Anda di halaman 1dari 12

KEJANG DEMAM SEDERHANA

Pendahuluan
Kejang demam merupakan salah satu kelainan neurologis yang paling sering
dijumpai pada bayi dan anak.1 Dari penelitian oleh berbagai pakar didapatkan bahwa
sekitar 2 % - 5 % anak pernah mengalami kejang demam dengan umur berkisar 6 bulan
sampai usia 5 tahun. 1,2,3,4,5
Peneliti di Jepang bahkan mendapatkan angka kejadian (insiden) yang lebih tinggi,
yaitu : Maeda dkk, mendapatkan angka 9,7 % (pada pria 10,5 % dan pada wanita 8,9%)
dan Tsuboi mendapatkan angka sekitar 7 %. 1
Menurut Kesepakatan UKK Neurologi IDAI, Saraf Anak PERDOSSI di Jakarta,
2004, Kejang demam terjadi pada 2-4 % dari populasi anak berumur 6 bulan 5 tahun
dan paling sering (insiden tertinggi) pada usia 17- 23 bulan (18 bulan ) 2. Sesekali
kejang demam juga dijumpai pada usia lebih tua,yaitu setelah usia 5-6 tahun. 1
Dari berbagai penelitian didapatkan bahwa kejang demam agak lebih sering
dijumpai pada anak laki- laki daripada anak perempuan1,, dengan perbandingan yang
berkisar antara 1,4 : 1 dan 1,2 :1. 1 Dari 112 penderita kejang demam yang diteliti oleh
Miyake dkk, 1992, 60 orang diantaranya adalah laki-laki dan 52 sisanya adalah
perempuan. Millichap telah mengumpulkan 29 laporan mengenai kejang demam dan
mendapatkan bahwa dari 4.903 penderita kejang demam, perbandingan pria dan wanita
ialah 1,4 : 1. 1
Prof. Dr.dr. S.M Lumbantobing, 1995 meneliti

pada 297 anak dengan kejang

demam (165 laki-laki dan 132 wanita ) dan hasil perbandingan laki-laki dan perempuan
adalah 1,25 :1. 1
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu ( suhu
diatas 38,4 oC per rektal) tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan
elektrolit akut, terjadi pada anak berusia diatas 1 bulan , dan tidak ada riwayat kejang
tanpa demam sebelumnya. 2, 3,4,5
Kejang demam dibagi menjadi kejang demam sederhana dan kompleks.

1,2,3,4,5,6,7,8,9

Sebanyak 80-90 % diantara seluruh kejang demam merupakan kejang demam


sederhana. 1,2

17

Definisi
Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang berlangsung singkat,
umunya serangan berhenti sendiri dalam waktu kurang dari 10 menit, bangkitan kejang
bersifat umum ( tonik atau tonik-klonik) tanpa gerakan fokal, tidak berulang dalam
waktu 24 jam, tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya, tanpa bukti adanya
infeksi intrakranial atau gangguan metabolik berat. 2,3,4,5,6

Etiologi1,
Kejang demam adalah demam yang timbul pada suhu badan yang tinggi
(demam).

Demam sendiri dapat disebabkan oleh berbagai sebab, terutama infeksi.

Infeksi viral paling sering ditemukan pada kejang demam. Hal ini mungkin disebabkan
karena infeksi viral memang lebih sering menyerang pada anak, dan mungkin bukan
merupakan suatu hal yang khusus. Demam yang disebabkan oleh imunisasi juga dapat
memprovokasi demam. Kejang setelah imunisasi terutama didapatkan setelah imunisasi
pertusis (DPT) dan morbili (campak).

Diagnosis penyebab utama didasarkan atas

bagian tubuh yang terlibat peradangan , misalnya pada infeksi saluran pernapasan atas,
otitis media, pneumonia akut, dan infeksi saluran kemih . 1

Patogenesis 6
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ diperlukan suatu
energi yang didapatkan dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang
terpenting adalah glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi dimana oksigen disediakn
dengan perantaraan paru-paru dan diteruskan ke otak melalui system kardiovaskuler.
Jadi sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi
CO2 dan air. 6
Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah
lipoid dan permukaan luar adalah ionic. Dalam keaadan normal membrane sel neuron
dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion
natriun (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali clorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+
dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na + rendah, sedangkan diluar sel neuron
terjadi keadaan yang sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam

18

dan diluar sel, maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari
sel neuron. 6
Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan
bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya:
1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
2. Rangsangan yang datangriya mendadak misalnya mekanis, kimiawi
atau aliran listrik dari sekitarnya.
3.

Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.


Pada keadaan demam kenaikan suhu 1C akan mengakibatkan kenaikan meta-

bolisme basal 10% - 15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang
anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan
dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat
terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang
singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi,
dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian
besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya
dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadilah kejang. 6
Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi
rendahnya ambang kejang seseorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu
tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu
38C sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada
suhu 40C atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya
kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam
penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang. 6
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan
tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama (lebih dari
15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea,meningkatnya kebutuhan oksigen dan
energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia,
asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai
denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat disebabkan
meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak
meningkat. Rangkaian kejadian di atas adalah faktor penyebab hingga terjadinya
kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama. 2,6

19

Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan


hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang
mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah mesial lobus
temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi
"matang" di kemudian hari, sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Jadi
kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak
hingga terjadi epilepsi. 6

Manifestasi klinik
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak biasanya bersamaan dengan
kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat disebabkan oleh infeksi ekstrakranial,
misalnya tonsillitis, otitis media akuta, bronchitis,dan lain-lainnya.

Serangan kejang

demam sederhana terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat
kurang dari 10 menit, dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik atau tonik-klonik.
Umumnya berhenti dengan sendirinya.

1,2,3,4,5,6

Begitu kejang berhenti, anak tidak

memberikan reaksi apapun untuk sejenak,tetapi setelah beberapa detik, atau menit anak
akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf. 6

20

Diagnosa
Penegakan diagnosis kejang demam sederhana 90 % berdasarkan dari anamnesa
karena biasanya pasien datang ke rumah sakit setelah tejadinya kejang dan selebihnya
kita dapatkan melaui pemeriksaan fisik, laboratorium, maupun pemeriksan penunjang
lainnya.
Anamnesis: 2,3,4

memastikan adanya kejang, sifat kejangnya, kesadaran sebelum dan setelah


kejang, lama kejang, suhu sebelum dan sesudah kejang, frekuensi, interval,
pasca kejang, penyebab demam di luar susunan saraf pusat. : 2,3,4

Menanyakan riwayat perkembangan, kejang demam pada keluarga, epilepsy


pada keluarga. : 2,3,4

Singkirkan penyebab lain: 2,3,4

Pemeriksaan fisik: 2,3,4

Kesadaran: cepat kembali ( compos mentis), suhu tubuh , tanda rangsang


meningeal (tidak ditemukan), tanda peningkatan tekanan ekstrakranial, tanda
infeksi di luar SSP

kriteria yang termasuk kejang demam sederhana adalah sebagai berikut: : 1,2,3,4
1. kejang yang berlangsung singkat, umumnya serangan berhenti sendiri dalam
waktu kurang dari 10 menit, : 1,2,3,4
2.

bangkitan kejang bersifat umum ( tonik atau tonik-klonik) tanpa gerakan fokal,

3. kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam, 1,2,3,4


4. tidak ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya, ,2
5. merupakan suatu proses ekstra kranial (tanpa bukti adanya infeksi intrakranial
atau gangguan metabolik berat.) 2,3,4
6. anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf. 6

Diagnosa Banding
21

Kejang demam sederhana

Kejang demam kompleks

kejang yang berlangsung singkat, Kejang berlangsung lama


umumnya serangan berhenti sendiri
dalam waktu kurang dari 10 menit

Pemeriksaan penunjang,
Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab kejang
demam,4
1. Pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan darah tepi lengkap, kalsium serum,
urinalisis, elektrolit dan glukosa darah dapat dilakukan, walaupun kadang tidak
menunjukkan kelainan yang berarti. Begitupun dengan biakan darah, urin dan feces.
1,2,3,4,5,6

2.

