar) yang sangat luas, hingga mencapai 2 juta ha (20% dari total potensi lahan
perairan laut berjarak 5 km dari garis pantai), dengan volume 46,73 juta ton pertahun
(Purnomo dan Suryati, 2007). Dari jumlah keseluruhan tersebut, sampai saat ini baru
dimanfaatkan sekitar 0,7 juta ton per tahun (Dahuri, 2004). Dari Tabel 2. 5, dapat
diketahui bahwa baik luas areal penanaman, maupun produksi rumput laut di
Indonesia terus mengalami peningkatan. Selain itu, laju peningkatan luas areal
budidaya rumput laut di Indonesia ialah 21% (Purnomo dan Suryati, 2007). Laju

Universitas Sumatera Utara

peningkatan produksi rata-rata rumput laut di Indonesia adalah 54% (Dahuri, 2004).
Luasnya lahan untuk budidaya rumput laut serta banyaknya volume yang dihasilkan,
merupakan suatu indikasi bahwa bahan baku industri agar-agar memiliki
keterjaminan dalam hal kontinuitas. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa
dengan adanya keterjaminan bahan baku industri agar-agar, pada akhirnya akan
menjamin ketersediaan bahan baku industri kertas berbasis limbah industri agar-agar
(Jaelani et al, 2010).
Tabel 2. 5 Peningkatan Luas dan Produksi Rumput Laut di Indonesia
Tahun Luas Areal (ha) Produksi (ton)
2004

21.500

410.570

2005

29.923

910.636

2006

33.580

1.079.850

2007

37.504

1.343.700

(Purnomo dan Suryati, 2007)

Bahan baku utama serat berasal dari ampas rumput laut yang tidak terpakai,
ternyata menjadi penghasil limbah pencemar lingkungan. Hal tersebut diperkuat
dengan volume ampas yang bisa mencapai 70% dari total produksi agar-agar
(Mudzakir, 2007).
Sehingga dari data table 2.5 diperoleh kapasitas limbah agar-agar sebagai
berikut:
Tabel 2.6 Ketersediaan limbah agar-agar
Tahun

Produksi (ton)

Limbah agar-agar (ton)

2004

410.570

287.399

2005

910.636

637.445,2

2006

1.079.850

755.895

2007

1.343.700

940.590

2008

2.403.631

1.682.542

Dari asumsi yang diperhitungkan oleh Kim (2007), maka konversi pulp yang
dapat dihasilkan adalah sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.7 Konversi pulp yang dihasilkan dari ketersediaan limbah agar-agar
Tahun

Produksi (ton)

Limbah agar-agar (ton)

Pulp yang dihasilkan

2004

410.570

287.399

71.849,75

2005

910.636

637.445,2

159.361,3

2006

1.079.850

755.895

188.973,75

2007

1.343.700

940.590

235.147,5

2008

2.403.631

1.682.542

420.635,5

Tabel 2. 8 Kandungan di dalam Limbah Agar-agar


Kandungan

Jumlah ( % berat kering ampas)

Kadar air

7,63

Kadar Abu

15,30

Protein Kasar

15,53

Lemak

0,19

Karbohidrat

61,35

Serat Kasar

11,56

Selulosa

16,03

Hemiselulosa

25,23

Lignin

3,10

(Hartati, 2001)

2. 3 Proses Pembuatan Pulp


2. 3. 1 Secara Umum
Urutan proses pembuatan pulp adalah persiapan bahan baku, pembuatan pulp
(secara kimia, semikimia, mekanik atau limbah kertas), pemutihan, pengambilan
kembali bahan kimia dan pengeringan pulp (PT. PINDO DELI, 2007)
Proses pembuatan pulp umumnya dibagi dalam beberapa tahapan yang akan
dijelaskan berikut ini.

2. 3. 1. 1 Pemilihan Jenis Kayu


Jenis kayu yang banyak digunakan dalam pembuatan pulp adalah:

Universitas Sumatera Utara

1. Kayu lunak (softwood), adalah kayu dari tumbuhan konifer contohnya


pohon pinus.
2. Kayu keras (hard wood), adalah kayu dari tumbuhan yang menggugurkan
daunnya setiap tahun. Kayu keras lebih halus dan kompak sehingga
menghasilkan permukaan kertas yang halus. Kayu keras juga lebih mudah
diputihkan hingga warnanya lebih terang karena memiliki lebih sedikit
lignin.
3. Kayu lunak yang memiliki panjang dan kekasaran lebih besar digunakan
untuk memberi kekuatan pada pulp.
Pulp umumnya tersusun atas campuran kayu keras dan kayu lunak untuk
mencapai kekuatan dan permukaan cetak yang diinginkan pembeli. Kayu sebagai
bahan dasar dalam industri pulp mengandung beberapa komponen antara lain :
1. Selulosa, tersusun atas molekul glukosa rantai lurus dan panjang yang
merupakan komponen yang paling disukai dalam pembuatan kertas
karena panjang, kuat.
2. Hemiselulosa, tersusun atas glukosa rantai pendek dan bercabang.
Hemiselulosa lebih mudah larut dalam air dan biasanya dihilangkan
dalam proses pulping.
3. Lignin, adalah jaringan polimer fenolik tiga dimensi yang berfungsi
merekatkan serat selulosa sehingga menjadi kaku. Pulping kimia dan
proses pemutihan akan menghilangkan lignin tanpa mengurangi serat
selulosa secara signifikan
4. Ekstraktif, meliputi hormon tumbuhan, resin, asam lemak dan unsur lain.
Komponen ini sangat beracun bagi kehidupan perairan dan mencapai
jumlah toksik akut dalam efluen industri pulp.

2. 3. 1. 2 Persiapan Kayu
Bahan baku yang mengandung selulosa seperti kayu, bambu, serat kapas,
bagas dan lain-lain dipotong menjadi serpihan kecil. Kulit kayu dikelupas secara
mekanis atau hidraulis sebelum dicacah menjadi serpihan kayu, kemudian dicuci dan
disaring untuk menghilangkan debu yang melekat.

Universitas Sumatera Utara

Efluen dari proses persiapan kayu berasal dari air bilasan kayu yang
mengandung partikel halus batang kayu dan padatan terlarut. Proses ini juga
menghasilkan limbah padat berupa potongan kayu tidak layak pakai dan kulit kayu
yang dapat digunakan sebagai kayu bakar.

2. 3. 1. 3 Pembuburan Kayu (Pulping)


Dalam proses pulping secara kimiawi ditambahkan panas dan zat kimia pada
serpihan kayu yang dimasukkan ke dalam tabung bertekanan yang disebut digester.
Pembuatan pulp dengan proses kraft menggunakan larutan putih (white liquor), yaitu
larutan campuran sodium hidroksida dan sodium sulfida yang secara selektif akan
melarutkan lignin dan membuatnya lebih larut dalam cairan pengolah. Setelah 2-4
jam, campuran antara pulp, sisa zat kimia dan limbah kayu dikeluarkan dari digester.
Pulp kemudian dicuci untuk memisahkannya dari cairan hitam (sisa zat kimia dan
limbah). Larutan yang mengandung serat kayu terlarut kemudian masuk ke digester
dan dipanaskan. Larutan hasil pemanasan yang berwarna hitam (black liquor)
dipisahkan dari pulp (brownstock) setelah proses pemanasan. Dalam batch digester,
pulp (brownstock) diambil dari dasar digester tabung untuk dilanjutkan dengan
pencucian. Pada digester bersinambungan, pencucian dilakukan di dalam digester
untuk menghilangkan larutan lain dan mendinginkan pulp. Kraft pulping adalah
proses dengan hasil rendah yaitu hanya 45% dari kayu akan menjadi pulp yang dapat
digunakan. Pulp atau disebut brownstock pada tahap ini siap untuk diputihkan.

2. 3. 1. 4 Pencucian (Washing)
Pencucian pulp secara efisien sangat penting dilakukan untuk memastikan
kebutuhan maksimal zat kimia dalam proses pulping dan mengurangi jumlah limbah
organik yang terbawa oleh pulp dalam proses pemutihan. Pulp yang kurang tercuci
membutuhkan dosis zat pemutih yang lebih besar.
Pencucian

pulp

dilakukan

mengikuti

masing-masing

proses

untuk

menghilangkan materi yang tidak diinginkan dalam pulp. Hasil samping berupa
black liquor, debu, lignin, dan pemutih dihilangkan setelah tiap tahapan proses

Universitas Sumatera Utara

selesai. Efisiensi pencucian diukur berdasarkan tingkat kebersihan bubur kertas dan
jumlah air yang digunakan untuk mencapai tingkat kebersihan tersebut.

2. 3. 1. 5 Refining
Pulp melewati slot dalam piringan yang berputar untuk memisahkan
gumpalan selulosa menjadi serat dan mempersiapkan pulp untuk proses pembuatan
kertas. Serat dipotong dengan panjang yang seragam dan diperlakukan untuk
memperbaiki ikatan dan kekuatan produk akhir kertas.

2. 3. 1. 6 Delignifikasi Oksigen
Penghilangan lignin (delignifikasi) menggunakan oksigen diperlukan untuk
menghilangkan sisa lignin dari brownstock yang merupakan tahap pra-bleaching.
Dengan mengurangi lignin akan dihasilkan bubur kayu yang lebih putih. Oksigen
dan larutan putih ditambahkan ke dalam brownstock dalam reaktor pemanas.
Senyawa lignin akan lepas dan dihilangkan dengan pencucian dan ekstraksi. Oksigen
delignifikasi akan mengurangi jumlah klorin yang dibutuhkan dalam proses
pemutihan (bleaching).

2. 3. 1. 7 Bleaching
Bleaching dilakukan dalam beberapa tahap dengan tujuan menghilangkan
lignin tanpa merusak selulosa. Dalam industri pulp terdapat beberapa tahap dalam
proses pemutihan. Masing-masing tahapan dijabarkan di bawah ini.

C : tahap klorinasi, menggunakan Cl2 dalam media asam

E : Extraksi Alkali, untuk melarutkan hasil degradasi lignin yang terbentuk


pada tahap sebelumnya dengan larutan NaOH.

D : Klorin dioksida, mereaksikan ClO2 dengan pulp pada kondisi asam

O : Oksigen, digunakan pada tekanan tinggi dan suasana basa

H : Hipoklorit, mereaksikan NaClO dalam media basa

P : Peroksida, reaksi dengan hidrogen peroksida (H2O2) dalam kondisi basa

Z : Ozon, menggunakan ozon (O3) dalam kondisi asam

X : Xylanase, Biobleaching dengan enzim murni mikroba dalam kondisi


netral

Universitas Sumatera Utara

Proses bleaching biasanya melibatkan 4-6 tahap. Di beberapa industri, tahap


Q (Q-stage) juga digunakan yang merupakan tahap chelation untuk menghilangkan
zat anorganik sebelum pengolahan dengan peroksida. Standar industri hingga
beberapa tahun lalu adalah bleaching dengan urutan CEDED yaitu tahap klorinasi
yang diikuti ekstraksi alkali, pengolahan dengan klorin dioksida, ekstraksi alkali dan
pengolahan akhir klorin dioksida. Proses yang lebih modern telah beralih dari
penggunaan klorin (C-stage) karena menghasilkan senyawa toksik aromatik
terklorinasi (dioxin dan dibenzofuran) dalam efluen instalasi bleaching, contohnya
menerapkan urutan OXED yaitu menggunakan pemutih oksigen yang diikuti
penerapan enzim xilanase, ekstraksi alkali dan klorin dioksida.
Tahapan