Indikasi pungsi lumbal pada kejang demam adalah untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis. Bila pasti bahwa kejang tersebut bukan
disebabkan meningitis, pungsi lumbal tidak periu dilakukan,2,3,4
Rekomendasi yang dapat digunakan adalah: 2,3,4

Bayi kurang dari 12 bulan harus dilakukan pungsi lumbal karena gejala meningitis sering tidak jelas.

Bayi antara 12-18 bulan dianjurkan untuk melakukan pungsi lumbal kecuali
pasti bukan meningitis.

Bayi > 18 bulan umumnya gejala meningitis sudah terlihat dengan jelas. Bila
pasti bukan meningitis pungsi lumbal tidak dianjurkan.

3.

Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi kemungkinan


berulangnya kejang, atau memperkirakan kemungkinan terjadinya epilepsi di
kemudian hari. Oleh sebab itu, pemeriksaan EEG pada kejang demam tidak
direkomendasikan,2,3,4
Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak
khas.2

4.

Pemeriksaan foto kepala, CT scan dan / atau MRI tidak dianjurkan pada anak
tanpa kelainan neurologis karena hampir semuanya menunjukkan gambaran

22

normal. CT Scan atau MRI boleh dilakukan pada kasus dengan kelainan
neurologis atau kasus dengan kejang fokal untuk mencari lesi organik di otak. 2,3,4
Diindikasikan pada keadaan:,2,3,4

Adanya riwayat dan tanda klinis trauma kepala 4

Kemungkinan adanya lesi struktural di otak (mikrosefali, spastik)3,4

Adanya peningkatan intrakranial (kesadaran menurun, muntah berulang,


fontanel anterior menonjol, paresis saraf otak VI, edema papil)4

Penatalaksanaan

Pengobatan pada saat kejang


Perhatikan jalan nafas, kebutuhan O2 atau bantuan pernapasan

Pemberian

diazepam rektal pada saat kejang sangat efektif dalam penghentian kejang.
Diazepam rectal dapat diberikan di rumah. 1,2,3,4,5,6,7,Dosis diazepam rectal adalah:
Diazepam rectal 0,5 mg/ kgBB atau
Berat badan 5- 10 mg : 5 mg
Berat badan < 10 mg : 10 mg
Di rumah, maksimum diberikan 2 kali berturut-turut denan jarak 5 10 menit.
Hati-hati dapat terjadi depresi pernapasan.3,4
Diazepam dapat juga diberikan denan suntikan intravena sebanyak 3,4
0,2 - 0,5 mg/ kgBB. Berikan perlahan-lahan, dengan kecepatan 0.5 1 mg per
menit. Bila kejang berhenti sebelum dosis habis, hentikan penyuntikan. Diazepam
dapat diberikan 2 kali dengan jarak 5 menit bila anak masih kejang. Jangan
berikan diazepam secara inta muskular karena tidak dapat diabsorbsi dengan baik.
Bila tetap masih kejang, berikan fenitoin intravena sebanyak 15 mg /kgBB,
perlahan-lahan. Bila masih kejang, rawat di ruang rawat intensif, berikan
pentobarbital dan pasang ventilatorbila perlu.

3,4

Namun biasanya pada kejang

demam sederhana, pengobatan saat kejang cukup dengan pemberian diazepam,


karena pada kejang demam sederhana kejang hanya berlangsung kurang dari 10
menit dan belum memerlukan perawatan yang intensif.

Pengobatan setelah demam. 3,4


Bila kejang telah berhenti, tentukan apakah anak termasuk dalam kejang demam
yang memerlukan pengobatan rumat atau cukup pengobatan intermiten bila
demam. Umumnya, kejang demam sederhana cukup menjalani pengobatan
intermitten, yaitu pengobatan yang diberikan pada saat anak demam, untuk
23

mencegah terjadinya kejang demam. Terdiri dari pemberian antipiretik dan


antikonvulsan.
Antipiretik yang dapat digunakan : 1,2,3,4,5,6,7,8,9
Parasetamol atau asetaminofen 10-15 mg/kgBB/ kali diberikan 4 kali.
Ibuprofen 10 mg/mgBB/kali diberikan 3 kali.
Antikonvulsan pada saat demam 2,3,4
1.

Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 - 0,5 mg/kg setiap 8 jam pada
saat demam menurunkan risiko berulangnya kejang.

2.

Dapat juga diberikan diazepam rektal dengan dosis 0,5 mg/kaBB/kali,


diberikan sebanyak 3 kali per hari.
Di Indonesia, dosis 0,3-0,5 mg/kg/8 jam tersebut seringkali menyebabkan
sedasi yang cukup berat. Dosis yang dianjurkan adalah 0,5 mg/kgBB/hari
dibagi 4 dosis.

3.

Fenobarbital, karbamazepin, fenitoin tidak berguna untuk mencegah kejang


demam bila diberikan secara intermiten. Fenobarbital dosis kecil baru
mempunyai efek antikonvulsan dengan kadar stabil di dalam darah bila telah
diberikan selama 2 minggu.

PROGNOSIS2
Faktor risiko berulangnya kejang
Kejang demam sering berulang kembali.
Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah:
1.

Riwayat keiang demam dalam keluarga.

2.

Usia kurang dari 18 bulan.

3. Tingginya suhu badan sebelum ke ang. Makin tinggi suhu sebekim kejang
demam makin kecil risiko berulangnya kejang demam.
4.

Lamanya demam sebelum kejang. Makin pendek jarak antara mulainya

5. demam denganb terjadinya bangkitan kejaig demam, makin besar risiko


berulangnya kejang demam.
Bila ada 3 faktor, kemungkinan kejang demam berulang kembali adalah
80%. Bila sama sekali tidak terdapat faktor tersebut, risiko kejang demam
kembali adalah 10-15%. Kejang demam kemungkinan terbesar kembali pada
tahun pertama. 2

24

Faktor risiko terjadinya epilepsi di kemudian hari 2,3,4


1.

Perkembangan saraf terganggu

2.

Kejang demam kompleks

3.

Riwayat epilepsi dalam keluarga


Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi

sampai

4-6%. Adanya

keempat

faktor-faktor

resiko

tersebut

meningkatkan

kemungkinan epilepsi menjadi 10-15%. 3,4


Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapai dicegah dengan memberi obat rumat pada
kejang demam. Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis karena .
kejang demam 2
Kejadian kecacatan dari kematian sebagai komplikasi kejang demam sangat jarang
dilaporkan. 2
Imunisasi1,2
Sebenarnya tidak ada kontraindikasi imunisasi setelah kejang demam.
Dianjurkan untuk memberi imunisasi yang tidak menimbulkan demam. Berikan
penurun demam saat imunisasi yang menimbulkan demam. Sediakan diazepam rektal.

Rujukan3,4
Pasien kejang demam dirujuk atau dirawat di rumah sakit pada keadaan
berikut:

Kejang demam kompleks

Hiperpireksia

Usia di bawah 6 bulan

Kejang demam pertama

Dijumpai kelainan neurologist.

25

26

BAGAN PENGHENTIAN KEJANG DEMAM3,4

KEJANG
Perhatikan jalan napas, kebutuhan O2 atau bantuan
pernapasan
*bila kejang menetap selama 3 -5 menit
1. Diazepam rectal 0,5 mg/kgBB, atau
Berat badan 5 10 kg : 5 mg
Berat badan < 10 kg : 10 mg
2. Diazepam IV 0,2-0,5 mg/kgBB
KEJANG
Diazepam rectal
( dapat diberikan 2 kali dosis dengan interal 5- 10 menit)

dirumah sakit

KEJANG
Diazepam IV
Kecepatan 0,5-1 mg/ menit
(dapat terjadi depresi pernapasan)
KEJANG
Fenitoin bolus IV 10-20 mg/kgBB
Kecepatan 0,5- 1 mg/kgBB/menit
KEJANG

Transfer ke ruang rawat intensif


Keterangan:
1. bila kejang berhenti terapi profilaksis intermitten atau rumatan diberikan
berdasarkan kejang demam sederhana atau komlpleks dan faktorresikonya.
2. pemberian fenitoin bolus sebaiknya secara drip intravena dicampur dengan
27

NaCl fisiologis, untuk mengurangi efek samping aritmia dan hipotensi.

28