dalam

bleaching

disimbolkan

dengan

DED

dimana

melambangkan klorin dioksida (ClO2) dan E melambangkan ekstraksi alkali. Dalam


tahap ini, brownstock dicampur dengan ClO2 dalam reaktor D1 yang akan bereaksi
dengan lignin. Pencucian mengikuti tahap ini untuk menghilangkan senyawa lignin
yang beikatan dengan klor dari bubur kayu. NaOH ditambahkan pada aliran pulp
dalam menara E dan diikuti dengan pencucian. Ekstraksi berfungsi untuk
menetralisasi pulp dan memperbaiki proses pencucian sebelumnya. Menara D2
adalah tahap akhir dari proses bleaching dimana ClO2 memberikan pemutihan
terakhir pada pulp. Jika proses bleaching diawali dengan delignifikasi oksigen, maka
prosesnya disingkat menjadi ODED.
Klorin biasanya diperoleh melalui proses elektrolisis dari NaCl yang
menghasilkan Cl2 dan NaOH. NaOH yang dihasilkan dapat digunakan pada tahap E.
Reaksi kimia elektrolisis dari NaCl diuraikan berikut ini :
2 NaCl + e-

2NaOH + Cl2 + H2

Klorin dioksida diperoleh dari sodium klorat dengan katalis asam sulfit. Produk
lainnya adalah Na2SO4 yang dapat digunakan dalam proses kraft pulping. Reaksinya
diuraikan berikut ini.
NaClO3 +SO2

2ClO2 + Na2SO4

(Rini, 2002)

Universitas Sumatera Utara

2. 3. 1. 8 Pengujian terhadap Pulp


1. Bilangan Kappa
Pengujian ini mengindikasikan kandungan lignin dan kemampuan pulp
tersebut untuk diputihkan. Pengujian ini didasarkan kepada reaksi dengan
Kalium Permanganat (KMnO4). Normalnya pulp setelah melewati tahap
proses bleaching diketahui dengan cara menganalisa bilangan kappa pulp di
laboratorium.
2. Viskositas
Pengujian terhadap viskositas dilakukan untuk menentukan kekuatan yang
dimiliki pulp. pengujian mengevaluasi derajat polimerisasi daripada selulosa
atau dengan kata lain degaradasi dari serat selulosa. Pemeriksaan meliputi
penentuan viskositas larutan pulp di dalam Cupraetilen Diamin atau
Cuprammonium.
3. Brightness
Brightness pulp diukur pada tahap yang berbeda-beda di dalam proses
pemutihan sebagaimana salah satu tujuan yang palig penting dari proses
pemutihan adalah untuk mencapai brightness yang spesifik terhadap pulp
yang dihasilkan. Sebuah alat pengukur tingkat refleksi atau pengukur
brightness digunakan di laboratorium untuk mengukur brightness, contoh
pulp dibuat dalam lembaran. Jadi, nilai brightness 90 ISO artinya, pada
kondisi yang standar dari cahaya dan pengamatan, suatu kekuatan
memantulkan adalah, (pada panjang gelombang sebesar 457 nm) 90% dari
batangan magnesium oksida. Pulp yang keluar dari tahap akhir proses
pemutihan secara normal diperiksa brightnessnya.

4. Konsistensi
Konsistensi yang meninggalkan menara pemutihan menuju pulp machine
diukur dan dicatat oleh instrument-instrumen yang terpasang dijalur tersebut.
Pengukuran

ini

adalah

untuk

dibandingkan

terhadap

pemeriksaan

laboratorium.
5. Klorin yang tersisa

Universitas Sumatera Utara

Pemeriksaan terhadap senyawa klorin yang tersisa di dalam stock pulp pada
tahap klorin dioksida dilakukan untuk mengendalikan dosis bahan kimia.
6. Pengujian yang lain
Tambahan terhadap pemeriksaan yang rutin ini, ada juga pengujian yang
dikerjakan secara regular yang pada dasarnya untuk menjalankan pabrik
secara efisien. Semua larutan kimia yang dipergunakan di pabrik diuji
sewaktu-waktu secara regular yaitu menyangkut konsentrasi dan filtrat yang
berasal dari alat washer tersebut diperiksa kandungan seratnya. Dissolving
pulp yang diputihkan membutuhkan pengujian yang khusus untuk
mempertegas spesifikasi kualitasnya. Ini termasuk analisa abu, pengujian
terhadap zat-zat pengotor organik, pengujian kelarutannya terhadap alkali,
pengujian reaktifitasnya dan lain-lain (Sirait, 2003).

2. 3. 2 Proses Pembuatan Pulp dari Limbah Industri Agar-agar (Gracilaria)


Pada dasarnya, proses pembuatan kertas berbasis limbah indusri agar-agar
hampir sama dengan proses pembuatan kertas berbasis rumput laut. Proses tersebut
dibagi ke dalam beberapa tahap berikut ini.
2. 3. 2. 1 Tahap Persiapan Bahan Baku
Limbah industri agar-agar terlebih dahulu dipotong-potong menjadi
berbentuk chip dengan ukuran 2-3 cm secara manual dengan menggunakan pisau.
Hal ini bertujuan untuk memudahkan pemasakan dan penyeragaman penetrasi
larutan pemasak ke dalam chip. Potongan-potongan tersebut kemudian dijemur
hingga mencapai kadar air kering udara sekitar 15-20%. Penentuan kadar air
dilakukan dengan menggunakan metode oven pada suhu 105oC hingga diperoleh
berat konstan. Nilai kadar air diperlukan untuk menetapkan persentase bahan kimia
yang akan digunakan dalam pemasakan. Perhitungan kadar air dilakukan dengan
menggunakan rumus:
Kadar Air (%) =

A-B
100 %
B

Universitas Sumatera Utara

2. 3. 2. 2 Pemasakan Bahan Baku


Pemasakan bahan baku dilakukan dalam rotary digester mini dengan tekanan
9-10 atm serta suhu pemasakan 100OC. Pemasakan tersebut dilakukan dengan
menggunakan NaOH 2% b/b terhadap bobot kering oven serat limbah industri agaragar. Waktu yang digunakan dalam pemasakan ini adalah selama 1 jam dengan
perbandingan limbah industri agar-agar dan larutan pemasak 1:8. Setelah pemasakan,
pulp dicuci dengan menggunakan air bersih sehingga bebas dari larutan pemasak dan
bahan-bahan yang tidak diinginkan (ditandai dengan air cucian dalam keadaan netral
atau pH 6-7).
Pulp yang masih menggumpal atau belum sempurna penguraiannya,
disempurnakan penguraian seratnya dengan menggunakan alat desindrator selama 15
menit. Bahan pulp dari hasil penguraian tersebut kemudian dimasukkan pada
penyaring hidrolik berukuran 60 mesh dan ditampung dengan penyaring berukuran
80 mesh, kemudian dikeluarkan airnya dengan menggunakan centryfuge.

2. 3. 2. 3 Penentuan Rendemen Pemasakan


Pulp hasil pemasakan diturunkan kadar airnya dan ditimbang bobotnya (C),
kemudian diambil sampel dan ditimbang bobotnya (B), lalu dikeringkan dalam oven
hingga beratnya konstan (A). Jika berat kering oven limbah industri agar-agar adalah
D maka rendemen pemasakannya dapat dihitung dengan menggunakan rumus
berikut ini.
R (%) =

(A : B) C
100 %
D

Keterangan: R = Rendemen Pemasakan (Jaelani et al, 2010)

2. 4 Bleaching
2. 4. 1 Bleaching secara Umum
Bleaching merupakan suatu rangkaian proses akhir yang sangat penting
dalam proses produksi pulp. Secara definisi, bleaching adalah memindahkan atau
menghilangkan warna dari residu lignin dari kimia pulp untuk meningkatkan
brightness, mempertahankan kestabilan brightness, kebersihan, dan sifat-sifat lain

Universitas Sumatera Utara

yang tidak diinginkan, dengan syarat bisa mempertahankan kekuatan selulosa dan
daerah karbohidrat dalam pulp dari serat yang tidak diputihkan (Saputra, 2008)
Bleaching pulp harus menggunakan bahan kimia yang bersifat reaktif untuk
melarutkan sisa lignin yang ada di dalam pulp agar diperoleh derajat putih yang
tinggi. Namun harus dijaga agar penggunaan bahan kimia tersebut tidak
menyebabkan kerusakan selulosa yang lebih besar dan pencemaran lingkungan yang
berbahaya.
Bahan kimia yang digunakan dalam proses pemutihan terbagi menjadi dua
macam yaitu (Batubara, 2006) :
1. Oksidator
Oksidator berfungsi untuk mendegradasi dan menghilangkan lignin dari gugus
kromofor. Oksidator yang sering digunakan adalah khlor (C), Oksigen (O),
Hipoklorit (H), Klordioksida (D), Peroksida (P), Ozon (Z), dan Nitrogen dioksida
(N).
2. Alkali
Alkali berfungsi untuk mendegradasi lignin dengancara hidrolisa dan melarutkan
gugus gula sederhana yang masih bersatu dalam pulp.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses pemutihan antara lain
(Batubara, 2006) :
1. Konsentrasi
Reaksi lebih dapat ditingkatkan dengan menambah konsentrasi pemutih
2. Waktu reaksi
Pada umumnya perlakuan bahan kimia pemutih terhadap pulp akan menjadi
lebih reaktif dengan memperpanjang waktu reaksi. Namun waktu reksi yang
terlalu lama juga akan merusak rantai selulosa dan hemiselulosa.
3. Suhu
Peningkatan suhu mengakibatkan terjadinya peningkatan pada reaksi
pemutihan. Penentuan suhu bervariasi tergantung pada jenis bahan kimia
pemutih yang digunakan. Suhu pemutihan biasanya berkisar antara 20
110OC

Universitas Sumatera Utara

4. pH
pH mempunyai pengaruh yang sangat vital terhadap semua proses pemutihan.
Nilai pH tergantung pada bahan pemutih yang digunakan.

Proses pemutihan diaplikasikan menggunakan beberapa tahap (multitahap)


untuk memperoleh pulp yang memiliki derajat putih yang sangat tinggi dan stabil.
Proses pemutihan dengan multitahap merupakan sebuah metode pemurnian pulp
dengan cara menambahkan bahan kimia pemutih dan pemurni dalam beberapa tahap
ang dipisahkan dengan perlakuan pencucian dengan air atau alkali diantaranya,
dimana hasil reaksi akan dikeluarkan dalam perlakuan pencucian. Di dalam proses
pemutihan menggunakan beberapa tahap, beragam kotoran di dalam serat
dikeluarkan sedikit demi sedikit dan tampak menyebabkan kerusakan yang serius
pada serat. Proses-proses itu diantaranya adalah (Smook, 1989) :
Chlorination (C)

: reaksi dengan klorin dalam suasana asam

Alkaline Extraction (E)

: reaksi pelarutan produk dengan NaOH

Hypochlorite (H)

: reaksi dengan hypochlorite dalam larutan


alkali

Peroxide (P)

: reaksi dengan peroxide dalam suasana alkali

Oxygen (O)

: reaksi dengan oksigen pada tekanan tinggi


dalam suasana alkali

(DC) atau (CD)

: campuran chlorine dan chlorine dioxide dalam


suasana asam

2. 4. 1. 1 Proses Bleaching dengan Oksigen (O)


Proses oksidasi merupakan reaksi pokok dalam pemutihan yang bertujuan
untuk menghilangkan lignin sehingga oksigen dapat digunakan sebagai bahan
pengoksidasi paling mudah dan paling murah untuk proses pemutihan. Namun
karena oksigen bukan untuk mendegradasi lignin yang selektif maka pulp kimia tidak
dapat diputihkan hanya dengan oksigen untuk memperoleh derajat putih yang tinggi
tanpa merusak polisakarida, yang pada akhirnya akan menghasilkan sifat-sifat
kekuatan yang sangat jelek.

Universitas Sumatera Utara

Penggunaan oksigen sebagai pemutih memiliki keuntungan antara lain


pengurangan pemakaian gas klor atau klordioksida sehingga masalah pencemaran
dapat dicegah seminimal mungkin.
Bleaching dengan oksigen berlangsung pada temperatur 90-110oC selama 60120 menit dengan konsistensi rendah hingga sedang (3-17 %). Pertimbangan
pemutihan oksigen pada konsistensi sedang didasarkan pada teknik industrinya yang
lebih mudah dan selektivitas kelarutan lignin yang lebih tinggi (Batubara, 2006).
Kondisi proses bleaching dengan oksigen (Priti, 2008) :
Konsistensi pulp

: 10 %

NaOH

: 2,0 %

Hidrogen peroksida

: 0,5 %

Tekanan oksigen

: 0,6 MPa

Temperatur proses

: 90oC

Waktu proses

: 60 menit

Tabel 2. 6 Kondisi Operasi Delignifikasi Oksigen Mixed Tropical Hardwood


Parameter

Mixed Tropical Hardwood

Temperatur, oC

87-90

O2 charge, kg/ADT

14-17

NaOH charge, kg/ADT

16-18

pH

10,8-11,0

Konsistensi, %

12

Waktu reaksi, menit

120

Starting kappa number

13-14

(Priti, 2008)

2. 4. 1. 2 Proses Bleaching dengan Ozon (Z)


Gas ozon dapat mengoksidasi semua ikatan rangkap pada semua gugus
alifatik dan aromatik. Gas ozon merupakan gas yang tidak stabil dan dapat berubah
secara perlahan-lahan pada temperatur ruangan dan tekanan atmosfir. Selektifitas gas
ozon lebih tinggi apabila dilarutkan dalam asam asetat jika dibandingkan dengan air.
Keuntungan pemutihan dengan gas ozon di dalam air antara lain : bahan
pemutih yang baik, waktu reaksi yang pendek, temperatur pemutihan yang rendah

Universitas Sumatera Utara

dan tanpa tekanan serta tidak terjadi pencemaran lingkungan. Sementara kerugian
pemutihan dengan menggunakan gas ozon adalah kerusakan karbohidrat di dalam
pelarut air relatif lebih besar akan tetapi dapat diatasi dengan pelarut asam asetat,
biaya produksi untuk pembuatan generator ozon relatif mahal, kulit dan sisa-sisa
kayu tidak termasak menyebabkan derajat bersih kertas menurun (Batubara, 2006).

2. 4. 1. 3 Proses Bleaching dengan Menggunakan Peroksida (P)


Peroksida tidak hanya digunakan untuk memutihkan pulp mekanik tetapi juga
digunakan dalam serangkaian tahap pemutihan pada industri pulp kimia. Bahan
kimia ini sering digunakan pada tahap akhir rangkaian proses pemutihan dan
menghasilkan peningkatan derajat putih dan stabilitas pada pulp tanpa mengalami
penurunan rendemen dan lignin yang signifikan. Umumnya tahap peroksida
menggunakan bahan kimia berupa natrium peroksida (Na2O2), hidrogen peroksida
(H2O2) atau kombinasi keduanya (Batubara, 2006).
Hidrogen peroksida termasuk zat oksidator yang bisa digunakan sebagai
pemutih pulp yang ramah lingkungan. Di samping itu, hidrogen peroksida juga
mempunyai beberapa kelebihan antara lain pulp yang diputihkan mempunyai
ketahanan yang tinggi serta penurunan kekuatan serat sangat kecil. Pada kondisi
asam, hidrogen peroksida sangat stabil, pada kondisi basa mudah terurai. Peruraian
hidrogen peroksida juga dipercepat oleh naiknya suhu. Zat reaktif dalam sistem
pemutihan dengan hidrogen peroksida dalam suasana basa adalah perhydroxyl anion
(HOO-) (Dence and Reeve, 1996). Hidrogen Peroksida didalam air akan terurai
menjadi ion H+ dan OOH-. Ion OOH- ini merupakan oksidator kuat yang berperan
pada proses pemutihan pulp karena zat warna lama atau pigmen alam yang
merupakan senyawa organik yang mempunyai ikatan rangkap dapat dioksidasi
menjadi senyawa yang lebih sederhana atau direduksi menjadi senyawa yang
mempunyai ikatan tunggal, sehingga dihasilkan pulp putih (Andra, 2007). Jumlah
hidrogen peroksida yang dikonsumsi untuk proses bleaching dalam suasana basa
adalah 40%-75% berat kering pulp (Lachenal et al, 1991).
Keuntungan lain dari penggunaan peroksida sebagai bahan pemutih adalah
kemudahan dalam penanganan dan penerapan serta menghasilkan produk yang relatif

Universitas Sumatera Utara

tidak beracun dan tidak berbahaya. Namun kekurangannya adalah harga bahan kimia
peroksida dan bahan aditifnya yang masih tinggi (Batubara, 2006).
Tabel 2. 7 Dosis NaOH Optimum untuk Berbagai Variasi Dosis H2O2 dalam Proses
Pemutihan Kraft Pulp
Dosis H2O2 (% berat kering pulp)

Dosis NaOH (% berat kering pulp)

2 2,5

1,5

23

23

2,5 3,5

3-4

Kondisi Operasi : Temperatur 90oC ; 2 jam ; konsistensi 10% - 15%


(Dence dan Reeve, 1996)

2. 4. 1. 4 Proses Bleaching dengan Menggunakan Klorin Dioksida


Klorin dioksida telah menjadi bahan kimia pemutih yang sering digunakan
sebagai pengganti klorin. Bahan kimia ini memiliki selektivitas yang tinggi untuk
mengoksidasi struktur kromofor yang menjadikan tahap ini sering diletakkan pada
tahap permulaan dari serangkaian tahap bleaching. Klorin dioksida mengalami
pertukaran elektron dengan cepat menjadi klorit dalam larutan asam dan netral.
Senyawa ini dapat terurai dalam kondisi keasaman dan suhu yang tinggi. Reaksi
dekomposisi klorin dioksida dikatalisasi dengan beragam senyawa seperti senyawa
karbonat atau lainnya. Klorin dioksida terkonversi menjadi ion klorit dengan bantuan
senyawa pereduksi, seperti hidrogen peroksida, asam sulfat, arsenit, iodida dan lainlain. Jika menggunakan hidrogen peroksida, senyawa ini mudah membentuk ion
hidroperoksi dan menjadi reaktif. Maka dipilih senyawa asam sulfat yang lebih aman
dan menjadi bagian penting dalam proses bleaching dengan tahap klorin dioksida.
Dengan pH yang rendah dapat meningkatkan konversi klorin dioksida menjadi ion
klorit dan klorida
Hasil yang diperoleh dari tahapan klorin dioksida adalah kecerahan yang
dapat mencapai 90% ISO (untuk lebih dari 2 tahap D), faktor kappa 0,22 pada
konsistensi 10 % (Sixta, 2006).

Universitas Sumatera Utara

2. 4. 2 Proses Bleaching pulp dari Rumput Laut Merah


Sebelum proses bleaching, ampas didapat dengan mengekstraksi rumput laut
sehingga terpisah antara agar-agar dan ampas. Pada proses bleaching, digunakan dua
bahan pemutih. Tahap yang pertama yaitu klorin dioksida dan untuk tahap kedua
yaitu hidrogen peroksida. Untuk tahap pertama, digunakan klorin dioksida aktif 5%
berat kering rumput laut pada pH 3,5. Temperatur, waktu tinggal dan pH yang
digunakan adalah masing-masing 80oC, 60 menit dan 3,5. pH dikontrol dengan
penambahan asam sulfat. Pada tahap kedua, digunakan hidrogen peroksida 5% berat
kering pulp. Temperatur, waktu tinggal dan pH yang digunakan adalah masingmasing 80oC, 60 menit dan 12. pH dikontrol dengan penambahan Natrium
hidroksida. Tahap kedua diulang sampai mendapat kecerahan pulp lebih dari 80%.
Digunakan dua jenis rumput laut merah (G. amansii, dimana ditemukan di
pulau Jeju, Republik Korea Selatan dan G. corneum, diimpor dari Maroko dalam
kondisi kering). Tabel 2. 5 dan 2. 6 menunjukkan kondisi ekstraksi dan bleaching
yang terjadi dari penggunaan kedua jenis rumput laut tersebut.
Tabel 2. 8 Kondisi Ekstraksi Rumput Laut Merah
Jenis Rumput Laut

Gelidium corneum

Gelidium amansii

Bahan Kimia

Temperatur (oC) Ampas (%)

Ekstrak (%)

Tanpa bahan

120

43,93

35,2

kimia

140

35,76

51,25

Asam Sulfat

120

40,44

47,66

5%

140

37,56

46,58

Tanpa bahan

120

33,92

31,83

kimia

140

33,34

49,36

Asam Sulfat

120

45,31

27,54

5%

140

33,99

52,21

Tabel 2. 9 kondisi Bleaching dan bagian ampas pada rumput laut merah
Jenis Rumput

Temperatur
o

Laut
Gelidium
corneum

( C)

Hasil setelah

Hasil setelah

ekstraksi (%)

bleaching I (%)

Pengulangan Hasil akhir


H2O2

(%)

120

43,93

29,86

10,43

140

35,76

32,28

9,46

120

40,44

29,79

9,54

Universitas Sumatera Utara

140

37,56

30,65

8,54

120

33,92

25,85

10,46

Gelidium

140

33,34

26,27

8,63

amansii

120

45,31

25,33

8,85

140

33,99

25,23

7,62

(Seo et al, 2009)

2. 4. 3 Variabel Proses Bleaching


2. 4. 3. 1 Konsentrasi Pemutih
Dosis bahan pemutih yang digunakan pada proses bleaching berpengaruh
secara langsung terhadap derajat putih pulp. peningkatan konsetrasi zat pemutih
menghasilkan kenaikan derajat putih yang signifikan.

2. 4. 3. 2 derajat Keasaman (pH)


Derajat keasaman (pH) merupakan variabel yang penting dalam proses
bleaching di tiap tahap. Contohnya pada proses bleaching hidrogen peroksida
(H2O2). Pada tahap ini, konsentrasi alkali sangat berpengaruh. Jika konsentrasi
NaOH terlalu rendah H2O2 tidak akan berfungsi dengan efektif, tetapi bila terlalu
tinggi, laju dekomposisi H2O2 akan melampaui laju reaksi proses bleaching sehingga
akan menurunkan derajat putih. Pada pH yang terlalu rendah, konsentrasi anion
perhidroksil tidak cukup untuk meningkatkan derajat putih. Pada tahap peroksida,
reaksi pemutihan berlangsung pada pH 10-11 (Dence dan Reeve, 1996).
Proses pemutihan pulp menggunakan H2O2 akan menghasilkan derajat putih
yang maksimum bila disertai dengan penambahan dosis alkali (NaOH) yang
optimum.

2. 4. 3. 3 Temperatur dan Waktu


Temperatur dan waktu reaksi proses pemutihan sangat erat hubungannya
dengan derajat putih dan kualitas pulp. pengurangan waktu tinggal reaksi dapat
dilakukan dengan peningkatan temperatur dan sebaliknya derajat putih yang sama
dapat dicapai dengan temperatur yang lebih rendah dan waktu tinggal reaksi yang

Universitas Sumatera Utara

lebih lama. Temperatur yang tinggi dapat merusak kualitas pulp dan menurunkan
derajat putih (Ulia, 2007).

2. 4. 3. 4 Konsistensi
Konsistensi adalah persentase berat pulp kering dalam bubur pulp (pulp
basah). Konsistensi pulp berpengaruh terhadap derajat putih dan konsumsi bahan
pemutih pulp. untuk mencapai derajat putih yang sama, proses pemutihan pulp
dengan konsistensi yang rendah membutuhkan bahan pemutih yang lebih banyak
daripada pulp yang berkonsistensi lebih tinggi (Dence dan Reeve, 1996).

2. 5 Deskripsi Proses
Proses pembuatan pulp pada pra-rancangan pabrik pembuatan pulp dari
limbah agar-agar ini pada dasarnya hanya menggunakan proses bleaching saja, yaitu
proses bleaching pulp dari rumput laut merah. Adapun beberapa tahapan dalam
proses pengolahan limbah agar-agar menjadi pulp berikut ini.
2. 5. 1 Persiapan bahan baku
Pada awal proses dilakukan persiapan bahan baku seperti limbah padat agaragar yang akan diolah menjadi pulp dengan derajat putih yang tinggi. Kemudian
selanjutnya limbah agar-agar yang berbentuk gumpalan dilewatkan pada conveyor
(J-101). Kemudian limbah agar-agar diperkecil ukurannya (dicacah) menggunakan
screw conveyor (J-102) dan diteruskan ke tahap bleaching menggunakan elevator (J211).

2. 5. 2 Proses Bleaching
2. 5. 2. 1 Klorin Dioksida (D)
Proses awal berlangsung pada mixer (M-210) dimana limbah agar-agar yang
telah dicacah, klorin dioksida, H2SO4 dan air dialirkan ke dalam mixer untuk
dicampur. Kemudian campuran tersebut dialirkan ke dalam reaktor (R-220) yang
diatur temperaturnya sebesar 80oC dan tekanan operasi 1 atm. Klorin dioksida yang
digunakan dengan jumlah 5% berat kering limbah dan H2SO4 3,5% berat kering
limbah. Proses berlangsung selama 1 jam dengan pH slurry di dalam reaktor 3,5 dan
konsistensi pulp 10% (Seo et al, 2010 ; .

Universitas Sumatera Utara

Pada tahap bleaching klorin dioksida ini, klorin dioksida (ClO2) habis
terkonsumsi pada tahap bleaching dimana 20 % wt diantaranya menjadi klorat
sedangkan sisanya mengoksidasi lignin (Dence & Reeve, 1998).
R

R
2ClO2

OH

H2O

HClO2

OCH3

2ClO2

H 2O

HClO

2HClO2

COOH

HClO2
2ClO2

HClO

COOCH3

HClO3
H2O

HCl

Gambar 2. 1 Reaksi yang terjadi pada bleaching tahap klorin dioksida


(Svenson, 2006)

2. 5. 2. 2 Hidrogen peroksida (P)


Pada bleaching tahap terakhir ini diawali dengan dialirkannya pulp hasil
proses bleaching tahap I yang telah dicuci dengan Wash Vacuum Filter (H-222)
menggunakan air proses, Hidrogen peroksida, larutan NaOH dan air ke dalam mixer
(M-320) untuk dicampur. Kemudian campuran tersebut dialirkan ke dalam reaktor
(R-330) yang telah diatur temperaturnya sebesar 80oC dengan tekanan 1 atm. Proses
ini berlangsung selam 1 jam dengan kebutuhan NaOH dan hidrogen peroksida
masing-masing sebanyak 3,5% dan 5%. Untuk tahap bleaching hidrogen peroksida
diperlukan konsistensi pulp sebesar 10%-15% dan besar pH adalah 12 (Dence dan
Reeve, 1996 ; Seo et al, 2010).
Pada tahap bleaching hidrogen peroksida ini, jumlah hidrogen peroksida yang
dikonsumsi untuk proses bleaching dalam suasana basa adalah 40%-75% berat
kering pulp (Lachenal et al, 1991).

H
H 2O 2

3H2O

CH3COOH

CH3OH

H2O

OCH3

COOH
C

COOH

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2. 2 Reaksi yang terjadi pada tahap bleaching hidrogen peroksida


(Henrikkson et al, 2009)

2. 5. 3 Unit Pencucian Akhir


Setelah melewati tahap bleaching yang terakhir kemudian bleached pulp
dimasukkan ke dalam unit pencucian (H-332) yang bertujuan agar bleached pulp
yang dihasilkan bersih dari sisa bahan kimia pemucat sehingga lignin yang
terkandung di dalamnya ikut keluar bersama air dan untuk mencuci bahan bleached
pulp yang telah dibleaching dari sisa-sisa bleaching. Dan kemudian pulp dilewatkan
pada compact press (S-410) untuk mengurangi kadar air juga pada tunnel dryer (A420). Dan akhirnya pulp didinginkan menggunakan blow box (A-430) sehingga akan
dihasilkan bleached pulp dengan derajat keputihan yang tinggi. Derajat putih yang
dihasilkan adalah 90% dan konsistensi 92% (Seo et al, 2010 ; Amraini et al, 2009).

2. 6

Sifat Bahan

2. 6. 1 Limbah Agar-agar
Fungsi : Sebagai bahan yang akan dibleaching
1. Berbentuk gumpalan berwarna putih kecoklatan
2. Tidak berbau
3. Tidak larut dalam air
4. Kandungan selulosa

: 45,9%

5. Rumus molekul

: (C6H10O5)n

(Jaelani et al, 2010)

2. 6. 2 Klorin Dioksida (ClO2)


Fungsi : Sebagai bahan kimia pada tahap bleaching klorin dioksida (D)
1. Berat molekul

: 67,45 g/mol

2. Massa jenis

: 3.01 g/cm3

3. Titik leleh

: -59oC

4. Titik didih

: 11oC

5. Entalpi standar

: + 104,60 kJ/mol

6. Entropi standar molar

: 257,22 J/K.mol

Universitas Sumatera Utara

(wikipedia2, 2009)

2. 6. 3 Air (H2O)
Fungsi : sebagai bahan dalam proses bleaching dan washing
1. Berat molekul

: 18,016 gr/gmol

2. Titik lebur

: 0C (1 atm)

3. Titik didih

: 100C (1 atm)

4. Densitas

: 1 gr/ml (4C)

5. Spesifik graviti

: 1,00 (4C)

6. Indeks bias

: 1,333 (20C)

7. Viskositas

: 0,8949 cP

8. Kapasitas panas

: 1 kal/gr

9. Panas pembentukan

: 80 kal/gr

10. Panas penguapan

: 540 kal/gr

11. Temperatur kritis

: 374C

12. Tekanan kritis

: 217 atm

(Perry dan Green, 1997)

2. 6. 4 Asam Sulfat (H2SO4)


Fungsi : Sebagai pengatur suasana asam pada tahap bleaching Klorin
Dioksida (D)
1. Berat molekul

: 98,08 g/mol

2. Massa jenis

: 1,84 g/cm3

3. Titik leleh

: 10oC

4. Titik didih

: 337oC

5. Viskositas

: 26,7 cP

(Wikipedia1, 2009)

2. 6. 5 Hidrogen Peroksida (H2O2)


Fungsi : Sebagai bahan kimia dalam proses bleaching tahap peroksida (P)
1. Berat molekul

: 34,0147 gr/gmol

2. Titik lebur

: -0,43C (1 atm)

Universitas Sumatera Utara

3. Titik didih

: 150,2C (1 atm)

4. Densitas

: 1,463 gr/cm3

5. Moment dipol

: 2,26

6. Indeks bias

: 1,34

7. Viskositas

: 1,245 cP (20oC)

8. Panas pembentukan

: -4,007 kJ/gr

9. Kapasitas Panas

: 2.619 J/g K

(Wikipedia, 2010)

2. 6. 6 Natrium Hidroksida (NaOH)


Fungsi : Sebagai pengatur suasana basa pada tahap bleaching Peroksida (P)
1. Berat molekul

: 39,9971 g/mol

2. Massa jenis

: 2,1 g/cm3

3. Titik leleh

: 318oC (591 K)

4. Titik didih

: 1390oC (1663 K)

5. Kelarutan dalam air

: 111 gr/100 ml (20oC)

6. Kebasaan (pKb)

: -2,43

(Wikipedia , 2009)

xiv

Universitas Sumatera Utara

FC
LI

TT-102

KETERANGAN GAMBAR
J-101

TT-101
TT-102
TT-103
TT-104
TT-105
TT-106
C-101
C-102
C-103
C-201
C-202
C-203
J-101
J-102
J-103
J-104
J-105
J-106
J-107
J-201
M-101
M-102
M-103
R-101
R-102
WVP-101
WVP-102
CP-201
DE-201
BB-201
JB-201

FC

LI

TT-103
J-102
FC

LI

TT-104
J-103
TT-105
C-103

Air Proses

FC

Steam

Superheated 150oC ; 101,325 kPa


12

11
2

15

LI

FC

M-103

14
FC

18

J-106

13

FC

8
PI

C-102

PI

16

TC

TC

=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=

Gudang penyimpanan limbah agar-agar


Tangki penyimpanan ClO2
Tangki penyimpanan H2SO4
Tangki penyimpanan H2O2
Tangki penyimpanan NaOH
Gudang penyimpanan pulp
Screw conveyor pencacah limbah agar-agar
Elevator pengangkut limbah agar-agar
Conveyor NaOH
Conveyor compact press
Conveyor tunnel dryer
Conveyor blow box
Pompa ClO2
Pompa H2SO4
Pompa H2O2
Pompa ke Reaktor ClO2
Pompa ke Mixer H2O2
Pompa larutan NaOH
Pompa ke Reaktor H2O2
Pompa ke Compact press
Mixer I
Mixer II
Dilution tank NaOH
Reaktor ClO2
Reaktor H2O2
Washer vacuum filter I
Washer vacuum filter II
Compact Press
Tunnel dryer
Blow box
Blower

4
10

FC

LI

TT-101

PC

FC
LI
FC

M-101

23

LI

FC

TC

LI

C-101

R-101
FC
FC

J-104

M-102

R-102
J-107

FC

FC

20

17
7

J-105

WVP-101

WVP-102

J-201

25

22
CP-201

TT-106

24

E-65

C-201

BB-201

C-202

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN

C-203

DE-201
TC

19
21

FLOWSHEET PABRIK PEMBUATAN PULP DARI LIMBAH AGAR-AGAR

JB-201

PRA-RANCANGAN PABRIK PEMBUATAN PULP DARI LIMBAH AGAR-AGAR


KAPASITAS PRODUKSI 87600 KG/HARI
Tanggal

Skala : Tanpa Skala

Digambar

Steam sisa
Diperiksa/
Disetujui

Limbah Cair

Nama
NIM

: Silvia Nova
: 08 0405 075

1. Nama : Dr. Ir. Rosdanelli Hsb, MT


NIP
: 19680808 199403 2 003
2. Nama : Ir. Renita Manurung, MT
NIP
: 19681214 199702 2 002

Universitas Sumatera Utara

Tanda Tangan